Showing posts with label Artikel Gumam. Show all posts
Showing posts with label Artikel Gumam. Show all posts

Saturday, March 28, 2009

?Travel Writing?, Seni Tulisan Menyampaikan Kebenaran


Posted by Tajid Yakub on July 18th, 2006
Tulisan Sulung di Sinar Harapan 22 Agustus 2002 tentang bagaimana membuat sebuah tulisan perjalanan.
Sadar atau tak sadar, suka atau tak suka, hampir setiap hari kita melakukan perjalanan. Perjalanan yang berarti pergerakan dari satu tempat ke tempat lain menjadi style masing-masing manusia dalam mencapai tujuan.
Ayah kita pergi ke kantor tiap pagi, bertujuan memenuhi kebutuhan keluarganya adalah juga sebuah perjalanan. Seorang anak muda pergi ke rumah pacarnya guna memenuhi kebutuhan rohaninya juga melakukan perjalanan. Jelas di sini bahwa perjalanan adalah proses mencapai sebuah tujuan.

Akhirnya tanpa kita sadari perjalanan-perjalanan ini menjadi sebuah kebutuhan. Logikanya kalau ingin mencapai tujuan kita harus melakukan perjalanan, baik itu mudah, maupun sesulit apapun perjalanan tersebut, tapi kita tetap harus melakukannya, kalau kita ingin mencapai tujuan yang kita inginkan.
Mudah dan sulitnya perjalanan baru dapat dinilai setelah kita melakukannya. Merugilah manusia yang selalu mundur bila melihat sulitnya perjalanan yang akan ia tempuh, karena bila ia mundur maka niscaya semakin lambat sampailah ia pada tujuannya.

Sebuah perjalanan bagi sebagian orang menjadi sangat penting artinya. Karena dalam perjalanan itulah mereka dapat memaknai hidup. Seorang penjelajah, penempuh rimba, pejalan kaki, naturalis, pecinta alam atau apalah namanya mungkin adalah sebagian nama yang dapat digolongkan dalam sebagian orang yang berpikir bahwa sebuah perjalanan bukanlah hanya sebuah pekerjaan sia-sia.
Ini adalah style yang makin berkembang menjadi sebuah gaya hidup sebagian umat manusia di bumi ini.

Terdorong oleh naluri dasar manusia yang ingin maju, tercipta dalam kata ‘selalu ingin tahu’.
Sebagian orang-orang ini ingin tahu apakah yang ada di puncak-puncak gunung tinggi, di lembah-lembah dalam hutan belantara, di luas dan dalamnya lautan, di gua-gua gelap tak terjamah, di sungai -sungai ganas tak berkompromi, dan semua yang ada di alam ini.

Naluri ingin tahu inilah yang menggerakan sebagian penjelajah dahulu melakukankegiatannya. Dan kalau mau di nalar ulang naluri inilah yang banyak memberikan pengaruh untuk kemajuan suatu bangsa. Kalau bukan karena seorang Christoper Colombus siapa yang akan percaya bahwa bumi itu berbentuk bulat.
Karena pengetahuan baru itulah membuat beramai-ramai pelaut-pelaut ulung negeri Eropa melakukan penjalahan-penjelajahan. Banyak nama yang bisa disebutkan disini, Vasco da Gama, Cornelis de Houtman adalah beberapa contohnya.

Eksplorasi-eksplorasi terus dilakukan turut di tunjang oleh pemimpin negara mereka, baik secara finansial maupun moril.
Perjalanan-perjalanan terus dilakukan, pengetahuan baru terus bertambah sehingga berdampak pada perubahan kultur yang ada di masyarakat barat.
Kalau ingin menguasai dunia, kuasailah laut, begitu mungkin mereka berpikir. Karena dengan menguasai samudra mereka dapat pergi ke negeri-negeri baru yang lebih melimpah hasil alamnya, menimbulkan kolonisasi dan terus berlanjut ke imperialisme yang memakmurkan kaum yang menjajah tapi merugikan kaum terjajah.
Semakin terasa jelas sekarang bahwa sebuah perjalanan yang berdasar naluri ingin tahu membuat suatu kaum menjadi lebih maju dari kaum lainnya. Sebuah perjalanan petualangan adalah salah satu caranya.

Melihat untuk Mempercayai
Semakin sering orang melakukan perjalanan semakin banyak pengetahuan yang ia miliki. Semakin banyak yang ia tahu, semakin pintarlah orang tersebut. Semakin banyak �?nilai�? yang dapat ia ambil. Hingga hasil akhirnya menuju titik bijak seorang manusia.

Informasi-informasi yang ia miliki, pengetahuan-pengetahuan yang ia dapati dan nilai-nilai yang ia yakini semua tertampung dalam sanubari. Memendam menjadi pondasi-pondasi kehidupan yang akan ia jalani.
Seperti aliran sungai yang terus mengalir akhirnya ke muara juga, menuju laut lepas tempat di mana kebebasan berada.

Begitu juga dengan segala informasi, pengetahuan, dan nilai yang di miliki sebagian orang -orang tersebut, akhirnya harus dibebaskan juga dari wadah-wadah pikiran, menuju lautan lepas informasi yang berdasarkan pada prinsip memberitahukan kepada orang lain, kepada generasi selanjutnya agar menjadi bahan pemikiran tambahan guna dipergunakan untuk kemajuan mereka juga nantinya dan ntuk menuju hidup yang lebih baik, yang lebih sempurna.

Salah satu cara menyampaikan berbagai hal ini adalah melalui tulisan-tulisan yang bisa berbentuk sebuah buku, artikel, esai atau apa saja nama dan bentuk teknis penulisan.
Naluri manusia yang membutuhkan sebuah sistem penulisan juga merupakan sebuah kebutuhan guna mencapai tujuan.
Bahkan seorang tukang warteg pun menulis walau hanya untuk sekadar mengingat kembali apa yang akan ia beli nanti setiba di pasar. Di sini prinsipnya menulis untuk mengingatkan.

Tulisan-tulisan itu akan mengingatkan kita apa yang sudah dipercayai orang-orang sebelum kita. Dengan dasar naluri ingin tahu, kemudian melihat, kemudian menuliskan untuk dipercayai.
Ini merupakan konteks yang tepat dalam sebuah tulisan perjalanan (travel writing). Tulisan-tulisan dalam bentuk laporan pada jaman Cornelis de Houtman di maksudkan agar dipercayai adanya, bahwa mereka pernah melihat daerah subur penuh dengan rempah-rempah di daratan nusantara.

Laporan-laporan seorang Jans Carstensz yang membuat orang percaya ada gunung bersalju di daerah garis khatulistiwa. Tulisan-tulisan Anton W. Niewenhuis yang membuat orang percaya bahwa ada tradisi potong kepala di suku-suku pedalaman Borneo.
Impact dari sebuah tulisan perjalanan ternyata tidak bisa di anggap enteng. Dari tulisan perjalanan seorang Christoper Colombus dalam menemukan benua Amerika berdampak luas dalam pergeseran kultur, merambah pengetahuan manusia menuju paham de-kolonisasi yang mengakibatkan berkembangnya paham imperialisme dan terus meluasnya penjajahan dari negeri barat ke negeri timur dan seterusnya dan seterusnya.
Tak cuma dalam bidang pemahaman-pemahaman yang menjurus ke ideologi. Tulisan perjalanan juga ternyata menambah khazanah pengetahuan manusia dalam bidang pengetahuan.

Laporan-laporan Humboldt, Darwin, Wallace dan banyak lagi yang lain menambah pengetahuan banyak orang bahwa masih banyak jenis species-species lain yang hidup di bumi ini. Dari tulisan-tulisan ini membangkitkan minat banyak orang untuk meneliti tentang hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan dan segala aspek yang tercakup di dalmnya.
Jadi dari sebab dan akibat di atas, dapat di simpulkan dari tulisan-tulisan ini dapat dapat menimbulkan akibat yang luar biasa dari perikehidupan manusia.
Membuat kita makin menyadari ada kehidupan lain selain kehidupan kita, ada nilai-nilai lain selian nilai-nilai milik kita. Ada pengetahuan lain selain pengetahuan kita, yang semua itu pada akhirnya bermuara pada keseimbangan diri dan pribadi untuk sekali lagi menuju hidup yang lebih baik.

Menulis untuk Kebenaran
Tapi sekarang kita mungkin tak akan menemukan benua-benua baru karena hampir seluruh tempat di bumi ini pernah di jelajahi manusia.
Bahkan bulan sekalipun sudah kita injak. Lalu kemudian timbul pertanyaan apalagi kegunaan kita melakukan perjalanan-perjalanan jauh kenudian menuliskannya???
Untuk menyampaikan kebenaran. Mungkin itulah jawaban pasti yang dapat di jadikan batu pertama pondasi bangunan tulisan perjalanan yang akan kita bentuk.
Kita bisa menyampaikan kebenaran dengan memberitahukan buruknya kondisi kesehatan yang ada di dusun Datai Tua di rimba pedalaman Riau. Kita bisa menyampaikan kebenaran sulitnya seorang ibu untuk mendapatkan sarana persalinan untuk kelahiran bayinya, sehingga harus mengorbankan nyawanya sendiri sebab jauhnya tempat persalinan di lembah-lembah sungai Citarik, Jawa Barat.
Kita bisa menyampaikan kebenaran betapa harus berjuangnya seorang pencari rotan di hulu sungai Balease untuk sekedar mengeluarkan seikat rotan dari jebakan jeram-jeram ganas sampai-sampai harus mengeluarkan airmata karena bersyukur dapat lolos dari terjangan jeram yang menghadang.

Tulisan perjalanan yang ada sekarang adalah untuk menyampaikan kebenaran. Bahwa masih banyak yang harus dilakukan bangsa ini untuk memajukan taraf hidup rakyatnya. Mungkin benar kata seorang Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa yang juga seorang pecinta alam yang hidup sekitar tahun 66, �?Tak ada yang lebih puitis di dunia ini selain menyampaikan kebenaran�?.

Sumber : situs MAPALA UI

Friday, August 22, 2008

SAYAP YANG TAK PERNAH PATAH



Mari kita bicara orang – orang yang tak pernah patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap – sayap Gibran yang patah. Atau kisah – kasih Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka ‘majnun’, lalu mati. Atau jangan – jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.
Ini cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap ditengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung – burung

O burung adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati


Mari kira ikut belasungkawa untuk mereka. Mereka orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawa ku dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.
Di alam jiwa, sayap cinta sesungguhnga tak pernah patah. Kasih selalu sampai disana. “apabila ada cinta dihati yang satu, pasti ada cinta dihati lain”. Kata Rumi “ sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain”. Mungkin rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksika fakta lain.
Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejewantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang – orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung : mencintai
Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidak sampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya : “apakah yang akan ku berikan?” tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi hanya patah atau hancur karena kita lemah. Kita lemah karena posisi kita salah. Seperti ini : kita mencintai seseorang, lalu menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena mencintai. Tapi karena menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita?
(Anismatta)

Nb : “kemana saja cinta, maka janganlah pernah patah? Maka saat kau semangat terus memberi dan kembali memberi, sebenarnya kau masih sedang istiqomah mencinta. Dan kau pun mulia, cinta.”

Wednesday, April 16, 2008

LAGI, SOAL SASTRA ISLAM

Berbicara mengenai sastra Islam di Indonesia hampir mengandung polemik. Polemik tersebut bahkan tak beranjak dari hal itu – itu juga, yaitu pro dan kontra mengenai apa yang disebut sebagai ‘pengotak-ngotakan sastra’, serta masalah definisi dan criteria sastra Islam. Uniknya, pihak yang tidak setuju dengan istilah atau konsep ‘sastra Islam’ justru di dominasi oleh kalangan muslim sendiri.

Edy A. effendi yang jebolan IAIN pernah menyusun buku esai sastra (tak diketahui terbit atau tidak) yang mengusung judul : ‘menolak sastra Islam’. A.A. Nvis bahkan pernah berkata bahwa sastra Islam adalah sesuatu yang utopis untuk saat ini.1 Sementara Putu Arya Tirtawirya dalam buku Antolgi Esai dan Kritik Sastra (1982) menulis, “Sastra adalah satra, saudaraku, tak perlu dikotak-kotakkan, Tak usah dibuat pening”.

Sebaliknya, Abdul Hadi W.N, dalam salah satu seminar tentang sastra profetik yang menghadirkan Suminto A. Sayuti, saya, serta Kuntowijoyo sebagai pembicara, Mei 2000 lalu di Yogya, mengatakan bahwa sastra Islam itu ada, bahkan eksis. “Sastra Hindu saja ada, mengapa sastra Islam tidak ada?”katanya.

Dalam makalahnya “Islam, Puitika Al qur’an Sastra”. Ia menambahkan bahwa pandangan dan anggapan yang meragukan nisbah Islam dengan sastra dan kesangsian bahwa terdapat sastra Islam dengan tema, corak pengucapan, wawasan estetik serta pandangan dunia tersendiri, pada umumnya timbul untuk menafikkan sumbangan Islam terhadap kebudayaan dan peradabban umat manusia. Sebagian anggapan berkembang karena semata kurangnya perhatian orang Islam dewasa ini terhadap sastra dan tiada apresiasi dikalangan ulama, pemimpin, dan cendikiawan muslim.2

Namun, disisi lain, yang perlu dikritisi dari Abdul Hadi W.M adalah bahwa dalam setiap pembicaraan dan tulisan tentang sastra Islam, ia hanya terpaku pada karya – karya lama dari Abdullah bin abdul Kadir Munsyi, Hamzah Fanshuri dan semacamnya. Paling jauh membahas Amir Hamzah dari angkatan punjangga baru, atau hanya membahas karya – karya sastra Islam dari penulis luar semisal Attar, Jalaludin Rumi dan Muhammad Iqbal. Padahal, pandangannya mengenai perkembangan sastra Islam kontemporer di Indonesia pasca pujangga baru juga sangat dibutuhkan.

Begitup pula dengan A. Hasjmy yang memiliki perhatian besar terhadap kesusastraan Islam. Ia lebih banyak membahas karya para pengarang hikayat Aceh atau lagi – lagi berhenti pada angkatan Pujangga Baru, hingga ia meninggal. Sementara Ali Audah yag tertarik dibidang tersebut, lebih sering membahas sastrawan – sastrawan Islam dari Timur Tengah atau Mesir.

Pembahasan tentang sastra Islam kontemporer di Indonesia menjadi sangat minim kalau boleh dikatakan nyaris tak ada. Jangankan pembahasan karya, apa itu sastra Islam saja sampai saat ini masih kabur alias tak ada rujukan yang jelas, baik dari para sastrawan sendiri, kritikus maupun ulama.

Sebenarnya cukup banyak sastrawan muslim yang memberikan istilah sendiri pada karya sastra yang dibuatnya yang mengarah pada ‘sastra Islam’. Istilah – istilah tersebut berakar pada wacana keimanan atau religius yang dibawanya. Ada yang menyebutnya sastra pencerahan (Danarto), sastra profetik (Kuntowijoyo), sastra sufistik (Abdul Hadi W.M), sastra dzikir (Taufik Ismail), sastra transenden (Sutardji Calzoum Bachri), dan sebagainya.3 namun, selain Abdul Hadi W.M, tak satu pun yang mengindentikkan penyebutan tersebut dengan sastra Islam, walau sebenarnya hal tersebut tak bisa dinafikkan, merupakkan tafsir lain dari sastra Islam.

Tulisan ini akan memaparkan beberapa hal tentang sastra Islam, Terutama menyangkut definisi dan ciri hngga mengapa sastra Islam tetap diperlukkan hingga saat ini.

Menurut saya, tulisan seperti ini dibutuhkan mengingat banyak masyarakat muslim yang merasa perlu untuk mengetahui apa dan bagaimana sastra Islam itu. Tak sedikit pula diantara mereka yang berkeinginan menulis karya yang bernuansakan Islam, menyumbangkan sesuatu yang berarti bagi perkembangan sastra Islam di Indonesia. Mereka memerlukan semacam ’acuan’ mengenai sastra Islam. Belum lagi khalayak yang merindukkan kehairan karya – karya yang bernuansakan Islam.

Polemik tentang sastra Islam selama ini membuat cukup banyak kalangan bingung dan terus mencari – cari informasi tentang hal tersebut. Apalagi perihal sastra Islam jarang disingggung oleh para sastrawan, kritikus bahkan ulama karena tidak atau belum dianggap sebagai sesuatu yang penting, sebagaimana yang disinggug oleh Abdul Hadi W.M.

Padahal, dalam konteks Islam, semua yang dilakukan seorang muslim seharusnya merupakan bentuk ibadah dari ibadahnya kepada Allah, termasuk dalam berkesenian dan bersastra, sebagaimana yang dikatakan Allah “ Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia elainkan untuk eribadah kepadaku”.4

Islam juga merupakan sistema hidup yang lengkap yang tidak memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Segala yang kita lakukan didunia akan memberikan dampak di akhirat nanti. Secara khusus pula dalam Al qur’an, Allah menyuruh para sastrawan untuk beriman dan beramal shalih.

Dan para penyair itu diikuti oleh orang – orang yang sesat. Tidaklah engkau melihat sesungguahnya mengembara pada tiap – tiap lembah. Dan sesungguhnya mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan. Kecuali orang –orang yang beriman dan beramal shalih dan banyak mengingat Allah, dan mereka mendapat pertolongan sesudah mereka dianiaya. Dan orang – orang yang zhalim itu akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali (Q.S Asy Syu’ara: 224-227)

Definisi dan Ciri Sastra Islam

Sastra dalam bahasa Islam (Arab) disebut adab. Mungkin benak kita akan langsung mengaitkannya dengan kesopanan. Sudah tentu untuk menjadi manusia yang baik haruslah beradab. Namun, definisi ada dalam sastra jauh lebih besar daripada itu.

Menurut Shauqi Dhaif, adab (sastra) adalah karya yang dapat membentuk kearah kesempurnaan kemanusiaan yang didalamnya terkandung ciri estetika dan kebenaran.5 Dalam Islam, sastra haruslah mendorong hasrat masyarakat untuk menjadi pembaca yang baik. Masyarakat yang menjadi target utama pemahaman kesusastraan. Jadi, sastra Islam lebih mengarah pada pembentukkan jiwa.

Definisi seni dan sastra Islam menrut Said Hawa dalam bukunya Al Islam III, adalah seni/sastra yang berlandaskan kepada akhlak Islam. Senada dengan Said Hawa, menurut Ismail Raja Al Faruqi, seni Islam adalah seni infiniti (seni ketakterhinggaan), dimana semua bentuk kesenian di akomodir pada keyakinan akan Allah. Ia juga menyatakan bahwa ekspresi dan ajaran Alqur’an merupakan bahan materi terpenting bagi ikonografi seni/sastra Islam. Dengan demikian, seni Islam dapat dikatakan sebagai Qur’ani.6

Harun Daud berkata, “ tujuan kesusastraan adalah untuk mendidik dan membantu manusia kearah pencapaian Ilmu yang menyelamatkan, bukan untuk membentuk makna spekulatif. Sebuah karya sastra atau karya seni dalam Islam adalah alat atau bantuan dan bukannya pengakhiran realita itu sendiri.”7 Sementara menurut Shanon Ahmad, bersastra dalam lslam haruslah bertonggakkan Islam, yaitu sama seperti beribadah untuk dan karena Allah.8

Dalam manefestasi kebudayaan dan kesenian Islam 13 Desember 1963 di Jakarta- yang dideklarasikan untuk merespon Lekra dan Manifestasi Kebudayaan 17 Agustus 1963- para seniman, budayawan Islam, beserta para ulama yang dimotori Djamaludin Malik, menyatakan bahwa yang disebut dengan kebudayaan, kesenian (kesusastraan) Islam ialah manifestasi dari rasa, karsa cipta, dan karya manusia muslim dalam mengabdi kepada Allah untuk kehidupan umat manusia (I’art par die et I’art pour huanite) yang dihasilkan oleh para seniman muslim bertolak dari ajaran wahyu Ilahi dan fitrah insani

Setahun sebelumnya, Majelis seniman dan budayawan Islam yang diantaranya terdiri dari Hamka, M. Shalih Suady dan Bahrum Rangkuti dalam bab tentang sikap Islam terhadap kebudayaan dan kesenian, mengatakan bahwa tujuan kebudayaan pada umumnya dan kesenian pada khususnya tidaklah semata bertujuan ‘seni untuk seni’ atau ‘seni untuk rakyat’ tetapi harus diluhurkan menjadi: ‘seni untuk kebaktian kehadirat Allah’ yang dengan sendirinya mencakup tujuan memajukkan kesenian yang bermanfaat lahir batin untuk perikemanusiaan.9

Apakah sastra Islam harus lahir dari tangan seorang muslim? Jwabannya: “ya.” Kalau ada karya yang menyentuh atau menyinggung aspek keIslaman, namun ditulis oleh non muslim, maka karya tersebut tak dapat dikatakan sebaga sastra Islam, namum bisa disebut sebagai karya yang bersumberkan Islam. Mengenai hal ini akan diuraikan kemudian.

Lantas, ciri – ciri apalagi yang menandakan sebuah karya sastra masuk kategori sastra Islam?

Tidak sulit mengenalinya. Sebuah puisi, cerpen atau novel Islam, misalnya, tidak akan melalaikan pembacanya dari dzikrullah. Ketika membaca, kita akan diingatkan kepada ayat – ayat kauliyah maupun kauniyah-Nya. Ada unsur amar makruf nahyi munkar- dengan tanpa menggurui tentunya- ibrah dan hikmah. Ia kerap bercerita tentang cinta. Baik cinta pada Allah, Rasul-Nya, perjuangan dijalan-Nya. Cinta pada kaum muslimin dan semua mahluk Allah: sesama manusia, hewan, tumbuhan, alam raya dan sebagainya.

Ciri lainnya, karya sastra tidak akan pernah mendiskripsikan hubungan badani, kemolekkan tubuh perempuan atau betapa ‘ indahnya’ kemaksiatan, secara vulgar dengan mengatasnamakan seni atau aliran sastra apapun. Ia juga tak membawa kita pada tasyabbuh bi kuffar, apalagi jenjang kemusyrikan.

Sastra Islam akan lahir dari mereka yang memiliki ruhiyah Islam yang kuat dan wawasan keIslaman yang luas. Penilaian apakah karya tersebut dapat disebut sastra Islam atau tidak bukan dilihat pada karya semata, namun juga dari pribadi pengarang, proses pembuatannya hingga dampaknya pada masyarakat. Sastra Islam bagi pengarangnya adalah suatu pengabdian yang lurus dipertanggung jawabkan pada umat dan Allah. Sastra dalam kehidupan seorag muslim atau muslimah adalah bagian dari ibadah. Tak bisa dipetakan secara sendiri. Menurut saya, dalam aplikasinya, segala tema, tehnik dan gaya penceritaan dapat dianggkat dalam karya sastra Islam. Malah, adalah suatu kesalahan bila suatu karya tidak diolah dan dihadirkan secara kreatif sehingga menjelma khutbah. Faktor estetika tentu tak bisa diabaikan.

Jadi, sekali lagi, sebuah karya tak bisa dikatakan Islam hanya karena ia mengambil setting pesantren, mengetenggahkan tokoh ulama, dan menampilkan ritual – ritual keagamaan atau unsur sufistik. Sastra Islam lebih sekedar slogan atau simbol.

Sang pengarang, kehidupan , Islam dan karyanya menjelma satu kesatuan.

Para sastrawan yang memiliki komitmen untuk menghasilkan karya sastra Islam, tidak mengarang semata – mata untuk menjelma menjadi ‘macam kertas’ dengan doktrin sastra untuk sastra. Juga bukan tipikal pengarang yang begitu mengangung – agungkan kebebasan tanpa batas dalam berkreasi dan menelan mentah – menatah perkataan Sartre : Human real ity is free, basically and completely free.

Karya sastra tak dilihat sebagai sebuah karya sastra an sich, seperti Albert Camus dalam buku Mite Sisifus yang berkata bahwa sastra tak boleh memihak apa pun kecuali dirinya sendiri. Sastra tentu saja harus berpihak pada kebenaran dan keadilan, pada nilai – nilai Islam tanpa harus kehilangan nilai estetikannya.

Yang harus dipikirkan juga adalah bagaimana menjadikan sastra sebagai sarana da’wah yang bukan saja memberikan pencerahan fikriyah namun juga pencerahan ruhiyah bagi para pembacanya. Di sinilah peran sastra yang sebenarnya diinginkan oleh Islam yaitu turut ambil bagian dalam mengatasi kerusakan akidah dan akhlak masyarakat.

Maka, dalam konsep Islam yang kaffah, sastra sebenarnya adalah satu kaki dari kaki da’wah lainnya. Dan sebagaimana yang dikatakan para ulama bahwa setiap kita adalah dai “ nahnu du’at qabla syaiin: ( kami adalah penyeru sebelum menjadi sesuatu) maka tentu saja para sastrawan yang menulis sastra Islam tersebut terlebih dahulu memosisikan diri sebagai dai sebelum yang lain. Maka mereka adalah daiyah yang pengarang. Bukan pengarang yang daiyah. Pengarang yang dapat menghasilkan karya sastra Islam tentulah pengarang yang mengetahui dan mengamalkan banyak hal tentang Islam sehingga ia bisa mentranfer nilai – nilai, nuansa, juga ruh keislaman dalam karya- karyanya. Bahrum rangkuti pernah berkata : “ bila Anda ingin menulis karya sastra Islam, ada terlebih dahulu menjadi sastrawan yang beriman serta merealisasikan keimanan dan keislamannya melalui amaliyah yang nyata”.10

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa sedikitnya ada tiga syarat umum sebuah karya sastra dapat dikatakan sebagai sastra Islam.

Pertama, penulisnya adalah seorang muslim yang sadar dan bertanggung jawab akan kesucian agamanya. Kedua, karya kreatif yang dihasilkan hendanya sejalan dengan ajaran Islam dan tidak bertentangan dengan syariah. Ketiga, karya tersebut mempunyai daya tarik universal dan dapat bermanfaat bagi masyarakat mana pun mengingat Islam adalah fitrah.11

Sastra Islam dan Sastra Bersumberkan Islam

Muhammad Pitchay Gani, pengamat sastra dari Singapura, saat menyampaikan makalahnya tentang sastra Islam dalam pertemuan Sastrawan Nusantara ke XI Brunei Darussalam, Juli, 2001 lalu membagi kesusastraan Islam dalam dua bagian, yaitu sastra Islam dan sastra yang bersumberkan Islam.

Menurutnya, sastra Islam adalah semua (bahan) kesusastraan yang dihasilkan oleh penulis yang beragama Islam dalam menyadarkan masyarakat tentang kebesaran Tuhan dan tanggung jawab diri sebagai khalifah Allah. Ini mengingatkan saya akan pandangan serupa dari A. Hasjmy dalam bukunya Apa Tugas Sastrawan Sebagai Khalifah Allah (1984). Sedangkan sastra yang mengetengahkan hal – hal yang berasal dari ajaran Islam. Penulisnya bisa siapa saja, tak harus orang Islam.

Sastra bersumber Islam yang dimaksud Pitchay dikatakan oleh Kuswaidie Syafii, sastrawan muda yang berbasis pesantren, sebagai karya sastra yang Islami.12 Islami disini berarti memiliki sifat – sifat yang sesuai dengan keislaman. Beberapa karya Kahlil Gibran- Sastrawan beragama Kristen Maronit dari Lebanon-misalnya, menurut Kuswaidie sangat Islami. Bahkan lebih Islami daripada yang ditulis oleh sastrawan muslim kebanyakan. Namun, ia juga menolak kalau karya semacam itu dimasukkan dalam kategori sastra Islam.

Bertolak dari konsep ini maka ‘sastra untuk rakyat/ masyarakat’ dan ‘sastra untuk sastra’, selama ia mengusung nilai – nilai universal yang tak bertentangan (atau malah sesuai) dengan ajaran Islam, dapat dikategorikan sebagai ‘ sastra bersumberkan Islam’.

Dibandingkan dengan sastra Islam, sastra bersumberkan Islam jauh lebih banyak. Kita dapat dengan mudah menemuka sastra jenis ini di Indonesia, maupun di dunia pada umumnya. Tentu saja, hal tersebut cukup menggembirakan dan menjadi penyeimbang bagi kehadiran kesusastraan lain yang bertolak belakang atau bahkan menghujat Islam.

Penutup

Akhirnya, sastra Islam dan sastra berumberkan Islam, adalah salah satu alternative dalam memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia.

Kita tahu, Allah tak pernah memaksa manusia untuk memeluk Islam. “Laa ikraaha fiddiin (tak ada paksaan dalam agama).’ Begitu juga tak ada paksaan bagi para sastrawan muslim sekalipun untuk menulis dengan pola yang sudah digariskan oleh Islam, berdasarkan ketentuan – ketentuan yang terdapat dalam Al Qur’an maupun sunnah rasulullah Muhammad saw. Semuanya kembali pada pilihannya masing –masing. Sastrawan yang memilih jalan Islam boleh saja menghimbau sastrawan lain untuk mengikuti jejaknya, namun tak boleh memaksakan kehendaknya, seperti apa yang dilakukan para sastrawan yang dahulu tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memaksa para sastrawan Indonesia untuk menulis dengan memakai ideology mereka sebagai dasar.

Sebaliknya, adalah sesuatu yang bijak bila kita juga menghargai dan menghormati sebagian kalangan sastrawan muslim yang telah memilih sastra Islam sebagai sarana bereskpresi sekaligus sarana mereka dalam beramar makruf nahyi munkar sebagaimana yang diperintahkan Allah.

Mengutip A. Teuw, bagaimanapun, konsep keindahan dan estetika-bukan hanya dalam bidang kesusastraan – amat berbeda antara kepercayaan Islam denga kepercayaan barat sekuler. Sekuler menilai keindahan sebagi freedom of expression, sementara Islam menilai keindahan sebagai sarana untuk menyampaikn kebenaran,13 Allahu a’alam

Cipayung, 2001
Helvy TR

Daftar Pustaka

Al faruqi, Ismail Raja. 1986. Cultural Atlas of Islam. New York: Ac Millan

Audah, Ali. 1999. Dari Khazanah Dunia Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus

Gani, Muhammad Pitchay. “Menemukan Konsep Sastra Islam.” Disampaikan pada Pertemuan Sastrawan Nusantara XI. Brunei Darussalam: 2001

Gazalba, Sidi. 1988, Islam dan Kesenian. Jakarta: Al Husna

Hasjmy, A. 1984. Apa Tugas Sastrawan Sebagai Khalifah Allah. Surabaya: PT. Bina Ilmu.

Hossein Nasr, Seyyed. 1987. Islamic Art and Spirituality. Ipswich: Golgonooza Press.

Kratz, E. Ulrich. 2000. Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Natsir, Muhammad. 1988. Kebudayaan Islam dalam Prespektif Sejarah. Jakarta: Girimukti Pasaka.

Salad, Hamdy. 2000. Agama Seni; Refleksi Teologis dalam Ruang Estetik. Yogyakarta: Semesta.

S.N., Masuri. “Islam dan Sastra Melayu Singapura.” Disampaikan pada Pertemuan Sastrawan Nusantara XI. Brunei Darussalam:2001

Sikana, Mana. “Teori Sastra Ta’abudiyyah dan Kaidah Analisisnya.” Disampaikan pada Pertemuan Sastrawan Nusantara XI. Brunei Darussakam: 2001

Sumber buku :

‘Segenggam Gumam’ esai – esai tentang sastra dan kepenulisan; Helvy TR

Monday, February 18, 2008

TRAGEDI CINTA

“Melawan dalam sunyi itu susah. Terlalu susah. Membangun dalam hening itu berat. Terlalu berat. Disana kamu melawan dalam sunyi, disini kamu bekerja dalam sunyi. Melawan dalam sepi itulah susahnya. Melawan sendiri itulah kepahlawanannya. Kamu hanya mewakili dirimu sendiri. Tekadmu sendiri, hanya sendiri…”

Ada sisi lain yang menarik dari pengalaman emosional para pahlwan yang berhubungan dengan perempuan. Jika kebutuhan psikologis dan biologis terhadap perempuan begitu kuat pada para pahlawan, dapatkah kita bayangkan seandainya mereka mendapatkannya?.

Rumah tangga para pahlawan selalu menampilkan, atau bahkan menjelaskan, banyak sisi dari kepribadian pahlawan. Dari sanalah mereka memperoleh energi untuk bekerja dan berkarya. Akan tetapi, jika tidak mendapatkan sumber itu maka kepahlawan mereka adalah keajaiban diatas keajaiban. Tentulah ada sumber lain yang dapat menutupi kekurangan itu, sesuatu yang dapat menjelaskan kepahlawanan mereka.

Ibnu Qayyim menceritakan kisah sang Imam, Muhammad Bin Daud Al-Zhahiri, pendiri mahzab Zhahiriyah. Beberapa saat menjelang wafatnya, seorang kawan menjenguk beliau. Namun, ternyata Sang Imam justru mencurahkan isi hatinya kepada sang kawan tentang kisah kasihnya yang tak sampai. Ternyata beliau mencintai seorang gadis tetanggannya, tetapi entah bagaimana , cinta suci dan luhur itu tak pernah tersambung jadi kenyataan. Maka, curahan hatinya tumpah ruah dalam bait – bait puisi sebelum wafatnya.

Kisah sayyid Quthb bahkan lebih tragis. Dua kali jatuh cinta, dua kali pula ia patah hati, kata Dr. Abdul Fattah Al Khalidi yang menulis tesis master dan desertasi doktornya tentang Sayyid Quthb. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid Quthb pergi ke Kairo untuk belajar. Sayyid menangisi peristiwa itu.

Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran mesir, gadis itu tidak termasuk cantik, kata Sayyid. Namun ada gelombang unik yang tersirat dari sorot matanya, katanya menjelaskan pesona sang kekasih. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis, gadis itu menceritakan bahwa Sayyid orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan ini meruntuhkan keangkuhan Sayyid; karena ia memimpikan seorang yang perawan fisik, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.

Sayyid Quthb tenggelam dalam penderitaan yang panjang. Ia akhirnya memutuskan hubungannya. Namun, hal ini membuatnya semakin menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya. Banyak puisi yang lahir dalam penderitaan itu. Ia bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman.

Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, realisme, dan sangkaan baik pada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka menambatkan kepada sumber segala harapan; Allah!

Begitulah Sayyid Quthb menyaksikan mimpinya hancur berkeping – keping, sembari berkata,”apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” setelah itu, ia berlari meraih takdirnya; dipenjara 15 tahun, menulis Fii Dzilalil Qur’an, dan mati ditiang gantungan!sendiri. hanya sendiri!.(AnnisMatta)