Wednesday, February 13, 2008

SURAT KU UNTUK WANITA MEKKAH

Mekkah hari ini selalu mengingatkan aku akan sebuah surat yang ku tulis kepada pujaan hatiku mentari Ar rahman, entah apa motifnya.

Kepada kucinta,mentari Ar rahman

Harapanku, harapan da’wah.

Di

Mekkah

Assalamu’alaikum. Wr.Wb

Khalifahaluki Mekkah?langsung saja harapanku, jangan marah dan semoga tidak mengurangi rasa cinta ini yang tulus. Bertahan merayu agar engkau tetap ikut bersamaku, semoga. Dengarlah isi hatiku ini tentangmu dengan bijak:

Pilihan yang kita buat takkan pernah salah jika referensinya segudang serendah egoisme, sekobar nafsu, sekufurannya, seangkuhan dan sekeras hati dalam frem berfikir sekerdil pula sesempit keinginan duniawi yang kita politisi pembenarannya dalam ketidak jujuran hati untuk pilihan jalan tersebut. Seperti ungkapan ulama yang saleh “barangsiapa yang tidak benar permulaan kehendaknya, niscaya tidak akan selamat pada kesudahan akibatnya” jadi kadar permulaan menentukkan segalanya tapi akhir yang terlihat biasanya sebagai indikator keberokahannya. Jangan dibuat rumit apalagi sulit, umumnya nilai kebarokahan yang terjaga tidak pernah sulit dan rumit atau jelas-jelas dari proses yang “bermasalah” di paksakan, bahkan hanya sesederhana tidak seaneh trend metode jahiliyah. Mentari ar rahman pun pernah saya anggap seperti kebanyakan bagian dari orang – orang saleh, tetapi Mentari sendirilah yang lupa tentang taujih masalah diatas masalah yang cukup menggugah saat sekejap untaian keluhanku kau balas dengan untaian mutiara ”ini pilihan hidup!Ujian ini adalah sunnahtullah dan perintahNya adalah dengan bersabar, coba kembali luruskan niat, sederhanakan masalah, tetapkan tujuan dan nikmati prosesnya”, tapi kita memang terkadang sering lupa, disengaja karena kondisi tertentu atau memang karena kehendak Allah untuk lupa, mudah – mudahan Allahlah yang tidak melupakan Mentari, sebab masih wajar jika kita yang sering melupakanNya. Menurutku ini masalahnya, walaupun bab nya berbeda sangat jauh, sejauh tertatih makna perjalanan hijrah Rosulullah untuk menyelamatkan akidah umatnya yang tersisa, tetapi terlihat berbeda tipis, hampir mirip-mirip dengan dua muka mata uang logam antara muka tertatih ketakutan untuk ”mengamankan dan menyelamatkan” kelurusan azzam dari obsesi kemuliaan diri dan muka lain tentang kejahiliyahan yang terpelihara ”gemuk” sejak lama yang Mentari namakan ”harapan”,mungkin bahkan sekarang sampai seperti kata pepatah Arab ”berlakulah kau semaunya jika sudah tidak punya malu”.Tak menyangka jika pilihan Mentari ternyata dunia yang membuat nafsu semakin ”gemuk”. Separah itu seharusnya mikir kapan setaubatnya itu (baca:maaf), walaupun kita tidak selevel Ka’ab bin Malik yang kemudian sadar menyegerakan mohon pengampunan karena kelalainnya tidak mengikuti panggilan untuk perang. Sekali lagi akupun tidak merasa benar, tetapi jika kebenaran itu berasal dari gemuruh angin gunung manapun bagi pelaku mu’min dengan telinga yang ”cerdas” seharusnya akan mampu menerimanya,bila itu sekeras petirpun!!kisah umat nabi Nuh lah yang akhirnya menjadi pelajaran dunia Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat”(Qs Nuh:7). Seterusnyalah azab yang berbicara. Maka jika tidak mau mendengar dan hampir tuli ini semata indikator jelaslah hati yang sudah tak taat,...sekarat, alangkah baiknya cobalah mentadaburi surat cinta yang singkat ini juga “padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (Qs. Al bayyinah 5). Bagiku mengingatkan juga jalan pilihan seperti pilihan mentari untuk memilih jalan yang mentari sukai. Walaupun sebenarnya da’wah selalu menunggu&bertanya – tanya kepada mentari ”bukankah ummat terlalu lama menanti jawaban konkrit dari setiap langkahmu? Bukankah tiada yang rela kebarokahan jalan ini luntur?” yang terbaik hanya dengan jalan terbaik dan niat terbaik*,Sebab mentari adalah bunganya umat,semerbak harumnya harus memenuhi ruang dunia ini,tidak layu. seperti dalam puisi singkat ku ini :

DIA BUNGA

Dia adalah bunga. Bunga yang slalu indah dihalaman kesederhanaan dan kejujuran rumah kita.Janganlah pernah ditunggu –tunggu mekarnya, tapi ketahuilah saja musimnya, sebab semerbak harumnyapun lebih panjang dari semusimnya.Semusimnya pasti seharumnya, seharumnya yang lebih memaknai ditiap keberadaannya.Dia adalah bunga. Bunga hanya untukmu para mujahid Sang penggelora karya, penikmat lelah dan pecinta syuhada.Dia adalah bunga. Bunga bukan sembarang bunga, sembarang bukan sebab makna, maka janganlah memaksa atau malah sembarang memetiknya.

Semoga ini tanda kepedulian aku yang terakhir. Entah Mentari ar rahman mau peduli atau tidak, sebab dengan alasan bagaimanapun anda pernah bagian dari da’wah ini dan anda pun tetap ditunggu – tunggu untuk ikut ke Madinah atau tetap menungu di Mekkah?.

Wa’alaikumsalam Wr.Wb

(Izzatulgumam).

Nb: * afwan kutipan tulisannya aku pinjam..

No comments: