Monday, July 26, 2010

10 FIRST THINK (to do) AFTER MERRIED (1)

Pesanan dari sehabat kebaikan!!semoga royalti pahala terus bergulir. Idea judul tulisan yang kemudian mengispirasi saya untuk menulis. Seperti kata saya, alasan saya menulis hanya dua : pertama karna ada tuntutan kebutuhan, dan kedua biasanya hanya karna ada yang saya ingin disampaikan, selebihnya saya kurang tertarik untuk menulis. Kali ini saya menulis karna menurut saya ini pantas untuk disampaikan dengan deru – deru perlombaan kebaikan teman – teman yang banyak menggenapkan agamanya menjelang ramadhan ini, tapi semoga saya punya konsentrasi kesabaran yang tinggi untuk merampungkannya disela aktifitas saya yang membutuhkan konsentrasi juga : Persiapan mapping BPOM, Finishing rumah baru,...dll. Allahumma amiin.

Tetap!!Niat yang ‘LURUS’ dan ‘TERANG’ (Edisi Menikah).
Baarakallah...Panen raya tlah tiba!!
Yang pertama merubah status kita adalah Allah swt, kemudian adalah sosial masyarakat. Hak dan kewajiban pun berubah 180 derajat, begitupun nilai ‘reward’ yang Allah berikan. Banyak amalan - amalan baru yang kemudian terubah menjadi nilai pahala yang berbeda. Saya tidak perlu beri tahu rincian amalan ringan apa yang dulunya saat single tak bernilai akhirnya saat berpasangan menjadi nilai ibadah yang besar. Sangat disayangkan jika tidak diniatkan dengan baik dan benar agar bernilai ibadah.
Setelah menikah seakan kita berpanen raya amal kebaikan setiap saat, setelah terjadi ikatan sakral itu seakan kita memiliki ladang luas dan lumbung amal – amal kebaikan yang tak pernah habis terpanen setiap detik, jam dan waktu. Lumbung amal kebaikan yang juga masih tersisa jika ‘dimakan’ habis pada hari itu juga, lumbung prosfektif yang tesimpan untuk jangka yang sangat panjang (akhirat). Niatlah yang membuka pintu gerbang parade – parade panen raya amal kebaikan tersebut. Maka, pastikanlah NIAT menjadi awal membangun landasan keharmonisan, niat menjadi awal pondasi, niat menjadi sari eksistensi da’wah bina usrah ini. Jadikanlah niat menjadi hal yang ‘sakral’ sebelum memandang, menilai dan melakukan sesuatu untuk pasangan kita.

Tantangan niat
Variabel kehidupan kita setelah menikah akan bertambah, ada istri dgn paket sejarah kehidupan sosialnya, anak, orang tua istri dan runtutan keluarganya. Saat itulah niat akan berhadapan langsung dengan lebih banyak variabel kepetingan, variabel hak dan kewajiban yang menyertainya. Uniknya variabel itu karna terikat dalam ikatan tali kasih sayang yang kuat, dan inilah nikmat sekaligus ujian tersulitnya. Kebenaran dan keteguhan niatlah yang akan menentukan lurus jalan- jalannya. Niat yang TERANG-lah yang akan menerangi untuk mudah memilah – milah solusi tarikan variabel itu. Niat, kemana engkau akan pergi?.Niat selalu memandang&berjalan lebih dulu ke depan lebih jauh, dan yang kemudian mengikutinya adalah amal – amal kita, dan niat juga kadang berada dibelakang kita; mendorong untuk memastikan kita berjalan untuk lebih cepat dan pada jalurnya menuju yang dituju (target inti niat itu). Jadi sekali lagi, kemana engkau akan pergi istri ku bersama niat itu?.Pergilah bersama niat yang hanya ‘LURUS’ dan ‘TERANG’ seharusnya!!

Note : Afwan, Insya Allah akan dilanjutankan (masih dalam editing)....yang ke-2 dengan judul “Bulan Madu Kita”, Ke-3 “Program kerja keluarga: Dear, yuk membangun SISTEM!!” dan ke-4 “ Kita Tinggal Dimana ya Akhi?”...Bismillah.
(Izz@M ; MyDesk 9300; 20072010)

Monday, July 19, 2010

KADO SEDERHANA (6)

Nasihat Pernikahan.
Setiap kejadian yang terjadi kita alami pasti mempunyai hikmah dibaliknya,hanya karna daya pandang jarak kita saja yg terbatas menatap masa depan maka memaknainya jadi berkurang. Contohnya sebuah pemberian tausiyah pernikahan: memang kadang kita langsung membutuhkan hal itu (terutama penganten baru) dan langsung menerimanya, dicerna kemudian langsng pula dikeluarkan dalam bentuk energi - energi kebaikan, tapi ada sebagian orang pula yang mengendapkan pada jangka waktu yang cukup lama dalam bentuk kumulasi 'lemak-lemak' teori - teori kebaikan saja. Entah kapan akan dikeluarkan menjadi energi kembali, semoga tidak membentuk 'kolestrol menunda' yang menumpuk, menyumbat darah - darah kebaikan untuk mengalir untuk deras.
Setelah kado elektronik dan kado puisi sederhana, saya ingin sekali memberikan yang lebih bermanfaat dari itu. Yaitu Kado Nasihat. Sebuah nasihat ustad yang memberi tausiyah pada pernikahan saya dulu di Bengkulu, yg kemudian saya "repack" kembali dengan bungkus 'kertas' cinta&kepedulian. Kado ini saya dedikasikan langsung terutama buat istri saya tercinta (bunda cantik*gak pake ge-er... cinta itu tak terlihat, tapi cinta sangat nyata, bergerak ke segala penjuru arah) sebagai pengingat bahwa tanggal 8 Agustus nanti genap satu tahun pernikahan ini berlangsung, dan juga buat sahabat - sahabat kebaikan saya yang menikah di akhir tahun 2009 - 2010. Inilah kado pemberian paling terindah bagi seorang muslim untuk muslim yang lain. Berikut resume Tausiyah ustad. Tusiyah pertama di isi oleh ustad Suherman pada akad pernikahan kami, beliau ustadnya DPD salah satu partai Islam dgn jargon ".....untuk semua" di Bengkulu, dan yang kedua tausiyah ustad pada acara resepsi yang di isi ustd HM. Syamlan, Lc beliau adalah wakil Gubernur Bengkulu. Wakil Gubernur yang sangat tawadhu dan sederhana menurut saya.

Tausiyah I (Drs. Suherman)
Ustad berpesan bahwa Nikah itu adalah sunnatullah, jadi menikah adalah bagian dari anjuran rosullah. maka untuk melaksanakn hal itu perlu adanya :
1. Ikhlasunniah, Niat yang ikhlas menikah hanya karna Allah swt semata, dalam rangka meningkatkan ketaatan&mentaati Allah dan rosul, insyaAllah dengan selalu terjaga keikhlasan niatnya akan terjaga pula barokahnya.

2.Laksanakan pernikahan tersbut sesuai ajaran agama, Sebisa mungkin mengusahakan pelaksanaan berjalan sya'riat Agama.

3.SMART (Sakinah, MAwadah, waRohmah, waTarbiyah), jika niat sdh ikhlas dan pelaksanaanya sdh bermujahdah menjlankan syariat, maka terbentuknya keluarga SMART akan mudah tercapai, sebab awal selalu menentukan akhir. Dengan apa membentuknya?

a. Ta'aruf
Pesan beliau, karna kami dipertemukan dalam kebaikan (da'wah) dan bahkan tak pernah mengenal seblumnya, yang ikhwannya di Bekasi dan akhwatnya dibengkulu. Maka maksimalkanlah bulan madu dan masa awal2 pernikahan dengan mengenal lebih dalam istri dan keluarga. Inilah indahnya seni menikah dengan ta'aruf: pacarannya tanpa batas ...upps sensor!!! (kalau akhir kalimat ini bukan kata ustad ya..he2x), jika yg pakai pacaran seblum menikah, saat bulan madu tinggal bulan-nya saja, sedangkan madunya sdh diambil saat pacaran itu y..??:)

b. Tafahum
Pesan ustad cukup singkat, katanya pahamilah istri dan suami kita dengan baik, sebab dengan pemahaman yang baik akan mudah untuk saling memaafkan dan toleransi satu sama lainnya.

d. Takaful
Saling tolong menolong dalam segala hal urusan dunia dan akhirat, hingga beban akan terasa ringan dipikul. Sikap takaful akan dapat tercipta apabila tercipta tafahum yg baik, kerjasama 'team kehidupan' rumah tangga yg hangat. Akhir pencapaiannya adalah terbentuknya bina usrah yang solid dan produktif. Dari sikap takaful, ustadpun berpesan untuk juga memahami manajemen syi'ri dalam organisasi 'team kehidupan' seperti, kewajiban menjaga 'aurat'/rahasia - rahasia suami istri dan melengkapi kekurangan masing-masing. Jangan pernah sekali kali bermain - main dengan aurat, teman..
Begitulah keseluruhan pesan ustad, dikarenakan tausiyah saat akad cukup terbatas, maka hanya sedikit sj yang dipaparkan, selebihnya hanya point - point saja.

Tausiyah II (Ustad Syamlan, Lc)

Sebagai wakil gubernur Bengkulu, ustad Syamlan kami undang sebagai Sambutan dari Perwakilan tamu, tausiyah dan dilanjutkan dengan do'a penutup...Kerja borongan kata ustad dalam sela ceramahnya, tapi Alhamdulillah disela kesibukannya beliau sempatkan untuk bs hadir. Dan bahkan menyemptkan juga memberikan kami hadiah pernikahan berupa jam dinding dengan hiasan do'a.
Sebagai perwakilan para undangan ustad memohon maaf apabila para tamu hadir dengan pakaian yang tidak seragam, waktu yang tidak sama : ada yg diawal, ditengah dan bahkan diakhir - akhir acara yg kadang dpt merepotkan. Selain itu beliau juga mengingatkan kembali penganten lama agar lebih bergairah kembali dalam mengarungi kehidupan pernikahan sebab inilah hikmah para penganten lama untuk slalu menghadiri acara - acara pernikahan, merefresh kembali kenangan bahagia dan perjuangan saat menjadi penganten baru.
Asam digunung, garam dilaut, bertemunya di Bengkulu. memang jodoh memiliki garis takdir sendiri, ini adalah tanda kebesaran yang Allah swt tampakkan kepada hambanya.

Sempurna Sudah!!
Pesan ustad bahwa menikah itu merupakan sebagian dari Agama bahkan bisa dianalogikan pernikahan merupakan sebagai dari kehidupan. so, se-cantik dan se-ganteng apapun orang tersebut atau sekaya dan sepintar apapun seorang lajang yang belum menikah, maka akan tetap terasa kurang sempurna hidupnya, akan terlihat ada yang ganjil dalam kehidupannya. Maka beruntunglah dan bersyukurlah orang yang dapat menyempurnakan setengah agamanya berikut setengah kehidupannya. Rayakanlah hal itu dalam bentuk syukur kepada Allah.

Iman dan Cinta
Adanya Iman maka hidup menjadi tenang dan ada cinta maka hidup lebih bergairah. Hidup berumah tangga adalah pilihan kehidupan yang akan dijalani dalam jangka panjang. Element inilah yang sangat diperlukan dalam menjalankan rumah tangga: Iman dan Cinta. Jika ada cinta, maka saat mendaki tingginya gunung kehidupan takkan terasa lelah, jika ada cinta saat menuruni gunung kehidupanpun akan terasa nikmat, bahkan saat jatuh terpeosok pun dengan adanya cinta akan tetap indah. Cinta membuat pasangan lebih toleransi dan mudah memaafkan. cinta akan membentuk itu semua.

Pencuri Cinta
Ustad Syamlan pun berpesan di akhir tausiyahnya agar berhati - hatilah dengan pencuri cinta. dimanapun ia akan hadir, dalam jelmaan apapun : pekerjaan, materi, teman dll. Jangan sampai ada yang mencuri cinta dan mencuri Iman dari pasangan kita, dan jika itu tidak terjaga dengan baik maka tibalah kehancuran secara perlahan kehidupan keluarga kita, tapi jika kita bisa menjaganya, maka terciptalah jaminan kehidupan keluarga Sakinah, mawadah dan warohmah. Allahumma amiin. Bukannya ustad dari Bengkulu (melayu) jika tidak berpantun, maka diakhir tausiyahpun ustad Syamlan berpantun, inilah pantunnya :
Bukan selendang sembarang selendang
Selendang disiapkan untuk pengantin baru
Bukan datang sembarang datang
Kami semuanya datang tak lain adalah menyampaikan do'a restu

"Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai" (HR Abu Dawud)

Note : Tahu bisa basi tapi Tausiyah tak pernah basi..smg menguatkan!
(Izz@m, 17072010; myDesk N9300 Baarakallahulaka sahabat)