
Mencintai itu adalah pilihan..
Mencintai itu adalah pilihan, seperti hidup yang harus memilih amal terbaik dari yang baik di tiap perbagian sekat – sekat waktu dengan pajak resiko dan hadiah hidup lainnya. Mencintai itu adalah pilihan, seperti saat romansa pilihan cinta itu hadir, maka memilih keadaan apapun dalam domain atmosfer cinta menjadi lebih berarti dan bermakna di mata pecinta sejati. Sebab sejarah pilihan cinta sejati tak pernah bisa di beli dengan dinar, tak bisa di rayu dengan kekuasaan, dan tak akan bisa termakan oleh waktu. Ia lebih berharga dan lebih indah dari segalanya.
Jika hidup mu penuh dengan cinta yang kuat dan saling menguatkan, maka menjadikan segala aktifitas mencintai harus menjadi pilihan: “pilihlah yang kau cintai dan cintailah yang kau pilih, seterusnya istiqomahlah”, begitulah kisah abadinya cinta, sederhana bukan!?memang, tapi kadang tak sesederhana yang dilakukan. Oleh sebab itu siapapun yang menjadi pilihan cinta mu untuk kau cintai, maka itu adalah harus pilihan tepat dari berbagai banyak cinta lain yang ditawarkan.
Mencintai itu adalah keputusan, seperti membuat keputusan besar yang unik, kadang tanpa mekanisme yang jelas, tapi kadang dengan rasa jiwa yang pasti. Tidak juga seperti keunikan layaknya syuro (rapat) partai - partai besar dengan masing – masing mekanismenya hingga hadir keputusan besar berupa kebijakan perbaikan umat. Mekanisme keputusan mencinta ini lebih unik dari itu, kadang tidak mengenal siapa harta, engkau tahta atau dialah Yusuf As, hanya kau yang bisa merasakannya sendiri nanti.
Ku putuskanlah mencintai! sebab elemen mencintai itu adalah keputusan itu sendiri. Mengambilnya berarti menguatkannya. Seperti memutuskan dari suatu hal antara keadaan yang kadang sangat rumit tentang rasa dan perasaan yang sulit untuk dibayangkan imajinasi, tentang keadaan rasional dan irasional yang sering bercampur baur, tentang keadaan antara idealita, realita, kepastian dan kesemuan yang kadang ambivalen, bisa tentang fenomena sensitifitas hati yang kunjung mudah berbolak – balik, atau tentang afiliasi heterogenitas perbedaan agama, suku, daerah dan bangsa yang menjadi momok adat dan mitos – mitosnya.
Keberanian memutuskan juga berbicara tentang kekhawatiran yang menggerogoti asa pada resiko – resiko cinta yang sebenarnya tak perlu dirisaukan, tentang sejarah keyakinan keputusan cinta dalam jarak perjalanan panjang hijrah mekkah – madinah yang cukup dramatis itu, tentang juga pertimbangan mengambil jalan da’wah atau jalan lainnya yang cukup menggiurkan, juga tentang timbang-menimbang proyeksi keadaan masa kini dan masa datang yang sangat mengurai banyak tanya kestiqohan kita pada-Nya: pada kepastian pahala – pahala dan kebarokahan orang – orang (jatuh) mencinta, atau mungkin tentang degradasi tawakal bahwa ini adalah ujian keyakinan untuk memilih perjalanan panjang tiada akhir, melelahkan, yang sebenarnya kita pun juga tak pernah tahu akan akhir kisah dan dimana kepastian cinta ini akan bermuara.
Tetapi dalam aktifitas cinta dan mencintai tetap harus memilih, harus memutuskan, dengan akad – akad syar’I-nya. Memutuskan untuk menuju jalan kelanjutan episode cerita pertumbuhan cinta itu dengan segala pelangi - pelangi resikonya, karna cinta butuh tumbuh dan berkembang lebih lebat, lebih sehat, kokoh dan percaya diri hanya dalam taman – taman itu (red:Pernikahan). Inginkah cinta mu tumbuh lebih sehat?Jawaban masalahnya sederhana: saat masa cintamu sudah hadir didepan mata dan kau ingin memutuskannya, apakah kau sudah cukup memberi kekuatan keyakinan (azzam), menghilangkan keraguan hingga batas ZERO akan pilihan keputusan besar (mencintai) itu, teman?; agar akar cintanya selalu kokoh menghujam ke bumi dan buahnya lebat menjulang ke angkasa raya....Fa idzaa azzamta fatawakal’alallah.
(Izz@m, 07062009, my room: 1:30 WIB; Jangan ada ragu diantara kita)
1 comment:
Ktika qta mlihat gunung dari kejauhan, nampak pemandangan sangat indah memukau, namun saat qta melangkah mendakiny, trnyata ada byk krikil-krikil, batu koral, tebing yg melelahkan kaki-kaki qta, bahkan ad jurang membahayakn., Bgitupun halny memaknai pernikahan akan byk ujian & cobaan mnghadang, misteriny trnyta salah satu energi terbesar utk siap mngarungi itu smua adl Kekuatan Cinta, power yg sangat dahsyat yg kan meredakan sgala resah & gelisah,menenangkn suasana,mnciptakn kteduhan yg menentramkan.
Itulah sbabnya Imam syahid Hasan Al Banna meletakkn al fahmu pd rukun bai’ah prtama mndahului al ikhlas, krn seorang yg tdk paham mustahil akan mmiliki jiwa tulus ikhlas, mustahil akan beramal secara sadar, taat secara sadar, dst.. Sama halny ktika mmaknai cinta dlm pernikahan, konsekuensi ktika mengiyakan sseorang utk menjadi pasangan hidup qta adl “mengupayakan cinta” dan “bersahabatlah“ dgn rasa itu..Cz mengupayakn adl amalan mulia, ikhtiar yg mmperberat timbangan amal di akhirat. Allahlah yg kan menumbuhkan cinta itu, sperti Allah menumbuhkn cinta qta kpada Ny, pahamilah cinta scara lebih brharga, jalinan cinta itu hrs merujuk pd ridhaNy. Krn yg paling kuat hubungan keimanan ialah pasangan yg menikah cz cinta yg teramat dalam pd Allah, kekuatan cinta yg penuh keikhlasan hati hingga mmbawa ke JannahNy.. Sperti kata Ust. Anis Matta, bahwa cinta mmbutuhkn jauh lebih bnyk kata daripada emosi yg slainny.
Ya Allah, Ssungguhny aku mmohon cintaMu & aku mmohon cinta siapa saja yg mncintaiMu serta kecintaan thadap sgala amal yg mndekatkan ku pd cintaMu.. Allahumma Amiin
Post a Comment