Sunday, February 03, 2008

TAMAN QUR'AN (rumah matahari kecil tetaplah bersinar)

Apa kabar tukang kebun taman qur'an?bagaimana keadaan bunga Al huda yang sedang merekah, biji – biji Ar Ruh yang sedang tumbuh, daun – daun Al Bayan yang tiap lembaran memberikan penguatan dan apakah akar – akar Al manhaj sudah semakin kokoh menghujam bumi semakin dalam semakin tak tergoyahkan.Sebaik hari ini, sebaik kemarin atau sedang terkena hama. Mengelola jiwa – jiwa yang baru dan sedang tumbuh, polos, suci, intens Ar Rahman yang deras membutuhkan energi lebih, keterampilan dan seni tersendiri maka pelakunyalah harus ‘optimisnya optimis’ untuk menjadi simbol ‘i’baadurrahman’, simbol bukan hanya sekedar simbol, sebab cukup berat pertanggung jawaban setelah melekatnya Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan (Q.S 25:63)” dan ayat – ayat seterusnya adalah pelengkap muashofat kesempurnaannya. Cahaya rahman harusnya seperti matahari, diatas nya yang lebih Maha Tinggi menyinari adalah Nur-Nya. Cahaya yang terus bersinar bersama dengan usia masa dunia dan masa umur panjangnya keruntuhan-kejayaan da’wah ini. Menyiapkan lilin sampai ia bercahaya itu lebih mudah daripada menyiapkan matahari, sebab takkan pernah ada ejekan ‘aktifis lilin’ jika material bahan-bahan matahari itu sendiri murah, siapakah yang mampu membeli dengan segala waktu, kristalisasi keringat dan pengorbanan hartanya?. Dimulailah untuk pelaku yang memiliki profesi kesabaran kredibel dan keistiqomahan yang terus bergerak untuk menjalankan misi suci ini, menyiapkan matahari. Akupun sendiri pernah gagal karena kesabaran yang terbatas dalam waktu yang sedikit menyiapkan matahari kecil, tetapi tetaplah optimis untuk memulai kembali nanti.Matahari besar maupun matahari kecil untuk penyinaran tiap rumah cicilan peradaban Islam yang sedang direncanakan dan diagendakan bersama. Bahan dasarnya ‘Uranium akidah’, uranium sedasyat peledakan Hirosima-Nagasaki dalam beberapa kilogram saja pada waktu sesingkatnya, bahan matahari kecil yang mampu menghancurkan satu negara. Ledakan yang tidak hanya sekali tapi beruntun fusion meningkatkan kekuatannya, jika itu sebagai bahan peledak, bagaimana jika fungsi sebagai cahaya dunia?.

Solusi pendidikan umat

Bukan pakar dan mufthinya tetapi coba belajar memberikan opini dan belajar menganalisa sebuah masalah.Garapan menciptakan matahari kecil ini unik, banyak yang melakukan tapi masih sedikit yang mampu meng-asholahkan dalam format kerangka tarbiyah sesungguhnya.Indikatornya sedikit sekali jualah yang mampu menghadirkan pahlawan bagi Ad din pada masa nya. Matahari kecil yang kental dengan tarbiyah dimasa kekanak - kanakannya. Bagi pelaku tarbiyah marhalah binausrah adalah sulosi pendidikan matahari kecil yang sebenarnya dalam format lembaga non formal saja. Cahaya pendidikan ibunda-ayahanda lebih kekal dan bertahan lama membuat matahari kecil bersinar dimasa kanak- kanaknya hingga dewasa. Untunglah lahan surga bukanlah milik privatisasi orang – orang tarbiyah saja maka pendidikan umat masuk dalam masalah yang harus lebih meluas dan lebih formal dikenal.

Idea dan konsepsi sekolah Islam terpadu yang diusung mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas dengan segala perangkatnya menurut pendapat penulis menjadi masih cukup mahal dan kurang terjangkau bagi keluarga matahari kecil tingkat bawah. Jadilah peminatnya beralih, punya ‘kita’ tapi bukan milik ‘kita’ yang menikmati (baca:ikhwah). Upaya subsidi silang personal kader belum memberikan hasil yang significant. Segera private sector membaca peluang, maka banyak yang taklid membangun ‘bisnis sekolah terpadu’ sekedar meramaikan dan mengambil keuntungan hasilnya. Seharusnya maksud awal konsepsi ini bisa diterima dan dicontoh pemerintah menjadi format dasar pengembangan pendidikan masyarakat (baca:umat Islam) yang segala biaya perangkat operasionalnya disubsidi pemerintah karena tetaplah pemerintah yang memiliki dana umat terbesar lebih besar dari zakat umat yang kita terima, dan seharusnya pula dana tersebut kembali ke umat dalam format pendidikan yang terbaik tidak sekuler seperti yang ada ini. Keuntungannya da’wah jadi ekspansif kedalam keluarga hanif menengah hingga menengah keatas untuk mempercayakan matahari kecilnya dibina, semoga bercahaya.

Bagaimana peran penyikapan pendidikan umat wilayah grassroot berbasis LSM, yayasan – yayasan dan tangan – tangan perwakilan ranting partai memberikan solusi ini, baik secara pribadi maupun kolektif. Harus punya ide pribadi kreatif yang mudah dijalankan dan disetujui oleh kolektif. Lembaga formal umum misalnya; ada taman bermain pra sekolah yang banyak diminati, berjamurnya didaerah bogor-parung sekolah –sekolah alam, TPA formal Islam yang mulai masuk ditiap daerah terpencil menjadi peluang bisnis besar karena masyarakat masih percaya dengan label – label Islam,alhamdulillah, tapi sekualitas apa?apa rahasianya basis pendidikan Muhammadiyah, Al Irsyad, pesantren Nahdatul Ulama masih bertahan dan masih diminati mulai dari tingkat pendidikan anak hingga dewasa?biarlah mufthinya da’wah bertanggung jawab yang menjawab pertanyaan tersebut dalam kaitan masalah pendidikan formal umat.

Masih teringat pada masa tahun 2000an, saat itu halaqoh yang sebagai basis penguatan pendidikan umat baru merambah ketingkat kampus, sekolah menengah atas (SMA) dan hanya beberapa masuk dalam sekolah menengah pertama (SMP). Bagaimana dengan sekarang? Halaqoh bahkan sudah memasuki wilayah sekolah dasar dengan ‘touch’ yang unik menurutku. Inilah letak kreatifitasnya, seninya juga. Apa hubungannya dengan pembicaraan yang panjang tadi dengan menciptakan matahari kecil dalam topeng atau wajihah taman qur’an dan lainnya. Maksudnya inilah solusinya format pendidikan umat non formal (legal), backup da’wah saat da’wah perlu melengkapi kesempurnaannya, menyiapkan matahari baru. Jadi sebenarnya pembangunan rumah dan taman – taman qur’an non formal atau apapun namanya adalah seharusnya menjadi format lain dari halaqoh tarbawiah tingkat usia tersebut, tapi dengan kejelasan kemurniaan (asholah) pelaksanaan tarbiyahnya, tidak buram dan taklid pada metode yang sudah ada sebelumnya. Umumnya kelemahan masjid – masjid atau rumah pribadi yang melakukan pelaksanaan taman qur’an seadanya, seadanya metode orang lain (baca: NU or muhammadiyah) apalagi didukung oleh pelaku yang kurang cerdas dan tidak kritis tentang perjalanan sejarah tarbiyah rosulullah masa kanak-kanak hingga beliau wafat atau kisah mujadid tarbiyah selanjutnya untuk dicontoh. Menurut bijakku itu tidak salah, hanya akan sampai lama menuju tujuan sebenarnya dalam visi fikrah kita nantinya, bukankah Israel laknat juga mengajarkan bagaimana anak – anak belajar berhitung dengan analogi jika dua ratus warga daerah gazza dalam sehari dapat dibunuh oleh sepuluh tentara Israel, maka berapa berapa jumlah hari yang dibutuhkan untuk membunuh seluruhnya warga gazza?

Belum selesai sampai disini saja jika ingin da’wah ini berjalan istiqomah, tersistem, berkelanjutan.Mungkin beberapa pertanyaan dan renungan kita bisa menjawab apakah da’wah ini sudah baik. Sudahkah ada konsep format dasar taman qur’an non formal ditingkat ranting (DPRa) yang kental dengan visi fikrah kita ‘Islamnya ikhwanul muslimin’ yang kita tujukan baik dari graind disain dan contoh – contoh administratifnya?, Apakah kontenuitas pelaporan intens perkembangan masjid dan taman qur’an sudah dilakukan dan ada follow up yang jelas juga progres perkembangan matahari kecil?. Bukankah akan cukup significant menurut penulis bahwa keberadaan anak – anak dalam membantu menyinari rumah – rumah yang masih gelap bagi Islam dan perkembangan peradabannya?. Bagi kejujuran hati mereka orang tua tetap, buah hati adalah harapannya dan harapn da’wah agar kelak menjadi mujahid.

Seni transfer data via infrared, kabel data atau Bluetooth?

Masalah yang ingin disampaikan selanjutnya adalah seni mentransfer tarbiyah umat, baik untuk kejenjang yang lebih tinggi atau turun. Begitupun masalahnya pada tingkat pengelolaan tarbiyah dari usia anak – anak (TK-SD) ke jenjang selanjutnya. Umunya sering kecolongan disini, seperti sama dalam permasalahan da’wah kampus ‘lulus kuliah Vs lolos tarbiyah’ bocor halus! tapi cukup signifikan dari lemahnya seni mentransfer jenjang tarbiyah mad’u – mad’u kita. Perbaikannya adalah memilih mana perangkat yang cocok untuk mentrasfernya via infrared yang ‘tak terlihat’ tapi cukup lama transfernya, kabel data yang lebih nyaman walaupun agak ribet atau menggunakan perangkat lebih tekno via Bluetooth yang lebih cepat, mampu mentransfer data dalam muatan yang besar tapi kadang sering mudah kemasukkan virus?hanya antumlah yang tahu ladang da’wah antum sendiri, bagaimana menyikapi dan bagaimana mencari solusi yang tepat. Maka matahari kecil bersinarlah dan tukang kebun taman qur’an rajin tekun merawat dan memeliharanya.

(Izzatulgumam;kost onan sa’id 03/02/08)

No comments: