Monday, September 29, 2008

DIAM ITU CINTA (Diamlah sejenak berhenti)

Berhentilah sejenak.................
Bergeraklah kemudian diam dan datanglah lalu kemudian pergi.Jiwa yang menerangi dan cita-cita yang menyala, semoga mengerti betul makna menapaki ikhlasnya ikhlas, sebab ku memahami sebab ku akan memberi sari ikhlas ini.Hanya yang memiliki yang bisa memberi. Aku yang harus dianggap lebih mengerti, seakan aku harus dituntut lebih merasa. Aku kadang divonis hari ini mungkin esok tapi pasti oleh masa nanti sebagai terdakwa perusak keikhlasan-kebarokahan, dari tabungan kisah bulan dan masa lalu yang mungkin dianggap salah.

Tetap, berhentilah sejenak...............
Aku, cinta, istiqomah dan cerita bintang yang mengisahkan kesetiaan yang takkan pernah habis diceritakan sepanjang masa.Aku dan izinkan aku mencinta yang berazzam menggapai hafidz untuk niat sebuah kebarokahan.Aku kadang dengan sesulit tapi lebih bahagia. Aku, dimensi peradaban dan puisi kopi malam yang mungkin takkan tergapai kini.

Harus, berhentilah sejenak..............
Diamlah, nikmatilah sunyi kembali yang ada didalamnya terdapat banyak kunci jawaban.Waktu kadang adalah aku dan jawaban itu sendiri juga aku.Waktu dan dimensi ketetapan adalah ruang perasaan ku,maka waktu adalah guratan emosi adalah jawaban rasa ku. Jika ragu maka tinggalkanlah, sebab aku sudah lebih memilih diam. Tak salah dan jangan merasa bersalah, karena diam untuk menghargai itu takkan pernah salah. Karena diam juga selalu pernah mengajarkan makna seberapa bertahan kekuatan sabar dan kekuatan sebuah cinta.(Izzatulgumam;Bekasi; 200308)

GUMAM MUTIARA

Ada tags baru pada halaman izzatulgumam ini “Gumam Mutiara”. Mungkin dari kita tak merasa, terkadang apa – apa yang terucap dengan ikhlas atau dengan spontan dari teman atau siapapun bisa menjadi bahan renungan yang mendalam bagi pendengarnya. Atau memang sang penutur kata tersebut yang telah lama mendalami lebih dulu dari bukan sekedar teori, bukan sekedar pengalaman tapi menjadi sebuah intisari madu kehidupan, sehingga setiap kata yang terucap menjadi rangkaian kalimat menggugah kita semua. Atau memang kita sebagai pendengar sedang membutuhkan kata. Membutuhkan kata untuk sebuah cinta, tapi tentunya dari tak sekedar gumam... Selamat menikmati…..


“…dengan kita bergerak. insya Allah, Allah pasti akan menggerakkan hati manusia yang lain untuk turut bergerak” (ustadz Wahono; Tarbiyah Center Depok).

“…biasanya orang yang suka membaca akan lebih menarik dan disukai banyak orang..” (Bpk Umar J; Dosen Menfarkom Apteker UI; kuliah ke-4).

“ semangat itu ada pasangannya : lelah. Itu mutlak. mungkin saja saat aku lelah teman – teman sedang sibuk dengan semangat, jadi lelah ku terecoveri…..” (my outbox sms; 220908, 21:24)

“Tdk ada kecewa dlm dwh yg ada hnya hikmah or ibroh Fit, terlepas itu trjd atw tdk. Mngimani takdir trmasuk dlm bgian mmbuang jauh kekecewaan saat rencana tdk brbuah jd hasil…” (my outbox sms; 280908, 14:16)

“…pasangan jiwa itu adalah rahasia kehidupan yang kita semua tak pernah tahu….bisa dekat atau jauh” (akh Sigit; staf RS Harapan Kita)

“ …….akhi mempelajari dan memahami Al qur’an itu membutuhkan waktu…..” (ustadz Salim; Utsmani Condet, Coffe break)

“ Sepertinya kalimat yang terlalu panjang sudah menjadi “penyakit kronis” dalam tulisan-tulisan kakak. Sepertinya kalimat-kalimat panjang ini….” (Indah Apt 68)

Friday, September 26, 2008

SEMANGAT ITU HUJAN CINTA


SEMANGAT ITU HUJAN CINTA
Hujan yang penuh cinta akhirnya ikhlas turun
Derasnya memanggil gairah, anginnya berteriak memberi.
Dan terus memberi.
Semoga cinta tahu, semoga merasa, semoga membara.
Tak ada padam, tak ada akhir, karna istiqomah tak pernah berakhir.
(Izz@m; Depok, Ramadhan 1429 H. 250908)

Friday, September 12, 2008

NGEBUT (Lemah akselerasi)


Seperti biasa hari ahad sore menjadi rutin azzam tersendiri untuk bisa hadir tepat waktu, tepat niat dan tepat persiapan baik jasad maupun ruhiyah. Kali ini sungguh meleset, telat!aku ketiduran akibat aktifitas nulis setelahnya, sebab biasanya jika tidak ada agenda eksternal keluar rumah, ku gantikkan untuk agenda ‘berberes’, menulis dan membaca. Aku ketiduran hingga laptop ku pun masih menyala saat ku bangun.

Jadi terburu – buru tanpa persiapan apalagi untuk tepat waktu!! Tapi minimal harus punya alasan yang jelas unttuk harga sebuah kejujuran. Kebetulan sekali dirumah ada motor adik yang ngangur tak dipakai, langsung ku pinjam saja untuk segera melaju ke forum pekanan yang jaraknya cukup lumayan sekitar 20 – 30 menit dari rumah.
Sudah lama sekali memang aku tidak menggunakan sepeda motor untuk sebuah agenda ‘ngebut’ mengejar waktu….hal itu berakhir saat bersamaan aku lulus SMA, jadi sejak SMA kebiasaan ini menjadi hobby tersendiri terlebih ayah ku membelikan hadiah ulang tahun saat itu sebuah sepada motor bebek racing keluaran baru (pada masa itu).

Masa jahiliyah yang menjadi lukisan memori otak agar bersyukur dan menjadi torehan kebijakan hidup untuk nantinya. Agenda ngebut rutin pagi hari ke sekolah dengan sengaja menyelap-nyelip diantara kemacetan dan angkot – angkot ‘bandel’ yang suka action ngebut juga. Saking sukanya akan kebut-kebutan, pas baru beberapa minggu dapat hadiah motor, tak sengaja mobil kantor ayah yang saat itu melewati jalan kalimalang terselip juga oleh agenda kebutan ku. Aku tak sadar kalau itu adalah mobilnya, akhirnya tanpa basa – basi lagi sesampainya dirumah beliau langsung memarahi dan menasehati, bahkan mengancam untuk menarik ulang motor tersebut..(piss Yah..kalau negbut lihat2 donk bang,he3x).Lainnya, agenda ‘jalan minggu’ (biasanya ba’da latihan sepak bola) or ‘jalan sabtu’ habis pulang sekolah bersama geng motor teman sekelas (Rudi, edo, baskoro, dan lain2….kemana nih ente semua sekarang?), dengan tujuan yang entah ga jelas. biasanya survey ke rumah teman – teman yang sekelas dan enggak sekelas, dari yang kenal akrab sampai yang memang kenal nama doang, selebihnya cari tempat yang enak buat nongkrong atau kalau lagi enggak mute nongkrong dirumah Rudi yang dijadikan base camp resmi untuk ngutak – atik motor anak – anak, coz peralatan bengkelnya cukup lengkap. Dari situlah aku mengenal sedikit tentang mesin motor.

Skill ngebut ria itu kadang cukup menguntungkan saat – saat waktu kritis menjaga sebuah janji dan tauladan untuk DISIPLIN on time. Tapi entah kenapa skill itu mendadak sepertinya menghilang, entah karena sudah terlalu lama tak diasah atau memang spirit itu sudah hampir melemah. Badan dan tangan ku bergetar kencang saat ku laju sepeda motor baru mulai 90 – 100 Km/jam, dan lain lagi, hati ku mulai menciut saat ngerem mendadak hampir menabrak, padahal dulu menyenggol, tersenggol atau bahkan hampir benar menabrak mobil tak pernah ada kengiluan dihati apalagi sampai badan dan tangan bergetar. Insting dan feeling pun saat jalan harus menyelip – nyelip diantara dua sampai empat mobil angkot yang harus dilewati menjadi tidak seperti dulu bagai permainan games yang menyenangkan. Penuh tantangan untuk sebuah kegembiraan. Aku jadi lebih rada takut kali ini, padahal ngebut hari ini untuk momentum kebaikan..

Setelah merenung kembali, bisa jadi ini sebuah sunnahtullah bahwa membangun kebiasaan-kebiasaan kebaikan itu sulit, sesulit kita juga bila lemahnya azzam menghapuskan kebiasaan kejahiliahan yang telah melekat. Atau bisa jadi sebaliknya, menghapuskan kebiasaan - kebiasaan kebaikan itu menjadi mudah, semudah bersamaan saat kita juga mulai mudah melakukan kebiasaan kejahiliyahan. Ibroh lain, bagi da’I yang lemah-malas mental mengasah (melatih/belajar) kapasitas dirinya dalam sinergi berjamaah atau individual untuk kepentingan da’wah dan akhiratnya, maka jelas ia takkan mampu memotong tali – tali konspirasi kejahiliyahan, sebab pisau yang dipakai dipastikan tumpul!!. Apalagi untuk menjadikan tajam mata hati untuk sebuah bashirah solusi menyelesaikan masalah dan menjadi penerang masa depan generasi ummat…..pasti jauh lah dari yang diharapkan.Asstagfirullahal’adzim…

Nb : akhi kpan kita ngebut lagi,he3x!!
(Izz@m ;070908 my room Bekasi)

Tuesday, September 02, 2008

HIBURAN JIWA DAN HARAPAN


Sejak sebulan lalu kepindahan kakak, ada hal menarik dihati yang timbul alamiyah. Keinginan dari kecenderungan yang tak biasa untuk pulang kerumah bila hari sabtu atau ahad tiba, biasanya aku lebih nyaman sabtu atau ahad dikost untuk menikmati agenda da’wah. Ya, sebab hari itu kakak ku dan kedua jundinya yang imut ukhti Nikita (4th) dan akhi Muhammad Jamil Zidane (6th) yang biasa kami panggil bang Zidane selalu menyempatkan silahturami kerumah bahkan kadang menginap, dan menjadi kesenangan sendiri saat ‘rumah mini’ ku dijadikan tempat menginapnya.
Rasa rindu yang sulit diungkapkan berbalut canda hadir saat keponakan ku datang, hiburan jiwa yang tumpah meruah melihat kelucuan dari kedua keponakan ku yang memang pada usia itu, masa dimana Allah memberikan rasa kepada siapapun untuk takjub penuh kecintaan kepadanya, dan dihadirkanNya juga dalam rasa manusia yang melihatnya untuk tertarik (konsen) penuh, maksudNya agar orang tua dan siapapun yang berinteraksi agar mampu tertarik(konsen) mencintai. Supaya proses pertumbuhan alamiyahnya dapat teramati dan terjaga dengan baik oleh orang sekitar dan siapapun hanya dengan cinta, sebab pada usia itupulah menjadi rahasia penting usia emas untuk mudah memulai menumpahkan, melukiskan dan menggoreskan tinta – tinta kehiduapan.
Begitupun rasa itu yang menghinggapiku, maka saat ketemu adalah saat penting untuk menggoreskan pena itu atau mengevaluasi aktifitas kebaikannya selama seminggu dengan ‘cara’ ku, seperti ini : “kata bu guru dan mama abang sudah hapal surat – surat pendek dan do’a iftitah ya, coba Om mau dengar kalau bisa Om kasih hadiah” kata ku sambil mencium pipinya yang gembul. Walaupun agak malu-malu akhirnya dengan ‘gaya’nya keponakanku itu murojaah juga. Tak percumalah saat Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) menjadi pilihan, bayangkan baru kelas 1 saja sudah pintar berbagai macam ‘skill’ baik akademisi umum dan akademik religi. Dari diajarkan hitungan model sempoa hingga hapalan do’a shalat, surat – surat pendek Al qur’an dan banyak lainnya…bangganya aku kepadamu Bang Zidane.Memang awalnya aku mengusulkan agar tidak sekolah di SD Negri/inpres ke kakak ku sebab dari observasi dan lainnya karena sekolah itu gratis jadi kurang diperhatikan benar, lain halnya di SDIT gurunya saja dalam satu session pelajaran harus minimal 2 orang, dan itu harus dibayar cukup mahal, miris jika menghitung kalkulasi uang masuk awalnya sama dengan biaya kuliah ku di apoteker UI…fiuuh. “sabar mpok, insya Allah ga akan habis rezekinya bang zidane kalau niatnya untuk memperbaiki generasi(Islam)” ujar ku selalu meyakinkan kakak.Tetapi memang untuk menikmati pendidikan Islam yang baik masih mahal dan masih tidak bisa dinikmati kalangan umat Islam pada umumnya. Inilah PR kita dan menjadi PR bersama bagaimana bisa menghadirkan pendidikan yang terjangkau untuk ummat tapi berkualitas, minimal terlebih pendidikan yang terbaik untuk keluarga kita dari kita dengan niat, waktu dan metode yang terbaik.
(Izz@m 020908 kost onan said)

PUTRA – PUTRI BETAWI DI WISUDA


Agustus ini adalah panen raya, dua putra-putri betawi dari keluarga besar Agus Sasi di wisuda. Adikku tercinta sabtu 30 agustus 2008 kemarin disumpah profesi apotekernya plus wisuda, sedangkan aku alhamdulillah masih diberi kesempatan Allah untuk bisa wisuda sarjana. Kebanggaan tersendiri bagi siapapun untuk merayakan kemenangan itu, kemenangan karena terlepas dari beban biaya yang menjerat rutin, kemenangan untuk punya peluang berbakti mengembalikan kristal – kristal keringat yang pernah diberikan, tapi bukan berarti proses pembelajaran telah selesai. Saat orang tua dan anak nya berbangga untuk di wisuda dan berfoto – foto dengan pakaian Toga-nya, terlebih ini adalah kampus yang didambakan banyak orang....UI (males banget dah!!). Kali ini tetap...akhirnya adikku wisuda apotekernya dihadiri oleh kedua orang tua, jadi ia merasakan benar bagaimana rasanya bangga ‘merayakan’ kemenangan itu yang sebelumnya wisuda sarjana tak dilakukannya.
Keluarga ku (terutama Ayah ku) termasuk orang yang tidak suka akan acara-acara seremonial (simbolis), maka hal itupun tertular ke aku, lain hal itu karena ibu mujahid tercinta sudah lama terkena penyakit ginjal yang mengharuskan minum obat seumur hidup dan tak mampu untuk beraktifitas berpergian seperti orang normal, syafakillah bu,Sabar ya akan ujian Allah (Allah Love You)!!. Dua kali wisuda, dua kali juga tak bisa dihadiri oleh kedua orang tua ku, wisuda DIII dan Sarjana. “engga apa-apa khan kalau datang wisuda sendiri” bela ayahku...Kecewa?..ah tidak juga! Bahkan saat DIII dulu dengan bangga-nya undangan wisuda untuk ortu, ku berikan kepada seorang teman seperjuangan da’wah (akhwat), orang pertama yang berani menikah saat kuliah, saat nikah sambil kuliah belum menjadi trend kala itu bahkan menjadi larangan akademik, sebab diawal kuliah memang kami menandatangai kontrak tidak boleh menikah saat kuliah (sejak kasus ini tidak ada lagi perjanjian itu ditahun selanjutnya). Undangan ku berikan agar suaminya bisa menghadiri selain kedua orangtuannya. Dan saat tawaran orang tua ku menawarkan lagi kali ini untuk ikut wisuda diBalairung UI, dengan tenangnya aku hanya bilang “Gimana Yah kalau uang wisudanya aku belikani buku saja?” please deh hari ginie!!....ah dasar pikir ku: like father like.....saat ku tahu engkau ternyata lebih maniak parah juga kalau sudah baca waktu muda dulu, tentang koleksi buku2 mu yang berpeti-peti dan beberapa buku harian yang berisi tulisan curahan idealisme dan puisi perjuangan kejujuran kehidupan, bedanya saat itu zaman dimana engkau belum mengenal yang namanya alm Ustd Rahmat Abdullah dan teman – temannya, tapi sekarang kau bisa menikmati percikan karya-karyanya yang bergerak nyata yaitu aku dan adik ku.
(izz@m, 020908 kost Onan sa’id)
Nb : afwn buat teman2 saat wisuda fakultas kemarin, aku menghilang lebih dulu engga ikut foto2 bareng: “k’agung kemana seh?”......fren maapin, pokoknya ane ga betah dah ama yg namanya acara seremonial or simbolis terlebih adanya kemubaziran ditiap lini.