Thursday, March 27, 2008

HANYA UNTUK UMAT

Pagi itu aku harus memimpin sebuah agenda rapat “kebaikan” rutin bulanan di Jakarta pusat dirumah seorang mas’ulah forum kebaikan kami. Kesediaannya dan keikhlasan yang tak diragukan dalam merajut peradaban. Alangkah penuh berkahnya sebuah rumah menjadi pusat aktifitas kebaikan, wadah yang mampu menampung sejuknya ukhuwah dari pertemuan jasad, menyatukan indahya idea menuju kumulasi fikiran, dan mengimbaskan gelora ruh dari energi kebaikan yang ada. Rumah yang bukan sekedar fungsional tempat mengenyangkan perut dan merileksasikan jasad, yang kadang melupakan nilai social (kebaikan) dan ruhiyah (ibadah). Kering kerontang, panas dan hampa jika itu yang menjadi nilai orientasi material. Tidak mewah, tidak juga besar tapi kesederhanaan dan kebarokahaan dalam da’wah yang menyertai membuatnya lebih mewah dan besar di mata kami dan dimata-Nya. Kesediaan dari sisa ruangan teras kecil yang ada oleh kesediaan ruang jiwa besar yang tersedia dipemiliknya, sehingga ruang besar jiwa merekalah yang membuat ruang kenyamanan ruh bagi yang berkunjung. Rumah umat begitulah aku menyebutnya, hampir anggota rapat yang hadir menginginkan dan bercita – cita menjadikan rumahnya rumah umat, tak terkecuali aku. Bahkan diantara kita saling berlomba promosi (kelebihan-kekurangan) ke forum agar rumahnya dijadikan tempat selanjutnya untuk agenda ini atau pada momen tertentu..”Fastabiqhul khairat…” hingga sedemikianlah terbentuk atsmosfernya. Hal ini jugalah cukup menggali pemahaman ku tentang makna tafsir surat Al mu’minum yang sedang ku cicil baca, di pembahasan kelompok I ayat 1 – 11. Sepenggal tafsir itu menterjemahkan hakikat ciri khas orang mu’min dan kepastian (qod) keberuntungannya (aflaha;al-falh:membelah tanah lalu menanam benih ), yang menjadi kesimpulan dari 11 ayat tersebut renungku (dibahas juga dalam tafsir tersebut), bahwa diperlukan keseimbangan ruhiyah dan akhlak bagi pelakunya dimana seorang mu’min itu harus mampu proporsional dan komitmen dalam hal “mempertahankan” segala perintah saat menjalankannya seperti memelihara shalat dan mempertahankan khusyuknya jiwa, tetapi di lain itu juga seorang mu’min harus mampu taat dalam tidak “mempertahankan” diri untuk mengeluarkan; misalkan menunaikan amanat – amanat untuk segera ditunaikan dan juga dalam hal membelanjakan harta dijalan Allah, seminimal mungkin menghilangkan barier untuk action dari keikhlasan niat sehingga mampu menerobos berbuah akhlak permanent bagi pemiliknya. So, simple nya seorang mu’min harus punya kemampuan, kebiasaan, kecerdasan, seni dan kapasitas skiil dalam hal keadaan “mempertahankan (bertahan;sabar)” tersebut.

Membiasakan diri

Seperti kisah berharga yang mampu bercerita orientasi kehidupan untuk perbaikan umat yang perlu patut dicontoh. “ummati, ummati, ummati..” begitulah sepenggal drama kolosal sangat indah kematian Rosulullah sebelum malaikat menjemput ruh suci-nya yang semakin sulit ditemui dijaman ini. Tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan, sebab keadaan itupun perlu belajar dan pembiasaan sejak dini. Tak perlu menunggu menjelang ajal hampir tiba, jika tak mampu maka cukup hadirkan atsmosfer nuansa itu saat keadaan sadar dengan menjawab tantangannya pun secara sadar dan sejarah menyeru kebaikan itupun sudah mulai terbiasa terpahat.

“Akh gumam, ana bersedia kok kalau rumah ana dijadikan tempat rapat rutin “kebaikan” untuk sekarang dan selanjutnya!” seru mas’ulah forum itu untuk kesediaan rumahnya dan beberapa anggotapun mengajukan yang sama.


"Bang gumam, ana siap mengantar dan menjemput antum untuk mengisi materi di puncak ahad besok habis ana pulang kerja shift malam, gimana?” sergah anggota ikhwan I, sebagai ungkapan komitmen waktu dan kendaraannya untuk ummat, sebab beliaupun mengklaim bahwa motor nya milik kampus dan milik ummat. Hingga tak kuasa untuk mengganti motornya dengan yang lain karena syarat dengan sejarah da’wah.


“Akh gumam, karena sulitnya waktu ana untuk berkontribusi secara kontineu dalam da’wah ini. Alangkah baiknya ana juga dihubungi untuk agenda insidensial agar ana juga mampu memberikan apa yang ana bisa bantu, pendanaan misalnya” begitulah ekspresi kejelasan dari komitmen yang terus melekat dari beberapa alumni kampus kami.

Ya, kata dan ekspresi yang mengungkapkan rahasia hati pemiliknya semoga menjadi kebiasaan yang melekat pada diri dan kehidupan memperbaiki diri dan orang lain.

BERTAHAN BIASA

Awalnya aku biasa mencoba….
Biasa mencoba ikhlas di awal permulaan amal
Biasa mencoba berazzam di tiap keraguan
Biasa mencoba komitmen di tiap aral splitisasi amal
Biasa mencoba berkorban di tiap pelik godaan imbalan
Biasa mencoba istoqomah di tiap ujian melanda
Biasa mencoba tawakal di tiap kelemahan qonaah harapan
Akhirnya aku pun terbiasa……
Itulah aku yang cukup menggambarkan siapa aku
Cukuplah hidup itu dengan mencoba biasa
Menjadi terbiasa setelah mempertahankan biasa mencoba
Terbiasa mencoba untuk menjadi luar biasa.
Tapi tidaklah untuk menjadi manusia biasa.

(Izzatulgumam, Depok; Onan said kost, Milad Rosul; 270308)

Sunday, March 23, 2008

ITULAH AKU.

Itulah aku, jika menghapal sebuah ayat – ayat Al qur’an memakan waktu cukup lama. Banyak tahap tuntutan dari sebuah idealis “Al fahmu” yang selama ini menghujam oleh berbagai keterasahaan pengalaman pahit – asinnya sekedar formalitas menghapal melahirkan sekedar menghilangkan. Yah, itulah aku. Banyak komentar tentang ku, katanya aku cukup lambat dalam menghapal, tapi kelambatan tidak sekedar keterlambatan tanpa alasan. Perlu banyak pemahaman dari tiga referensi tafsir terlebih dahulu, membacanya dengan tuntas satu surah untuk pemahaman tiga kitab tafsir, meresapi dengan merenungi dan membaca minimal tiga kali berulang barulah ku mulai menghapal surah itu. Referensi tafsir mampu menggambarkan pemahaman yang menyeluruh, menggerakkan hampir seluruh otot otak ku untuk terpacu, “berolahraga”, tergerak dan melekatkan. Daya visualisasi otak ku yang membutuhkan tiga referensi tafsir tersebut: 1) tafsir Ibnu Katsir 2) Tafsir Al Mishbah karya M. Quraish shihab dan terakhir tafsir Fi-zhilalil qur’an karya Sayyid Qutb. Ketiga tafsir ini saling menyempurkan dan melengkapi menurut sedikit pemahamanku tentang ketiga kitab ini yang hingga sekarang masih cicil ku baca. Tafsir Ibnu katsir saat ku baca mampu menggambarkan tingkat ta’shil (orisinilitas) dan universalitas (bukan berarti tafsir yang lain tidak) yang tinggi dengan banyaknya kutipan dari para mufassir lainnya ketika membahas suatu masalah, selain itu penulisannya cukup singkat dan sederhana, aku menyebutnya sangat “bahasa kontekstual” oleh sebab itu tafsir inilah yang menjadi referensi standar. Lain hal dengan kajian tafsir Fi zhilalil qur’an yang kental dengan bahasa sastra dan bahasa da’wah, jika ku membacanya seakan fikiranku turut “bergerak-berfikir”, bahasanya sangat halus mampu menggerakkan hati yang perlu perenungan mendalam, setiap ku membacanya hampir memerlukan konsentrasi lebih tinggi dari dua tafsir yang lain. Istimewanya tafsir ini diawal halaman (mukadimah) pembahasan tafsir, biasanya ustad Sayyid qutb sudah memberikan kesimpulan singkat yang padat sehingga pemahaman ku dalam satu surah yang dibahas sudah mampu menyeluruh tentang kesan dan pesan tafsir surat tersebut diawal, dan selebih lanjutnya penjelasan ayat-ayat seakan kita disuruh diajak “menikmati hidangan” dan “merenungi” tafsiran berupa sinergis kekuatan bahasa sastra dan bahasa logic da’wah. Tafsir Al mishbah menurut ku juga sangat menarik, saat membacanya seakan ustad M Quraish shihab sedang bercerita tepat di depan ku, sebab bahasanya sangat komunikatif, mudah dipahami, sederhana dan syarat makna tentang tingkatan makna bahasa arab, hal inilah yang paling ku suka sebab menambah pemahaman vocabulary bahasa arab ku. Lainnya tafsir ini mampu menceritakan bayak siroh dan menjelaskan sebab dan akibat suatu munculnya hukum-kejadian, sehingga pemahaman logika kita tidak akan mampu menentang dalam sebuah penerimaan suatu kalimat ayat qur’an. Ketiga tafsir yang saling melengkapi satu sama lainnya.Yah, itulah kesukaan ku tentang sebuah makna, mempelajari mengenai apapun tentang makna. Oleh sebab itu aku sangat menyukai memahami tafsir qur’an sebelum menghapal ayat qur’an itu terlebih dahulu…

Betul, Agak lama sebab aku harus memasuki tahap selanjutnya, yaitu mendengar dan menghapal. Hal ini dilakukan secara berbarengan. Mendengarkan syeikh Al hafizd mengaji dengan Mp3 player or laptopku, disinilah ku tahu bagaimana mereka menerapkan bacaan yang baik tajwid berikut penghayatannnya dan penghormatannnya terhadap Al qur’an, disinilah terlihat sekali kekusyuk-an seorang Al hafidz dibarengi pemahamannya tentang Al qur’an, oleh sebab itu aku sangat suka sekali mengkoleksi CD murottal dari berbagai syeikh Al hafizd terkenal. Setiap syeikh memiliki masing – masing ciri khas pembawaan bacaan dan “logat”nya begitulah ingat ku kata bang Mustafa yang kamarnya bersebelahan dengan kamar basecamp “genk” ku;Asrama UI salemba, seorang Qori yang juga seluruh anggotan keluarganya Qori, beliau saat itu sedang mengerjakan tesis strata-2 nya. Mulai dari yang sendu syeikh M. Ali Al - huzdaifi (“musik” malamku) sampai yang cepat syeikh Sudais, atau kekhasan lantunan Al Mathrub yang cukup memiliki logat “berwibawa”. Lain khasnya penghayatan syeikh Hani Abd. Rahim Ar-Rifa’i yang hampir mirip-mirip dengan syeihk M. Rosyid dan banyak lainnya. Lantunan dalam rekaman mp3 sudah cukup menghentakkan hati apalagi jika dihadapkan langsung dengan syeikh tersebut. Ingin sekali bertemu dengan beliau – beliau semua (semoga Allah memberikan kesempatan itu), mungkin sama halnya ketika seorang pecinta (fans) penyanyi ingin bertemu dengan penyanyinya secara “live”. Mendengar, kemudian menghapal dengar (listening) sebab takut sekali terjadi kesalahan sekaligus mengkoreksinya langsung melihat qur’an. Keadaan ini, seperti menghapal sebuah lagu saja, bahkan Al qur’an itu lebih mudah dihapalin dari pada lagu – lagu “dunia” menurutku. Anehnya lagi aku tuh termasuk orang yang cukup cepat jenuh jika mendengarkan lagu/musik “jahiliyah” entah kenapa tetapi jika murotal pasti mampu bertahan lama. Metode inilah yang paling ku senangi, sebab aku termasuk pembelajar audio, tiap nada mampu terdeteksi dan mampu terkunci dalam hati, tinggal kapan memuntahkannya kembali.

Referansi terakhir ku adalah biasanya mencoba mengajarkan kembali dan menjalankannya (da’wah) kepada mad’u kita dan kepada siapapun yang meminta atau menggunakan kejadiaan sehari-hari dengan bahasa al qur’an, inilah kunci akhir seberapa kekuatan hapalan kita mampu terpelihara. Selain itu terkadang perlu juga mencari referensi lain tentang kejadian surat yang aku hapalkan baik itu sebuah sirah, hadist atau sebuah buku pedoman amaliayah lainnya, misalkan jika sedang menghapal surah Al anfal yang bercerita tentang perang badar maka referensi standar sirah nabawiyah bab perang badar dan buku manhaj haraki lahap harus ku baca. Sehingga tak hanya sekedar menghapal, tapi menghapal dan mampu menghujam menjadi sebuah satu kesatuan tentang kesempurnaan Al qur’a itu sendiri. Itulah sebab yang membedakan kita dengan generasi awal Islam, jika dahulu generasi awalan nilai ruh menerima Al qur’an itu sendiri dengan adanya atau turunnya al qur’an dianggap sebagai sebuah perintah dari seorang “Komandan” yang wajib harus dilaksanakan, sedang kita sekarang menerima Al qur’an banyak hanya sebatas mempelajari dan banyak yang gagal pada tahap menjalankan sebagai sebuah perintah. Aku dan tiada hari untuk tetap berusaha belajar komitmen mempelajari Al qur’an. Aku dan rencana hafidz konvensional ku yang sampai kapankah akan tercapai. Aku dan optimis hiburku, bukankah Umar bin khatab baru mampu merampungkan hapalan qur’an setelah diakhir- akhir hayatnya. Pemahaman, nilai amal dan hapalan yang berinergis didalamnya yang mampu tercatat dalam sejarah sebagai generasi terbaik, bisakah aku? (Izzatulgumam; Bekasi, 230308)

Monday, March 17, 2008

IZINKANLAH KU MENCINTA

Part Desember (1)
21:15 WIB

“Cobalah dulu akh gumam” sergahnya dalam harap. Ekspresinya yang meningkatkan gelombang ithiromku untuk tetap mengambilnya.

“Jazakallah, nanti ana kabari secepatnya” kuterima sepucuk amplop itu. Rasa harap, cemas berbalut keyakinan sedang tidak ada dihari ini, entahlah kenapa maka segera ku pulanglah setelahnya, ku sela sepada motor yang sudah ingin lekas meminta pulang juga setelah dari pagi menemani da’wahku hingga malam ini.

Seperti biasa, seperti tak ada kejadian yang istimewa padahal sebelum-sebelumnya kejadian seperti ini merupakan momentum spesial dalam hidup sesorang muslim (ikhwan). Menerima sebuah biodata umumnya teman-teman ku merasakan seperti memegang dan merangkul sebuah bukit uhud. Inilah kali yang ke tiga, fikir ku bergumam.Terbiasa berbalut jenuh jadi hampir mengendap, bak rutinitas matahari bersinar dan sesampai waktu sore pun tenggelam. Tak ada yang spesial,turunnya air hujan yang pasti jatuh kebumi, juga bilamana anak pertama dewasa akan berkurang “kaget”nya ketika lahirlah anak lanjutan. Sudah lebih dari tiga bulan aku baru kembali mendapatkan biodata akhwat dari seorang “Pembina”.

22:15 WIB

Sesampainya pulang, biasanya ku tutup pintu rapat dan membacalah, tapi kali ini kuletakkan acuh di meja belajarku. Entahlah juga mungkin hari ini kelelahan cukup menyita dan semangatpun sedang membungkam. Berfikirku biarlah saat qiyamulail nanti baru ku buka sepucuk amplop itu. Malam ini lebih hening, orang tua, adik dan keponakkanku sudah tertidur pulas dalam ruang mimpi yang indah.

03:45 WIB

Shalat witirku pun selesai, qiyamulail malam ini begitu berat. Amalan yang berat melahirkan pahala yang besar pula, begitulah hiburku dalam kantuk yang mendalam. Tidak dengan ayat – ayat panjang kali ini. inilah yang membedakan kita dengan generasi qur’an yang menjadi generasi awaliun, qiyamulailnya merupakan madrasah malam talaqi qur’an kepada Rabbnya, qiyamulalilnya adalah penghayatan akan visi dan tarbiyah ruhiyah menuju rihlahtulillah, qiyamullail juga ternyata bentuk ungkapan ungkapan rasa syukur yang takkan terhenti. Berputar ditiap malam hari-hari dari kenikmatan lelah harimau nya siang dan biksunya malam. Ayat –ayat makkiyah dibacakan pada periode makkah dan ayat-ayat madaniyah dibacakan juga pada periodenya, sebagai penyadaran kembali akan visi, “menghapal” misi dengan jiwa yang sadar, hati tenang terbuka sehingga ayat yang dibaca mampu berdifusi secara perlahan, tapi pasti menyerap, menusuk, memberikan energi kembali.

“Sreet…”tenyata lem perekatnya agak kuat sehingga amplopnya terpaksa ku robek. Ku buka hingga beberapa lipatanpun terungkap. Langsung seperti biasa ku lihat bagian prioritas biodata dari urutannya; amanah da’wah, yaumiyah, dan lama tarbiyah.Itu yang lebih penting dari semua. Aku baru menemukkan foto dalam halaman terakhir dari lembaran – lembaran tersebut.

“ Masya Allah, sepertinya aku pernah bertemu, benarkah ia?” kagetku yang menghentakkan kantuk, reflek akselerasi saraf kedua matakku pun berkontarksi dengan cepat sehingga lensa mata keburaman menjadi ketajaman. Wajah yang tak asing, sebab foto dalam biodata ini mengingatkanku pada kisah “gelombang” di Bus Kuning dua tahun yang lalu, akhwat jilbab warna coklat, berkacamata dengan Nur (cahaya) rona wajah yang ku kenal betul ekspresinya. Foto dan bayanganku pada nur (cahaya) wajah itu tak Jauh berbeda, hanya saja terlihat lebih dewasa. Tak menyangka dunia ini penuh misteri, misteri yang tak mudah ditebak, tentang perjodohan apalagi yang begitu ghaib, begitu musykil tapi pasti. Misteri yang membuat aku serasa bermimpi. Didahului dengan mimpi….dan sekarang apakah aku masih bermimpi ya Rabb?. Segala tentangnya sekarang nyata dalam gambaran singkat diri, keluarga dan aktifitas da’wahnya. Akhir halaman itulah yang akhirnya membuat ku harus mengulang membaca secara serius, hingga beberapa kali balik. Kantukku hilang dimakan penasaran mendalam. “benarkah ini wanita itu, ya Rabb?” bertanya dalam kebimbanganku sendiri.

“Subhanallah, beliau hafidz!akhwat ini hafidz qur’an” begitulah dihalaman kedua beliau bercerita,sadar hati ku bergumam dalam relung terdalam. Tak kusangka diusia yang muda dan dikampus yang serba sains ini masih ada penghapal qur’an sejati. Acuh menjadi semakin mengacuh dan menghina diri sendiri untuk merendahkan diri.

“Aku,.. apa yang bisa ku banggakan dan kubandingkan tentang ke Islamanku nanti diproses ta’aruf, Juz 30 saja banyak yang bolong,…uhhff” fikirku mendalam malam itu bersama bintang. Bintang yang mampu bercerita banyak tentang malam. Ketaatannya menerangi malam seharusnya mampu mengiringi ketaatan ibadah ku.

“Bukankah seorang hafidz selayaknya juga mendapatkan seorang hafidz”, merendahku pada posisi kondisi jiwa yang lebih rendah. Rendah diri yang sadar akan kapasitas diri.

“Ya Allah,pasti pembinaku salah kali ini atau mungkin tertukar dengan temanku ….bukankah beliau juga tahu kapasitasku yang lemah dalam menghapal”, memang jika harus memahami suatu makna tafsir, membaca permasalahan da’wah untuk mencari solusi dan membuat strategi menjadi kelebihanku.Begitulah teman-teman ku sering menjuluki seorang creator or analisator da'wah. Hal lain adalah telinga ku yang kata banyak orang jika mendengar maka mengingatlah ku.

“bagaimana nanti jika akhwat itu meminta mahar sebuah hapalan qur’an, wah gawat darurat siaga satu akhi” renungku dalam hayalan yang terlalu panjang, walau aku hanya mampu menebak menjaga optimis, mungkin akhwat itu hanya meminta kelengkapan hapalan standar seorang ikhwan; juz 30,29 dan surat Al anfal, Al Kahfi, Al an’am juga surat At taubah.

”mungkin sekitar itu” hibur kepesimisan ku sejenak. Sebab ada dari beberapa kisah temanku, calon istrinya meminta muroja’ah Qur’an sebagai mahar pernikahannya. Memang agak tidak begitu mengkhawatirkan jika itu standarnya,sebab sudah ada dari beberapa bagian yang ku hapal dengan lisan penuh dan dari kesemuanya telingaku mampu menghapal dengan jelas. “ini harus menjadi biodata yang terakhir kupegang, apapun resikonya nanti bisakah??” azzamku bergelora. Aku sudah terlalu letih untuk masalah ini. Akhir dari kepastian yang terus menuntut masa depan.

04:30 WIB

Adzan berkumandang dengan lantangnya , membangunkan semesta untuk berdzikir kembali dari lalai dan istirahatnya malam. Agenda amal senin memanggil segenap raga, agar tetap semangat. Memulai dengan gairah hidup untuk sebuah harapan baru……”Ya Rabbi aku harus lebih hidup hari ini, yang hidup untuk menghidupi” sambil ku tutup mushaf yang ku genggam erat.

Part Desember (3)
14:00 WIB

“Seperti biasa,harus sesederhana dan sejujur mungkin!!” sergah hatiku berkata dalam prolog sendiri, memantapkan sebuah visi hidup yang selama ini diambil menjadi sebuah jalan hidup dan lifestyle ku. Menatap jam dan waktu yang terus bergulir akan janji sore ini untuk ta’aruf dengan akhwat tersebut. Tidak ada persiapan istimewa, hanya berbekal qiyamullail malam tadi, aku rasa itu sudah lebih dari cukup. Seperti biasa, ku siapkan laptop dalam tas dan Al qur’an yang akan setia menemaniku setiap saat.Cukup itu. ”semoga ini menjadi yang terakhir!!”.

17.15 WIB

Klarifikasi, verifikasi, validasi dan konfirmasi telah selesai sudah. Jam sore itu pun memanggil iri dengan keberkahan proses ini. tetapi belum juga dilakukan proses “closing” oleh kedua belah pihak, sebab terhalangi oleh kehangatan yang terjadi dalam proses ini. Semua saling menunggu malu-malu untuk mengakhri peristiwa ini, yang ditunggu akhirnya termuntahkan dari salah satu pihak.

“Apakah antum mau langsung melanjutkan proses ini akh gumam?” seru pembinaku saat itu dengan wajah yang penuh gelora harap.

Tak kujawab langsung. Kutatap sekilas untuk terakhir kali menyakinkan bahwa diwajahnya ada tersimpan sebuah harapan dalam Nur (cahaya) wajahnya yang sederhana mampu menyiratkan gelombang optimisme, gelombang emosi raut semangat pembangun peradaban, dan kilatan bayangan kaca matanya mampu bercerita tentang kematangan ilmu dan pengalaman da'wah.

"Bismillahirrahmanirrahiim, insya Allah Ustad". ku tundukkan kepala sejenak ku barengi dengan ucapan istigfar.

"Bagaimana dengan anti, apakah ingin menjawab langsung hari ini juga?". Sela Pembina ku, memastikkan. Keadaanpun menjadi hening sejenak, seakan semua membungkam dalam kompak serempak.

“insya Allah, tapi ada satu syarat mutlak jika akh gumam memang serius, bisakah antum menghadiahkan saya dua buah hapalan surah Al qur’an selama proses ini dan selanjutnya nanti?". Tanyanya dalam senyum yang khas tidak menghadapku jelas.

"Ya, Rabbi Benar dugaanku", kelemahan diri yang tak bisa terhindari, kelemahan diri yang memang harus dihadapi."ya, tergantung ukht, sepanjang surat apa?". Tanya ku menjaga emosi, sebab tetap berharap momentum ini adalah kejadian yang harus menjadi momentum terakhir.

"Keinginan ku cukup sederhana kok akhi, apakah antum sudah hapal surat An Nuur dan Luqman akh?". Memang keinginan akhwat itu yang cukup sederhana dalam menciptakan keluarga Islami, menjadikan surat An Nuur menjadi cahaya bagi visi keluarga da’wah dan surat luqman menjadi pondasi aqidah dan pendidikan jundinya kelak. Beliau hafizd dan telah hafal dengan fasih ketika menceritakan beberapa ayat pentingnya kedua surat itu kepada ku dan kepada dua Pembina yang hadir dalam diskusi wacana membangun pondasi keluarga Islam.

Otak ku saat itu berfikir keras, sambil ku buka mushafku segera. Jelas aku tidak hapal kedua surat itu semuanya. Jika penggalan ayat- ayat pilihan dari surat luqman dan An nur itu masih mudah ku hapal sebab saat mengaji di TPA (sekolah dasar hingga SMP, enam tahun lamanya mengikuti lembaga itu; hingga tahap melagukan qur'an ku geluti) dulu hal itu menjadi hapalan harian sebelum memulai pengajian berlangsung dari sekian banyak hapalan lain (surat Al imran tentang ukhuwah, ayat kursi, dan beberapa penggalan surat Yaasiin,dll), walaupun sebenarnya baru bisa ku pahami ketika ku Tarbiyah selama ini. Ayat dari surat Luqman yang sering dibacakan mengisahkan perintah seorang ayah agar anaknya menjaga dan memurnikan ketauhidan hanya kepada Allah swt.Telinga ku lah yang menjaga hapalan itu, telinga yang mampu merekam suara dari banyak nada didunia ini. Nada ayat itu masih terpelihara dalam telinga dan terkunci dalam hati ku hingga sekarang. Ku bolak – balik menghitung seberapa banyak lembaran halaman dari gabungan kedua surat tersebut, ternyata semua digabung berjumlah sekitar 10 lembar banyaknya tepat sekitar 1 juz.

"fiuuuuh, ana belum hapal, berarti sekitar satu juz ya ukht, apakah hal itu memang harus menjadi syarat mutlak untuk menikahkan ukht?". mengajaknya juga untuk memastikan hasil kalkulasi ku yang ternyata memang tak salah. "Yap syarat mutlak.Apakah ada yang salah akhi, satu juz untuk jangka dua bulan, apakah antum keberatan akhi?" tantangnya dalam rona wajah yang tetap terlihat teduh.

"ana yakin, antum pasti bisa kok akh gumam" udara keoptimisan yang dihembuskan ke telingaku oleh kedua Pembina yang hadir.

"ok jika itu memang menjadi sebuah kebaikan, ana terima syarat mutlak yang akan insya Allah saya penuhi dalam dua bulan ini" memastikan tantangku kembali. Benar juga kenapa tidak harus dicoba dulu, toh syarat itu tidak ada nilai mudharatnya malah lebih banyak nilai kebaikannya.

surat Luqman untuk talaqi dalam pertemuan dengan antar orang tua ku dan surat An Nuur yang antum harus hadiahkan untuk pernikahan nanti” begitulah aturan yang beliau ceritakan sebagai sebuah adat tertentu ditiap siapapun anggota keluarganya yang ingin menikah.

"Kenapa antum bisa begitu yakin dan percaya sekali dengan ku, ukht? Bukankah orangtuamu pun belum di minta persetujuannya" keherananku berjurus tanya-tanya penuh keinginan menjawab keraguan. Entahlah Pembina ku dan pembinanya pun seakan diam menyembunyikan sesuatu.

“insya Allah keluarga ana sudah berpesan setuju terlebih dahulu dari niat dan keberadaan antum, ayahku mengenal dan percaya betul dengan antum akh”. Upaya akhwat itu menyakinkan ku.

“akhi antum masih ingat saat beberapa tahun lalu mengajak seorang imam besar masjid myanmar berkeliling kota malam itu? Itulah ayahnya, ukht ini lahir dari istrinya yang di Indonesia (sekarang keduanya tinggal di Myanmar)". Selak ucapan Pembina mengusir keraguanku.

"yap ayahku kenal betul dengan ustad (Pembinaku) antum akhi". Menimpali ucap akhwat itu dalan ketidak percayaan ku akan momentum jarang ini.Pembinaku pun hanya mengangguk, menandakan kebenaran ucapan akhwat itu.

“Subhanallah,Pantas saja, kenapa pembinaku tak memberitahuku sebelumnya”. Seakan ku tak percaya. Memang saat pertemuan itu kami sangat terbuka dan hangat sesekali berduskusi selama perjalanan mengantarkannya keliling kota malam itu. Sosok imam besar masjid Al hafizd yang sangat berwibawa, fleksibel dan menghargai setiap pendapatku walaupun usia ku jauh sangat lebih muda. Mulai diskusi tentang da'wah, sosial masyarakat dan tentang lemahnya umat muslim untuk mengkaji Al qur'an. Pesan singkatnya yang paling berharga saat itu adalah "menghapal Al qur'an itu mudah akhi, kuncinya ikhlas dan taat jangan dipaksakan, maka hati akan mudah menerimanya".Saat itu juga beliaupun menyarankan metode yang paling mudah dan sederhana dalam menghapal Al qur'an tanpa "memaksakan diri" yaitu dengan mengulang cukup sepuluh kali tiap satu ayat dalam sehari. Jika ingin menghapal kata basmallah maka ucapkan kata "bismillahirrahmaanirrahim" sepuluh kali, insya Allah akan hapal tapi ingat kuncinya ikhlas dan taat, jaminnya. Senyum khasnya memandangku setelah memberikan tausyiah itu seakan mengharapkan ku juga menjadi seorang hafizd qur'an.Terbangkit bayangan kenanganku, Ia pun saat itu pernah bercerita kepadaku tentang anaknya yang sudah hafizd setelah masuk bangku kuliah, tetapi beliau tidak merinci dengan jelas siapa anaknya itu dan kuliah dimana.

Matahari yang melahirkan matahari, seorang hafizd qur’an dari seorang ayah yang juga hafizd qur'an. semakin minder saja aku sore itu, siapa aku, siapa ayahku, siapa keluargaku, tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang hafizd bahkan juz amma saja masih terbata-bata dan yang lebih parah beberapa dari keluarga masih dalam tahap belajar I’qra.

"The last,pesan ayah ana antum langsung saja datang ke rumah nanti dengan ayah atau beberapa perwakilan keluarga antum. Pesannya juga salam dari ayah ana buat antum akhi".Akhwat itu terlihat sejenak berfikir seakan megingat sesuatu " Oh ya, bulan depan ayahanda dan ibu akan datang ke Indonesia, semoga antum bisa meluangkan waktu dibulan itu ya" sergahnya, seakan mempercepat percapakannya sebab memang waktu sudah beranjak akan adzan maghrib.

"wa'alikumusalam" Mengangguk aku, ku tahu maksudnya bahwa tak perlu ada pertemuan perkenalan antara aku dan kelurganya (ayahnya) karena sepertinya keluarga beliau sudah mengenal dan menerima ku sehingga memotong singkat waktu proses yang ada."Insya Allah akan ku coba ukh, jika anti adalah jodohku maka takdirku adalah hafizd" azzam ku yang penuh qonaah dan tawakal.

Izinkanlah ku mencinta
Biarkan aku menggapai hafizd ku
Menggapai yang tak boleh pergi lagi
Menggapai gelombang yang tak boleh hilang lagi
Azzam hafizd ku yang kelak menanti takdir pasangan jiwaku
Ya Rabbi pemilik cinta, izinkalah ku mencinta
Mata, telinga, dan hati izinkanlah aku menggapai hafizd ku

Januari Mentari (3)
Ahad, 10:00 WIB

Hari ini mentari harus berpihak kepada ku, harus tersenyum merekah dengan ikhlas diwajahku, walaupun selama perjalanan hanya ada diam dalam gumam menggapai hafizd ku yang takut hilang, takut terlupa. Malu yang tak bisa ku bayangkan jikalau ku lupa saat talaqi nanti yang diperdengarkan oleh dua buah keluarga besar. Sebenarnya sudah ku hapal, hanya takut dalam perjalanan Bekasi-Jakarta membuat mata ini tak terkendali sehingga hatipun bisa bermaksiat tak terkendali, hanya menjaga. Aku, Ayah dan beberapa anggota keluargaku datang dengan satu mobil sewaan, bukan sedan atau sekelas kijang keluarga tapi menyewa angkutan umum:Koasi sehingga kebersamaan pun melekat, merekat dan hangat. Maklum hanya itulah kemampuan keluargaku sekalian juga menerapkan azas manfaat, memberi banyak manfaat pada lingkungan sekitar yang kebetulan tetanggaku adalah supir mobil koasi. Tetap saat semua mampu menikmati perjalanan, aku hanya bergumam tak henti dengan mushaf yang terus ku pegangi erat.

"ayo A' hapalin, jangan malu-maluin loh" ledek adik-adik ku yang terlihat cukup menikmati perjalan ini.

13:30 WIB

Waktunya talaqqi qur'an. Setelah semuanya mampu mencairkan suasana, setelah semuanya berdiskusi dengan hangat. begitupun aku yang sangat rindu sekali dengan imam besar itu, seakan bertemu dengannya kali ini serasa rindunya bertemu dengan sosok seorang khalifah besar. Kehadiranku yang apa adanya dengan angkot diterima dengan sambutan senyum berbaris dihalaman depan rumahnya.Tanpa beban, ikhlas yang mengalir deras terlihat ditiap raut dan tiap gerik bola mata saat setiap anggota keluarga ku dan keluarga akhwat itu berinteraksi, hidangan pun berkah terlahap setelah semuanya shalat dzhur berjama'ah di musholla rumahnya. Rumah minimalis dengan halaman yang sangat luas menurutku sehingga kehadiran keluargaku cukup ditempatkan dihalaman kebun belakang rumahnya yang asri tersebut. Semakin menambah atmosfer kekeluargaan saat itu.

"waktunya untuk talaqqi, mintalah janjimu Nak" ayahandanya mengutarakan maksudnya dengan halus.

Terdengar juga oleh telingaku perkataan itu, menyadarkan kembali janjiku pada akhwat tersebut untuk talaqqi surah luqman kepadanya dan keluarganya. Sebagai syarat mutlak melanjutkan proses ini.langsung saja ku ambil alih kendali suasana siang itu, semua muka tertuju kepadaku.

"baiklah untuk mempersingkat waktu, alangkah baiknya segera ku penuhi janjiku untuk talaqi. Jika ada yang keliru segeralah perbaiki aku ya" memintaku persetujuan semuanya untuk memulai.Dan semuapun terdiam kushyuk mendengarkan.

"a 'udzubillahiminsyaithonirozhim, bismillahirrahmaanirrahiim. Aliflaaam miiim……" entahlah seakan aku menjadi lebih tenang dan lebih kusyuk membacanya pada momen ini, seakan surah ini menjadi sebuah kebutuhan inheran bagi ruh ku saat ini. Semua masih teliti mendengarkan talaqiku, ada beberapa keluarganya dan keluargaku yang mendengarkan sambil mengkaji membuka mushaf takut terjadi kekeliruan hapalanku.hening…

Hampir di akhir dua ayat terakhir, akupun terdiam menghentikan bacaanku. Persis di dua ayat terakhir aku tak mampu meneruskan bacaanku. Wajahku tertunduk sejenak, berat sekali ku lanjutkan ayat ini. Semua yang hadirpun banyak tanya, dan ada beberapa yang berusaha mengkoreksi "akh gumam, ya ayyuhannas…2x.". Aku tetap diam sebab aku sangat hapal artinya.

"Hai manusia, bertakwalah kepada tuhan-mu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak yang tidakdapat menolong anaknya dan seorang anak yang tidak dapat menolong bapaknya sedikitpun….(Qs 31:33)". diamku dan sedihku membawaku pada keadaan keluargaku yang lemah sekali dari pemahaman dan kedekatannya dengan Al qur'an. Diam dan sedihku menerawang ku pada ketakutan pada hari dan berita besar itu. Hanya Al qur'an yang dapat menyelamatkan keadaan manusia nantinya.

"akhi, ya ayyuhannas…." Nada suara halus yang membangkitkan semangatku untuk melanjutkan talaqi ini, akhwat itu memanggilku untuk melanjutkan menyelesaikan dua ayat terakhir surah luqman itu.

"ya ayyuhannasuttaquu….." ku ucap lanjut bebarengan dengan keyakinan ku untuk bisa melanjutkan kehidupan ini bersamanya kelak jika memang ia adalah yang terbaik. Selesai sudah talaqi ku, disambut haru bagi yang mendengarkan semua. Ayahku hampir tak percaya kalau anak nya cukup bagus bacaan qur'annya, senyum bahagia ku lihat dalam rona imam besar itu sambil menganggukkan kesetujuannya, tapi anaknya hanya tertunduk hijab.

"gimana ya ustad kelanjutannya, nanti" ayahku mengambil bicara setelah hapalanku selesai terucap ke keluarga akhwat itu.sedang aku masih terdiam, tak menyangka aku bisa melakukannya dengan baiak hari ini. Bersyukurlah.

"Thoib, ya sudah jika niat dan kewajibannya sudah terpenuhi, maka haknya harus sudah boleh termiliki" begitu tawadhu dan wibawanya beliau jika berbicara.

"Maksud ustad?" tanyaku memperjelas kalimat tersebut.

"Maksudnya kita akad nikahkan saja sekarang, tidak usah menunda-nunda waktu yang ada, saya pun sudah menyiapkan penghulunya,lengkap sudahkan syaratnya pak?" sedikit memaksa ku dan keluarga yang ini merupakan rencana diluar kendali. Memang sangat jarang hal ini terjadi. Ayah ku pun hanya terbingung, malah menatapku…..seakan meminta jawaban dari sinar mataku juga. Sekelebat itupula ayah bunda ku saling berbisik….terucaplah keputusan

"sungguh sangat mulialah kejadian hari ini, kami sebagai keluarga hanya menyerahkan kembali kepada anak kami gumam, gimana nak?" kulihat sinar mata keikhlasan terpancar.

"Tapi ustad, Ana belum hapal surat An Nuur seluruhnya ustad? Panik ku, terlihat sekali wajah gagap ku kali ini. memang benar sebab baru setengah dari surah itu sedang ku hapal. Semua yang hadir menatap focus kepadaku, tajam dan menerkam, tapi entah kenapa sesaat itupulah lah semua tertawa dan tersenyum dengan riangnya. Begitupun "gelombang hafizd"ku yang ku lihat tertunduk dengan senyum dan rona cahaya wajahnya yang khas……dan setelah itupula kebingunganku mencair…"masya Allah, apakah inilah benar sudah berakhir?"

6 tahun kemudian,02:30 WIB

"Abbi, yaa ayyuhalmuddatsir, Abbi, bangun bi?" suara halus nan lembut yang sangat ku hapal menghampiri telinga kanan ku, di iringi kecupan ringan dikeningku yang sangat ku kenal teksturenya. Sebab inilah sebuah alarm rutinitas terindah kami, begitulah kala bidadari membangunkan malamku, bersinergis pula oleh cubit-cubitan kecil di pipiku oleh sosok anak 5 tahun yang juga bangun malam itu. Tetapi sengaja mataku berpura tertutup, aku ingin menunggu panggilan yang lebih indah dari ini. Tunggu saja sejenak.

"Abbi, Abbi, Abbi Al Hafizd bangun, ayo imami bunda dengan surah An nur malam ini" Benarlah…tak langsungku terbangun, sebab kalimat indah ini dan reaksi selanjutnyalah yang selalu ku tunggu disetiap malam agenda qiyammulail kami. Agenda talaqqi qur'an kami. Agenda rihlahtulillah kamu. Agenda syukur dalam kesederhanaan hidup kami. Sengaja kelopak mata ku buka satu – satu demi satu, tak langsung terbangun, saling menatap penuh cinta dan tersenyumlah kami berdua dalam mesra dalam hening malam itu. Dan selalu ku balas dengan kata yang paling ia sukai "Bunda, aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana karena Allah dan RasulNya". Dialah istri dan putra pertama ku, yang setia menapaki setiap harinya pondasi keluarga ini dengan Al qur'an. Seorang istri hafizd yang akhirnya mendapati seorang suami yang kemudian hafizd. Indahnya keluarga dengan cahaya, istriku cahaya kehidupanku. Istriku nur (cahaya) yang lahir dari cahaya hafizd dan pemeliharaannya terhadap Al qur'an.

DIMENSI PERADABAN
Dimensi titik muara peradaban dimulailah
Bila ia ingin memulai bangunkanlah,
Walau tidurpun lelap dan mimpinya nikmat.
Bermesra ujian selalukan mekar harapan
Bangunkalh dan bisikkan “aku hanya mencintaimu karena Allah dan rosulnya”.
(Depok; Desember 07)

(170308 Izzatulgumam;kost Depok , Izinkanlah ku mencinta-Mu)

Sunday, March 16, 2008

AWARD UNTUK AKTOR DA'WAH PROFESI TERBAIK TAHUN INI

Semua menangisi kepergiaannya, begitupun aku merasa turut bersedih walapun tak mengucurkan air mata, hanya do’a saja yang terus bergulir, tapi tak kusangka ayahku ternyata terlihat sempat meneteskan beberapa butir air matanya saat tayangan itu. Entah apa motifnya, basyirah ku hanya mampu menangkap mungkin cerminan cerita masa lalunya yang mampu mendorong hingga air matanya menetes keluar. “kenapa harus secepat itu ya A’?” begitulah beliau bergumam kepadaku dengan sedikit menyeimbangkan antara raut muka kesedihan dan raut ketegaran saat menonoton tayangan itu. Begitu pulalah menjadi pertanyaan standar ayahku jika ada orang beriman public figure meninggal dunia.

Seorang pelawak nan sederhana Taufik Safalas meninggal dalam musibah tabrakan di perjalanan jihad keprofesiannya, beberapa bulan selanjutnya terdengar duka seorang rocker Gitto Rollies juga menghembuskan nafas terakhirnya dalam senyum akibat kambuh penyakitnya setelah jaulah da’wah. Berbagai kalangan hadir dalam pemakamannya. Kuantitas penta’ziah dari beda lintas umur dan strata sosial hadir menandakan bahwa beliau mempunyai mobilitas vertical dan horizontal yang baik. Orang baik diakhir hayatnya akan juga banyak dihadiri oleh orang- orang baik untuk mengiringi kepergiannya. Kata – kata yang terucappun dari banyak teman sejawat bukan hanya formalitas ucapan duka belaka,tapi ucapan – ucapan yang lahir dari hati dan bertanya untuk mengevaluasi diri sendiri “bisakah aku nanti wafat dalam keadaan seperti itu?”. Raut muka dari ungkapan hati yang tak mampu terbohongi. Begitulah aku menangkap dari tiap tayangan infotaiment yang terus bergulir hingga lebih dari tiga hari lamanya.

Tetap memberikan manfaat

Jika gajah mati meninggalkan gading, maka manusia wafat meninggalkan nama baik. Kehidupannya memberikan banyak manfaat, begitupun dengan kematiannya yang masih tetap memberikan manfaat buat da’wah dan umat walau sekecilpun. Cerita kematiannya mampu membawa nilai suasana ruhiyah tersendiri bagi para pendengar berita dan penta’ziah, mampu menjadi magnet menarik kuat suasana hati penta’ziah untuk merasa punya kewajiban merenungi kematian. Sulitnya berda’wah membuat orang merenungi kematian di zaman ini, kecuali jika dihadapkan pada contoh kondisi keadaan yang nyata, apalagi dikalangan artis dengan gaya hidup popularitasnya, tapi tak semua cerita kematian mampu membuat orang “kusyuk” merenung jika aktor cerita kematiannya tidak syarat makna ruhiyah yang kental. Terbujur kakunya terus dalam wajah bersinar di kurung batang masih mampu memberikan apresiasi ruhiyah tersendiri, seperti lukisan yang penuh makna dari tangan pelukis hebat yang dihayati berjam-jam oleh para pecinta lukisan. Kondisi ketenangan kematian yang baik (khusnulkhotimah) selalu mampu menusuk diterima oleh hati dan jiwa orang lain dengan baik. Membekas di hati para ta’ziah hingga kepulangannya juga kelak.

Lika-liku hidupnya adalah perjalanan sandiwara realita dari skenarioNya yang indah bagi penikmat cerita dan film drama realita keimanan. Serentak untuk beberapa hari hampir seluruh media elektronik, stasiun radio, televisi dan media Koran, majalah menyiarkannya tak henti-henti, tidak sekelas da’wah yang hanya memberitakan (news), tapi da’wah yang mengajak sekelas instansi infotaiment berbagai siaran “gossip”pun tershibghoh tak sadar turut berda’wah dengan “cara”nya. Tiap media menyiarkan biografi kehidupannya seperti menceritakan sebuah sirah rosulullah atau sahabat secara GRATIS. Tidak seperti memohon perjuangan mengoal-kan sebuah agenda acara keIslaman dibukan bulan dan hari besar Islam (Ramadhan) yang menuntut kompensasi dana besar dan penuh ketakutan untuk tidak diminati. Kematian yang tetap memberikan manfaat di akhir hayat dengan menyajikan “Film keimanan” terbaik juga dari kedua aktris intertaiment terbaik. Coba bandingkan berapa banyak dana yang dibutuhkan untuk membuat sebuah Film layar lebar bertemakan keimanan agar penonton tetap berada dalam bi’ah keislaman, ratusan juta bahkan milyaran.

“Film kematian” kisah akh Gitto dan akh Taufik yang menayangan cerita keimanan dari skenarioNya yang mampu menceritakan bahwa seburuk – buruk orang jika berusaha (istiqomah) akan mampu menampilkan cerita kebaikan diakhir hayatnya. Kematian yang bercerita, menjadi tausiyah da’wah keprofesiannya yang dasyat, sangat sulit bagi orang lain dan dari kalangan sendiri untuk bisa melakukan hal itu, hanya ia dan contoh perjuangan kehidupannya yang bisa bercerita tentang sebuah rangkaian ujian profesi dan pemahaman ayat-ayatNya yang kemudian beliau terjemahkan dengan akumulasi nyata berupa contoh tauladan kehidupan dan gerak da’wah konkret. Tidak banyak bicara. Bagaimana dengan manfaat cerita kematian kita nanti?

Perlu banyak contoh lagi

Inilah contoh aktor da’wah profesi terbaik dimasanya, inilah pula tauladan yang dibanggakan bagi keprofesiannya. Cukup singkat saja alur kehidupannya dari sederhana-populer tetap sederhana-kemudian wafat dengan tauladan kesederhanaan. Lahir menjadi seorang rocker pemabuk- rocker da’i- kemudian wafat dalam keda’iannya. Begitupun kita nanti,Sebab sejarah kehidupan kitapun akan hanya mampu diceritakan dengan singkat oleh orang lain, maksimal dalam dongeng singkat cucu-cicit kita menjelang tidur hanya dalam beberapa jam saja, kalaupun dibukukan hanya beberapa ratus halaman, dan bahkan jika ditayangkan televisi dalam sebuah cerita film mungkin hanya beberapa jam saja itupun jika mampu menarik ratting penonton. Kehidupan singkat yang harus penuh makna, jika karnaval jiwanya ingin dimaknai dalam waktu yang lama sepanjang masa, maka ikutilah kesepakatan umum ini: bahwa makna kehidupan hanya akan lahir di akhir cerita kehidupan kita, tidak diawal ataupun diproses pertengahan cerita hidup ini. berhati-hatilah dengan waktu akhir kita.Perlu banyak aktor keimanan regenarasi baru yang akan menjadi contoh actor da’wah profesi terbaik dimasanya dan ketauladan yang dibanggakan bagi keprofesiannya. Semakin banyak bibit yang ditanam, semakin banyak pula memanen dikemudiannya, sejarah yang secara otomatis akan mencatat nilai seberapa kuantitas dan kualitas pertanian masa itu. Semakin banyak contoh semakin mudah pula banyak orang senang ikut mencontoh, semakin banyak contoh semakin semangat juga orang lain merasakan sebuah nikmatnya keimanan dalam makna kuantitas.Tugas siapakah?

Aktor terbaik di masa dunia kejahiliyahan yang diakhirnya juga mendapat Award actor terbaik dimasa keIslamannya, diakhir hayat dimata umat dan RabbNya. Aktor da’wah profesi terbaik yang mengenal realita profesi dan memahami bagaimana membina akhlak keprofesiannya juga. Khusnulkhotimah, tidak selamanya seideal berada dalam jihad peperangan, jika Allah menghendaki maka para mujahid pun harus menerima takdirNya.Tiadapun Rosulullah meninggal tertimpa sakit saat itu, begitupula takdir seorang ahli strategi perang yang tidak juga meninggal saat kerja keahliannya;Khalid bin walid melainkan wafat dengan penyakitnya ataupun kisah tragis wafatnya Umar bin khatab;sang kreator ekspansi Islam,terbunuh saat salah subuh berjamaah ditakbiratul ihram pertamanya oleh senjata khanjar bermata dua milik seorang kafir Persia budak al mugirah; Abu Lu’lu’ah Fairuz. Tiada pada saat peperangan atau tiang gantungan, melainkan dalam keadaan jiwa yang selalu bergerak semangat dari kondisi komitmen dan istiqomah keIslaman melawan kejahiliyahan hingga akhir hayatnya.Selamat jalan menemui Rabbmu yang Agung dalam jiwa yang tenang Akh Gitto Rollies dan Akh Taufik Safalas oleh saldo amal dari tabungan jiwa kesederhanaanmu. Yaa Allahbihaa, yaa Allahbihaa, Yaa Allahbikhusnilkhotimah.

(Izzatulgumam;Bekasi; Ya Allah jadikanlah yang akhir itu sebuah kebaikan, 11/03/08)

Monday, March 10, 2008

MENAPAKI IKHLASNYA IKHLAS

Sulitnya meminta ikhlas dari apa yang orang lain lakukan untuk kita. Musykil meminta ikhlas jika yang dipinta tidak memiliki dan memahami ikhlas itu sendiri. Mustahil, jika tidak memiliki bagaimana bisa memberi. Seharusnya juga tanpa jasa. Aku dengan tekanan kedalaman laut terdalam menggapai kerang mutiara. Aku dan rambu-rambu banyak perasaan orang lain yang coba menerka seikhlas apakah kerang itu akan membuka memberikannya mutiara. Seikhlas awalan dan kesempurnaan akhirnya dalam penerimaannya. Jika ikhlas maka tak kenal kata siapa yang salah, siapa yang harta dan siapa yang unggul,sebab ikhlas adalah penerimaan hati. Inilah ilmu pelajaran kurikulum lama yang baru tersinggung, semoga siapapun tak tersinggung dibuatnya. Biarkan aku dengan diamnya diam, semoga masa statis ini krikil yang berubah menjadi mutiara yang jika masa panennya tiba nelayanpun semua bergembira dengan ikhlasnya pula.Biarkan aku dengan resiko ikhlasku, sebab aku harus menjadi pahlawan bagi semuanya, tidak untukku sendiri atau untukmu saja. Prioritas mengambil lebih banyak manfaat adalah makna sebenarnya kata pahlawan.Benarlah untaian kata cobaan ikhlas ini buat pahlawan “ketika orang merampas kamu membagi itulah peliknya. Ketika orang mengadu kamu bertanggung jawab itulah repotnya”, maka biarkanlah aku dengan resiko ikhlasku, resiko ketika orang tak memberi dengan ikhlas maka keutamaan azzamnya adalah untuk tak mengambilnya, apapun keadaannya nanti. Janganlah coba-coba mengambilnya sebab buih kan kau dapati, debu kan kau hampiri dan kesiaan kan kau lelahi. Ikhlas dan kebarokahan adalah dua mata air dalam sumber yang sama, jika salah satunya teracuni maka keduanya akan tercemar.Sekarang biarkan aku dengan tahfizku, tafsir qur’an ku dan da’wah sederhanaku yang akan menemani-memahami ku kelak sepanjang masa ini. Selama jarum jam masih berputar dan detik pun berdetak, selama itulah masih ada kesempatan; kesempatan apapun untuk beribadah kepadaNya. Yang telah digariskanNya lurus untukmu takkan pernah bengkok menghampirimu. Selama itulah menabung hikmah. Memohon maaf dan mampu memaafkan diri sendiri serta orang lain merupakan bentuk lain kesehatan dan kesempurnaan akal kita. Cukuplah ini menjadi tabungan berharga hikmah baru tahun ini dalam menjalani tarbiyah ilahiah.

(Izzatulgumam;my room 10/03/08: lail 01:30 WIB,Bekasi)

Monday, March 03, 2008

PHARMACIST CARIER BUILDING

Apa yang kita pikirkan itulah yang akan kita lakukan, apa yang kita miliki itulah yang akan kita bangun, begitupun maksud untuk judul dari kalimat tersebut, “apa yang kita miliki” bermakna suatu modal berupa rasa, kecenderungan, hobby, habbit (kebiasaan), emosi, minat, insting, bakat, pengalaman, pengetahuan profesi, skill profesi, human relationship, karakter leadership, maindset hidup (ideology) dan lain sebagainya. Background dasarnya tetap seorang farmasi. Hal itulah yang kita miliki maka hal itu pulalah modal yang akan kita bangun dalam merencanakan sebuah karier keprofesian kita, tanpa disadari ataupun tidak. “apa yang kita miliki” berupa keunggulan dan anugrah kekurangan merupakan kapasitas internal total nilai kepribadian diri dan kapasitas keprofesian kita. Tapi tak hanya sampai situ saja dengan sekedar mengkalkulasi “apa yang kita miliki”, sebab untuk mendapatkan produk dari godokan wilayah kampus (akademisi) menuju mahasiswa yang berkompeten dan professional terhadap keprofesiannya, perlu ada suatu kondisi keadaan dimana dari semua apa yang kita miliki kemudian menjadi terakumulasi, terfocus mengkrucut, mengkristal dan dilanjutkan pada tahap selanjutnya menjelma menjadi sebuah performansi profesi berwujud kompetensi terspesialisasi (ahli), akhir dari pembangunan perencanaan karier semua ini, berupa image atau pencitraan yang baik sebuah keprofesian dan diri pelakunya, dengan symbol pengakuan (eksistensi) oleh lingkungan profesi tenaga kesehatan lain dan juga masyarakat sebagai objeknya, tetapi aksi-reaksi kondisi keadaan ini membutuhkan energy dan waktu yang relative berbeda – beda bagi setiap orang dan instansi. Ada yang cepat dan ada yang lambat menyikapinya, sangat banyak factor pencetusnya.

Jika punya bilik dan papan maka yang paling mungkin dibentuk adalah membangun gubuk derita, jika punya tiang – tiang beton dan bahan bangunan lain maka memungkinkanlah membangun sebuah gedung, seberapa kuat dan bertingkat?Tergantung kemampuan dari apa yang kita miliki. Jadi apa yang menjadi masalah menuju performansi diri kita dalam wacana membangun karier, kompetensi dan eksistensi keprofesian kita?solusinya akan kembali berbanding lurus dengan bercermin kebelakang lapis sebelumnya, berupa kapasitas total internal diri kita. Coba renungkanlah sejenak kilas balik kehidupan kampus kita dahulu. Sudah berapa banyak ilmu-ilmu teori dan praktek keprofesian yang kita pahami dan mampu diaplikasikan secara mumpuni dengan pengakuan “siap pakai”, sudah berapa banyak pemahaman konsep diri, relation-leader ship dan managerial organisasi dari training berkelanjutan menjadi sebuah karunia pengalaman dan skill tersendiri kita saat dikampus dulu dari tuntutan tarikan waktu study dan organisasi, atau sejauh mana perjalanan pengalaman amal dalam membentuk sebuah attitude (sikap) dan moral dari keterlibatan kajiaan – kajian rohani Islam kampus yang melahirkan kebiasaan buah - buah akhlak yang akhirnya mendarah daging hingga sekarang. Atau seberapa luaskah jaringan kita semakna sejauh mobilitas horizontal-vertikal interaksi kita saat dikampus, pasca kampus dan masyarakat. Semua itulah kapasitas internal kepribadian diri kita dulu hingga sekarang, jika semuanya mampu terpenuhi maka akan mudah jualah terpenuhinya performansi kita didunia profesi. Semakin berkualitas dan seimbang diantaranya, akan semakin pula terpenuhi performansinya. Maka tak salah juga jika ketika dikampus hanya study oriented, akan lebih sulit membangun karier dan akan lebih lambat perjalanan karier didunia keprofesiannya kelak, sebab kapasitas internal dirinya hanya terbatas pada itu, sedangkan kebutuhan untuk bisa cepat terpromosikan atau menjadi seorang pemimpin yang baik (manager yang berakhlak) disebuah lembaga atau perusahaan profesional membutuhkan banyak pengakuan elemen lain berupa kapasitas komunikasi public, kemampuan bahasa, managerial team, leadership dan luasnya jaringan sebagai penguatan dukungan tentunya. Seharusnya bukan saatnya belajar lagi untuk hal itu, belajar lagi berarti menambah waktu dan penambahan waktu adalah sebuah keterlambatan perjalanan karier. Peluang, umumnya tidak datang dua kali pada waktu bersamaan yang memang kita butuhkan saat itu juga. Ketidak lengkapan atau kekurangan “apa yang kita miliki” jelas akan menghambat, memperlambat dan bahkan kadang merubah arah mata angin dari disain karier yang sedang kita bangun. Jangan bermimpi untuk berkarier go public bagi pelaksana private sector jika kemampuan skill keprofesian kita lemah atau jangan berharap berkarier melanjutkan pendidikan strata dua atau tiga bagi yang bercita seorang dosen untuk keluar negri jika bermasalah dengan kemampuan berbahasa.Realita hambatan lainnya saat dikampus dalam membangun awalan karier kefarmasian ini adalah sebuah ketidak seimbangan dan banyaknya kekurangan dalam ketidak sempurnaan. Inilah hikmah rasa syukur untuk terus melakukan perbaikan diri berkesinambungan yang juga perlu disikapi dengan bijak. Kasus sederhana, umumnya banyak seorang farmasis memiliki kemampuan yang lemah dalam berorganisasi dan bersikap interaksi dengan publik, kasus lainnya yang terbalik dari beberapa kelompok mahasiswa yang sudah baik tingkat sikap akhlaknya tetapi lemah prestasi akademisnya sehingga performansi yang timbul adalah hanya seorang “ustad-nya kampus”, sedangkan performansi yang diinginkan da’wah kampus adalah seorang ustad/ah kampus yang berprestasi atau berprestasinya seorang ustad/ah kampus. Jadi apa yang kita miliki itulah yang akan kita bangun, dan apa yang belum dimiliki selanjutnya akan menyusul dibangun dalam proses perbaikan – perbaikan (belajar) yang berkelanjutan.

Mendisain sebuah bangunan karier seorang farmasi sangatlah penting jangan sampai tidak terencanakan, tidak sistematis, berjalan apa adanya dan yang paling tragis tak sadar dalam melakukan serta merencanakannya. Sebab ilmu profesi kefarmasian adalah ilmu terapan yang merupakan potongan – potongan dari berbagai sumber ilmu lain, dampaknya banyak orang lain mampu menguasai ilmu kefarmasian ini walaupun kurang mendalam tetapi tetaplah terjadi kompetisi perebutan “nafkah” diwilayah profesi yang ketat. Inilah karakter yang umum dari sebuah bidang ilmu terapan manapun, begitulah hambatan saat menjelang menuju tingkat realita keprofesian. Mendisain berarti memulai melakukan kerja melengkapi apa yang kita miliki menuju visi gambaran karier kefarmasian yang kita inginkan, Belum terlambat jika kita belum ada apa yang dimiliki, jangan pesimis dengan segara melengkapi apa yang perlu dilengkapi. Mendisain berarti juga melakukan kalkulasi saldo dari apa yang kita miliki menuju akumulasi, kepengkrucutan, memfocuskan dan mengkritalisasikan karier kita sendiri hingga target membangun performansi dan dilanjutkan kelapisan terluar pencitraan dari kepribadian diri dan karier keprofesian tercapai dengan baik. Diaku kridebilitas tugas-tugasnya dan diakui pula eksistensi kewenangannya dalam menjalankan pelayanan profesi kefarmasian dengan sendirinya. Yang tahu tentang diri kita adalah diri kita sendiri, maka mendisainlah karier mu sendiri tanpa intervensi, membangun dan menikmatilah prosesnya dalam gelora semangat dari azzam yang telah direncanakan.

(Izzatulgumam 01/03/08 my room;lail, Bekasi)

HARGA SEBUAH AIR MATA

Apa yang istimewa dari air mata hari ini, kemarin, lusa dan beberapa bulan yang lalu disela ritual malamku?rasa fisiknya tetap sama: asin, tetapi kondisi yang hingga mampu membuatnya keluar cairan mata itu yang berbeda. Segenap tiap butir-butir yang berjatuhan membasahi hamparan sajadahku mampu memberikan apresiasi rasa tersendiri. Air mata yang ku cucurkan enam bulan lalu secara kontineu adalah air mata harapan, dan air mata yang ku cucurkan sekarang merupakan air mata kebahagiaan. Air yang sama dari susunan struktur molekul yang juga sama tetapi dengan struktur kimia rasa yang ditimbulkan berbeda. Adanya secercah harapan, sabar menanti maka kelak menjemput kebahagiaan. Penantiannya yang cukup lama, melebihi lamanya tingkat kebosanan dalam perang kejenuhan yang pasang surut kemenangannya. Air mata yang tak sanggup ku bendung dalam tekanan do’a yang mendalam, harapan do’a tersebut memberikan tekanan terbesar hingga bendungan kelenjar air mataku terbongkar mengeluarkan cairannya, tiap malam itu. Deras. Air mata yang mengisahkan sebuah perjalanan panjang perjuangan. Seorang tertarbiyah yang akhirnya memiliki dan mendapati dua teman yang juga ikut tertarbiyah mengapai hidayahnya. Apa yang istimewa dalam hal ini? tidak ada, sebab aku hanyalah penyampai berita..hanya itu, tidak lebih.Penyampai berita yang tak boleh menentukkan sebuah hasil, penyampai berita yang juga tak boleh menerima imbalan dari yang apa disampaikan kepada yang disampaikan. Hasil dan imbalan hanyalah wilayah otoritasNya. Segala usahaku pun tak luput dari kehendakNya dan cahaya yang diberikan juga berasal dari cahayaNya. Air mata kejujuran yang semata keluar dari ketulusan rongga kelenjar dua mata ku. Air mata yang saat itu memberikan ketenangan bahwa tugas ku hanyalah berikhtiar. Air mata yang seharusnya juga air keajaiban dari kedekatan dan do’a yang menimbulkan penyejukkan hati bagi yang sedang dido’akan, membasahi relung hati yang kering binaan, mad’u dan siapapun yang ku do’akan hingga saatnya cairan mata itupun tertumpah, luber meruah. Membanjiri setiap hari, membanjiri hati ku dan hati yang ku do’akan. Tenang, sejuk, dingin, teduh dan tidak reaktif terhadap kondisi apapun yang akan menimpa disiang harinya. Maka da’wahpun menjadi lebih mudah dicerna dalam kondisi wilayah hati yang seperti itu. Penyiapan sebelum dimalam-malamnya memberikan efek yang luar biasa disiang harinya, dalam da’wah yang memakai hati untuk mampu diterima oleh hati juga.Air mata sekarang dan malam – malam selanjutnya adalah air mata kebahagiaan. Kebahagiaan seorang pejuang yang akhirnya memilki dan mendapati dua teman pejuang juga. Air mata sekarang yang mampu menceritakan tentang pentingnya sebuah kuantitas teman tertarbiyah dalam menjaga sebuah hammasah dalam beramal. Kisah berharga ketika melihat temanku (setelah tertarbiyah) sedang tilawah dalam ibadah yaumiyahnya maghrib itu, mampu menjaga semangatku dikost saat lelah sepulangku dari kerja lintas provinsi. Cukup melelahkan hingga aku terlihat tak berbentuk,tapi itulah harga sebuah kuantitas, kembalilah ku memaksakan redefragment saraf- saraf sekitar muka dan saraf hati terpacu semangat kembali untuk tetap tilawah malam itu. Air mata kebahagiaan yang hanya aku bisa rasakan sendiri saat ini disela – sela kebahagiaan lanjutan kami menyelesaikan tugas akhir untuk wisuda. Dua kebahagiaan yang akan berbarengan, kebahagiaan duniaku dan kebahagiaan akhirat (bathin)ku, dengan modal yang sangat sederhana sebuah air mata dan do’a untuk memompanya keluar.Maka keluarlah banyak kebahagiaan hakiki setelahnya, bagaimana dengan arti air mata anda?.

(Izzatulgumam, 02/03/08; Bekasi. My room)

HADIAH DARI SEORANG AYAH


Apa yang menarik dari sebuah hadiah?yang ku tahu dari beberapa pemahaman keIslamanku selama ini, hadiah dapat menimbulkan rasa cinta bagi seorang yang memberi dan penerimanya, tetapi jika niatan itu memang tulus ikhlas dari sang pecinta. Modalnya dasarnya ketulusan dan selebihnya tidak akan menilai apa jenis dan berapa nilainya hadiah tersebut. Nilai yang non material mampu mengalahkan segalanya dalam hal ini, harga hadiah ungkapan non material mampu menutupi kekurangan nilai dan jenis apa yang dihadiahkan material. Seperti keadaanku bulan ini seorang ksatria keluarga :ayahku memberikan hadiah sebuah bangunan rumah mungil tepat berada disamping rumahnya, tetapi mungkin lebih cocok jika dibilang sebuah “pavilliun”. Sangat minimalis, penuh dengan cinta sebab warna cat yang menyelimutinya pun berwarna pink, akupun tersenyum terkulum saat pulang dari kost depok melihatnya. Menebak – nebak emosional cinta apa yang membuatnya menghadiahkan hal tersebut. Memang kebutuhanku untuk memiliki kamar sekaligus ruang kerja pernah kubesitkan kepadanya, sebab segala koleksi buku-buku dan arsip- arsip yang ada diruang kamarku sebelumnya tidak lagi mumpuni menampungnya, selain itu kebiasaanku “berkerja” dimalam hari dan melakukan kegiatan “ritual ruhiyah malam” cukup tidak ideal lagi dikamar itu yang sekarang dijadikan tempat ruangan shalat (musholla mini) rumahku, dan terkadang agak mengganggu ekosistem kondisi ruangan kamar lain adik- adik dan orang tuaku yang pola kebiasaannya berbeda denganku. Teman – teman kostku pun banyak bilang kalau aku memang lebih tepat dijuluki “manusia malam”, tapi tenang banyak produk- produk berharga dan istimewa umumnya dilahirkan pada kebiasaan malam itu, sekarang memang agak mengganggu untuk keadaan dikost yang satu kamar dihuni oleh tiga orang. Mungkin ayahku menangkap itu, anaknya membutuh sebuah ruang bebas berkarya dan melakukan “ritual ruhiyah malam” dengan tenang tanpa ada yang mengganggu sehingga bisa lebih khyusuk. Sungguh sebuah hadiah yang menimbulkan gelora gairah berkarya yang semakin besar dalam jiwaku. Terimakasih ayahku, sosok seorang ksatria keluarga, walaupun aku sebenarnya tidak pernah melihat berapa nilai dan jenisnya, yang kutangkap dalam basyirah ini hanyalah sebuah emosi cintanya seorang lelaki ksatria (ayahku) terhadap anaknya yang juga lelaki (calon) ksatria kelak, dengan rangkaian aplikatif dari kondisi pengalaman dan pemahamannya tentang sebuah cinta sederhana, tapi bagaimana dengan nilai momentum pemberian hadiah cinta itu didalamnya? Basyirahku tidak mampu menangkap terlalu dalam tentang itu, yang kutahu memberikan hadiah pada seorang dapat menimbulkan rasa cinta, itulah sebuah kebenarannya.

(Izzatulgumam 02/03/08 my room; Bekasi)