Sunday, February 24, 2008

SEJENAKLAH SAJA SEDERHANA.....SALAHKAH?

Sejenak saja untuk sebuah jenak-jenak kesederhanaan. Sejenaklah saja sederhana mencoba untuk memenuhi kebutuhan bukan liarnya keinginan, walaupun keadaan cukup memungkinkan untuk itu. Mencobalah sederhana sekedar kenyang bukan sejauh mana lidah mampu merasakan warna-warninya rasa masakan “high class”. Sejenaklah saja sederhana sekedar melengkapi kekurangan, bukan sibuk menutupi kekurangan dengan gengsi dari tuntutan calon penghuni baru kelompok popularitas. Mencobalah sederhana mendahulukan yang pokok dan melupakan kemubaziran ditiap lini. Sejenaklah saja untuk sederhana bersikap, bukan bersikap yang dibuat-buat dengan banyak alasan “politisasi” kebaikan. Mencobalah sederhana bersikap apa adanya kita, menikmati dan menyibukkan diri untuk menggali banyak tiap hikmah (pelajaran) dalam kehidupan ini, bukan memaksakan mencari yang belum didapat sehingga lupa menikmati (bersyukur) apa yang sudah didapat. Sejenaklah saja untuk sederhana cinta, satu wanita yang mencintai dengan satu pria yang juga menguatkan mencintai. Mencobalah sederhana cinta yang umumnya lebih permanen dan kekal bukan contoh apresiasi kisah cinta selebriti yang semakin tak jelas makna cintanya, maka mencobalah sederhanamu dengan bisikkan kata lembut “aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana duhai kekasih”…selesailah sudah masalah cinta!. Sejenaklah sederhana dalam berfikir dan mengungkap berkomunikasi sebab hal itulah yang paling mudah dicerna juga mampu diterima oleh kebanyakan orang. Mencobalah sederhana untuk pulsa komunikasi kita bukan karena alasan murah, sesama operator dan sebagainya tetapi menghindari dicap sebagai pemboros bicara. sejenaklah saja sederhana menuju keseimbangan hidup karena itulah kuncinya kesederhanaan hidup, sedapat mungkin tersenyum disaat kemarahan dan emosi memuncak, sedapat mungkin berusaha memeluk saat kebenciaan melanda, dan semampunyalah memaafkan ketika kesalahan itulah harga matinya harga diri, mencobalah walaupun amal ini terlihat sederhana tapi juga tak sesederhana saat melakukannya.Sejenaklah saja sederhana dalam menentukkan jalan kehidupan ini, sebab pilihannya hanya dua keadaan sederhana, kita sedang dalam kebaikan atau kebhatilan. Mencobalah sederhana tetap memilih memikirkan hal besar untuk jalan ini, sebab jika kau tidak disibukkan dengan hal besar maka kau akan disibukkan dengan hal kecil.itulah kecukupan pilihan sederhana. Cukupkanlah semua sudah dengan sederhana, adakah salahnya?maka sejenaklah saja sederhanakan ketahuidanmu hanya memilih ketahuidan pada satu (esa) tuhan; Allah swt, karena pilihan banyak tuhan membuat rumit makna sebenarnya kata “hamba” dalam melakukan tugasnya. Mencobalah sederhanakan niatmu sebab ikhlas adalah puncaknya dari kesederhaan niat, sederhanakan juga masalahmu selama ini sebelum masalah itu merumit, kalut, kemelut dan berlarut karena akhir kehidupan ini hanya dua permasalahan sederhana, menyelesaikan masalah menuju dengan surga dengan segala amal kebaikannya atau menambah masalah menuju ke neraka kelak dengan amal maksiat dan segala konsekuensinya. kesederhanaan salahkah?(Izzatulgumam;Bekasi; seri kesederhanaan 24/02/08)

REFLEKSI


CIUMAN KEAJAIBAN

Berapa kali antum mencium kasih sayang bunda (ibu) mu dalam sehari, sebulan atau setahun?sangat bervariatif, sesuai dengan kadar kasih sayangnya, ada yang linear dan non linear dalam memberikan asumsi dari pertanyaan ini. saat masih kecil ya, seiring waktu dan bahkan berlebih, sedang ketika sudah dewasa?. Jangan sampai cinta yang tulus kita dulu saat masa kanak-kanak sekarang berubah bentuk menjadi cinta lain hanya karena sebuah kepentingan, ketulusan yang menguap oleh tuntutan kepentingan berbagi emosi, aktifitas, materi, psikologis dan visi kita terhadap masa depan kedewasaan. Jika sudah menguap, maka mengering dan setelahnya menghilang, hampa dan kemana akan dicari kembali. Menciumnya berarti memberikan rasa sayangnya kembali. Membayar hutang kasih sayang dengan ciuman kasih sayang. Dulupun begitu saat kita balita, wajah suci nan rona menggemaskan pastilah dalam sehari lebih sering diciumnya, atau minimal setelah shalat lima waktu dan setelah beranjak juga bangun dari tidur. Waktupun berbalik, orang tua menuju proses seperti anak – anak dan anaknya bertambah dewasa menjadi orang tua. Sebaliknya akan seterusnya begitu. Sunattullah yang semua pasti mengalami. Semakin lanjut usia akan seperti anak – anak kembali yang lebih membutuhkan kasih sayang, maka jangan disiakan dengan apapun alasan kesibukkan kita untuk tidak mencium pipinya. Menciumnya kaupun merasakan tekstur kulit yang mulai tidak halus oleh gesekan sejarah, berkerut dengan daya lentur yang sudah hampir kurang memenuhi syarat oleh tarikan problematika kehidupan. Inilah pelajaran sederhana merasakan kesiapan dari latihan rutin untuk menerima bahwa seorang wanita (istri) adalah seperti ibuku yang akhirnya juga akan menyusut fisiknya, tapi tak jualah harus menyusut garansi kasih sayangnya.Harus ada kesiapan realita penerimaan hati dengan pelatihan yang intens, memahami bahwa tak ada kecantikan fisik yang abadi dan sempurna. Mendekati kesempurnaan itulah ujiaannya, mendekati keabadian itulah keangkuhannya yang semakin menunjukkan kethagutannya (melampaui batas), walau pada makna hal yang terkecilpun, begitulah tafsir fi Dzhilalil qur’an bercerita tentang penjelasan thagut pada frame terkecil maknanya. Hal terkecil tapi meluas makna bagi insan yang berfikir seperti samudra. Terdalam juga terluas. Sebelum mencium mesra istrimu (wanita) maka mencium kasih sayang adalah ibumu, biar kau mampu tawazun menerima kesiapan cinta dan ambivalensi sayang yang akan mungkin mendua oleh berbagai prioritas dan kepentingannya nanti, antara cinta pada istrimu atau pilihan sulit menuruti kepentingan ibumu. Semoga, ”sekokoh mungkin berpijak dijalan yang bijak tanpa harus ada yang terinjak”* atau layaknya jawaban cerdas amirul mu’minin ketika ditanya rasulullah tentang “apakah takwa itu umar?”. Belajar mencintai seorang ibu dengan pola tarbiyah terprogram berarti juga mencoba memahami pola metode tarbiyah belajar mencintai seorang wanita (istrimu) kelak. Sama halnya memahami kesamaan suatu metode belajar bahasa,sebagai contoh jika kita belajar bahasa inggris maka akan hampir – hampir mirip dengan metode belajar bahasa Arab, walaupun apresiasinya akan berbeda bagi tiap orang. Sungguh sangat Maha Halus Allah mentarbiyah hambanya dengan metode ini bagi orang-orang yang berfikir. Ciuman sayang pada ibu menjadi sebuah rutinitas pengait hati ibu dan anak. Cinta sederhana yang memproduksi amal kasih sayang sederhana juga. Akupun begitu mengaplikasikannya, berusaha selalu menyempatkan untuk mendaratkan ciuman hangat di kedua pipi dan telapak tangannya saat berangkat dan sesampainya ku pulang kerumah, atau yang paling membahagiakan baginya adalah memuji dan mencium disalahsatu pipinya saat sedang lelah memasak atau diselanya, bahagianya ia. Ritual mencium rutinitas inilah kesederhanaan cinta versiku yang menuai keajaiban-keajaiban setelahnya. Keajaiban yang lahir dari ungkapan hati, sebab ku yakin ada ungkapan – ungkapan atau bisik hati yang “positif” setelahnya tanpa iapun sadari, jika ungkapan dan bisik itu menjadi sebuah kondisi jiwa dimana hatinya bahagia, maka keajaibannya adalah kebarokahan dari keridhoan birrulwalidain, sebab keridhoan ibunda adalah keridhoaNya juga, tetapi jika yang terungkap adalah sebuah harapan jiwa maka keajaiban yang terucap adalah sedasyat do’a. Do’a yang istimewa dari dasar ungkapan hati seorang ibu yang tak sempat terucap dan sulit diungkap menjadi sebuah tabungan jiwanya. Do’a inilah yang menjadi keajaiban, letaknya lebih tinggi dari ikhtiar kita sebagai penentu keputusan dan perubahan takdir dengan seizinNya, yang juga telah banyak kita baca, dengar dan yakini dari kisah nabi-nabi terdahulu saat ujian kesulitan dan kebahagiaan melanda. Ciumlah sayang kepada ibumu dengan istiqomah melangkah menuju ciuman keajaiban untuk hari- harimu, seperti cerita bintang.

CERITA BINTANG

Bintang selalu mampu bercerita tentang malam

Bahwa sejauh apapun jarak dari jiwa yang bersinar

Selalu mampu setia terlihat tetap bercahaya menerangi malam.

(Izzatulgumam; Seri kesederhanaan; Bekasi,my room 22/02/08)

Monday, February 18, 2008

TRAGEDI CINTA

“Melawan dalam sunyi itu susah. Terlalu susah. Membangun dalam hening itu berat. Terlalu berat. Disana kamu melawan dalam sunyi, disini kamu bekerja dalam sunyi. Melawan dalam sepi itulah susahnya. Melawan sendiri itulah kepahlawanannya. Kamu hanya mewakili dirimu sendiri. Tekadmu sendiri, hanya sendiri…”

Ada sisi lain yang menarik dari pengalaman emosional para pahlwan yang berhubungan dengan perempuan. Jika kebutuhan psikologis dan biologis terhadap perempuan begitu kuat pada para pahlawan, dapatkah kita bayangkan seandainya mereka mendapatkannya?.

Rumah tangga para pahlawan selalu menampilkan, atau bahkan menjelaskan, banyak sisi dari kepribadian pahlawan. Dari sanalah mereka memperoleh energi untuk bekerja dan berkarya. Akan tetapi, jika tidak mendapatkan sumber itu maka kepahlawan mereka adalah keajaiban diatas keajaiban. Tentulah ada sumber lain yang dapat menutupi kekurangan itu, sesuatu yang dapat menjelaskan kepahlawanan mereka.

Ibnu Qayyim menceritakan kisah sang Imam, Muhammad Bin Daud Al-Zhahiri, pendiri mahzab Zhahiriyah. Beberapa saat menjelang wafatnya, seorang kawan menjenguk beliau. Namun, ternyata Sang Imam justru mencurahkan isi hatinya kepada sang kawan tentang kisah kasihnya yang tak sampai. Ternyata beliau mencintai seorang gadis tetanggannya, tetapi entah bagaimana , cinta suci dan luhur itu tak pernah tersambung jadi kenyataan. Maka, curahan hatinya tumpah ruah dalam bait – bait puisi sebelum wafatnya.

Kisah sayyid Quthb bahkan lebih tragis. Dua kali jatuh cinta, dua kali pula ia patah hati, kata Dr. Abdul Fattah Al Khalidi yang menulis tesis master dan desertasi doktornya tentang Sayyid Quthb. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid Quthb pergi ke Kairo untuk belajar. Sayyid menangisi peristiwa itu.

Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran mesir, gadis itu tidak termasuk cantik, kata Sayyid. Namun ada gelombang unik yang tersirat dari sorot matanya, katanya menjelaskan pesona sang kekasih. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis, gadis itu menceritakan bahwa Sayyid orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan ini meruntuhkan keangkuhan Sayyid; karena ia memimpikan seorang yang perawan fisik, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.

Sayyid Quthb tenggelam dalam penderitaan yang panjang. Ia akhirnya memutuskan hubungannya. Namun, hal ini membuatnya semakin menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya. Banyak puisi yang lahir dalam penderitaan itu. Ia bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman.

Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, realisme, dan sangkaan baik pada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka menambatkan kepada sumber segala harapan; Allah!

Begitulah Sayyid Quthb menyaksikan mimpinya hancur berkeping – keping, sembari berkata,”apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” setelah itu, ia berlari meraih takdirnya; dipenjara 15 tahun, menulis Fii Dzilalil Qur’an, dan mati ditiang gantungan!sendiri. hanya sendiri!.(AnnisMatta)

ISTIMEWANYA SEORANG PENULIS DIMATAKU

Apa istimewanya seorang penulis jiwa dimata seorang penulis juga? Pertanyaan yang lahir dari umpatan berharga dalam malunya kerang penyimpan mutiara untuk terbuka dan panggilan alamiyah kejujuran suara alam rimba. Istimewa, ya?bagiku sangat istimewa, penulis jiwa itu cerdas tanpa batas. kemampuan membacanya sangat mendalam, lebih dari sekedar seorang kutu bukunya akademisi atau peneliti ilmiah, bahkan lebih dari itu semua. Membacanya sedalamnya apresiasi kalam perenungan suci dalam keterpenjaraannya Sayyid Quthb hingga lahirlah kitab Fi Dzilalil Qur’an yang menjadi referensi dunia. Perenungan membaca yang mendalam untuk referensi hidup da’wah yang bergerak. Kondisi lain membacanya sedalam apresiasi sastra dan kajian hadist oleh ‘guru rasa’ tentang ambivalensi jiwa dari rahim cabang kajian tentang kesedihan dan kegembiraan, maka lahirlah kitab ‘la tahzan’ yang fenomenal itu, atau kedalamannya membaca deskripsi sirah nabawiyah dan sirah sahabat yang akhirnya melahirkan tulisan yang ditunggu – tunggu para kreator peradaban:‘manhaj haraki’, bahkan kitabnya lebih tebal dari kitab sirahnya sendiri. Kedalamannya membaca, itulah istimewanya seorang penulis dimataku. Mampu membaca kedalaman wilayah transendent berjalan ke arah ma’rifatnya, mampu membaca kedalaman wilayah kalam menuju pemahaman sinergis kauliyah dan keilmihan kauniyahNya juga ketajaman membaca area hati insan, rasa dan realita ilmiah masalah umat dengan cerdas dan bijak. Benarlah jika kata iqr’a pada makna tafsir sesungguhnya merupakan kunci terbesar kecerdasan diatas tingkat kecerdasan sebenarnya kajian motorik anatomi fisiologi otak kita bagi seorang penulis jiwa.

Kelembutan, Kepekaan,dan kepeduliaan inilah modal dasarnya selain dari keimanan, tapi ini jualah indra keenamnya seorang penulis. Bukan mistis, tapi sebuah realita kajian ilmiah indra ke enam inilah yang mampu melahirkan pahatan tulisan jiwa. Kelembutannya lebih lembut dari sutra raja-raja Persia. Sangat halus. Kelembutannya itulah yang membuat tiap apresiasi penulisannya dapat diterima pembacanya. Seperti kelembutan udara dan angin, tak terasa tapi mengisi mampu memenuhi ruangan nan berguna bagi aktifitas kita. bergerak yang tak melukai, memberikan kenyamanan diterik siang hari dari alunan-alunan sepoinya, tapi janganlah bermain-main sembarang dengannya, sebab badai topanpun bisa terbentuk meluluh lantahkan segalanya. Kelembutan yang dilahirkan dari ketawakalan dan qonaah, mampu menerima apapun dengan bijak dan memuntahkannya dengan santun. Ini juga bab lain pada judul yang sama tentang sebuah kepekaan. Bagi seorang penulis jiwa, kepekaannya harus mengiringi kemampuannya merasakan, melihat dan mendengar. Kepekaan penulis jiwa seharusnya bisa melebihi kepekaan diatas rasa kulit mekanisnya dan kulit rasa jiwanya sendiri, merasakan ekspresi dan apresiasi empati orang lain melebihi ‘urusan’ merasakan dirinya sendiri. Itulah kepekaan sesungguhnya, sedangkan kepekaan inilah seni lainya yaitu kepekaannya untuk menjadi pendengar yang baik yang merupakan juga simbol ketaatannya, seperti iringan kalam ‘ kami dengar dan kami taat(QS 2:285)’ bukannya ‘kami melihat barulah kami taat’ Tak pernah ada kalimat ayat itu. Sebab inilah porsi terbesar kesensitifan keimanan yang melahirkan kepekaan wilayah sigap mendengar ‘perintah’ dari kauliyah dan disinilah ujian terbesarnya bagi seorang mu’min (penulis). Apa indikator ilmiahnya?jadi teringat saat mengisi dauroh rohis kampus DIII ku di parung bogor tentang materi ‘the professional team’ beberapa bulan lalu, ‘salah satu karakter dominan dari seorang jundi atau muslim yang professional dalam beramal adalah pendengar yang baik, coba kenapa demikian akh/ukht?’. Tanyaku pada audiens. Audiens daurohpun terdiam dalam banyak tanya atau malu untuk menjawab. ‘ini bukan berarti antum diam mau dibilang jadi muslim professional khan?’ menghiburku. Kamipun hangat tersenyum riang semua. Inilah indikator ilmiahnya, coba perhatikan dengan seksama jika anak didik kita, keponakan, mad’u kita atau cerita kita sendiri tentang sambutan perintah dari orang tua sendiri.Rasakanlah jika saat kita berbicara (perintah) kemudian kemampuan mendengarnya berkurang dari biasanya maka bisa dipastikan berkurang jualah kapasitas ketaatannya. Kemampuan mendengar yang baik menjadi hukum liniaeritas kapasitas penerimaan yang baik. Inilah kunci sumber kekayaan ilmu bagi seorang penulis jiwa menurutku. Kekayaan jiwa yang semakin memperkaya kematangan ilmu.Mengumpulkan kebaikan- kebaikan yang berserakan menampungnya dalam wadah telinga yang sabar, dan lain hal itu kekayaan ketaatan jiwa inilah asset keimanan dan asset da’wah terbesar menuju perjalanan marhalah selanjutnya. Jadi jika kelembutan dan kepekaan telah melekat menjadi sinergis, maka tak jarang jika kepedulianpun akan muncul untuk tergerak bergerak merangkai dan merangkul apapun dalam kebesaran dan kekayaan jiwanya tadi itu, bahkan mungkin hanya sekedar aktifitas amal kecil memberi kutipan kalimat singkat penggugah ghirah dia lakukan dengan istiqomah, atau juga hanya sekedar saling memercikkan api semangat bagi yang sebenarnya calon penulis besar tersembunyi dengan sumbu siap dan bahan bakar yang sudah penuh, hanya saja tidak ada percikkan api untuk meyulut dan meledakkannya. Kepedulian yang juga mengiringi kepeduliannya terhadap nasib dirinya sendiri ketika ditanya malaikat ‘apa tugas dan peran mu terhadap umat selama ini?’. jadi apa istimewanya seorang penulis jiwa bagi seorang penulis?terjawablah sudah.

Penulis jiwa dalam batasan wacana pembicaraan nasehat buatku sendiri dan lainya, sebab banyak penulis yang hanya senang mengasah goresan-goresan fikirnya saja menuju ketajaman pemikiran melawan dan menguasai pemikiran orang lain.’ya Allah lindungilah aku dalam bab tarbiyah ini’. Bijak sederhanaku, lebih menarik jika karnaval –karnaval jiwanya tak sering dilupakan. Karnaval jiwamu seorang penulis ‘kata adalah sepotong hati’, itulah tiap hikmah tarbiyah harimu. karnaval jiwaku juga penulis itulah didalam tiap tarbiyah ‘perjalanan penulisan’ ku. Jiwa yang tergerak berbicara kebenaran untuk jiwa yang berani menuliskan kejujuran, maka lahirlah tulisan jiwa yang terbangun dan membangunkan dari bius atau mati suri oleh racun kehidupan dunia bagi yang membaca. Mengajak tergerak untuk bergerak dalam ketauladanan ketiap langkah awal baru tingkatan tangga kemuliaan vertikal kaki-kaki langit, sejauh mungkin ke puncaknya kelak. Harapan mulia itulah seharusnya menjadi tujuannya.Cobalah sekedar tengok segmentasi pasar bagi penulis jiwa yang menguntungkan ditengah jiwa umat yang sering lalai tertidur maupun ketiduran bermimpi. Lihatlah juga formulasi jitu promosi judul tulisan buku – buku kontemporer yang dihiasi kalimat ‘pembangun jiwa’ agar menarik para pembaca.laku keras!.Semoga isinya sama dengan judulnya, tidak menipu pembaca yang sedang bodoh atau tidak paham tentang kualitas sebuah buku. Jiwa yang mengungkap rasa dalam jiwa yang tulus menggores pahatan ke jiwa orang lain, maka tulisan jiwa itulah yang mampu mengukir warna – warni selimut rasa jiwa target pembacanya dalam batasan diluar kesadaran jiwanya sendiri penulisnya.Sedikit agak lama mungkin melahirkan pahatan tulisan jiwa ini, lebih keras dari memahat batu cadas, semusykil menulis dalam angin, serumit menulis di genangan air atau lautan. Inilah seninya penulis jiwa. musykil dan rumit, tapi lamanya proses mampu menghujam permanen. Prinsip dan hakekat da’wahpun sama mengajarkan kita demikian.Pernahkah berfikir, tahukah berapa lama ‘naskah’ sejarah pribadinya seorang Andrea Hirrata sehingga tercipta tetralogi ‘laskar pelangi’nya?atau tahukah sebenarnya berapa lama seorang Sayyid Quthb memulai motivasi, merangkai sebongkah idea dan hingga tercipta kitab Fi Dzilalil Qur’an?sejauh perjalanan hidupnya,mungkin itu benar. Hanya ia dan Rabbnya yang tahu pasti, sedangkan kita hanya tahu karnaval jiwanya saja dari estimasi cerita penulisan sejarah dan tulisan-tulisan jiwanya.Maka Jangan lupakan jiwamu karena itulah keistimewaan seorang penulis yang terbesar menurutku. Selamat beramal penulis jiwa dengan tetap terjaga. Mengisi ruang celah – celah peradaban yang masih kosong. Semoga kita bertemu bersama dalam JannahNya nanti oleh eqivalensi jiwa yang diharapkan dari puncak kebarokahan dan keridhoanNya.Amin. (Bekasi, menjelang praseminarku; 18Feb2008).

Wednesday, February 13, 2008

SURAT KU UNTUK WANITA MEKKAH

Mekkah hari ini selalu mengingatkan aku akan sebuah surat yang ku tulis kepada pujaan hatiku mentari Ar rahman, entah apa motifnya.

Kepada kucinta,mentari Ar rahman

Harapanku, harapan da’wah.

Di

Mekkah

Assalamu’alaikum. Wr.Wb

Khalifahaluki Mekkah?langsung saja harapanku, jangan marah dan semoga tidak mengurangi rasa cinta ini yang tulus. Bertahan merayu agar engkau tetap ikut bersamaku, semoga. Dengarlah isi hatiku ini tentangmu dengan bijak:

Pilihan yang kita buat takkan pernah salah jika referensinya segudang serendah egoisme, sekobar nafsu, sekufurannya, seangkuhan dan sekeras hati dalam frem berfikir sekerdil pula sesempit keinginan duniawi yang kita politisi pembenarannya dalam ketidak jujuran hati untuk pilihan jalan tersebut. Seperti ungkapan ulama yang saleh “barangsiapa yang tidak benar permulaan kehendaknya, niscaya tidak akan selamat pada kesudahan akibatnya” jadi kadar permulaan menentukkan segalanya tapi akhir yang terlihat biasanya sebagai indikator keberokahannya. Jangan dibuat rumit apalagi sulit, umumnya nilai kebarokahan yang terjaga tidak pernah sulit dan rumit atau jelas-jelas dari proses yang “bermasalah” di paksakan, bahkan hanya sesederhana tidak seaneh trend metode jahiliyah. Mentari ar rahman pun pernah saya anggap seperti kebanyakan bagian dari orang – orang saleh, tetapi Mentari sendirilah yang lupa tentang taujih masalah diatas masalah yang cukup menggugah saat sekejap untaian keluhanku kau balas dengan untaian mutiara ”ini pilihan hidup!Ujian ini adalah sunnahtullah dan perintahNya adalah dengan bersabar, coba kembali luruskan niat, sederhanakan masalah, tetapkan tujuan dan nikmati prosesnya”, tapi kita memang terkadang sering lupa, disengaja karena kondisi tertentu atau memang karena kehendak Allah untuk lupa, mudah – mudahan Allahlah yang tidak melupakan Mentari, sebab masih wajar jika kita yang sering melupakanNya. Menurutku ini masalahnya, walaupun bab nya berbeda sangat jauh, sejauh tertatih makna perjalanan hijrah Rosulullah untuk menyelamatkan akidah umatnya yang tersisa, tetapi terlihat berbeda tipis, hampir mirip-mirip dengan dua muka mata uang logam antara muka tertatih ketakutan untuk ”mengamankan dan menyelamatkan” kelurusan azzam dari obsesi kemuliaan diri dan muka lain tentang kejahiliyahan yang terpelihara ”gemuk” sejak lama yang Mentari namakan ”harapan”,mungkin bahkan sekarang sampai seperti kata pepatah Arab ”berlakulah kau semaunya jika sudah tidak punya malu”.Tak menyangka jika pilihan Mentari ternyata dunia yang membuat nafsu semakin ”gemuk”. Separah itu seharusnya mikir kapan setaubatnya itu (baca:maaf), walaupun kita tidak selevel Ka’ab bin Malik yang kemudian sadar menyegerakan mohon pengampunan karena kelalainnya tidak mengikuti panggilan untuk perang. Sekali lagi akupun tidak merasa benar, tetapi jika kebenaran itu berasal dari gemuruh angin gunung manapun bagi pelaku mu’min dengan telinga yang ”cerdas” seharusnya akan mampu menerimanya,bila itu sekeras petirpun!!kisah umat nabi Nuh lah yang akhirnya menjadi pelajaran dunia Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat”(Qs Nuh:7). Seterusnyalah azab yang berbicara. Maka jika tidak mau mendengar dan hampir tuli ini semata indikator jelaslah hati yang sudah tak taat,...sekarat, alangkah baiknya cobalah mentadaburi surat cinta yang singkat ini juga “padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (Qs. Al bayyinah 5). Bagiku mengingatkan juga jalan pilihan seperti pilihan mentari untuk memilih jalan yang mentari sukai. Walaupun sebenarnya da’wah selalu menunggu&bertanya – tanya kepada mentari ”bukankah ummat terlalu lama menanti jawaban konkrit dari setiap langkahmu? Bukankah tiada yang rela kebarokahan jalan ini luntur?” yang terbaik hanya dengan jalan terbaik dan niat terbaik*,Sebab mentari adalah bunganya umat,semerbak harumnya harus memenuhi ruang dunia ini,tidak layu. seperti dalam puisi singkat ku ini :

DIA BUNGA

Dia adalah bunga. Bunga yang slalu indah dihalaman kesederhanaan dan kejujuran rumah kita.Janganlah pernah ditunggu –tunggu mekarnya, tapi ketahuilah saja musimnya, sebab semerbak harumnyapun lebih panjang dari semusimnya.Semusimnya pasti seharumnya, seharumnya yang lebih memaknai ditiap keberadaannya.Dia adalah bunga. Bunga hanya untukmu para mujahid Sang penggelora karya, penikmat lelah dan pecinta syuhada.Dia adalah bunga. Bunga bukan sembarang bunga, sembarang bukan sebab makna, maka janganlah memaksa atau malah sembarang memetiknya.

Semoga ini tanda kepedulian aku yang terakhir. Entah Mentari ar rahman mau peduli atau tidak, sebab dengan alasan bagaimanapun anda pernah bagian dari da’wah ini dan anda pun tetap ditunggu – tunggu untuk ikut ke Madinah atau tetap menungu di Mekkah?.

Wa’alaikumsalam Wr.Wb

(Izzatulgumam).

Nb: * afwan kutipan tulisannya aku pinjam..

Saturday, February 09, 2008

YAUMIYAH YANG BERPENGARUH.......


Hari ini selesai ujian Kimia Analisa I, selesai sekitar jam 14.35 WIB membuat ku terjepit pada waktu yang tidak efektif. Jika harus menunggu Bus Kuning (Bikun) pasti akan lama dan kalaupun menunggu waktu shalat ashar akan tanggung sekali. Waktu shalat ashar hari ini sekitar 15.30, Akhirnya ku putuskan untuk menunggu Bikun, sekalian menunggu waktu ashar sebab hari ini aku ingin sekali shalat ashar di Masjid kampus Guna Darma. Masjid disana cukup nyaman juga untuk shalat berjamaah, khususnya pada waktu maghrib dan Isya sebab yang mengimami shalat tersebut bacaan yang dilantunkan cukup baik tartil dan tajwidnya, sungguh menyentuh qolbu. Dari sekedar survei yang ku pelajari salah satu Imam tersebut bekerja di sebuah agen buku sekitar jalan Margonda beliau dari Salafiyah terlihat kental sekali dari karakter dan cara berpakaiannya. Jika Universitas Indonesia punya anak masjid bernama SALAM, di Guna Darma punya pemuda FARIS kepanjangan dari Fajrul Islam nama Masjid tersebut. Selain bisa shalat berjamaah dengan tenang, keuntungan lain mading dan infoIslam FARIS yang terpampang di masjid bisa ku nikmati secara gratis sehingga aku tak ketinggalan info mingguan atau bulanan tentang Islam, inilah kelebihan FARIS daripada SALAM, mading FARIS lebih terlihat aktif sejauh pemantauan sekilasku setiap shalat disana.

Bukan hanya di halte MIPA, hampir seluruh tempat yang mungkin terdapat orang berkumpul di jadikan ajang untuk menyebarkan informasi, baik pamflet informasi kegiatan mahasiswa ataupun kegiatan pemasaran umum lainnya. Letaknya persis dibelakang bangku halte yang ku duduki. Tata letak pemflet yang tak beraturan, menumpuk dan saling ”sikut”. Hari ini ada dua pamflet besar yang sangat kontras membuat mata ku berusaha menangkap dan mengolah informasi pamflet itu. Pamflet yang pertama bertajuk Pemilihan mojang kampus dan pamflet satunya lagi bertajuk ”Save Palestine One Man One Dirham” dengan warna tulisan hitam dan merah menandakan tuntutan keseriusan yang lebih pamflet itu untuk dibaca. Dua bagian pamflet yang sama tapi bersebrangan. Sama jika dilihat dari konteks keprihatinannya, letak perbedaannya jika pamflet pertama bertajuk pemilihan mojang kampus mengindikasikan keprihatinan pada moral mahasiswa yang semakin turun sedangkan pamflet ”save Palestine” keprihatinan kita pada saudara seiman yang membutuhkan bantuan. Sangat kontras dan bersebrangan satu sisi tecipta sebuah kegiatan yang lebih banyak mudaratnya dari pada baiknya yang produknya pemborosan, satu sisi lain minimnya dukungan motivasi dan bantuan materi secara cepat untuk saudara kita di Palestina, berapa banyak saudara kita disana akhirnya meninggal akibat keterlambatan bantuan materi yang diberikan. Aku yakin wajah – wajah mojang yang terpampang itu tak lain adalah muslim......korban – korban kapitalisme dan Apatisnya kita!!




(keterangan gambar : rumah warga sipil SAUDARA KITA yang di Bom dan digusur PAKSA Israel; manusia yang dibakar hidup – hidup; Penyembelihan manusia bukti nyata ketidak manusiaan tentara Israel!)

888888

Bus kuning yang ku tunggu akhirnya tiba dengan penumpang yang berdesakan, aku berharap cukup tempat dan cukup waktu sampai di Masjid kampus Guna Darma untuk shalat, waktuku tinggal 15 menit lagi, semoga. aku langsung bangkit dari tempat duduk halte. Mata ku menyapu tiap penumpang yang akan turun berada di Bus, memastikan sudah penuh atau tidak, seiring dengan laju bus yang mulai berhenti tepat di depan halte.

” sseeeeeeeettt” mataku menangkap sebuah gelombang energi yang besar sekali, sangat signifikan lebih besar dari gelombang energi yang ada di tiap – tiap penumpang bus itu. Sampai sekarang aku belum bisa memberikan sebuah nama ilmiah yang tepat tentang gelombang energi itu. Seorang akhwat berjilbab coklat panjang yang tak pernah ku kenal dengan raut wajah coklat sawo matang berkacamata dan sangat sederhana menurutku, hanya itu yang kulihat dan ku ingat.

Gelombang besar itupun turut turun, aku merasakan energi yang sangat besar, kupastikan akan berbenturan denganku diantara kerumunan penumpang lain yang juga akan turun. Menatapku sejenak kemudian tertunduk seakan tahu aku merasakan energinya, seakan gelombang energi itu memberikan resonansinya yang cukup jelas diantara senyum raut wajah yang tersembunyi, seakan dia juga ingin aku saja yang dapat menangkap resonansi itu.

Benar sekali dugaanku, gelombang energiku dan gelombang energinya berpapasan tepat akan berbenturan. Tepat di pintu Bikun dia pun turun dan aku beranjak akan naik. Langkahku terhenti terdiam, mematung sejenak, disebabkan seluruh energi yang ada ditiap organ – organku ini berpindah ke pusat dadaku menjadi sebuah getaran gelombang energi yang dasyat. Sungguh aku tak dapat bergerak sedikitpun hanya gelombang energi itu saja yang berputar – putar kencang di dada ini. Iringan degupan sistole dan diastole ku terasa tak seimbang. Dia sekarang tepat berada di depanku, diapun terdiam sejenak merasa jalur untuk turunnya terhalangiku, masih menunduk kemudian mengangkat wajahnya penuh nur (cahaya) menatapku sekilas dan menunduk kembali sambil berlalu mengambil jalur lain untuk turun.

”Ada apa denganku, getaran apakah itu&siapakah dia?” hatiku bertanya – tanya pada memori – memori long term selama diperjalanan. Ku ingat – ingat terus wajah yang tak pernah ku kenal itu, memang selama kuliah di FMIPA tak pernah ku jumpai akhwat itu atau memang aku yang kurang bergaul.

”Apakah ini yang namanya getaran ”kecenderungan”.......ahh sudahlah, hari ginie...........!!kuliah saja banyak yang ga beres” ku hempaskan segala lintasan kejadian itu dalam fikiranku, lagi pula aku mungkin belum pantas dan belum cukup bertanggung jawab menanggung amanah itu, dan ujian kuliah selanjutnya menunggu esok, tetapi kalaupun ternyata itu memang gelombang energi ”kecenderungan” seperti banyak teman – temanku ceritakan ketika mereka bertemu pertama kalinya dengan sang bidadari yang berakhir menjadi pendamping hidupnya disertai dengan timbulnya gelombang energi tersebut, biarlah ku serahkan dan ku percayai Allah yang mengatur segalanya tentang itu, Bukankah Allah itu Maha Pengatur segala yang ada di alam semesta ini!!!.

Bikun terus melaju masih seiring laju analisa tafsiran tentang kejadian tadi. Kemudian berhenti di halte FKM, aku menyebutnya bukan Fakultas Kesehatan Mahasiswa tapi Fakultas Kebanyakan Muslimah, sebuah guyonan yang kugunakan sebagai pelengkap bumbu dikala mengisi materi “urgensi&peran mahasiswa” di kampus DIII ku. Betul sekali, Bikun yang berhenti di FKM adalah tahap pemadatan muatan begitulah aku membuat istilah fase – fase pemberhentian tiap – tiap halte. Semua rata – rata fans Bikun di halte ini adalah muslimah. Aku agak risih jika harus berdesak - desakan dengan muslimah dan wanita. Bergantungan di sisi bis adalah solusi yang cerdas untuk mengalah dan memberikan penghormatan kepada wanita.

Angin sore kampus UI menghepaskan tubuhku yang bergantungan di Bikun. Tangan terasa agak pegal ketika bus ini menikung dan meningkatkan kecepatannya. Mataku berselanjar terpana pada keindahan gedung – gedung dan tumbuhan tinggi yang menghiasi kampus ini, menerawang – awang tak tentu, Kadang terawangan tentang kejadian tadi kadang berfikir tentang pengalaman penulusuran desa yang masih alami saat heaking atau travelling bersama teman – teman pecinta alam di kampus.

”Aku rasa bukan gelombang itu, karena keadaan dan kondisinya berbeda akh” kembali hatiku mencoba menafikkan segala kejadian dan kemungkinan tafsiran - tafsiran yang baru saja terjadi, seiring sampainya Bikun pada halte yang kutuju. Langkah segera ku percepat agar tidak tertinggal shalat ashar. Who is that houri??

888888

Aku terbangun lebih cepat dari alarm jadwal yang sudah ku atur di Handphone. Badan ku berkeringat membasahi seluruh kaos yang kupakai, serasa sedang mandi. Resah bercampur gelisah. Ruangan kost yang agak panas malam ini menambah penatnya fikiranku saat terkaget dalam tidur yang singkat itu. ”Who is that houri?” fikiranku terus melayang, mencoba mengingat kembali mimpi yang berdurasi sangat singkat itu tadi. Di mimpi aku berada di sebuah rumah yang sangat sederhana dengan sedikit hiasan – hiasan. Tak tahu pasti aku berada dimana dan rumah siapa ini. Tidak begitu ramai tetapi luapan kebahagian terlihat jelas menyelimuti atsmosfer setiap sisi ruangan yang ku pandangi. Aku hanya menebak – nebak kalau keramaian ini adalah sebuah acara akad pernikahan, tapi acara akad pernikahan siapa aku belum bisa menjawabnya dengan tepat. Memang tidak seperti acara akad pernikahan biasanya, karena sangat sederhananya acara tersebut. Ku coba memasuki pintu rumah itu untuk melihat siapa gerangan yang sangat berbahagia hari ini. Acara akad berlangsung di ruang tamu yang tidak terlalu besar, tamu yang menyaksikan akad posisi pria dan wanita terpisah.

”Silahkan masuk mas, kalau memang ingin mengikuti acara akadnya” sapa dengan ramah salah satu anggota keluarga yang berada tepat di depan pintu ruang tamu itu. Ku susuri setiap wajah tamu yang menghadiri, banyak tamu yang hadir ku kenal, rata – rata yang hadir adalah orang – orang kampus yang saleh dan tamu – tamu agung lainnya. Sebagai saksi pernikahan ku lihat pak Hidayat Nur Wahid dan ustad Samiun Jazuli. Bang Arsyal mantan ketua SALAM, Pak Mahfud Shidiq, Pak Arie Wibowo, Pak Sayhril (Klinik. Al Fauzan), Akh Nugie, Akh Awo, Akh Ian dan banyak orang saleh kampus lainnya hadir terlihat sedang serius menunggu acara akad yang akan berlangsung diruangan tamu dengan hiasan – hiasan dinding berupa lukisan dan beberapa ornamen seni lain yang unik.

”Akad yang biasa dengan tamu – tamu yang luar biasa, akad yang penuh keberkahan karena di hadiri oleh orang – orang saleh andaikan pernikahanku nanti di hadirkan oleh orang – orang tersebut.....bahagianya aku!” gumam ku dalam hati.

” Silahkan duduk akh Gumam” ramah akh Awo dengan senyum yang khas kemudian menggeser sedikit tempat duduknya mempersilahkan ku untuk duduk. Sekarang di samping kiri ku akh Awo dan dikanan ku ustad Abu Ridho. Tapi aku masih penasaran keluarga siapa gerangan yang beruntung hari ini, acara akad nikah dengan orang – orang saleh. Posisi pengantin membelakangi tamu akad yang hadir sehingga aku tak bisa melihat dengan jelas muka pengantin yang beruntung itu.

”Selamat datang akh gumam di acara pernikahan anak kami yang sederhana ini” suara lantang tapi ramah menyambutku dari tempat posisi perwalian akad. Ku sambut dengan senyum merekah tetapi agak sedikit kikuk.....”aneh orang tua itu mengenalku tapi aku tak tahu siapa gerangan orang tua itu”.

Saat itu pulalah sosok wanita pengantin itu menoleh ke hadapanku, sepertinya ia mulai sadar mengetahui bahwa aku hadir pada pernikahannya. Mata ku pun reflek alamiyah menghilangkan rasa penasaran akan wanita yang berjilbab tanpa mengenakan baju pengantin dengan make up seadanya. Nur (cahaya) wajah yang ku kenal tersenyum tersembunyi menghormati kehadiran ku. Walaupun aku tak kenal siapa namanya dan siapa sebenarnya akhwat itu.

” Bidadari itu, yang sore tadi berjumpa denganku di Bus Kuning dan menjadi impian serta mengiangkan mimpi - mimpi ku selama ini”. Hati ku seakan langsung tidak bisa menerima episode mimpi ini, jika aku sutradara mimpi sudah ku potong bagian episode mimpi ini dan kubuang ditempat sampah. Mungkin jika yang mendampingi pengantin pria itu adalah wanita yang lain, ku anggap ini adalah klimaks episode sebuah sandiwara mimpi yang baik dan bisa ku ajukan dalam perlombaan film dokumenter berjudul ”Pernikahan Islami yang sederhana dan penuh berkah”. Kenapa harus dengan akhwat itu, akhwat yang dapat menggetarkan gejolak jiwa ku walaupun hanya bertemu diantara tatapan singkat cinta yang tersembunyi hingga sore itu. Hati ku linu seperti bunyi dua buah balon yang bergesekan, tercabik – cabik seperti permainan puzzle yang hampir sedikit lagi ku selesaikan kemudian di acak – acak orang yang tak bertanggung jawab. Kesal terhadap ketidak mampuan diri untuk mencegah itu. Tapi semua kekesalan, kesedihan dan kemeranaanku di akad itu tak kutampakkan sebagai pembohongan publik untuk sebuah kebaikan sebagai tamu. Ku pejamkan mata sejenak seakan menutupi topeng kesedihanku dengan sempurna biar orang menggapku sedang tertidur dari kantuk, padahal yang sebenarnya jiwaku sedang berperang sengit antara realitas dan idealisme dalam alam mimpi itu. Tangan kanan ku kepal sekuat – kuatnya.

”Sudah.....sudah....sudah aku ingin bangun dari mimpi ini, Ya Allah bangunkan aku dari mimpi ini, aku tak mampu lagi menyaksikan episode mimpi ini” ku berusaha menyadarkan diri bahwa ini adalah mimpi. Ku coba kendalikan syaraf – syaraf otak ku agar bisa menginpuls kesadaran syaraf tidurku untuk terbangun. Ku coba terus dengan segenap jiwa dan raga agar bisa keluar dari bingkai mimpi ini sambil memohon kepada Allah agar permohonan ku segera terkabulkan.

”Akh Gumam ’Alamnassrohlakassoddroq’ buka matamu, kau harus bisa menyaksikan acara ini hingga selesai, kau pasti bisa,. Lapangkanlah dadamu. Ada hikmah di acara ini?” suara bijak nan lembut ustad Abu Ridho yang duduk tepat disampingku di acara akad tersebut membisikan telingaku seakan dia mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam hatiku.........akupun kaget, mataku terbuka dengan seiring terbangunnya kesadaranku dari mimpi itu. Tidak langsung beranjak, masih melamun panjang dan masih merasakan bias – bias ngilu di hati dari mimpi tadi. Nafas ku terengah – engah belum normal seperti biasanya, dada ku seakan tertusuk sebuah panah tepat ditengah dada ini dan mata anak panah itupun berputar merobek – robek....menyayat. ”Asstagfirullahala’hziim, ada apa denganku hingga bermimpi seperti ini”.

Malam masih menunjukkan keindahannya, ”laillan” sebuah ketakjuban malam. Bintang – bintang bertebaran di cakrawala langit. Hening... hanya alunan dzikir jangkrik dan teka – teki mimpi tadi yang menemaniku malam ini. Segera ku paksakan diri ini bergerak untuk wudhu. Aku butuh ketenangan, aku butuh berfikir tenang tentang tanda – tandaMu yang tak pernah ku respon dari pagi hingga malam ini. ”Yaa Rabbi hikmah dan tarbiyah apa yang ingin kau sampaikan pada hambaMu hari ini” harap ku akan misteri teka – teki hari ini.

Setelah wudhlu ku iringi awal shalat tahajud dua rakaat dengan bacaan ayat – ayat yang pendek, seperti Rasulullah anjurkan agar umatnya tidak merasa terbebani, ibarat olah raga sebelum aktifitas inti diperlukan pemanasan terlebih dahulu, apalagi saat qiyamulail kita memang baru benar bangun dari tidur, otot – otot belum ada yang siap siaga untuk itu, hal ini dimaksudkan juga untuk menghindari cidera. Begitu perhatiannya Allah dan Rosulullah terhadap kita (umatnya) bahkan jika rasa kantuk itu sangat hebat dan takut kita melantur dalam bacaan shalat, dianjurkan untuk tidur terlebih dahulu. Barulah setelah pemanasan selesai kita boleh memanjangkan rakaat dan bacaan dengan tartilnya sesuai dengan kemampuan, tubuh kita sudah siap dengan beban itu.

”Sesungguhnya bangun diwaktu malam adalah lebih tepat untuk khusyuk dan bacaan diwaktu itu lebih berkesan.....”7. setelah dua rakaat dengan bacaan ayat – ayat pendek ku lanjutkan hanya menambah lima rakaat, sudah dengan witir. Diakhir witir ku sujud agak lama, mengakui semua kelemahan – kelemahanku. Sengaja ku sediakan waktu malam yang ada ini untuk mengevaluasi diri, berbicara, curhat dan bercengkraman dengan penguasa jagat alam raya ini....terutama tentang kejadian sore dan mimpi tadi.

Ku replay ulang setiap kejadian yang sudah berlangsung dari subuh hingga malam ini. Tiap jam, tiap kejadian, tiap jadwal agenda dan tiap pergolakan emosi jiwa. Ku susuri tiap wajah, perkataan dan respon yang ku berikan dari setiap orang yang ku temui terjadi hari tadi....adakah aku yang salah?.

” Asstagfirullah.....Yaumiyah......tepat. aku lalai ibadah yaumiyah hari ini akibat tuntutan ujian kimia analis tadi, sehingga bunker – bunker hatiku mudah terbobol oleh godaan – godaan yang sebenarnya bisa ku hadang” Pantas saja segala ucapakanku terasa tak berbobot, ringan dan kering ”tidak qaulansyakilla8. Memang aku tidak tilawah lama seperti biasanya, dzikir ma’sturat pun terlewatkan dengan sempurna. Radar hatiku dan syaraf indra – indra yang lain mati semu, beku jauh dari kepekaannya. Pantas saja gejolak jiwa yang tak terkendali itu dengan mudah menghampiriku sore tadi, memang sejak pulang dari shalat ashar fikiran penasaranku terus melambung tinggi, mengingat, menghayal dan terus menggali rasa penasaranku pada akhwat itu ”Who is that houri?”, sehingga yang ada dalam hati ini hanya bayangan akhwat itu....hati ku lalai. Keadaan yang tidak seperti biasanya aku berprilaku seperti itu. Apalagi kala ujian masih berlangsung yang seharusnya ku konsentrasikan penuh untuk materi ujian besok. Mimpi ini adalah ujian bagiku untuk bisa melepaskan apapun yang aku cintai jika Allah dan segala aturanNya meminta kemurnian cinta ku, sebagai ujian tadi dalam mimpiku adalah akhwat itu. Mimpi yang mentarbiyah.....mimpi yang penuh hikmah..... ”Alhamdulillah ya Allah Engkau bukakan segala rahasia tarbiyah ini, sungguh Engkau memang Maha bijaksana dan Maha Lembut”. Masih ku iringi dengan dzikir syukur dalam posisi bersila dan kepala tertunduk. Suara – suara mobil dan motor di jalan Margonda mulai terdengar olehku dari kamar kost, menandakan waktu hampir subuh, sebenarnya masih ada dua pertanyaan besar dalam mimpi itu yang belum bisa ku jawab hingga subuh menanti, walaupun tidak terlalu penting setelah segala essensi hikmah itu terungkap. ”Who is that houri?”, dan siapakah juga ikhwan yang beruntung dalam mimpi itu, seharusnya ku selesaikan saja episode mimpi itu hingga akhir supaya aku bisa melihat dan berkenalan dengan keduanya, memang dunia mimpi adalah dunia penuh misteri dan kemungkinan........mungkinkah ternyata ikhwan adalah itu aku?;D.
(Izzatulgumam 31/08/06 Ba’da Isya; Onan Said Kost. Depok)

HARI INI GADO-GADO LONTONG.......,ESOK?


“Dalam kesulitan yang bercabang pasti terdapat sebuah kebahagiaan yang ‘rumit’ yang pasti akan kita rasakan semuanya”, kata rumit yang sulit untuk diterjemahkan dalam makna sederhana pada umumnya. Rumit dalam persepsi kita bahwa kebahagiaan ini yang terjadi adalah kebahagiaan gado-gado lontong kesukaan ku…. Kebahagian hanya Allah dan basyirah ku saja yang mampu merasakan,bukannya pelit loh?.

Sambal kacang pake gula jawa, pedas atau sedang?

Tentang spiderman yang ditunggu –tunggu terus kelanjutan serialnya, ‘katanya sih spidy harus jadi superhero sungguhan jangan kekanak-kanakan (do’akan ya, insya Allah)’, kayannya cukup menantang…hhmmm, bagi seorang sutradara yang kreatif dan berbakat. Tapi bukan itulah yang dimaksud….sungguuh.(peace….!).Izzatulgumam-nya diajak bersilaturahim tapi bukan sutradaranya loh…terjadi cukup singkat, ‘Tenang dalam diam…….’biar beliaulah yang melanjutkan kalimat ini.Banyak misteri pertanyaan yang belum terjawab……entah misteri kesibukan, atau entah misteri perasaan yang belum termuntahkan seluruhnya karena bukan pada tempatnya…tapi aku percaya sekali dengan sosok sikap penikmat ikhlas ini (peace….!).

Krupuk udang betawi atau sunda?

Penelitian skripsi yang semakin mendekati dateline praseminar tapi serba gak jelas?, begitulah jika yang kita hadapi orang sama – sama sibuk. Si dosen sibuk, yang mau penelitian nyambi kerja (sok lebih sibuk ;D)….kejar setoran, targetnya gimana?..oh, kerjaan ku sayang kerjaan ku malang. Harus tetap optimis bagai krupuk udang yang kriuuuuk…, kriuuuuk…, kriuuuuk alunan irama yang indah menggoda selera.Enakkan krupuk udang betawi atau sunda ya nada kriuuknya, emang ada?. Bidadari yang cukup menguras dan kapan mengurus, dimanakah kau berada sampai sekarang?

Fresh, sayurannya gado – gado!.

Freeeeesh in, … tetap harus masih nyempetin tilawah, target hapalan, baca sedikit buku tafsir kesukaanku, upppps… tapi QL agak jebol juga nih walaupun bukan alasan kalau lelah adalah rasa yang tertuduh utama. Apalagi bina jasadiah, wah ini mah kudu banget, pagi atau sore akh amat?push up ampe tangan berdarah2, perut ampe kisut abizz,he3x…wajib……musim hujan akhi, rentan penyakit dan banjir. pemimpin – pemimpin Jakarta pada tobat donk!kadernya juga banyak2in do’a, jangan diam. Jika diam, hati objek da’wah juga diam. Unik nya jika sumber maksiat dalam atmosfer terfokus wilayah Jakarta maka kalau panas ya panas banget, tapi kalau hujan ya banjir.Pindahin aja deh tuch ibukota jangan disatuin ama pusat perekonomian, ribeeet!!. Ekosistem kebaikan manusia yang enggak seimbang yang kemudian terungkap oleh kejujuran alam……sumber fresh,kudu!

Dibungkus pake kertas apa mas?

Kertas kesabaran.Harusnya tetap komit kesabarannya dengan resiko yang dihadapi ketika mengambil banyak ‘kerjaan’ sampingan dunia dan mengambil prioritas utama ‘kerjaan’ akhirat. Waktu sangat terbatas, aku merasa berjalan dan berlari dalam kecepatan yang tidak normal ‘more faster’, ketika diam maka aku tertinggal, ketika tertinggal maka aku mengejar, yang dikejar matahari. Lima menit saja diam serasa terlambat satu jam lebih lama. Seakan banyak yang menunggu, banyak yang memanggil, banyak yang meminta baik jawaban untuk solusi kita, mereka dan da’wah atau sekedar mendengar sebait – bait curahan hati seseorang untuk konsultasi. Itulah izzatulgumam, Tapi mungkin itulah fungsi aku masih dipercaya untuk menjadi perannya didunia ini. intinya dunia masih sedang berkata hari ini ‘aku masih percaya pada kebaikanmu, bersabarlah’.(Izzatulgumam;my room Bekasi, 6/02/08).

Sunday, February 03, 2008

TAMAN QUR'AN (rumah matahari kecil tetaplah bersinar)

Apa kabar tukang kebun taman qur'an?bagaimana keadaan bunga Al huda yang sedang merekah, biji – biji Ar Ruh yang sedang tumbuh, daun – daun Al Bayan yang tiap lembaran memberikan penguatan dan apakah akar – akar Al manhaj sudah semakin kokoh menghujam bumi semakin dalam semakin tak tergoyahkan.Sebaik hari ini, sebaik kemarin atau sedang terkena hama. Mengelola jiwa – jiwa yang baru dan sedang tumbuh, polos, suci, intens Ar Rahman yang deras membutuhkan energi lebih, keterampilan dan seni tersendiri maka pelakunyalah harus ‘optimisnya optimis’ untuk menjadi simbol ‘i’baadurrahman’, simbol bukan hanya sekedar simbol, sebab cukup berat pertanggung jawaban setelah melekatnya Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan (Q.S 25:63)” dan ayat – ayat seterusnya adalah pelengkap muashofat kesempurnaannya. Cahaya rahman harusnya seperti matahari, diatas nya yang lebih Maha Tinggi menyinari adalah Nur-Nya. Cahaya yang terus bersinar bersama dengan usia masa dunia dan masa umur panjangnya keruntuhan-kejayaan da’wah ini. Menyiapkan lilin sampai ia bercahaya itu lebih mudah daripada menyiapkan matahari, sebab takkan pernah ada ejekan ‘aktifis lilin’ jika material bahan-bahan matahari itu sendiri murah, siapakah yang mampu membeli dengan segala waktu, kristalisasi keringat dan pengorbanan hartanya?. Dimulailah untuk pelaku yang memiliki profesi kesabaran kredibel dan keistiqomahan yang terus bergerak untuk menjalankan misi suci ini, menyiapkan matahari. Akupun sendiri pernah gagal karena kesabaran yang terbatas dalam waktu yang sedikit menyiapkan matahari kecil, tetapi tetaplah optimis untuk memulai kembali nanti.Matahari besar maupun matahari kecil untuk penyinaran tiap rumah cicilan peradaban Islam yang sedang direncanakan dan diagendakan bersama. Bahan dasarnya ‘Uranium akidah’, uranium sedasyat peledakan Hirosima-Nagasaki dalam beberapa kilogram saja pada waktu sesingkatnya, bahan matahari kecil yang mampu menghancurkan satu negara. Ledakan yang tidak hanya sekali tapi beruntun fusion meningkatkan kekuatannya, jika itu sebagai bahan peledak, bagaimana jika fungsi sebagai cahaya dunia?.

Solusi pendidikan umat

Bukan pakar dan mufthinya tetapi coba belajar memberikan opini dan belajar menganalisa sebuah masalah.Garapan menciptakan matahari kecil ini unik, banyak yang melakukan tapi masih sedikit yang mampu meng-asholahkan dalam format kerangka tarbiyah sesungguhnya.Indikatornya sedikit sekali jualah yang mampu menghadirkan pahlawan bagi Ad din pada masa nya. Matahari kecil yang kental dengan tarbiyah dimasa kekanak - kanakannya. Bagi pelaku tarbiyah marhalah binausrah adalah sulosi pendidikan matahari kecil yang sebenarnya dalam format lembaga non formal saja. Cahaya pendidikan ibunda-ayahanda lebih kekal dan bertahan lama membuat matahari kecil bersinar dimasa kanak- kanaknya hingga dewasa. Untunglah lahan surga bukanlah milik privatisasi orang – orang tarbiyah saja maka pendidikan umat masuk dalam masalah yang harus lebih meluas dan lebih formal dikenal.

Idea dan konsepsi sekolah Islam terpadu yang diusung mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas dengan segala perangkatnya menurut pendapat penulis menjadi masih cukup mahal dan kurang terjangkau bagi keluarga matahari kecil tingkat bawah. Jadilah peminatnya beralih, punya ‘kita’ tapi bukan milik ‘kita’ yang menikmati (baca:ikhwah). Upaya subsidi silang personal kader belum memberikan hasil yang significant. Segera private sector membaca peluang, maka banyak yang taklid membangun ‘bisnis sekolah terpadu’ sekedar meramaikan dan mengambil keuntungan hasilnya. Seharusnya maksud awal konsepsi ini bisa diterima dan dicontoh pemerintah menjadi format dasar pengembangan pendidikan masyarakat (baca:umat Islam) yang segala biaya perangkat operasionalnya disubsidi pemerintah karena tetaplah pemerintah yang memiliki dana umat terbesar lebih besar dari zakat umat yang kita terima, dan seharusnya pula dana tersebut kembali ke umat dalam format pendidikan yang terbaik tidak sekuler seperti yang ada ini. Keuntungannya da’wah jadi ekspansif kedalam keluarga hanif menengah hingga menengah keatas untuk mempercayakan matahari kecilnya dibina, semoga bercahaya.

Bagaimana peran penyikapan pendidikan umat wilayah grassroot berbasis LSM, yayasan – yayasan dan tangan – tangan perwakilan ranting partai memberikan solusi ini, baik secara pribadi maupun kolektif. Harus punya ide pribadi kreatif yang mudah dijalankan dan disetujui oleh kolektif. Lembaga formal umum misalnya; ada taman bermain pra sekolah yang banyak diminati, berjamurnya didaerah bogor-parung sekolah –sekolah alam, TPA formal Islam yang mulai masuk ditiap daerah terpencil menjadi peluang bisnis besar karena masyarakat masih percaya dengan label – label Islam,alhamdulillah, tapi sekualitas apa?apa rahasianya basis pendidikan Muhammadiyah, Al Irsyad, pesantren Nahdatul Ulama masih bertahan dan masih diminati mulai dari tingkat pendidikan anak hingga dewasa?biarlah mufthinya da’wah bertanggung jawab yang menjawab pertanyaan tersebut dalam kaitan masalah pendidikan formal umat.

Masih teringat pada masa tahun 2000an, saat itu halaqoh yang sebagai basis penguatan pendidikan umat baru merambah ketingkat kampus, sekolah menengah atas (SMA) dan hanya beberapa masuk dalam sekolah menengah pertama (SMP). Bagaimana dengan sekarang? Halaqoh bahkan sudah memasuki wilayah sekolah dasar dengan ‘touch’ yang unik menurutku. Inilah letak kreatifitasnya, seninya juga. Apa hubungannya dengan pembicaraan yang panjang tadi dengan menciptakan matahari kecil dalam topeng atau wajihah taman qur’an dan lainnya. Maksudnya inilah solusinya format pendidikan umat non formal (legal), backup da’wah saat da’wah perlu melengkapi kesempurnaannya, menyiapkan matahari baru. Jadi sebenarnya pembangunan rumah dan taman – taman qur’an non formal atau apapun namanya adalah seharusnya menjadi format lain dari halaqoh tarbawiah tingkat usia tersebut, tapi dengan kejelasan kemurniaan (asholah) pelaksanaan tarbiyahnya, tidak buram dan taklid pada metode yang sudah ada sebelumnya. Umumnya kelemahan masjid – masjid atau rumah pribadi yang melakukan pelaksanaan taman qur’an seadanya, seadanya metode orang lain (baca: NU or muhammadiyah) apalagi didukung oleh pelaku yang kurang cerdas dan tidak kritis tentang perjalanan sejarah tarbiyah rosulullah masa kanak-kanak hingga beliau wafat atau kisah mujadid tarbiyah selanjutnya untuk dicontoh. Menurut bijakku itu tidak salah, hanya akan sampai lama menuju tujuan sebenarnya dalam visi fikrah kita nantinya, bukankah Israel laknat juga mengajarkan bagaimana anak – anak belajar berhitung dengan analogi jika dua ratus warga daerah gazza dalam sehari dapat dibunuh oleh sepuluh tentara Israel, maka berapa berapa jumlah hari yang dibutuhkan untuk membunuh seluruhnya warga gazza?

Belum selesai sampai disini saja jika ingin da’wah ini berjalan istiqomah, tersistem, berkelanjutan.Mungkin beberapa pertanyaan dan renungan kita bisa menjawab apakah da’wah ini sudah baik. Sudahkah ada konsep format dasar taman qur’an non formal ditingkat ranting (DPRa) yang kental dengan visi fikrah kita ‘Islamnya ikhwanul muslimin’ yang kita tujukan baik dari graind disain dan contoh – contoh administratifnya?, Apakah kontenuitas pelaporan intens perkembangan masjid dan taman qur’an sudah dilakukan dan ada follow up yang jelas juga progres perkembangan matahari kecil?. Bukankah akan cukup significant menurut penulis bahwa keberadaan anak – anak dalam membantu menyinari rumah – rumah yang masih gelap bagi Islam dan perkembangan peradabannya?. Bagi kejujuran hati mereka orang tua tetap, buah hati adalah harapannya dan harapn da’wah agar kelak menjadi mujahid.

Seni transfer data via infrared, kabel data atau Bluetooth?

Masalah yang ingin disampaikan selanjutnya adalah seni mentransfer tarbiyah umat, baik untuk kejenjang yang lebih tinggi atau turun. Begitupun masalahnya pada tingkat pengelolaan tarbiyah dari usia anak – anak (TK-SD) ke jenjang selanjutnya. Umunya sering kecolongan disini, seperti sama dalam permasalahan da’wah kampus ‘lulus kuliah Vs lolos tarbiyah’ bocor halus! tapi cukup signifikan dari lemahnya seni mentransfer jenjang tarbiyah mad’u – mad’u kita. Perbaikannya adalah memilih mana perangkat yang cocok untuk mentrasfernya via infrared yang ‘tak terlihat’ tapi cukup lama transfernya, kabel data yang lebih nyaman walaupun agak ribet atau menggunakan perangkat lebih tekno via Bluetooth yang lebih cepat, mampu mentransfer data dalam muatan yang besar tapi kadang sering mudah kemasukkan virus?hanya antumlah yang tahu ladang da’wah antum sendiri, bagaimana menyikapi dan bagaimana mencari solusi yang tepat. Maka matahari kecil bersinarlah dan tukang kebun taman qur’an rajin tekun merawat dan memeliharanya.

(Izzatulgumam;kost onan sa’id 03/02/08)