Saturday, December 13, 2008

Kampung Djamu ; Cikarang 2 November 2008



(Back to Nature Bag I, Bagaimana farmasis peduli alam?)
Ternyata banyak hal yang bisa dilakukan seorang farmasi untuk turut melestarikan alam. Hal ini lebih jelas menjadi sebuah visi ketika kesukaan ku pada dunia lain kefarmasian menjadi terwadahi dengan adanya kegiatan pencinta alam dikampus DIII ku. PUMAPASI (himPUnan MAhasiswa Pecinta Alam farmaSI) begitulah banyak orang menyebutnya, yang sepengetahuan ku organisasi ini merupakan satu – satunya kampus farmasi di Indonesia yang ada organisasi pecinta alamnya. Hal ini menjadi keunikkan tersendiri dan hebatnya ternyata mampu bertahan hingga sekarang, bahkan kegiatan – kegiatannya makin digemari. Menurutku ini bisa menjadi prototipe dan contoh baik bila teman – teman kampus farmasi lain ingin mencontoh mendirikan komunitas pencinta alam di kampus farmasi untuk coba belajar dan mengambil banyak pengalaman dari organisasi ini.

Bukan hanya mendaki gunung, sekarang kegiatan mulai ekspansif ke penelusuran pantai, penelusuran goa hingga menyelam. Bahkan dari pembicaraan ku dengan salah satu dedengkot pecinta alam akh firman teman satu kost ku ini, beliau mengatakan bahwa untuk menguatkan eksistensi kegiatan pecinta alam di kampus farmasi yang pertama harus dilakukan adalah pecitraan yang baik mengenai kegiatan dan aktifitas para personal bahwa kegiatan alam dan aktifitas anak – anak pecinta alam farmasi itu tidak seburuk yang disamakan dengan anak – anak brutal, gak bener dan lainnya.

Keadaan image itu berubah sejalan dengan penetrasi biah tarbiyah kedalamnya, dan katanya hampir sekarang seluruh pengurus wanitanya berjilbab loh....sejalan dengan itu pulalah kepercayaan akademik semakin tinggi.
Yang kedua adalah coba membawa kegiatan – kegiatanya kearah berbasis education, jadi bukan hanya kesenangan semata, bukan pula kepuasan semata tapi ada base learning farmasi yang diterapkan dalam kegiatan tersebut, begitulah masukkan ku ketika dalam perjalanan pulang dari Kampung Djamu Cikarang bulan lalu kepada akh firman. Kegiatan ini harus bisa menggarap nilai ilmiah kefarmasian dari alam atau kepeduliannya terhadap alam, terhadap bahan alam yang digunakan sebagai obat. Aku pun menambahkan bila memungkinkan jangan hanya jago mendaki gunung atau menelusuri pantai dan goa yang hanya mampu dipahami oleh segelintir orang yang memang menggemari hal itu, tetapi harus mampu membuat education massa dengan merambah ke bentuk workshop, simple traning-training, dan seminar - seminar kepedulian kepada alam juga aplikasi apa saja bagi seorang farmasi untuk bisa turut peduli kepada alam.

Jadi isu – isu itu juga harus bisa disenangi dan digemari ke telinga setiap mahasiswa dengan tingkat kemampuan kepeduliannya masing – masing, ya dengan kata lain mulai bergeserlah kearah yang tidak ekslusif. Apalagi isu back to nature bagi dunia kefarmasian mulai kembali bangkit dengan obat herbalnya, dan kepedulian lain tentang banyaknya tumbuhan – tumbuhan tanaman obat Indonesia yang dicuri secara ilegal untuk dikembangkan secara genetik di negara tersebut, juga yang lebih miris adalah hewan – hewan Indonesia yang dilindungi banyak dibunuh untuk dijadikan obat (badak jawa bercula) walaupun belum jelas makna farmakologisnya, dan banyak isu lain yang menurutku bisa menjadi ”bisnis” besar pecinta alam farmasi untuk bisa eksistensi dikampus yang serba eksakta ini.

Dan salah satu kegiatan ke Kampung Djamu milik Marta Tilaar di Cikarang bulan lalu ini menurutku sudah mencerminkan bahwa organisasi ini mulai mengadakan perbaikan, terlihat pula antusias dan minat dari peserta yang berjumlah kurang lebih 60 orang. Tak terkecuali aku dan teman – teman ngaji kost Onan Said pun turut ikut sebagai undangan alumni. Banyak hal education yang didapatkan disana, selain kepedulian kita terhadap alam dengan menggarap kemasan isue global warming (efek pemanasan global) yang disampaikan oleh ketua pengelola Kampung Djamu (KDj) dengan slide persentasinya setelah kami berkeliling melihat koleksi tanaman obat yang ditanam seluas hampir 10 hektar yang baru di efektifkan sekitar 4 hektar (lihat gambar). Diperjalanan keliling kebun itu pula kami di perlihatkan tentang pengelolaan simplisia secara sederhana, mulai dari pemetikan, pemilahan, pencucian, pengeringan hingga siap untuk digunakan.





Hal inilah yang membuatku malu, sebab semua para pelaku ”bisnis” ini bukan berasal dari backround kefarmasian, sehingga saat mulai ditanya tentang keilmiahan kenapa harus begini, kenapa harus begitu mereka kurang mengerti, tapi bukan berarti kita juga akan mampu sendiri dalam bisnis ini kita perlu juga joint dengan teman IPB atau Biologi. Jiwa kewirausahaan ku pun bangkit sejenak saat itu untuk bisa mengaplikasikan ilmu yang didapatkan dikampus dengan melihat proses bisnis ini yang cukup ”sederhana”, dan banyak hal lain yang mungkin tak cukup untuk diceritakan tapi cukup untuk dirasakan...(lihat picturenya saja ya atau datang langsung kesana)
Jadi banyak yang bisa dilakukan sebagai seorang farmasi untuk bisa peduli kepada lingkungan dengan cara lain dan berbeda, pesan singkat dari pengelola KDj dalam persentasinya tentang solusi Global Warming adalah cobalah untuk menanam pohon dirumah walaupun dengan tempat terbatas, terlebih itu sebagai seorang farmasi adalah menanam tanaman obat yang bisa menjadi dwi fungsi sebagai deposit obat keluarga dan mencegah global warming.......tapi jangan sampai Gombal Warning melanda, maka Segera lakukanlah sekarang kawan dengan menanam satu pohon untuk satu orang dirumah kita, Lets Do it Fren!!
(Izz@m;Bekasi 08122008, Farmasi bergerak untuk alam)

Sunday, November 02, 2008

DOA UNTUK CAHAYA


(Mentari teruslah bersinar)
“Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, jadikanlah cahaya dalam lidahku, jadikanlah cahaya pada pendengaranku, jadikanlah cahaya pada penglihatanku, jadikanlah cahaya dibelakangku, dan cahaya di depanku, jadikanlah cahaya di atasku dan jadikanlah cahaya di bawahku. Ya Allah perbesarlah cahaya untukku
(HR. Bukhari-Muslim)”*


Begitulah sepenggal do’a dari seorang Rosul ulul azmi yang diceritakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma ketika bermalam bersama Rosulullah. Do’a yang terlontar mana kala Nabi saw keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat fajar (subuh).Jika fajar adalah awal dari sebuah aktifitas maka berdo’a adalah awal mengokohkan bangunan keimanan. Mendapatkan cahaya tanpa adanya ikatan dan permohonan yang kuat, rutin dan menghamba sekedar formalitas menjadi kemustahilan. Menjadi sumber terkecil cahaya dibalik sumber terbesar Nur-Nya itu harus menjadi pilihan. Dan selalu meminta kepadaNya adalah karakteristiknya, sebab ia adalah mentari di marhalahnya, mentari di zamannya, dan mentari pada peradabannya. Cahaya bukan sekedar cahaya, jika saja itu menjadi cahaya mekanik penerang sebuah desa, maka timbullah satu persatu amal kegiatan, motivasi dan harapan, titipan pengetahuan, penghasilan dan bahkan pelangi - pelangi sejarah peradaban Islam. Cahaya bukan sekedar cahaya, jika itu ada di hati, maka mudahlah ia untuk memilih jalan yang menjadi pilihannya, mudahlah ia untuk berjalan dalam ’gelap’, mudahlah ia untuk berjalan untuk ’lurus’, mudahlah ia untuk mengenal diri dan tuhannya, mudahlah ia untuk memahami amanah da’wah dan objeknya dengan jelas, dan mudahlah ia untuk bersabar, karena lemahnya kesabaran adalah gelapnya zona pandang sebuah hakekat tujuan, buramnya langkah fikroh karena kosongnya ilmu dan pemahaman, jika ia akan maka bergerak sangat lambat, tapi jika akselerasi cepat maka ia isti’jal.
Cahaya dihati adalah indikator kehidupan, ia adalah modal dasar kehidupan. Modal kehidupan untuk bersungguh, sebab bersungguh tanpa cahaya seperti kelalaian amal tanpa ikhlas, rugi yang menggunung. Cahaya dihati adalah modal bangunan peradaban yang sebenarnya; mengolah, memelihara dan menerangi hati yang lain hingga kokoh dari hati ke hati dengan hati untuk cicilan bangunan peradaban cahaya hati ummat, maka beruntunglah bagi pemilik cahaya hati. Cahaya bukan kegelapan, yang pasti akan mengelapi, membutakan peta diri dan orang lain disekitarnya. Cahaya yang harus terus menerangi amanah perjalanan da’wah dari sumber yang Maha Menerangi :
”Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS 2:257)”.
Jika Rosulullah yang ma’sum saja meminta dari tingkat diatas rata – rata syukur dan kesabaran manusia untuk menguatkan menjalani misi da’wah ini, kenapa kita tidak?seperti do’a Rosulullah”....Ya Allah perbesarlah cahaya untukku”.
(Izz@m 02112008; Do’a Sederhana; kost Onan Said)
*Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dengan sedikit perbedaan redaksi. Lihat : Jami’ al –Ushul, IV/83, 84, al-Lu’lu wa al-Maran, I/46 dan Zadul Ma’ad, II/369

Monday, October 27, 2008

NASIHAT (gumam kembali)


Nasihat adalah cinta; lahir dari sinopsis rangkaian kata hati. Nasihat adalah buah kepatuhan dari amal sebelumnya yang kemudian melesat keluar, ia bisa seperti mentari yang terus menyinari sehingga timbul hujan, yang dulu hujan kemudian timbul pelangi dengan pesan indah warnanya. Nasihat adalah buah akhlaq tersendiri bagi pemiliknya. Nasihat adalah essensi kehidupan, makna hidupnya yang kuat essensi karena memberi. Nasihat itu adalah dimensi gagasan yang mulia, luas dan mendalam. Nasihat adalah pancaran kekuatan dari gejolak perubahan. Nasihat itu adalah pertumbuhan, harus tumbuh dan abadi dibenak ummat. Nasihat itu juga adalah selimut dan pakaian bagi saudaranya, melindungi jiwa dan raga. Nasihat adalah indikator sehatnya iman dari jiwa yang menerangi dan cita – cita yang menyala. Nasihat itu juga adalah puncaknya harapan bagi sang perindu harapan. Nasihat itu adalah rambu – rambu perjalanan menuju tujuan, karena rangkaian nasihat adalah perjalanan panjang adalah istiqomah. Nasihat adalah juga kehangatan ukhuwah yang mendalam, sedalam samudra. Nasihat adalah ruang refleksi tisqoh yang terang, saling menerangi karena saling memahami.Dan sebab nasihat itu juga adalah simpul kebersamaan, kebersamaan untuk hidup di kehidupan akhir yang abadi adalah SYURGA. Bersyukur dan beruntunglah yang mendapatkan nasihat. Sebab hari – hari tanpa nasihat adalah langkah kemunduran dan bagi da’wah adalah awal kematian.(Izz@m 26102008; Pesan Sederhana;Kost Onan Said)

NB : Jazakillah buat ukhti yang memberi nasehat, karena memang nasihat takkan pernah habis termakan waktu...”Membuat saudara kita untuk tak berburuk sangka adalah sebuah kebaikan” .

Monday, September 29, 2008

DIAM ITU CINTA (Diamlah sejenak berhenti)

Berhentilah sejenak.................
Bergeraklah kemudian diam dan datanglah lalu kemudian pergi.Jiwa yang menerangi dan cita-cita yang menyala, semoga mengerti betul makna menapaki ikhlasnya ikhlas, sebab ku memahami sebab ku akan memberi sari ikhlas ini.Hanya yang memiliki yang bisa memberi. Aku yang harus dianggap lebih mengerti, seakan aku harus dituntut lebih merasa. Aku kadang divonis hari ini mungkin esok tapi pasti oleh masa nanti sebagai terdakwa perusak keikhlasan-kebarokahan, dari tabungan kisah bulan dan masa lalu yang mungkin dianggap salah.

Tetap, berhentilah sejenak...............
Aku, cinta, istiqomah dan cerita bintang yang mengisahkan kesetiaan yang takkan pernah habis diceritakan sepanjang masa.Aku dan izinkan aku mencinta yang berazzam menggapai hafidz untuk niat sebuah kebarokahan.Aku kadang dengan sesulit tapi lebih bahagia. Aku, dimensi peradaban dan puisi kopi malam yang mungkin takkan tergapai kini.

Harus, berhentilah sejenak..............
Diamlah, nikmatilah sunyi kembali yang ada didalamnya terdapat banyak kunci jawaban.Waktu kadang adalah aku dan jawaban itu sendiri juga aku.Waktu dan dimensi ketetapan adalah ruang perasaan ku,maka waktu adalah guratan emosi adalah jawaban rasa ku. Jika ragu maka tinggalkanlah, sebab aku sudah lebih memilih diam. Tak salah dan jangan merasa bersalah, karena diam untuk menghargai itu takkan pernah salah. Karena diam juga selalu pernah mengajarkan makna seberapa bertahan kekuatan sabar dan kekuatan sebuah cinta.(Izzatulgumam;Bekasi; 200308)

GUMAM MUTIARA

Ada tags baru pada halaman izzatulgumam ini “Gumam Mutiara”. Mungkin dari kita tak merasa, terkadang apa – apa yang terucap dengan ikhlas atau dengan spontan dari teman atau siapapun bisa menjadi bahan renungan yang mendalam bagi pendengarnya. Atau memang sang penutur kata tersebut yang telah lama mendalami lebih dulu dari bukan sekedar teori, bukan sekedar pengalaman tapi menjadi sebuah intisari madu kehidupan, sehingga setiap kata yang terucap menjadi rangkaian kalimat menggugah kita semua. Atau memang kita sebagai pendengar sedang membutuhkan kata. Membutuhkan kata untuk sebuah cinta, tapi tentunya dari tak sekedar gumam... Selamat menikmati…..


“…dengan kita bergerak. insya Allah, Allah pasti akan menggerakkan hati manusia yang lain untuk turut bergerak” (ustadz Wahono; Tarbiyah Center Depok).

“…biasanya orang yang suka membaca akan lebih menarik dan disukai banyak orang..” (Bpk Umar J; Dosen Menfarkom Apteker UI; kuliah ke-4).

“ semangat itu ada pasangannya : lelah. Itu mutlak. mungkin saja saat aku lelah teman – teman sedang sibuk dengan semangat, jadi lelah ku terecoveri…..” (my outbox sms; 220908, 21:24)

“Tdk ada kecewa dlm dwh yg ada hnya hikmah or ibroh Fit, terlepas itu trjd atw tdk. Mngimani takdir trmasuk dlm bgian mmbuang jauh kekecewaan saat rencana tdk brbuah jd hasil…” (my outbox sms; 280908, 14:16)

“…pasangan jiwa itu adalah rahasia kehidupan yang kita semua tak pernah tahu….bisa dekat atau jauh” (akh Sigit; staf RS Harapan Kita)

“ …….akhi mempelajari dan memahami Al qur’an itu membutuhkan waktu…..” (ustadz Salim; Utsmani Condet, Coffe break)

“ Sepertinya kalimat yang terlalu panjang sudah menjadi “penyakit kronis” dalam tulisan-tulisan kakak. Sepertinya kalimat-kalimat panjang ini….” (Indah Apt 68)

Friday, September 26, 2008

SEMANGAT ITU HUJAN CINTA


SEMANGAT ITU HUJAN CINTA
Hujan yang penuh cinta akhirnya ikhlas turun
Derasnya memanggil gairah, anginnya berteriak memberi.
Dan terus memberi.
Semoga cinta tahu, semoga merasa, semoga membara.
Tak ada padam, tak ada akhir, karna istiqomah tak pernah berakhir.
(Izz@m; Depok, Ramadhan 1429 H. 250908)

Friday, September 12, 2008

NGEBUT (Lemah akselerasi)


Seperti biasa hari ahad sore menjadi rutin azzam tersendiri untuk bisa hadir tepat waktu, tepat niat dan tepat persiapan baik jasad maupun ruhiyah. Kali ini sungguh meleset, telat!aku ketiduran akibat aktifitas nulis setelahnya, sebab biasanya jika tidak ada agenda eksternal keluar rumah, ku gantikkan untuk agenda ‘berberes’, menulis dan membaca. Aku ketiduran hingga laptop ku pun masih menyala saat ku bangun.

Jadi terburu – buru tanpa persiapan apalagi untuk tepat waktu!! Tapi minimal harus punya alasan yang jelas unttuk harga sebuah kejujuran. Kebetulan sekali dirumah ada motor adik yang ngangur tak dipakai, langsung ku pinjam saja untuk segera melaju ke forum pekanan yang jaraknya cukup lumayan sekitar 20 – 30 menit dari rumah.
Sudah lama sekali memang aku tidak menggunakan sepeda motor untuk sebuah agenda ‘ngebut’ mengejar waktu….hal itu berakhir saat bersamaan aku lulus SMA, jadi sejak SMA kebiasaan ini menjadi hobby tersendiri terlebih ayah ku membelikan hadiah ulang tahun saat itu sebuah sepada motor bebek racing keluaran baru (pada masa itu).

Masa jahiliyah yang menjadi lukisan memori otak agar bersyukur dan menjadi torehan kebijakan hidup untuk nantinya. Agenda ngebut rutin pagi hari ke sekolah dengan sengaja menyelap-nyelip diantara kemacetan dan angkot – angkot ‘bandel’ yang suka action ngebut juga. Saking sukanya akan kebut-kebutan, pas baru beberapa minggu dapat hadiah motor, tak sengaja mobil kantor ayah yang saat itu melewati jalan kalimalang terselip juga oleh agenda kebutan ku. Aku tak sadar kalau itu adalah mobilnya, akhirnya tanpa basa – basi lagi sesampainya dirumah beliau langsung memarahi dan menasehati, bahkan mengancam untuk menarik ulang motor tersebut..(piss Yah..kalau negbut lihat2 donk bang,he3x).Lainnya, agenda ‘jalan minggu’ (biasanya ba’da latihan sepak bola) or ‘jalan sabtu’ habis pulang sekolah bersama geng motor teman sekelas (Rudi, edo, baskoro, dan lain2….kemana nih ente semua sekarang?), dengan tujuan yang entah ga jelas. biasanya survey ke rumah teman – teman yang sekelas dan enggak sekelas, dari yang kenal akrab sampai yang memang kenal nama doang, selebihnya cari tempat yang enak buat nongkrong atau kalau lagi enggak mute nongkrong dirumah Rudi yang dijadikan base camp resmi untuk ngutak – atik motor anak – anak, coz peralatan bengkelnya cukup lengkap. Dari situlah aku mengenal sedikit tentang mesin motor.

Skill ngebut ria itu kadang cukup menguntungkan saat – saat waktu kritis menjaga sebuah janji dan tauladan untuk DISIPLIN on time. Tapi entah kenapa skill itu mendadak sepertinya menghilang, entah karena sudah terlalu lama tak diasah atau memang spirit itu sudah hampir melemah. Badan dan tangan ku bergetar kencang saat ku laju sepeda motor baru mulai 90 – 100 Km/jam, dan lain lagi, hati ku mulai menciut saat ngerem mendadak hampir menabrak, padahal dulu menyenggol, tersenggol atau bahkan hampir benar menabrak mobil tak pernah ada kengiluan dihati apalagi sampai badan dan tangan bergetar. Insting dan feeling pun saat jalan harus menyelip – nyelip diantara dua sampai empat mobil angkot yang harus dilewati menjadi tidak seperti dulu bagai permainan games yang menyenangkan. Penuh tantangan untuk sebuah kegembiraan. Aku jadi lebih rada takut kali ini, padahal ngebut hari ini untuk momentum kebaikan..

Setelah merenung kembali, bisa jadi ini sebuah sunnahtullah bahwa membangun kebiasaan-kebiasaan kebaikan itu sulit, sesulit kita juga bila lemahnya azzam menghapuskan kebiasaan kejahiliahan yang telah melekat. Atau bisa jadi sebaliknya, menghapuskan kebiasaan - kebiasaan kebaikan itu menjadi mudah, semudah bersamaan saat kita juga mulai mudah melakukan kebiasaan kejahiliyahan. Ibroh lain, bagi da’I yang lemah-malas mental mengasah (melatih/belajar) kapasitas dirinya dalam sinergi berjamaah atau individual untuk kepentingan da’wah dan akhiratnya, maka jelas ia takkan mampu memotong tali – tali konspirasi kejahiliyahan, sebab pisau yang dipakai dipastikan tumpul!!. Apalagi untuk menjadikan tajam mata hati untuk sebuah bashirah solusi menyelesaikan masalah dan menjadi penerang masa depan generasi ummat…..pasti jauh lah dari yang diharapkan.Asstagfirullahal’adzim…

Nb : akhi kpan kita ngebut lagi,he3x!!
(Izz@m ;070908 my room Bekasi)

Tuesday, September 02, 2008

HIBURAN JIWA DAN HARAPAN


Sejak sebulan lalu kepindahan kakak, ada hal menarik dihati yang timbul alamiyah. Keinginan dari kecenderungan yang tak biasa untuk pulang kerumah bila hari sabtu atau ahad tiba, biasanya aku lebih nyaman sabtu atau ahad dikost untuk menikmati agenda da’wah. Ya, sebab hari itu kakak ku dan kedua jundinya yang imut ukhti Nikita (4th) dan akhi Muhammad Jamil Zidane (6th) yang biasa kami panggil bang Zidane selalu menyempatkan silahturami kerumah bahkan kadang menginap, dan menjadi kesenangan sendiri saat ‘rumah mini’ ku dijadikan tempat menginapnya.
Rasa rindu yang sulit diungkapkan berbalut canda hadir saat keponakan ku datang, hiburan jiwa yang tumpah meruah melihat kelucuan dari kedua keponakan ku yang memang pada usia itu, masa dimana Allah memberikan rasa kepada siapapun untuk takjub penuh kecintaan kepadanya, dan dihadirkanNya juga dalam rasa manusia yang melihatnya untuk tertarik (konsen) penuh, maksudNya agar orang tua dan siapapun yang berinteraksi agar mampu tertarik(konsen) mencintai. Supaya proses pertumbuhan alamiyahnya dapat teramati dan terjaga dengan baik oleh orang sekitar dan siapapun hanya dengan cinta, sebab pada usia itupulah menjadi rahasia penting usia emas untuk mudah memulai menumpahkan, melukiskan dan menggoreskan tinta – tinta kehiduapan.
Begitupun rasa itu yang menghinggapiku, maka saat ketemu adalah saat penting untuk menggoreskan pena itu atau mengevaluasi aktifitas kebaikannya selama seminggu dengan ‘cara’ ku, seperti ini : “kata bu guru dan mama abang sudah hapal surat – surat pendek dan do’a iftitah ya, coba Om mau dengar kalau bisa Om kasih hadiah” kata ku sambil mencium pipinya yang gembul. Walaupun agak malu-malu akhirnya dengan ‘gaya’nya keponakanku itu murojaah juga. Tak percumalah saat Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) menjadi pilihan, bayangkan baru kelas 1 saja sudah pintar berbagai macam ‘skill’ baik akademisi umum dan akademik religi. Dari diajarkan hitungan model sempoa hingga hapalan do’a shalat, surat – surat pendek Al qur’an dan banyak lainnya…bangganya aku kepadamu Bang Zidane.Memang awalnya aku mengusulkan agar tidak sekolah di SD Negri/inpres ke kakak ku sebab dari observasi dan lainnya karena sekolah itu gratis jadi kurang diperhatikan benar, lain halnya di SDIT gurunya saja dalam satu session pelajaran harus minimal 2 orang, dan itu harus dibayar cukup mahal, miris jika menghitung kalkulasi uang masuk awalnya sama dengan biaya kuliah ku di apoteker UI…fiuuh. “sabar mpok, insya Allah ga akan habis rezekinya bang zidane kalau niatnya untuk memperbaiki generasi(Islam)” ujar ku selalu meyakinkan kakak.Tetapi memang untuk menikmati pendidikan Islam yang baik masih mahal dan masih tidak bisa dinikmati kalangan umat Islam pada umumnya. Inilah PR kita dan menjadi PR bersama bagaimana bisa menghadirkan pendidikan yang terjangkau untuk ummat tapi berkualitas, minimal terlebih pendidikan yang terbaik untuk keluarga kita dari kita dengan niat, waktu dan metode yang terbaik.
(Izz@m 020908 kost onan said)

PUTRA – PUTRI BETAWI DI WISUDA


Agustus ini adalah panen raya, dua putra-putri betawi dari keluarga besar Agus Sasi di wisuda. Adikku tercinta sabtu 30 agustus 2008 kemarin disumpah profesi apotekernya plus wisuda, sedangkan aku alhamdulillah masih diberi kesempatan Allah untuk bisa wisuda sarjana. Kebanggaan tersendiri bagi siapapun untuk merayakan kemenangan itu, kemenangan karena terlepas dari beban biaya yang menjerat rutin, kemenangan untuk punya peluang berbakti mengembalikan kristal – kristal keringat yang pernah diberikan, tapi bukan berarti proses pembelajaran telah selesai. Saat orang tua dan anak nya berbangga untuk di wisuda dan berfoto – foto dengan pakaian Toga-nya, terlebih ini adalah kampus yang didambakan banyak orang....UI (males banget dah!!). Kali ini tetap...akhirnya adikku wisuda apotekernya dihadiri oleh kedua orang tua, jadi ia merasakan benar bagaimana rasanya bangga ‘merayakan’ kemenangan itu yang sebelumnya wisuda sarjana tak dilakukannya.
Keluarga ku (terutama Ayah ku) termasuk orang yang tidak suka akan acara-acara seremonial (simbolis), maka hal itupun tertular ke aku, lain hal itu karena ibu mujahid tercinta sudah lama terkena penyakit ginjal yang mengharuskan minum obat seumur hidup dan tak mampu untuk beraktifitas berpergian seperti orang normal, syafakillah bu,Sabar ya akan ujian Allah (Allah Love You)!!. Dua kali wisuda, dua kali juga tak bisa dihadiri oleh kedua orang tua ku, wisuda DIII dan Sarjana. “engga apa-apa khan kalau datang wisuda sendiri” bela ayahku...Kecewa?..ah tidak juga! Bahkan saat DIII dulu dengan bangga-nya undangan wisuda untuk ortu, ku berikan kepada seorang teman seperjuangan da’wah (akhwat), orang pertama yang berani menikah saat kuliah, saat nikah sambil kuliah belum menjadi trend kala itu bahkan menjadi larangan akademik, sebab diawal kuliah memang kami menandatangai kontrak tidak boleh menikah saat kuliah (sejak kasus ini tidak ada lagi perjanjian itu ditahun selanjutnya). Undangan ku berikan agar suaminya bisa menghadiri selain kedua orangtuannya. Dan saat tawaran orang tua ku menawarkan lagi kali ini untuk ikut wisuda diBalairung UI, dengan tenangnya aku hanya bilang “Gimana Yah kalau uang wisudanya aku belikani buku saja?” please deh hari ginie!!....ah dasar pikir ku: like father like.....saat ku tahu engkau ternyata lebih maniak parah juga kalau sudah baca waktu muda dulu, tentang koleksi buku2 mu yang berpeti-peti dan beberapa buku harian yang berisi tulisan curahan idealisme dan puisi perjuangan kejujuran kehidupan, bedanya saat itu zaman dimana engkau belum mengenal yang namanya alm Ustd Rahmat Abdullah dan teman – temannya, tapi sekarang kau bisa menikmati percikan karya-karyanya yang bergerak nyata yaitu aku dan adik ku.
(izz@m, 020908 kost Onan sa’id)
Nb : afwn buat teman2 saat wisuda fakultas kemarin, aku menghilang lebih dulu engga ikut foto2 bareng: “k’agung kemana seh?”......fren maapin, pokoknya ane ga betah dah ama yg namanya acara seremonial or simbolis terlebih adanya kemubaziran ditiap lini.

Friday, August 22, 2008

SAYAP YANG TAK PERNAH PATAH



Mari kita bicara orang – orang yang tak pernah patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap – sayap Gibran yang patah. Atau kisah – kasih Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka ‘majnun’, lalu mati. Atau jangan – jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.
Ini cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap ditengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung – burung

O burung adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati


Mari kira ikut belasungkawa untuk mereka. Mereka orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawa ku dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.
Di alam jiwa, sayap cinta sesungguhnga tak pernah patah. Kasih selalu sampai disana. “apabila ada cinta dihati yang satu, pasti ada cinta dihati lain”. Kata Rumi “ sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain”. Mungkin rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksika fakta lain.
Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejewantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang – orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung : mencintai
Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidak sampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya : “apakah yang akan ku berikan?” tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi hanya patah atau hancur karena kita lemah. Kita lemah karena posisi kita salah. Seperti ini : kita mencintai seseorang, lalu menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena mencintai. Tapi karena menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita?
(Anismatta)

Nb : “kemana saja cinta, maka janganlah pernah patah? Maka saat kau semangat terus memberi dan kembali memberi, sebenarnya kau masih sedang istiqomah mencinta. Dan kau pun mulia, cinta.”

Tuesday, August 19, 2008

Memaknai lewatlah sini!


Memaknai lewatlah sini!
Melewati ini, Jalan ini&menJalani pilihan ini. Memaknainya didalam lorong bawah tanah gelap terbatas hanya dgn lentera keikhlasan dan kokohnya lapisan kesabaran, kadang kau hanya akan meraba, terjatuh dalam banyak lubang – lubang pertanyaan, bertanya – tanya hanya tentang sekedar kapan waktunya jawaban permasalahan isti’jal selesai semuanya terjawab, untuk tetap bertahan, tetap tenang berjalan dan tapi tenanglah pasti kau akan menuju cahaya dilorong terakhir dari jawaban rangkaian fiqh fadilah kebijakan, karena yang perlu kau kenal sekarang hanya cerita – cerita goresan fikir dan karnaval- karnaval jiwanya saja. Hanya itu, cukup itu tapi seterjaga itu.Tebal buku sejarah umatpun hanya mencatat itu “jiwa yang menerangi dan cita – cita yang menyala”, jadi hanya jiwa-jiwanya saja, bisa jadi mungkin aku, kamu dan merekalah tokoh utamanya. Semoga riaknya tak semakin menunjukkan kedangkalannya, tapi tenangnyapun tak boleh menyampaikan kedalamannya yang terlalu karena kita “merasa” ikhlas sedang benar, sebab “merasa” itulah masalahnya.Jadi jika itu masalahnya maka yang lebih penting lagi adalah nasihatnya. Kaupun juga benar, tetap harapan kebarokahan jalan ini tak boleh luntur oleh apapun apalagi oleh deterjennya sendiri karena rendaman “merasa” terlalu lama tersembunyi dalam wilayah yang paling aman di hati kita. Seperti kata mu “bersama belajar mencari yang terbaik hanya dengan jalan terbaik dan niat terbaik”.

CIDAHU 9-10 AGUSTUS 2008 (part I)

“Mendaki : Ini bukan sekedar hobbi yang lahir begitu saja, ini adalah bagian dari tuntutan amanah da’wah dahulu yang sebenarnya aku pun kurang tertarik diawal, tapi entahlah mengapa sampai sekarang kebutuhan hobby ini melekat menjadi suatu hal yang tak bisa dilepaskan, menempel bagai daging dengan tulangnya, menjadi bagian jiwa dan akhlaknya yang terlontar keluar!!. inilah menurutku episode besar dari kisah kekuatan cinta ketaatan amanah da’wah yang memunculkan banyak hikmah manfaat yang baru terungkap ditiap lini kehidupan kemudian...inilah buah dari pohon istiqomah yang banyak orang umum pahami secara sederhana adalah ketekunan otodidak, begitupun saat yang sama ketika ketertarikan ku pada dunia penulisan (wa azdinats lirobbihaa wa huqqots).”

06/08/08 (13.00 WIB)
Breifing : Akhwat2 sekarang kok manja banget nih?
Jadwal agenda briefing jadi ditunda dari yang dijadwalkan diawal perjanjian jam 10.00 jadi jam 13.30, yang punya hajat pemberi “taujih” saudara kopong (ilman;ekst 07) dan akh firman sedang ada acara, beliau dan akh firman adalah dedengkot organisasi pencinta Alam (PUMAPASI) di kampus DIII ku, ya ga jauh beda dengan di skala partailah, beliau – beliau itu sekelas ustadz Hilmi, team majelis syuronya pecinta alam gitu...gimana ustad firman dah siap jadi ’sang murobbi’? Jika belum sanggup gimana jika tawaran Ane turunin jadi ’sang mentor’.. He3x. Sekedar info bagi teman yang ingin buat acara kegiatan dengan tema outbond atau materi tentang alam untuk SMA atau SMP bisa menghubungi langsung beliau –beliau itu, promosi sedikit lah Sob..!Rohis bisa nego-lah....
Teknis persiapan dan segala bekal tentang medan banyak dijelaskan, tetap usulan untuk menginap di villa atau wisma di sekitar Cidahu menjadi pilihan akhwat, tapi ikhwannya kekeh ditenda...akh Rida yang bingung,
”lah yang namanya mau naik gunung atau puncak mah enaknya nginap ditenda kalee”...peserta yang aneh, ujar nya.
Iyan yang tadinya mau ikut jadi illfeel gitu. Padahal kami sudah membujuk ’rayu’ bidadari - bidadari dunia itu dengan cukup panjang tentang keadaan disana yang tidak sesulit dan sesusah yang banyak difikirkan teman – teman akhwat.Banyak tanya, sama halnya tentang karakter umum wanita saat nawar bawang atau sayuran di pasar, mulai dari pertanyaan, ada kamar mandinya ga disana?bagus gak? Trus jalannya jauh ga kepuncak kawahnya?bahaya gak?...
”namanya juga jalan-jalan ke gunung Bu, bukan ke mall yang pake liff ama tangga jalan!!” Dalam hati senyum kesabaran ku yang mulia menipis.
Entah sejak kapan trend ini melanda para ikhwan dan terutama akhwat (afwan yang merasa dirinya ikhwan dan akhwat kaya gitu; semoga tersinggung!!), latihan (tadribat) dalam kesulitan bukankah pilihan? Sebab tak pernah ada lembaga training yang melatih untuk kondisi senang!!...parah lagi nih buat Neng Ifa and The geng, maaf nih Neng namanya jadi ditulis jadi masuk blog ku (La taghdhob!!, ga pa2 khan neng dari pada sulit kalau masuk tipi, atau juga dari pada masuk neraka..hihi),
”kalau ada yang lebih baik, kenapa enggak (divilla) ka Agung?”wah nyang eni-nih enggak ane banget dah Neng!! Tapi memang perlu dimaklumi bahwa wanita itu istimewa, aurat yang harus dibatasi wanita melebihi batasan aurat pria. Oleh sebab itu mungkin wilayah kenyamananya pun akan terbatas, seharusnya terbatas pada proporsional membatasi, sayangnya banyak wanita yang enggak proporsional dalam membatasi kadang to much dan kadang mempersulit diri sendiri, sebab membatasi yang proporsional itulah yang akan malah melahirkan kekuatan keistimewaan, subhanallah, contoh: ”sifat kelemahan lembutan (Ar Rifq) wanita adalah kekuatan terbesarnya dalam menaklukan pria”, buktinya Nabi kita Muhammad dalam hadist takkkan pernah mampu ”menahan” saat ketemua Aisyah; karena dalam diri Aisyah terpencar sifat kelemah lembutan yang luar biasa diantara istri – istri nabi yang lain, biasanya malah kalo wanita ”macho” akan lebih sulit mencari pasangan jiwanya Sob: membatasi proporsional fitrah, ga percaya.....buktiin aja Sob?.
Ini yang lebih aneh lagi menurut ku, dan begitu pula akh Rida yang turut menyimak breifing. ”Gimana kita pada mau bawa beras berapa liter untuk masak disana?” tanya kopong.
Group ikhwan mah pengen banget masak disana, loh wong ini adalah momentum terbaik dan jarang untuk belajar menjadi bapak – bapak farmasi yang baik dan mandiri kelak, untuk bisa belajar masak (ciyeee, ciyeee chef Rida)...ya, yah minimal, masak mie goreng, masak nasi dan masak sarden, bilamana nanti istri lagi sibuk ngisi dauroh jauh, memang bukan masak biasa dengan tingkat kecepatan dan kebersihan yang pasti dipertanyakan juga?. Eehh, malah jawabannya akhwat
” gimana kalau kita bungkus aza nasi dari rumah dengan teknik jitu ibu alef dan Neng Ifa, yang menurut eksperimen ilmiah beliau katanya nasi dijamin gak akan basi sampe malam, lauknya yang kering dan awet dan untuk makan pagi besoknya kita beli aja diwarung” gguuuubrak!!.
Memang sih jadi simple, dan ia juga sih memang ada warung 24 jam disekitar perkemahan, ”lah kalau kaya gitu mah sama aja kayak makan dirumah ga ada ”sense-nya” gitu bu!!” akhwat – akhwat sekarang yang instan!semoga ga sampe jadi wanita spoon. Mohon maaf buat akhwat – akhwat sedunia, ini hanya sebagian oknum, enggak maksud mengeneralkan anti – anti semua yang telah berjasa pada Dunia dan Indonesia ini.....:D.
Keputusan ’syuro’ menetapkan : Besok tetap akhwatnya nginep divilla!! (ukht Riwa : Kecewa  berat , jangan ditenteng cariernya ya bu entar jadi berat beneran, (?))

08/08/08-(08.00 WIB)
Berbagi tugas :”Berikanlah yang terbaik untuk orang lain”...
Akhirnya dapat dipastikan yang mengikuti hikking kali ini : akh firman, ana, akh amat dan akh Rida, sedangkan akhwat nya : ukht Ifa, Riwa, Yuyun selebihnya adalah team menyusul sore: ukht Lifa, Sari dan Witri disebabkan ibu Lifa memang harus kerja dulu. Seluruhnya berjumlah sepuluh orang. Rihlah yang lebih banyak dari pada tradisi rihlah ekstensi tahun sebelumnya ke Cibodas – curug Cibeurem (G.gede).
Hari ini, mulai dari pagi banyak tugas yang harus dikerjakan berbarengan, antara kepentingan individu (akademik) yang belum selesai ngurus legalisir SKL dan Transkrip untuk pendaftaran Apoteker dengan mengurus perlengkapan buat naik besok seperti tenda, carier dan amunisi perut lainya. Ini agak keteter dari sebelumnya coz kemarin kamis sudah disibukkan dengan amanah agenda baru (gimana ukht Fita Dwi sudah direkap belum?) dan memimpin rapat. Salah satu solusi cerdas ya, berbagi. Aku yang ngurus akademisi, akh firman yang nyari barang kelengkapan dan sorenya aku dan akh Rida belanja untuk beli gas, parafin dan amunisi perut lainnya.
Sore, akhirnya semua secara tak sengaja kumpul dikost onan said berikut beberapa barang bawaan yang sudah ditargetkan. Aku yang masih bermasalah, karena masih ada urusan ilmu dengan Condet yang belum selesai, ya mau tidak mau harus langsung berangkat sore itu juga untuk menyelesaikannya, dianterin Rida pakai motor hanya sampai naik metromini 53, sekalian beliau pulang untuk ngambil carier yang kurang coz katanya belum juga packing barang – barang pribadinya pula.
-20.00 WIB-
Akhirnya malam itu kumpul kembali dikost onan sa’id, begitupun akh Rida yang telah sampai kost dengan cariernya. Kita harus menunggu untuk packing perlengkapan kelompok, sebab kamar kost dipakai akh Amat untuk agenda pekanannya. Hari ini hari spesial beliau: ustad Amat Paziri, Lc, ustad baru di kost onan said (sebenarnya ustad sudah lama cuma belum tenar aja...piss akhi!) sekelas tataran daftar ustad – ustad DPD-lah (insya Allah, amiin...begitulah ledekan postif akh Rida) karena akan membahas buku penting sepanjang sejarah pemuda dan dunia Islam......”Cinta dan Syahwat” karya Ibnul Qoyyim di forum itu (hihi..ciyee akhi)...loh kok temanya cinta mulu ustad?emang ga ada tema yang laen..he2x ledek ku juga. Jadi sekarang kalau ada yang mau konsul masalah cinta dan segala fenomena syahwat silahkan aja hub ustad Amat Paziri, Lc di 0856911XXXX insya Allah selesai masalahnya atau ketik REG spasi KONSUL spasi PERTANYAAN kirim ke no. 0219274XXXX tarif premium....lah kok jadi kaya seleb gitu ustadz...piss!!Terpaksa kita ngungsi di kamar kost sebelahnya (kamar alumni; basecamp), sambil diskusi buat besok, sambil menunggu. Perlengkapan sengaja disediakan untuk keadaan apabila ternyata akhwat berubah pikiran untuk nginap ditenda, jadi tenda tetap dibawa dua untuk kapasitas masing – masing 6 orang dan 4 orang. Carier jadi lebih berat, kurang apa coba panitia!!
Baru jam 22.00 kita mulai berberes, setelah agenda akh Amat selesai ”Berikanlah yang terbaik untuk orang lain..” . Kita baru pada tidur sekitar jam 1-an, karena harus buka tenda dulu untuk ngecek dan ricek kembali sekaligus packing barang – barang pribadi masing - masing, padahal mah kita (panitia) menganjurkan agar peserta sebelum naik agar tidurnya cukup jangan sampai begadang takut fisik jadi lemah (ngedrop), tapi kita sendiri yang ngelanggar!!Ego nih. Terlebih aku yang tidur terakhir, karena memang biasa aku yang sulit tidur kalau sudah jam segitu (The Dark Knight: manusia malam..kalee Sob!) sudah kebiasaan, lainnya menunggu kantuk ku ngedit buku panduan perjalanan untuk besok berupa do’a – do’a harian yang harus dibaca saat perjalanan dan menginap, sederhana tak terpikirkan, tapi menurut ku cukup bermanfaat, isi selebihnya materi survive dasar dari akh Firman, takut kali aza ada yang nyasar dihutan jadi enggak usah nyusahin aku dan akh Firman untuk mencari, tinggalin aja pulang You will survive akh/ukh, tsiqoh kok.....he3x. tenang ga mungkin Sob! Hikking yang harus berbeda??.
Bersambung .....penasaran?tunggu aja tetap stay in diblog ini...
Comming soooon : Di gunung ketemu mantan mentri R.I!!


Amat : Lah Napah ente ustad, kaya orang pasrah gitu? eNih ekspresi cinta or syahwat ustad..hi2x
Firman : Ranger G.Salak lagi pose...ini posenya lagi gak tidur khan akhi..
Rida : Hore, hore, hore difoto (ndeso)...akh emangnya ini lagi ulang tahun ya?
Ane : Bang kameranya bukan diatas, tapi didepan tuch..jaim bgt dah!
Neng Ifa&the genk : Gak dimana – mana dah Neng, pasti gaya mulu..emang orang betawi punya gaye dah...jadi ketularan dah nyang laen..tuch liat khan Neng.

CALON SANG MUROBBI


“Ah, dasar mahasiswa” pikir ku….dan, ya sekarang aku kali ini kena juga, tidak seperti dulu saat bekerja berada didunia profesi. Ada sumber penghasilan tetap dan menjadi agenda rutin untuk membeli buku-buku, kaset dan VCD keislaman bulanan yang menjadi hobby kesenangan tersendiri, selebihnya adalah tuntutan. Mengumpulkan ilmu – ilmu yang berserakan dari sisa kesadaran dan pembagian jatah gaji yang memang harus dibagikan. Karena adil adalah bagian dari keimanan. Dan adil pasti sejahtera…what try!!(apa coba.he2?)

Ini bicara tradisi, idealisme, eksistensi dan harapan. Usaha untuk tetap membeli, meminjam tetap menjadi azzam terkuat. Bedanya kali ini dengan perhitungan yang lebih matang (istilah halusnya: ngirit), tapi ya kadang agak jebol juga pengeluaran dan seringnya jadi absen untuk kancah menjaga eksistensi kegiatan ini, bedanya lagi dulu buku yang dibeli tebalnya sekelas kitab- kitab, kalau sekarang?...harus benar – benar selektif untuk membeli buku yang seharga dibawah 50 ribuan dengan kontent ’isi’ yang harus maksimal, palingan kalau mau beli buku yang agak bagus harus ’bisu’ sejenak, maksudnya uang pulsa harus dikurangi, dan harus dibayar mahal pula dengan kata-kata ”afwan br bls” saat balasan sms atau menelpon setelahnya, tapi hal itu sulit memang, dan kesulitan itu sering serius berujungnya tetap jadi kebanyakan milih- milih buku dan tempat toko buku, dan malah berubah keterusan jadi aktifitas baru: agenda survey2 buku. Ada niat tapi miskin harta, itu agak lebih baik ketimbang enggak punya niat miskin harta juga...kejahiliyahan tingkat tinggi, Sob! Keuangan mahasiswa yang pas tapi mau kualitas buku yang maksimal. Kadang kala nyari tempat buku murah lainnya, sekali lagi secara harga BBM naik Sob....yah, ujung – ujungnya survei lagi, list buku baru lagi, survey lagi dan kapan belinya akhi?...

Yah, semoga tradisi dan idealisme ini minimal membedakan aku dengan ibu – ibu atau ummahat – ummahat saat belanja ke pasar. Bedanya sarana dan objeknya, jika pasar dan sayur mayur adalah bagian sarana dan objeknya, sedangkan tradisi ku, toko buku dan buku menjadi sarana dan objeknya. Tingkat ketahanan berada dipasar, ketelitian ilmiah memilih dan tingkat kritis menawar menjadi hak cipta tersendiri baginya. Untuk idealisme ku kali ini, maka ku pinjam hak cipta mereka, tentunya untuk sebuah eksistensi saat ini menjadi mahasiswa (pembelajar).

Selama sebulan biasanya bisa 2 – 4 kali ke toko buku, kadang untuk survei, baca dan paling sering adalah mencari inpirasi untuk menulis atau apapun termasuk mengkritisi sebuah buku. Baik buku ”jahiliyah” yang sedang berkembang dengan strategi memakai topeng ataupun polos terang-terangan. Selebihnya adalah melihat perkembangan pola pikir dunia dengan melihat buku – buku ”kebaikan” yang sedang terbit dan tumbuh berkembang.

Akh firman pun jadi ketularan untuk ’tradisi’ ku ini, terhadap buku dan toko buku, tapi aku pun mau tak mau juga tertular penyakit mencintai alam-nya. Begitu pula seni olah fisiknya akh Amat. Satu ruang dalam tiga penghuni, keniscayaan untuk terjadi difusi karakter itu mungkin, bisa transfer kebaikan atau keburukan, karena semua punya dua sisi itu tergantung filter masing – masing pemahamannya.Lambat tapi pasti, tidak sekarang, tapi mungkin besok atau nanti kemudian kelak. Terkadang hasil da’wah baru akan terlihat saat usia sudah habis dimakan masa, saat terpisah waktu dan ruang. Dan momentum itu hadir ditiap masing – masingnya, tapi saat jarak sebagai pemisahnya. Tidak bersamaan, tapi saat itu pulalah pemilik investasi da’wah dan objek da’wah terkadang tak pernah saling tahu hasilnya untuk menjaga waktu dan keikhlasan. Karena imbas kebaikan itu kadang harus hadir pada bauran wilayah dan kebutuhannya yang berbeda di alam ini, itulah kebarokahannya, karena kehendak Allah swt yang Maha Pengatur.

Tertular mulai dari kesukaan terhadap buku – buku bacaan, kesukaan penulis buku, mengkoleksi hingga menggapai visi untuk sebuah tradisi sederhana ini. Jawaban kami semua hampir sama, satu essensi hanya beda apresiasi, saat bertanya untuk apa hobby membeli, membaca buku Islam dan seterusnya :

Jawab ku sederhana ”ane ingin mewarisi ilmu dan buku – buku ini semua untuk istri dan anak ane kelak biar berdaya untuk ummat”. Warisan yang sederhana pikir ku, karena iman tidak bisa diwarisi tapi untuk menggapai hidayah-Nya perlu difasilitasi, maka ku wariskan buku dan ilmu, tidak berat dan tidak banyak menimbulkan banyak perkara dibalik makna warisan harta – harta lainnya. Bahkan dibenak ku, lebih tertarik untuk membangun perpustakaan dan usaha toko buku dibanding membuat sebuah Apotek, atau mungkin akan dimodif!

“mau memperbaiki diri dan bisa memberi untuk keluarganya nanti”, begitu apresiasi akh firman, lebih sederhana dari visi ku, hanya beda apresiasi. Hingga ketertularan ini menjadikan aku referensi standarnya dalam memilih dan membeli buku, mana yang menjadi buku dasar dan wajib, mana yang menjadi ”koleksi”.

Menjaga tradisi sang murobbi

Intinya tradisi ini semoga menghantarkan ku pada keadaan mengisi dan memberi nantinya, memperbaiki dan kemudian menjalankan mesin juga rodanya hingga terjadi perpindahan keadaan, tapi dimulai dengan tradisi yang sangat sederhana; MEMBACA.Bisa jadi budaya survei, membeli, membaca, belajar dan beramal adalah awal dari tradisi dan idealisme ’sang murrobi’, terlebih dengan tradisi menulis ”pencerahan ummat” dengan mesin ketik bututnya disaat ummat terlelap tidur. Ini hanya beda masalah isi dan pengolahannya yang ada di kepala dengan kecenderungan (iman) yang dasyat yang ada dihati, maka lahirnya sang murobbi yang mampu mengajarkan ummat, menuntun dan menerangi ruang – ruang jahiliyah yang masih gelap gulita diberbagai pelosok alam ini.

Bedanya ”tradisi” sang murobbi dengan kita adalah ia membaca untuk diceritakan, membaca hikmah renungan untuk diamalkan, ”praktek” dalam pengalaman dari hasil membaca untuk disampaikan hingga menghujam bumi sekitarnya. Karena tugas hakikinya menyampaikan dan mengabarkan tentang ini iman dan kuffur, ini surga dan disitu neraka. Dibagikan kesetiap orang, ke setiap kampus dan bahkan ke setiap pelosok-pelosok kampung nusantara. Dengan cinta dan jiwanya. Kepada siapapun, tak memilih- milih, tak terkecuali kepada rezim penguasa. Karena seluas itu jangkauan ruang jiwanya dan seluas itulah cakupan cintanya untuk perbaikan ummat, dan akhirnya semua mampu masuk ke lubuk hatinya dalam selimut kebesaran dan kesabaran, kelapangan dan ketawadhuan. Bedanya kita, ruang hati kita belum seluas itu, jangkauan jiwa kita belum sejauh itu, maka kita hanya mampu membaca kemudian menyampaikan pada beberapa orang, beberapa khalayak dan beberapa jiwa yang memang tidak sakit benar. Cinta kita kadang tidak cukup dalam untuk sebuah keberanian menyelam pada kedalaman kebenaran dari keyakinan yang belum matang. Karena semakin menyelam kedalam laut semakin besar tekanan airnya, oleh sebab itu bisa jadi kita masih belum belajar benar tentang keyakinan dan teknis untuk menyelam yang benar, atau untuk menyelami kedalaman keimanan kita sendiri. Tapi kita bisa!! Bisa seperti itu, sebab kita punya asal usul dan dimensi yang sama dalam penciptaan yaitu manusia. Sama – sama manusia. Dari tanah dan akan kembali ketanah.

Nilai jual

“Ah, dasar mahasiswa...” pikir ku lagi. Bisanya hanya nanya harga, tawar – menawar dan enggak sanggup membeli. Kejadian itu ba’da selesai shalat jum’at di MUI bareng akh Firman, Amat dan Rida saat ada ikhwan yang menjual VCD sang murobbi dan buku ustadz Anis matta tentang ”serial Cinta-nya”:

”berapa pak harga VCD sang murobbi?” tanya akh Rida.

”35.000 rupiah” ujar bapak penjual itu.

”bisa kurang ga pak?” balik tanya

”belum bisa tuh” balik jawab bapak penjual

Pikirku itu tidak terlalu mahal, untuk sebuah referensi dokumenter sejarah Tarbiyah, tetapi sekali lagi dasar (kami) mahasiswa, selalu aja ada renungan kelucuan setelahnya. Jika harga VCD ‘sang murobbi’ saja seharga Rp 35.000 bisa jadi mungkin harga VCD ‘sang mentor’ bisa kurang lebih murah atau bahkan lebih turun lagi jika kisahnya adalah ‘sang muttarobbi’. Kami pun tersenyum dalam bahana pemahaman yang semakin luas. Dalam canda yang ringan tapi mendalam makna syar’i tentang kisah Sang Murobbi yang selalu punya nilai jual tertinggi di mata Allah dan ummat

”Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.(Q.S 41:30)"

(Izz@m 16/08/2008 Bekasi; ba’da isya)

Monday, August 11, 2008

SYUKUR

Merintis lelah, mengemas bahagia

Sabarnya meminang senyum dalam luka

Kadang kecewa dalamnya romantika rasa

Apa tak secukupkah Allah saja tempat kecukupan dan pelindung terbaik abadimu?

Dimana istiqomah, tanya da’wah?

(Depok 190708 syukur sidang)

Friday, August 01, 2008

Rasa Vs Logika.

Sudah hampir berjalan satu bulan pernikahan kami, ibarat akan hujan, maka masih mendung benar, belum sederasnya. Indahnya rumit dalam keunikan sifat, romantisnya perbedaan dan kesannya berlapang dada saat menerima apapun yang kadang sulit diterima dengan logika, bukan teori lagi kali ini. Benar juga, dari diskusi kecil dengan teman ku yang telah walimah beberapa bulan lalu tentang beberapa sifat wanita (istri) yang terkadang sering bertindak dan mengambil keputusan diluar batas logika.

”wanita lebih kuat perasaannya dibanding logikanya, akh. Logika hanya penguat rasa dan tetap penentu keputusan terbesar adalah perasaannya” ingatku pada perkataan Akh Firman, pembelaan terhadap kelebihan istrinya yang bersuku Jawa, hipersensitif akan perasaannya di acara arisan bulan lalu.

Awalnya sulitnya bagiku menerima kelapangan dada yang berasal pada argumen hal – hal non logika, terlebih di awal bulan pernikahan ini, tapi Alhamdulillah pernikahan inilah yang membuatku belajar menjadi manusia sempurna seutuhnya, sehingga mulailah terbiasa dengan menerima berbagai alasan – alasan non logika yang harus menuntut kelapangan hati. Terkadang memang, awalnya agak aneh, terlebih dari itu juga menjadi sebuah kesalahan yang harus di maafkan, atau kebenaran yang sulit diungkap tersirat karena tertutup oleh kabut rasa.

Ternyata Al hafizd-ah (istri ku) juga manusia, ia bukan malaikat yang turun kebumi bukan juga bidadari surga yang sekedar mampir kedunia, bukankah Bunda Aisyah juga pernah cemburu?.Misalnya, tiba – tiba saja bidadari ku menangis sejadi – jadinya memeluk ku erat, saat lampu dirumah mati, mungkin akibat pemadaman bergantian. Memang sungguh gelap, sebab pemadamannya terjadi saat ba’da isya, padahal saat itu aku hanya bilang

”Bun...Bunda tolong nyalakan Apinya, Abbi sudah menemukan lilinnya nih!”

bukannya korek api yang menyala yang ku dapati, tetapi malah suara tangis sendu tak berpindah dalam gelap. Ku telusuri suara itu dengan berjalan meraba – raba tembok, gelap sekali...

”Bun, engkaukah itu?”. ku dapati segera suara lembut itu, akhirnya kudapati pula wajah istri ku yang sudah basah dengan air mata dalam rabaan ku seadanya.

”Abbi...Naarun haamiyah, Naarun haamiyah..... Naarun haamiyah” sergahnya sendu, langsung memelukku dengan erat....terus memelukku semakin erat, diiringi tangis sendu. Aku pun bingung dibuatnya, kebingunganku pun tetap ku tahan sebisanya hingga ia puas melepaskan dan bebas mengeluarkan bahasa non logika, bahasa rasa pada apa yang ada dihatinya dalam pelukkan ini.

Sekitar hampir 10 menit ia terus memelukku, setelah itu barulah menengadah menatap wajahnya kewajahku, entah bahasa rasa apa yang bergulat dalam waktu yang selama itu.

”Abbi, Fa andzar tukum naaron taladzhoo?” Berbisik pelan suaranya dalam gelap ruangan ini, wajahnya semakin pucat juga masih terdengar jelas juga isaknya.

Akupun baru sadar setelah itu juga, inilah bahasa non logika, bahasa yang sulit dibahasakan dengan kata, tapi bermakna ”Tenang Bunda, sudahlah hal itu sudah dikecualikan untuk Alladziina a amnuu wa tawaa shoubisshobri wa tawaa shoubil marhamah, Bunda ingat khan?” mencoba mengendalikan perasaannya, sambil ku kecup berulang hangat keningnya. Bidadari ku yang sungguh istimewa perasaannya terhadap kisah – kisah ini.

”kliip” saat itu pulalah lampu kembali menyala, sepertinya tidak jadi pemadaman lokal!”Alhamdulillah Bun, lampu telah menyala” hiburku, tapi entah kenapa ia masih terdiam memeluk ku erat...diam.

”Bun...Bunda.sudahlah,.bukankah aku mencintai mu karena Allah dan Rosulnya dan bukankah engkau pun begitu?” bisik ku ditelinganya, menyakinkan ku dalam batas tafsiran seadanya tentang kedalaman perasaannya saat itu.

”Ya, akupun akan istiqomah Abbi!” kata diiringan senyumnya yang mulai perlahan merekah, dalam wajah terlengketi air mata yang sambil ku usap perlahan agar segera mengering dan tak membanjiri.

Itulah hari – hari di awal bulan pernikahan bersama wanita penjaga Al qur’an, masih banyak kejadian lain yang ”memaksaku” belajar langsung tentang ini adalah rasa dan ini adalah logika, berlatih berlapang dada terhadap alasan apapun suatu rasa yang sulit diterjemahkan dalam sebuah bahasa logika. Itulah kejujuran wanita, itupulalah bidadari ku, ”guru rasa” ku, tapi entahlah kenapa dibulan selanjutnya aku yang sering juga jadi menangis sendu walau tanpa mengeluarkan air mata saat istriku pun kadang menangis dalam pelukkan ini, ada apa dengan ku?.......(bersambung)

(Izz@m Juli 08; Depok. ”ini rasa dan ini logika”)

Nb: untuk teman2nya yang selalu bertanya, gimana kelanjutan Cerpen-nya?

Bekasi + Condet + JakPus + Depok = Bujur sangkar


Ada apa dengan ke empat nama wilayah ini? Bagi ku ke empat wilayah ini memiliki arti tersendiri, tempat membagi rasa, berbagi spiritual, memadu komitmen, tempat ujian antara membagi amanah dan mengkalkulasi tadribat ketangguhan meloncat serta melaju pada waktu yang sangat terbatas. Harus tetap bujur sangkar!! Sebab ke empat titik wilayah ini adalah keempat titik bujur sangkar itu, menjaganya agar berjarak tak saling mendekati dan tidak saling terlalu jauh menjauhi adalah seni tersendiri. Ada cinta dan kasih sayang di Bekasi, ada harapan mulia dan tugas suci untuk Condet, banyak amal khusus meruah di Jakarta Pusat dan kushyuk mendalamnya pembinaan di Depok. Keletihan tetap menjadi pilihan hidup untuk menjaganya agar tetap bujur sangkar, kelemahan adalah anugrah terbesar manusia, sedangkan keberhasilan hanya efek samping dari keridhoan yang dicita – citakan menjalani ini. Kemenangan tiap minggunya mengelola ini menjadi bukan kemenangan ku, melainkan kemenangan dalam kekuasaan-Nya, semoga seperti harapan ustad Sayyid quthb dalam tafsirnya yang mengartikan tentang esensi kemenangan rosulullah di Madinah dan setelahnya ” ..perkara ini berada diluar program orang mu’min, diluar penantian dan ambisinya. Kemenangan sendiri datang, karena kehendak Allah menentukkan agar manhaj ini memilliki realitas dalam kehidupan ummat manusia, yang memperkuat secara nyata dan terbatas dan bisa disaksikan oleh semua generasi. Kemenangan itu bukan sebagai balasan atas jerih payah, pengorbanan dan penderitaan. Kemenangan itu hanyalah merupakan salah satu ketentuan Allah yang menyimpan suatu hikmah yang bisa kita upayakan untuk melihatnya sekarang”. Benarlah, harus tetap bujur sangkar yang berarti sebuah upaya kemenangan, kemenangan yang harus diupayakan dari menikmati letihnya menjaga keseimbangan amal dan keridhoan-Nya.Nanti!! profesi apakah kau masih bujur sangkar akhi?(Izz@m, Juli 2008; Depok).

Monday, June 16, 2008

TAHUN ABU (Siroh Management Bencana Nasional I)

Ada kegembiraan tak luput pula kesedihan, begitu pula dalam kisah ini, kisah kami bersama khalifah terfavorite. Ada kemenangan dalam penaklukan Irak dan Syam dengannya tapi tak luput terdapat tahun kemalangan dengannya pula, tepatnya tahun ke-17. Ketangguhan dan ketegaran dalam mengemban khilafah dan da’wah Islam kembali diuji, tak tanggung – tanggung Allah memberikan rasa cinta dengan kenikmatan ujian kepadanya sebagai pemimpin dan kepada kami sebagai rakyatnya. Tahun Abu (Amar Ramadah) kami menyebutnya, kemarau hebat berkepanjangan selama 9 bulan dimasa kekhalifahan ini mengakibatkan bencana kelaparan yang merata disemanjung Arab tempat kami tinggal, hingga masa itupun terkenang oleh kami sebagai hujjah untuk selalu tsiqoh terhadap setiap keputusan pemimpin tanpa ada pengecualian, sebab kecintaan khalifah terhadap kami melebihi kecintaannya pada dirinya sendiri. Haruskah kami membantah?

Apa yang bisa kami makan saat itu, apa yang bisa kami sembelih kala itu jika hewan peliharaan pun kurus kering tak berdaging tak tega untuk memakannya, kadang sungguh terpaksalah kami menggali tanah atau pasir hanya sekedar mendapatkan tikus untuk bisa makan hari itu. Madinah sekitarnya yang sebelumnya subur dan madani berubah total menjadi kering, panas, berdebu, banyak rakyatnya meninggal dan sakit akibat bencana ini, bencana nasional yang mereguk banyak korban.

Hidupnya untuk umat jelas tertoreh disini, bukan Umar bin Khattab khalifah kami namanya jika apapun yang menjadi lisan dan prilakunya tak menjadi referensi sejarah untuk masa perkembangan juga ekspansi da’wah Islam. Hingga saat bencana melanda, lisannya pun masih mampu membela kami sebagai rakyatnya, walau sebenarnya kalaulah beliau mau cukuplah ia mampu untuk menggunakan harta Persia, Rumawi, Irak dan Syam hasil rampasan perang dapat ia gunakan untuk kepentingan pribadi dan tidak menurunkan sederajat pun hidupnya hingga 9 bulan bencana itupun terlewati

“Bagaimana saya akan dapat memperhatikan keadaan rakyat saya jika saya tidak ikut merasakan apa yang mereka rasakan”

Sepenggal kalimat lantang khalifah yang mampu menenangkan hati kami beberapa waktu mulai bencana melanda, rasa lapar yang terus menghantui seakan menjadi pengenyang daya tahan tubuh kami dengan asupan nutrisi jiwa. Rasa pesimis dihati yang sudah mengabrasi seakan tertambal optimis kembali bahwa ujian ini ada masanya, ada awal dan pasti ada akhir. Dehidrasi kepercayaan kami yang menghilang, tergantikan sudah oleh guyuran ketsiqohan kalaulah ia benar khalifah terbaik masa ini. Bukan sekedar gombal dan bualan, saat itupulalah khalifah kami tidak makan samin dan daging, begitupula orang pemerintahan pembantu – pembantunya beliau instruksikan untuk menurunkan tingkat derajat hidupnya agar menyamai keadaan kami, ia pun saat itu mengharamkan segala makanan untuk dirinya kecuali minyak zaitun, dan lebih sering dalam kelaparan. Lebih sering juga makan bersama kami dan merelakan untuk tidak makan dirumah bersama keluarganya.

Jika diantara kami meninggal dalam kelaparan memang itulah keadaan dan daya tahan tubuh kami yang tak seberapa kuat, kami tak mencemaskan diri sebagai rakyat, terkadang kami malah mencemaskan keadaan khalifah kami, Ia sudah tidak memikirkan rasa lapar dan dirinya, yang dipikirkan dan disedihkan melainkan kami (umat), rasa kepeduliannya melebihi merasakan rasa kulit mekanisnya sendiri. Umat seakan menjadi tanggung jawab yang dekat lebih dekat dari keluarganya sendiri, umat seakan menjadi bagian dari jiwa dan ruh nya. Bahkan kami dan yang lain timbul kekhawatiran dan sering berkata dalam rasa lapar yang hebat

“jika Allah tidak menolong kami dari Tahun Abu ini kami kira Umar akan mati dalam kesedihan memikirkan nasib Muslimin”

Rasa takut yang terus mendekati keimanan dan rasa harap yang terus melaju menguatkan rutinitas do’a yang tak pernah henti terucap dari ibadah - ibadahnya. Shalat beliau yang tak henti dari Isya sampai subuh hingga sering tidak pulang kerumah, memohon sejadi- jadi kepada Rabb-Nya. Semakin menjauhkan kekufuran, semakin tidak melemahkan untuk tidak memutuskan rahmat-Nya barang sezarrah pun, ialah sang pembeda, masa inilah terlihat jelas siapa si munafik dan siapa mukmin.

Ditulisnya beberapa surat untuk meminta bantuan kepada Sa’ad bin Abbi Waqqas dan Abu Ubaidah bin Jarrah untuk wakil Irak, Muawiyah di Syam , juga kepada Amr bin As di Palestina yang isinya tegas-singkat, penuh cinta, penuh kekhawatiran dan penuh harapuntuk keselamatan kami:

“salam sejahtera bagi Anda. Anda melihat kami sudah akan binasa, sedang anda dan rakyat anda masih hidup. Kami sangat memerlukan pertolongan, sekali lagi pertolongan”.

Sekali lagi ukhuwah Islamiyahlah yang menyelamatkan kami selain manfaatnya dikala peperangan, berdatanglah segera banyak bantuan dari Irak, Syam dan Palestina hingga kami terharu biru tentang dasyatnya ikatan persaudaraan karena akidah (keimanan). Beberapa ribu unta dan bahan makanan tumpah ruah di Madinah untuk dibagikan kepada kami. Bukanlah Bantuan Langsung Tunai (BLT) system yang dipakai khalifah kami, setelah bantuan itupun datang, Khalifah kami sendirilah yang turun mengawasi, mengurusi makanan, obat - obatan dan lainnya untuk Madinah. Kedekatan khalifah kepada kami sekali lagi mampu memberikan ketenangan bahwa dalam menghadapi bahaya kelaparan ini pasti dapat diatasi dengan baik jika terdapat kepercayaan yang baik antara pemimpin dan rakyatnya.

Cukuplah 9 bulan bagi Allah menguji kami bersama khalifah, diktat sejarah yang cukup berharga tertoreh bagi pelajaran setiap pemimpin umat yang akan datang. Saat soal ujian telah dibagikan dan khalifah kami menjawabnya dengan prestasi nilai cumlaude hingga datanglah penghujung wisuda, penghujung dimana Allah mengakhiri masa akhir bencana itu dengan Allah menurunkan hujan kembali di Madinah kami dan sekitar semanjung Arab.

Entahlah apakah akan ada dimasa Islam mendatang pemimpin sebaik pemimpin kami yang cerdas menyikapi cobaan dan strategis menyikapi ujian, selalu bersyukur dalam kenikmatan dan selalu bersabar dalam cobaan, pemimpin yang takut kepada Allah karena amanahnya dan pemimpin yang berkata selalu dilakukan dan berjanji selalu ditepati….jika itulah pemimpinnya maka apapun cobaan dan ujian tak akan menggoyahkan iman kami, takkan meruntuhkan bangunan-bangunan takwa pada pada keIslaman kami (rakyatnya).Sudahkah Indonesia?Gerakan Pangan?

Keyword untuk solusi Indonesiaku

  • Kembali&takut kepada Allah
  • Berdoa yang tak henti
  • Back to hidup SEDERHANA!
  • Sensitivitas pemimpin
  • Tobat nashuha-nya pemimpin
  • Ukhuwah Islamiyah
  • Bersedihlah agar berfikir(?)

(Izz@m;15062008 Onan Said kost, Pelengkap materi taujih ku di Forum Kebaikan)

Wednesday, June 11, 2008

Ada kejahiliyahan dibalik Logo!. (Pelanggaran profesi II)

Tanpa kita sadari dengan tingkat daya kritis yang rendah sesudah dan sebelumnya kitapun telah terperangkap oleh sebuah makna yang namanya konspirasi. Jaring jerat yang luas dan kuat membuat siapapun tak berdaya dibuatnya, logo kefarmasian kita misalnya, yang jadi pertanyaan apakah pentingnya sebuah logo dikritisi bagi perubahan? Rhenal Khasali dalam bukunya “Change” yang pernah penulis baca, menempatkan perubahan logo atau symbol sebuah instansi pada urutan pertama pada urutan perubahan fisik perubahan itu sendiri, maksudnya jika ingin perubahan itu lebih dikenal oleh public dan berjalan lebih cepat lakukanlah perubahan pada logo atau symbol instansi tersebut.Hal inilah yang akhirnya menguak hati untuk mencoba menuliskan tentang beberapa kejanggalan dibalik seberapa urgensi dari fenomena kejahiliyahan yang akhirnya kurang menampakkan banyak kebaraokahan bagi perjalanan dunia kefarmasian kita. Sepele memang tapi cukup bermakna bagi tingkat ketauhidan kita, begitulah saat semakin banyak referensi yang dibaca, semakin banyak yang terpikirkan, dan semakin banyak yang akan dimuntahkan. Ada beberapa alasan kenapa lambang (logo) tersebut perlu dikritisi dan diperbaharui sebagai awal perubahan:

1. Kita tahu bahwa logo atau lambang kefarmasian (apotek) terdiri dari gambar ular dan piala, dalam bukunya Jejak Sejarah kedokteran Islam karya DR. Djafar Khadem Yamani, Ular yang menamakan dirinya Aesculapus merupakan dewa obat – obatan yang berwujud ular, didalam logo tersebut menggambarkan dan diartikan oleh kepercayaan orang – orang Yunani dan Romawi yang notebanenya adalah Yahudi adalah dewa Aesculapus (ular) yang sedang minum air kehidupan dalam gelas piala tapi tidak sampai. Bukan hanya itu saja, terjadi juga ditingkat yang lebih tinggi lagi dalam kepercayaan yahudi bahwa simbol ular menjadi icon suci tersendiri, misalkan saja adanya hubungan yang erat, valid dan disetujui oleh banyak sejarawan barat antara kemusyrikan ilmu sihir kabalah dengan kelompok tertua dunia yang dikenal dengan sebutan Brotherhood of the Snake (Kelompok Persaudaraan Ular) lambangnya adalah ular kembar, yang mulai berkembang pada Rezim Raja Namrudz di Babilonia dan Firaun di Mesir hingga sekarang. Menurut Encarta Encyclopedia (2005) menuliskan bahwa istilah Kabbalah berasal dari bahasa Ibrani yang memiliki pengertian luas sebagai ilmu kebatinan Yahudi atau Judaism dalam bentuk dan rupa yang amat beragam dan hanya dimengerti oleh sedikit orang.Kabbalah ini mempelajari arti tersembunyi dari Taurat dan naskah-naskah kuno Judaisme. Walau demikian, diyakini bahwa Kabbalah sesungguhnya memiliki akar yang lebih panjang dan merujuk pada ilmu-ilmu sihir kuno di zaman Fir’aun yang biasa dikerjakan dan menjadi alat kekuasaan para pendeta tinggi di sekitar Fir’aun. Kabbalah ini sarat dengan berbagai filsafat esoteris dan ritual penyembahan serta pemujaan berhala, bahkan penyembahan iblis, yang telah ada jauh sebelum Taurat-Musa dan telah menyebar luas bersama Judaisme, yang seluruhnya berurat-berakar pada praktek-praktek kebatinan serta penyembahan dewa-dewi di zaman Mesir Kuno.

Sungguh terdapat kemusyrikan tingkat tinggi oleh behasilnya team marketing Yahudi dalam mensosialisasikan logo tersebut ketiap lini kehidupan manusia tanpa kita sadari kita artikan sendiri dengan pembenaran dari taklid kejahiliyahan yang menjadikan lambang ular diartikan racun, dan racun adalah obat jika pada dosis tertentu digunakan, Pembenaran yang salah, sebab yang menjadi kekhawatiran adalah rusaknya tingkat kebarokahan dari tingkat ketauhidan kita untuk dunia keprofesian farmasi ini, Padahal kita pun tahu sebagai seorang farmasi bahwa bukan hanya ular yang pantas dijadikan icon kefarmasian, banyak icon lain yang lebih layak dipakai untuk lambang tersebut (dibahas pada alasan selanjutnya) yang lebih jauh dari makna kesyirikan.

2. Lambang yang tak melambangkan, tidak universal penggambarannya terhadap ilmu kefarmasian dan yang pasti jelas lebih kental dengan konspirasi. Cobalah kita telaah kembali sebagai seorang farmasi tentang tingkat keuniversalan logo farmasi yang kita gunakan sekarang ini. Pernah ga kita kepikiran kenapa harus ular kembar atau ular jomblo nangkring iseng menjadi symbol kesehatan dan kefarmasian dengan alasan standar dibuat – buat orang kurang cerdas diartikan bahwa ular memang benar layak menggambarkan tentang racun, dan racun yang pada konsentrasi tertentu dapat menjadi obat, bisa jadi itu menjadi pembenaran, tetapi untuk pembenaran ini merupakan kedangkalan dan kesempitan dalam berfikir untuk sebuah penggambaran universilitas sebuah logo, sebab tumbuhan pun pada tingkat jumlah pemakaian tertentu bisa menjadi racun dan bisa menjadi obat. Sungguh sangat tidak universal untuk sebuah symbol yang seharusnya mampu menggambarkan sosok dunia farmasi.

Alasan mendasar inipun dikuatkan dengan study farmasi yang mengingatkan ku pada sebuah kuliah Standarisasi Obat Bahan Alam oleh Prof. Endang Hanani, beliau menceritakan pada awal kuliah dari beberapa bahan alam yang kebanyakan dimanfaatkan oleh bidang kefarmasian berasal awal dari tumbuh – tumbuhan, beberapa dari mineral dan sedikit dari hewan, terutama bukan hewan yang tingkat pada spesies tinggi (misalnya :melata dan mamalia), oleh sebab itu pembahasan kuliah tersebut lebih banyak porsinya membahas bahan tumbuhannya. Penggunaan hewan sebagai sumber obat umumnya lebih memanfaatkan hewan tingkat rendah (bakteri) dan hewan bersel tunggal lainnya baik dengan tehnik rekombinan DNA atau tidak, mengingat cost yang dipakai lebih efisien dan efektif dalam peningkatan skala produksi, tetapi masih banyak ketakutan tingkat safetynya jika kita memandang penerapan modifikasi DNA yang kata pakar bioteknologi farmasi UI Dr.Maksum Radji, MBiomed dan Dr. Herman sedikit cukup membahayakan gen yang ada dalam tubuh kita, konon beberapa produk hasil rekombinan yang diproduksi oleh Negara Eropa sebagai ‘Murobbi’ Bioteknologi tidak mau rakyatnya yang banyak memakai, semua didistribusikan ke negara – negara baru berkembang yang suka eforia dan taklid pada sesuatu hal baru yang dikemas sampul ‘modernisasi’ sebagai sampel kelinci percobaan korban keliaran konspirasi sains. Jadi tepatkah jika ular dan piala menjadi logo keprofesian kita selama ini?.

3. Rendahnya membangun nilai positif marketing, pemakian logo farmasi dengan lambang ular cukup memberikan image “serem” bagi anak – anak terlebih bagi sebuah instansi rumah sakit atau apotek, inilah peluangnya dalam melakukan perubahan, bahkan trend model rumah sakit atau klinik sekarang agar banyak diminati oleh pasien terutama untuk anak – anak didisain sedemikian mungkin agar tidak terlihat “serem” seperti rumah sakit atau klinik sesungguhnya. Jika kita lihat kembali logo yang sebenarnya diajukan oleh para apoteker muslim terdahulu berupa gambar lumpang dan gambar tumbuhan terlihat lebih “asri” lebih natural (back nature), jadi lebih memiliki nilai jual mana?saatnya untuk berfikir kembali!

Menilik kembali buku “Change” karya Rhenal Khasali tentang logo dan membangun awal perubahan beliau katakan :

“Logo adalah bagian dari coporate identity yang tampak secara kasat mata. Logo adalah symbol yang paling gampang dan paling sulit diubah. Disebut gampang karena logo adalah symbol yang paling mudah dilihat public (internal maupun eksternal). Anda tinggal memanggil seseorang ahli, dan mereka bisa mempersiapkan perubahan logo dalam tempo yang cepat. Pada saat logo baru diperkenalkan, semua mata tertuju ke logo tersebut dan itulah saatnya bagi pemimpin untuk menjelaskan mengapa logo tersebut diubah dan apa makna dibalik logo tersebut.Sebaliknya, perubahan logo dinilai sulit karena logo biasanya terkait dengan kebanggaan histories. Bagi orang – orang lama, logo dianggap sebagai sesuatu yang sacral dan tidak boleh diubah barang segaris pun. Sekalipun makna yang terkandung dalam logo tersebut sudah tidak cocok lagi dengan kebutuhan zamannya, sering kali orang tak mau peduli. Tak semua pemimpin punya keberanian untuk mengganti logo. Universitas negri, pemerintah daerah, perusahaan milik Negara dan daerah adalah contoh dimana perubahan logo akan menghadapi banyak tantangan”

Tantangan awal yang jelas untuk sebuah perubahan, bagaimana memulainya?

· Jika antum pengusaha swasta adalah pemilik rumah sakit atau apotek atau akan memulai membuat apotek, ganti dan buatlah logo rumah sakit atau apotek antum yang jauh dari nilai kesyirikan yang malah akan mengurangi nilai kebarokahan tempat tersebut.

· Jika antum seorang mahasiswa bantulah untuk mensosialisasikan logo apoteker Islam atau jika akan membuat event – event tertentu yang terkait dengan adanya symbol kefarmasian buatlah symbol – symbol yang “layak” dan memberi angin segar bagi sebuah perubahan ini.

· Jika antum da’I farmasi terangkan kepada banyak kalangan sebagai amal ibadah

· Jika antum tidak mampu berbuat apa2…ya print saja artikel ini,he3x

Selamat melakukan perubahan menuju keberkahan walaupun hanya sebuah symbol saja, jika tidak dimulai sekarang kapan lagi!wallahu’alam bishowab.

(Izz@m, kost Onan Said, 11062008)