Tahu Gejrot Metropolitan Mall Bekasi yang tergejrot kapitalisme
Akhirnya saya tergoda juga malam tadi sepulang dari Depok untuk mampir di tempat jajanan ini: tahu gejrot (depan) Metropolitan Mall, walau suasana jembatan kalimalang di depan Metropolitan Mall tersebut yang pada malam minggu ini cukup ramai, mungkin karena bertepatan dengan agenda hari jadi jahiliyah itu kali ya: 14 Februari (emng hari apaan sih akh?…sok telmi gitu, mending telmi gak ngelaksanain dari pada gak ngerti tapi ngelaksanain). Kebetulan suhu, kelembaban udara dan anginnya cukup mendukung. Kebanyakan orang umumnya menjadikan Mall sebagai alternative orang kota untuk bersantai, berekreasi dan berkumpul yang cukup murah meriah, sekaligus berbelanja keluarga mingguan atau bulanan seperti penjelasan awal buku “4Rs of Asian Shopping center management” yang saya beli cukup murah saat agenda berburu buku murah saya di gramedia yang saat itu sedang cuci gudang, buku itu juga bercerita tipe – tipe shopping dan tujuannya, bagaimana sebuah shopping center terbesar di Asia mengkonsep, mensegmentasikan, mempromosikan, dan mengelola hingga menjadi raksasa kapitalisme dalam hal tempat belanja, tempat hura – hura sekaligus tempat membuang uang lebih para turis –turis mancanegara. Saya cukup tergoda untuk mampir jajanan tahu gejrot jika saya sedang terkenang akan masa sekolah dasar (SD) dulu saat nikmatnya makan tahu gejrot di belakang sekolah bareng teman – teman. Mengenang tahu gejrotnya sekaligus mengenang kisah tokoh - tokohnya. Tokoh – tokoh yang terkadang memberikan banyak inspirasi buat saya. Memang takkan pernah kenyang makan jajanan ini, tetapi rasanya cukup memberikan sensasi romansa tersendiri yang memuaskan rasa syukur.
Jajanan tahu gejrot di SD saya dulu termasuk yang paling enak dan digemari, hingga saya dan teman – teman harus menunggu antri bergantian disebabkan piringnya yang terbuat dari tanah liat itu terbatas. Saya dan teman biasanya makan sambil jongkok memang karena tidak ada bangku khusus disana, dan biasanya tukang jajanan tahu gejrot ini membawa barang bawaannya hanya dengan dipikul, tidak seperti sekarang umumnya dengan gerobak.
Yang menarik membuat saya betah dan kembali lagi di tiap kesempatan pulang dari kost Depok, yaitu adanya kesamaan rasa yang hampir mirip antara rasa tahu gejrot zaman SD saya dengan tahu gejrot yang di depan Metroplitan Mall Bekasi tersebut. Saya kira hanya saya saja yang meresakan kelezatannya, ternyata teman sekelas Apoteker saya Ibu Siti Saodah (semoga jadi keluarga Sakinah, mawadah, warohmah bu..!) juga memberikan tanggapan yang sama, saat tak sengaja diskusi sambil pulang dari PKPA di Depkes saat menyinggung jajanan tersebut.
Ternyata sambil makan dan menikmati aroma malam minggu depan MetMall memberikan makna tersendiri buat spiritual saya, melihat fenomena konsumtif warga Bekasi yang menjadi trend tersendiri mendarah daging, mengenang masa kecil hingga bersyukur pada masa sekarang. Terlebih yang membuat bersyukur ketika di hadapkan pada para pengunjung Mall yang semakin malam terus semakin ramai berdatangan yang mengingatkan saya kembali akan misi: ternyata saya masih idealis dengan mencoba sederhana dalam hidup, belanja pakaian dan asesoris style adalah bagian keseratus sekian dalam catatan prioritas agenda belanja saya..secukupnya saja (ya iyalah khan masih mahasiswa, palingan banyakannya beli buku - buku khan akhi:D).
Kekurangannya adalah kita akan kurang nyaman jika kita makan tahu gejrot MetMall itu di siang hari, coz teman akan merasakan sekali panasnya terik matahari (ya iyalah!!), saya pernah merasakan itu saat pulang siang dari Depok dan tepat HCl lambung saya sudah tidak bisa bekompromi kala itu, hingga mampir adalah jadi moment yang sangat tepat. Beda sekali jika malam minggu, teman akan merasakan seperti makan jajanan di suasana Mailioboro Djogya (uuupss Lebbayy deh!!), sugesti dan halusinasikan saja biar nambah selera bukan! maksudnya Mailioboro Bekasi….he2x, hanya saja tempatnya cukup terbatas.
Selain jajanan tahu gejrot ada Siomay, cimol dan gorengan lainnya. Saya hanya berfikir saat pulang dari tempat jajanan itu adalah bagaimana membantu tukang jajanan tahu gejrot ini agar tidak semakin tertindas dari korban ganasnya cengkraman arus kapitalisme.Untuk masalah rasa saya fikir lebih punya potensi rasa yang tak kalah dengan rasa makanan di kafe – kafe elit atau jajanan lainnya di dalam MetMall tersebut. Mungkin dengan tulisan ini akan menjadi kebaikan dan dapat membantu promosikannya, jadi bagi teman – teman yang punya tempat jajanan atau tempat makan yang enak, sederhana, dan terjangkau berbagi info ya, selain menambah wawasan juga membantu mereka untuk berkembang, mempromosikan dan mengurangi beban perlawanan dari kuatnya ombak kapitalisme, MERDEKA!;D…salam gumam kuliner!
(Izz@m 14022009 Bekasi. PKS itu Peduli Kepada Sesama!!)
