Monday, February 18, 2008

ISTIMEWANYA SEORANG PENULIS DIMATAKU

Apa istimewanya seorang penulis jiwa dimata seorang penulis juga? Pertanyaan yang lahir dari umpatan berharga dalam malunya kerang penyimpan mutiara untuk terbuka dan panggilan alamiyah kejujuran suara alam rimba. Istimewa, ya?bagiku sangat istimewa, penulis jiwa itu cerdas tanpa batas. kemampuan membacanya sangat mendalam, lebih dari sekedar seorang kutu bukunya akademisi atau peneliti ilmiah, bahkan lebih dari itu semua. Membacanya sedalamnya apresiasi kalam perenungan suci dalam keterpenjaraannya Sayyid Quthb hingga lahirlah kitab Fi Dzilalil Qur’an yang menjadi referensi dunia. Perenungan membaca yang mendalam untuk referensi hidup da’wah yang bergerak. Kondisi lain membacanya sedalam apresiasi sastra dan kajian hadist oleh ‘guru rasa’ tentang ambivalensi jiwa dari rahim cabang kajian tentang kesedihan dan kegembiraan, maka lahirlah kitab ‘la tahzan’ yang fenomenal itu, atau kedalamannya membaca deskripsi sirah nabawiyah dan sirah sahabat yang akhirnya melahirkan tulisan yang ditunggu – tunggu para kreator peradaban:‘manhaj haraki’, bahkan kitabnya lebih tebal dari kitab sirahnya sendiri. Kedalamannya membaca, itulah istimewanya seorang penulis dimataku. Mampu membaca kedalaman wilayah transendent berjalan ke arah ma’rifatnya, mampu membaca kedalaman wilayah kalam menuju pemahaman sinergis kauliyah dan keilmihan kauniyahNya juga ketajaman membaca area hati insan, rasa dan realita ilmiah masalah umat dengan cerdas dan bijak. Benarlah jika kata iqr’a pada makna tafsir sesungguhnya merupakan kunci terbesar kecerdasan diatas tingkat kecerdasan sebenarnya kajian motorik anatomi fisiologi otak kita bagi seorang penulis jiwa.

Kelembutan, Kepekaan,dan kepeduliaan inilah modal dasarnya selain dari keimanan, tapi ini jualah indra keenamnya seorang penulis. Bukan mistis, tapi sebuah realita kajian ilmiah indra ke enam inilah yang mampu melahirkan pahatan tulisan jiwa. Kelembutannya lebih lembut dari sutra raja-raja Persia. Sangat halus. Kelembutannya itulah yang membuat tiap apresiasi penulisannya dapat diterima pembacanya. Seperti kelembutan udara dan angin, tak terasa tapi mengisi mampu memenuhi ruangan nan berguna bagi aktifitas kita. bergerak yang tak melukai, memberikan kenyamanan diterik siang hari dari alunan-alunan sepoinya, tapi janganlah bermain-main sembarang dengannya, sebab badai topanpun bisa terbentuk meluluh lantahkan segalanya. Kelembutan yang dilahirkan dari ketawakalan dan qonaah, mampu menerima apapun dengan bijak dan memuntahkannya dengan santun. Ini juga bab lain pada judul yang sama tentang sebuah kepekaan. Bagi seorang penulis jiwa, kepekaannya harus mengiringi kemampuannya merasakan, melihat dan mendengar. Kepekaan penulis jiwa seharusnya bisa melebihi kepekaan diatas rasa kulit mekanisnya dan kulit rasa jiwanya sendiri, merasakan ekspresi dan apresiasi empati orang lain melebihi ‘urusan’ merasakan dirinya sendiri. Itulah kepekaan sesungguhnya, sedangkan kepekaan inilah seni lainya yaitu kepekaannya untuk menjadi pendengar yang baik yang merupakan juga simbol ketaatannya, seperti iringan kalam ‘ kami dengar dan kami taat(QS 2:285)’ bukannya ‘kami melihat barulah kami taat’ Tak pernah ada kalimat ayat itu. Sebab inilah porsi terbesar kesensitifan keimanan yang melahirkan kepekaan wilayah sigap mendengar ‘perintah’ dari kauliyah dan disinilah ujian terbesarnya bagi seorang mu’min (penulis). Apa indikator ilmiahnya?jadi teringat saat mengisi dauroh rohis kampus DIII ku di parung bogor tentang materi ‘the professional team’ beberapa bulan lalu, ‘salah satu karakter dominan dari seorang jundi atau muslim yang professional dalam beramal adalah pendengar yang baik, coba kenapa demikian akh/ukht?’. Tanyaku pada audiens. Audiens daurohpun terdiam dalam banyak tanya atau malu untuk menjawab. ‘ini bukan berarti antum diam mau dibilang jadi muslim professional khan?’ menghiburku. Kamipun hangat tersenyum riang semua. Inilah indikator ilmiahnya, coba perhatikan dengan seksama jika anak didik kita, keponakan, mad’u kita atau cerita kita sendiri tentang sambutan perintah dari orang tua sendiri.Rasakanlah jika saat kita berbicara (perintah) kemudian kemampuan mendengarnya berkurang dari biasanya maka bisa dipastikan berkurang jualah kapasitas ketaatannya. Kemampuan mendengar yang baik menjadi hukum liniaeritas kapasitas penerimaan yang baik. Inilah kunci sumber kekayaan ilmu bagi seorang penulis jiwa menurutku. Kekayaan jiwa yang semakin memperkaya kematangan ilmu.Mengumpulkan kebaikan- kebaikan yang berserakan menampungnya dalam wadah telinga yang sabar, dan lain hal itu kekayaan ketaatan jiwa inilah asset keimanan dan asset da’wah terbesar menuju perjalanan marhalah selanjutnya. Jadi jika kelembutan dan kepekaan telah melekat menjadi sinergis, maka tak jarang jika kepedulianpun akan muncul untuk tergerak bergerak merangkai dan merangkul apapun dalam kebesaran dan kekayaan jiwanya tadi itu, bahkan mungkin hanya sekedar aktifitas amal kecil memberi kutipan kalimat singkat penggugah ghirah dia lakukan dengan istiqomah, atau juga hanya sekedar saling memercikkan api semangat bagi yang sebenarnya calon penulis besar tersembunyi dengan sumbu siap dan bahan bakar yang sudah penuh, hanya saja tidak ada percikkan api untuk meyulut dan meledakkannya. Kepedulian yang juga mengiringi kepeduliannya terhadap nasib dirinya sendiri ketika ditanya malaikat ‘apa tugas dan peran mu terhadap umat selama ini?’. jadi apa istimewanya seorang penulis jiwa bagi seorang penulis?terjawablah sudah.

Penulis jiwa dalam batasan wacana pembicaraan nasehat buatku sendiri dan lainya, sebab banyak penulis yang hanya senang mengasah goresan-goresan fikirnya saja menuju ketajaman pemikiran melawan dan menguasai pemikiran orang lain.’ya Allah lindungilah aku dalam bab tarbiyah ini’. Bijak sederhanaku, lebih menarik jika karnaval –karnaval jiwanya tak sering dilupakan. Karnaval jiwamu seorang penulis ‘kata adalah sepotong hati’, itulah tiap hikmah tarbiyah harimu. karnaval jiwaku juga penulis itulah didalam tiap tarbiyah ‘perjalanan penulisan’ ku. Jiwa yang tergerak berbicara kebenaran untuk jiwa yang berani menuliskan kejujuran, maka lahirlah tulisan jiwa yang terbangun dan membangunkan dari bius atau mati suri oleh racun kehidupan dunia bagi yang membaca. Mengajak tergerak untuk bergerak dalam ketauladanan ketiap langkah awal baru tingkatan tangga kemuliaan vertikal kaki-kaki langit, sejauh mungkin ke puncaknya kelak. Harapan mulia itulah seharusnya menjadi tujuannya.Cobalah sekedar tengok segmentasi pasar bagi penulis jiwa yang menguntungkan ditengah jiwa umat yang sering lalai tertidur maupun ketiduran bermimpi. Lihatlah juga formulasi jitu promosi judul tulisan buku – buku kontemporer yang dihiasi kalimat ‘pembangun jiwa’ agar menarik para pembaca.laku keras!.Semoga isinya sama dengan judulnya, tidak menipu pembaca yang sedang bodoh atau tidak paham tentang kualitas sebuah buku. Jiwa yang mengungkap rasa dalam jiwa yang tulus menggores pahatan ke jiwa orang lain, maka tulisan jiwa itulah yang mampu mengukir warna – warni selimut rasa jiwa target pembacanya dalam batasan diluar kesadaran jiwanya sendiri penulisnya.Sedikit agak lama mungkin melahirkan pahatan tulisan jiwa ini, lebih keras dari memahat batu cadas, semusykil menulis dalam angin, serumit menulis di genangan air atau lautan. Inilah seninya penulis jiwa. musykil dan rumit, tapi lamanya proses mampu menghujam permanen. Prinsip dan hakekat da’wahpun sama mengajarkan kita demikian.Pernahkah berfikir, tahukah berapa lama ‘naskah’ sejarah pribadinya seorang Andrea Hirrata sehingga tercipta tetralogi ‘laskar pelangi’nya?atau tahukah sebenarnya berapa lama seorang Sayyid Quthb memulai motivasi, merangkai sebongkah idea dan hingga tercipta kitab Fi Dzilalil Qur’an?sejauh perjalanan hidupnya,mungkin itu benar. Hanya ia dan Rabbnya yang tahu pasti, sedangkan kita hanya tahu karnaval jiwanya saja dari estimasi cerita penulisan sejarah dan tulisan-tulisan jiwanya.Maka Jangan lupakan jiwamu karena itulah keistimewaan seorang penulis yang terbesar menurutku. Selamat beramal penulis jiwa dengan tetap terjaga. Mengisi ruang celah – celah peradaban yang masih kosong. Semoga kita bertemu bersama dalam JannahNya nanti oleh eqivalensi jiwa yang diharapkan dari puncak kebarokahan dan keridhoanNya.Amin. (Bekasi, menjelang praseminarku; 18Feb2008).

No comments: