Showing posts with label Gumam Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Gumam Kuliner. Show all posts

Tuesday, February 17, 2009

Gumam Kuliner (2)


Tahu Gejrot Metropolitan Mall Bekasi yang tergejrot kapitalisme
Akhirnya saya tergoda juga malam tadi sepulang dari Depok untuk mampir di tempat jajanan ini: tahu gejrot (depan) Metropolitan Mall, walau suasana jembatan kalimalang di depan Metropolitan Mall tersebut yang pada malam minggu ini cukup ramai, mungkin karena bertepatan dengan agenda hari jadi jahiliyah itu kali ya: 14 Februari (emng hari apaan sih akh?…sok telmi gitu, mending telmi gak ngelaksanain dari pada gak ngerti tapi ngelaksanain). Kebetulan suhu, kelembaban udara dan anginnya cukup mendukung. Kebanyakan orang umumnya menjadikan Mall sebagai alternative orang kota untuk bersantai, berekreasi dan berkumpul yang cukup murah meriah, sekaligus berbelanja keluarga mingguan atau bulanan seperti penjelasan awal buku “4Rs of Asian Shopping center management” yang saya beli cukup murah saat agenda berburu buku murah saya di gramedia yang saat itu sedang cuci gudang, buku itu juga bercerita tipe – tipe shopping dan tujuannya, bagaimana sebuah shopping center terbesar di Asia mengkonsep, mensegmentasikan, mempromosikan, dan mengelola hingga menjadi raksasa kapitalisme dalam hal tempat belanja, tempat hura – hura sekaligus tempat membuang uang lebih para turis –turis mancanegara. Saya cukup tergoda untuk mampir jajanan tahu gejrot jika saya sedang terkenang akan masa sekolah dasar (SD) dulu saat nikmatnya makan tahu gejrot di belakang sekolah bareng teman – teman. Mengenang tahu gejrotnya sekaligus mengenang kisah tokoh - tokohnya. Tokoh – tokoh yang terkadang memberikan banyak inspirasi buat saya. Memang takkan pernah kenyang makan jajanan ini, tetapi rasanya cukup memberikan sensasi romansa tersendiri yang memuaskan rasa syukur.
Jajanan tahu gejrot di SD saya dulu termasuk yang paling enak dan digemari, hingga saya dan teman – teman harus menunggu antri bergantian disebabkan piringnya yang terbuat dari tanah liat itu terbatas. Saya dan teman biasanya makan sambil jongkok memang karena tidak ada bangku khusus disana, dan biasanya tukang jajanan tahu gejrot ini membawa barang bawaannya hanya dengan dipikul, tidak seperti sekarang umumnya dengan gerobak.
Yang menarik membuat saya betah dan kembali lagi di tiap kesempatan pulang dari kost Depok, yaitu adanya kesamaan rasa yang hampir mirip antara rasa tahu gejrot zaman SD saya dengan tahu gejrot yang di depan Metroplitan Mall Bekasi tersebut. Saya kira hanya saya saja yang meresakan kelezatannya, ternyata teman sekelas Apoteker saya Ibu Siti Saodah (semoga jadi keluarga Sakinah, mawadah, warohmah bu..!) juga memberikan tanggapan yang sama, saat tak sengaja diskusi sambil pulang dari PKPA di Depkes saat menyinggung jajanan tersebut.
Ternyata sambil makan dan menikmati aroma malam minggu depan MetMall memberikan makna tersendiri buat spiritual saya, melihat fenomena konsumtif warga Bekasi yang menjadi trend tersendiri mendarah daging, mengenang masa kecil hingga bersyukur pada masa sekarang. Terlebih yang membuat bersyukur ketika di hadapkan pada para pengunjung Mall yang semakin malam terus semakin ramai berdatangan yang mengingatkan saya kembali akan misi: ternyata saya masih idealis dengan mencoba sederhana dalam hidup, belanja pakaian dan asesoris style adalah bagian keseratus sekian dalam catatan prioritas agenda belanja saya..secukupnya saja (ya iyalah khan masih mahasiswa, palingan banyakannya beli buku - buku khan akhi:D).
Kekurangannya adalah kita akan kurang nyaman jika kita makan tahu gejrot MetMall itu di siang hari, coz teman akan merasakan sekali panasnya terik matahari (ya iyalah!!), saya pernah merasakan itu saat pulang siang dari Depok dan tepat HCl lambung saya sudah tidak bisa bekompromi kala itu, hingga mampir adalah jadi moment yang sangat tepat. Beda sekali jika malam minggu, teman akan merasakan seperti makan jajanan di suasana Mailioboro Djogya (uuupss Lebbayy deh!!), sugesti dan halusinasikan saja biar nambah selera bukan! maksudnya Mailioboro Bekasi….he2x, hanya saja tempatnya cukup terbatas.
Selain jajanan tahu gejrot ada Siomay, cimol dan gorengan lainnya. Saya hanya berfikir saat pulang dari tempat jajanan itu adalah bagaimana membantu tukang jajanan tahu gejrot ini agar tidak semakin tertindas dari korban ganasnya cengkraman arus kapitalisme.Untuk masalah rasa saya fikir lebih punya potensi rasa yang tak kalah dengan rasa makanan di kafe – kafe elit atau jajanan lainnya di dalam MetMall tersebut. Mungkin dengan tulisan ini akan menjadi kebaikan dan dapat membantu promosikannya, jadi bagi teman – teman yang punya tempat jajanan atau tempat makan yang enak, sederhana, dan terjangkau berbagi info ya, selain menambah wawasan juga membantu mereka untuk berkembang, mempromosikan dan mengurangi beban perlawanan dari kuatnya ombak kapitalisme, MERDEKA!;D…salam gumam kuliner!
(Izz@m 14022009 Bekasi. PKS itu Peduli Kepada Sesama!!)

Gumam Kuliner (1)


Nasi Uduk Ibu gendut yang serba Gendut
Saya dan akh Firman termasuk yang memiliki hobby hampir sama dalam masalah makan, tapi bukan berarti saya juga ga suka makan nasi loh (sungguh beruntung bagi akhwat yang menjadi istri antum akh coz ga harus pagi2 ribet masak nasi…cukup sepotong roti, siap jalan, siap jihad!!), hee2x…piss akhi. Maksudnya sama adalah karena kita sama – sama suka hobby “jaulah – jaulah” ke rumah makan dan menyicipi makanan, sekalian memberi penilaian terhadap makanan yang disajikan oleh tempat makan itu, yah kaya wisata kuliner-nya pak Bondan gitu deh, yang terkenal dengan slogan “ma’ nyooos” nya itu. Bedanya, karena kita mahasiswa, yaah….yang kita coba hanya sebatas jajanan makanan yang sesuai dengan kantong mahasiswa.
Jangan berfikir bahwa akan menjadi hal yang boros dengan melakukan hal ini, banyak manfaat yang bisa di ambil ketika kita menjadi pak Bondan gadungan ini (afwan jiddan pak Bondan bukan maksud nyaingin antum, blog ini hanya karena dedikasi untuk da’wah saja ya), misalnya : Sobat penikmat blog ini secara tidak langsung bisa jadi kaya akan pilihan alternative – alternative makanan yang enak tapi dengan harga terjangkau mahasiswa. Bayangkan tingkat persaingan perdagangan makanan di areal margonda-UI yang sudah cukup berdarah – darah dan jenuh dengan pemain yang sudah banyak, hal inilah yang menguntungkan kita sebagai konsumen untuk bisa memilih mana makanan yang “halalal toyyibah”, bagi mahasiswa terutama “toyyibah” dalam hal financial pastinya Sob. Selain itu, kegiatan ini merupakan tempat refresing kalau saya dan akh firman lagi mumet (mumet itu apa ya…???mumet itu = sorry memory full you can save in other disc;D.) saat ujian atau setelah ujian Sob, dan selebihnya mengaplikasikan materi kuliah marketing yang pernah di dapat. Untuk laporan pertama akan dibuka dengan tempat makanan terdekat yaitu makanan Nasi uduk, selamat menikmati.

Nasi Uduk Ibu gendut yang serba Gendut
Kenikmatan yang terasa ketika kita berada dimana pun saat kita bisa merasakan kenyamanan layaknya dirumah sendiri. Inilah yang hampir saya dapatkan di Depok tepatnya di jalan kapuk tempat saya kost. Umumnya untuk sarapan pagi dirumah saya di Bekasi tak terlepas dari makan sederhana tempe-tahu goreng sambel kecap, telur dadar dan alternatifnya ya itu…nasi uduk betawi.
Di kapuk tempat kost saya ada satu tempat yang menurut saya cukup baik untuk award kategori nasi uduk terbaik se-kapuk (versi saya sendiri setelah survey perbandingan beberapa tempat nasi uduk sekitar jalan Kapuk), selain tempatnya nyaman, penjualnya ramah, nasi uduknya pun cukup nikmat dan pas buat kantong kita sebagai mahasiswa. Akh Firman menyebutnya nasi uduk bu Gendut; afwan gak maksud fisik ya bu, hanya untuk lebih mudah dihafal saja sebagai “brand marketing” membantu memudahkan promosi dari mulut ke mulut agar menjadi Top Maind (tapi memang fisik ibu penjual itu cukup besar….hati – hati bu kena hipertensi, jantung dan diabet, loh kok jadi ke syndrome farkoter gini:D). Tempat nya terletak setelah pertigaan kedua jalan kapuk dekat warnet cis- net. Sebenarnya ada dua tempat lain persis di depan jalan kapuk depan, tetapi menurut saya kedua tempat tersebut perlu banyak belajar dari buku standar pernasi uduk-an yaitu CPNUB (Cara Pembuatan Nasi Uduk yang Baik) yang nanti akan di awasi oleh temannya BPOM yaitu BPNU (Badan Pengawasan Nasi Uduk),he2x.
“Enak adalah harga mati bagi dunia bisnis makanan”. Nasi uduk dikatakan enak berdasarkan pengalaman dari ”Tatsqif” tanya jawab dan diskusi kalau ibunda saya masak nasi uduk untuk dirumah, saat salah satu anggota di rumah ada yang milad, yaitu terletak mulai dari pemilihan beras yang pulen (pulen…eeeit bahasa apa tuh, bahasanya ibu – ibu dapur,gak ngerti mungkin simpelnya pulen = enak…he2x) dan keberaniannya untuk memberikan santan yang baik agar terasa gurih, walaupun nasi uduk itu sudah dalam keadaan dingin.
Lebih nikmat lagi jika nasi tersebut di tambah sedikit agar – agar dan secukupnya daun pandan saat masaknya...itu kata ibunda saya. Karena jika memakai santan harga akan menjadi lebih mahal, biasanya para penjual nasi uduk yang “seadanya”, menyikapi dengan “jahil cerdas” mengurangi kadar santan pada nasi tersebut, bahkan ada yang ekstreem agar terlihat legit pada nasi menyikapinya dengan menaburkan minyak goreng saat nasi panas (ingat rumus kimia minyak dan santan teroksidasi mata kuliah pak Mite..hampir mirip ga ya) di angkat dan kemudian diaduk. Kebaikan akan tetap menjadi kebaikan, oleh sebab itu bagi yang jahil dengan kadar santan kurang, saat nasi uduk dingin akan terasa seperti makan nasi biasa saja, dan nasi yang di taburi minyak biasanya kalau dimakan langsung saat panas – panas memang tidak terlihat, dan akan terasa seperti nasinya pulen dan legit (padahal karena efek minyak itu saja) tetapi kalau sudah dingin akan terlihat keburukannya, yaitu nasi akan menjadi lebih kering, memisah dan minyak akan terlihat jelas…hiii serem, makan nasi atau makan minyak!.
Menurut saya bu Gendut termasuk tukang nasi uduk yang baik yang menerapkan CPNUB, nasi nya cukup enak dan semur telur- tahu pelengkapnya kaya dan berani akan bumbu, jadi tidak terlihat asal – asalan dalam bisnis ini, pernah investigasi ngobrol dengan bu Gendut katanya beliau bisa menghabiskan 8 sampai 20 liter sehari beras dan biasanya juga sudah habis kurang dari jam 10 pagi. Lain itu bukan hanya penjualnya yang berfisik gendut tapi gorengan – gorengan pelengkapnya seperti telur dadar goreng, tahu, tempe dan bakwan yang juga terlihat lebih “gendut”, pokoknya sepenuh hati deh ibu ini berjualan dengan harga yang terjangkau bersaing dengan yang lainnya. Akh firman karena tidak suka nasi, sehingga yang jadi target agresi beliau adalah tahu gorengnya bu gendut yang juga gendut….ehheeem gurihh, kenyang eeuy.
Tempat makan-nya pun nyaman di jalan utama kapuk, bisa makan di tempat atau dibungkus. Karena tempat bisnis ini berada di teras rumah dengan bangku dan meja yang memadai jadi terlihat lebih bersih, nyaman dan familiar saja. Jadi nilai marketing yang cukup menjual yaitu tadi, selain enak juga nuansa familiar makan pagi ala betawi. Oleh sebab itu akan lebih berasa jika makan pagi bareng – bareng tidak sendiri sehingga bisa sambil diskusi dan ngobrol pagi (eeiit..tapi yang manfaat tentunya). Bagi teman – teman yang belum pernah mencoba silahkan mencoba…
(Izz@m 12022009 Gumam Kuliner)