Sunday, March 16, 2008

AWARD UNTUK AKTOR DA'WAH PROFESI TERBAIK TAHUN INI

Semua menangisi kepergiaannya, begitupun aku merasa turut bersedih walapun tak mengucurkan air mata, hanya do’a saja yang terus bergulir, tapi tak kusangka ayahku ternyata terlihat sempat meneteskan beberapa butir air matanya saat tayangan itu. Entah apa motifnya, basyirah ku hanya mampu menangkap mungkin cerminan cerita masa lalunya yang mampu mendorong hingga air matanya menetes keluar. “kenapa harus secepat itu ya A’?” begitulah beliau bergumam kepadaku dengan sedikit menyeimbangkan antara raut muka kesedihan dan raut ketegaran saat menonoton tayangan itu. Begitu pulalah menjadi pertanyaan standar ayahku jika ada orang beriman public figure meninggal dunia.

Seorang pelawak nan sederhana Taufik Safalas meninggal dalam musibah tabrakan di perjalanan jihad keprofesiannya, beberapa bulan selanjutnya terdengar duka seorang rocker Gitto Rollies juga menghembuskan nafas terakhirnya dalam senyum akibat kambuh penyakitnya setelah jaulah da’wah. Berbagai kalangan hadir dalam pemakamannya. Kuantitas penta’ziah dari beda lintas umur dan strata sosial hadir menandakan bahwa beliau mempunyai mobilitas vertical dan horizontal yang baik. Orang baik diakhir hayatnya akan juga banyak dihadiri oleh orang- orang baik untuk mengiringi kepergiannya. Kata – kata yang terucappun dari banyak teman sejawat bukan hanya formalitas ucapan duka belaka,tapi ucapan – ucapan yang lahir dari hati dan bertanya untuk mengevaluasi diri sendiri “bisakah aku nanti wafat dalam keadaan seperti itu?”. Raut muka dari ungkapan hati yang tak mampu terbohongi. Begitulah aku menangkap dari tiap tayangan infotaiment yang terus bergulir hingga lebih dari tiga hari lamanya.

Tetap memberikan manfaat

Jika gajah mati meninggalkan gading, maka manusia wafat meninggalkan nama baik. Kehidupannya memberikan banyak manfaat, begitupun dengan kematiannya yang masih tetap memberikan manfaat buat da’wah dan umat walau sekecilpun. Cerita kematiannya mampu membawa nilai suasana ruhiyah tersendiri bagi para pendengar berita dan penta’ziah, mampu menjadi magnet menarik kuat suasana hati penta’ziah untuk merasa punya kewajiban merenungi kematian. Sulitnya berda’wah membuat orang merenungi kematian di zaman ini, kecuali jika dihadapkan pada contoh kondisi keadaan yang nyata, apalagi dikalangan artis dengan gaya hidup popularitasnya, tapi tak semua cerita kematian mampu membuat orang “kusyuk” merenung jika aktor cerita kematiannya tidak syarat makna ruhiyah yang kental. Terbujur kakunya terus dalam wajah bersinar di kurung batang masih mampu memberikan apresiasi ruhiyah tersendiri, seperti lukisan yang penuh makna dari tangan pelukis hebat yang dihayati berjam-jam oleh para pecinta lukisan. Kondisi ketenangan kematian yang baik (khusnulkhotimah) selalu mampu menusuk diterima oleh hati dan jiwa orang lain dengan baik. Membekas di hati para ta’ziah hingga kepulangannya juga kelak.

Lika-liku hidupnya adalah perjalanan sandiwara realita dari skenarioNya yang indah bagi penikmat cerita dan film drama realita keimanan. Serentak untuk beberapa hari hampir seluruh media elektronik, stasiun radio, televisi dan media Koran, majalah menyiarkannya tak henti-henti, tidak sekelas da’wah yang hanya memberitakan (news), tapi da’wah yang mengajak sekelas instansi infotaiment berbagai siaran “gossip”pun tershibghoh tak sadar turut berda’wah dengan “cara”nya. Tiap media menyiarkan biografi kehidupannya seperti menceritakan sebuah sirah rosulullah atau sahabat secara GRATIS. Tidak seperti memohon perjuangan mengoal-kan sebuah agenda acara keIslaman dibukan bulan dan hari besar Islam (Ramadhan) yang menuntut kompensasi dana besar dan penuh ketakutan untuk tidak diminati. Kematian yang tetap memberikan manfaat di akhir hayat dengan menyajikan “Film keimanan” terbaik juga dari kedua aktris intertaiment terbaik. Coba bandingkan berapa banyak dana yang dibutuhkan untuk membuat sebuah Film layar lebar bertemakan keimanan agar penonton tetap berada dalam bi’ah keislaman, ratusan juta bahkan milyaran.

“Film kematian” kisah akh Gitto dan akh Taufik yang menayangan cerita keimanan dari skenarioNya yang mampu menceritakan bahwa seburuk – buruk orang jika berusaha (istiqomah) akan mampu menampilkan cerita kebaikan diakhir hayatnya. Kematian yang bercerita, menjadi tausiyah da’wah keprofesiannya yang dasyat, sangat sulit bagi orang lain dan dari kalangan sendiri untuk bisa melakukan hal itu, hanya ia dan contoh perjuangan kehidupannya yang bisa bercerita tentang sebuah rangkaian ujian profesi dan pemahaman ayat-ayatNya yang kemudian beliau terjemahkan dengan akumulasi nyata berupa contoh tauladan kehidupan dan gerak da’wah konkret. Tidak banyak bicara. Bagaimana dengan manfaat cerita kematian kita nanti?

Perlu banyak contoh lagi

Inilah contoh aktor da’wah profesi terbaik dimasanya, inilah pula tauladan yang dibanggakan bagi keprofesiannya. Cukup singkat saja alur kehidupannya dari sederhana-populer tetap sederhana-kemudian wafat dengan tauladan kesederhanaan. Lahir menjadi seorang rocker pemabuk- rocker da’i- kemudian wafat dalam keda’iannya. Begitupun kita nanti,Sebab sejarah kehidupan kitapun akan hanya mampu diceritakan dengan singkat oleh orang lain, maksimal dalam dongeng singkat cucu-cicit kita menjelang tidur hanya dalam beberapa jam saja, kalaupun dibukukan hanya beberapa ratus halaman, dan bahkan jika ditayangkan televisi dalam sebuah cerita film mungkin hanya beberapa jam saja itupun jika mampu menarik ratting penonton. Kehidupan singkat yang harus penuh makna, jika karnaval jiwanya ingin dimaknai dalam waktu yang lama sepanjang masa, maka ikutilah kesepakatan umum ini: bahwa makna kehidupan hanya akan lahir di akhir cerita kehidupan kita, tidak diawal ataupun diproses pertengahan cerita hidup ini. berhati-hatilah dengan waktu akhir kita.Perlu banyak aktor keimanan regenarasi baru yang akan menjadi contoh actor da’wah profesi terbaik dimasanya dan ketauladan yang dibanggakan bagi keprofesiannya. Semakin banyak bibit yang ditanam, semakin banyak pula memanen dikemudiannya, sejarah yang secara otomatis akan mencatat nilai seberapa kuantitas dan kualitas pertanian masa itu. Semakin banyak contoh semakin mudah pula banyak orang senang ikut mencontoh, semakin banyak contoh semakin semangat juga orang lain merasakan sebuah nikmatnya keimanan dalam makna kuantitas.Tugas siapakah?

Aktor terbaik di masa dunia kejahiliyahan yang diakhirnya juga mendapat Award actor terbaik dimasa keIslamannya, diakhir hayat dimata umat dan RabbNya. Aktor da’wah profesi terbaik yang mengenal realita profesi dan memahami bagaimana membina akhlak keprofesiannya juga. Khusnulkhotimah, tidak selamanya seideal berada dalam jihad peperangan, jika Allah menghendaki maka para mujahid pun harus menerima takdirNya.Tiadapun Rosulullah meninggal tertimpa sakit saat itu, begitupula takdir seorang ahli strategi perang yang tidak juga meninggal saat kerja keahliannya;Khalid bin walid melainkan wafat dengan penyakitnya ataupun kisah tragis wafatnya Umar bin khatab;sang kreator ekspansi Islam,terbunuh saat salah subuh berjamaah ditakbiratul ihram pertamanya oleh senjata khanjar bermata dua milik seorang kafir Persia budak al mugirah; Abu Lu’lu’ah Fairuz. Tiada pada saat peperangan atau tiang gantungan, melainkan dalam keadaan jiwa yang selalu bergerak semangat dari kondisi komitmen dan istiqomah keIslaman melawan kejahiliyahan hingga akhir hayatnya.Selamat jalan menemui Rabbmu yang Agung dalam jiwa yang tenang Akh Gitto Rollies dan Akh Taufik Safalas oleh saldo amal dari tabungan jiwa kesederhanaanmu. Yaa Allahbihaa, yaa Allahbihaa, Yaa Allahbikhusnilkhotimah.

(Izzatulgumam;Bekasi; Ya Allah jadikanlah yang akhir itu sebuah kebaikan, 11/03/08)

No comments: