Friday, August 22, 2008

SAYAP YANG TAK PERNAH PATAH



Mari kita bicara orang – orang yang tak pernah patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap – sayap Gibran yang patah. Atau kisah – kasih Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka ‘majnun’, lalu mati. Atau jangan – jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.
Ini cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap ditengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung – burung

O burung adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati


Mari kira ikut belasungkawa untuk mereka. Mereka orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawa ku dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.
Di alam jiwa, sayap cinta sesungguhnga tak pernah patah. Kasih selalu sampai disana. “apabila ada cinta dihati yang satu, pasti ada cinta dihati lain”. Kata Rumi “ sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain”. Mungkin rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksika fakta lain.
Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejewantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang – orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung : mencintai
Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidak sampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya : “apakah yang akan ku berikan?” tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi hanya patah atau hancur karena kita lemah. Kita lemah karena posisi kita salah. Seperti ini : kita mencintai seseorang, lalu menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena mencintai. Tapi karena menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita?
(Anismatta)

Nb : “kemana saja cinta, maka janganlah pernah patah? Maka saat kau semangat terus memberi dan kembali memberi, sebenarnya kau masih sedang istiqomah mencinta. Dan kau pun mulia, cinta.”

Tuesday, August 19, 2008

Memaknai lewatlah sini!


Memaknai lewatlah sini!
Melewati ini, Jalan ini&menJalani pilihan ini. Memaknainya didalam lorong bawah tanah gelap terbatas hanya dgn lentera keikhlasan dan kokohnya lapisan kesabaran, kadang kau hanya akan meraba, terjatuh dalam banyak lubang – lubang pertanyaan, bertanya – tanya hanya tentang sekedar kapan waktunya jawaban permasalahan isti’jal selesai semuanya terjawab, untuk tetap bertahan, tetap tenang berjalan dan tapi tenanglah pasti kau akan menuju cahaya dilorong terakhir dari jawaban rangkaian fiqh fadilah kebijakan, karena yang perlu kau kenal sekarang hanya cerita – cerita goresan fikir dan karnaval- karnaval jiwanya saja. Hanya itu, cukup itu tapi seterjaga itu.Tebal buku sejarah umatpun hanya mencatat itu “jiwa yang menerangi dan cita – cita yang menyala”, jadi hanya jiwa-jiwanya saja, bisa jadi mungkin aku, kamu dan merekalah tokoh utamanya. Semoga riaknya tak semakin menunjukkan kedangkalannya, tapi tenangnyapun tak boleh menyampaikan kedalamannya yang terlalu karena kita “merasa” ikhlas sedang benar, sebab “merasa” itulah masalahnya.Jadi jika itu masalahnya maka yang lebih penting lagi adalah nasihatnya. Kaupun juga benar, tetap harapan kebarokahan jalan ini tak boleh luntur oleh apapun apalagi oleh deterjennya sendiri karena rendaman “merasa” terlalu lama tersembunyi dalam wilayah yang paling aman di hati kita. Seperti kata mu “bersama belajar mencari yang terbaik hanya dengan jalan terbaik dan niat terbaik”.

CIDAHU 9-10 AGUSTUS 2008 (part I)

“Mendaki : Ini bukan sekedar hobbi yang lahir begitu saja, ini adalah bagian dari tuntutan amanah da’wah dahulu yang sebenarnya aku pun kurang tertarik diawal, tapi entahlah mengapa sampai sekarang kebutuhan hobby ini melekat menjadi suatu hal yang tak bisa dilepaskan, menempel bagai daging dengan tulangnya, menjadi bagian jiwa dan akhlaknya yang terlontar keluar!!. inilah menurutku episode besar dari kisah kekuatan cinta ketaatan amanah da’wah yang memunculkan banyak hikmah manfaat yang baru terungkap ditiap lini kehidupan kemudian...inilah buah dari pohon istiqomah yang banyak orang umum pahami secara sederhana adalah ketekunan otodidak, begitupun saat yang sama ketika ketertarikan ku pada dunia penulisan (wa azdinats lirobbihaa wa huqqots).”

06/08/08 (13.00 WIB)
Breifing : Akhwat2 sekarang kok manja banget nih?
Jadwal agenda briefing jadi ditunda dari yang dijadwalkan diawal perjanjian jam 10.00 jadi jam 13.30, yang punya hajat pemberi “taujih” saudara kopong (ilman;ekst 07) dan akh firman sedang ada acara, beliau dan akh firman adalah dedengkot organisasi pencinta Alam (PUMAPASI) di kampus DIII ku, ya ga jauh beda dengan di skala partailah, beliau – beliau itu sekelas ustadz Hilmi, team majelis syuronya pecinta alam gitu...gimana ustad firman dah siap jadi ’sang murobbi’? Jika belum sanggup gimana jika tawaran Ane turunin jadi ’sang mentor’.. He3x. Sekedar info bagi teman yang ingin buat acara kegiatan dengan tema outbond atau materi tentang alam untuk SMA atau SMP bisa menghubungi langsung beliau –beliau itu, promosi sedikit lah Sob..!Rohis bisa nego-lah....
Teknis persiapan dan segala bekal tentang medan banyak dijelaskan, tetap usulan untuk menginap di villa atau wisma di sekitar Cidahu menjadi pilihan akhwat, tapi ikhwannya kekeh ditenda...akh Rida yang bingung,
”lah yang namanya mau naik gunung atau puncak mah enaknya nginap ditenda kalee”...peserta yang aneh, ujar nya.
Iyan yang tadinya mau ikut jadi illfeel gitu. Padahal kami sudah membujuk ’rayu’ bidadari - bidadari dunia itu dengan cukup panjang tentang keadaan disana yang tidak sesulit dan sesusah yang banyak difikirkan teman – teman akhwat.Banyak tanya, sama halnya tentang karakter umum wanita saat nawar bawang atau sayuran di pasar, mulai dari pertanyaan, ada kamar mandinya ga disana?bagus gak? Trus jalannya jauh ga kepuncak kawahnya?bahaya gak?...
”namanya juga jalan-jalan ke gunung Bu, bukan ke mall yang pake liff ama tangga jalan!!” Dalam hati senyum kesabaran ku yang mulia menipis.
Entah sejak kapan trend ini melanda para ikhwan dan terutama akhwat (afwan yang merasa dirinya ikhwan dan akhwat kaya gitu; semoga tersinggung!!), latihan (tadribat) dalam kesulitan bukankah pilihan? Sebab tak pernah ada lembaga training yang melatih untuk kondisi senang!!...parah lagi nih buat Neng Ifa and The geng, maaf nih Neng namanya jadi ditulis jadi masuk blog ku (La taghdhob!!, ga pa2 khan neng dari pada sulit kalau masuk tipi, atau juga dari pada masuk neraka..hihi),
”kalau ada yang lebih baik, kenapa enggak (divilla) ka Agung?”wah nyang eni-nih enggak ane banget dah Neng!! Tapi memang perlu dimaklumi bahwa wanita itu istimewa, aurat yang harus dibatasi wanita melebihi batasan aurat pria. Oleh sebab itu mungkin wilayah kenyamananya pun akan terbatas, seharusnya terbatas pada proporsional membatasi, sayangnya banyak wanita yang enggak proporsional dalam membatasi kadang to much dan kadang mempersulit diri sendiri, sebab membatasi yang proporsional itulah yang akan malah melahirkan kekuatan keistimewaan, subhanallah, contoh: ”sifat kelemahan lembutan (Ar Rifq) wanita adalah kekuatan terbesarnya dalam menaklukan pria”, buktinya Nabi kita Muhammad dalam hadist takkkan pernah mampu ”menahan” saat ketemua Aisyah; karena dalam diri Aisyah terpencar sifat kelemah lembutan yang luar biasa diantara istri – istri nabi yang lain, biasanya malah kalo wanita ”macho” akan lebih sulit mencari pasangan jiwanya Sob: membatasi proporsional fitrah, ga percaya.....buktiin aja Sob?.
Ini yang lebih aneh lagi menurut ku, dan begitu pula akh Rida yang turut menyimak breifing. ”Gimana kita pada mau bawa beras berapa liter untuk masak disana?” tanya kopong.
Group ikhwan mah pengen banget masak disana, loh wong ini adalah momentum terbaik dan jarang untuk belajar menjadi bapak – bapak farmasi yang baik dan mandiri kelak, untuk bisa belajar masak (ciyeee, ciyeee chef Rida)...ya, yah minimal, masak mie goreng, masak nasi dan masak sarden, bilamana nanti istri lagi sibuk ngisi dauroh jauh, memang bukan masak biasa dengan tingkat kecepatan dan kebersihan yang pasti dipertanyakan juga?. Eehh, malah jawabannya akhwat
” gimana kalau kita bungkus aza nasi dari rumah dengan teknik jitu ibu alef dan Neng Ifa, yang menurut eksperimen ilmiah beliau katanya nasi dijamin gak akan basi sampe malam, lauknya yang kering dan awet dan untuk makan pagi besoknya kita beli aja diwarung” gguuuubrak!!.
Memang sih jadi simple, dan ia juga sih memang ada warung 24 jam disekitar perkemahan, ”lah kalau kaya gitu mah sama aja kayak makan dirumah ga ada ”sense-nya” gitu bu!!” akhwat – akhwat sekarang yang instan!semoga ga sampe jadi wanita spoon. Mohon maaf buat akhwat – akhwat sedunia, ini hanya sebagian oknum, enggak maksud mengeneralkan anti – anti semua yang telah berjasa pada Dunia dan Indonesia ini.....:D.
Keputusan ’syuro’ menetapkan : Besok tetap akhwatnya nginep divilla!! (ukht Riwa : Kecewa  berat , jangan ditenteng cariernya ya bu entar jadi berat beneran, (?))

08/08/08-(08.00 WIB)
Berbagi tugas :”Berikanlah yang terbaik untuk orang lain”...
Akhirnya dapat dipastikan yang mengikuti hikking kali ini : akh firman, ana, akh amat dan akh Rida, sedangkan akhwat nya : ukht Ifa, Riwa, Yuyun selebihnya adalah team menyusul sore: ukht Lifa, Sari dan Witri disebabkan ibu Lifa memang harus kerja dulu. Seluruhnya berjumlah sepuluh orang. Rihlah yang lebih banyak dari pada tradisi rihlah ekstensi tahun sebelumnya ke Cibodas – curug Cibeurem (G.gede).
Hari ini, mulai dari pagi banyak tugas yang harus dikerjakan berbarengan, antara kepentingan individu (akademik) yang belum selesai ngurus legalisir SKL dan Transkrip untuk pendaftaran Apoteker dengan mengurus perlengkapan buat naik besok seperti tenda, carier dan amunisi perut lainya. Ini agak keteter dari sebelumnya coz kemarin kamis sudah disibukkan dengan amanah agenda baru (gimana ukht Fita Dwi sudah direkap belum?) dan memimpin rapat. Salah satu solusi cerdas ya, berbagi. Aku yang ngurus akademisi, akh firman yang nyari barang kelengkapan dan sorenya aku dan akh Rida belanja untuk beli gas, parafin dan amunisi perut lainnya.
Sore, akhirnya semua secara tak sengaja kumpul dikost onan said berikut beberapa barang bawaan yang sudah ditargetkan. Aku yang masih bermasalah, karena masih ada urusan ilmu dengan Condet yang belum selesai, ya mau tidak mau harus langsung berangkat sore itu juga untuk menyelesaikannya, dianterin Rida pakai motor hanya sampai naik metromini 53, sekalian beliau pulang untuk ngambil carier yang kurang coz katanya belum juga packing barang – barang pribadinya pula.
-20.00 WIB-
Akhirnya malam itu kumpul kembali dikost onan sa’id, begitupun akh Rida yang telah sampai kost dengan cariernya. Kita harus menunggu untuk packing perlengkapan kelompok, sebab kamar kost dipakai akh Amat untuk agenda pekanannya. Hari ini hari spesial beliau: ustad Amat Paziri, Lc, ustad baru di kost onan said (sebenarnya ustad sudah lama cuma belum tenar aja...piss akhi!) sekelas tataran daftar ustad – ustad DPD-lah (insya Allah, amiin...begitulah ledekan postif akh Rida) karena akan membahas buku penting sepanjang sejarah pemuda dan dunia Islam......”Cinta dan Syahwat” karya Ibnul Qoyyim di forum itu (hihi..ciyee akhi)...loh kok temanya cinta mulu ustad?emang ga ada tema yang laen..he2x ledek ku juga. Jadi sekarang kalau ada yang mau konsul masalah cinta dan segala fenomena syahwat silahkan aja hub ustad Amat Paziri, Lc di 0856911XXXX insya Allah selesai masalahnya atau ketik REG spasi KONSUL spasi PERTANYAAN kirim ke no. 0219274XXXX tarif premium....lah kok jadi kaya seleb gitu ustadz...piss!!Terpaksa kita ngungsi di kamar kost sebelahnya (kamar alumni; basecamp), sambil diskusi buat besok, sambil menunggu. Perlengkapan sengaja disediakan untuk keadaan apabila ternyata akhwat berubah pikiran untuk nginap ditenda, jadi tenda tetap dibawa dua untuk kapasitas masing – masing 6 orang dan 4 orang. Carier jadi lebih berat, kurang apa coba panitia!!
Baru jam 22.00 kita mulai berberes, setelah agenda akh Amat selesai ”Berikanlah yang terbaik untuk orang lain..” . Kita baru pada tidur sekitar jam 1-an, karena harus buka tenda dulu untuk ngecek dan ricek kembali sekaligus packing barang – barang pribadi masing - masing, padahal mah kita (panitia) menganjurkan agar peserta sebelum naik agar tidurnya cukup jangan sampai begadang takut fisik jadi lemah (ngedrop), tapi kita sendiri yang ngelanggar!!Ego nih. Terlebih aku yang tidur terakhir, karena memang biasa aku yang sulit tidur kalau sudah jam segitu (The Dark Knight: manusia malam..kalee Sob!) sudah kebiasaan, lainnya menunggu kantuk ku ngedit buku panduan perjalanan untuk besok berupa do’a – do’a harian yang harus dibaca saat perjalanan dan menginap, sederhana tak terpikirkan, tapi menurut ku cukup bermanfaat, isi selebihnya materi survive dasar dari akh Firman, takut kali aza ada yang nyasar dihutan jadi enggak usah nyusahin aku dan akh Firman untuk mencari, tinggalin aja pulang You will survive akh/ukh, tsiqoh kok.....he3x. tenang ga mungkin Sob! Hikking yang harus berbeda??.
Bersambung .....penasaran?tunggu aja tetap stay in diblog ini...
Comming soooon : Di gunung ketemu mantan mentri R.I!!


Amat : Lah Napah ente ustad, kaya orang pasrah gitu? eNih ekspresi cinta or syahwat ustad..hi2x
Firman : Ranger G.Salak lagi pose...ini posenya lagi gak tidur khan akhi..
Rida : Hore, hore, hore difoto (ndeso)...akh emangnya ini lagi ulang tahun ya?
Ane : Bang kameranya bukan diatas, tapi didepan tuch..jaim bgt dah!
Neng Ifa&the genk : Gak dimana – mana dah Neng, pasti gaya mulu..emang orang betawi punya gaye dah...jadi ketularan dah nyang laen..tuch liat khan Neng.

CALON SANG MUROBBI


“Ah, dasar mahasiswa” pikir ku….dan, ya sekarang aku kali ini kena juga, tidak seperti dulu saat bekerja berada didunia profesi. Ada sumber penghasilan tetap dan menjadi agenda rutin untuk membeli buku-buku, kaset dan VCD keislaman bulanan yang menjadi hobby kesenangan tersendiri, selebihnya adalah tuntutan. Mengumpulkan ilmu – ilmu yang berserakan dari sisa kesadaran dan pembagian jatah gaji yang memang harus dibagikan. Karena adil adalah bagian dari keimanan. Dan adil pasti sejahtera…what try!!(apa coba.he2?)

Ini bicara tradisi, idealisme, eksistensi dan harapan. Usaha untuk tetap membeli, meminjam tetap menjadi azzam terkuat. Bedanya kali ini dengan perhitungan yang lebih matang (istilah halusnya: ngirit), tapi ya kadang agak jebol juga pengeluaran dan seringnya jadi absen untuk kancah menjaga eksistensi kegiatan ini, bedanya lagi dulu buku yang dibeli tebalnya sekelas kitab- kitab, kalau sekarang?...harus benar – benar selektif untuk membeli buku yang seharga dibawah 50 ribuan dengan kontent ’isi’ yang harus maksimal, palingan kalau mau beli buku yang agak bagus harus ’bisu’ sejenak, maksudnya uang pulsa harus dikurangi, dan harus dibayar mahal pula dengan kata-kata ”afwan br bls” saat balasan sms atau menelpon setelahnya, tapi hal itu sulit memang, dan kesulitan itu sering serius berujungnya tetap jadi kebanyakan milih- milih buku dan tempat toko buku, dan malah berubah keterusan jadi aktifitas baru: agenda survey2 buku. Ada niat tapi miskin harta, itu agak lebih baik ketimbang enggak punya niat miskin harta juga...kejahiliyahan tingkat tinggi, Sob! Keuangan mahasiswa yang pas tapi mau kualitas buku yang maksimal. Kadang kala nyari tempat buku murah lainnya, sekali lagi secara harga BBM naik Sob....yah, ujung – ujungnya survei lagi, list buku baru lagi, survey lagi dan kapan belinya akhi?...

Yah, semoga tradisi dan idealisme ini minimal membedakan aku dengan ibu – ibu atau ummahat – ummahat saat belanja ke pasar. Bedanya sarana dan objeknya, jika pasar dan sayur mayur adalah bagian sarana dan objeknya, sedangkan tradisi ku, toko buku dan buku menjadi sarana dan objeknya. Tingkat ketahanan berada dipasar, ketelitian ilmiah memilih dan tingkat kritis menawar menjadi hak cipta tersendiri baginya. Untuk idealisme ku kali ini, maka ku pinjam hak cipta mereka, tentunya untuk sebuah eksistensi saat ini menjadi mahasiswa (pembelajar).

Selama sebulan biasanya bisa 2 – 4 kali ke toko buku, kadang untuk survei, baca dan paling sering adalah mencari inpirasi untuk menulis atau apapun termasuk mengkritisi sebuah buku. Baik buku ”jahiliyah” yang sedang berkembang dengan strategi memakai topeng ataupun polos terang-terangan. Selebihnya adalah melihat perkembangan pola pikir dunia dengan melihat buku – buku ”kebaikan” yang sedang terbit dan tumbuh berkembang.

Akh firman pun jadi ketularan untuk ’tradisi’ ku ini, terhadap buku dan toko buku, tapi aku pun mau tak mau juga tertular penyakit mencintai alam-nya. Begitu pula seni olah fisiknya akh Amat. Satu ruang dalam tiga penghuni, keniscayaan untuk terjadi difusi karakter itu mungkin, bisa transfer kebaikan atau keburukan, karena semua punya dua sisi itu tergantung filter masing – masing pemahamannya.Lambat tapi pasti, tidak sekarang, tapi mungkin besok atau nanti kemudian kelak. Terkadang hasil da’wah baru akan terlihat saat usia sudah habis dimakan masa, saat terpisah waktu dan ruang. Dan momentum itu hadir ditiap masing – masingnya, tapi saat jarak sebagai pemisahnya. Tidak bersamaan, tapi saat itu pulalah pemilik investasi da’wah dan objek da’wah terkadang tak pernah saling tahu hasilnya untuk menjaga waktu dan keikhlasan. Karena imbas kebaikan itu kadang harus hadir pada bauran wilayah dan kebutuhannya yang berbeda di alam ini, itulah kebarokahannya, karena kehendak Allah swt yang Maha Pengatur.

Tertular mulai dari kesukaan terhadap buku – buku bacaan, kesukaan penulis buku, mengkoleksi hingga menggapai visi untuk sebuah tradisi sederhana ini. Jawaban kami semua hampir sama, satu essensi hanya beda apresiasi, saat bertanya untuk apa hobby membeli, membaca buku Islam dan seterusnya :

Jawab ku sederhana ”ane ingin mewarisi ilmu dan buku – buku ini semua untuk istri dan anak ane kelak biar berdaya untuk ummat”. Warisan yang sederhana pikir ku, karena iman tidak bisa diwarisi tapi untuk menggapai hidayah-Nya perlu difasilitasi, maka ku wariskan buku dan ilmu, tidak berat dan tidak banyak menimbulkan banyak perkara dibalik makna warisan harta – harta lainnya. Bahkan dibenak ku, lebih tertarik untuk membangun perpustakaan dan usaha toko buku dibanding membuat sebuah Apotek, atau mungkin akan dimodif!

“mau memperbaiki diri dan bisa memberi untuk keluarganya nanti”, begitu apresiasi akh firman, lebih sederhana dari visi ku, hanya beda apresiasi. Hingga ketertularan ini menjadikan aku referensi standarnya dalam memilih dan membeli buku, mana yang menjadi buku dasar dan wajib, mana yang menjadi ”koleksi”.

Menjaga tradisi sang murobbi

Intinya tradisi ini semoga menghantarkan ku pada keadaan mengisi dan memberi nantinya, memperbaiki dan kemudian menjalankan mesin juga rodanya hingga terjadi perpindahan keadaan, tapi dimulai dengan tradisi yang sangat sederhana; MEMBACA.Bisa jadi budaya survei, membeli, membaca, belajar dan beramal adalah awal dari tradisi dan idealisme ’sang murrobi’, terlebih dengan tradisi menulis ”pencerahan ummat” dengan mesin ketik bututnya disaat ummat terlelap tidur. Ini hanya beda masalah isi dan pengolahannya yang ada di kepala dengan kecenderungan (iman) yang dasyat yang ada dihati, maka lahirnya sang murobbi yang mampu mengajarkan ummat, menuntun dan menerangi ruang – ruang jahiliyah yang masih gelap gulita diberbagai pelosok alam ini.

Bedanya ”tradisi” sang murobbi dengan kita adalah ia membaca untuk diceritakan, membaca hikmah renungan untuk diamalkan, ”praktek” dalam pengalaman dari hasil membaca untuk disampaikan hingga menghujam bumi sekitarnya. Karena tugas hakikinya menyampaikan dan mengabarkan tentang ini iman dan kuffur, ini surga dan disitu neraka. Dibagikan kesetiap orang, ke setiap kampus dan bahkan ke setiap pelosok-pelosok kampung nusantara. Dengan cinta dan jiwanya. Kepada siapapun, tak memilih- milih, tak terkecuali kepada rezim penguasa. Karena seluas itu jangkauan ruang jiwanya dan seluas itulah cakupan cintanya untuk perbaikan ummat, dan akhirnya semua mampu masuk ke lubuk hatinya dalam selimut kebesaran dan kesabaran, kelapangan dan ketawadhuan. Bedanya kita, ruang hati kita belum seluas itu, jangkauan jiwa kita belum sejauh itu, maka kita hanya mampu membaca kemudian menyampaikan pada beberapa orang, beberapa khalayak dan beberapa jiwa yang memang tidak sakit benar. Cinta kita kadang tidak cukup dalam untuk sebuah keberanian menyelam pada kedalaman kebenaran dari keyakinan yang belum matang. Karena semakin menyelam kedalam laut semakin besar tekanan airnya, oleh sebab itu bisa jadi kita masih belum belajar benar tentang keyakinan dan teknis untuk menyelam yang benar, atau untuk menyelami kedalaman keimanan kita sendiri. Tapi kita bisa!! Bisa seperti itu, sebab kita punya asal usul dan dimensi yang sama dalam penciptaan yaitu manusia. Sama – sama manusia. Dari tanah dan akan kembali ketanah.

Nilai jual

“Ah, dasar mahasiswa...” pikir ku lagi. Bisanya hanya nanya harga, tawar – menawar dan enggak sanggup membeli. Kejadian itu ba’da selesai shalat jum’at di MUI bareng akh Firman, Amat dan Rida saat ada ikhwan yang menjual VCD sang murobbi dan buku ustadz Anis matta tentang ”serial Cinta-nya”:

”berapa pak harga VCD sang murobbi?” tanya akh Rida.

”35.000 rupiah” ujar bapak penjual itu.

”bisa kurang ga pak?” balik tanya

”belum bisa tuh” balik jawab bapak penjual

Pikirku itu tidak terlalu mahal, untuk sebuah referensi dokumenter sejarah Tarbiyah, tetapi sekali lagi dasar (kami) mahasiswa, selalu aja ada renungan kelucuan setelahnya. Jika harga VCD ‘sang murobbi’ saja seharga Rp 35.000 bisa jadi mungkin harga VCD ‘sang mentor’ bisa kurang lebih murah atau bahkan lebih turun lagi jika kisahnya adalah ‘sang muttarobbi’. Kami pun tersenyum dalam bahana pemahaman yang semakin luas. Dalam canda yang ringan tapi mendalam makna syar’i tentang kisah Sang Murobbi yang selalu punya nilai jual tertinggi di mata Allah dan ummat

”Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.(Q.S 41:30)"

(Izz@m 16/08/2008 Bekasi; ba’da isya)

Monday, August 11, 2008

SYUKUR

Merintis lelah, mengemas bahagia

Sabarnya meminang senyum dalam luka

Kadang kecewa dalamnya romantika rasa

Apa tak secukupkah Allah saja tempat kecukupan dan pelindung terbaik abadimu?

Dimana istiqomah, tanya da’wah?

(Depok 190708 syukur sidang)

Friday, August 01, 2008

Rasa Vs Logika.

Sudah hampir berjalan satu bulan pernikahan kami, ibarat akan hujan, maka masih mendung benar, belum sederasnya. Indahnya rumit dalam keunikan sifat, romantisnya perbedaan dan kesannya berlapang dada saat menerima apapun yang kadang sulit diterima dengan logika, bukan teori lagi kali ini. Benar juga, dari diskusi kecil dengan teman ku yang telah walimah beberapa bulan lalu tentang beberapa sifat wanita (istri) yang terkadang sering bertindak dan mengambil keputusan diluar batas logika.

”wanita lebih kuat perasaannya dibanding logikanya, akh. Logika hanya penguat rasa dan tetap penentu keputusan terbesar adalah perasaannya” ingatku pada perkataan Akh Firman, pembelaan terhadap kelebihan istrinya yang bersuku Jawa, hipersensitif akan perasaannya di acara arisan bulan lalu.

Awalnya sulitnya bagiku menerima kelapangan dada yang berasal pada argumen hal – hal non logika, terlebih di awal bulan pernikahan ini, tapi Alhamdulillah pernikahan inilah yang membuatku belajar menjadi manusia sempurna seutuhnya, sehingga mulailah terbiasa dengan menerima berbagai alasan – alasan non logika yang harus menuntut kelapangan hati. Terkadang memang, awalnya agak aneh, terlebih dari itu juga menjadi sebuah kesalahan yang harus di maafkan, atau kebenaran yang sulit diungkap tersirat karena tertutup oleh kabut rasa.

Ternyata Al hafizd-ah (istri ku) juga manusia, ia bukan malaikat yang turun kebumi bukan juga bidadari surga yang sekedar mampir kedunia, bukankah Bunda Aisyah juga pernah cemburu?.Misalnya, tiba – tiba saja bidadari ku menangis sejadi – jadinya memeluk ku erat, saat lampu dirumah mati, mungkin akibat pemadaman bergantian. Memang sungguh gelap, sebab pemadamannya terjadi saat ba’da isya, padahal saat itu aku hanya bilang

”Bun...Bunda tolong nyalakan Apinya, Abbi sudah menemukan lilinnya nih!”

bukannya korek api yang menyala yang ku dapati, tetapi malah suara tangis sendu tak berpindah dalam gelap. Ku telusuri suara itu dengan berjalan meraba – raba tembok, gelap sekali...

”Bun, engkaukah itu?”. ku dapati segera suara lembut itu, akhirnya kudapati pula wajah istri ku yang sudah basah dengan air mata dalam rabaan ku seadanya.

”Abbi...Naarun haamiyah, Naarun haamiyah..... Naarun haamiyah” sergahnya sendu, langsung memelukku dengan erat....terus memelukku semakin erat, diiringi tangis sendu. Aku pun bingung dibuatnya, kebingunganku pun tetap ku tahan sebisanya hingga ia puas melepaskan dan bebas mengeluarkan bahasa non logika, bahasa rasa pada apa yang ada dihatinya dalam pelukkan ini.

Sekitar hampir 10 menit ia terus memelukku, setelah itu barulah menengadah menatap wajahnya kewajahku, entah bahasa rasa apa yang bergulat dalam waktu yang selama itu.

”Abbi, Fa andzar tukum naaron taladzhoo?” Berbisik pelan suaranya dalam gelap ruangan ini, wajahnya semakin pucat juga masih terdengar jelas juga isaknya.

Akupun baru sadar setelah itu juga, inilah bahasa non logika, bahasa yang sulit dibahasakan dengan kata, tapi bermakna ”Tenang Bunda, sudahlah hal itu sudah dikecualikan untuk Alladziina a amnuu wa tawaa shoubisshobri wa tawaa shoubil marhamah, Bunda ingat khan?” mencoba mengendalikan perasaannya, sambil ku kecup berulang hangat keningnya. Bidadari ku yang sungguh istimewa perasaannya terhadap kisah – kisah ini.

”kliip” saat itu pulalah lampu kembali menyala, sepertinya tidak jadi pemadaman lokal!”Alhamdulillah Bun, lampu telah menyala” hiburku, tapi entah kenapa ia masih terdiam memeluk ku erat...diam.

”Bun...Bunda.sudahlah,.bukankah aku mencintai mu karena Allah dan Rosulnya dan bukankah engkau pun begitu?” bisik ku ditelinganya, menyakinkan ku dalam batas tafsiran seadanya tentang kedalaman perasaannya saat itu.

”Ya, akupun akan istiqomah Abbi!” kata diiringan senyumnya yang mulai perlahan merekah, dalam wajah terlengketi air mata yang sambil ku usap perlahan agar segera mengering dan tak membanjiri.

Itulah hari – hari di awal bulan pernikahan bersama wanita penjaga Al qur’an, masih banyak kejadian lain yang ”memaksaku” belajar langsung tentang ini adalah rasa dan ini adalah logika, berlatih berlapang dada terhadap alasan apapun suatu rasa yang sulit diterjemahkan dalam sebuah bahasa logika. Itulah kejujuran wanita, itupulalah bidadari ku, ”guru rasa” ku, tapi entahlah kenapa dibulan selanjutnya aku yang sering juga jadi menangis sendu walau tanpa mengeluarkan air mata saat istriku pun kadang menangis dalam pelukkan ini, ada apa dengan ku?.......(bersambung)

(Izz@m Juli 08; Depok. ”ini rasa dan ini logika”)

Nb: untuk teman2nya yang selalu bertanya, gimana kelanjutan Cerpen-nya?

Bekasi + Condet + JakPus + Depok = Bujur sangkar


Ada apa dengan ke empat nama wilayah ini? Bagi ku ke empat wilayah ini memiliki arti tersendiri, tempat membagi rasa, berbagi spiritual, memadu komitmen, tempat ujian antara membagi amanah dan mengkalkulasi tadribat ketangguhan meloncat serta melaju pada waktu yang sangat terbatas. Harus tetap bujur sangkar!! Sebab ke empat titik wilayah ini adalah keempat titik bujur sangkar itu, menjaganya agar berjarak tak saling mendekati dan tidak saling terlalu jauh menjauhi adalah seni tersendiri. Ada cinta dan kasih sayang di Bekasi, ada harapan mulia dan tugas suci untuk Condet, banyak amal khusus meruah di Jakarta Pusat dan kushyuk mendalamnya pembinaan di Depok. Keletihan tetap menjadi pilihan hidup untuk menjaganya agar tetap bujur sangkar, kelemahan adalah anugrah terbesar manusia, sedangkan keberhasilan hanya efek samping dari keridhoan yang dicita – citakan menjalani ini. Kemenangan tiap minggunya mengelola ini menjadi bukan kemenangan ku, melainkan kemenangan dalam kekuasaan-Nya, semoga seperti harapan ustad Sayyid quthb dalam tafsirnya yang mengartikan tentang esensi kemenangan rosulullah di Madinah dan setelahnya ” ..perkara ini berada diluar program orang mu’min, diluar penantian dan ambisinya. Kemenangan sendiri datang, karena kehendak Allah menentukkan agar manhaj ini memilliki realitas dalam kehidupan ummat manusia, yang memperkuat secara nyata dan terbatas dan bisa disaksikan oleh semua generasi. Kemenangan itu bukan sebagai balasan atas jerih payah, pengorbanan dan penderitaan. Kemenangan itu hanyalah merupakan salah satu ketentuan Allah yang menyimpan suatu hikmah yang bisa kita upayakan untuk melihatnya sekarang”. Benarlah, harus tetap bujur sangkar yang berarti sebuah upaya kemenangan, kemenangan yang harus diupayakan dari menikmati letihnya menjaga keseimbangan amal dan keridhoan-Nya.Nanti!! profesi apakah kau masih bujur sangkar akhi?(Izz@m, Juli 2008; Depok).