Agustus ini adalah panen raya, dua putra-putri betawi dari keluarga besar Agus Sasi di wisuda. Adikku tercinta sabtu 30 agustus 2008 kemarin disumpah profesi apotekernya plus wisuda, sedangkan aku alhamdulillah masih diberi kesempatan Allah untuk bisa wisuda sarjana. Kebanggaan tersendiri bagi siapapun untuk merayakan kemenangan itu, kemenangan karena terlepas dari beban biaya yang menjerat rutin, kemenangan untuk punya peluang berbakti mengembalikan kristal – kristal keringat yang pernah diberikan, tapi bukan berarti proses pembelajaran telah selesai. Saat orang tua dan anak nya berbangga untuk di wisuda dan berfoto – foto dengan pakaian Toga-nya, terlebih ini adalah kampus yang didambakan banyak orang....UI (males banget dah!!). Kali ini tetap...akhirnya adikku wisuda apotekernya dihadiri oleh kedua orang tua, jadi ia merasakan benar bagaimana rasanya bangga ‘merayakan’ kemenangan itu yang sebelumnya wisuda sarjana tak dilakukannya.
Keluarga ku (terutama Ayah ku) termasuk orang yang tidak suka akan acara-acara seremonial (simbolis), maka hal itupun tertular ke aku, lain hal itu karena ibu mujahid tercinta sudah lama terkena penyakit ginjal yang mengharuskan minum obat seumur hidup dan tak mampu untuk beraktifitas berpergian seperti orang normal, syafakillah bu,Sabar ya akan ujian Allah (Allah Love You)!!. Dua kali wisuda, dua kali juga tak bisa dihadiri oleh kedua orang tua ku, wisuda DIII dan Sarjana. “engga apa-apa khan kalau datang wisuda sendiri” bela ayahku...Kecewa?..ah tidak juga! Bahkan saat DIII dulu dengan bangga-nya undangan wisuda untuk ortu, ku berikan kepada seorang teman seperjuangan da’wah (akhwat), orang pertama yang berani menikah saat kuliah, saat nikah sambil kuliah belum menjadi trend kala itu bahkan menjadi larangan akademik, sebab diawal kuliah memang kami menandatangai kontrak tidak boleh menikah saat kuliah (sejak kasus ini tidak ada lagi perjanjian itu ditahun selanjutnya). Undangan ku berikan agar suaminya bisa menghadiri selain kedua orangtuannya. Dan saat tawaran orang tua ku menawarkan lagi kali ini untuk ikut wisuda diBalairung UI, dengan tenangnya aku hanya bilang “Gimana Yah kalau uang wisudanya aku belikani buku saja?” please deh hari ginie!!....ah dasar pikir ku: like father like.....saat ku tahu engkau ternyata lebih maniak parah juga kalau sudah baca waktu muda dulu, tentang koleksi buku2 mu yang berpeti-peti dan beberapa buku harian yang berisi tulisan curahan idealisme dan puisi perjuangan kejujuran kehidupan, bedanya saat itu zaman dimana engkau belum mengenal yang namanya alm Ustd Rahmat Abdullah dan teman – temannya, tapi sekarang kau bisa menikmati percikan karya-karyanya yang bergerak nyata yaitu aku dan adik ku.
(izz@m, 020908 kost Onan sa’id)
Nb : afwn buat teman2 saat wisuda fakultas kemarin, aku menghilang lebih dulu engga ikut foto2 bareng: “k’agung kemana seh?”......fren maapin, pokoknya ane ga betah dah ama yg namanya acara seremonial or simbolis terlebih adanya kemubaziran ditiap lini.
No comments:
Post a Comment