Monday, November 08, 2010

SEJENAK BERSAMA AL QUR’AN (2)

Disiplin Lalai (Kuantitas Membaca)
Masih terus terngiang saja dalam ingatan, sebuah ucapan kalimat singkat saudara saya Akh Fikri waktu sesi diskusi pada sebuah forum Lingkaran Sederhana sore itu. Hadiah sebuah kalimat sederhana tausiyah ustad yang didapatkan pada sebuah Mabit (Kader) di Masjid ARH UI Salemba. Saat tausiyah itu disampaikan kembali di forum, saya pun tertunduk sejenak...dan ternyata bukan saya saja sendiri yang tertunduk...“Jangan mengaku seorang Penyeru (Da’i) jika tiap malamnya lalai dalam qiyamullail walaupun hanya untjavascript:void(0)uk dua raka’at saja”, ZzeeeeeBbb....seakan jantung saya tertusuk panah sangat dalam dan berhenti sejenak beberapa detik... sejenak sadar bahwa kedisplinan lalai kita lebih tinggi dari pada kedisiplinan taat kita.

Dan ternyata kalimat tausiyah itu tertoreh juga pada sebuah buku At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran karya Imam Nawawi, yang ditulis sebagai hujjah seorang mukmin yang memiliki komitmen tinggi untuk mempelajari dan berinteraksi dengan Al qur’an, yang saat ini coba saya rampungkan baca sebagai tambahan wawasan kuliah tahsin saya, beginilah kalimat hadistnya “Barangsiapa sembahyang malam dan membaca sepuluh ayat, dia tidak ditulis (dimasukkan) kedalam golongan orang yang lalai. Barangsiapa yang sembahyang dengan membaca seratus ayat, dia ditulis dalam golongan orang yang taat. Dan barangsiapa yang sembahyang membaca seribu ayat, dia ditulis ke dalam golongan orang yang berlaku adil” (Riwayat Abu Dawud dan lainnya). Ternyata kuantitas membaca dan hapalan Al qur’an kita akhirnya berbicara banyak tentang karakter pribadi kita, jadi pertanyaan besarnya : Akan ditulis dalam golongan apa saya malam ini?? (Izzatulgumam; 07112010, Menjelang tengah malam)

Thursday, November 04, 2010

SEJENAK BERSAMA AL QUR’AN (1)

LEVEL 4!!
Level 4!! satu level lagi untuk sertifikasi, selanjutnya talaqqi dan tahfizh. Dan harapan besar para ustad disana kepada saya untuk tidak berhenti sampai level 5 (sertifikasi) saja, tapi minimal sampai ke level talaqqi dan maksimal tahfizh, supaya saya dapat terpandu dan terhindari dari kesalahan membaca Al quran 30 Juz oleh guru langsung. “Minimal satu kali se-umur hidup talaqi 30 juz dengan guru”, ini menjadi syarat penting menjadi seorang muslim sejati, Begitulah pesan hangat Ust. Irman dan Ust. Abdul Qodir pada saya saat itu. Pesan yang memberikan energi tersendiri bagi saya untuk melangkah lebih ringan ke halaqoh qur’an yang terletak di Condet, Gg. Sawo itu.

Kata pendapat ustad dan sebagian orang, level ini merupakan tahap pintu gerbang penyaringan awal kesungguhan seseorang untuk berinteraksi dengan Al quran. Level persiapan dan pembekalan peserta tahsin untuk mengajarkan Al quran. Kita akan diajarkan bagaimana mengajarkan al qur’an dengan baik dan benar. Di tahap ini juga kita akhirnya akan dituntut untuk ‘naik kelas’ (insya Allah) seperti dalam konteks hadist ini “Sebaik – baiknya kalian adalah yang belajar Al quran dan mengajarkannya”.

Lain itu saya dan mungkin sebagian peserta halaqoh juga merasakan fluktuasi semangat yang sangat tentang kepayahan ataupun kesungguhan untuk dapat hadir tiap pekan menghadiri halaqoh ini. Hal ini merupakan cerminan tanya dari kebersihan niat yang ada dalam diri. Siapa yang bersih niatnya maka dipastikan ‘bersih’ semangat dan kesungguhannya, Siapa yang stabil dan komitmen akan niatnya maka akan stabil dan komit pula amal - amalnya. Searah dan berbanding lurus juga dengan kondisi raut wajah – wajah yang menghadiri halaqoh kala itu. Kebersamaan niat dan amal hanya akan terhimpun dan terikat kuat oleh tali kesadaran dan kejujuran kepada-NYA.

Sunnatullah!!

Penyaringan kualitas itu sudah hukum alam, sunnatullah! Menyaring = mengurangi jumlah (kuantitas) hingga didapatkan filtrat yang diinginkan sesuai dengan nilai kualitas yang diinginkan. Memang jumlah peserta level ini lebih sedikit dari level – level dibawahnya. Bukan hanya itu, ada sebagian peserta dari kelompok level ini yang merupakan orang – orang telah teruji keistiqomahan.....”antum masih istiqomah saja di level 4..hehehe”. Sebab makna tahap ini mengalami 2 tahap ujian : ujian teori dan praktek (membaca dan mengajarkan).

Entahlah, Saat ini saya semakin resah saja semenjak saya hijrah (pindah rumah baru) di Tambun Utara. Menghadapi dua agenda halaqoh yang bersamaan dengan jarak tempuh seperti ini seperti sangat perlu cadangan energi lebih: (Tambun – Condet; Tambun – Duren sawit). Jadwal agenda halaqoh qur’an yang sangat pagi sekali mulai jam 06:00 dan jadwal agenda halaqoh lain waktu sangat sore sekali. Semoga motivasi hadists ini memberi bahan bakar semangat tersendiri buat semua terutama saya pribadi “Orang yang membaca Al qur’an dengan mahir akan bersama – sama malaikat mulia lagi taat” (HR. Al Bukhari&Muslim). Saling mendo’akan teman, semoga Allah menguatkan kita semua dari ujian – ujian belajar dan mengajarkan Al qur’an. Bismillah...(Izz@m, 03112010 semangat menjelang ujian)
-------------------------------------------------------------------------------------
SIAP MEMBANTU ANDA...!
Lembaga Bimbingan Alqur’an Al UTSMANI
membuka pendaftaran mahasiswa baru angkatan ke 35...
Jadwal penerimaan
Pendaftaran : 1 -25 Nov 2010
Pria : pukul 08.00 – 17.00
Wanita : pukul 08.00 – 12.00
Tes masuk dan daftar ulang
Peserta baru : Sabtu, 27 Nov 2010
Pria : pukul 13.00 – 15.00
Wanita : pukul 08.00 – 12.00
Kuliah umum : sabtu, 4 Des 2010; Pukul 08.00 – 12.00
Belajar fektif : ahad, 5 Des 2010 (pria); kamis, 9 Des 2010 (wanita)
Info lanjut :
Jl. Condet raya Gg. Sawo No.41 Balekambang kramat jati Jaktim
Telp 80870377, 8094741; www.utsmani.com

Sunday, September 12, 2010

KADO SEDERHANA (7)

Saat kita tak mampu memberi (langsung)
Semua orang pasti akan mengalami kejadian ini, dimana saat pemberian kita terlihat kurang layak secara jumlah dan kualitas, saat pemberian kita terbatas pada ruang dan waktu, atau mungkin saat pemberian kita kurang bisa diterima secara makna pada saat itu. Yang jelas semua pemberi sejati juga mengalami keterbatasan itu sehingga seperti kurang dan bahkan serasa tidak layak jika diberikan secara langsung.

Ada sebagian orang keinginan memberinya dan kejujuran akan realitasnya membuncah, hingga tak ada kamus baginya pemberian tak langsung itu. Apapun yang dimiliki, saat keadan psikologisnya terinpuls, maka saat itulah ia keluarkan apapun yang ia punya, dan apapun adanya dengan kejujuran yang realitis.

Bagi sebagian orang ada yang ‘menabung’ jumlah dan kualitas yang akan diberi agar jumlah dan kualitasnya cukup layak untuk diberikan....entah sampai kapan?. Ada sebagian orang yang sudah memiliki itu semua (jumlah dan kualitas) tapi tetap tak mampu memberi secara langsung karna keterbatasan pada waktu, ruang dan keadaan, dan saat itulah mereka tetap harus ‘menabung’ waktu dan keadaan, agar mendapatkan kadar waktu dan keadaan mencapai momentum tepat yang diinginkan untuk melaksanakan niat memberinya itu. Adakah yang dapat memberikan semuanya secara sempurna?

Bagaimana jika pemberian itu terlalu besar secara jumlah, kualitas, waktu dan keadaan yang tak mungkin dapat dipenuhi manusia secara tak langsung juga. Pemberi sejati faham sekali akan kapasitas dirinya, tapi jangan salah ia pun akan tetap mampu memberi, dan bahkan bisa lebih banyak dari yang ia inginkan untuk memberi. Sederhana saja caranya: Memintalah sebelum memberi. Pelajaran pokok dan sederhana bagi pemberi sejati: Memintalah pada Maha Pemberi apapun yang akan kau beri (Allah menyukai Hambanya yang suka berdo’a) kemudian lihat dan rasakanlah Sang Maha Pemberi melakukan mekanisme-Nya memberi, dengan berbagai Cara-Nya. Allah Maha Kaya pemilik apapun di alam semesta ini, dan terjawablah sudah apa yang akan kita lakukan saat kita tak mampu memberi secara langsung karna keterbatasan permanen itu......maka dimulailah dengan memberi seperti keinginan memberi saya ini: Berdo’alah“Rabbanaa hablana min ajjwazina wa dzhurriyatina qurrota’ayun, wa ja’alna lil muttaqqina imamaa” (Izz@m; 12092010)

"Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai" (HR Abu Dawud)

PUISI HARAPAN AYAH

Nak……….Engkaulah harapan cinta, maka cintailah Rabb mu secintanya untuk memujudkan harapan cinta lainnya.
Nak……….Engkaulah harapan agama ini, maka belajarlah dengan sepenuh jiwa dan beramalah semangat dengan sepenuh hati.
Nak……….Engkaulah amanah besar da’wah ini, maka waqafkanlah hidupmu semampunya untuk kelanjutan hidup manhaj ini.
Nak……….Engkaulah calon pahlawan kami, maka segeralah belajar menjadi pahlawan dalam tiap arena apapun dalam hidup mu nanti.
Nak……….Engkaulah estafet perjalanan panjang cita kami, maka berlarilah semampu mu lebih cepat dari amal kami sebelumnya.
Nak……….Do’akanlah selalu kami nanti, seperti do’a rutin dari kami untuk mu dengan do’a sederhana ditiap hari – hari kami : Rabbanaa hablana min ajjwazina wa dzhurriyatina qurrota’ayun, wa ja’alna lil muttaqqina imamaa”.
(Izzatulgumam; 28082010, Do’a untuk anakku)

10 FIRST THINK (to do) AFTER MERRIED (2)


Kisah (sistem) Cinta dirumah Hasan Al Banna

“CINTA di rumah HASAN AL BANNA” begitulah judul sebuah buku yang ditulis oleh Muhammad Lili Nur Aulia yang juga merupakan Redaktur majalah Tarbawi. Sebuah penggalan kejujuran dan saksi hidup kenangan anak – anak As syahid Hasan Al Banna saat beliau menjadi Ayah mereka yang sekaligus juga pioner da’wah saat itu.
Menurut saya seharusnya buku ini jauh lebih tebal untuk cukup menterjemahkan secara utuh (penuh) kandungan judul buku tersebut. Walaupun nyatanya kurang tebal, tetapi menurut saya buku tersebut isinya minimal sudah cukup memprovokasi untuk kita merenung kembali, apakah kita sudah cukup baik untuk menjadi seorang Ayah yang sekaligus juga ‘berprofesi’ tetap menjadi seorang penyeru.

Entahlah.....Ternyata ahirnya saya terprovokasi juga untuk menulis setelah membaca buku itu (semoga terprovokasi juga untuk mengamalkannya). Dan semoga bukan juga karena dorongan ‘hutang’ tulisan yang sudah melilit jari – jari saya (red; bukan melilit leher loh, beginilah kalau versi hutang ala penulis..he3x) hingga sulit untuk menekan tombol - tombol huruf pada Laptop.

Sebenarnya saya hanya mengambil sangat sedikit saja dari berbagai makna yang ada di kisah buku itu, yaitu SISTEM KELUARGA ISLAM; Pertanyaan besar di benak saya adalah sederhana: Bagaimana as syahid dengan sangat cerdas, hangat, tepat dan sangat kuat membangun sistem keluarga tersebut, hingga saat sistem itu ditinggalkan pun tetap membekas dihati anak - anaknya?saya yakin ini bukan perkara mudah, dan bukan juga kerja- kerja individu as syahid sendiri, walaupun dialah qowwannya. Jadi apa sebenarnya yang ada dibalik semua itu? .

Sistem Cinta, Sistem Ridho

Jika diibaratkan sistem keluarga Islam adalah sebuah komputer, maka sistem yang dibangun harus memiliki software (perangkat lunak) yang handal-cerdas dan hardware yang cukup mumpuni untuk menjalankan program – program ‘amanah’ yang berat sekalipun agar tidak mudah ‘hang’. Kita sebagai muslim sudah memiliki O.S (Operation System) yang sempurna (Islam), hanya saja aplikasi kekinian program – program “exe” yang kita miliki kurang aplikatif, entahlah mungkin karna daya kreatifitas kita yang lemah atau memang kurangnya tsaqofah Islamiyah&tasqofah kekinian kita.

Sebagai tauladan program kreatif pada buku ini, as syaahid membentuk program kreatif sistem data base&informasi keluarga untuk seluruh anggota keluarga yang berisi catatan sejarah kelahiran, medical record dan catatan prestasi formal maupun nonformal dalam satu map. Mungkin kini kita tidak usah pakai map lagi sekarang (jadul boss!!), kita bisa lebih simple lagi mencatatnya pada HP, smartphone, Comunicator (yang N9300 y..:) jadul tapi fav) atau netbook. Alasan apalagi yang membuat kita jadi tidak kreatif dengan sarana yang cukup memadai. Dan itu bagi as syahid bukan hanya setumpuk catatan yang tanpa follow up tanpa evaluasi. Prestasi mana yang kurang pada anaknya selalu didiskusikan kepada guru disekolah untuk dibantu, atau gurulah yang dibantu untuk masukan metode lain dimana anaknya dan anak – anak yang lain dapat meningkat prestasinya.

Lantunan salah satu lirik musik kekinian Ari Laso sepertinya juga cukup tepat untuk menggambarkan maksud yang kedua.....“Sentuhlah dia tepat dihati,...(ga hapal Gan lirik tengahnya, hehe..)........jadi milik ku selamanya”. Energi terbesar yang pernah ada didunia ini untuk menggerakkan sistem adalah cinta, kalau ejaannya versi d’bagindas C.I.N.T.A (korban sering nonton tv nih). Jika energi ini ada ditiap element utama sistem terutama Ayah dan Bunda maka sistem akan bekerja dengan sendirinya menuntaskan apapun amal itu tanpa perintah keras, tanpa lelah, tanpa pengawasan, lebih dasyat tanpa pamrih. Seperti cerita kejujuran pada kutipan buku tersebut ketika Syaiful Islam (anak lelaki as syahid) dilarang menonton bioskop oleh Ayahnya : “Ayah –semoga Allah merahmati-Nya- sangat lembut perasaanya. Beliau sangat memelihara perasaan anak – anak nya dengan begitu hati – hati. Beliau memiliki kemampuan untuk menjadikan kami menurut tanpa perintah untuk mentaatinya. Kami menganggap beliau mempunyai wibawa demikian besar yang menjadikan kami senang mengikuti keinginannya dan tidak mau melawan (CdRHA;Hal 39)”.

Sistem keluarga adalah sistem dimana anggotanya adalah manusia, bukan robot, bukan malaikat, maka jelaslah orang tua yang memelihara hati anak – anaknya dengan hati – hati maka hanti -nya pun akan dipelihara oleh anak – anaknya dengan hati – hati pula...lakukanlah dan coba perhatikan apa yang terjadi (mode on taklid style ustad Mario Teguh)...??

Pemahaman, Mujahadah dan Fokus
Sejauh mana keseriusan&kesungguhan kita dalam membangun sistem keluarga (da’awah) Islam dengan kondisi propaganda sekarang yang kompleks?pertanyaan besar yang juga belum bisa saya jawab secara utuh dalam dinamika ini. Sebab makna, dinamikanya kita sangat santai (lalai) dalam membangun dan menjalankan manhaj ini tapi dengan mengharap ouput/untung yang besar. Malam kita terlalu lalai dengan kelelahan fisik yang mengalahkan perhatian kita pada evaluasi pengawasan sistem yang sedang dijalankan. Fikiran kita terlalu sibuk pada alasan ke egoisan peran utama seorang Ayah mencari rezki untuk nafkah keluarga, dan lalai pada fokus pembinaan istri dan anak – anak.

Sejauh mana?jawabnya sangat sederhannya;Sejauh pemahaman kita, Al fahm akan berbicara banyak tentang ini sampai ke akar-akar nya. Tingkat kepahaman dari element utama sistem akan mempengaruhi kesungguhan kerja sistem amal ini. Maka kenapa semua harus dimulai dari persiapan diri yang baik sebelum menikah, memilih pasangan hidup yang juga baik pemahamannya agamanya (baca CdRHA hal 22 – 25; ya ummu wafa, istana kita menanti di surga; kepercayaan yang sangat besar).

Wanita (istri) adalah poros utama sistem itu sendiri, wanita dengan banyak sekali pengambilan peran dalam sistem tersebut yang akan berpengaruh besar pada kestabilan sistem. Keluarga yang lemah sistemnya dapat dipastikan lemah asset yang satu ini. Istri adalah patner hidup yang berperan sangat besar untuk menterjemahkan, mentransferasi, mentranformasi dan menjalankan sistem yang kita konsep dalam bentuk afiliasi - afiliasi yang sangat unik-khusus. Allah memang sangat mengkhususnya menciptakan mahluknya yang bernama wanita (Istri) untuk peran yang sangat khusus pula. Tak ada yang dapat menggantikan peran ini, sekali pun seorang baby sister (pengasuh anak) terpandai dengan gaji termahal didunia yang pernah ada. Oleh sebab itu Al fahm sangat dipentingkan bagi pasangan kita, dan terjawablah sudah pertanyaan itu bagi seorang ikhwan-akhwat dalam kebimbangannya yang dalam tak kunjung berakhir saat biodatanya tak tersentuh, dalam tanya kepada ustadzah pembinanya: haruskah ana menikah dengan sesama muslim (terbina) Tarbiyah?

Lain di dalam buku tersebut juga diceritakan dengan betapa sangat serius dan bersungguh - sungguhnya as syhid membangun dan menjalankan sistem secara benar dan aplikatif, tiada waktu tanpa program - program yag jelas, mulai dari komitmen makan bersama hingga waktu tujuh menit untuk tidur (istirahat) saja menjadi perhitungan yang matang agar dapat menyelesaikan multi task; agenda keluarga dan agenda da’wah (CdRHA hal 29 – 31). Kesungguhan lain pun terlihat betapa rapihnya as syahid melakukan pengaturan dan pencatatan administrasi keuangan keluarga, catatan prestasi, catatan medis anak dan jadwal agenda keluarga yang disusun tanpa tumpang tindih antara jadwal agenda da’wah eksternal dan kehangatan keluarga. Semua sistem harus kita bangun secara serius dan bersamaan; membangun dan menancapkan sistem ekonomi keluarga, sosial masyarakat, sistem pendidikan keluarga, sistem akidah, dan sistem ideologi. Pasti tapi bertahap dan bertahap tapi pasti!!.

Realitas tauladan kini
Sudah banyak tauladan, silahkan menyontek dan itupun tak berbayar teman!!.Jangan heran yang berlebih jika akhirnya keluar buku yang launchingnya menjawab kebimbangan untuk memiliki anak (terencana) banyak tapi berkualitas. Bacalah kisah dan Pengalaman hidup aplikatif dalam buku “10 bersaudara bintang Al qur’an”, atau kisah istri – istri ustad dan anggota dewan kita yang memiliki jumlah anak lebih dari jumlah standart nasional negara kita (Keluarga Berencana; KB), atau mungkin yang selanjut menyusul menjadi tauladan adalah kita. Mana yang harus disalahkan?jumlah anggotanya, takdir rezeki atau sistem-program membangun keluarganya. Semua punya satu suara ketika ditanya bagaimana mengaturnya agar mereka tetap tertib, akur, disiplin dan harmonis antar seluruh anggota keluarga: Membangun sistem dan program – program yang rapi, detail dan sistematik antara peran, hak&kewajiban.

Dengan menikah Allah menjadikan kita kaya raya, Allah menghadiahkan sebuah perusahaan kehidupan yang bernama keluarga. Keluarga adalah organisasi perusahaan kehidupan yang ‘direkturnya’ adalah kita (ayah), ‘sekretarisnya’ istri kita dan ‘staf – stafnya’ adalah anak – anak kita.

Refleksi Kebangkrutan bukan kebangkitan
Refleksi miris!! jika akhirnya seorang yang mengaku pasangan muslim ketika ditanya tentang sudahkan buat program kerja keluarga setelah menikah belum memiliki jawaban yang pasti dan konkret, dengan dalil syar’i “insya Allah sudah takdir akan berjalan dengan sendirinya akhi”, atau sudah di pikirin akh tapi belum dituliskan, atau mungkin sudah dibicarakan globalnya akhi tapi belum sampai program konkretnya...Padahal sudah menikah hampir genap satu tahun??.

Semoga perusahaan keluarga Islam tidak terkena likuiditas, merger, atau bahkan bangkrut (tidak produktif) karna bermasalah dalam membentuk dan membangun sistemnya. Semoga anggota karyawan perusahaan keluarga kita yang ada didalamnya tidak “resign” secara hati dan fikiran walaupun jasadnya masih dalam pelukan kita. Bangkrut adalah kata dan kisah tersedih yang harus dibayar mahal diakhir untuk dunia dan akhirat bagi sebuah perusahaan keluarga Islam. Seperti kutipan surat cinta ini :“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(At Tahrim:6)”.

Jadi sangatlah jelas bahwa perusahaan keluarga Islam membutuhkan suatu sistem pemeliharaan bukan hanya untuk diri, tetapi juga sistem untuk karyawan-karyawannya (anggota keluarga) yang sangat kultural dan aplikatif, agar dapat bekerja pada realita dinamika duniawi dan harapan - harapan proyeksi akhirat nanti.

Semoga ini realitas indikator sederhananya saat saya sejenak turut terkagum sewaktu meminta fedback sms dari teman – teman untuk tulisan ini tentang seberapa pentingkah membuat program kerja setelah menikah untuk keluarga, begini jawaban jujur sms-nya :
Alhamdulillah sdh, perlu agar khdpn lbh teratur&terencana sesuai syariat (0856xxxxxx166) - PERLU! Ud bkin, tp blm tlalu mksimal plaksanaanny (0813xxxxx989). Akhirul kalam: sebab makna, sudahkah dimulai kisah (sistem) Cinta dirumah Hasan Al Banna dirumah kita setelah menikah??atau belum sama sekali memulai?.(Izz@tulgumam; September 2010. Autotausiyah:Tetaplah disampingku Dear!)

Nb : Ya Allah berilah kekuatan kepada kami untuk menjalankan amanah ini dengan baik.

Monday, July 26, 2010

10 FIRST THINK (to do) AFTER MERRIED (1)

Pesanan dari sehabat kebaikan!!semoga royalti pahala terus bergulir. Idea judul tulisan yang kemudian mengispirasi saya untuk menulis. Seperti kata saya, alasan saya menulis hanya dua : pertama karna ada tuntutan kebutuhan, dan kedua biasanya hanya karna ada yang saya ingin disampaikan, selebihnya saya kurang tertarik untuk menulis. Kali ini saya menulis karna menurut saya ini pantas untuk disampaikan dengan deru – deru perlombaan kebaikan teman – teman yang banyak menggenapkan agamanya menjelang ramadhan ini, tapi semoga saya punya konsentrasi kesabaran yang tinggi untuk merampungkannya disela aktifitas saya yang membutuhkan konsentrasi juga : Persiapan mapping BPOM, Finishing rumah baru,...dll. Allahumma amiin.

Tetap!!Niat yang ‘LURUS’ dan ‘TERANG’ (Edisi Menikah).
Baarakallah...Panen raya tlah tiba!!
Yang pertama merubah status kita adalah Allah swt, kemudian adalah sosial masyarakat. Hak dan kewajiban pun berubah 180 derajat, begitupun nilai ‘reward’ yang Allah berikan. Banyak amalan - amalan baru yang kemudian terubah menjadi nilai pahala yang berbeda. Saya tidak perlu beri tahu rincian amalan ringan apa yang dulunya saat single tak bernilai akhirnya saat berpasangan menjadi nilai ibadah yang besar. Sangat disayangkan jika tidak diniatkan dengan baik dan benar agar bernilai ibadah.
Setelah menikah seakan kita berpanen raya amal kebaikan setiap saat, setelah terjadi ikatan sakral itu seakan kita memiliki ladang luas dan lumbung amal – amal kebaikan yang tak pernah habis terpanen setiap detik, jam dan waktu. Lumbung amal kebaikan yang juga masih tersisa jika ‘dimakan’ habis pada hari itu juga, lumbung prosfektif yang tesimpan untuk jangka yang sangat panjang (akhirat). Niatlah yang membuka pintu gerbang parade – parade panen raya amal kebaikan tersebut. Maka, pastikanlah NIAT menjadi awal membangun landasan keharmonisan, niat menjadi awal pondasi, niat menjadi sari eksistensi da’wah bina usrah ini. Jadikanlah niat menjadi hal yang ‘sakral’ sebelum memandang, menilai dan melakukan sesuatu untuk pasangan kita.

Tantangan niat
Variabel kehidupan kita setelah menikah akan bertambah, ada istri dgn paket sejarah kehidupan sosialnya, anak, orang tua istri dan runtutan keluarganya. Saat itulah niat akan berhadapan langsung dengan lebih banyak variabel kepetingan, variabel hak dan kewajiban yang menyertainya. Uniknya variabel itu karna terikat dalam ikatan tali kasih sayang yang kuat, dan inilah nikmat sekaligus ujian tersulitnya. Kebenaran dan keteguhan niatlah yang akan menentukan lurus jalan- jalannya. Niat yang TERANG-lah yang akan menerangi untuk mudah memilah – milah solusi tarikan variabel itu. Niat, kemana engkau akan pergi?.Niat selalu memandang&berjalan lebih dulu ke depan lebih jauh, dan yang kemudian mengikutinya adalah amal – amal kita, dan niat juga kadang berada dibelakang kita; mendorong untuk memastikan kita berjalan untuk lebih cepat dan pada jalurnya menuju yang dituju (target inti niat itu). Jadi sekali lagi, kemana engkau akan pergi istri ku bersama niat itu?.Pergilah bersama niat yang hanya ‘LURUS’ dan ‘TERANG’ seharusnya!!

Note : Afwan, Insya Allah akan dilanjutankan (masih dalam editing)....yang ke-2 dengan judul “Bulan Madu Kita”, Ke-3 “Program kerja keluarga: Dear, yuk membangun SISTEM!!” dan ke-4 “ Kita Tinggal Dimana ya Akhi?”...Bismillah.
(Izz@M ; MyDesk 9300; 20072010)

Monday, July 19, 2010

KADO SEDERHANA (6)

Nasihat Pernikahan.
Setiap kejadian yang terjadi kita alami pasti mempunyai hikmah dibaliknya,hanya karna daya pandang jarak kita saja yg terbatas menatap masa depan maka memaknainya jadi berkurang. Contohnya sebuah pemberian tausiyah pernikahan: memang kadang kita langsung membutuhkan hal itu (terutama penganten baru) dan langsung menerimanya, dicerna kemudian langsng pula dikeluarkan dalam bentuk energi - energi kebaikan, tapi ada sebagian orang pula yang mengendapkan pada jangka waktu yang cukup lama dalam bentuk kumulasi 'lemak-lemak' teori - teori kebaikan saja. Entah kapan akan dikeluarkan menjadi energi kembali, semoga tidak membentuk 'kolestrol menunda' yang menumpuk, menyumbat darah - darah kebaikan untuk mengalir untuk deras.
Setelah kado elektronik dan kado puisi sederhana, saya ingin sekali memberikan yang lebih bermanfaat dari itu. Yaitu Kado Nasihat. Sebuah nasihat ustad yang memberi tausiyah pada pernikahan saya dulu di Bengkulu, yg kemudian saya "repack" kembali dengan bungkus 'kertas' cinta&kepedulian. Kado ini saya dedikasikan langsung terutama buat istri saya tercinta (bunda cantik*gak pake ge-er... cinta itu tak terlihat, tapi cinta sangat nyata, bergerak ke segala penjuru arah) sebagai pengingat bahwa tanggal 8 Agustus nanti genap satu tahun pernikahan ini berlangsung, dan juga buat sahabat - sahabat kebaikan saya yang menikah di akhir tahun 2009 - 2010. Inilah kado pemberian paling terindah bagi seorang muslim untuk muslim yang lain. Berikut resume Tausiyah ustad. Tusiyah pertama di isi oleh ustad Suherman pada akad pernikahan kami, beliau ustadnya DPD salah satu partai Islam dgn jargon ".....untuk semua" di Bengkulu, dan yang kedua tausiyah ustad pada acara resepsi yang di isi ustd HM. Syamlan, Lc beliau adalah wakil Gubernur Bengkulu. Wakil Gubernur yang sangat tawadhu dan sederhana menurut saya.

Tausiyah I (Drs. Suherman)
Ustad berpesan bahwa Nikah itu adalah sunnatullah, jadi menikah adalah bagian dari anjuran rosullah. maka untuk melaksanakn hal itu perlu adanya :
1. Ikhlasunniah, Niat yang ikhlas menikah hanya karna Allah swt semata, dalam rangka meningkatkan ketaatan&mentaati Allah dan rosul, insyaAllah dengan selalu terjaga keikhlasan niatnya akan terjaga pula barokahnya.

2.Laksanakan pernikahan tersbut sesuai ajaran agama, Sebisa mungkin mengusahakan pelaksanaan berjalan sya'riat Agama.

3.SMART (Sakinah, MAwadah, waRohmah, waTarbiyah), jika niat sdh ikhlas dan pelaksanaanya sdh bermujahdah menjlankan syariat, maka terbentuknya keluarga SMART akan mudah tercapai, sebab awal selalu menentukan akhir. Dengan apa membentuknya?

a. Ta'aruf
Pesan beliau, karna kami dipertemukan dalam kebaikan (da'wah) dan bahkan tak pernah mengenal seblumnya, yang ikhwannya di Bekasi dan akhwatnya dibengkulu. Maka maksimalkanlah bulan madu dan masa awal2 pernikahan dengan mengenal lebih dalam istri dan keluarga. Inilah indahnya seni menikah dengan ta'aruf: pacarannya tanpa batas ...upps sensor!!! (kalau akhir kalimat ini bukan kata ustad ya..he2x), jika yg pakai pacaran seblum menikah, saat bulan madu tinggal bulan-nya saja, sedangkan madunya sdh diambil saat pacaran itu y..??:)

b. Tafahum
Pesan ustad cukup singkat, katanya pahamilah istri dan suami kita dengan baik, sebab dengan pemahaman yang baik akan mudah untuk saling memaafkan dan toleransi satu sama lainnya.

d. Takaful
Saling tolong menolong dalam segala hal urusan dunia dan akhirat, hingga beban akan terasa ringan dipikul. Sikap takaful akan dapat tercipta apabila tercipta tafahum yg baik, kerjasama 'team kehidupan' rumah tangga yg hangat. Akhir pencapaiannya adalah terbentuknya bina usrah yang solid dan produktif. Dari sikap takaful, ustadpun berpesan untuk juga memahami manajemen syi'ri dalam organisasi 'team kehidupan' seperti, kewajiban menjaga 'aurat'/rahasia - rahasia suami istri dan melengkapi kekurangan masing-masing. Jangan pernah sekali kali bermain - main dengan aurat, teman..
Begitulah keseluruhan pesan ustad, dikarenakan tausiyah saat akad cukup terbatas, maka hanya sedikit sj yang dipaparkan, selebihnya hanya point - point saja.

Tausiyah II (Ustad Syamlan, Lc)

Sebagai wakil gubernur Bengkulu, ustad Syamlan kami undang sebagai Sambutan dari Perwakilan tamu, tausiyah dan dilanjutkan dengan do'a penutup...Kerja borongan kata ustad dalam sela ceramahnya, tapi Alhamdulillah disela kesibukannya beliau sempatkan untuk bs hadir. Dan bahkan menyemptkan juga memberikan kami hadiah pernikahan berupa jam dinding dengan hiasan do'a.
Sebagai perwakilan para undangan ustad memohon maaf apabila para tamu hadir dengan pakaian yang tidak seragam, waktu yang tidak sama : ada yg diawal, ditengah dan bahkan diakhir - akhir acara yg kadang dpt merepotkan. Selain itu beliau juga mengingatkan kembali penganten lama agar lebih bergairah kembali dalam mengarungi kehidupan pernikahan sebab inilah hikmah para penganten lama untuk slalu menghadiri acara - acara pernikahan, merefresh kembali kenangan bahagia dan perjuangan saat menjadi penganten baru.
Asam digunung, garam dilaut, bertemunya di Bengkulu. memang jodoh memiliki garis takdir sendiri, ini adalah tanda kebesaran yang Allah swt tampakkan kepada hambanya.

Sempurna Sudah!!
Pesan ustad bahwa menikah itu merupakan sebagian dari Agama bahkan bisa dianalogikan pernikahan merupakan sebagai dari kehidupan. so, se-cantik dan se-ganteng apapun orang tersebut atau sekaya dan sepintar apapun seorang lajang yang belum menikah, maka akan tetap terasa kurang sempurna hidupnya, akan terlihat ada yang ganjil dalam kehidupannya. Maka beruntunglah dan bersyukurlah orang yang dapat menyempurnakan setengah agamanya berikut setengah kehidupannya. Rayakanlah hal itu dalam bentuk syukur kepada Allah.

Iman dan Cinta
Adanya Iman maka hidup menjadi tenang dan ada cinta maka hidup lebih bergairah. Hidup berumah tangga adalah pilihan kehidupan yang akan dijalani dalam jangka panjang. Element inilah yang sangat diperlukan dalam menjalankan rumah tangga: Iman dan Cinta. Jika ada cinta, maka saat mendaki tingginya gunung kehidupan takkan terasa lelah, jika ada cinta saat menuruni gunung kehidupanpun akan terasa nikmat, bahkan saat jatuh terpeosok pun dengan adanya cinta akan tetap indah. Cinta membuat pasangan lebih toleransi dan mudah memaafkan. cinta akan membentuk itu semua.

Pencuri Cinta
Ustad Syamlan pun berpesan di akhir tausiyahnya agar berhati - hatilah dengan pencuri cinta. dimanapun ia akan hadir, dalam jelmaan apapun : pekerjaan, materi, teman dll. Jangan sampai ada yang mencuri cinta dan mencuri Iman dari pasangan kita, dan jika itu tidak terjaga dengan baik maka tibalah kehancuran secara perlahan kehidupan keluarga kita, tapi jika kita bisa menjaganya, maka terciptalah jaminan kehidupan keluarga Sakinah, mawadah dan warohmah. Allahumma amiin. Bukannya ustad dari Bengkulu (melayu) jika tidak berpantun, maka diakhir tausiyahpun ustad Syamlan berpantun, inilah pantunnya :
Bukan selendang sembarang selendang
Selendang disiapkan untuk pengantin baru
Bukan datang sembarang datang
Kami semuanya datang tak lain adalah menyampaikan do'a restu

"Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai" (HR Abu Dawud)

Note : Tahu bisa basi tapi Tausiyah tak pernah basi..smg menguatkan!
(Izz@m, 17072010; myDesk N9300 Baarakallahulaka sahabat)

Friday, June 04, 2010

KADO SEDERHANA (5)


Kado - Kado Elektronik
Seni memberi adalah bagian seni yang sangat unik, tak kenal waktu dan tempat. saat luapan memberi itu membuncah maka saat dimanapun atau kapanpun juga akan meluber dan meluap. Hal itupun terjangkit pada saya, kado sederhana ini begitu saja mengalir memberi, bahkan saat saya di mobil jemputan kerja menuju cikarang atau inspirasi hangat saat pagi2 sekali menuju LBA Al Utsmani mengejar mimpi yang belum terbeli lunas. Semua kadang tertuang penuh, kadang setengah, kadang sangat sedikit simple dan sederhana sekali hadirnya. ini yang sangat sederhana, yang coba saya tuangkan dalam kado elektronik dari pesan singkat (SMS) sederhana saya terutama untuk istri tercinta, selebihnya untuk sahabat-sahabat saya yang sedang bermujahadah (dibulan Juni&Juli ini...he2x..sibuk y) untuk menggenapkan agamanya....SMS terkiriiim..:)

SMS 1
"Pernikahn (Islami) itu bagaikn sebuah simpul2 da'wah.Simpul makro-nya akan membntuk peradaban yg kita cita2kn bersama.Sdngkn perbedaan Adat, kultur budaya, dan kebiasaan qt merupkn bagian seni simpul mikro tersendiri yg shrsnya dirajut erat dgn kesabaran. Maka dimulailah hanya menikah dgn membuat rajutan ikatan simpul yg benar&kuat!!"(izz@m 18042010)

SMS 2
"Pernikahan itu bukan sekedar keinginan, tapi berasal dari keberanian yg trbungkus keyakinan untuk tujuan 'jelas','terang', 'luas' dan 'dalam'. Pernikahan itu bukan sekedar perpaduan, ia menyatukan dua insan dlm perpotongan takdir yg sama. pernikahan itu bukan lahir dr kata, tapi lahir dr "matang"nya kekuatan azzam yang menancap lingkaran terdalam diqolbu kita. ia terdengar bisu tapi matang, ia ramai tapi mewahnya kebarokahan menyelimuti tiap jiwa dgn makna."(Izz@tulgumam:menikah syar'i).

SMS 3
"Ingin Menikah syar'i!!,...Sempurnakanlah dulu keyakinan!! sempurna krna membulat makna-makna, sempurna karna membaja niat (motivasi), sempurna yg tersuci bersih, putih dan lurus krna petunjuk-Nya, sempurna krna dicerdaskannya keyakinan itu sendiri, atau dgn kata lain berusaha sepenuh jiwa agar keyakinan itu terus tumbuh sampai mendekati titk kesempurnaan, hingga takkan pernah tersentuh makna kata keraguan sedikitpun."(Izz@m)

SMS 4
Segeralah menikah secara syar'i atau menundanya hingga Allah memberikan jalan kebaikan(kebarokahan)&kemudahan dari buah indahnya istiqomah kesabaran di jalan da'wah adalah sebuah pilihan bagi muslim yang bersungguh!!(Izz@m; 18052010)Keep istiqomah!!.

SMS 5
"Upayakanlah merasa bahagia selalu dengan adanya istri, anak dan keluarga apa adanya, dlm keadaan apapun.Karena merasa bahagia adalah indikasi dini kita telah mensyukuri nikmat yang ada" (Izz@m; menikah syar'i itu bahagia).

Nb : Yang merasa memiliki dzhon berkembang terus, saya mohon dimaafkan.

"Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai" (HR Abu Dawud)

Saturday, May 08, 2010

KADO SEDERHANA (4) : MET MILAD ISTRI KU


Jika Cinta Harus Berkata...
Jika cinta harus berkata..., maka cinta menyapa "yaa ayyuhal mu'minuun".
Jika cinta harus berkata....,maka cinta menyeru "ada cinta diatas cinta!"
Jika cinta harus berkata....,maka kata cinta menjawab seperti sahabat menjwab sebuah tanya rosulullah "aku mencintaimu seperti mencintai diriku sendiri".
Jika cinta harus berkata....,maka cinta kadang cukup membisu hanya dalam do'a-do'a Robhitohnya dan hati yg berdzikir panjang.
Dan jika cinta harus terus berkata.....,maka cinta akan berbicara dalam diam, tapi diamnya lebih jelas dari orang yang berbicara, jika diamnya terlalu lama maka bergegaslah ia keharusan untuk bergerak.(Izz@m 23042010, kado milad:metmilad istriku)

Note : "Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai" (HR Abu Dawud)

KADO SEDERHANA: Istriku, langit masih biru? (3)


MUHAMMAD ALIF HAFIZH....ANAK KU.

Nama : Muhammad Alif Hafizh
Tempat Tanggal Lahir: Bekasi 27 April 2010
Waktu/ Jam : 00:05 WIB
Berat : 2,70 Kg
Tinggi : 50 cm
Agama : Islam