(Back to Nature Bag I, Bagaimana farmasis peduli alam?)
Ternyata banyak hal yang bisa dilakukan seorang farmasi untuk turut melestarikan alam. Hal ini lebih jelas menjadi sebuah visi ketika kesukaan ku pada dunia lain kefarmasian menjadi terwadahi dengan adanya kegiatan pencinta alam dikampus DIII ku. PUMAPASI (himPUnan MAhasiswa Pecinta Alam farmaSI) begitulah banyak orang menyebutnya, yang sepengetahuan ku organisasi ini merupakan satu – satunya kampus farmasi di Indonesia yang ada organisasi pecinta alamnya. Hal ini menjadi keunikkan tersendiri dan hebatnya ternyata mampu bertahan hingga sekarang, bahkan kegiatan – kegiatannya makin digemari. Menurutku ini bisa menjadi prototipe dan contoh baik bila teman – teman kampus farmasi lain ingin mencontoh mendirikan komunitas pencinta alam di kampus farmasi untuk coba belajar dan mengambil banyak pengalaman dari organisasi ini.
Bukan hanya mendaki gunung, sekarang kegiatan mulai ekspansif ke penelusuran pantai, penelusuran goa hingga menyelam. Bahkan dari pembicaraan ku dengan salah satu dedengkot pecinta alam akh firman teman satu kost ku ini, beliau mengatakan bahwa untuk menguatkan eksistensi kegiatan pecinta alam di kampus farmasi yang pertama harus dilakukan adalah pecitraan yang baik mengenai kegiatan dan aktifitas para personal bahwa kegiatan alam dan aktifitas anak – anak pecinta alam farmasi itu tidak seburuk yang disamakan dengan anak – anak brutal, gak bener dan lainnya.
Keadaan image itu berubah sejalan dengan penetrasi biah tarbiyah kedalamnya, dan katanya hampir sekarang seluruh pengurus wanitanya berjilbab loh....sejalan dengan itu pulalah kepercayaan akademik semakin tinggi.
Yang kedua adalah coba membawa kegiatan – kegiatanya kearah berbasis education, jadi bukan hanya kesenangan semata, bukan pula kepuasan semata tapi ada base learning farmasi yang diterapkan dalam kegiatan tersebut, begitulah masukkan ku ketika dalam perjalanan pulang dari Kampung Djamu Cikarang bulan lalu kepada akh firman. Kegiatan ini harus bisa menggarap nilai ilmiah kefarmasian dari alam atau kepeduliannya terhadap alam, terhadap bahan alam yang digunakan sebagai obat. Aku pun menambahkan bila memungkinkan jangan hanya jago mendaki gunung atau menelusuri pantai dan goa yang hanya mampu dipahami oleh segelintir orang yang memang menggemari hal itu, tetapi harus mampu membuat education massa dengan merambah ke bentuk workshop, simple traning-training, dan seminar - seminar kepedulian kepada alam juga aplikasi apa saja bagi seorang farmasi untuk bisa turut peduli kepada alam.
Jadi isu – isu itu juga harus bisa disenangi dan digemari ke telinga setiap mahasiswa dengan tingkat kemampuan kepeduliannya masing – masing, ya dengan kata lain mulai bergeserlah kearah yang tidak ekslusif. Apalagi isu back to nature bagi dunia kefarmasian mulai kembali bangkit dengan obat herbalnya, dan kepedulian lain tentang banyaknya tumbuhan – tumbuhan tanaman obat Indonesia yang dicuri secara ilegal untuk dikembangkan secara genetik di negara tersebut, juga yang lebih miris adalah hewan – hewan Indonesia yang dilindungi banyak dibunuh untuk dijadikan obat (badak jawa bercula) walaupun belum jelas makna farmakologisnya, dan banyak isu lain yang menurutku bisa menjadi ”bisnis” besar pecinta alam farmasi untuk bisa eksistensi dikampus yang serba eksakta ini.
Dan salah satu kegiatan ke Kampung Djamu milik Marta Tilaar di Cikarang bulan lalu ini menurutku sudah mencerminkan bahwa organisasi ini mulai mengadakan perbaikan, terlihat pula antusias dan minat dari peserta yang berjumlah kurang lebih 60 orang. Tak terkecuali aku dan teman – teman ngaji kost Onan Said pun turut ikut sebagai undangan alumni.
Hal inilah yang membuatku malu, sebab semua para pelaku ”bisnis” ini bukan berasal dari backround kefarmasian, sehingga saat mulai ditanya tentang keilmiahan kenapa harus begini, kenapa harus begitu mereka kurang mengerti, tapi bukan berarti kita juga akan mampu sendiri dalam bisnis ini kita perlu juga joint dengan teman IPB atau Biologi. Jiwa kewirausahaan ku pun bangkit sejenak saat itu untuk bisa mengaplikasikan ilmu yang didapatkan dikampus dengan melihat proses bisnis ini yang cukup ”sederhana”, dan banyak hal lain yang mungkin tak cukup untuk diceritakan tapi cukup untuk dirasakan...(lihat picturenya saja ya atau datang langsung kesana)
Jadi banyak yang bisa dilakukan sebagai seorang farmasi untuk bisa peduli kepada lingkungan dengan cara lain dan berbeda, pesan singkat dari pengelola KDj dalam persentasinya tentang solusi Global Warming adalah cobalah untuk menanam pohon dirumah walaupun dengan tempat terbatas, terlebih itu sebagai seorang farmasi adalah menanam tanaman obat yang bisa menjadi dwi fungsi sebagai deposit obat keluarga dan mencegah global warming.......tapi jangan sampai Gombal Warning melanda, maka Segera lakukanlah sekarang kawan dengan menanam satu pohon untuk satu orang dirumah kita, Lets Do it Fren!!
(Izz@m;Bekasi 08122008, Farmasi bergerak untuk alam)



