Part Desember (1)
21:15 WIB “Cobalah dulu akh gumam” sergahnya dalam harap. Ekspresinya yang meningkatkan gelombang ithiromku untuk tetap mengambilnya.
“Jazakallah, nanti ana kabari secepatnya” kuterima sepucuk amplop itu. Rasa harap, cemas berbalut keyakinan sedang tidak ada dihari ini, entahlah kenapa maka segera ku pulanglah setelahnya, ku sela sepada motor yang sudah ingin lekas meminta pulang juga setelah dari pagi menemani da’wahku hingga malam ini.
Seperti biasa, seperti tak ada kejadian yang istimewa padahal sebelum-sebelumnya kejadian seperti ini merupakan momentum spesial dalam hidup sesorang muslim (ikhwan). Menerima sebuah biodata umumnya teman-teman ku merasakan seperti memegang dan merangkul sebuah bukit uhud. Inilah kali yang ke tiga, fikir ku bergumam.Terbiasa berbalut jenuh jadi hampir mengendap, bak rutinitas matahari bersinar dan sesampai waktu sore pun tenggelam. Tak ada yang spesial,turunnya air hujan yang pasti jatuh kebumi, juga bilamana anak pertama dewasa akan berkurang “kaget”nya ketika lahirlah anak lanjutan. Sudah lebih dari tiga bulan aku baru kembali mendapatkan biodata akhwat dari seorang “Pembina”.
22:15 WIB
Sesampainya pulang, biasanya ku tutup pintu rapat dan membacalah, tapi kali ini kuletakkan acuh di meja belajarku. Entahlah juga mungkin hari ini kelelahan cukup menyita dan semangatpun sedang membungkam. Berfikirku biarlah saat qiyamulail nanti baru ku buka sepucuk amplop itu. Malam ini lebih hening, orang tua, adik dan keponakkanku sudah tertidur pulas dalam ruang mimpi yang indah.
03:45 WIB
Shalat witirku pun selesai, qiyamulail malam ini begitu berat. Amalan yang berat melahirkan pahala yang besar pula, begitulah hiburku dalam kantuk yang mendalam. Tidak dengan ayat – ayat panjang kali ini. inilah yang membedakan kita dengan generasi qur’an yang menjadi generasi awaliun, qiyamulailnya merupakan madrasah malam talaqi qur’an kepada Rabbnya, qiyamulalilnya adalah penghayatan akan visi dan tarbiyah ruhiyah menuju rihlahtulillah, qiyamullail juga ternyata bentuk ungkapan ungkapan rasa syukur yang takkan terhenti. Berputar ditiap malam hari-hari dari kenikmatan lelah harimau nya siang dan biksunya malam. Ayat –ayat makkiyah dibacakan pada periode makkah dan ayat-ayat madaniyah dibacakan juga pada periodenya, sebagai penyadaran kembali akan visi, “menghapal” misi dengan jiwa yang sadar, hati tenang terbuka sehingga ayat yang dibaca mampu berdifusi secara perlahan, tapi pasti menyerap, menusuk, memberikan energi kembali.
“Sreet…”tenyata lem perekatnya agak kuat sehingga amplopnya terpaksa ku robek. Ku buka hingga beberapa lipatanpun terungkap. Langsung seperti biasa ku lihat bagian prioritas biodata dari urutannya; amanah da’wah, yaumiyah, dan lama tarbiyah.Itu yang lebih penting dari semua. Aku baru menemukkan foto dalam halaman terakhir dari lembaran – lembaran tersebut.
“ Masya Allah, sepertinya aku pernah bertemu, benarkah ia?” kagetku yang menghentakkan kantuk, reflek akselerasi saraf kedua matakku pun berkontarksi dengan cepat sehingga lensa mata keburaman menjadi ketajaman. Wajah yang tak asing, sebab foto dalam biodata ini mengingatkanku pada kisah “gelombang” di Bus Kuning dua tahun yang lalu, akhwat jilbab warna coklat, berkacamata dengan Nur (cahaya) rona wajah yang ku kenal betul ekspresinya. Foto dan bayanganku pada nur (cahaya) wajah itu tak Jauh berbeda, hanya saja terlihat lebih dewasa. Tak menyangka dunia ini penuh misteri, misteri yang tak mudah ditebak, tentang perjodohan apalagi yang begitu ghaib, begitu musykil tapi pasti. Misteri yang membuat aku serasa bermimpi. Didahului dengan mimpi….dan sekarang apakah aku masih bermimpi ya Rabb?. Segala tentangnya sekarang nyata dalam gambaran singkat diri, keluarga dan aktifitas da’wahnya. Akhir halaman itulah yang akhirnya membuat ku harus mengulang membaca secara serius, hingga beberapa kali balik. Kantukku hilang dimakan penasaran mendalam. “benarkah ini wanita itu, ya Rabb?” bertanya dalam kebimbanganku sendiri.
“Subhanallah, beliau hafidz!akhwat ini hafidz qur’an” begitulah dihalaman kedua beliau bercerita,sadar hati ku bergumam dalam relung terdalam. Tak kusangka diusia yang muda dan dikampus yang serba sains ini masih ada penghapal qur’an sejati. Acuh menjadi semakin mengacuh dan menghina diri sendiri untuk merendahkan diri.
“Aku,.. apa yang bisa ku banggakan dan kubandingkan tentang ke Islamanku nanti diproses ta’aruf, Juz 30 saja banyak yang bolong,…uhhff” fikirku mendalam malam itu bersama bintang. Bintang yang mampu bercerita banyak tentang malam. Ketaatannya menerangi malam seharusnya mampu mengiringi ketaatan ibadah ku.
“Bukankah seorang hafidz selayaknya juga mendapatkan seorang hafidz”, merendahku pada posisi kondisi jiwa yang lebih rendah. Rendah diri yang sadar akan kapasitas diri.
“Ya Allah,pasti pembinaku salah kali ini atau mungkin tertukar dengan temanku ….bukankah beliau juga tahu kapasitasku yang lemah dalam menghapal”, memang jika harus memahami suatu makna tafsir, membaca permasalahan da’wah untuk mencari solusi dan membuat strategi menjadi kelebihanku.Begitulah teman-teman ku sering menjuluki seorang creator or analisator da'wah. Hal lain adalah telinga ku yang kata banyak orang jika mendengar maka mengingatlah ku.
“bagaimana nanti jika akhwat itu meminta mahar sebuah hapalan qur’an, wah gawat darurat siaga satu akhi” renungku dalam hayalan yang terlalu panjang, walau aku hanya mampu menebak menjaga optimis, mungkin akhwat itu hanya meminta kelengkapan hapalan standar seorang ikhwan; juz 30,29 dan surat Al anfal, Al Kahfi, Al an’am juga surat At taubah.
”mungkin sekitar itu” hibur kepesimisan ku sejenak. Sebab ada dari beberapa kisah temanku, calon istrinya meminta muroja’ah Qur’an sebagai mahar pernikahannya. Memang agak tidak begitu mengkhawatirkan jika itu standarnya,sebab sudah ada dari beberapa bagian yang ku hapal dengan lisan penuh dan dari kesemuanya telingaku mampu menghapal dengan jelas. “ini harus menjadi biodata yang terakhir kupegang, apapun resikonya nanti bisakah??” azzamku bergelora. Aku sudah terlalu letih untuk masalah ini. Akhir dari kepastian yang terus menuntut masa depan.
04:30 WIB
Adzan berkumandang dengan lantangnya , membangunkan semesta untuk berdzikir kembali dari lalai dan istirahatnya malam. Agenda amal senin memanggil segenap raga, agar tetap semangat. Memulai dengan gairah hidup untuk sebuah harapan baru……”Ya Rabbi aku harus lebih hidup hari ini, yang hidup untuk menghidupi” sambil ku tutup mushaf yang ku genggam erat.
Part Desember (3)
14:00 WIB
“Seperti biasa,harus sesederhana dan sejujur mungkin!!” sergah hatiku berkata dalam prolog sendiri, memantapkan sebuah visi hidup yang selama ini diambil menjadi sebuah jalan hidup dan lifestyle ku. Menatap jam dan waktu yang terus bergulir akan janji sore ini untuk ta’aruf dengan akhwat tersebut. Tidak ada persiapan istimewa, hanya berbekal qiyamullail malam tadi, aku rasa itu sudah lebih dari cukup. Seperti biasa, ku siapkan laptop dalam tas dan Al qur’an yang akan setia menemaniku setiap saat.Cukup itu. ”semoga ini menjadi yang terakhir!!”.
17.15 WIB
Klarifikasi, verifikasi, validasi dan konfirmasi telah selesai sudah. Jam sore itu pun memanggil iri dengan keberkahan proses ini. tetapi belum juga dilakukan proses “closing” oleh kedua belah pihak, sebab terhalangi oleh kehangatan yang terjadi dalam proses ini. Semua saling menunggu malu-malu untuk mengakhri peristiwa ini, yang ditunggu akhirnya termuntahkan dari salah satu pihak.
“Apakah antum mau langsung melanjutkan proses ini akh gumam?” seru pembinaku saat itu dengan wajah yang penuh gelora harap.
Tak kujawab langsung. Kutatap sekilas untuk terakhir kali menyakinkan bahwa diwajahnya ada tersimpan sebuah harapan dalam Nur (cahaya) wajahnya yang sederhana mampu menyiratkan gelombang optimisme, gelombang emosi raut semangat pembangun peradaban, dan kilatan bayangan kaca matanya mampu bercerita tentang kematangan ilmu dan pengalaman da'wah.
"Bismillahirrahmanirrahiim, insya Allah Ustad". ku tundukkan kepala sejenak ku barengi dengan ucapan istigfar.
"Bagaimana dengan anti, apakah ingin menjawab langsung hari ini juga?". Sela Pembina ku, memastikkan. Keadaanpun menjadi hening sejenak, seakan semua membungkam dalam kompak serempak.
“insya Allah, tapi ada satu syarat mutlak jika akh gumam memang serius, bisakah antum menghadiahkan saya dua buah hapalan surah Al qur’an selama proses ini dan selanjutnya nanti?". Tanyanya dalam senyum yang khas tidak menghadapku jelas.
"Ya, Rabbi Benar dugaanku", kelemahan diri yang tak bisa terhindari, kelemahan diri yang memang harus dihadapi."ya, tergantung ukht, sepanjang surat apa?". Tanya ku menjaga emosi, sebab tetap berharap momentum ini adalah kejadian yang harus menjadi momentum terakhir.
"Keinginan ku cukup sederhana kok akhi, apakah antum sudah hapal surat An Nuur dan Luqman akh?". Memang keinginan akhwat itu yang cukup sederhana dalam menciptakan keluarga Islami, menjadikan surat An Nuur menjadi cahaya bagi visi keluarga da’wah dan surat luqman menjadi pondasi aqidah dan pendidikan jundinya kelak. Beliau hafizd dan telah hafal dengan fasih ketika menceritakan beberapa ayat pentingnya kedua surat itu kepada ku dan kepada dua Pembina yang hadir dalam diskusi wacana membangun pondasi keluarga Islam.
Otak ku saat itu berfikir keras, sambil ku buka mushafku segera. Jelas aku tidak hapal kedua surat itu semuanya. Jika penggalan ayat- ayat pilihan dari surat luqman dan An nur itu masih mudah ku hapal sebab saat mengaji di TPA (sekolah dasar hingga SMP, enam tahun lamanya mengikuti lembaga itu; hingga tahap melagukan qur'an ku geluti) dulu hal itu menjadi hapalan harian sebelum memulai pengajian berlangsung dari sekian banyak hapalan lain (surat Al imran tentang ukhuwah, ayat kursi, dan beberapa penggalan surat Yaasiin,dll), walaupun sebenarnya baru bisa ku pahami ketika ku Tarbiyah selama ini. Ayat dari surat Luqman yang sering dibacakan mengisahkan perintah seorang ayah agar anaknya menjaga dan memurnikan ketauhidan hanya kepada Allah swt.Telinga ku lah yang menjaga hapalan itu, telinga yang mampu merekam suara dari banyak nada didunia ini. Nada ayat itu masih terpelihara dalam telinga dan terkunci dalam hati ku hingga sekarang. Ku bolak – balik menghitung seberapa banyak lembaran halaman dari gabungan kedua surat tersebut, ternyata semua digabung berjumlah sekitar 10 lembar banyaknya tepat sekitar 1 juz.
"fiuuuuh, ana belum hapal, berarti sekitar satu juz ya ukht, apakah hal itu memang harus menjadi syarat mutlak untuk menikahkan ukht?". mengajaknya juga untuk memastikan hasil kalkulasi ku yang ternyata memang tak salah. "Yap syarat mutlak.Apakah ada yang salah akhi, satu juz untuk jangka dua bulan, apakah antum keberatan akhi?" tantangnya dalam rona wajah yang tetap terlihat teduh.
"ana yakin, antum pasti bisa kok akh gumam" udara keoptimisan yang dihembuskan ke telingaku oleh kedua Pembina yang hadir.
"ok jika itu memang menjadi sebuah kebaikan, ana terima syarat mutlak yang akan insya Allah saya penuhi dalam dua bulan ini" memastikan tantangku kembali. Benar juga kenapa tidak harus dicoba dulu, toh syarat itu tidak ada nilai mudharatnya malah lebih banyak nilai kebaikannya.
“surat Luqman untuk talaqi dalam pertemuan dengan antar orang tua ku dan surat An Nuur yang antum harus hadiahkan untuk pernikahan nanti” begitulah aturan yang beliau ceritakan sebagai sebuah adat tertentu ditiap siapapun anggota keluarganya yang ingin menikah.
"Kenapa antum bisa begitu yakin dan percaya sekali dengan ku, ukht? Bukankah orangtuamu pun belum di minta persetujuannya" keherananku berjurus tanya-tanya penuh keinginan menjawab keraguan. Entahlah Pembina ku dan pembinanya pun seakan diam menyembunyikan sesuatu.
“insya Allah keluarga ana sudah berpesan setuju terlebih dahulu dari niat dan keberadaan antum, ayahku mengenal dan percaya betul dengan antum akh”. Upaya akhwat itu menyakinkan ku.
“akhi antum masih ingat saat beberapa tahun lalu mengajak seorang imam besar masjid myanmar berkeliling kota malam itu? Itulah ayahnya, ukht ini lahir dari istrinya yang di Indonesia (sekarang keduanya tinggal di Myanmar)". Selak ucapan Pembina mengusir keraguanku.
"yap ayahku kenal betul dengan ustad (Pembinaku) antum akhi". Menimpali ucap akhwat itu dalan ketidak percayaan ku akan momentum jarang ini.Pembinaku pun hanya mengangguk, menandakan kebenaran ucapan akhwat itu.
“Subhanallah,Pantas saja, kenapa pembinaku tak memberitahuku sebelumnya”. Seakan ku tak percaya. Memang saat pertemuan itu kami sangat terbuka dan hangat sesekali berduskusi selama perjalanan mengantarkannya keliling kota malam itu. Sosok imam besar masjid Al hafizd yang sangat berwibawa, fleksibel dan menghargai setiap pendapatku walaupun usia ku jauh sangat lebih muda. Mulai diskusi tentang da'wah, sosial masyarakat dan tentang lemahnya umat muslim untuk mengkaji Al qur'an. Pesan singkatnya yang paling berharga saat itu adalah "menghapal Al qur'an itu mudah akhi, kuncinya ikhlas dan taat jangan dipaksakan, maka hati akan mudah menerimanya".Saat itu juga beliaupun menyarankan metode yang paling mudah dan sederhana dalam menghapal Al qur'an tanpa "memaksakan diri" yaitu dengan mengulang cukup sepuluh kali tiap satu ayat dalam sehari. Jika ingin menghapal kata basmallah maka ucapkan kata "bismillahirrahmaanirrahim" sepuluh kali, insya Allah akan hapal tapi ingat kuncinya ikhlas dan taat, jaminnya. Senyum khasnya memandangku setelah memberikan tausyiah itu seakan mengharapkan ku juga menjadi seorang hafizd qur'an.Terbangkit bayangan kenanganku, Ia pun saat itu pernah bercerita kepadaku tentang anaknya yang sudah hafizd setelah masuk bangku kuliah, tetapi beliau tidak merinci dengan jelas siapa anaknya itu dan kuliah dimana.
Matahari yang melahirkan matahari, seorang hafizd qur’an dari seorang ayah yang juga hafizd qur'an. semakin minder saja aku sore itu, siapa aku, siapa ayahku, siapa keluargaku, tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang hafizd bahkan juz amma saja masih terbata-bata dan yang lebih parah beberapa dari keluarga masih dalam tahap belajar I’qra.
"The last,pesan ayah ana antum langsung saja datang ke rumah nanti dengan ayah atau beberapa perwakilan keluarga antum. Pesannya juga salam dari ayah ana buat antum akhi".Akhwat itu terlihat sejenak berfikir seakan megingat sesuatu " Oh ya, bulan depan ayahanda dan ibu akan datang ke Indonesia, semoga antum bisa meluangkan waktu dibulan itu ya" sergahnya, seakan mempercepat percapakannya sebab memang waktu sudah beranjak akan adzan maghrib.
"wa'alikumusalam" Mengangguk aku, ku tahu maksudnya bahwa tak perlu ada pertemuan perkenalan antara aku dan kelurganya (ayahnya) karena sepertinya keluarga beliau sudah mengenal dan menerima ku sehingga memotong singkat waktu proses yang ada."Insya Allah akan ku coba ukh, jika anti adalah jodohku maka takdirku adalah hafizd" azzam ku yang penuh qonaah dan tawakal.
Izinkanlah ku mencinta
Biarkan aku menggapai hafizd ku
Menggapai yang tak boleh pergi lagi
Menggapai gelombang yang tak boleh hilang lagi
Azzam hafizd ku yang kelak menanti takdir pasangan jiwaku
Ya Rabbi pemilik cinta, izinkalah ku mencinta
Mata, telinga, dan hati izinkanlah aku menggapai hafizd ku
Januari Mentari (3)
Ahad, 10:00 WIB
Hari ini mentari harus berpihak kepada ku, harus tersenyum merekah dengan ikhlas diwajahku, walaupun selama perjalanan hanya ada diam dalam gumam menggapai hafizd ku yang takut hilang, takut terlupa. Malu yang tak bisa ku bayangkan jikalau ku lupa saat talaqi nanti yang diperdengarkan oleh dua buah keluarga besar. Sebenarnya sudah ku hapal, hanya takut dalam perjalanan Bekasi-Jakarta membuat mata ini tak terkendali sehingga hatipun bisa bermaksiat tak terkendali, hanya menjaga. Aku, Ayah dan beberapa anggota keluargaku datang dengan satu mobil sewaan, bukan sedan atau sekelas kijang keluarga tapi menyewa angkutan umum:Koasi sehingga kebersamaan pun melekat, merekat dan hangat. Maklum hanya itulah kemampuan keluargaku sekalian juga menerapkan azas manfaat, memberi banyak manfaat pada lingkungan sekitar yang kebetulan tetanggaku adalah supir mobil koasi. Tetap saat semua mampu menikmati perjalanan, aku hanya bergumam tak henti dengan mushaf yang terus ku pegangi erat.
"ayo A' hapalin, jangan malu-maluin loh" ledek adik-adik ku yang terlihat cukup menikmati perjalan ini.
13:30 WIB
Waktunya talaqqi qur'an. Setelah semuanya mampu mencairkan suasana, setelah semuanya berdiskusi dengan hangat. begitupun aku yang sangat rindu sekali dengan imam besar itu, seakan bertemu dengannya kali ini serasa rindunya bertemu dengan sosok seorang khalifah besar. Kehadiranku yang apa adanya dengan angkot diterima dengan sambutan senyum berbaris dihalaman depan rumahnya.Tanpa beban, ikhlas yang mengalir deras terlihat ditiap raut dan tiap gerik bola mata saat setiap anggota keluarga ku dan keluarga akhwat itu berinteraksi, hidangan pun berkah terlahap setelah semuanya shalat dzhur berjama'ah di musholla rumahnya. Rumah minimalis dengan halaman yang sangat luas menurutku sehingga kehadiran keluargaku cukup ditempatkan dihalaman kebun belakang rumahnya yang asri tersebut. Semakin menambah atmosfer kekeluargaan saat itu.
"waktunya untuk talaqqi, mintalah janjimu Nak" ayahandanya mengutarakan maksudnya dengan halus.
Terdengar juga oleh telingaku perkataan itu, menyadarkan kembali janjiku pada akhwat tersebut untuk talaqqi surah luqman kepadanya dan keluarganya. Sebagai syarat mutlak melanjutkan proses ini.langsung saja ku ambil alih kendali suasana siang itu, semua muka tertuju kepadaku.
"baiklah untuk mempersingkat waktu, alangkah baiknya segera ku penuhi janjiku untuk talaqi. Jika ada yang keliru segeralah perbaiki aku ya" memintaku persetujuan semuanya untuk memulai.Dan semuapun terdiam kushyuk mendengarkan.
"a 'udzubillahiminsyaithonirozhim, bismillahirrahmaanirrahiim. Aliflaaam miiim……" entahlah seakan aku menjadi lebih tenang dan lebih kusyuk membacanya pada momen ini, seakan surah ini menjadi sebuah kebutuhan inheran bagi ruh ku saat ini. Semua masih teliti mendengarkan talaqiku, ada beberapa keluarganya dan keluargaku yang mendengarkan sambil mengkaji membuka mushaf takut terjadi kekeliruan hapalanku.hening…
Hampir di akhir dua ayat terakhir, akupun terdiam menghentikan bacaanku. Persis di dua ayat terakhir aku tak mampu meneruskan bacaanku. Wajahku tertunduk sejenak, berat sekali ku lanjutkan ayat ini. Semua yang hadirpun banyak tanya, dan ada beberapa yang berusaha mengkoreksi "akh gumam, ya ayyuhannas…2x.". Aku tetap diam sebab aku sangat hapal artinya.
"Hai manusia, bertakwalah kepada tuhan-mu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak yang tidakdapat menolong anaknya dan seorang anak yang tidak dapat menolong bapaknya sedikitpun….(Qs 31:33)". diamku dan sedihku membawaku pada keadaan keluargaku yang lemah sekali dari pemahaman dan kedekatannya dengan Al qur'an. Diam dan sedihku menerawang ku pada ketakutan pada hari dan berita besar itu. Hanya Al qur'an yang dapat menyelamatkan keadaan manusia nantinya.
"akhi, ya ayyuhannas…." Nada suara halus yang membangkitkan semangatku untuk melanjutkan talaqi ini, akhwat itu memanggilku untuk melanjutkan menyelesaikan dua ayat terakhir surah luqman itu.
"ya ayyuhannasuttaquu….." ku ucap lanjut bebarengan dengan keyakinan ku untuk bisa melanjutkan kehidupan ini bersamanya kelak jika memang ia adalah yang terbaik. Selesai sudah talaqi ku, disambut haru bagi yang mendengarkan semua. Ayahku hampir tak percaya kalau anak nya cukup bagus bacaan qur'annya, senyum bahagia ku lihat dalam rona imam besar itu sambil menganggukkan kesetujuannya, tapi anaknya hanya tertunduk hijab.
"gimana ya ustad kelanjutannya, nanti" ayahku mengambil bicara setelah hapalanku selesai terucap ke keluarga akhwat itu.sedang aku masih terdiam, tak menyangka aku bisa melakukannya dengan baiak hari ini. Bersyukurlah.
"Thoib, ya sudah jika niat dan kewajibannya sudah terpenuhi, maka haknya harus sudah boleh termiliki" begitu tawadhu dan wibawanya beliau jika berbicara.
"Maksud ustad?" tanyaku memperjelas kalimat tersebut.
"Maksudnya kita akad nikahkan saja sekarang, tidak usah menunda-nunda waktu yang ada, saya pun sudah menyiapkan penghulunya,lengkap sudahkan syaratnya pak?" sedikit memaksa ku dan keluarga yang ini merupakan rencana diluar kendali. Memang sangat jarang hal ini terjadi. Ayah ku pun hanya terbingung, malah menatapku…..seakan meminta jawaban dari sinar mataku juga. Sekelebat itupula ayah bunda ku saling berbisik….terucaplah keputusan
"sungguh sangat mulialah kejadian hari ini, kami sebagai keluarga hanya menyerahkan kembali kepada anak kami gumam, gimana nak?" kulihat sinar mata keikhlasan terpancar.
"Tapi ustad, Ana belum hapal surat An Nuur seluruhnya ustad? Panik ku, terlihat sekali wajah gagap ku kali ini. memang benar sebab baru setengah dari surah itu sedang ku hapal. Semua yang hadir menatap focus kepadaku, tajam dan menerkam, tapi entah kenapa sesaat itupulah lah semua tertawa dan tersenyum dengan riangnya. Begitupun "gelombang hafizd"ku yang ku lihat tertunduk dengan senyum dan rona cahaya wajahnya yang khas……dan setelah itupula kebingunganku mencair…"masya Allah, apakah inilah benar sudah berakhir?"
6 tahun kemudian,02:30 WIB
"Abbi, yaa ayyuhalmuddatsir, Abbi, bangun bi?" suara halus nan lembut yang sangat ku hapal menghampiri telinga kanan ku, di iringi kecupan ringan dikeningku yang sangat ku kenal teksturenya. Sebab inilah sebuah alarm rutinitas terindah kami, begitulah kala bidadari membangunkan malamku, bersinergis pula oleh cubit-cubitan kecil di pipiku oleh sosok anak 5 tahun yang juga bangun malam itu. Tetapi sengaja mataku berpura tertutup, aku ingin menunggu panggilan yang lebih indah dari ini. Tunggu saja sejenak.
"Abbi, Abbi, Abbi Al Hafizd bangun, ayo imami bunda dengan surah An nur malam ini" Benarlah…tak langsungku terbangun, sebab kalimat indah ini dan reaksi selanjutnyalah yang selalu ku tunggu disetiap malam agenda qiyammulail kami. Agenda talaqqi qur'an kami. Agenda rihlahtulillah kamu. Agenda syukur dalam kesederhanaan hidup kami. Sengaja kelopak mata ku buka satu – satu demi satu, tak langsung terbangun, saling menatap penuh cinta dan tersenyumlah kami berdua dalam mesra dalam hening malam itu. Dan selalu ku balas dengan kata yang paling ia sukai "Bunda, aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana karena Allah dan RasulNya". Dialah istri dan putra pertama ku, yang setia menapaki setiap harinya pondasi keluarga ini dengan Al qur'an. Seorang istri hafizd yang akhirnya mendapati seorang suami yang kemudian hafizd. Indahnya keluarga dengan cahaya, istriku cahaya kehidupanku. Istriku nur (cahaya) yang lahir dari cahaya hafizd dan pemeliharaannya terhadap Al qur'an.
DIMENSI PERADABAN
Dimensi titik muara peradaban dimulailah
Bila ia ingin memulai bangunkanlah,
Walau tidurpun lelap dan mimpinya nikmat.
Bermesra ujian selalukan mekar harapan
Bangunkalh dan bisikkan “aku hanya mencintaimu karena Allah dan rosulnya”.
(Depok; Desember 07)
(170308 Izzatulgumam;kost Depok , Izinkanlah ku mencinta-Mu)