Tuesday, September 02, 2008

HIBURAN JIWA DAN HARAPAN


Sejak sebulan lalu kepindahan kakak, ada hal menarik dihati yang timbul alamiyah. Keinginan dari kecenderungan yang tak biasa untuk pulang kerumah bila hari sabtu atau ahad tiba, biasanya aku lebih nyaman sabtu atau ahad dikost untuk menikmati agenda da’wah. Ya, sebab hari itu kakak ku dan kedua jundinya yang imut ukhti Nikita (4th) dan akhi Muhammad Jamil Zidane (6th) yang biasa kami panggil bang Zidane selalu menyempatkan silahturami kerumah bahkan kadang menginap, dan menjadi kesenangan sendiri saat ‘rumah mini’ ku dijadikan tempat menginapnya.
Rasa rindu yang sulit diungkapkan berbalut canda hadir saat keponakan ku datang, hiburan jiwa yang tumpah meruah melihat kelucuan dari kedua keponakan ku yang memang pada usia itu, masa dimana Allah memberikan rasa kepada siapapun untuk takjub penuh kecintaan kepadanya, dan dihadirkanNya juga dalam rasa manusia yang melihatnya untuk tertarik (konsen) penuh, maksudNya agar orang tua dan siapapun yang berinteraksi agar mampu tertarik(konsen) mencintai. Supaya proses pertumbuhan alamiyahnya dapat teramati dan terjaga dengan baik oleh orang sekitar dan siapapun hanya dengan cinta, sebab pada usia itupulah menjadi rahasia penting usia emas untuk mudah memulai menumpahkan, melukiskan dan menggoreskan tinta – tinta kehiduapan.
Begitupun rasa itu yang menghinggapiku, maka saat ketemu adalah saat penting untuk menggoreskan pena itu atau mengevaluasi aktifitas kebaikannya selama seminggu dengan ‘cara’ ku, seperti ini : “kata bu guru dan mama abang sudah hapal surat – surat pendek dan do’a iftitah ya, coba Om mau dengar kalau bisa Om kasih hadiah” kata ku sambil mencium pipinya yang gembul. Walaupun agak malu-malu akhirnya dengan ‘gaya’nya keponakanku itu murojaah juga. Tak percumalah saat Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) menjadi pilihan, bayangkan baru kelas 1 saja sudah pintar berbagai macam ‘skill’ baik akademisi umum dan akademik religi. Dari diajarkan hitungan model sempoa hingga hapalan do’a shalat, surat – surat pendek Al qur’an dan banyak lainnya…bangganya aku kepadamu Bang Zidane.Memang awalnya aku mengusulkan agar tidak sekolah di SD Negri/inpres ke kakak ku sebab dari observasi dan lainnya karena sekolah itu gratis jadi kurang diperhatikan benar, lain halnya di SDIT gurunya saja dalam satu session pelajaran harus minimal 2 orang, dan itu harus dibayar cukup mahal, miris jika menghitung kalkulasi uang masuk awalnya sama dengan biaya kuliah ku di apoteker UI…fiuuh. “sabar mpok, insya Allah ga akan habis rezekinya bang zidane kalau niatnya untuk memperbaiki generasi(Islam)” ujar ku selalu meyakinkan kakak.Tetapi memang untuk menikmati pendidikan Islam yang baik masih mahal dan masih tidak bisa dinikmati kalangan umat Islam pada umumnya. Inilah PR kita dan menjadi PR bersama bagaimana bisa menghadirkan pendidikan yang terjangkau untuk ummat tapi berkualitas, minimal terlebih pendidikan yang terbaik untuk keluarga kita dari kita dengan niat, waktu dan metode yang terbaik.
(Izz@m 020908 kost onan said)

No comments: