Tuesday, January 29, 2008

NAIK KELAS ATAU NAMBAH SEMESTER?


Amanah tetap menjadi kalkulasi matematika kehidupan da’wah. Menambah amanah, mengurangi, memangkatkan, mengkuadratkan, mengalikan tetapi umumnya membagi. Waktu nya sama dengan sejarah mujadid terdahulu, masalahnya hampir mirip – mirip tetapi kecerdasannya saja yang berbeda, jika generasi terdahulu modal cerdasnya Al qur’an dan as sunnah, generasi sekarang malah senang mengambil cabang- cabangnya saja sebagai sumber segalanya “Al Sains” produknya sekulerisme.Mulai lahirlah kedunia, baligh, berkeluarga hingga memiliki jundi dan jama’ah. Grafik amanah tidak pernah mengalami penurunan, nilai raportpun terus tercatat, tetapi keadaan penyikapannya harus tetap membagi. Menambah terus kemudian membagi terus. Membagikan pada waktu yang ada menjadi bagian potong-potongan waktu istirahat yang semakin sempit dan kualitas amal yang semakin ketat. Tuntutannya prioritas, pajaknya resiko pengorbanan diwaktu yang sangat panjang, lebih panjang dari umur pelakunya.

“Tak pernah ada sekolah yang ujiannya lebih panjang dari pada proses belajarnya”, Naik kelas atau nambah semester? Ujian teruslah berjalan, ini indikator mulainya waktu kenaikan kelas datang, masalahnya saat ujian atau naik kelas tiba hadiah apa yang pantas bagi seorang aktifis da’wah dikemudiannya. Fenomenanya terjadi saat da’wah memasuki wilayah transisi profesi yang sering kelamaan ‘loadingnya’ saat umat menanti lebih cepat pelayanan tarbiyah dibanyak lini, sensitifitas kepedulian da’wah kebal rasa diambang bius antara eksistensi profesi dan masalah keimanan yang hanya berubah topeng bernama ‘nafkah’, walaupun tidak boleh seluruhnya menafikkan masalah ini, tetapi membagi menjadi seni kewajiban dengan adil harus terjadi, bukannya mengurangi. Mengurangi ada saatnya, pada batasan syar’inya, apalagi Mengakarkannya menjadi bagian yang sangat kecil. Pesan singkat Iman Hasan Al Bana semoga bisa mengajarkan kita bagaimana seni membagi secara bijak sebagai tauladan da’wah kontemporer saat ini “mata mereka masih tetap melek saat orang – orang tidur. Jiwa mereka penuh dengan kesibukan saat orang –orang yang malas lelap dalam tidurnya. Seseorang diantara mereka tekun dikantornya mulai dari ashar sampai tengah malam sebagai pegawai yang penuh dengan dedikasi, dan sebagai seorang pemikir yang penuh dengan kesungguhan. Sepanjang bulan ia tetap seperti itu dan manakala habis bulan ia menjadikan pemasukannya sebagai pemasukan bagi jamaah, nafkahnya sebagai nafkah bagi da’wahnya, dan hartanya sebagai sarana untuk meraih tujuannya. Sedang realita kehidupannya mengatakan kepada anak – anak kaumnya yang lalai tentang pengorbanannya “ aku tidak meminta kepada kalian atas da’wahku ini suatu upah pun; upahku tiada lain hanyalah dari Allah”. (ila Ayyi Syai’in Nad’un –nas 129). Tauladannya para tauladan yang mudah ditauladani generasi abad ini. Harapan mujahid cerdas dalam masalah kalkulasi matematika amanah kehidupan adalah harapan kemampuan untuk mengalikan potensi yang ada didalam pembagian amanah dan waktu yang tersedia sehingga tidak minus prestasi, tidak lemah azzam, seperti seharusnya Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah (Qs.100:1)”. Al maududi pun menggambarkannya dengan kritisi rasa sayangnya kepada sakitnya umat “sangat ironis sekali bila orang – orang yang dianugrahkan intelegensia yang unggul dari kalangan individu umat kita ini, tergila –gila meraih kedudukan duniawi dengan mencurahkan segenap kemampuannya, tanpa kenal lelah sepanjang siang dan malam. Dibursa kerja mereka tidak menerima kecuali pihak yang menawar mereka dengan bayaran yang tinggi. Sedangkan keterlibatan mereka dengan da’wah tidak sampai mengorbankan kepentingan mereka untuk kepentingan da’wah, bahkan tidak mau pula sekedar mengorbankan jasa yang mereka miliki. Jangan kalian berharap, dengan mengandalkan pengorbanan yang mandul ini, untuk dapat meraih kemenangan melawan orang – orang yang menimbulkan kerusakan di muka bumi, yang rela mengorbankan jutaan uang mereka setiap harinya demi mencapai tujuan mereka yang batil, maka harapan ini tiada lain hanyalah merupakan suatu tindakan yang bodoh”. Profesi oh…profesi, da’wah kampus oh..da’wah kampus, da’wah sya’biah oh..da’wah syabi’ah terkadang alasan ketiganya atau salah satunya menjadi kambing hitam yang mudah ditebak dan menjadi pembenaran. Da’wah sya’biah engkaulah dimana, jika ramainya hanya pada event insidensial saja sehingga kalau kata “politik praktis” terlihat aji mumpung, mungkin “da’wah praktis” terlihat cukup menunjukkan eksistensi sementara kader kalau “aku juga masih aktif” atau “akupun mumpung masih aktif”. Da’wah sekolah terkadang menjadi alasan pembenaran juga kalau “aku cukup nyaman di marhalah da’wah ini” sekedar alasan untuk menunda naik kelas.Umat makan tiga kali sehari seharusnya tidak mengurangi jatahnya menjadi dua kali sehari, dan jatah seharinya dimakan du’atnya karena kerakusan yang semakin.Dangkal!!. Kedangkalan takkan pernah menunjukkan bahwa seorang kader mampu naik kelas, malah mungkin nambah semester sepanjang waktunya hingga mampu merubah nilai – nilai yang terus terpampang dalam muhasabah pribadi dan raport tersendiri dalam benak umat. Naik kelas atau tambah semeseter adalah pilihan, karena semuanya pasti menunggu ditangga – tangga selanjutnya.

(Izzatulgumam 28 Januari 08;kost depok)

Monday, January 28, 2008


REALISASIKAN!


Terbanglah hanya dengan sayapmu sendiri setingginya.


Berlayarlah hanya dengan berkembang semangat perahumu sejauhnya.


Tetapi dimulai berjalanlah hanya dengan jiwa yang menerangi,


cita - cita yang menyala dan Kaki – kaki yang kokoh, bergeraklah!!.


(Izzatulgumam; Depok pagi; Jan 08)


Tunjukkanlah!!.
“Tunjukkanlah aku dimana ketidak adilan, permasalahan da’wah yang tak pernah selesai oleh pemikiran dan langkah yang buram, tugas – tugas da’wah melihat dan memproyeksikan masa depan, cerita – cerita tentang ketauladanan, sebab hari – hari yang memberikanku pelangi – pelangi rasa dihati dan tentang menariknya cinta pada Rabb serta ciptaanNya, maka sampai menulislah aku dibawah pengaruh sadar hati yang cerdas tajam dari lintas fikiran yang membawa kita pada kebaikan kebenaran jalan yang harus dituju, karena menuliskanlah aku, sebab ada yang harus disampaikan, harus ada yang dilawan dan yang terpenting adalah harus ada yang berubah kemudian selanjutnya merubah”
(Izzatulgumam; 19 Januari 08)


Manakah?


Manakah dulu dari semangat atau kesabaran yang menghantarkanku ke syurga dan ridhoNya?.Semangatlah bahan bakar yang melesatkan lebih cepat mencapainya tapi jenak – jenak tertatih kesabaranpun berlatihlah, maka goda dunia jauhilah aku. Aku harus belajar, aku harus menyendiri.Wahai uzlah, lapar, diam, qiyamullail temanilah aku dalam kesendirian dan kesederhanaan hidup ini.(Izzatulgumam; 19 Januari 08

SEMUJAHADAH APAKAH?

Ini masalah keseriusan, ini masalah kemujahadahan menapaki hidup umat dan da’wah yang hidup. Bagaimana mungkin jika hanya hembusan sedikit tentang goda wanita dan kesia- sia interaksinya sudah sempoyongan dan ambruk, tapi masalah inipun menyerang pahlawan, hanya merekalah yang merdeka jiwanya bisa melepaskan, dengan kata lain melalui penggugah semangat tentang makna “kemuliaan dan kemenangan” yang harus tetap bertengger terus pada posisi atas pilihan bahan bakar semangat memperbaiki jiwa yang lemah. Bagaimana mungkin juga jika banyak bicara dan bersenda gurau menjadi makanan beracun keseharian, tetap kita makan menjadi makanan pokok yang membawa penyakit-penyakit kronis umat. Bisa jadi walaupun hanya rangkaian untaian kata – kata memboros dan tawa yang berlebih berefek menghabiskan waktu produktif untuk menyelesaikan masalah umat yang terus tertunda. Kita memang senang pada yang sesaat oleh pencuri waktu dibawah tertundanya masalah umat yang tak pernah tersenyum lebar dalam kebahagiaan riang yang mendalam.Perhatikan perjuangan Ambon……apalagi Palestina mu pasti terlupalah dan tuli pada tangisnya yang bukan lagi air mata, tapi darah yang membanjiri kesuburan tanah tersebut. Kesuburannya hanya dengan darah seperti kemerdekaannya juga. Bagi mereka tidak seperti kita, bagi mereka bersenda gurau merupakan tanah yang semakin gersang, penyiksaan yang menjadi, kemerdekaan negara yang terebut dan darah yang akan terus terhisap habis oleh vampire Israel bukan karena kesyahidan tapi penyerahan semudah sia - sia, maka apa makna kerugian bagi senda gurau kita tiap harinya?.


Waktu luang, makna kenikmatan yang salah dan nafsu yang terumbar jelas menyelubungi aktifitas gerak – gerik kita, pada sampai terdiampun tetap juga menghayal pada masalah yang tidak berguna,berfantasi gombalan dan bagian aurat wanita-pria, memprediksikan nasib melebihi tuhan, mengasah tajamnya nafsu itu sendiri sampai sumbangan upeti menggembirakan ratu adil sang dedengkot nafsu hingga menjadi digdaya bahkan bisa menjadi tuhannya sendiri yang tiap hari harus dipelihara dan diingat serta dituruti kemauannya, seterusnya sampai menyembahlah kita!!Ini masalah kesensitifan radar hati menangkap virus – virus hati; spy, penyelundup dan perampok kesucian jiwa dari musuh yang dimaksud “hawa” dan pengertian ”nafs” itu sendiri, maka jika keduanya digabungkan menjadi sinergis simbiosis yang berbahaya. Hati yang radarnya terhalang, atau minimal antenanya tidak “meninggi” karena perangkat elektronik penangkap sinyalnya tidak kuat, mudah sekali kemasukkan virus dan penyelundup hawanafsu ini. ketidak cerdasan hati kitalah yang membuat kita terlampau bodoh fikirannya. Inipun bisa diselasaikan dengan berlindung pada Allah Yang Maha Cerdas dan Maha Pelindung tanpa harus menjadi cerdas dan sensitive pada makna kelemahan di kamus dunia sesungguhnya, tapi hanya satu password yang bisa membukanya yaitu maiyatullah dan takwa, adakah orang – orang takwa yang tak cerdas, dunia? Jika tidak jangan salahkan tuhanmu dengan wahyu-nya, jangan caci-maki rosulmu dengan risalah hadistnya, salahkan yang utama adalah dirimu yang tak pernah mendengar dan taat sebab ialah tertuduh sekaligus pelaku utamanya.Semujahadah apakah aku, berkaca lagi sebab ini adalah gambaran apresiasi militansi. Walaupun dunia selalu tidak pernah suka dengan makna militansi.Semujahadahkah aku?…….maka berazzamlah,wahai uzlah, lapar, diam, qiyamullail temanilah aku dalam kesendirian&kesederhanaan hidup ini”.

(Izzatulgumam; 19 Januari 08).

Wednesday, January 16, 2008











PUISI KOPI MALAM

Kopi malam ini sehitam agak pahit

dipotongan masa lampaumu, lupakanlah.

Sepahit itulah senikmatnya tetapipun kau tahu

hiruplah berniat dicangkir yang sama.

Duduk, renungkanlah dan temanilah rinduku…

Bekasi;Desember 07)


JALANI SAJA

Jalani saja, sebab mata angin, berhembus, melayang asal setia.

Jalani saja, sebab lembab dan kering matamu harapan masih perlu dipeluk.

Jalani saja, selama hujan masih deras dan mataharipun menggigit.

Ya jalani saja….apalagi.

(Depok; DeseMber 07)



PERHATIKAN AKU

Perhatikan aku sebelum jasad in beku.

Perhatikan aku sebelum lelahku membunuh

Perhatikan aku sebab kau pasti bertemu mentari

Dan menemukan aku..

(Depok; Desember 07)


DIMENSI

DImensi titik muara peradan dimulailah

Bila ia ingin memulai bangunkanlah,

Walau tidurpun lelap dan mimpinya nikmat.

Bermesra ujian selalukan mekar harapan

Bangunkalh dan bisikkan “aku hanya mencintaimu karena Allah dan rosulnya”.

(Depok; Desember 07)

JIKA

Jika kau jangkar tambat hati, aku rumahmu adalah surga

Jika kau dermaga pelayaran jiwa, ku ceritamu keluarga lukman

Dan kuharapmu keluarga imran.

Dan jika kau yang berhak melahirkan matahari dan jundi – jindiku kelak,

Separuh nafasku milikmu selalu..tanpa titik lelah ditiap halaman

Cita – cinta buku kehidupan ini.

(Depok; Desember 07)


APA ADANYA RASA

Apa adanya rasa tapi adanya apa ketika cinta jangan berlebih.

Tidak meruah jangan membanjiri

Tidak kemarau jangan paceklik kurang bersyukur.

Apa adanya rasa tapi adanya apa cinta, saat harus menyurat kesabaran jiwa.

Jiwa panggilah jiwaku dengan kebesarannya

Saat bertanya – Tanya bertahan berharap

Layakkahku untuk dicinta?

(Depok; Desember 07).










Monday, January 07, 2008

SESULIT

Sulitnya menata hati layaknya kuliah jiwa yang tak pernah selesai.

Sulitnya mengendalikan rasa, serumit alunan ombak pasang yang tak pasti.

Bertahanlah hati semampunya, semampu itulah seharusnya.

Tapi rasa apakah kau juga ada disana?

(Izz@tulgumam,Bekasi; Januari 07)

DIA BUNGA


Dia adalah bunga. Bunga yang slalu indah dihalaman kesederhanaan dan kejujuran rumah kita.Janganlah pernah ditunggu –tunggu mekarnya, tapi ketahuilah saja musimnya, sebab semerbak harumnyapun lebih panjang dari semusimnya.Semusimnya pasti seharumnya, seharumnya yang lebih memaknai ditiap keberadaannya.Dia adalah bunga. Bunga hanya untukmu para mujahid Sang penggelora karya, penikmat lelah dan pecinta syuhada.Dia adalah bunga. Bunga bukan sembarang bunga, sembarang bukan sebab makna, maka janganlah memaksa atau malah sembarang memetiknya. (Izzatulgumam;My Room, Januari 08)

Friday, January 04, 2008

TABUNGAN JIWA

Kesabaran ternyata bercabang – cabang ilmu dan berbuah akhlak, bagai pohon yang lebat beraneka ragam buah dan bermacam – macam jenis daun indah menghiasi kesempurnaan akhlak pohon tersebut. Salah satu buah dari cabang aplikatif ini adalah kesederhanaan. Kesederhanaan pun dapat menimbulkan rasa buah nikmat yang berlapis lapis, karakter menabung misalnya. Memang penulis tertarik sekali memasukkan bab menabung ini kedalam kajian kesederhaan, sebab sifat inilah yang bisa merunut bab utama kesabaran, kesederhanaan dan diakhiri oleh “kegemaran” pelakunya untuk menabung.

Saya tidak akan berbicara secara kajian bab menabung dengan bahasan kovensional pada batasannya mengenai pemanfaatan material dalam hal ini, sebab sudah banyak yang lebih baik mengupas secara tuntas, walaupun memang pengetahuaan kita tentang bab menabung material akan berhubungan secara metodologi dan bisa jadi sama dalam hal prinsipnya, oleh sebab itu karakter dalam pemahaman menabung material akan memudahkannya.

“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)[1582]”.(Ad dhuhaa 4).

Cukuplah jika ayat ini menjadi penghujung awalan motivasi keutamaan kesabaran, kesederhanaan dan ditujukan amal aplikatif dalam menabung. Itulah Allah swt yang Maha Berkalam, yang wahyu – wahyunya diturunkan memiliki nilai – nilai yang jika dikaji secara terus – menerus takkan pernah habis dan jika secara berkelanjutan dikaji lagi dapat menusuk menimbulkan fakta-fakta kebenaran yang tak terbantahkan dari upaya kaum kafir seperti dalam surah Ibrahim “ dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok”(QS 14:3), juga memunculkan teori – teori yang meluluh lantakkan dan membenarkan apresiasi teori manusia yang sering salah dan menyimpang di fase – fase kehidupan sejarah bumi ini. semakin dikaji semakin menimbulkan nilai makna baru dan kenikmatan perjalanan ma’rifat. Kajian yang takkan pernah jenuh, mengendap dan menggumpal makna tersebut oleh frekuensi sejarah, gelombang zaman, dan gelombang kontemporer kehidupan, bahkan zamanlah dan kehidupan sejarahlah yang belajar dan berkaca pada wahyuNya ;Al huda.

Menjadilah lebih baik dihari kemudian dengan berbekal. Berbekal juga berarti menabung. Berbekal berarti memanegerial persiapan, mengkalkulasi kekuatan-kelemahan, memfokuskan rencana biaya dan pajak-pajak keberanian mujahadah, menghitung semuanya sehingga pada saat dan “tempatnya tiba” kita masih memiliki cahaya di alam kubur yang terasa begitu gelap menjadi lebih terang dengan tabungan jahiriyah, bahkan saat kita masih memiliki buroq atau transportasi lain akhirat dari kambing atau sapi yang pernah dikurbankan sebelumnya, ketika akan berjalan melewati jembatan sirratholmustaqim yang sulit itu, atau mungkin saat ternyata kita juga masih memiliki “upeti” amal yang belum terampok oleh goda rayuan syaitan dirangkaian perjalanan trans dunia-akhirat, walaupun hanya sedikit dari rangkaian keikhlasan dan keridhoan, yang jelas kita masih memiliki apa yang kita punya dengan menabung, bukan apa yang tersisa kita punya…. Tidak bertangan hampa, Bukan bangkrut, bahkan bukan lebih sengsara saat ditempat sebenarnya kita akan tiba.

Tabunglah amal dengan keikhlasan

Inilah metodologi menabung gaya para sahabat, gaya menabung hanya bagi penikmat pilihan kesendirian untuk muhklis, hanya ada ia dan Rabbnya dalam tiap apresiasi amal yang dilakukan baik sekecil umpatan ronda – ronda rutin yang dilakukan Umar bin Khatab pada malam hari menjelang tidurnya dimasa kekhalifahan, hanya untuk sekedar melihat masih adakah rakyatku yang tidak tidur akibat belum atau kekurangan makanan malam itu. Atau afiliasi amal besar tentang “kegemarannya” menaklukkan wilayah jazirah-jazirah kejahiliyahan. Inipun style para sahabat yang salaf, ketika itupun jadi berfikir bukan eforia menjadi lebih bodoh dan malah lebih khawatir ketika da’wah mulai berkembang dan pintu – pintu duniapun terbuka lebar dengan reward – reward dunia yang sebenarnya masih dalam batasan wajar menurut pandangan duniawi kita, dunia mulai berjamaah berdatangan, menyambut , mengikuti, siap menusuk dan telah banyak dari kitapun yang sekarat dibuatnya. Berfikirnyapun tidak tanggung – tanggung bagi generasi paling kritis dalam sejarah mengenai masalah ibadah dan hari akhir “aku khawatir jika Allah memberikan reward (balasan) langsung didunia dari amal kebajikannku,apakah masih akan tersisa untukku diakhirat” .Tapi itulah hebatnya para sahabat – sahabat rosulullah yang kemurnian ketauhidannya tidak diragukan lagi, tapi itulah adanya, adanya itulah ketauladannya. Kitapun bisa belajar taklid dengan metode ini, mungkin inilah taklid yang diperbolehkan Allah swt dengan mencobalah bagi da’I untuk belajar. Belajar tabunglah kegelisahan kita, tabunglah kirasauan kita, tabunglah kesedihan kita, tabunglah kegetiran kita saat ujian da’wah mendera, saat target ikhtiar da’wah yang panjang belum tercapai, dan saat musibah terus menghampiri memanggil kesabarannya, tapi keluarkanlah pada saat yang tepat seperti proyeksi tujuan menabung akhirat ini. Keluarkanlah nanti. Nanti jangan sekarang, jangan sekarang sampai seorangpun tak boleh tahu, dan berikanlah hanya pada Rabbmu semata. Semata hanya dicucuran air dua mata qiyamullail kita saja, sebab perilaku sewajar itulah semampunya, semampunya itulah seharusnya sebagai “upeti” buah – buah keihklasan dan istiqomah. Yakinlah bahwa hari kemudian lebih baik, lebih kekal, lebih abadi dan yakinlah bahwa hanya menabung keikhlasan dan kemurniaan ketaatan menimbulkan penerimaan secara menyeluruhan keringat amal - amal kita “padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (Qs. Al bayyinah 5), itulah essensi menabung akhirat. Janganlah “memboros amal” tanpa keikhlasan, mengeluarkan yang bukan pada tempatnya, yang bukan pada kebutuhannya, yang bukan pada seharusnya.Tabunglah dalam kesabaran hati yang berlapis – lapis seperti kauliyahNya “dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh,”(QS.78:12) atau dalam lumbung – lumbung kebesaran jiwa yang luas, seluas harapan pelataran jannahNya.Menabunglah da’I dengan kesabaran dan kesederhanaanmu sebab itulah keutamaannya.Wallahu’alam Bishowab.

(G@zza; My desktop, Januari 08)

Gerakan Ayo Hidup Sederhana (GAHS).

Ayo hidup sederhana!!.

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu[1598],

kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

Nb : jika anda pencinta hidup sederhana ayo bantu gerakan ini mulai dari diri sendiri kemudian sampaikan kepada orang lain, mulai wacana pemikiran (tulisan) sampai pada tingkah laku kebiasaan dan jika memungkinkan menjadi kebudayaan (peradaban). Ayo selamatkan umat dengan hidup secara sederhana.Jazakallah khairan katsiran.