Wednesday, June 10, 2009

SOUVENIR SEDERHANA (7)


Nasihat adalah cinta………..
Siapa yang tak butuh nasehat, semua pasti butuh itu. Sebab itu adalah stabilitas dari sebuah hubungan social bahkan hubungan vertical bagi yang memaknainya. Tak mudah memang melakukannya, apalagi dalam kaidah hidup bersama, tapi juga tak begitu sulit untuk memulainya, oleh sebab itu dalam salah satu surah Al qur’an; Al ashar yang saya pernah pelajari tafsirnya meletakan iringan menasehati dengan kata – kata sifat lainnya yaitu: dengan kebenaran (hak), dengan kesabaran dan di surah ayat lain sering dinyatakan harus dengan iringan kasih sayang. Sifat – sifat itulah yang akhirnya dapat membuat siklus menasehati dapat hidup dan dapat berjalan baik dengan mekanisme seharusnya.

Jadi tulisan ini sebenarnya saya peruntukkan khusus untuk “seseorang” yang sedang selalu saya tunggu kesediaan akadnya, dan juga secara umum buat teman – teman lain jika saya ternyata sedang susah untuk ditausiyahkan, emosi tak terkendali, keras kepala, khilaf dan lain sebagainya. Agar teman nantinya coba bantu ingatkan saya pada sebuah tulisan sederhana ini yang pernah saya posting sebelumnya, dengan membacakannya, atau menge-printnya atau menulisnya ulang untuk diberikan kepada saya, atau mengirim melalui email atau juga berikanlah dalam bentuk “surat cinta”, jika hal itu memungkinkan…selebihnya adalah kesabaran saya untuk membaca sendiri.

Nasihat Adalah Cinta…….
Nasihat adalah cinta; lahir dari sinopsis rangkaian kata hati.
Nasihat adalah buah kepatuhan dari amal sebelumnya yang kemudian melesat keluar, ia bisa seperti mentari yang terus menyinari sehingga timbul hujan, yang dulu hujan kemudian timbul pelangi dengan pesan indah warnanya.
Nasihat adalah buah akhlaq tersendiri bagi pemiliknya.
Nasihat adalah esensi kehidupan, makna hidupnya yang kuat esensi karena memberi. Nasihat itu adalah dimensi gagasan yang mulia, luas dan mendalam.
Nasihat adalah pancaran kekuatan dari gejolak perubahan.
Nasihat itu adalah pertumbuhan, harus tumbuh dan abadi dibenak ummat.
Nasihat itu juga adalah selimut dan pakaian bagi saudaranya, melindungi jiwa dan raga.
Nasihat adalah indikator sehatnya iman dari jiwa yang menerangi dan cita – cita yang menyala.
Nasihat itu juga adalah puncaknya harapan bagi sang perindu harapan.
Nasihat itu adalah rambu – rambu perjalanan menuju tujuan, karena rangkaian nasihat adalah perjalanan panjang adalah istiqomah.
Nasihat adalah juga kehangatan ukhuwah yang mendalam, sedalam samudra. Nasihat adalah ruang refleksi tisqoh yang terang, saling menerangi karena saling memahami.
Dan sebab nasihat itu juga adalah simpul kebersamaan, kebersamaan untuk hidup di kehidupan akhir yang abadi adalah SYURGA.
Bersyukur dan beruntunglah yang mendapatkan nasihat. Sebab hari – hari tanpa nasihat adalah langkah kemunduran dan bagi da’wah adalah awal kematian.


Romantis bukan!!saya sarankan anda juga memberikan kutipan bait – bait ini pada orang yang anda sayangi saat anda merasakan keadaan yang sama. Sebab dengan saling menasehati semoga kita termasuk generasi yang memiliki level kesabaran yang lebih tinggi dari pada mengolah kesabaran untuk pribadi...Watawa sobrisobr... (Izz@m, 09082009; 23:14wib, Ingatkanlah selalu saudaramu!!)

SOUVENIR SEDERHANA (6)


Don’t be afraid : Baarakallahu laka.......
Keberanian sejati adalah lahir dari reaksi pertimbangan ketakutan - ketakutan yang sangat terukur, kemudian ukuran – ukuran tersebut memastikan bahwa apa yang akan dilakukan memberikan sebuah keyakinan harapan keuntungan besar, dan jika tidak dilakukan malah akan merugi besar pula. Keyakinan itulah yang kemudian menstimulus (memotivasi) para pemberani sejati untuk menyelesaikan kerja – kerja keberaniannya. Para penakut sejati selalu hadir dalam ketidakmampuannya menakar ketakutan – ketakutan yang dapat berefek pada dirinya, atau ia bahkan dapat mengukurnya, tetapi selalu gagal menghadirkannya menjadi keyakinan yang selanjutnya gagal pula dalam menstimulus kerja keberanian itu.

Seorang pemberani sejati sangat bisa memastikan itu dalam keyakinannya. Seorang pemberani sejati pun seorang yang sangat memahami ukuran – ukuran ketakutan itu, yang secara tidak langsung berarti ia sangat memahami dirinya, lingkungan, harapan dan masalah yang dihadapinya dengan baik. Oleh sebab itu ayat – ayat Al qur’an yang turun selalu diiringi secara seimbang antara bicara tema neraka dan syurga, hukuman dan hadiah, perumpamaan dan realitas, sejarah masa lalu, kekinian dan proyeksi masa depan, agar kita mampu mengukur fenomena ketakutan – ketakuatan (was – was) itu dalam kerangka syar’I menghadapi dunia fana ini. Maka tak salah jika generasi – generasi pemberani sejati, hanya hadir pada generasi pertama dalam didikan rosulullah, setelahnya adalah perbagian – perbagian keberanian sejati sisa saja.
Generasi pemberani sejati biasanya sangat memahami dustur-nya (Al qur’an). Kisah – kisah pemberani sejati juga banyak diabadikan di kitab itu pada porsi kemuliaannya. Diceritakan karakternya juga pada awal dan akhir kisah selalu saja ada sanjungan – sanjungan yang kadang berupa do’a atas keberanian monumentalnya. maka, indahnya manhaj ini dalam banyak kajian siroh Nabawiyah pun selalu mengiringi antara keberanian dengan do’a. Do’a yang bahkan bisa menstimulus keberanian, atau do’a itulah yang akan menyambut riang para pemberani sejati pada karnaval – karnaval permohonan berupa harapan ganjaran dari amal – amal keberanian itu.

Kisah itu dapat diwakilkan oleh sahabat rosulullah Sa’ad Bin Abi Waqqash yang bergelar “singa yang menyembunyikan kukunya”. Seorang ksatria pemanah berkuda terbaik, muslim pertama yang melepaskan anak panah dan yang pertama pula terkena anak panah pada medan perang uhud. Jika memanah pastilah ia tepat mengenai sasaran. Maka ketika Sa’ad ditanya tentang rahasia keberaniannya itu beliau menceritakan, bahwa rosulullah pernah mengajukan do’a kepada saya seperti ini : “Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah do’annya...! jadi, memang selalu ada do’a di manhaj ini dalam menstimulus untuk menciptakan sebuah kisah – karya keberanian abadi. Atau kisah lain penghormatan pemberani sejati dengan karnaval permohonan do’a yang diucapkan rosulullah ketika seorang pemberani sejati Hamzah Bin Abdul Mutholib yang memiliki gelar ”singa Allah dan panglima para syuhada” itu syahid dalam pertempurannya

”Melimpahlah atasmu Rahmat ar – Rahim
Akulah saksi bagimu di hadapan al – Hakim
Engkaulah pendekar penyambung silahturahmi
Berbuat kebaikan pembela yang di dhalimi..”


Don’t be afraid!!, Kita pun bisa mendapatkan iringan – iringan do’a atas keberanian sejati itu, walaupun bukan dalam kapasitas kesyahidan seperti para sahabat rosulullah. Tetapi beban keberanian ini hampir mirip dengan itu, walau tak serupa, pada sebuah amal keberanian tentang sebuah akad. Akad yang merupakan salah satu perjanjian besar (mitsaqon gholizo) dalam kehidupan manusia. Perjanjian besar yang tersimpan amanah besar pula pastinya. Memutuskannya untuk melaksanakan akad itu adalah keputusan para pemberani sejati, bukan untuk para penggombal sejati (awas,Gombal warning melanda!!), dan ia sangat berhak akan do’a – do’a yang juga pernah mengiringi para pemberani sejati pada masa - masa terdahulu. Do’a yang sangat dianjurkan rosulullah untuk menjadi referansi kita saat hadir dalam perayaan - perayaan keberanian itu atas akad yang telah disepakatinya, beginilah iringan - iringan do’anya :
” Baarakallaahu laka, wa baarakallahu’alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir”
Semoga Allah karuniakan kepadamu, dan semoga Ia limpahkan barokah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan.
(Izzatulgumam, 09062009; 22:00 WIB; Kebarokahan atas keberanian, are you?)

Monday, June 08, 2009

SOUVENIR SEDERHANA (5)


Mencintai itu adalah pilihan..
Mencintai itu adalah pilihan, seperti hidup yang harus memilih amal terbaik dari yang baik di tiap perbagian sekat – sekat waktu dengan pajak resiko dan hadiah hidup lainnya. Mencintai itu adalah pilihan, seperti saat romansa pilihan cinta itu hadir, maka memilih keadaan apapun dalam domain atmosfer cinta menjadi lebih berarti dan bermakna di mata pecinta sejati. Sebab sejarah pilihan cinta sejati tak pernah bisa di beli dengan dinar, tak bisa di rayu dengan kekuasaan, dan tak akan bisa termakan oleh waktu. Ia lebih berharga dan lebih indah dari segalanya.

Jika hidup mu penuh dengan cinta yang kuat dan saling menguatkan, maka menjadikan segala aktifitas mencintai harus menjadi pilihan: “pilihlah yang kau cintai dan cintailah yang kau pilih, seterusnya istiqomahlah”, begitulah kisah abadinya cinta, sederhana bukan!?memang, tapi kadang tak sesederhana yang dilakukan. Oleh sebab itu siapapun yang menjadi pilihan cinta mu untuk kau cintai, maka itu adalah harus pilihan tepat dari berbagai banyak cinta lain yang ditawarkan.

Mencintai itu adalah keputusan, seperti membuat keputusan besar yang unik, kadang tanpa mekanisme yang jelas, tapi kadang dengan rasa jiwa yang pasti. Tidak juga seperti keunikan layaknya syuro (rapat) partai - partai besar dengan masing – masing mekanismenya hingga hadir keputusan besar berupa kebijakan perbaikan umat. Mekanisme keputusan mencinta ini lebih unik dari itu, kadang tidak mengenal siapa harta, engkau tahta atau dialah Yusuf As, hanya kau yang bisa merasakannya sendiri nanti.

Ku putuskanlah mencintai! sebab elemen mencintai itu adalah keputusan itu sendiri. Mengambilnya berarti menguatkannya. Seperti memutuskan dari suatu hal antara keadaan yang kadang sangat rumit tentang rasa dan perasaan yang sulit untuk dibayangkan imajinasi, tentang keadaan rasional dan irasional yang sering bercampur baur, tentang keadaan antara idealita, realita, kepastian dan kesemuan yang kadang ambivalen, bisa tentang fenomena sensitifitas hati yang kunjung mudah berbolak – balik, atau tentang afiliasi heterogenitas perbedaan agama, suku, daerah dan bangsa yang menjadi momok adat dan mitos – mitosnya.

Keberanian memutuskan juga berbicara tentang kekhawatiran yang menggerogoti asa pada resiko – resiko cinta yang sebenarnya tak perlu dirisaukan, tentang sejarah keyakinan keputusan cinta dalam jarak perjalanan panjang hijrah mekkah – madinah yang cukup dramatis itu, tentang juga pertimbangan mengambil jalan da’wah atau jalan lainnya yang cukup menggiurkan, juga tentang timbang-menimbang proyeksi keadaan masa kini dan masa datang yang sangat mengurai banyak tanya kestiqohan kita pada-Nya: pada kepastian pahala – pahala dan kebarokahan orang – orang (jatuh) mencinta, atau mungkin tentang degradasi tawakal bahwa ini adalah ujian keyakinan untuk memilih perjalanan panjang tiada akhir, melelahkan, yang sebenarnya kita pun juga tak pernah tahu akan akhir kisah dan dimana kepastian cinta ini akan bermuara.

Tetapi dalam aktifitas cinta dan mencintai tetap harus memilih, harus memutuskan, dengan akad – akad syar’I-nya. Memutuskan untuk menuju jalan kelanjutan episode cerita pertumbuhan cinta itu dengan segala pelangi - pelangi resikonya, karna cinta butuh tumbuh dan berkembang lebih lebat, lebih sehat, kokoh dan percaya diri hanya dalam taman – taman itu (red:Pernikahan). Inginkah cinta mu tumbuh lebih sehat?Jawaban masalahnya sederhana: saat masa cintamu sudah hadir didepan mata dan kau ingin memutuskannya, apakah kau sudah cukup memberi kekuatan keyakinan (azzam), menghilangkan keraguan hingga batas ZERO akan pilihan keputusan besar (mencintai) itu, teman?; agar akar cintanya selalu kokoh menghujam ke bumi dan buahnya lebat menjulang ke angkasa raya....Fa idzaa azzamta fatawakal’alallah.
(Izz@m, 07062009, my room: 1:30 WIB; Jangan ada ragu diantara kita)