Showing posts with label Ekspresi Gumam. Show all posts
Showing posts with label Ekspresi Gumam. Show all posts

Friday, June 04, 2010

KADO SEDERHANA (5)


Kado - Kado Elektronik
Seni memberi adalah bagian seni yang sangat unik, tak kenal waktu dan tempat. saat luapan memberi itu membuncah maka saat dimanapun atau kapanpun juga akan meluber dan meluap. Hal itupun terjangkit pada saya, kado sederhana ini begitu saja mengalir memberi, bahkan saat saya di mobil jemputan kerja menuju cikarang atau inspirasi hangat saat pagi2 sekali menuju LBA Al Utsmani mengejar mimpi yang belum terbeli lunas. Semua kadang tertuang penuh, kadang setengah, kadang sangat sedikit simple dan sederhana sekali hadirnya. ini yang sangat sederhana, yang coba saya tuangkan dalam kado elektronik dari pesan singkat (SMS) sederhana saya terutama untuk istri tercinta, selebihnya untuk sahabat-sahabat saya yang sedang bermujahadah (dibulan Juni&Juli ini...he2x..sibuk y) untuk menggenapkan agamanya....SMS terkiriiim..:)

SMS 1
"Pernikahn (Islami) itu bagaikn sebuah simpul2 da'wah.Simpul makro-nya akan membntuk peradaban yg kita cita2kn bersama.Sdngkn perbedaan Adat, kultur budaya, dan kebiasaan qt merupkn bagian seni simpul mikro tersendiri yg shrsnya dirajut erat dgn kesabaran. Maka dimulailah hanya menikah dgn membuat rajutan ikatan simpul yg benar&kuat!!"(izz@m 18042010)

SMS 2
"Pernikahan itu bukan sekedar keinginan, tapi berasal dari keberanian yg trbungkus keyakinan untuk tujuan 'jelas','terang', 'luas' dan 'dalam'. Pernikahan itu bukan sekedar perpaduan, ia menyatukan dua insan dlm perpotongan takdir yg sama. pernikahan itu bukan lahir dr kata, tapi lahir dr "matang"nya kekuatan azzam yang menancap lingkaran terdalam diqolbu kita. ia terdengar bisu tapi matang, ia ramai tapi mewahnya kebarokahan menyelimuti tiap jiwa dgn makna."(Izz@tulgumam:menikah syar'i).

SMS 3
"Ingin Menikah syar'i!!,...Sempurnakanlah dulu keyakinan!! sempurna krna membulat makna-makna, sempurna karna membaja niat (motivasi), sempurna yg tersuci bersih, putih dan lurus krna petunjuk-Nya, sempurna krna dicerdaskannya keyakinan itu sendiri, atau dgn kata lain berusaha sepenuh jiwa agar keyakinan itu terus tumbuh sampai mendekati titk kesempurnaan, hingga takkan pernah tersentuh makna kata keraguan sedikitpun."(Izz@m)

SMS 4
Segeralah menikah secara syar'i atau menundanya hingga Allah memberikan jalan kebaikan(kebarokahan)&kemudahan dari buah indahnya istiqomah kesabaran di jalan da'wah adalah sebuah pilihan bagi muslim yang bersungguh!!(Izz@m; 18052010)Keep istiqomah!!.

SMS 5
"Upayakanlah merasa bahagia selalu dengan adanya istri, anak dan keluarga apa adanya, dlm keadaan apapun.Karena merasa bahagia adalah indikasi dini kita telah mensyukuri nikmat yang ada" (Izz@m; menikah syar'i itu bahagia).

Nb : Yang merasa memiliki dzhon berkembang terus, saya mohon dimaafkan.

"Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai" (HR Abu Dawud)

Saturday, May 08, 2010

KADO SEDERHANA (4) : MET MILAD ISTRI KU


Jika Cinta Harus Berkata...
Jika cinta harus berkata..., maka cinta menyapa "yaa ayyuhal mu'minuun".
Jika cinta harus berkata....,maka cinta menyeru "ada cinta diatas cinta!"
Jika cinta harus berkata....,maka kata cinta menjawab seperti sahabat menjwab sebuah tanya rosulullah "aku mencintaimu seperti mencintai diriku sendiri".
Jika cinta harus berkata....,maka cinta kadang cukup membisu hanya dalam do'a-do'a Robhitohnya dan hati yg berdzikir panjang.
Dan jika cinta harus terus berkata.....,maka cinta akan berbicara dalam diam, tapi diamnya lebih jelas dari orang yang berbicara, jika diamnya terlalu lama maka bergegaslah ia keharusan untuk bergerak.(Izz@m 23042010, kado milad:metmilad istriku)

Note : "Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai" (HR Abu Dawud)

Saturday, December 26, 2009

KADO KU, KADO SEDERHANA: Istriku, langit masih biru? (2)


PERENCANAAN KEUANGAN
Sebenarnya Ebook ini adalah kado istimewa untuk istri ku tercinta: karna tiap amanah perlu ilmu yang membuatnya menjadi lebih ringan untuk dipikul. Adalah sebuah kumpulan artikel tentang perencanaan keuangan, baik untuk keluarga atau pun pribadi yang diambil dari situsnya pak Safir Senduk yang saya kumpulkan hingga terbentuk Ebook disela waktu luang yg ada. Saya pun sangat merasakan perlunya pengetahuan ini, baik buat mahasiswa apalagi untuk yang berkeluarga atau yang akan merencakan berkeluarga. Banyak hal yang belum saya tahu dan didapatkan pada kumpulan artikel ini, misalkan : bahwa menghutang yang baik adalah maksimal 30% dari gaji kita, bagaimana perencanaan keuangan untuk kelahiran, atau bagaimana perhitungan perencanaan untuk perencanaan keuangan pendidikan, dan banyak lagi. Bagi yang masih kuliah di Ebook ini juga terdapat bagaimana menabung dan investasi yang efektif sekaligus dikenalkan tentang Bank dan element – element lainnya. Bagi yang sudah pernah membaca silahkan mengamalkannya, bagi yang belum : Slmat menikmati hidangan sederhana ini ya…

KADO KU, KADO SEDERHANA: Istriku, langit masih biru? (1)


KADO PERTAMA- Don’t be afraid : Baarakallahu laka.......
Alhamdulillah, dengan gema syukur kepada Allah swt yang tak pernah henti berkumandang dalam hati, selesai juga tulisan souvenir sederhana ini. Sebuah tulisan jiwa dan ukiran hati penulis untuk hati penulis dan untuk semua. Sebuah tulisan pengalaman kejujuran, pengalaman memahami idealitas, dan pengalaman memahami kebijakan realitas yang pernah ditulis dalam blog sederhananya di www.izzatulgumam.blogspot.com .
Souvenir ini merupakan cicilan – cicilan ukiran hati penulis yang semoga mengantarkan pada teman – teman untuk tetap mengkobarkan semangat untuk segera menggenapkan setengah agamanya di jalan da’wah, jalan pilihan para nabi-nabi, jalan kemuliaan. Semoga tetap memberikan inspirasi yang mudah dipahami hati. Maaf jika banyak sentilan – sentilan ruhani dan kritikan realitas, tetapi semoga juga tetap membangun dan tidak menggurui.
Souvenir ini sebenarnya diberikan khusus buat (saya) penulis sendiri dan insya Allah untuk siapapun yang akan menjadi pendamping hidup penulis nantinya sebagai hujjah, pengingat komitmen, penggugah gairah saat – saat kritis kejumudan melanda nanti. Dan secara umum diberikan kepada siapapun yang membutuhkannya.
Tiada gading yang tak retak, begitupun da’wah yang disampaikan dari manusia kepada manusia pasti banyak kesalahan dan kekhilafan, penulis mohon maaf atas itu semua. Semua saran dan kritik sangat ditunggu penulis agar penulis tetap dapat menulis dengan ilmu – ilmu dan pengalaman amal baru yang terus berkembang. Wallahu’alam bishowab
...“Izz@tulgumam memberi inspirasi untuk terus menulis dari hati”
(www.mimiracle.blogspot.com- Mira Apoteker UI 64)

“Rangkaian potongan – potongan alur dan perasaan seorang penulis : Agung Kurniawan, jika kita tahu peristiwa dan perasaan yang ada dibalik tiap souvenir itu jadi makin bisa menghayati dan memaknai tulisan – tulisan tersebut....”
(Ajitya Kurnia- Mahasiswa berprestasi Farmasi UI)

“ ‘Izz@tulgumam’, kumpulan kata di dunia maya yang memberikan inspirasi, terutama bagi Anda yang sedang menentukan arah hidup dan mengukir masa depan “
(Heri Setiawan- Apoteker UI 66)

“Kekhasan dan kekuatan dalam tulisan izzatulgumam membuat inspirasi tersendiri bagi pembacanya”
(Maryam Iffatunissa- Apoteker UHAMKA)

“Indeed, it is a humble but seriously managed blog I've ever seen. I found some 'values' in several of the postings. I like them very much although haven't yet red all. I believe, it is a good blog with values”.
(Blog reader from Pare Kediri)

KADO KU, KADO SEDERHANA : Istriku, langit masih Biru?


KADO KU, KADO SEDERHANA
Jika cinta adalah makna lain dari kekuatan memberi, setelah “souvenir sederhana” maka nanti tulisan sederhana ini juga adalah turunan dari cinta itu. Ini cabang – cabang saja tapi ia punya dimensi pengaruh yang cukup luas bagi bathin kita, oleh sebab itu manhaj ini menganjurkan untuk berikanlah saudara mu hadiah karna itu akan menimbulkan dan menguatkan cinta, dasyat bukan.!!. Jadi sekarang pertanyaan saya siapa yang tak ingin diberikan hadiah? Semua pasti ingin. Apapun namanya ataupun nama lain berupa sebuah KADO, Entah itu kado pernikahan, kado ulang tahun, ataupun kado saat mendapatkan nilai terbaik di sekolah dulu...lebih dasyatnya coba memberi kado tersebut tanpa event, tanpa motif??. Walaupun sederhana, walaupun sedikit, apalagi banyak atau walaupun hanya sebuah kado rutin senyuman terindah pagi sekali dari istri yang terbungkus kesetiaan saat saya terbangun dan dibuatkan teh madu hangat olehnya (terimakasih ya dear, Allah love you full :D).
Tak hanya harus bentuk materi, karna saya mengangapnya bahwa sesuatu hal yang diberikan istri atau saya untuk istri yang sudah terencana atau tidak, kemudian dikemas oleh bungkusan “kertas - kertas” rasa, jiwa dan cinta menjadi bentuk lain dimensi indah dipandang mata fisik dan mata jiwa. Isinya harus tersembunyi pada kerapatan “ikhlas” supaya menjadi kejutan semburat kebahagiaan dan keharmonisan yang ‘lurus’ juga ‘terang’.
Kadang bungkusnya tak sesuai dengan isinya mungkin karna tak sempat menghiasinya, begitupun kadang sebaliknya dan tetaplah berzhon baik. Seperti saya bilang bahwa kado apapun dari orang yang kita cintai, dan apapun pula bentuknya, itu mempunyai sensasi kejutan tersendiri dalam karnaval – karnaval letupan kegembiraan sesaat (atau bahkan abadi) yang mampu menyambung estafet semangat pada kehiduapan fana panjang ini. Kadang ada letupan kejutan ‘suprise’ kadang bisa jadi hanya kejutan jiwa untuk menjadi renungan hikmah yang panjang, semua tergantung pada bungkus, isi, waktu dan tempat dimana ia bisa tepat memberi dan mengekspresikan itu.
Lain hal, entahlah apakah juga istilah kado ini sesuai kebenarannya dengan teoritis dalam kamus besar bahasa Indonesia pada istilah kado atau telah menyimpang, tetapi pada pandangan saya sendiri itulah namanya kado versi saya. Versi makna saya sendiri, seperti pada judul serial cerita yang akan saya cicil tulis ini “KADO KU, KADO SEDERHANA: istri ku, langit masi biru!?” ini kado dari saya untuk istri saya, bagaimana dengan anda, sudahkah anda memberikan kado terbaik pada orang yang anda cintai hari ini????? (Izz@m, 20122009 Bekasi).

Nb : Nyambung ngeblog lagi yuk...semoga istiqomah terus.

Tuesday, February 17, 2009

BINGKAI HATI


Ini hanya baru perjalanan awal pecinta sejati, bukan akhir. Jatuh bangun menghadapi ujian adalah sunnahtullah. Rasa yang selalu hadir tetap tak dapat dibendung, fikiran selalu bergerak dan rantai hambatan tak dapat menghalangi langkah cinta ini oleh sebab itu Ibnu Qoyyim tak salah jika menemukan banyak makna kata lain dari kata cinta dalam bukunya “Taman – taman Orang Jatuh Cinta”, tapi manhaj akhirnya yang membuat kita hidup lebih terarah, lebih hangat, lebih bijaksana dalam menghadapi cobaan kehidupan. Pecinta sejati yang cintanya mengendap - endap yang akhirnya hampir jatuh kejurang fenomena hati yang terus deras terselamatkanlah sudah pada jalan yang terhormat, jalan amanah bertanggung jawab, jalan kejujuran, jalan – jalan para pahlwan pemberani dan jalan yang selalu dikehendaki oleh Islam. Pecinta sejati juga harus cinta pada jalan ini, yang berarti juga menjaga dan melindungi yang di cinta dari segala hal yang akhirnya dapat merusak harga diri dari ketidakhormatan atau tatanan da’wah itu sendiri.Biar tahu, biar rasa maka tersenyumlah kasih….. kira – kira begitulah pekatnya ungkapan lagu akh Iwan Fals yang disuguhkan untuk seorang kekasih yang di cintanya, tapi sekali lagi pecinta sejati selalu punya cara dan jalan lain yang unik untuk mengungkapkan itu semua pada bingkai manhaj yang diyakininya sepenuh hati, dan ia pun terhormat.Indahnya manhaj ini, seindah memaafkan kesalahan cintanya, maka mohon maafkanlah!.(Izz@m 15022009 Bekasi my room, PKS itu Peka Kepada Sesama).

Saturday, January 10, 2009

Penghapal Sejati

Penghapal terbaik sejatinya adalah mampu menghapal secara kontekstual dan menghapal apa yang dipahami dengan baik pula. Agar hapalan itu meresap dalam mentalitas dan ruhiyah yang dalam, alangkah baiknya penghapal sejati juga menyadari bahwa menghapal adalah hanya bagian dari bagaimana mekanisme mengikat ilmu dalam lintasan pikiran yang kemudian harus dilanjutkan membenamkannya membentuk arus komitmen amal yang deras, sejatinya sempurna seperti itu. Saya sampai terkagum – kagum ketika dihadirkan pada teman – teman Apoteker di kampus saya yang berasal dari Reguler UI tentang kemampuannya menghapal. Mereka mampu menghapal dengan baik tiap kata, kalimat hingga tahu betul bab – bab yang mana dengan halamannya saat menghapal menjelang ujian. Saat itu saya hanya membela diri karena sampai saat ini saya bukan (belum) termasuk dalam ‘aliran’ tersebut, alasan saya sederhana; yaah, mungkin memang mereka sudah terlatih benar sejak dini, dan batas usia yang sangat memungkinkan sekali untuk itu, rata – rata usia mereka 21-23 tahun (masih usia ke-emasan untuk menghapal).
Kebanyakan mereka dituntut menghapal untuk berpacu prestasi akademik, menurutku itu adalah konsekuensi normative dengan pola pembelajaran yang diterapkan ilmu jurusan tersebut dibandingkan jurusan lainnya, seharusnya justru itulah kunci sinergis korelasinya. Tapi banyak hal yang terlupakan juga, misalnya : berapa banyak dari mereka (kami) yang berjilbab atau yang telah berkomitmen terhadap keIslamannya baik wanita atau pria yang telah hapal Al qur’an juz standar 28,29 dan 30?atau hanya juz 30?tidak sebagian, tidak juga seperempat, mungkin seperenambelas?. Tuntutan itu tidak hadir dari hati seperti layaknya tuntutan normative mengejar prestasi dan kelulusan akademik. Kita tak pernah takut, kecewa dan bahkan bersedih sejadi – jadinya saat bertambahnya setengah semester usia ujian hidup kita dengan nilai C- dalam mengkaji dan menghapal Al qur’an, atau dinyatakan tidak lulus dan mengulang semester depan. Tapi kita mampu menangis dalam sedih yang mendalam ditengah malam, atau kecewa yang berat bahkan frustasi yang sangat saat dinyatakan Her atau mengulang tahun depan mata kuliah kefarmasian kita.
Memang tidak ada (ikut) lembaga yang mengevaluasi agenda tarbiyah dzatiyah kita tersebut secara intens, bisa jadi disinilah letak lemahnya, bagi yang berkomitmen ikut dalam lembaga atau semacam mahad (LBA), mungkin mempunyai evaluasi lebih baik dalam kasus ini. Selebihnya hanya mekanisme evaluasi yang bersandar pada kesadaran, kemauan kuat dan komitmen pada pribadi masing – masing saja pada hadist indah ini
“Ahli (penghapal dan pengamal) Al qur’an adalah ahli (kekasih) Allah dan orang yang istimewa di sisi-Nya” (HR. An Nasa’I dari Anas bin Malik)
So, yang menjadi pertanyaan besar dibenak saya sampai sekarang adalah siapakah kandidat dari teman – teman farmasi atau dunia farmasi yang berhasil menjadi kekasih-Nya kelak dengan jalan menghapal dan pengamal Al qur’an yang mampu lulus cumlaude dengan nama dan title tambahan baru: Fulan/ah Al - Hafizh, Sfarm. Apt….mungkinkah saya, anda dan yang lainnya. Mungkin, dan sangat mungkin!! sebab semua punya kemungkinan yang sama dengan daya hapal yang hampir sama baiknya pula, tapi waktu dan proses juga akan ambil bagian dari kemungkinan ini nantinya. Semoga dipermudah-Nya untuk menuju jalan kesana….Allahumma amin.
(Izz@m 09012009 Bekasi)
Nb :
- Bagi yang meminta agar tulisan ini segera dipublish; semoga ini bermanfaat buat semua.
- Autotausiyah juga untuk semangat menghapal&mengkaji Al qur’an kembali.

Sunday, November 02, 2008

DOA UNTUK CAHAYA


(Mentari teruslah bersinar)
“Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, jadikanlah cahaya dalam lidahku, jadikanlah cahaya pada pendengaranku, jadikanlah cahaya pada penglihatanku, jadikanlah cahaya dibelakangku, dan cahaya di depanku, jadikanlah cahaya di atasku dan jadikanlah cahaya di bawahku. Ya Allah perbesarlah cahaya untukku
(HR. Bukhari-Muslim)”*


Begitulah sepenggal do’a dari seorang Rosul ulul azmi yang diceritakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma ketika bermalam bersama Rosulullah. Do’a yang terlontar mana kala Nabi saw keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat fajar (subuh).Jika fajar adalah awal dari sebuah aktifitas maka berdo’a adalah awal mengokohkan bangunan keimanan. Mendapatkan cahaya tanpa adanya ikatan dan permohonan yang kuat, rutin dan menghamba sekedar formalitas menjadi kemustahilan. Menjadi sumber terkecil cahaya dibalik sumber terbesar Nur-Nya itu harus menjadi pilihan. Dan selalu meminta kepadaNya adalah karakteristiknya, sebab ia adalah mentari di marhalahnya, mentari di zamannya, dan mentari pada peradabannya. Cahaya bukan sekedar cahaya, jika saja itu menjadi cahaya mekanik penerang sebuah desa, maka timbullah satu persatu amal kegiatan, motivasi dan harapan, titipan pengetahuan, penghasilan dan bahkan pelangi - pelangi sejarah peradaban Islam. Cahaya bukan sekedar cahaya, jika itu ada di hati, maka mudahlah ia untuk memilih jalan yang menjadi pilihannya, mudahlah ia untuk berjalan dalam ’gelap’, mudahlah ia untuk berjalan untuk ’lurus’, mudahlah ia untuk mengenal diri dan tuhannya, mudahlah ia untuk memahami amanah da’wah dan objeknya dengan jelas, dan mudahlah ia untuk bersabar, karena lemahnya kesabaran adalah gelapnya zona pandang sebuah hakekat tujuan, buramnya langkah fikroh karena kosongnya ilmu dan pemahaman, jika ia akan maka bergerak sangat lambat, tapi jika akselerasi cepat maka ia isti’jal.
Cahaya dihati adalah indikator kehidupan, ia adalah modal dasar kehidupan. Modal kehidupan untuk bersungguh, sebab bersungguh tanpa cahaya seperti kelalaian amal tanpa ikhlas, rugi yang menggunung. Cahaya dihati adalah modal bangunan peradaban yang sebenarnya; mengolah, memelihara dan menerangi hati yang lain hingga kokoh dari hati ke hati dengan hati untuk cicilan bangunan peradaban cahaya hati ummat, maka beruntunglah bagi pemilik cahaya hati. Cahaya bukan kegelapan, yang pasti akan mengelapi, membutakan peta diri dan orang lain disekitarnya. Cahaya yang harus terus menerangi amanah perjalanan da’wah dari sumber yang Maha Menerangi :
”Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS 2:257)”.
Jika Rosulullah yang ma’sum saja meminta dari tingkat diatas rata – rata syukur dan kesabaran manusia untuk menguatkan menjalani misi da’wah ini, kenapa kita tidak?seperti do’a Rosulullah”....Ya Allah perbesarlah cahaya untukku”.
(Izz@m 02112008; Do’a Sederhana; kost Onan Said)
*Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dengan sedikit perbedaan redaksi. Lihat : Jami’ al –Ushul, IV/83, 84, al-Lu’lu wa al-Maran, I/46 dan Zadul Ma’ad, II/369

Monday, October 27, 2008

NASIHAT (gumam kembali)


Nasihat adalah cinta; lahir dari sinopsis rangkaian kata hati. Nasihat adalah buah kepatuhan dari amal sebelumnya yang kemudian melesat keluar, ia bisa seperti mentari yang terus menyinari sehingga timbul hujan, yang dulu hujan kemudian timbul pelangi dengan pesan indah warnanya. Nasihat adalah buah akhlaq tersendiri bagi pemiliknya. Nasihat adalah essensi kehidupan, makna hidupnya yang kuat essensi karena memberi. Nasihat itu adalah dimensi gagasan yang mulia, luas dan mendalam. Nasihat adalah pancaran kekuatan dari gejolak perubahan. Nasihat itu adalah pertumbuhan, harus tumbuh dan abadi dibenak ummat. Nasihat itu juga adalah selimut dan pakaian bagi saudaranya, melindungi jiwa dan raga. Nasihat adalah indikator sehatnya iman dari jiwa yang menerangi dan cita – cita yang menyala. Nasihat itu juga adalah puncaknya harapan bagi sang perindu harapan. Nasihat itu adalah rambu – rambu perjalanan menuju tujuan, karena rangkaian nasihat adalah perjalanan panjang adalah istiqomah. Nasihat adalah juga kehangatan ukhuwah yang mendalam, sedalam samudra. Nasihat adalah ruang refleksi tisqoh yang terang, saling menerangi karena saling memahami.Dan sebab nasihat itu juga adalah simpul kebersamaan, kebersamaan untuk hidup di kehidupan akhir yang abadi adalah SYURGA. Bersyukur dan beruntunglah yang mendapatkan nasihat. Sebab hari – hari tanpa nasihat adalah langkah kemunduran dan bagi da’wah adalah awal kematian.(Izz@m 26102008; Pesan Sederhana;Kost Onan Said)

NB : Jazakillah buat ukhti yang memberi nasehat, karena memang nasihat takkan pernah habis termakan waktu...”Membuat saudara kita untuk tak berburuk sangka adalah sebuah kebaikan” .

Monday, September 29, 2008

DIAM ITU CINTA (Diamlah sejenak berhenti)

Berhentilah sejenak.................
Bergeraklah kemudian diam dan datanglah lalu kemudian pergi.Jiwa yang menerangi dan cita-cita yang menyala, semoga mengerti betul makna menapaki ikhlasnya ikhlas, sebab ku memahami sebab ku akan memberi sari ikhlas ini.Hanya yang memiliki yang bisa memberi. Aku yang harus dianggap lebih mengerti, seakan aku harus dituntut lebih merasa. Aku kadang divonis hari ini mungkin esok tapi pasti oleh masa nanti sebagai terdakwa perusak keikhlasan-kebarokahan, dari tabungan kisah bulan dan masa lalu yang mungkin dianggap salah.

Tetap, berhentilah sejenak...............
Aku, cinta, istiqomah dan cerita bintang yang mengisahkan kesetiaan yang takkan pernah habis diceritakan sepanjang masa.Aku dan izinkan aku mencinta yang berazzam menggapai hafidz untuk niat sebuah kebarokahan.Aku kadang dengan sesulit tapi lebih bahagia. Aku, dimensi peradaban dan puisi kopi malam yang mungkin takkan tergapai kini.

Harus, berhentilah sejenak..............
Diamlah, nikmatilah sunyi kembali yang ada didalamnya terdapat banyak kunci jawaban.Waktu kadang adalah aku dan jawaban itu sendiri juga aku.Waktu dan dimensi ketetapan adalah ruang perasaan ku,maka waktu adalah guratan emosi adalah jawaban rasa ku. Jika ragu maka tinggalkanlah, sebab aku sudah lebih memilih diam. Tak salah dan jangan merasa bersalah, karena diam untuk menghargai itu takkan pernah salah. Karena diam juga selalu pernah mengajarkan makna seberapa bertahan kekuatan sabar dan kekuatan sebuah cinta.(Izzatulgumam;Bekasi; 200308)

Friday, September 12, 2008

NGEBUT (Lemah akselerasi)


Seperti biasa hari ahad sore menjadi rutin azzam tersendiri untuk bisa hadir tepat waktu, tepat niat dan tepat persiapan baik jasad maupun ruhiyah. Kali ini sungguh meleset, telat!aku ketiduran akibat aktifitas nulis setelahnya, sebab biasanya jika tidak ada agenda eksternal keluar rumah, ku gantikkan untuk agenda ‘berberes’, menulis dan membaca. Aku ketiduran hingga laptop ku pun masih menyala saat ku bangun.

Jadi terburu – buru tanpa persiapan apalagi untuk tepat waktu!! Tapi minimal harus punya alasan yang jelas unttuk harga sebuah kejujuran. Kebetulan sekali dirumah ada motor adik yang ngangur tak dipakai, langsung ku pinjam saja untuk segera melaju ke forum pekanan yang jaraknya cukup lumayan sekitar 20 – 30 menit dari rumah.
Sudah lama sekali memang aku tidak menggunakan sepeda motor untuk sebuah agenda ‘ngebut’ mengejar waktu….hal itu berakhir saat bersamaan aku lulus SMA, jadi sejak SMA kebiasaan ini menjadi hobby tersendiri terlebih ayah ku membelikan hadiah ulang tahun saat itu sebuah sepada motor bebek racing keluaran baru (pada masa itu).

Masa jahiliyah yang menjadi lukisan memori otak agar bersyukur dan menjadi torehan kebijakan hidup untuk nantinya. Agenda ngebut rutin pagi hari ke sekolah dengan sengaja menyelap-nyelip diantara kemacetan dan angkot – angkot ‘bandel’ yang suka action ngebut juga. Saking sukanya akan kebut-kebutan, pas baru beberapa minggu dapat hadiah motor, tak sengaja mobil kantor ayah yang saat itu melewati jalan kalimalang terselip juga oleh agenda kebutan ku. Aku tak sadar kalau itu adalah mobilnya, akhirnya tanpa basa – basi lagi sesampainya dirumah beliau langsung memarahi dan menasehati, bahkan mengancam untuk menarik ulang motor tersebut..(piss Yah..kalau negbut lihat2 donk bang,he3x).Lainnya, agenda ‘jalan minggu’ (biasanya ba’da latihan sepak bola) or ‘jalan sabtu’ habis pulang sekolah bersama geng motor teman sekelas (Rudi, edo, baskoro, dan lain2….kemana nih ente semua sekarang?), dengan tujuan yang entah ga jelas. biasanya survey ke rumah teman – teman yang sekelas dan enggak sekelas, dari yang kenal akrab sampai yang memang kenal nama doang, selebihnya cari tempat yang enak buat nongkrong atau kalau lagi enggak mute nongkrong dirumah Rudi yang dijadikan base camp resmi untuk ngutak – atik motor anak – anak, coz peralatan bengkelnya cukup lengkap. Dari situlah aku mengenal sedikit tentang mesin motor.

Skill ngebut ria itu kadang cukup menguntungkan saat – saat waktu kritis menjaga sebuah janji dan tauladan untuk DISIPLIN on time. Tapi entah kenapa skill itu mendadak sepertinya menghilang, entah karena sudah terlalu lama tak diasah atau memang spirit itu sudah hampir melemah. Badan dan tangan ku bergetar kencang saat ku laju sepeda motor baru mulai 90 – 100 Km/jam, dan lain lagi, hati ku mulai menciut saat ngerem mendadak hampir menabrak, padahal dulu menyenggol, tersenggol atau bahkan hampir benar menabrak mobil tak pernah ada kengiluan dihati apalagi sampai badan dan tangan bergetar. Insting dan feeling pun saat jalan harus menyelip – nyelip diantara dua sampai empat mobil angkot yang harus dilewati menjadi tidak seperti dulu bagai permainan games yang menyenangkan. Penuh tantangan untuk sebuah kegembiraan. Aku jadi lebih rada takut kali ini, padahal ngebut hari ini untuk momentum kebaikan..

Setelah merenung kembali, bisa jadi ini sebuah sunnahtullah bahwa membangun kebiasaan-kebiasaan kebaikan itu sulit, sesulit kita juga bila lemahnya azzam menghapuskan kebiasaan kejahiliahan yang telah melekat. Atau bisa jadi sebaliknya, menghapuskan kebiasaan - kebiasaan kebaikan itu menjadi mudah, semudah bersamaan saat kita juga mulai mudah melakukan kebiasaan kejahiliyahan. Ibroh lain, bagi da’I yang lemah-malas mental mengasah (melatih/belajar) kapasitas dirinya dalam sinergi berjamaah atau individual untuk kepentingan da’wah dan akhiratnya, maka jelas ia takkan mampu memotong tali – tali konspirasi kejahiliyahan, sebab pisau yang dipakai dipastikan tumpul!!. Apalagi untuk menjadikan tajam mata hati untuk sebuah bashirah solusi menyelesaikan masalah dan menjadi penerang masa depan generasi ummat…..pasti jauh lah dari yang diharapkan.Asstagfirullahal’adzim…

Nb : akhi kpan kita ngebut lagi,he3x!!
(Izz@m ;070908 my room Bekasi)

Tuesday, September 02, 2008

HIBURAN JIWA DAN HARAPAN


Sejak sebulan lalu kepindahan kakak, ada hal menarik dihati yang timbul alamiyah. Keinginan dari kecenderungan yang tak biasa untuk pulang kerumah bila hari sabtu atau ahad tiba, biasanya aku lebih nyaman sabtu atau ahad dikost untuk menikmati agenda da’wah. Ya, sebab hari itu kakak ku dan kedua jundinya yang imut ukhti Nikita (4th) dan akhi Muhammad Jamil Zidane (6th) yang biasa kami panggil bang Zidane selalu menyempatkan silahturami kerumah bahkan kadang menginap, dan menjadi kesenangan sendiri saat ‘rumah mini’ ku dijadikan tempat menginapnya.
Rasa rindu yang sulit diungkapkan berbalut canda hadir saat keponakan ku datang, hiburan jiwa yang tumpah meruah melihat kelucuan dari kedua keponakan ku yang memang pada usia itu, masa dimana Allah memberikan rasa kepada siapapun untuk takjub penuh kecintaan kepadanya, dan dihadirkanNya juga dalam rasa manusia yang melihatnya untuk tertarik (konsen) penuh, maksudNya agar orang tua dan siapapun yang berinteraksi agar mampu tertarik(konsen) mencintai. Supaya proses pertumbuhan alamiyahnya dapat teramati dan terjaga dengan baik oleh orang sekitar dan siapapun hanya dengan cinta, sebab pada usia itupulah menjadi rahasia penting usia emas untuk mudah memulai menumpahkan, melukiskan dan menggoreskan tinta – tinta kehiduapan.
Begitupun rasa itu yang menghinggapiku, maka saat ketemu adalah saat penting untuk menggoreskan pena itu atau mengevaluasi aktifitas kebaikannya selama seminggu dengan ‘cara’ ku, seperti ini : “kata bu guru dan mama abang sudah hapal surat – surat pendek dan do’a iftitah ya, coba Om mau dengar kalau bisa Om kasih hadiah” kata ku sambil mencium pipinya yang gembul. Walaupun agak malu-malu akhirnya dengan ‘gaya’nya keponakanku itu murojaah juga. Tak percumalah saat Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) menjadi pilihan, bayangkan baru kelas 1 saja sudah pintar berbagai macam ‘skill’ baik akademisi umum dan akademik religi. Dari diajarkan hitungan model sempoa hingga hapalan do’a shalat, surat – surat pendek Al qur’an dan banyak lainnya…bangganya aku kepadamu Bang Zidane.Memang awalnya aku mengusulkan agar tidak sekolah di SD Negri/inpres ke kakak ku sebab dari observasi dan lainnya karena sekolah itu gratis jadi kurang diperhatikan benar, lain halnya di SDIT gurunya saja dalam satu session pelajaran harus minimal 2 orang, dan itu harus dibayar cukup mahal, miris jika menghitung kalkulasi uang masuk awalnya sama dengan biaya kuliah ku di apoteker UI…fiuuh. “sabar mpok, insya Allah ga akan habis rezekinya bang zidane kalau niatnya untuk memperbaiki generasi(Islam)” ujar ku selalu meyakinkan kakak.Tetapi memang untuk menikmati pendidikan Islam yang baik masih mahal dan masih tidak bisa dinikmati kalangan umat Islam pada umumnya. Inilah PR kita dan menjadi PR bersama bagaimana bisa menghadirkan pendidikan yang terjangkau untuk ummat tapi berkualitas, minimal terlebih pendidikan yang terbaik untuk keluarga kita dari kita dengan niat, waktu dan metode yang terbaik.
(Izz@m 020908 kost onan said)

Friday, August 01, 2008

Bekasi + Condet + JakPus + Depok = Bujur sangkar


Ada apa dengan ke empat nama wilayah ini? Bagi ku ke empat wilayah ini memiliki arti tersendiri, tempat membagi rasa, berbagi spiritual, memadu komitmen, tempat ujian antara membagi amanah dan mengkalkulasi tadribat ketangguhan meloncat serta melaju pada waktu yang sangat terbatas. Harus tetap bujur sangkar!! Sebab ke empat titik wilayah ini adalah keempat titik bujur sangkar itu, menjaganya agar berjarak tak saling mendekati dan tidak saling terlalu jauh menjauhi adalah seni tersendiri. Ada cinta dan kasih sayang di Bekasi, ada harapan mulia dan tugas suci untuk Condet, banyak amal khusus meruah di Jakarta Pusat dan kushyuk mendalamnya pembinaan di Depok. Keletihan tetap menjadi pilihan hidup untuk menjaganya agar tetap bujur sangkar, kelemahan adalah anugrah terbesar manusia, sedangkan keberhasilan hanya efek samping dari keridhoan yang dicita – citakan menjalani ini. Kemenangan tiap minggunya mengelola ini menjadi bukan kemenangan ku, melainkan kemenangan dalam kekuasaan-Nya, semoga seperti harapan ustad Sayyid quthb dalam tafsirnya yang mengartikan tentang esensi kemenangan rosulullah di Madinah dan setelahnya ” ..perkara ini berada diluar program orang mu’min, diluar penantian dan ambisinya. Kemenangan sendiri datang, karena kehendak Allah menentukkan agar manhaj ini memilliki realitas dalam kehidupan ummat manusia, yang memperkuat secara nyata dan terbatas dan bisa disaksikan oleh semua generasi. Kemenangan itu bukan sebagai balasan atas jerih payah, pengorbanan dan penderitaan. Kemenangan itu hanyalah merupakan salah satu ketentuan Allah yang menyimpan suatu hikmah yang bisa kita upayakan untuk melihatnya sekarang”. Benarlah, harus tetap bujur sangkar yang berarti sebuah upaya kemenangan, kemenangan yang harus diupayakan dari menikmati letihnya menjaga keseimbangan amal dan keridhoan-Nya.Nanti!! profesi apakah kau masih bujur sangkar akhi?(Izz@m, Juli 2008; Depok).

Monday, June 09, 2008

BATUK

Sudah hampir beberapa bulan dialah sahabat terbaik yang kerap menemani kemanapun dan kapanpun ku berada, saat shalat, tilawah, konsultasi ke pembimbing skripsi, ‘ngisi’ dikampus bahkan di tempat kajian Fahmul qur’an minggu lalu tetap setia menemani. Cukup mengganggu memang, tapi di sisi lain kadang juga cukup menguntungkan J, dentuman batuk yang frekuensi tak menentu sepertinya membawa angin segar untuk tidak kebagian ditunjuk random mereview hapalan kosa kata qur’an dikajian kala itu…rugi or untung ya(?), tak memaksalah! Keuntungan lain jadi malas untuk banyak bicara, sebab antara energi bicara dan energi batuk yang menjadi jeda – jeda kalimat lebih besar energi batuknya….ya kali ini jadi lebih sungguh benar – benar terperangkaplah oleh wasiat amirul mukminin “berkata benar atau diam”, tak ada pilihan lain!

Batuk….ya dialah apresiasi reaktifitas kenormalan fisik (fitrah) kita, mencoba memental dan mengeluarkan apa yang menjadi tidak inheren untuk kemungkinan berdampak tak baik ke dalam tubuh. Kata ukhti Ditha selaku dokter spesialis Baksos untuk DPra kami, beliau juga teman satu SMU dengan ku, dari penjelasannya kemungkinan aku terkena batuk alergi ”tak perlu khawtir akh, cukup hindari pencetusnya” fasih kalimat dari keahlian bidang keprofesiannya.

Bersyukurlah dengan batuk, karena dari batuk akan lahirlah banyak ‘ibrah’ serupa lainnya. ‘ibrah yang menurut kajian bahasa berasal dari kata ‘abarah yang artinya melewati atau menyebrangi, jadi seakan – akan batuk menjadi jembatan ku yang menghantarkan pada satu (maqam) pemahaman tertentu untuk mencapai (maqam) pemahaman yang lain (af1, obssesi tafsir!).Alhamdulillah…reaksi batuk ini masih mengindikasikan kalau ternyata aku masih ‘sehat’, masih mampu mementalkan residu – residu kehidupan dan mengeluarkan polusi jiwa dari segenap kecepatan refleksi kenormalan yang ada, maka tak salah jualah jika pesan rosulullah tentang sehat atau indiktornya suatu keimanan disamakan dengan hadist ini

“jika telah menggembirakanmu kebaikanmu dan telah menyusahkanmu keburukanmu pertanda engku orang yang beriman” (HR.Imam Ahmad dari Abu Umamah)

Cukup sederhana dan bermakna memang rosulullah membuat kalimat yang terlontar dari lisan ma’sum-nya, yang mampu diterima dengan ‘tingkatan telinga’ manapun. Bermakna seperti reaksi batuk, seharusnya tiap – tiap asupan fenomenal kehidupan yang kita lalui mudah kita maknai dengan prinsip batuk dan hadist tadi, jika sudah tidak sesuai dengan hati yang jernih, ketika merasa hati tidak nyaman akan sesuatu hal, atau bahkan ketika kekeruhan niat mulai melanda rusaknya keikhlasan, seharusnya segera reflekan aksi ‘batuk’ dengan ekspresi lisan ‘TIDAK’ atau minimal ‘batuklah’ hati kita dengan menolak keyakinan itu.Beruntunglah bagi yang ‘batuk alergi’ dosa, maksudnya merekalah yang berusaha dengan sungguh – sungguh meminimalkan dosa ditiap aktifitas yang dilakukan tiap harinya. Terapinya hampir sama seperti kata Bu dokter tadi, cukuplah hindari pencentusnya!, jawaban yang sama ketika Abu Umamah bertanya kembali kepada rosulullah tentang dosa “ya rosulullah apakah dosa itu?”, rosulullah menjawab “Jika sesuatu yang menggoncangkan jiwamu, tinggalkanlah!”.Jadi apakah kita sudah batuk hari ini?

*Tulisan ini didedikasikan untuk adik – adik kelasku penikmat forum pekanan, keep Istiqomah akhi!(Izz@m 07062008; onan said kost ).

Monday, April 28, 2008

TUMPUAN HARAPAN (Kapan Nikaaah?)

Beberapa hari ini sebuah keadaan yang membuat ku agak tersenyum sejenak, malam di bangku pelataran depan kost sambil memandang cakrawala langit yang terhias bintang, ingin sekali berfikir tentang bintang yang kapan akan berani ku tunjuk salah satunya, sebagai penerang jalan dan penerang jiwa. Semua sinarnya hampir menunjukkan kekuatan cahaya yang sama, semuanya pun memberikan cahaya keindahan untuk permata pandangan ‘laillan’.

Mengingatkan ku pada kejadian yang sangat tidak biasanya, evaluasi mengkalkulasi kejadian yang sama tidak biasanya berulang dalam jumlah melebihi batas yang seharusnya, dalam waktu yang bersamaan juga. Entahlah, jika makna tafsir pada suatu ayat yang diulang dalam Al qur’an biasanya berupa penegasan, teguran tentang kapasitas nilai urgensi atau Allah sedang mereview kejadian agar mengingatkan bahwa adanya korelasi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Minggu ini menjadi sebuah rangkaian renungan dikala telinga mendapatkan ‘teguran’ berturut – turut, terlebih teguran itu datang dari orang – orang yang memang secara spontan kita kenal baik masuk dalam mihwar ukhuwah hingga orang yang kurang mengenal dengan baik siapa dan bagaimana keadaan kita sebenarnya.

“ini…, dari anak saya ” ujarnya sambil menatapku dengan senyum khas saat telepon yang diterimanya selesai ditutup, menyita waktu ku saat bimbingan skripsi dan praktek langsung dikomputernya tentang aplikasi statistik (Matlab: ANN ‘Artificial Neural Network’) yang akan ku pakai untuk mengolah data ouput. Ia pembimbing ku pada skripsi kali dan hari itu adalah bimbingan yang ke-3. Diruangannya memang terlihat beberapa foto kedua anak dan istrinya, anak perempuan dan istrinya berjilbab. Aku baru tahu itu…

“kamu sudah menikah?” tanyanya tanpa basa-basi masih dengan senyum, entah apa menurut ku yang ada dibenaknya hingga sekelas dosen seperti ia mau mengeluarkan potongan hati untuk masalah pribadi seperti ini hingga fibrasi pita suaranya membuat frekuensi untuk kalimat itu, sebab yang ku tahu dosen – dosen UI sangat intropet sekali membicarakan masalah pribadi pada mahasiswanya, apalagi untuk anak program ekstensi. Pastinya apa yang ditanya kali ini adalah mungkin bagian dari interpretasinya selama bimbingan yang cukup menggambarkan prediksi tentang siapa aku, walaupun kita sebelumnya dan sekarang masih masuk pada ‘zona hitam’ pada wilayah saling ketidak kenalan dan tidak pernah membahas hal itu.

“belum pak” agak malu dan rona wajah ku yang gugup, sulitnya mengubah eksprsi tingkat keseriusan menjadi kondisi ekspresi lain dalam situasi pertanyaan seperti ini pada orang yang kurang kita kenal tapi kita hormati. “kapan?”tanyanya kembali dengan riang, berharap mengubah suasana. Aku sempat terdiam, dan tidak menyangka pertanyaan sampai sedalam ini “inginnya sih segera pak!”,ku iringi dengan memaksa tersenyum, aku berharap jawaban ini menjadi jawaban standar syar’I yang juga ingin mengubah tingkat keseriusan pertanyaan penanya. “ya, jika ingin dicarikan, saya bisa mencarikan..” ucapan itu membuat ekspresinya lebih riang dari sebelumnya, aku yang malah semakin bingung dan terdiam, sebab ini bukan masalah biasa jika dihadapkan pada pertanyaan lanjutannya….

Bukan hanya kejadian ini saja, banyak kejadian lain yang cukup mengejutkan untuk minggu – minggu ini, selepas ba’da kejadian itu. Malam setelah malamnya, seorang ikhwah mabit dirumah karena kemalaman ba’da rapat forum kebaikan kami yang kebetulan dilaksanakan malam di Bekasi. Kasusnya mirip – mirip, yaitu ‘menawarkan’ tapi hal ini lebih dramatis. Angin kestiqohan apalagi hingga penawaran itu ditujukan kepadaku. Sekilas ia menceritakan kenapa akhwat ini ingin segera di nikahkan, keluarganya tertimpa musibah kebakaran dikarenakan kompor gas dirumahnya bocor. Kerugian materi yang tak terelakan, rumahnya hangus begitupun beberapa rumah tetangganya yang terimbas percikkan menuntut ganti rugi, yang lebih mengenaskan beberapa keluarganya dirawat dirumah sakit dan ayahnya sedang sekarat, luka bakar hebat yang ditambah dengan komplikasi penyakit diabetes yang dideritanya,sekarang sedang dilakukan perawatan yang intensif. Bukan kisah dongeng melainkan kejadian nyata. Menikah untuk sebuah performan kekuatan mental, spiritual dan material yang baru, menopangnya dalam koridor keikhlasan da’wah adalah bagian dari konsekuensi berjama’ah. “gimana akhi, pendapat antum?” Aku hanya tertunduk diam yang cukup membahasakan tubuh tentang keadaan ku kini….

Lain dua kejadian ini, tentang akhwat yang meminta alamat email ku dan beberapa waktu setelahnya di inbox ku pun penuh dengan pertanyaan penawaran dan kesiapan. Via SMS bahkan terjadi, dan kuanggap hal ini yang sangat tidak ahsan. “afwan akh, ana punya pertanyaan ke antum, “Apakah antum siap nikah?kriteria?bagaimana pendapat antum tentang nikah beda fikrah?” jika bukan karena kredibilitas akhwat tersebut yang menanyakan, tidak akan pernah ku jawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang cukup sensitive sekali bagiku, terlebih jika seorang akhwat belum menikah yang menanyakan, via SMS pula!. Ternyata usut punya usut akhirnya berbuah bayyan (penjelasan) dan pengakuan. Akhwat tersebut mempunyai teman yang dahulu pernah Tarbiyah tetapi karena problematika keterpakasan keadaan harus berpindah pada fikrah lain (hatinya masih Tarbiyah),momentum maksud menanyakan maksudnya kali ini disebabkan akhwat ini berkeinginan menikah. Mungkin sebagai sahabat terbaiknya, ingin sekali menariknya untuk kembali dengan mencarikan ikhwan untuk pasangan hidupnya.”Kenapa harus aku?” kembali pertanyaan yang sempat terlontar pada wilayah penasaran ku. Beliau hanya menjelaskan bahwa kekuatan magnet dan mental da’wah ku (katanya) sanggup mampu menarik itu, mungkin karena beliau memang kenal sekali dengan ku dan aktifitas da’wah ku. Padahal aku sendiri pun tak yakin dan tak mampu menjamin dari apa yang dipersepsikannya selama ini,toh…tiap manusia selalu dipermanenkan dengan fluktuasi keimanan dan fluktuasi semangat.Aku hanya bilang, masih ada proritas utama dalam hal ini, kasihan akhwat – akhwat dalam internal jam’ah kita sendiri jika mereka harus menanggung dua beban yang berat sekaligus, menanggung beban da’wah ini mengurus kaumnya yang semakin berat dari hari kehari juga harus memikirkan menanggung beban melawan umur dengan jumlah yang sangat timpang antara kuantitas akhwat dan ikhwan. Tega dan adilkah kita?

Aku sangat setuju sekali dengan pendapat akh Harry dari perbincangan dan diskusi kecil ku beberapa waktu dalam hal ini. Kasus ‘penawaran’ yang tidak juga salah,sah- sah saja untuk matrix persilangan antara kepentingan dan kebutuhan menjadi tarikan tersendiri dengan fenomena da’wah yang tidak sebanding antara kuantitas ikhwan-akhwat. Tetapi tetap seharusnya Tarbiyah itu tertib, rapih dan sistematis.Dalam Tarbiyah semua punya mekanisme, semua diatur untuk menjadi teratur, inilah fungsi sunnah yang ditebarkan dalam alam semesta untuk dibenamkan ke bumi, agar semuanya teratur pada garis edarnya, pada maksud tujuannya. Semua punya hak menawarkan pada keikhlasan kepentingannya dengan pola kesyar’ian, tapi sudahkah pada bagian yang mampu lebih mendewasakan da’wah tingkat kecerdasan fikiran kita untuk membuat prioritas – prioritas dalam masalah ini, seperti: apakah sudah terlebih dahulu mengkoordinasikan kepada jama’ah (MR) sebagai prioritas utama?selanjutnya, jika murobbi tidak menyanggupi, apakah sudah bertanya kepada teman halaqoh selaku bagian dari usrah yang paling bisa dipertanggung jawabkan ketsiqohannya?Ternyata, jika tidak ada jawaban juga, apakah keluarga sudah dimintakan porsinya untuk hal ini, sebagai orang yang mengenal kita sangat dekat bagaimana dan siapa kita sebenarnya, misalnya adik atau kakak kita yang juga Tarbiyah?barulah jika urutan element ini sudah terlewatkan, bagian lain boleh bicara untuk menawarkan. Da’wah yang sudah cukup membesarkan kita seharusnya cukup punya hak untuk masalah ini, tapi tidak juga menghilangkan nilai fleksibilitas dan pengekangan kejiwaan manusia tentang kebutuhan ‘selera’ pribadi, keluarga dan da’wah itu sendiri. Keproporsionalan penggabungan visi dan selera yang akan mampu menumbuhkan keharmonisan kelanggengan da’wah itu juga nantinya.

Apakah hikmah selanjutnya, menurut ku, siapa pun kita menjadi sebuah normalitas umum jika dihadapkan pada jumlah banyak pertanyaan ‘kapan’ selalu akan terkorelasi berturut – turut dengan focus waktu, focus kesiapan, dan focus menjadi tumpuan harapan. Sebagai contoh konkret sama hal nya saat orang tua kita bertanya “kapan lulusnya Nak?” atau “Kapan selesai skripsinya?”. Saat hal itu menghantui, pastikan kita sadar dan mempersiapkan dengan serius jangan sampai banyak orang menunggu terlalu lama, menunggu terlalu bosan hingga permasalahan yang sebenarnya bisa diselesaikan malah timbul masalah baru; masalah waktu yang mencekik karena telat dan lama loadingnya dan masalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Maka doakanlah untuk siapa pun yang sedang berlomba berjuang melawan waktu, agar kecepatan, keberkahan dan ikhtiarnya mampu melewati waktu yang ada tersedia…….Al waqtu minal ilaj.Wallahua’alam

.(Izzatulgumam;280408, Bekasi;my room)

Monday, April 14, 2008

ATAS SEBUAH NAMA

Mengenang kembali kisah berharga saat mengazzamkan diri untuk menjadi calon penulis sangat amatir (ternyata sekarang juga masih…he3x). Semua teman – teman redaksi majalah kampus DIII dulu mulai dari masa bulletin ‘Kurma’ hingga akhirnya menjelma menjadi majalah kampus ‘Khalifa’ memiliki nama pena tersendiri, entah ada apa motif dibalik nama pena samaran ini semua. Bagi ku pada awal menulis dulu, nama pena itu hanya sebuah ketakutan dari rasa malu yang terus menghantui karena skiil yang tidak memadai hanya bermodal semangat saja dalam menulis, dengan harapan saat tulisan dipublish minimal orang yang membaca secara tak langsung tak mudah menebak bahwa yang menulis itu adalah seorang agung adalah Izzatulgumam.Tetapi sekarang…., semoga banyak menuju perbaikan yang kontineu.

“Izzatul”, ada apa dibalik makna kata ini, mungkin saat kita disodorkan nama izzatul, maka banyak dari kita akan melanjutkan dan mensisipi kata lanjutan “Islam” atau “Jannah” yang banyak juga orang sudah mengenal menjadi sebuah icon tersendiri. Izzatul Islam sebuah nasyid haroki ternama yang anggotanya berasal dari kampus UI dan Izzatul Jannah seorang penulis FLP yang cukup produktif dalam menulis. Memang akupun juga terinspirasi dari icon – icon itu. Sebab makna bagiku menulis itu harus menjadi seni tersendiri yang mampu ‘mengalun’ dan membawa emosi pembaca saat membaca tulisan ku kelak, semirip seseeorang sedang mendengarkan lagu nasyid, menulis yang harus mudah dicerna, dihapal ‘alunan’ katan- katanya juga mudah diambil benang merah dalam tiap hikmah penulisannya. Semoga, dengan mengingat terus makna ini bagi seorang Izzatulgumam akan terus mampu untuk berazzam berlatih membina penulis dan tulisannya sendiri serta yang lebih penting adalah membina jiwa pembacanya.

Lain hal dari kutipan nama “Gumam”, ini sebenarnya terinspirasi dari sebuah buku sederhana berjudul “Segenggam Gumam” karya mba Helvi TR yang berisi kumpulan esai – esai beliau, buku itu menggugah diriku untuk mencoba lebih serius dalam menulis, sebab di buku itu banyak dipaparkan oleh basyirah dan kepeduliannya yang tinggi tentang sastra, penulisan dan segala problematikannya. Kritisi beliau terhadap dunia buku dan penerbitan buku Islam, kritisi beliau terhadap kelemahan penulis pemula, dan pelurusan beliau tentang sastra Islam. Nama “Gumam”, ketika orang banyak mulai mengenal, semoga hal ini bisa mengingatkan ku akan banyak harapan – harapan beliau untuk bisa dilanjutkan perjuangannya. Alangkah baiknya teman – teman juga menyempatkan waktu untuk membacanya, sebab buku itu cukup merangkum idea gagasan cemerlang da’wah dalam konteks da’wah profesionalnya seorang penulis.

Tetapi tetap, apalah arti sebuah nama tanpa sebuah amal yang konkret dan kerja yang istiqomah, jadi siapapun antum dan apapun label nama antum tetaplah kebaikan nama – nama itu harus mengikuti kebaikan amal – amalnya kelak, sebab kematian itu mutlak maka menulislah lebih cepat dan berkaryalah lebih semangat.

(Izzatulgumam; Onan Said Kost, 120408).

Thursday, March 27, 2008

HANYA UNTUK UMAT

Pagi itu aku harus memimpin sebuah agenda rapat “kebaikan” rutin bulanan di Jakarta pusat dirumah seorang mas’ulah forum kebaikan kami. Kesediaannya dan keikhlasan yang tak diragukan dalam merajut peradaban. Alangkah penuh berkahnya sebuah rumah menjadi pusat aktifitas kebaikan, wadah yang mampu menampung sejuknya ukhuwah dari pertemuan jasad, menyatukan indahya idea menuju kumulasi fikiran, dan mengimbaskan gelora ruh dari energi kebaikan yang ada. Rumah yang bukan sekedar fungsional tempat mengenyangkan perut dan merileksasikan jasad, yang kadang melupakan nilai social (kebaikan) dan ruhiyah (ibadah). Kering kerontang, panas dan hampa jika itu yang menjadi nilai orientasi material. Tidak mewah, tidak juga besar tapi kesederhanaan dan kebarokahaan dalam da’wah yang menyertai membuatnya lebih mewah dan besar di mata kami dan dimata-Nya. Kesediaan dari sisa ruangan teras kecil yang ada oleh kesediaan ruang jiwa besar yang tersedia dipemiliknya, sehingga ruang besar jiwa merekalah yang membuat ruang kenyamanan ruh bagi yang berkunjung. Rumah umat begitulah aku menyebutnya, hampir anggota rapat yang hadir menginginkan dan bercita – cita menjadikan rumahnya rumah umat, tak terkecuali aku. Bahkan diantara kita saling berlomba promosi (kelebihan-kekurangan) ke forum agar rumahnya dijadikan tempat selanjutnya untuk agenda ini atau pada momen tertentu..”Fastabiqhul khairat…” hingga sedemikianlah terbentuk atsmosfernya. Hal ini jugalah cukup menggali pemahaman ku tentang makna tafsir surat Al mu’minum yang sedang ku cicil baca, di pembahasan kelompok I ayat 1 – 11. Sepenggal tafsir itu menterjemahkan hakikat ciri khas orang mu’min dan kepastian (qod) keberuntungannya (aflaha;al-falh:membelah tanah lalu menanam benih ), yang menjadi kesimpulan dari 11 ayat tersebut renungku (dibahas juga dalam tafsir tersebut), bahwa diperlukan keseimbangan ruhiyah dan akhlak bagi pelakunya dimana seorang mu’min itu harus mampu proporsional dan komitmen dalam hal “mempertahankan” segala perintah saat menjalankannya seperti memelihara shalat dan mempertahankan khusyuknya jiwa, tetapi di lain itu juga seorang mu’min harus mampu taat dalam tidak “mempertahankan” diri untuk mengeluarkan; misalkan menunaikan amanat – amanat untuk segera ditunaikan dan juga dalam hal membelanjakan harta dijalan Allah, seminimal mungkin menghilangkan barier untuk action dari keikhlasan niat sehingga mampu menerobos berbuah akhlak permanent bagi pemiliknya. So, simple nya seorang mu’min harus punya kemampuan, kebiasaan, kecerdasan, seni dan kapasitas skiil dalam hal keadaan “mempertahankan (bertahan;sabar)” tersebut.

Membiasakan diri

Seperti kisah berharga yang mampu bercerita orientasi kehidupan untuk perbaikan umat yang perlu patut dicontoh. “ummati, ummati, ummati..” begitulah sepenggal drama kolosal sangat indah kematian Rosulullah sebelum malaikat menjemput ruh suci-nya yang semakin sulit ditemui dijaman ini. Tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan, sebab keadaan itupun perlu belajar dan pembiasaan sejak dini. Tak perlu menunggu menjelang ajal hampir tiba, jika tak mampu maka cukup hadirkan atsmosfer nuansa itu saat keadaan sadar dengan menjawab tantangannya pun secara sadar dan sejarah menyeru kebaikan itupun sudah mulai terbiasa terpahat.

“Akh gumam, ana bersedia kok kalau rumah ana dijadikan tempat rapat rutin “kebaikan” untuk sekarang dan selanjutnya!” seru mas’ulah forum itu untuk kesediaan rumahnya dan beberapa anggotapun mengajukan yang sama.


"Bang gumam, ana siap mengantar dan menjemput antum untuk mengisi materi di puncak ahad besok habis ana pulang kerja shift malam, gimana?” sergah anggota ikhwan I, sebagai ungkapan komitmen waktu dan kendaraannya untuk ummat, sebab beliaupun mengklaim bahwa motor nya milik kampus dan milik ummat. Hingga tak kuasa untuk mengganti motornya dengan yang lain karena syarat dengan sejarah da’wah.


“Akh gumam, karena sulitnya waktu ana untuk berkontribusi secara kontineu dalam da’wah ini. Alangkah baiknya ana juga dihubungi untuk agenda insidensial agar ana juga mampu memberikan apa yang ana bisa bantu, pendanaan misalnya” begitulah ekspresi kejelasan dari komitmen yang terus melekat dari beberapa alumni kampus kami.

Ya, kata dan ekspresi yang mengungkapkan rahasia hati pemiliknya semoga menjadi kebiasaan yang melekat pada diri dan kehidupan memperbaiki diri dan orang lain.

BERTAHAN BIASA

Awalnya aku biasa mencoba….
Biasa mencoba ikhlas di awal permulaan amal
Biasa mencoba berazzam di tiap keraguan
Biasa mencoba komitmen di tiap aral splitisasi amal
Biasa mencoba berkorban di tiap pelik godaan imbalan
Biasa mencoba istoqomah di tiap ujian melanda
Biasa mencoba tawakal di tiap kelemahan qonaah harapan
Akhirnya aku pun terbiasa……
Itulah aku yang cukup menggambarkan siapa aku
Cukuplah hidup itu dengan mencoba biasa
Menjadi terbiasa setelah mempertahankan biasa mencoba
Terbiasa mencoba untuk menjadi luar biasa.
Tapi tidaklah untuk menjadi manusia biasa.

(Izzatulgumam, Depok; Onan said kost, Milad Rosul; 270308)

Sunday, March 23, 2008

ITULAH AKU.

Itulah aku, jika menghapal sebuah ayat – ayat Al qur’an memakan waktu cukup lama. Banyak tahap tuntutan dari sebuah idealis “Al fahmu” yang selama ini menghujam oleh berbagai keterasahaan pengalaman pahit – asinnya sekedar formalitas menghapal melahirkan sekedar menghilangkan. Yah, itulah aku. Banyak komentar tentang ku, katanya aku cukup lambat dalam menghapal, tapi kelambatan tidak sekedar keterlambatan tanpa alasan. Perlu banyak pemahaman dari tiga referensi tafsir terlebih dahulu, membacanya dengan tuntas satu surah untuk pemahaman tiga kitab tafsir, meresapi dengan merenungi dan membaca minimal tiga kali berulang barulah ku mulai menghapal surah itu. Referensi tafsir mampu menggambarkan pemahaman yang menyeluruh, menggerakkan hampir seluruh otot otak ku untuk terpacu, “berolahraga”, tergerak dan melekatkan. Daya visualisasi otak ku yang membutuhkan tiga referensi tafsir tersebut: 1) tafsir Ibnu Katsir 2) Tafsir Al Mishbah karya M. Quraish shihab dan terakhir tafsir Fi-zhilalil qur’an karya Sayyid Qutb. Ketiga tafsir ini saling menyempurkan dan melengkapi menurut sedikit pemahamanku tentang ketiga kitab ini yang hingga sekarang masih cicil ku baca. Tafsir Ibnu katsir saat ku baca mampu menggambarkan tingkat ta’shil (orisinilitas) dan universalitas (bukan berarti tafsir yang lain tidak) yang tinggi dengan banyaknya kutipan dari para mufassir lainnya ketika membahas suatu masalah, selain itu penulisannya cukup singkat dan sederhana, aku menyebutnya sangat “bahasa kontekstual” oleh sebab itu tafsir inilah yang menjadi referensi standar. Lain hal dengan kajian tafsir Fi zhilalil qur’an yang kental dengan bahasa sastra dan bahasa da’wah, jika ku membacanya seakan fikiranku turut “bergerak-berfikir”, bahasanya sangat halus mampu menggerakkan hati yang perlu perenungan mendalam, setiap ku membacanya hampir memerlukan konsentrasi lebih tinggi dari dua tafsir yang lain. Istimewanya tafsir ini diawal halaman (mukadimah) pembahasan tafsir, biasanya ustad Sayyid qutb sudah memberikan kesimpulan singkat yang padat sehingga pemahaman ku dalam satu surah yang dibahas sudah mampu menyeluruh tentang kesan dan pesan tafsir surat tersebut diawal, dan selebih lanjutnya penjelasan ayat-ayat seakan kita disuruh diajak “menikmati hidangan” dan “merenungi” tafsiran berupa sinergis kekuatan bahasa sastra dan bahasa logic da’wah. Tafsir Al mishbah menurut ku juga sangat menarik, saat membacanya seakan ustad M Quraish shihab sedang bercerita tepat di depan ku, sebab bahasanya sangat komunikatif, mudah dipahami, sederhana dan syarat makna tentang tingkatan makna bahasa arab, hal inilah yang paling ku suka sebab menambah pemahaman vocabulary bahasa arab ku. Lainnya tafsir ini mampu menceritakan bayak siroh dan menjelaskan sebab dan akibat suatu munculnya hukum-kejadian, sehingga pemahaman logika kita tidak akan mampu menentang dalam sebuah penerimaan suatu kalimat ayat qur’an. Ketiga tafsir yang saling melengkapi satu sama lainnya.Yah, itulah kesukaan ku tentang sebuah makna, mempelajari mengenai apapun tentang makna. Oleh sebab itu aku sangat menyukai memahami tafsir qur’an sebelum menghapal ayat qur’an itu terlebih dahulu…

Betul, Agak lama sebab aku harus memasuki tahap selanjutnya, yaitu mendengar dan menghapal. Hal ini dilakukan secara berbarengan. Mendengarkan syeikh Al hafizd mengaji dengan Mp3 player or laptopku, disinilah ku tahu bagaimana mereka menerapkan bacaan yang baik tajwid berikut penghayatannnya dan penghormatannnya terhadap Al qur’an, disinilah terlihat sekali kekusyuk-an seorang Al hafidz dibarengi pemahamannya tentang Al qur’an, oleh sebab itu aku sangat suka sekali mengkoleksi CD murottal dari berbagai syeikh Al hafizd terkenal. Setiap syeikh memiliki masing – masing ciri khas pembawaan bacaan dan “logat”nya begitulah ingat ku kata bang Mustafa yang kamarnya bersebelahan dengan kamar basecamp “genk” ku;Asrama UI salemba, seorang Qori yang juga seluruh anggotan keluarganya Qori, beliau saat itu sedang mengerjakan tesis strata-2 nya. Mulai dari yang sendu syeikh M. Ali Al - huzdaifi (“musik” malamku) sampai yang cepat syeikh Sudais, atau kekhasan lantunan Al Mathrub yang cukup memiliki logat “berwibawa”. Lain khasnya penghayatan syeikh Hani Abd. Rahim Ar-Rifa’i yang hampir mirip-mirip dengan syeihk M. Rosyid dan banyak lainnya. Lantunan dalam rekaman mp3 sudah cukup menghentakkan hati apalagi jika dihadapkan langsung dengan syeikh tersebut. Ingin sekali bertemu dengan beliau – beliau semua (semoga Allah memberikan kesempatan itu), mungkin sama halnya ketika seorang pecinta (fans) penyanyi ingin bertemu dengan penyanyinya secara “live”. Mendengar, kemudian menghapal dengar (listening) sebab takut sekali terjadi kesalahan sekaligus mengkoreksinya langsung melihat qur’an. Keadaan ini, seperti menghapal sebuah lagu saja, bahkan Al qur’an itu lebih mudah dihapalin dari pada lagu – lagu “dunia” menurutku. Anehnya lagi aku tuh termasuk orang yang cukup cepat jenuh jika mendengarkan lagu/musik “jahiliyah” entah kenapa tetapi jika murotal pasti mampu bertahan lama. Metode inilah yang paling ku senangi, sebab aku termasuk pembelajar audio, tiap nada mampu terdeteksi dan mampu terkunci dalam hati, tinggal kapan memuntahkannya kembali.

Referansi terakhir ku adalah biasanya mencoba mengajarkan kembali dan menjalankannya (da’wah) kepada mad’u kita dan kepada siapapun yang meminta atau menggunakan kejadiaan sehari-hari dengan bahasa al qur’an, inilah kunci akhir seberapa kekuatan hapalan kita mampu terpelihara. Selain itu terkadang perlu juga mencari referensi lain tentang kejadian surat yang aku hapalkan baik itu sebuah sirah, hadist atau sebuah buku pedoman amaliayah lainnya, misalkan jika sedang menghapal surah Al anfal yang bercerita tentang perang badar maka referensi standar sirah nabawiyah bab perang badar dan buku manhaj haraki lahap harus ku baca. Sehingga tak hanya sekedar menghapal, tapi menghapal dan mampu menghujam menjadi sebuah satu kesatuan tentang kesempurnaan Al qur’a itu sendiri. Itulah sebab yang membedakan kita dengan generasi awal Islam, jika dahulu generasi awalan nilai ruh menerima Al qur’an itu sendiri dengan adanya atau turunnya al qur’an dianggap sebagai sebuah perintah dari seorang “Komandan” yang wajib harus dilaksanakan, sedang kita sekarang menerima Al qur’an banyak hanya sebatas mempelajari dan banyak yang gagal pada tahap menjalankan sebagai sebuah perintah. Aku dan tiada hari untuk tetap berusaha belajar komitmen mempelajari Al qur’an. Aku dan rencana hafidz konvensional ku yang sampai kapankah akan tercapai. Aku dan optimis hiburku, bukankah Umar bin khatab baru mampu merampungkan hapalan qur’an setelah diakhir- akhir hayatnya. Pemahaman, nilai amal dan hapalan yang berinergis didalamnya yang mampu tercatat dalam sejarah sebagai generasi terbaik, bisakah aku? (Izzatulgumam; Bekasi, 230308)

Monday, March 10, 2008

MENAPAKI IKHLASNYA IKHLAS

Sulitnya meminta ikhlas dari apa yang orang lain lakukan untuk kita. Musykil meminta ikhlas jika yang dipinta tidak memiliki dan memahami ikhlas itu sendiri. Mustahil, jika tidak memiliki bagaimana bisa memberi. Seharusnya juga tanpa jasa. Aku dengan tekanan kedalaman laut terdalam menggapai kerang mutiara. Aku dan rambu-rambu banyak perasaan orang lain yang coba menerka seikhlas apakah kerang itu akan membuka memberikannya mutiara. Seikhlas awalan dan kesempurnaan akhirnya dalam penerimaannya. Jika ikhlas maka tak kenal kata siapa yang salah, siapa yang harta dan siapa yang unggul,sebab ikhlas adalah penerimaan hati. Inilah ilmu pelajaran kurikulum lama yang baru tersinggung, semoga siapapun tak tersinggung dibuatnya. Biarkan aku dengan diamnya diam, semoga masa statis ini krikil yang berubah menjadi mutiara yang jika masa panennya tiba nelayanpun semua bergembira dengan ikhlasnya pula.Biarkan aku dengan resiko ikhlasku, sebab aku harus menjadi pahlawan bagi semuanya, tidak untukku sendiri atau untukmu saja. Prioritas mengambil lebih banyak manfaat adalah makna sebenarnya kata pahlawan.Benarlah untaian kata cobaan ikhlas ini buat pahlawan “ketika orang merampas kamu membagi itulah peliknya. Ketika orang mengadu kamu bertanggung jawab itulah repotnya”, maka biarkanlah aku dengan resiko ikhlasku, resiko ketika orang tak memberi dengan ikhlas maka keutamaan azzamnya adalah untuk tak mengambilnya, apapun keadaannya nanti. Janganlah coba-coba mengambilnya sebab buih kan kau dapati, debu kan kau hampiri dan kesiaan kan kau lelahi. Ikhlas dan kebarokahan adalah dua mata air dalam sumber yang sama, jika salah satunya teracuni maka keduanya akan tercemar.Sekarang biarkan aku dengan tahfizku, tafsir qur’an ku dan da’wah sederhanaku yang akan menemani-memahami ku kelak sepanjang masa ini. Selama jarum jam masih berputar dan detik pun berdetak, selama itulah masih ada kesempatan; kesempatan apapun untuk beribadah kepadaNya. Yang telah digariskanNya lurus untukmu takkan pernah bengkok menghampirimu. Selama itulah menabung hikmah. Memohon maaf dan mampu memaafkan diri sendiri serta orang lain merupakan bentuk lain kesehatan dan kesempurnaan akal kita. Cukuplah ini menjadi tabungan berharga hikmah baru tahun ini dalam menjalani tarbiyah ilahiah.

(Izzatulgumam;my room 10/03/08: lail 01:30 WIB,Bekasi)

Monday, March 03, 2008

HADIAH DARI SEORANG AYAH


Apa yang menarik dari sebuah hadiah?yang ku tahu dari beberapa pemahaman keIslamanku selama ini, hadiah dapat menimbulkan rasa cinta bagi seorang yang memberi dan penerimanya, tetapi jika niatan itu memang tulus ikhlas dari sang pecinta. Modalnya dasarnya ketulusan dan selebihnya tidak akan menilai apa jenis dan berapa nilainya hadiah tersebut. Nilai yang non material mampu mengalahkan segalanya dalam hal ini, harga hadiah ungkapan non material mampu menutupi kekurangan nilai dan jenis apa yang dihadiahkan material. Seperti keadaanku bulan ini seorang ksatria keluarga :ayahku memberikan hadiah sebuah bangunan rumah mungil tepat berada disamping rumahnya, tetapi mungkin lebih cocok jika dibilang sebuah “pavilliun”. Sangat minimalis, penuh dengan cinta sebab warna cat yang menyelimutinya pun berwarna pink, akupun tersenyum terkulum saat pulang dari kost depok melihatnya. Menebak – nebak emosional cinta apa yang membuatnya menghadiahkan hal tersebut. Memang kebutuhanku untuk memiliki kamar sekaligus ruang kerja pernah kubesitkan kepadanya, sebab segala koleksi buku-buku dan arsip- arsip yang ada diruang kamarku sebelumnya tidak lagi mumpuni menampungnya, selain itu kebiasaanku “berkerja” dimalam hari dan melakukan kegiatan “ritual ruhiyah malam” cukup tidak ideal lagi dikamar itu yang sekarang dijadikan tempat ruangan shalat (musholla mini) rumahku, dan terkadang agak mengganggu ekosistem kondisi ruangan kamar lain adik- adik dan orang tuaku yang pola kebiasaannya berbeda denganku. Teman – teman kostku pun banyak bilang kalau aku memang lebih tepat dijuluki “manusia malam”, tapi tenang banyak produk- produk berharga dan istimewa umumnya dilahirkan pada kebiasaan malam itu, sekarang memang agak mengganggu untuk keadaan dikost yang satu kamar dihuni oleh tiga orang. Mungkin ayahku menangkap itu, anaknya membutuh sebuah ruang bebas berkarya dan melakukan “ritual ruhiyah malam” dengan tenang tanpa ada yang mengganggu sehingga bisa lebih khyusuk. Sungguh sebuah hadiah yang menimbulkan gelora gairah berkarya yang semakin besar dalam jiwaku. Terimakasih ayahku, sosok seorang ksatria keluarga, walaupun aku sebenarnya tidak pernah melihat berapa nilai dan jenisnya, yang kutangkap dalam basyirah ini hanyalah sebuah emosi cintanya seorang lelaki ksatria (ayahku) terhadap anaknya yang juga lelaki (calon) ksatria kelak, dengan rangkaian aplikatif dari kondisi pengalaman dan pemahamannya tentang sebuah cinta sederhana, tapi bagaimana dengan nilai momentum pemberian hadiah cinta itu didalamnya? Basyirahku tidak mampu menangkap terlalu dalam tentang itu, yang kutahu memberikan hadiah pada seorang dapat menimbulkan rasa cinta, itulah sebuah kebenarannya.

(Izzatulgumam 02/03/08 my room; Bekasi)