
Nasi Uduk Ibu gendut yang serba Gendut
Saya dan akh Firman termasuk yang memiliki hobby hampir sama dalam masalah makan, tapi bukan berarti saya juga ga suka makan nasi loh (sungguh beruntung bagi akhwat yang menjadi istri antum akh coz ga harus pagi2 ribet masak nasi…cukup sepotong roti, siap jalan, siap jihad!!), hee2x…piss akhi. Maksudnya sama adalah karena kita sama – sama suka hobby “jaulah – jaulah” ke rumah makan dan menyicipi makanan, sekalian memberi penilaian terhadap makanan yang disajikan oleh tempat makan itu, yah kaya wisata kuliner-nya pak Bondan gitu deh, yang terkenal dengan slogan “ma’ nyooos” nya itu. Bedanya, karena kita mahasiswa, yaah….yang kita coba hanya sebatas jajanan makanan yang sesuai dengan kantong mahasiswa.
Jangan berfikir bahwa akan menjadi hal yang boros dengan melakukan hal ini, banyak manfaat yang bisa di ambil ketika kita menjadi pak Bondan gadungan ini (afwan jiddan pak Bondan bukan maksud nyaingin antum, blog ini hanya karena dedikasi untuk da’wah saja ya), misalnya : Sobat penikmat blog ini secara tidak langsung bisa jadi kaya akan pilihan alternative – alternative makanan yang enak tapi dengan harga terjangkau mahasiswa. Bayangkan tingkat persaingan perdagangan makanan di areal margonda-UI yang sudah cukup berdarah – darah dan jenuh dengan pemain yang sudah banyak, hal inilah yang menguntungkan kita sebagai konsumen untuk bisa memilih mana makanan yang “halalal toyyibah”, bagi mahasiswa terutama “toyyibah” dalam hal financial pastinya Sob. Selain itu, kegiatan ini merupakan tempat refresing kalau saya dan akh firman lagi mumet (mumet itu apa ya…???mumet itu = sorry memory full you can save in other disc;D.) saat ujian atau setelah ujian Sob, dan selebihnya mengaplikasikan materi kuliah marketing yang pernah di dapat. Untuk laporan pertama akan dibuka dengan tempat makanan terdekat yaitu makanan Nasi uduk, selamat menikmati.
Nasi Uduk Ibu gendut yang serba Gendut
Kenikmatan yang terasa ketika kita berada dimana pun saat kita bisa merasakan kenyamanan layaknya dirumah sendiri. Inilah yang hampir saya dapatkan di Depok tepatnya di jalan kapuk tempat saya kost. Umumnya untuk sarapan pagi dirumah saya di Bekasi tak terlepas dari makan sederhana tempe-tahu goreng sambel kecap, telur dadar dan alternatifnya ya itu…nasi uduk betawi.
Di kapuk tempat kost saya ada satu tempat yang menurut saya cukup baik untuk award kategori nasi uduk terbaik se-kapuk (versi saya sendiri setelah survey perbandingan beberapa tempat nasi uduk sekitar jalan Kapuk), selain tempatnya nyaman, penjualnya ramah, nasi uduknya pun cukup nikmat dan pas buat kantong kita sebagai mahasiswa. Akh Firman menyebutnya nasi uduk bu Gendut; afwan gak maksud fisik ya bu, hanya untuk lebih mudah dihafal saja sebagai “brand marketing” membantu memudahkan promosi dari mulut ke mulut agar menjadi Top Maind (tapi memang fisik ibu penjual itu cukup besar….hati – hati bu kena hipertensi, jantung dan diabet, loh kok jadi ke syndrome farkoter gini:D). Tempat nya terletak setelah pertigaan kedua jalan kapuk dekat warnet cis- net. Sebenarnya ada dua tempat lain persis di depan jalan kapuk depan, tetapi menurut saya kedua tempat tersebut perlu banyak belajar dari buku standar pernasi uduk-an yaitu CPNUB (Cara Pembuatan Nasi Uduk yang Baik) yang nanti akan di awasi oleh temannya BPOM yaitu BPNU (Badan Pengawasan Nasi Uduk),he2x.
“Enak adalah harga mati bagi dunia bisnis makanan”. Nasi uduk dikatakan enak berdasarkan pengalaman dari ”Tatsqif” tanya jawab dan diskusi kalau ibunda saya masak nasi uduk untuk dirumah, saat salah satu anggota di rumah ada yang milad, yaitu terletak mulai dari pemilihan beras yang pulen (pulen…eeeit bahasa apa tuh, bahasanya ibu – ibu dapur,gak ngerti mungkin simpelnya pulen = enak…he2x) dan keberaniannya untuk memberikan santan yang baik agar terasa gurih, walaupun nasi uduk itu sudah dalam keadaan dingin.
Lebih nikmat lagi jika nasi tersebut di tambah sedikit agar – agar dan secukupnya daun pandan saat masaknya...itu kata ibunda saya. Karena jika memakai santan harga akan menjadi lebih mahal, biasanya para penjual nasi uduk yang “seadanya”, menyikapi dengan “jahil cerdas” mengurangi kadar santan pada nasi tersebut, bahkan ada yang ekstreem agar terlihat legit pada nasi menyikapinya dengan menaburkan minyak goreng saat nasi panas (ingat rumus kimia minyak dan santan teroksidasi mata kuliah pak Mite..hampir mirip ga ya) di angkat dan kemudian diaduk. Kebaikan akan tetap menjadi kebaikan, oleh sebab itu bagi yang jahil dengan kadar santan kurang, saat nasi uduk dingin akan terasa seperti makan nasi biasa saja, dan nasi yang di taburi minyak biasanya kalau dimakan langsung saat panas – panas memang tidak terlihat, dan akan terasa seperti nasinya pulen dan legit (padahal karena efek minyak itu saja) tetapi kalau sudah dingin akan terlihat keburukannya, yaitu nasi akan menjadi lebih kering, memisah dan minyak akan terlihat jelas…hiii serem, makan nasi atau makan minyak!.
Menurut saya bu Gendut termasuk tukang nasi uduk yang baik yang menerapkan CPNUB, nasi nya cukup enak dan semur telur- tahu pelengkapnya kaya dan berani akan bumbu, jadi tidak terlihat asal – asalan dalam bisnis ini, pernah investigasi ngobrol dengan bu Gendut katanya beliau bisa menghabiskan 8 sampai 20 liter sehari beras dan biasanya juga sudah habis kurang dari jam 10 pagi. Lain itu bukan hanya penjualnya yang berfisik gendut tapi gorengan – gorengan pelengkapnya seperti telur dadar goreng, tahu, tempe dan bakwan yang juga terlihat lebih “gendut”, pokoknya sepenuh hati deh ibu ini berjualan dengan harga yang terjangkau bersaing dengan yang lainnya. Akh firman karena tidak suka nasi, sehingga yang jadi target agresi beliau adalah tahu gorengnya bu gendut yang juga gendut….ehheeem gurihh, kenyang eeuy.
Tempat makan-nya pun nyaman di jalan utama kapuk, bisa makan di tempat atau dibungkus. Karena tempat bisnis ini berada di teras rumah dengan bangku dan meja yang memadai jadi terlihat lebih bersih, nyaman dan familiar saja. Jadi nilai marketing yang cukup menjual yaitu tadi, selain enak juga nuansa familiar makan pagi ala betawi. Oleh sebab itu akan lebih berasa jika makan pagi bareng – bareng tidak sendiri sehingga bisa sambil diskusi dan ngobrol pagi (eeiit..tapi yang manfaat tentunya). Bagi teman – teman yang belum pernah mencoba silahkan mencoba…
(Izz@m 12022009 Gumam Kuliner)
No comments:
Post a Comment