Showing posts with label Gumam Profesi. Show all posts
Showing posts with label Gumam Profesi. Show all posts

Saturday, December 13, 2008

Kampung Djamu ; Cikarang 2 November 2008



(Back to Nature Bag I, Bagaimana farmasis peduli alam?)
Ternyata banyak hal yang bisa dilakukan seorang farmasi untuk turut melestarikan alam. Hal ini lebih jelas menjadi sebuah visi ketika kesukaan ku pada dunia lain kefarmasian menjadi terwadahi dengan adanya kegiatan pencinta alam dikampus DIII ku. PUMAPASI (himPUnan MAhasiswa Pecinta Alam farmaSI) begitulah banyak orang menyebutnya, yang sepengetahuan ku organisasi ini merupakan satu – satunya kampus farmasi di Indonesia yang ada organisasi pecinta alamnya. Hal ini menjadi keunikkan tersendiri dan hebatnya ternyata mampu bertahan hingga sekarang, bahkan kegiatan – kegiatannya makin digemari. Menurutku ini bisa menjadi prototipe dan contoh baik bila teman – teman kampus farmasi lain ingin mencontoh mendirikan komunitas pencinta alam di kampus farmasi untuk coba belajar dan mengambil banyak pengalaman dari organisasi ini.

Bukan hanya mendaki gunung, sekarang kegiatan mulai ekspansif ke penelusuran pantai, penelusuran goa hingga menyelam. Bahkan dari pembicaraan ku dengan salah satu dedengkot pecinta alam akh firman teman satu kost ku ini, beliau mengatakan bahwa untuk menguatkan eksistensi kegiatan pecinta alam di kampus farmasi yang pertama harus dilakukan adalah pecitraan yang baik mengenai kegiatan dan aktifitas para personal bahwa kegiatan alam dan aktifitas anak – anak pecinta alam farmasi itu tidak seburuk yang disamakan dengan anak – anak brutal, gak bener dan lainnya.

Keadaan image itu berubah sejalan dengan penetrasi biah tarbiyah kedalamnya, dan katanya hampir sekarang seluruh pengurus wanitanya berjilbab loh....sejalan dengan itu pulalah kepercayaan akademik semakin tinggi.
Yang kedua adalah coba membawa kegiatan – kegiatanya kearah berbasis education, jadi bukan hanya kesenangan semata, bukan pula kepuasan semata tapi ada base learning farmasi yang diterapkan dalam kegiatan tersebut, begitulah masukkan ku ketika dalam perjalanan pulang dari Kampung Djamu Cikarang bulan lalu kepada akh firman. Kegiatan ini harus bisa menggarap nilai ilmiah kefarmasian dari alam atau kepeduliannya terhadap alam, terhadap bahan alam yang digunakan sebagai obat. Aku pun menambahkan bila memungkinkan jangan hanya jago mendaki gunung atau menelusuri pantai dan goa yang hanya mampu dipahami oleh segelintir orang yang memang menggemari hal itu, tetapi harus mampu membuat education massa dengan merambah ke bentuk workshop, simple traning-training, dan seminar - seminar kepedulian kepada alam juga aplikasi apa saja bagi seorang farmasi untuk bisa turut peduli kepada alam.

Jadi isu – isu itu juga harus bisa disenangi dan digemari ke telinga setiap mahasiswa dengan tingkat kemampuan kepeduliannya masing – masing, ya dengan kata lain mulai bergeserlah kearah yang tidak ekslusif. Apalagi isu back to nature bagi dunia kefarmasian mulai kembali bangkit dengan obat herbalnya, dan kepedulian lain tentang banyaknya tumbuhan – tumbuhan tanaman obat Indonesia yang dicuri secara ilegal untuk dikembangkan secara genetik di negara tersebut, juga yang lebih miris adalah hewan – hewan Indonesia yang dilindungi banyak dibunuh untuk dijadikan obat (badak jawa bercula) walaupun belum jelas makna farmakologisnya, dan banyak isu lain yang menurutku bisa menjadi ”bisnis” besar pecinta alam farmasi untuk bisa eksistensi dikampus yang serba eksakta ini.

Dan salah satu kegiatan ke Kampung Djamu milik Marta Tilaar di Cikarang bulan lalu ini menurutku sudah mencerminkan bahwa organisasi ini mulai mengadakan perbaikan, terlihat pula antusias dan minat dari peserta yang berjumlah kurang lebih 60 orang. Tak terkecuali aku dan teman – teman ngaji kost Onan Said pun turut ikut sebagai undangan alumni. Banyak hal education yang didapatkan disana, selain kepedulian kita terhadap alam dengan menggarap kemasan isue global warming (efek pemanasan global) yang disampaikan oleh ketua pengelola Kampung Djamu (KDj) dengan slide persentasinya setelah kami berkeliling melihat koleksi tanaman obat yang ditanam seluas hampir 10 hektar yang baru di efektifkan sekitar 4 hektar (lihat gambar). Diperjalanan keliling kebun itu pula kami di perlihatkan tentang pengelolaan simplisia secara sederhana, mulai dari pemetikan, pemilahan, pencucian, pengeringan hingga siap untuk digunakan.





Hal inilah yang membuatku malu, sebab semua para pelaku ”bisnis” ini bukan berasal dari backround kefarmasian, sehingga saat mulai ditanya tentang keilmiahan kenapa harus begini, kenapa harus begitu mereka kurang mengerti, tapi bukan berarti kita juga akan mampu sendiri dalam bisnis ini kita perlu juga joint dengan teman IPB atau Biologi. Jiwa kewirausahaan ku pun bangkit sejenak saat itu untuk bisa mengaplikasikan ilmu yang didapatkan dikampus dengan melihat proses bisnis ini yang cukup ”sederhana”, dan banyak hal lain yang mungkin tak cukup untuk diceritakan tapi cukup untuk dirasakan...(lihat picturenya saja ya atau datang langsung kesana)
Jadi banyak yang bisa dilakukan sebagai seorang farmasi untuk bisa peduli kepada lingkungan dengan cara lain dan berbeda, pesan singkat dari pengelola KDj dalam persentasinya tentang solusi Global Warming adalah cobalah untuk menanam pohon dirumah walaupun dengan tempat terbatas, terlebih itu sebagai seorang farmasi adalah menanam tanaman obat yang bisa menjadi dwi fungsi sebagai deposit obat keluarga dan mencegah global warming.......tapi jangan sampai Gombal Warning melanda, maka Segera lakukanlah sekarang kawan dengan menanam satu pohon untuk satu orang dirumah kita, Lets Do it Fren!!
(Izz@m;Bekasi 08122008, Farmasi bergerak untuk alam)

Wednesday, June 11, 2008

Ada kejahiliyahan dibalik Logo!. (Pelanggaran profesi II)

Tanpa kita sadari dengan tingkat daya kritis yang rendah sesudah dan sebelumnya kitapun telah terperangkap oleh sebuah makna yang namanya konspirasi. Jaring jerat yang luas dan kuat membuat siapapun tak berdaya dibuatnya, logo kefarmasian kita misalnya, yang jadi pertanyaan apakah pentingnya sebuah logo dikritisi bagi perubahan? Rhenal Khasali dalam bukunya “Change” yang pernah penulis baca, menempatkan perubahan logo atau symbol sebuah instansi pada urutan pertama pada urutan perubahan fisik perubahan itu sendiri, maksudnya jika ingin perubahan itu lebih dikenal oleh public dan berjalan lebih cepat lakukanlah perubahan pada logo atau symbol instansi tersebut.Hal inilah yang akhirnya menguak hati untuk mencoba menuliskan tentang beberapa kejanggalan dibalik seberapa urgensi dari fenomena kejahiliyahan yang akhirnya kurang menampakkan banyak kebaraokahan bagi perjalanan dunia kefarmasian kita. Sepele memang tapi cukup bermakna bagi tingkat ketauhidan kita, begitulah saat semakin banyak referensi yang dibaca, semakin banyak yang terpikirkan, dan semakin banyak yang akan dimuntahkan. Ada beberapa alasan kenapa lambang (logo) tersebut perlu dikritisi dan diperbaharui sebagai awal perubahan:

1. Kita tahu bahwa logo atau lambang kefarmasian (apotek) terdiri dari gambar ular dan piala, dalam bukunya Jejak Sejarah kedokteran Islam karya DR. Djafar Khadem Yamani, Ular yang menamakan dirinya Aesculapus merupakan dewa obat – obatan yang berwujud ular, didalam logo tersebut menggambarkan dan diartikan oleh kepercayaan orang – orang Yunani dan Romawi yang notebanenya adalah Yahudi adalah dewa Aesculapus (ular) yang sedang minum air kehidupan dalam gelas piala tapi tidak sampai. Bukan hanya itu saja, terjadi juga ditingkat yang lebih tinggi lagi dalam kepercayaan yahudi bahwa simbol ular menjadi icon suci tersendiri, misalkan saja adanya hubungan yang erat, valid dan disetujui oleh banyak sejarawan barat antara kemusyrikan ilmu sihir kabalah dengan kelompok tertua dunia yang dikenal dengan sebutan Brotherhood of the Snake (Kelompok Persaudaraan Ular) lambangnya adalah ular kembar, yang mulai berkembang pada Rezim Raja Namrudz di Babilonia dan Firaun di Mesir hingga sekarang. Menurut Encarta Encyclopedia (2005) menuliskan bahwa istilah Kabbalah berasal dari bahasa Ibrani yang memiliki pengertian luas sebagai ilmu kebatinan Yahudi atau Judaism dalam bentuk dan rupa yang amat beragam dan hanya dimengerti oleh sedikit orang.Kabbalah ini mempelajari arti tersembunyi dari Taurat dan naskah-naskah kuno Judaisme. Walau demikian, diyakini bahwa Kabbalah sesungguhnya memiliki akar yang lebih panjang dan merujuk pada ilmu-ilmu sihir kuno di zaman Fir’aun yang biasa dikerjakan dan menjadi alat kekuasaan para pendeta tinggi di sekitar Fir’aun. Kabbalah ini sarat dengan berbagai filsafat esoteris dan ritual penyembahan serta pemujaan berhala, bahkan penyembahan iblis, yang telah ada jauh sebelum Taurat-Musa dan telah menyebar luas bersama Judaisme, yang seluruhnya berurat-berakar pada praktek-praktek kebatinan serta penyembahan dewa-dewi di zaman Mesir Kuno.

Sungguh terdapat kemusyrikan tingkat tinggi oleh behasilnya team marketing Yahudi dalam mensosialisasikan logo tersebut ketiap lini kehidupan manusia tanpa kita sadari kita artikan sendiri dengan pembenaran dari taklid kejahiliyahan yang menjadikan lambang ular diartikan racun, dan racun adalah obat jika pada dosis tertentu digunakan, Pembenaran yang salah, sebab yang menjadi kekhawatiran adalah rusaknya tingkat kebarokahan dari tingkat ketauhidan kita untuk dunia keprofesian farmasi ini, Padahal kita pun tahu sebagai seorang farmasi bahwa bukan hanya ular yang pantas dijadikan icon kefarmasian, banyak icon lain yang lebih layak dipakai untuk lambang tersebut (dibahas pada alasan selanjutnya) yang lebih jauh dari makna kesyirikan.

2. Lambang yang tak melambangkan, tidak universal penggambarannya terhadap ilmu kefarmasian dan yang pasti jelas lebih kental dengan konspirasi. Cobalah kita telaah kembali sebagai seorang farmasi tentang tingkat keuniversalan logo farmasi yang kita gunakan sekarang ini. Pernah ga kita kepikiran kenapa harus ular kembar atau ular jomblo nangkring iseng menjadi symbol kesehatan dan kefarmasian dengan alasan standar dibuat – buat orang kurang cerdas diartikan bahwa ular memang benar layak menggambarkan tentang racun, dan racun yang pada konsentrasi tertentu dapat menjadi obat, bisa jadi itu menjadi pembenaran, tetapi untuk pembenaran ini merupakan kedangkalan dan kesempitan dalam berfikir untuk sebuah penggambaran universilitas sebuah logo, sebab tumbuhan pun pada tingkat jumlah pemakaian tertentu bisa menjadi racun dan bisa menjadi obat. Sungguh sangat tidak universal untuk sebuah symbol yang seharusnya mampu menggambarkan sosok dunia farmasi.

Alasan mendasar inipun dikuatkan dengan study farmasi yang mengingatkan ku pada sebuah kuliah Standarisasi Obat Bahan Alam oleh Prof. Endang Hanani, beliau menceritakan pada awal kuliah dari beberapa bahan alam yang kebanyakan dimanfaatkan oleh bidang kefarmasian berasal awal dari tumbuh – tumbuhan, beberapa dari mineral dan sedikit dari hewan, terutama bukan hewan yang tingkat pada spesies tinggi (misalnya :melata dan mamalia), oleh sebab itu pembahasan kuliah tersebut lebih banyak porsinya membahas bahan tumbuhannya. Penggunaan hewan sebagai sumber obat umumnya lebih memanfaatkan hewan tingkat rendah (bakteri) dan hewan bersel tunggal lainnya baik dengan tehnik rekombinan DNA atau tidak, mengingat cost yang dipakai lebih efisien dan efektif dalam peningkatan skala produksi, tetapi masih banyak ketakutan tingkat safetynya jika kita memandang penerapan modifikasi DNA yang kata pakar bioteknologi farmasi UI Dr.Maksum Radji, MBiomed dan Dr. Herman sedikit cukup membahayakan gen yang ada dalam tubuh kita, konon beberapa produk hasil rekombinan yang diproduksi oleh Negara Eropa sebagai ‘Murobbi’ Bioteknologi tidak mau rakyatnya yang banyak memakai, semua didistribusikan ke negara – negara baru berkembang yang suka eforia dan taklid pada sesuatu hal baru yang dikemas sampul ‘modernisasi’ sebagai sampel kelinci percobaan korban keliaran konspirasi sains. Jadi tepatkah jika ular dan piala menjadi logo keprofesian kita selama ini?.

3. Rendahnya membangun nilai positif marketing, pemakian logo farmasi dengan lambang ular cukup memberikan image “serem” bagi anak – anak terlebih bagi sebuah instansi rumah sakit atau apotek, inilah peluangnya dalam melakukan perubahan, bahkan trend model rumah sakit atau klinik sekarang agar banyak diminati oleh pasien terutama untuk anak – anak didisain sedemikian mungkin agar tidak terlihat “serem” seperti rumah sakit atau klinik sesungguhnya. Jika kita lihat kembali logo yang sebenarnya diajukan oleh para apoteker muslim terdahulu berupa gambar lumpang dan gambar tumbuhan terlihat lebih “asri” lebih natural (back nature), jadi lebih memiliki nilai jual mana?saatnya untuk berfikir kembali!

Menilik kembali buku “Change” karya Rhenal Khasali tentang logo dan membangun awal perubahan beliau katakan :

“Logo adalah bagian dari coporate identity yang tampak secara kasat mata. Logo adalah symbol yang paling gampang dan paling sulit diubah. Disebut gampang karena logo adalah symbol yang paling mudah dilihat public (internal maupun eksternal). Anda tinggal memanggil seseorang ahli, dan mereka bisa mempersiapkan perubahan logo dalam tempo yang cepat. Pada saat logo baru diperkenalkan, semua mata tertuju ke logo tersebut dan itulah saatnya bagi pemimpin untuk menjelaskan mengapa logo tersebut diubah dan apa makna dibalik logo tersebut.Sebaliknya, perubahan logo dinilai sulit karena logo biasanya terkait dengan kebanggaan histories. Bagi orang – orang lama, logo dianggap sebagai sesuatu yang sacral dan tidak boleh diubah barang segaris pun. Sekalipun makna yang terkandung dalam logo tersebut sudah tidak cocok lagi dengan kebutuhan zamannya, sering kali orang tak mau peduli. Tak semua pemimpin punya keberanian untuk mengganti logo. Universitas negri, pemerintah daerah, perusahaan milik Negara dan daerah adalah contoh dimana perubahan logo akan menghadapi banyak tantangan”

Tantangan awal yang jelas untuk sebuah perubahan, bagaimana memulainya?

· Jika antum pengusaha swasta adalah pemilik rumah sakit atau apotek atau akan memulai membuat apotek, ganti dan buatlah logo rumah sakit atau apotek antum yang jauh dari nilai kesyirikan yang malah akan mengurangi nilai kebarokahan tempat tersebut.

· Jika antum seorang mahasiswa bantulah untuk mensosialisasikan logo apoteker Islam atau jika akan membuat event – event tertentu yang terkait dengan adanya symbol kefarmasian buatlah symbol – symbol yang “layak” dan memberi angin segar bagi sebuah perubahan ini.

· Jika antum da’I farmasi terangkan kepada banyak kalangan sebagai amal ibadah

· Jika antum tidak mampu berbuat apa2…ya print saja artikel ini,he3x

Selamat melakukan perubahan menuju keberkahan walaupun hanya sebuah symbol saja, jika tidak dimulai sekarang kapan lagi!wallahu’alam bishowab.

(Izz@m, kost Onan Said, 11062008)

Wednesday, April 30, 2008

YOUNG PHARMACIST COMMUNITY (be here, to care and share)

Apalah arti air tanpa wadah, sebab menjadi sunnahtullah bahwa air selalu akan ‘taklid’ pada wadah apapun yang ditempatinya. Jika yang ditempati adalah bendungan maka dihasilkan tenaga listrik menerangi seluruh desa atau kota. Berdaya gunalah kekuatan pemuda, walau hanya sekedar kekuatan berkumpul, hanya sejenak kekuatan bercerita (share) dan seketika hanya untuk kekuatan kepedulian (care). Tetapi jika tanpa wadah!wah, ibarat air sungai tanpa bendungan hanya akan mengikuti kemana dataran rendah tak tentu arah, tak tentu kemana, semakin jauh semakin bercabang dan semakin menampakkan lemah debit arusnya. Jika pun ada maka keberadaannya akan tidak diakui, jika berbicara dan bercerita hanya sekedar gosip tidak memberikan imbas dari sebuah kekuatan statement untuk merubah sebuah prilaku pribadi atau instansi, serta jika mau peduli pun tidak memberikan pahatan ‘goresan’ kepedulian yang nyata oleh perjalanan sejarah yang ada.

Jadi apa yang menjadi akar masalah jika kuantitas air sudah jelas kaya, berlimpah dan wadahpun sudah terbentuk, bahkan sebagian kalangan menjadikan farmasi UI icon tersendiri (katanya) sebagai air yang berkualitas, air ‘pintar’ dan air berkhasiat. Semoga seperti yang diharapkan, tidak membuat malu bendera Indonesia yang sebenarnya sudah merdeka tetapi masih terjajah dengan budaya klasik, kamuflase dan budaya feodalisme tanpa kita sadari tapi kita rasakan. Apakah memang karena enggak sadar atau baru engeh kalau yang menjadi beberapa alasan keinginan merdeka dan membuat kita merdeka adalah karena kita sudah bosan jadi budak, kita sudah bosan diperdaya, tapi kita masih punya kekuatan yaitu kebersamaan, satu kondisi, satu penderitaan, sama – sama menderita dari sabang sampai merauke dan kita ternyata juga punya malu kalau kita adalah pemuda, pemuda yang akhirnya tahu malu kalau kita punya tugas merebut kemerdekaan dan membangun kejayaan pemuda. Terlambatkah?tidak juga..

Dua kekuatan yang harus ada dalam hikmah pembuatan bendungan (wadah) ini, bendungan yang kokoh bukan hanya berasal dari bahan – bahan terpilih kekuatannya tapi juga karena arsiteknya yang handal membuat disain kerangka yang kokoh hingga sebanyak apapun air yang nanti akan tertampung mampu tertahan dengan baik, lain dari itu kekayaan tashawur arsiteknya harus juga bermain disini, yaitu positioning mengatur letak strategis dimana layaknya bendungan itu diposisikan agar menjadi ‘art of positioning’ dan daya tarik sendiri. Kekuatan lainnya adalah air nya itu sendiri, ternyata air yang katanya ‘pintar’ dan berkualitas tak mengindikasikan kalau air itu mampu berorganisasi dengan baik (walau tidak general), memang benar kelebihan kekuatan apapun hanya akan mampu membuat tingkat egoisme dan kesombongan yang lebih tinggi dari siapapun yang merasa dirinya biasa – biasa saja. Indicator nyata saat teman YPC menceritakan antusias kampus yang tingkat kejumudan akademisinya rendah lebih banyak yang antusias dan lebih banyak yang hadir ketimbang beberapa kampus yang tingkat kejumudan akademisinya tinggi dalam kegiatan sosialisasi YPC road to kampus.

Bendera farmasi kali ini masih dipegang kalangan tua dan tidak ada koreksi dari kalangan muda, siklus sejarah yang membahayakan jika pemuda mulai mandul apresiasi dan ekspresi….Sekedar gumam mengulang menyambung lidah ketua forum komunitas ini saat sosialisasi lalu, YPC minimal sekali butuh kuantitas air kali ini, air yang bersumber dari kampus manapun yang mengaku dirinya pemuda farmasi, pemuda farmasi yang masih peduli dengan keprofesiannya. Oleh sebab itu marilah bergabung dengan YPC sebagai satu – satunya bendungan air – air pemuda kepedulian profesi di Indonesia untuk bersama be here, to care and share….Selamat bergabung pejuang farmasi!!(Izzatulgumam;290408 Onan Said Kost)

Friday, April 11, 2008

DATA ADMINISTRATIF FIKTIF-Pelanggaran Profesi (I)-

Beberapa bulan lalu menjadi hal biasa berulang seorang akhwat menelpon bermaksud mengadu atas keluhan profesi yang terjadi menimpanya, entahlah motif apa yang berlaku kali ini sampai keluh ikhwan - akhwat permasalahan profesi selalu terkumulasi dan tertimbun padaku, yang jelas mungkin kejadian insidental ini hanya menandakan bahwa aku memang lahir lebih dulu dari mereka, hanya itu.

Akhwat itu menceritakan padaku sekelumit kekecewaannya yang mendalam dari legalitas profesinya yang merasa dinodai. Untung saja permasalahan ini sudah diketahui sejak dini. Allah-lahyang Maha Mengetahui dan Maha Mengatur atas tiap kejadian dalam hidup ini agar kita mampu mengambil banyak hikmah dan semakin menunjukkan peningkatan ketaatan padaNya. Terlepas dari merasa dirugikan atau tidak kejadian ini cukup membahayakan korban yang menimpannya, bayangkan saja jika kita selaku seorang farmasi yang memiliki tugas dan wewenang yang sah dikuatkan oleh undang – undang harus “merasa” bertanggung jawab pada sebuah oknum apotek X padahal dia memang tidak bekerja di apotek X tersebut. Pasalnya untuk memenuhi persyaratan kuota minimal karyawan Asisiten apoteker sebuah apotek yang akan dilaporkan ke Sudinkes setempat harus memakai data – data administratife fiktif orang lain. Data – data administrative fiktif ini didapat dari para pelamar yang tidak jadi bekerja dan memang tidak bekerja di apotek X tersebut. Antum bisa bayangkan berapa kerugian moral dan material yang harus diemban oleh korban baik secara langsung maupun tidak langsung, tidak bekerja dan tidak mendapatkan upah yang layak tetapi legatilas tanggung jawab dan wewenangnya terpakai. Ini adalah mekanisme hak yang terdholimi. Mungkin kejadian ini tidak terlalu ekstrem jika kita masih berbicara pada konteks apotek – apotek yang pelanggarannya hanya pada itu, bagaimana jika yang menggunakan data administrative fiktif adalah apotek yang masuk dalam daftar apotek “nakal”.

Alhamdulilllah kejadian ini segera terungkap oleh jaringan ukhuwah yang cukup kuat dikampus kami, dimana banyak dari mahasiswa lulusan sudah menyebar baik dikalangan pemerintahan dan swasta. Urgensi ukhuwah yang mampu saling menasehati, mengkoreksi dan tabayyun untuk menghasilkan bayan (penjelasan). Ada alumni dari satu angkatan yang sama kebetulan bekerja di Sudinkes yang bermaksud silahturahmi mengecek temannya apakah memang benar ternyata ia sudah bekerja? Dan apakah memang benar juga bekerja pada apotek X tersebut? Terungkaplah sudah semuanya saat itu juga oleh kepekaan jaring – jaring ukhuwah yang saling menjaga satu sama lainnya, kepekaan ukhuwah yang semoga terlahir dari shibgoh yang pernah cukup kuyup basah, berwarna, dan pekat saat masih dikampus dulu, alhamdulillah belum meluntur hingga masa keprofesian tiba menjadi tabungan da’wah tersendiri.

Siapa yang dirugikan, siapa yang salah dan siapa yang lalai perlu kajian mendalam dalam segi hukum yang berlaku. Yang jelas siapapun insan yang tidak mendapatkan hak balik atas kepimilikan sah yang terpakai adalah tetap sebuah pelanggaran dimata umum. Sekarang yang paling konkret untuk mencari solusi ini adalah bagaimana selaku oknum merasa jera dengan pelanggarannya dengan sanksi hukuman yang adil diiringin dengan supervise dan inspeksi rutin pihak yang berwenang ke apotek – apotek agar berjalan sesuai dengan perosedur yang telah disepakati tanpa ada “permainan” yang banyak merugikan banyak pihak terutama Asisten apoteker dan konsumen (pasien) dari realita pergolakan nafkah ini. Lain dari itu membangun ukhuwah menjadi keniscayaan yang harus ada untuk membangun kekuatan komunikasi dan koordinasi antar pelaku yang merasa peduli dengan profesi kita sendiri, sebab siapa yang akan peduli dengan keprofesian kita sendiri kecuali memang dari kita sendiri.

(Izz@tulgumam; Onan Said Kost, 110408)

Sunday, March 16, 2008

AWARD UNTUK AKTOR DA'WAH PROFESI TERBAIK TAHUN INI

Semua menangisi kepergiaannya, begitupun aku merasa turut bersedih walapun tak mengucurkan air mata, hanya do’a saja yang terus bergulir, tapi tak kusangka ayahku ternyata terlihat sempat meneteskan beberapa butir air matanya saat tayangan itu. Entah apa motifnya, basyirah ku hanya mampu menangkap mungkin cerminan cerita masa lalunya yang mampu mendorong hingga air matanya menetes keluar. “kenapa harus secepat itu ya A’?” begitulah beliau bergumam kepadaku dengan sedikit menyeimbangkan antara raut muka kesedihan dan raut ketegaran saat menonoton tayangan itu. Begitu pulalah menjadi pertanyaan standar ayahku jika ada orang beriman public figure meninggal dunia.

Seorang pelawak nan sederhana Taufik Safalas meninggal dalam musibah tabrakan di perjalanan jihad keprofesiannya, beberapa bulan selanjutnya terdengar duka seorang rocker Gitto Rollies juga menghembuskan nafas terakhirnya dalam senyum akibat kambuh penyakitnya setelah jaulah da’wah. Berbagai kalangan hadir dalam pemakamannya. Kuantitas penta’ziah dari beda lintas umur dan strata sosial hadir menandakan bahwa beliau mempunyai mobilitas vertical dan horizontal yang baik. Orang baik diakhir hayatnya akan juga banyak dihadiri oleh orang- orang baik untuk mengiringi kepergiannya. Kata – kata yang terucappun dari banyak teman sejawat bukan hanya formalitas ucapan duka belaka,tapi ucapan – ucapan yang lahir dari hati dan bertanya untuk mengevaluasi diri sendiri “bisakah aku nanti wafat dalam keadaan seperti itu?”. Raut muka dari ungkapan hati yang tak mampu terbohongi. Begitulah aku menangkap dari tiap tayangan infotaiment yang terus bergulir hingga lebih dari tiga hari lamanya.

Tetap memberikan manfaat

Jika gajah mati meninggalkan gading, maka manusia wafat meninggalkan nama baik. Kehidupannya memberikan banyak manfaat, begitupun dengan kematiannya yang masih tetap memberikan manfaat buat da’wah dan umat walau sekecilpun. Cerita kematiannya mampu membawa nilai suasana ruhiyah tersendiri bagi para pendengar berita dan penta’ziah, mampu menjadi magnet menarik kuat suasana hati penta’ziah untuk merasa punya kewajiban merenungi kematian. Sulitnya berda’wah membuat orang merenungi kematian di zaman ini, kecuali jika dihadapkan pada contoh kondisi keadaan yang nyata, apalagi dikalangan artis dengan gaya hidup popularitasnya, tapi tak semua cerita kematian mampu membuat orang “kusyuk” merenung jika aktor cerita kematiannya tidak syarat makna ruhiyah yang kental. Terbujur kakunya terus dalam wajah bersinar di kurung batang masih mampu memberikan apresiasi ruhiyah tersendiri, seperti lukisan yang penuh makna dari tangan pelukis hebat yang dihayati berjam-jam oleh para pecinta lukisan. Kondisi ketenangan kematian yang baik (khusnulkhotimah) selalu mampu menusuk diterima oleh hati dan jiwa orang lain dengan baik. Membekas di hati para ta’ziah hingga kepulangannya juga kelak.

Lika-liku hidupnya adalah perjalanan sandiwara realita dari skenarioNya yang indah bagi penikmat cerita dan film drama realita keimanan. Serentak untuk beberapa hari hampir seluruh media elektronik, stasiun radio, televisi dan media Koran, majalah menyiarkannya tak henti-henti, tidak sekelas da’wah yang hanya memberitakan (news), tapi da’wah yang mengajak sekelas instansi infotaiment berbagai siaran “gossip”pun tershibghoh tak sadar turut berda’wah dengan “cara”nya. Tiap media menyiarkan biografi kehidupannya seperti menceritakan sebuah sirah rosulullah atau sahabat secara GRATIS. Tidak seperti memohon perjuangan mengoal-kan sebuah agenda acara keIslaman dibukan bulan dan hari besar Islam (Ramadhan) yang menuntut kompensasi dana besar dan penuh ketakutan untuk tidak diminati. Kematian yang tetap memberikan manfaat di akhir hayat dengan menyajikan “Film keimanan” terbaik juga dari kedua aktris intertaiment terbaik. Coba bandingkan berapa banyak dana yang dibutuhkan untuk membuat sebuah Film layar lebar bertemakan keimanan agar penonton tetap berada dalam bi’ah keislaman, ratusan juta bahkan milyaran.

“Film kematian” kisah akh Gitto dan akh Taufik yang menayangan cerita keimanan dari skenarioNya yang mampu menceritakan bahwa seburuk – buruk orang jika berusaha (istiqomah) akan mampu menampilkan cerita kebaikan diakhir hayatnya. Kematian yang bercerita, menjadi tausiyah da’wah keprofesiannya yang dasyat, sangat sulit bagi orang lain dan dari kalangan sendiri untuk bisa melakukan hal itu, hanya ia dan contoh perjuangan kehidupannya yang bisa bercerita tentang sebuah rangkaian ujian profesi dan pemahaman ayat-ayatNya yang kemudian beliau terjemahkan dengan akumulasi nyata berupa contoh tauladan kehidupan dan gerak da’wah konkret. Tidak banyak bicara. Bagaimana dengan manfaat cerita kematian kita nanti?

Perlu banyak contoh lagi

Inilah contoh aktor da’wah profesi terbaik dimasanya, inilah pula tauladan yang dibanggakan bagi keprofesiannya. Cukup singkat saja alur kehidupannya dari sederhana-populer tetap sederhana-kemudian wafat dengan tauladan kesederhanaan. Lahir menjadi seorang rocker pemabuk- rocker da’i- kemudian wafat dalam keda’iannya. Begitupun kita nanti,Sebab sejarah kehidupan kitapun akan hanya mampu diceritakan dengan singkat oleh orang lain, maksimal dalam dongeng singkat cucu-cicit kita menjelang tidur hanya dalam beberapa jam saja, kalaupun dibukukan hanya beberapa ratus halaman, dan bahkan jika ditayangkan televisi dalam sebuah cerita film mungkin hanya beberapa jam saja itupun jika mampu menarik ratting penonton. Kehidupan singkat yang harus penuh makna, jika karnaval jiwanya ingin dimaknai dalam waktu yang lama sepanjang masa, maka ikutilah kesepakatan umum ini: bahwa makna kehidupan hanya akan lahir di akhir cerita kehidupan kita, tidak diawal ataupun diproses pertengahan cerita hidup ini. berhati-hatilah dengan waktu akhir kita.Perlu banyak aktor keimanan regenarasi baru yang akan menjadi contoh actor da’wah profesi terbaik dimasanya dan ketauladan yang dibanggakan bagi keprofesiannya. Semakin banyak bibit yang ditanam, semakin banyak pula memanen dikemudiannya, sejarah yang secara otomatis akan mencatat nilai seberapa kuantitas dan kualitas pertanian masa itu. Semakin banyak contoh semakin mudah pula banyak orang senang ikut mencontoh, semakin banyak contoh semakin semangat juga orang lain merasakan sebuah nikmatnya keimanan dalam makna kuantitas.Tugas siapakah?

Aktor terbaik di masa dunia kejahiliyahan yang diakhirnya juga mendapat Award actor terbaik dimasa keIslamannya, diakhir hayat dimata umat dan RabbNya. Aktor da’wah profesi terbaik yang mengenal realita profesi dan memahami bagaimana membina akhlak keprofesiannya juga. Khusnulkhotimah, tidak selamanya seideal berada dalam jihad peperangan, jika Allah menghendaki maka para mujahid pun harus menerima takdirNya.Tiadapun Rosulullah meninggal tertimpa sakit saat itu, begitupula takdir seorang ahli strategi perang yang tidak juga meninggal saat kerja keahliannya;Khalid bin walid melainkan wafat dengan penyakitnya ataupun kisah tragis wafatnya Umar bin khatab;sang kreator ekspansi Islam,terbunuh saat salah subuh berjamaah ditakbiratul ihram pertamanya oleh senjata khanjar bermata dua milik seorang kafir Persia budak al mugirah; Abu Lu’lu’ah Fairuz. Tiada pada saat peperangan atau tiang gantungan, melainkan dalam keadaan jiwa yang selalu bergerak semangat dari kondisi komitmen dan istiqomah keIslaman melawan kejahiliyahan hingga akhir hayatnya.Selamat jalan menemui Rabbmu yang Agung dalam jiwa yang tenang Akh Gitto Rollies dan Akh Taufik Safalas oleh saldo amal dari tabungan jiwa kesederhanaanmu. Yaa Allahbihaa, yaa Allahbihaa, Yaa Allahbikhusnilkhotimah.

(Izzatulgumam;Bekasi; Ya Allah jadikanlah yang akhir itu sebuah kebaikan, 11/03/08)

Monday, March 03, 2008

PHARMACIST CARIER BUILDING

Apa yang kita pikirkan itulah yang akan kita lakukan, apa yang kita miliki itulah yang akan kita bangun, begitupun maksud untuk judul dari kalimat tersebut, “apa yang kita miliki” bermakna suatu modal berupa rasa, kecenderungan, hobby, habbit (kebiasaan), emosi, minat, insting, bakat, pengalaman, pengetahuan profesi, skill profesi, human relationship, karakter leadership, maindset hidup (ideology) dan lain sebagainya. Background dasarnya tetap seorang farmasi. Hal itulah yang kita miliki maka hal itu pulalah modal yang akan kita bangun dalam merencanakan sebuah karier keprofesian kita, tanpa disadari ataupun tidak. “apa yang kita miliki” berupa keunggulan dan anugrah kekurangan merupakan kapasitas internal total nilai kepribadian diri dan kapasitas keprofesian kita. Tapi tak hanya sampai situ saja dengan sekedar mengkalkulasi “apa yang kita miliki”, sebab untuk mendapatkan produk dari godokan wilayah kampus (akademisi) menuju mahasiswa yang berkompeten dan professional terhadap keprofesiannya, perlu ada suatu kondisi keadaan dimana dari semua apa yang kita miliki kemudian menjadi terakumulasi, terfocus mengkrucut, mengkristal dan dilanjutkan pada tahap selanjutnya menjelma menjadi sebuah performansi profesi berwujud kompetensi terspesialisasi (ahli), akhir dari pembangunan perencanaan karier semua ini, berupa image atau pencitraan yang baik sebuah keprofesian dan diri pelakunya, dengan symbol pengakuan (eksistensi) oleh lingkungan profesi tenaga kesehatan lain dan juga masyarakat sebagai objeknya, tetapi aksi-reaksi kondisi keadaan ini membutuhkan energy dan waktu yang relative berbeda – beda bagi setiap orang dan instansi. Ada yang cepat dan ada yang lambat menyikapinya, sangat banyak factor pencetusnya.

Jika punya bilik dan papan maka yang paling mungkin dibentuk adalah membangun gubuk derita, jika punya tiang – tiang beton dan bahan bangunan lain maka memungkinkanlah membangun sebuah gedung, seberapa kuat dan bertingkat?Tergantung kemampuan dari apa yang kita miliki. Jadi apa yang menjadi masalah menuju performansi diri kita dalam wacana membangun karier, kompetensi dan eksistensi keprofesian kita?solusinya akan kembali berbanding lurus dengan bercermin kebelakang lapis sebelumnya, berupa kapasitas total internal diri kita. Coba renungkanlah sejenak kilas balik kehidupan kampus kita dahulu. Sudah berapa banyak ilmu-ilmu teori dan praktek keprofesian yang kita pahami dan mampu diaplikasikan secara mumpuni dengan pengakuan “siap pakai”, sudah berapa banyak pemahaman konsep diri, relation-leader ship dan managerial organisasi dari training berkelanjutan menjadi sebuah karunia pengalaman dan skill tersendiri kita saat dikampus dulu dari tuntutan tarikan waktu study dan organisasi, atau sejauh mana perjalanan pengalaman amal dalam membentuk sebuah attitude (sikap) dan moral dari keterlibatan kajiaan – kajian rohani Islam kampus yang melahirkan kebiasaan buah - buah akhlak yang akhirnya mendarah daging hingga sekarang. Atau seberapa luaskah jaringan kita semakna sejauh mobilitas horizontal-vertikal interaksi kita saat dikampus, pasca kampus dan masyarakat. Semua itulah kapasitas internal kepribadian diri kita dulu hingga sekarang, jika semuanya mampu terpenuhi maka akan mudah jualah terpenuhinya performansi kita didunia profesi. Semakin berkualitas dan seimbang diantaranya, akan semakin pula terpenuhi performansinya. Maka tak salah juga jika ketika dikampus hanya study oriented, akan lebih sulit membangun karier dan akan lebih lambat perjalanan karier didunia keprofesiannya kelak, sebab kapasitas internal dirinya hanya terbatas pada itu, sedangkan kebutuhan untuk bisa cepat terpromosikan atau menjadi seorang pemimpin yang baik (manager yang berakhlak) disebuah lembaga atau perusahaan profesional membutuhkan banyak pengakuan elemen lain berupa kapasitas komunikasi public, kemampuan bahasa, managerial team, leadership dan luasnya jaringan sebagai penguatan dukungan tentunya. Seharusnya bukan saatnya belajar lagi untuk hal itu, belajar lagi berarti menambah waktu dan penambahan waktu adalah sebuah keterlambatan perjalanan karier. Peluang, umumnya tidak datang dua kali pada waktu bersamaan yang memang kita butuhkan saat itu juga. Ketidak lengkapan atau kekurangan “apa yang kita miliki” jelas akan menghambat, memperlambat dan bahkan kadang merubah arah mata angin dari disain karier yang sedang kita bangun. Jangan bermimpi untuk berkarier go public bagi pelaksana private sector jika kemampuan skill keprofesian kita lemah atau jangan berharap berkarier melanjutkan pendidikan strata dua atau tiga bagi yang bercita seorang dosen untuk keluar negri jika bermasalah dengan kemampuan berbahasa.Realita hambatan lainnya saat dikampus dalam membangun awalan karier kefarmasian ini adalah sebuah ketidak seimbangan dan banyaknya kekurangan dalam ketidak sempurnaan. Inilah hikmah rasa syukur untuk terus melakukan perbaikan diri berkesinambungan yang juga perlu disikapi dengan bijak. Kasus sederhana, umumnya banyak seorang farmasis memiliki kemampuan yang lemah dalam berorganisasi dan bersikap interaksi dengan publik, kasus lainnya yang terbalik dari beberapa kelompok mahasiswa yang sudah baik tingkat sikap akhlaknya tetapi lemah prestasi akademisnya sehingga performansi yang timbul adalah hanya seorang “ustad-nya kampus”, sedangkan performansi yang diinginkan da’wah kampus adalah seorang ustad/ah kampus yang berprestasi atau berprestasinya seorang ustad/ah kampus. Jadi apa yang kita miliki itulah yang akan kita bangun, dan apa yang belum dimiliki selanjutnya akan menyusul dibangun dalam proses perbaikan – perbaikan (belajar) yang berkelanjutan.

Mendisain sebuah bangunan karier seorang farmasi sangatlah penting jangan sampai tidak terencanakan, tidak sistematis, berjalan apa adanya dan yang paling tragis tak sadar dalam melakukan serta merencanakannya. Sebab ilmu profesi kefarmasian adalah ilmu terapan yang merupakan potongan – potongan dari berbagai sumber ilmu lain, dampaknya banyak orang lain mampu menguasai ilmu kefarmasian ini walaupun kurang mendalam tetapi tetaplah terjadi kompetisi perebutan “nafkah” diwilayah profesi yang ketat. Inilah karakter yang umum dari sebuah bidang ilmu terapan manapun, begitulah hambatan saat menjelang menuju tingkat realita keprofesian. Mendisain berarti memulai melakukan kerja melengkapi apa yang kita miliki menuju visi gambaran karier kefarmasian yang kita inginkan, Belum terlambat jika kita belum ada apa yang dimiliki, jangan pesimis dengan segara melengkapi apa yang perlu dilengkapi. Mendisain berarti juga melakukan kalkulasi saldo dari apa yang kita miliki menuju akumulasi, kepengkrucutan, memfocuskan dan mengkritalisasikan karier kita sendiri hingga target membangun performansi dan dilanjutkan kelapisan terluar pencitraan dari kepribadian diri dan karier keprofesian tercapai dengan baik. Diaku kridebilitas tugas-tugasnya dan diakui pula eksistensi kewenangannya dalam menjalankan pelayanan profesi kefarmasian dengan sendirinya. Yang tahu tentang diri kita adalah diri kita sendiri, maka mendisainlah karier mu sendiri tanpa intervensi, membangun dan menikmatilah prosesnya dalam gelora semangat dari azzam yang telah direncanakan.

(Izzatulgumam 01/03/08 my room;lail, Bekasi)