Sunday, February 24, 2008

CIUMAN KEAJAIBAN

Berapa kali antum mencium kasih sayang bunda (ibu) mu dalam sehari, sebulan atau setahun?sangat bervariatif, sesuai dengan kadar kasih sayangnya, ada yang linear dan non linear dalam memberikan asumsi dari pertanyaan ini. saat masih kecil ya, seiring waktu dan bahkan berlebih, sedang ketika sudah dewasa?. Jangan sampai cinta yang tulus kita dulu saat masa kanak-kanak sekarang berubah bentuk menjadi cinta lain hanya karena sebuah kepentingan, ketulusan yang menguap oleh tuntutan kepentingan berbagi emosi, aktifitas, materi, psikologis dan visi kita terhadap masa depan kedewasaan. Jika sudah menguap, maka mengering dan setelahnya menghilang, hampa dan kemana akan dicari kembali. Menciumnya berarti memberikan rasa sayangnya kembali. Membayar hutang kasih sayang dengan ciuman kasih sayang. Dulupun begitu saat kita balita, wajah suci nan rona menggemaskan pastilah dalam sehari lebih sering diciumnya, atau minimal setelah shalat lima waktu dan setelah beranjak juga bangun dari tidur. Waktupun berbalik, orang tua menuju proses seperti anak – anak dan anaknya bertambah dewasa menjadi orang tua. Sebaliknya akan seterusnya begitu. Sunattullah yang semua pasti mengalami. Semakin lanjut usia akan seperti anak – anak kembali yang lebih membutuhkan kasih sayang, maka jangan disiakan dengan apapun alasan kesibukkan kita untuk tidak mencium pipinya. Menciumnya kaupun merasakan tekstur kulit yang mulai tidak halus oleh gesekan sejarah, berkerut dengan daya lentur yang sudah hampir kurang memenuhi syarat oleh tarikan problematika kehidupan. Inilah pelajaran sederhana merasakan kesiapan dari latihan rutin untuk menerima bahwa seorang wanita (istri) adalah seperti ibuku yang akhirnya juga akan menyusut fisiknya, tapi tak jualah harus menyusut garansi kasih sayangnya.Harus ada kesiapan realita penerimaan hati dengan pelatihan yang intens, memahami bahwa tak ada kecantikan fisik yang abadi dan sempurna. Mendekati kesempurnaan itulah ujiaannya, mendekati keabadian itulah keangkuhannya yang semakin menunjukkan kethagutannya (melampaui batas), walau pada makna hal yang terkecilpun, begitulah tafsir fi Dzhilalil qur’an bercerita tentang penjelasan thagut pada frame terkecil maknanya. Hal terkecil tapi meluas makna bagi insan yang berfikir seperti samudra. Terdalam juga terluas. Sebelum mencium mesra istrimu (wanita) maka mencium kasih sayang adalah ibumu, biar kau mampu tawazun menerima kesiapan cinta dan ambivalensi sayang yang akan mungkin mendua oleh berbagai prioritas dan kepentingannya nanti, antara cinta pada istrimu atau pilihan sulit menuruti kepentingan ibumu. Semoga, ”sekokoh mungkin berpijak dijalan yang bijak tanpa harus ada yang terinjak”* atau layaknya jawaban cerdas amirul mu’minin ketika ditanya rasulullah tentang “apakah takwa itu umar?”. Belajar mencintai seorang ibu dengan pola tarbiyah terprogram berarti juga mencoba memahami pola metode tarbiyah belajar mencintai seorang wanita (istrimu) kelak. Sama halnya memahami kesamaan suatu metode belajar bahasa,sebagai contoh jika kita belajar bahasa inggris maka akan hampir – hampir mirip dengan metode belajar bahasa Arab, walaupun apresiasinya akan berbeda bagi tiap orang. Sungguh sangat Maha Halus Allah mentarbiyah hambanya dengan metode ini bagi orang-orang yang berfikir. Ciuman sayang pada ibu menjadi sebuah rutinitas pengait hati ibu dan anak. Cinta sederhana yang memproduksi amal kasih sayang sederhana juga. Akupun begitu mengaplikasikannya, berusaha selalu menyempatkan untuk mendaratkan ciuman hangat di kedua pipi dan telapak tangannya saat berangkat dan sesampainya ku pulang kerumah, atau yang paling membahagiakan baginya adalah memuji dan mencium disalahsatu pipinya saat sedang lelah memasak atau diselanya, bahagianya ia. Ritual mencium rutinitas inilah kesederhanaan cinta versiku yang menuai keajaiban-keajaiban setelahnya. Keajaiban yang lahir dari ungkapan hati, sebab ku yakin ada ungkapan – ungkapan atau bisik hati yang “positif” setelahnya tanpa iapun sadari, jika ungkapan dan bisik itu menjadi sebuah kondisi jiwa dimana hatinya bahagia, maka keajaibannya adalah kebarokahan dari keridhoan birrulwalidain, sebab keridhoan ibunda adalah keridhoaNya juga, tetapi jika yang terungkap adalah sebuah harapan jiwa maka keajaiban yang terucap adalah sedasyat do’a. Do’a yang istimewa dari dasar ungkapan hati seorang ibu yang tak sempat terucap dan sulit diungkap menjadi sebuah tabungan jiwanya. Do’a inilah yang menjadi keajaiban, letaknya lebih tinggi dari ikhtiar kita sebagai penentu keputusan dan perubahan takdir dengan seizinNya, yang juga telah banyak kita baca, dengar dan yakini dari kisah nabi-nabi terdahulu saat ujian kesulitan dan kebahagiaan melanda. Ciumlah sayang kepada ibumu dengan istiqomah melangkah menuju ciuman keajaiban untuk hari- harimu, seperti cerita bintang.

CERITA BINTANG

Bintang selalu mampu bercerita tentang malam

Bahwa sejauh apapun jarak dari jiwa yang bersinar

Selalu mampu setia terlihat tetap bercahaya menerangi malam.

(Izzatulgumam; Seri kesederhanaan; Bekasi,my room 22/02/08)

No comments: