Saturday, December 26, 2009

KADO KU, KADO SEDERHANA: Istriku, langit masih biru? (2)


PERENCANAAN KEUANGAN
Sebenarnya Ebook ini adalah kado istimewa untuk istri ku tercinta: karna tiap amanah perlu ilmu yang membuatnya menjadi lebih ringan untuk dipikul. Adalah sebuah kumpulan artikel tentang perencanaan keuangan, baik untuk keluarga atau pun pribadi yang diambil dari situsnya pak Safir Senduk yang saya kumpulkan hingga terbentuk Ebook disela waktu luang yg ada. Saya pun sangat merasakan perlunya pengetahuan ini, baik buat mahasiswa apalagi untuk yang berkeluarga atau yang akan merencakan berkeluarga. Banyak hal yang belum saya tahu dan didapatkan pada kumpulan artikel ini, misalkan : bahwa menghutang yang baik adalah maksimal 30% dari gaji kita, bagaimana perencanaan keuangan untuk kelahiran, atau bagaimana perhitungan perencanaan untuk perencanaan keuangan pendidikan, dan banyak lagi. Bagi yang masih kuliah di Ebook ini juga terdapat bagaimana menabung dan investasi yang efektif sekaligus dikenalkan tentang Bank dan element – element lainnya. Bagi yang sudah pernah membaca silahkan mengamalkannya, bagi yang belum : Slmat menikmati hidangan sederhana ini ya…

KADO KU, KADO SEDERHANA: Istriku, langit masih biru? (1)


KADO PERTAMA- Don’t be afraid : Baarakallahu laka.......
Alhamdulillah, dengan gema syukur kepada Allah swt yang tak pernah henti berkumandang dalam hati, selesai juga tulisan souvenir sederhana ini. Sebuah tulisan jiwa dan ukiran hati penulis untuk hati penulis dan untuk semua. Sebuah tulisan pengalaman kejujuran, pengalaman memahami idealitas, dan pengalaman memahami kebijakan realitas yang pernah ditulis dalam blog sederhananya di www.izzatulgumam.blogspot.com .
Souvenir ini merupakan cicilan – cicilan ukiran hati penulis yang semoga mengantarkan pada teman – teman untuk tetap mengkobarkan semangat untuk segera menggenapkan setengah agamanya di jalan da’wah, jalan pilihan para nabi-nabi, jalan kemuliaan. Semoga tetap memberikan inspirasi yang mudah dipahami hati. Maaf jika banyak sentilan – sentilan ruhani dan kritikan realitas, tetapi semoga juga tetap membangun dan tidak menggurui.
Souvenir ini sebenarnya diberikan khusus buat (saya) penulis sendiri dan insya Allah untuk siapapun yang akan menjadi pendamping hidup penulis nantinya sebagai hujjah, pengingat komitmen, penggugah gairah saat – saat kritis kejumudan melanda nanti. Dan secara umum diberikan kepada siapapun yang membutuhkannya.
Tiada gading yang tak retak, begitupun da’wah yang disampaikan dari manusia kepada manusia pasti banyak kesalahan dan kekhilafan, penulis mohon maaf atas itu semua. Semua saran dan kritik sangat ditunggu penulis agar penulis tetap dapat menulis dengan ilmu – ilmu dan pengalaman amal baru yang terus berkembang. Wallahu’alam bishowab
...“Izz@tulgumam memberi inspirasi untuk terus menulis dari hati”
(www.mimiracle.blogspot.com- Mira Apoteker UI 64)

“Rangkaian potongan – potongan alur dan perasaan seorang penulis : Agung Kurniawan, jika kita tahu peristiwa dan perasaan yang ada dibalik tiap souvenir itu jadi makin bisa menghayati dan memaknai tulisan – tulisan tersebut....”
(Ajitya Kurnia- Mahasiswa berprestasi Farmasi UI)

“ ‘Izz@tulgumam’, kumpulan kata di dunia maya yang memberikan inspirasi, terutama bagi Anda yang sedang menentukan arah hidup dan mengukir masa depan “
(Heri Setiawan- Apoteker UI 66)

“Kekhasan dan kekuatan dalam tulisan izzatulgumam membuat inspirasi tersendiri bagi pembacanya”
(Maryam Iffatunissa- Apoteker UHAMKA)

“Indeed, it is a humble but seriously managed blog I've ever seen. I found some 'values' in several of the postings. I like them very much although haven't yet red all. I believe, it is a good blog with values”.
(Blog reader from Pare Kediri)

KADO KU, KADO SEDERHANA : Istriku, langit masih Biru?


KADO KU, KADO SEDERHANA
Jika cinta adalah makna lain dari kekuatan memberi, setelah “souvenir sederhana” maka nanti tulisan sederhana ini juga adalah turunan dari cinta itu. Ini cabang – cabang saja tapi ia punya dimensi pengaruh yang cukup luas bagi bathin kita, oleh sebab itu manhaj ini menganjurkan untuk berikanlah saudara mu hadiah karna itu akan menimbulkan dan menguatkan cinta, dasyat bukan.!!. Jadi sekarang pertanyaan saya siapa yang tak ingin diberikan hadiah? Semua pasti ingin. Apapun namanya ataupun nama lain berupa sebuah KADO, Entah itu kado pernikahan, kado ulang tahun, ataupun kado saat mendapatkan nilai terbaik di sekolah dulu...lebih dasyatnya coba memberi kado tersebut tanpa event, tanpa motif??. Walaupun sederhana, walaupun sedikit, apalagi banyak atau walaupun hanya sebuah kado rutin senyuman terindah pagi sekali dari istri yang terbungkus kesetiaan saat saya terbangun dan dibuatkan teh madu hangat olehnya (terimakasih ya dear, Allah love you full :D).
Tak hanya harus bentuk materi, karna saya mengangapnya bahwa sesuatu hal yang diberikan istri atau saya untuk istri yang sudah terencana atau tidak, kemudian dikemas oleh bungkusan “kertas - kertas” rasa, jiwa dan cinta menjadi bentuk lain dimensi indah dipandang mata fisik dan mata jiwa. Isinya harus tersembunyi pada kerapatan “ikhlas” supaya menjadi kejutan semburat kebahagiaan dan keharmonisan yang ‘lurus’ juga ‘terang’.
Kadang bungkusnya tak sesuai dengan isinya mungkin karna tak sempat menghiasinya, begitupun kadang sebaliknya dan tetaplah berzhon baik. Seperti saya bilang bahwa kado apapun dari orang yang kita cintai, dan apapun pula bentuknya, itu mempunyai sensasi kejutan tersendiri dalam karnaval – karnaval letupan kegembiraan sesaat (atau bahkan abadi) yang mampu menyambung estafet semangat pada kehiduapan fana panjang ini. Kadang ada letupan kejutan ‘suprise’ kadang bisa jadi hanya kejutan jiwa untuk menjadi renungan hikmah yang panjang, semua tergantung pada bungkus, isi, waktu dan tempat dimana ia bisa tepat memberi dan mengekspresikan itu.
Lain hal, entahlah apakah juga istilah kado ini sesuai kebenarannya dengan teoritis dalam kamus besar bahasa Indonesia pada istilah kado atau telah menyimpang, tetapi pada pandangan saya sendiri itulah namanya kado versi saya. Versi makna saya sendiri, seperti pada judul serial cerita yang akan saya cicil tulis ini “KADO KU, KADO SEDERHANA: istri ku, langit masi biru!?” ini kado dari saya untuk istri saya, bagaimana dengan anda, sudahkah anda memberikan kado terbaik pada orang yang anda cintai hari ini????? (Izz@m, 20122009 Bekasi).

Nb : Nyambung ngeblog lagi yuk...semoga istiqomah terus.

Wednesday, July 29, 2009

SOUVENIR SEDERHANA (8)


Don’t be afraid : dijalan da’wah aku (akan) menikah!!
“Subhanallah.... kata itu yang selalu mengiringi hapalan saya setelah pertanyaan syukur“ Fabiayyialaa irrobbikuma tukadzibaan..., Alhamdulillah ya Robbi”. Kalimat yang terlontar di antara momentum tiap tahap perjalanan hidup saya di beberapa akhir bulan ini. Betapa tidak, beberapa hitungan hari lagi saya insya Allah akan mengikuti dan menyusul keberhasilan beberapa teman saya yang sukses menggenapkan agamanya sekaligus menggenapkan titel keprofesiannya....SEMPURNA!! seperti ukhti Melly, Mba Amellia, Siti Saodah dan ibu Dea yang beberapa dari mereka telah ‘sukses’ terhamili secara sah oleh suami – suaminya... ^_^ Piss ya bu.

Kita perlu mengacungkan jempol buat mereka semua, termasuk saya....saluuut!!. apalagi seperti Ibu Dea dan ukhti Melly yang mengambil jalan dan keputusan itu di usia sangat muda, usia yang sangat produktif untuk melakukan banyak hal. Hal ini juga yang meyakini saya bahwa kecintaan perlu memutuskan, perlu mengambil jalan dan arah perkembangan cinta itu kemana harus diteruskan, kemana harus dibawa, dan ditanam ditanah mana ia (cinta) akan dapat tumbuh sempurna.

Akhirnya masa itu pasti akan datang juga, disaat waktu yang tepat dan insya Allah dengan orang yang tepat pula. Allah telah membuka rahasia terbesar kehidupan apabila hambanya telah siap menerimanya. Termasuk beberapa rahasia besar kehidupan manusia setelah rahasia awal hidup, rezeki dan kematian, yaitu Jodoh atau pasangan hidup...subhanallah, ini nikmat terbesar yang lebih besar dari semesta raya ini saat pintu rahasia itupun terbuka. Tak sanggup rasanya hati ini menampungnya.
Dia datang dan di datangkan oleh Allah saat kita sudah benar – benar membutuhkan akan hal itu. Yang jauh maka Allah akan dekatkan, jadi gak usah pake konspirasi didekat-dekatkan dengan aktifitas – aktifitas yang gak syar’i (like pacaran). Yang sulit maka Allah akan mudahkan, jadi jangan merasa sulit dan malah jadi sesulit gak bertanggung jawab. Yang belum mampu maka Allah akan mampukan, jadi jangan coba – coba merasa gak dimampu – mampukan apalagi ditunda – tunda karena itu kufur nikmat namanya teman. Biarkanlah takdir itu melakukan mekanisme-Nya, sebab akan ada sejuta alasan dan cara Allah akan menyatukan kedua insan saat takdirnya tiba, dengan cara apapun!!. Begitupun tentang takdir perpisahan atau kehilangan, maka akan ada sejuta alasan dan cara pula jika Allah akan memisahkan kedua insan tersebut, dan takkan ada mahluk apapun yang berkuasa di alam semesta ini mampu menghalanginya. Jadi ini hanya sebuah bab cerita besarnya keyakinan dihati yang menghujam dengan daya kerja otak yang cerdas dan karya amal – amal optimal yang terus terjaga kebarokahannya.
Menikah Lintas Provinsi dan Budaya

Mungkin kisah proses saya tidak “sebaik” dan se-umum teman – teman dalam menggenapkan ad-diin ini, prosesnya yang sangat singkat sekali, gak mau kalah sama pos kilat-nya Pos Indonesia atau Tikki. Saya pun tak mampu membayangkan keajaiban dari keberkahan ini. Kalau bukan karena campur tangan Allah yang sangat besar dalam proses ini mungkin tidak akan terjadi. Tepat 16 Mei 2009 setelah beberapa minggu hasil ta’aruf, saya mengkhitbah seorang akhwat bernama Winda Apriyanti bukan karena emosi atau nafsu sesaat ini pilihan cinta, ia tinggal di daerah yang masih sangat asing bagi telinga saya: Bengkulu nun jauh di Sumatra sana. Ia seorang da’i-ah yang menurut saya sangat berupaya ikhlas terhadap da’wah-nya, sederhana&meneduhkan (emangnya pohon akhi.. ^_^), lulusan Universitas Gajah Mada di Yogyakarta...jangan bilang – bilang ya teman kalau beliau sedikit saya puji ditulisan ini, bahaya! ^_^ (jangan ge-er ya ukhti^_^piss).

Ta’aruf dan khitbah terjadi bertepatan dengan masa sibuk kuliah apoteker saya. Terlebih saat khitbah, karena tepat bulan itu saya masih PKPA industri di LAFI-AD Bandung, jadi agenda pulang balik Bandung – Bekasi menjadi sering dan kok terasa dekat, juga bersemangat ya^_^, walaupun saat itu penyakit DBD melanda saya dan Ujian kompre tulis sangat menghantui menuntut konsentrasi yang lebih. Hanya kata ikhlas yang mampu menggerakan kekuatan dan percepatan proses itu.

Hasil syuro kemarin saat khitbah akhirnya menetapkan tanggal 8 agustus 2009 di Bengkulu nanti insya Allah saya akan memproklamirkan diri merubah status single menjadi double melalui akad (perjanjian besar), dengan mahar sederhana sebuah Al qur’an orisinil dari negri Mesir, seperangkat perhiasan semampu-nya dan sebuah hapalan surat Ar Rohman: surat terfavorit calon istri saya katanya, ia sangat menyukai arti dan makna deretan tiap ayat surat tersebut...Demi sang calon pacar, bismillah saja akhi!. Mohon do’anya ya teman untuk kelancarannya.Tanggal 9 Agustus baru acara resepsi-nya digedung Taman Budaya Bengkulu.

Hingga sampai tahap akhir ini bukan perkara yang mudah dengan kondisi saya yang masih kuliah, belum berpenghasilan tetap dan keluarga yang baru tiga bulan sebelumnya menikahkan adik saya tercinta. Keyakinan pada Allah yang besar dan saling menyakinkan antara saya dan ukhti yang ikhlas da’wah-nya itu tentang keikhlasan, kebarokahan dan orientasi untuk da’wah turut menguatkan bahwa itu adalah pondasi yang terkuat yang pernah hadir, sebab ia bisa sekuat gunung sebagai pondasi pasak bumi ini, dan bisa juga selemah, sangat lemah, bagai bulu – bulu halus yang berterbangan tertiup angin saat semuanya tak murni terkotori.

Kilas balik sejenak: siapa yang akan menyangka jika akhir penantian saya berakhir dengan akhwat yang sama sekali sangat tidak saya kenal, bukan hanya orang-nya tetapi tempat tinggal dan domisili kuliah-nya. Seribu tanya bukan hanya pada saya sendiri, keluarga saya pun pasti akan banyak menanyakan-nya lebih tentang keyakinan saya ini, begitulah saat sisi rasionlitas hadir dan cukup menggoda. Biodata yang terkirim via email dari pemimbing menjadi semburat misteri hingga akhirnya sampai hinggap di email saya, antara keraguan dan keyakinan meminta tanya sempat terlintas..”jika proses ini dilanjutkan apakah cukup memungkinkan dengan kondisi saya yang masih sibuk kuliah yang juga masih cukup menyedot dana IMF (infak mother&Father) untuk pergi lintas provinsi hanya sekedar untuk ta’aruf tatap muka?...huffhfff” toh tidak ada kepastian juga, bahwa saya akan diterima setelah ta’aruf nanti kesana, dalam istilah Quis-nya masih perlu tools bantuan fifty-fifty... ^_^,yuu mari korban quis!. Apalagi yang diandalkan kalau bukan shalat dan do’a senjata ampuhnya kaum muslimin(semoga bukan saat terdesak saja)!!Estafet demi estafet istiqorah terus digelorakan hingga membuahkan keyakinan, dan rangkaian do’a – do’a terus dihajatkan agar membuahkan kemudahan. Permohonan do’a saya cukup sederhana saat fase ta’aruf biodata itu “Ya Allah, hadirkanlah cinta pada hati ini dan hadirkan rasa cinta pada keluarga kami berdua agar cinta kami dapat berpadu...amiin”.Dalam hening dalam kesunyian, karena cinta harus untuk diupayakan dan dimohonkan sebab hati dan rasa (feel) itu hanya milik Allah, Ia pun yang Maha Berkehendak mutlak mengendalikannya.

Kunfayaakun, bukan bimsalabim...insya Allah benar!!, keikhlasan adalah jalan bebas hambatan dimana pemakainya berjalan tanpa macet oleh kemacetan dunia atau akhirat, tapi memang harga tarif masuk tol-nya berbayar (perjuangan&kesungguhan), semua pasti ada harga-nya teman! Termasuk harga keyakinan kita, bahkan ini yang sangat besar nilainya dimata Allah. Kabar gembira dari buah keyakinan itupun hadir via sms dari pembimbing halaqoh menjelang agenda PKPA saya di Bandung, bahwa akhwat yang ikhlas da’wah-nya ini bersedia datang ke Jakarta untuk ta’aruf tatap muka dengan saya...subhanallah ya ukhti!! dalam getar – getar dawai hati ini bergumam.

Ta’aruf.....ya ta’aruf, ya tatap muka. Tahap memastikan, tahap memastikan cinta berdua, dengarkanlah cara ia berbicara, renungkanlah pola alunan bicara dan suara hatinya, pastikanlah raut – raut wajah-nya yang memancarkan keimanan dan keyakinan pada kerangka cinta misi-jiwa, yang awal – awalnya mungkin hanya dugaan dan prasangka saja. Sekarang ia hadir dihadapan saya, dia hidup, dia bertanya dan dia pun menjawab. Ia tersenyum dan dia tetap menjaga hijab-nya, ia pun juga memastikan itu...memastikan kecenderungan dan dugaan - dugaan cintanya. Hanya satu jam kira – kira, satu jam tidak lebih. Kita saling bertanya dengan tiga termin: tentang saya-dia (personal), tentang keluarga dan membangun keluarga da’wah, dan terakhir tentang komitmen terhadap da’wah. Sungguh singkat dan ajaib menurut saya, karena itu adalah pertemuan pertama saya, dan selanjutnya untuk pertemuan kedua adalah langsung saat agenda khitbah, agenda yang mempertemukan kami dan antar kedua keluarga, bahkan saya kadang masih rada linglung belum mengenal dengan pasti calon istri saya apabila beliau menyatu diantara kerumunan anggota keluarganya saat itu^_^. Ajaib tapi bukan mistis, Jadi tanpa ada agenda umum pertemuan perkenalan tatap muka antara saya dengan orang tuanya, atau bahkan orang tua saya dengan ukhti yang ikhlas da’wahnya ini. Mereka (ortu) mengenal masing - masing kami dari biodata dan kestiqohan pilihan kami..subhanallah, shortcut!!, memotong waktu yang ada, hampir saya sendiri tak percaya, masih ada ya Allah orangtua seperti itu di jaman ini^_^.

Believed or not!! tapi don’t be afraid, sebab jika anda tak percaya segera saja buktikan sendiri teman....berani!!!.Menanti pertemuan ketiga sepertinya pasti akan lebih seru, sangat berkesan dan pasti saya akan dibuatnya grogi berat, teman. Pertemuan nanti yang insya Allah di Bengkulu 8 Agustus 2009 di saat saya sudah berhak sah memegang erat tangan dan mencium keningnya tanda cinta Allah bahwa telah menikahkan hati kami, setelah saat indah ayat – ayat cinta Ar-rahman itu rampung saya lantunkan, biarlah malaikat dan bidadari surga cemburu....ya Allah, seakan seperti mimpi, mimpi dari jiwa yang menerangi dan cita – cita yang menyala, mimpi yang terus terbuai bunga – bunga mimpi oleh lantunan salah satu kutipan ayat cinta itu Hal jazaa’ul ihsaani ilal ihsaan..dan bunga - bunga mimpi inilah yang membuat saya tak mau untuk terbangun segera.....^_^
(Izzam, 28072009 my Room; Ya Allah ridhoilah dan mudahkanlah jalan kami)

Wednesday, June 10, 2009

SOUVENIR SEDERHANA (7)


Nasihat adalah cinta………..
Siapa yang tak butuh nasehat, semua pasti butuh itu. Sebab itu adalah stabilitas dari sebuah hubungan social bahkan hubungan vertical bagi yang memaknainya. Tak mudah memang melakukannya, apalagi dalam kaidah hidup bersama, tapi juga tak begitu sulit untuk memulainya, oleh sebab itu dalam salah satu surah Al qur’an; Al ashar yang saya pernah pelajari tafsirnya meletakan iringan menasehati dengan kata – kata sifat lainnya yaitu: dengan kebenaran (hak), dengan kesabaran dan di surah ayat lain sering dinyatakan harus dengan iringan kasih sayang. Sifat – sifat itulah yang akhirnya dapat membuat siklus menasehati dapat hidup dan dapat berjalan baik dengan mekanisme seharusnya.

Jadi tulisan ini sebenarnya saya peruntukkan khusus untuk “seseorang” yang sedang selalu saya tunggu kesediaan akadnya, dan juga secara umum buat teman – teman lain jika saya ternyata sedang susah untuk ditausiyahkan, emosi tak terkendali, keras kepala, khilaf dan lain sebagainya. Agar teman nantinya coba bantu ingatkan saya pada sebuah tulisan sederhana ini yang pernah saya posting sebelumnya, dengan membacakannya, atau menge-printnya atau menulisnya ulang untuk diberikan kepada saya, atau mengirim melalui email atau juga berikanlah dalam bentuk “surat cinta”, jika hal itu memungkinkan…selebihnya adalah kesabaran saya untuk membaca sendiri.

Nasihat Adalah Cinta…….
Nasihat adalah cinta; lahir dari sinopsis rangkaian kata hati.
Nasihat adalah buah kepatuhan dari amal sebelumnya yang kemudian melesat keluar, ia bisa seperti mentari yang terus menyinari sehingga timbul hujan, yang dulu hujan kemudian timbul pelangi dengan pesan indah warnanya.
Nasihat adalah buah akhlaq tersendiri bagi pemiliknya.
Nasihat adalah esensi kehidupan, makna hidupnya yang kuat esensi karena memberi. Nasihat itu adalah dimensi gagasan yang mulia, luas dan mendalam.
Nasihat adalah pancaran kekuatan dari gejolak perubahan.
Nasihat itu adalah pertumbuhan, harus tumbuh dan abadi dibenak ummat.
Nasihat itu juga adalah selimut dan pakaian bagi saudaranya, melindungi jiwa dan raga.
Nasihat adalah indikator sehatnya iman dari jiwa yang menerangi dan cita – cita yang menyala.
Nasihat itu juga adalah puncaknya harapan bagi sang perindu harapan.
Nasihat itu adalah rambu – rambu perjalanan menuju tujuan, karena rangkaian nasihat adalah perjalanan panjang adalah istiqomah.
Nasihat adalah juga kehangatan ukhuwah yang mendalam, sedalam samudra. Nasihat adalah ruang refleksi tisqoh yang terang, saling menerangi karena saling memahami.
Dan sebab nasihat itu juga adalah simpul kebersamaan, kebersamaan untuk hidup di kehidupan akhir yang abadi adalah SYURGA.
Bersyukur dan beruntunglah yang mendapatkan nasihat. Sebab hari – hari tanpa nasihat adalah langkah kemunduran dan bagi da’wah adalah awal kematian.


Romantis bukan!!saya sarankan anda juga memberikan kutipan bait – bait ini pada orang yang anda sayangi saat anda merasakan keadaan yang sama. Sebab dengan saling menasehati semoga kita termasuk generasi yang memiliki level kesabaran yang lebih tinggi dari pada mengolah kesabaran untuk pribadi...Watawa sobrisobr... (Izz@m, 09082009; 23:14wib, Ingatkanlah selalu saudaramu!!)

SOUVENIR SEDERHANA (6)


Don’t be afraid : Baarakallahu laka.......
Keberanian sejati adalah lahir dari reaksi pertimbangan ketakutan - ketakutan yang sangat terukur, kemudian ukuran – ukuran tersebut memastikan bahwa apa yang akan dilakukan memberikan sebuah keyakinan harapan keuntungan besar, dan jika tidak dilakukan malah akan merugi besar pula. Keyakinan itulah yang kemudian menstimulus (memotivasi) para pemberani sejati untuk menyelesaikan kerja – kerja keberaniannya. Para penakut sejati selalu hadir dalam ketidakmampuannya menakar ketakutan – ketakutan yang dapat berefek pada dirinya, atau ia bahkan dapat mengukurnya, tetapi selalu gagal menghadirkannya menjadi keyakinan yang selanjutnya gagal pula dalam menstimulus kerja keberanian itu.

Seorang pemberani sejati sangat bisa memastikan itu dalam keyakinannya. Seorang pemberani sejati pun seorang yang sangat memahami ukuran – ukuran ketakutan itu, yang secara tidak langsung berarti ia sangat memahami dirinya, lingkungan, harapan dan masalah yang dihadapinya dengan baik. Oleh sebab itu ayat – ayat Al qur’an yang turun selalu diiringi secara seimbang antara bicara tema neraka dan syurga, hukuman dan hadiah, perumpamaan dan realitas, sejarah masa lalu, kekinian dan proyeksi masa depan, agar kita mampu mengukur fenomena ketakutan – ketakuatan (was – was) itu dalam kerangka syar’I menghadapi dunia fana ini. Maka tak salah jika generasi – generasi pemberani sejati, hanya hadir pada generasi pertama dalam didikan rosulullah, setelahnya adalah perbagian – perbagian keberanian sejati sisa saja.
Generasi pemberani sejati biasanya sangat memahami dustur-nya (Al qur’an). Kisah – kisah pemberani sejati juga banyak diabadikan di kitab itu pada porsi kemuliaannya. Diceritakan karakternya juga pada awal dan akhir kisah selalu saja ada sanjungan – sanjungan yang kadang berupa do’a atas keberanian monumentalnya. maka, indahnya manhaj ini dalam banyak kajian siroh Nabawiyah pun selalu mengiringi antara keberanian dengan do’a. Do’a yang bahkan bisa menstimulus keberanian, atau do’a itulah yang akan menyambut riang para pemberani sejati pada karnaval – karnaval permohonan berupa harapan ganjaran dari amal – amal keberanian itu.

Kisah itu dapat diwakilkan oleh sahabat rosulullah Sa’ad Bin Abi Waqqash yang bergelar “singa yang menyembunyikan kukunya”. Seorang ksatria pemanah berkuda terbaik, muslim pertama yang melepaskan anak panah dan yang pertama pula terkena anak panah pada medan perang uhud. Jika memanah pastilah ia tepat mengenai sasaran. Maka ketika Sa’ad ditanya tentang rahasia keberaniannya itu beliau menceritakan, bahwa rosulullah pernah mengajukan do’a kepada saya seperti ini : “Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah do’annya...! jadi, memang selalu ada do’a di manhaj ini dalam menstimulus untuk menciptakan sebuah kisah – karya keberanian abadi. Atau kisah lain penghormatan pemberani sejati dengan karnaval permohonan do’a yang diucapkan rosulullah ketika seorang pemberani sejati Hamzah Bin Abdul Mutholib yang memiliki gelar ”singa Allah dan panglima para syuhada” itu syahid dalam pertempurannya

”Melimpahlah atasmu Rahmat ar – Rahim
Akulah saksi bagimu di hadapan al – Hakim
Engkaulah pendekar penyambung silahturahmi
Berbuat kebaikan pembela yang di dhalimi..”


Don’t be afraid!!, Kita pun bisa mendapatkan iringan – iringan do’a atas keberanian sejati itu, walaupun bukan dalam kapasitas kesyahidan seperti para sahabat rosulullah. Tetapi beban keberanian ini hampir mirip dengan itu, walau tak serupa, pada sebuah amal keberanian tentang sebuah akad. Akad yang merupakan salah satu perjanjian besar (mitsaqon gholizo) dalam kehidupan manusia. Perjanjian besar yang tersimpan amanah besar pula pastinya. Memutuskannya untuk melaksanakan akad itu adalah keputusan para pemberani sejati, bukan untuk para penggombal sejati (awas,Gombal warning melanda!!), dan ia sangat berhak akan do’a – do’a yang juga pernah mengiringi para pemberani sejati pada masa - masa terdahulu. Do’a yang sangat dianjurkan rosulullah untuk menjadi referansi kita saat hadir dalam perayaan - perayaan keberanian itu atas akad yang telah disepakatinya, beginilah iringan - iringan do’anya :
” Baarakallaahu laka, wa baarakallahu’alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir”
Semoga Allah karuniakan kepadamu, dan semoga Ia limpahkan barokah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan.
(Izzatulgumam, 09062009; 22:00 WIB; Kebarokahan atas keberanian, are you?)

Monday, June 08, 2009

SOUVENIR SEDERHANA (5)


Mencintai itu adalah pilihan..
Mencintai itu adalah pilihan, seperti hidup yang harus memilih amal terbaik dari yang baik di tiap perbagian sekat – sekat waktu dengan pajak resiko dan hadiah hidup lainnya. Mencintai itu adalah pilihan, seperti saat romansa pilihan cinta itu hadir, maka memilih keadaan apapun dalam domain atmosfer cinta menjadi lebih berarti dan bermakna di mata pecinta sejati. Sebab sejarah pilihan cinta sejati tak pernah bisa di beli dengan dinar, tak bisa di rayu dengan kekuasaan, dan tak akan bisa termakan oleh waktu. Ia lebih berharga dan lebih indah dari segalanya.

Jika hidup mu penuh dengan cinta yang kuat dan saling menguatkan, maka menjadikan segala aktifitas mencintai harus menjadi pilihan: “pilihlah yang kau cintai dan cintailah yang kau pilih, seterusnya istiqomahlah”, begitulah kisah abadinya cinta, sederhana bukan!?memang, tapi kadang tak sesederhana yang dilakukan. Oleh sebab itu siapapun yang menjadi pilihan cinta mu untuk kau cintai, maka itu adalah harus pilihan tepat dari berbagai banyak cinta lain yang ditawarkan.

Mencintai itu adalah keputusan, seperti membuat keputusan besar yang unik, kadang tanpa mekanisme yang jelas, tapi kadang dengan rasa jiwa yang pasti. Tidak juga seperti keunikan layaknya syuro (rapat) partai - partai besar dengan masing – masing mekanismenya hingga hadir keputusan besar berupa kebijakan perbaikan umat. Mekanisme keputusan mencinta ini lebih unik dari itu, kadang tidak mengenal siapa harta, engkau tahta atau dialah Yusuf As, hanya kau yang bisa merasakannya sendiri nanti.

Ku putuskanlah mencintai! sebab elemen mencintai itu adalah keputusan itu sendiri. Mengambilnya berarti menguatkannya. Seperti memutuskan dari suatu hal antara keadaan yang kadang sangat rumit tentang rasa dan perasaan yang sulit untuk dibayangkan imajinasi, tentang keadaan rasional dan irasional yang sering bercampur baur, tentang keadaan antara idealita, realita, kepastian dan kesemuan yang kadang ambivalen, bisa tentang fenomena sensitifitas hati yang kunjung mudah berbolak – balik, atau tentang afiliasi heterogenitas perbedaan agama, suku, daerah dan bangsa yang menjadi momok adat dan mitos – mitosnya.

Keberanian memutuskan juga berbicara tentang kekhawatiran yang menggerogoti asa pada resiko – resiko cinta yang sebenarnya tak perlu dirisaukan, tentang sejarah keyakinan keputusan cinta dalam jarak perjalanan panjang hijrah mekkah – madinah yang cukup dramatis itu, tentang juga pertimbangan mengambil jalan da’wah atau jalan lainnya yang cukup menggiurkan, juga tentang timbang-menimbang proyeksi keadaan masa kini dan masa datang yang sangat mengurai banyak tanya kestiqohan kita pada-Nya: pada kepastian pahala – pahala dan kebarokahan orang – orang (jatuh) mencinta, atau mungkin tentang degradasi tawakal bahwa ini adalah ujian keyakinan untuk memilih perjalanan panjang tiada akhir, melelahkan, yang sebenarnya kita pun juga tak pernah tahu akan akhir kisah dan dimana kepastian cinta ini akan bermuara.

Tetapi dalam aktifitas cinta dan mencintai tetap harus memilih, harus memutuskan, dengan akad – akad syar’I-nya. Memutuskan untuk menuju jalan kelanjutan episode cerita pertumbuhan cinta itu dengan segala pelangi - pelangi resikonya, karna cinta butuh tumbuh dan berkembang lebih lebat, lebih sehat, kokoh dan percaya diri hanya dalam taman – taman itu (red:Pernikahan). Inginkah cinta mu tumbuh lebih sehat?Jawaban masalahnya sederhana: saat masa cintamu sudah hadir didepan mata dan kau ingin memutuskannya, apakah kau sudah cukup memberi kekuatan keyakinan (azzam), menghilangkan keraguan hingga batas ZERO akan pilihan keputusan besar (mencintai) itu, teman?; agar akar cintanya selalu kokoh menghujam ke bumi dan buahnya lebat menjulang ke angkasa raya....Fa idzaa azzamta fatawakal’alallah.
(Izz@m, 07062009, my room: 1:30 WIB; Jangan ada ragu diantara kita)

Saturday, March 28, 2009

?Travel Writing?, Seni Tulisan Menyampaikan Kebenaran


Posted by Tajid Yakub on July 18th, 2006
Tulisan Sulung di Sinar Harapan 22 Agustus 2002 tentang bagaimana membuat sebuah tulisan perjalanan.
Sadar atau tak sadar, suka atau tak suka, hampir setiap hari kita melakukan perjalanan. Perjalanan yang berarti pergerakan dari satu tempat ke tempat lain menjadi style masing-masing manusia dalam mencapai tujuan.
Ayah kita pergi ke kantor tiap pagi, bertujuan memenuhi kebutuhan keluarganya adalah juga sebuah perjalanan. Seorang anak muda pergi ke rumah pacarnya guna memenuhi kebutuhan rohaninya juga melakukan perjalanan. Jelas di sini bahwa perjalanan adalah proses mencapai sebuah tujuan.

Akhirnya tanpa kita sadari perjalanan-perjalanan ini menjadi sebuah kebutuhan. Logikanya kalau ingin mencapai tujuan kita harus melakukan perjalanan, baik itu mudah, maupun sesulit apapun perjalanan tersebut, tapi kita tetap harus melakukannya, kalau kita ingin mencapai tujuan yang kita inginkan.
Mudah dan sulitnya perjalanan baru dapat dinilai setelah kita melakukannya. Merugilah manusia yang selalu mundur bila melihat sulitnya perjalanan yang akan ia tempuh, karena bila ia mundur maka niscaya semakin lambat sampailah ia pada tujuannya.

Sebuah perjalanan bagi sebagian orang menjadi sangat penting artinya. Karena dalam perjalanan itulah mereka dapat memaknai hidup. Seorang penjelajah, penempuh rimba, pejalan kaki, naturalis, pecinta alam atau apalah namanya mungkin adalah sebagian nama yang dapat digolongkan dalam sebagian orang yang berpikir bahwa sebuah perjalanan bukanlah hanya sebuah pekerjaan sia-sia.
Ini adalah style yang makin berkembang menjadi sebuah gaya hidup sebagian umat manusia di bumi ini.

Terdorong oleh naluri dasar manusia yang ingin maju, tercipta dalam kata ‘selalu ingin tahu’.
Sebagian orang-orang ini ingin tahu apakah yang ada di puncak-puncak gunung tinggi, di lembah-lembah dalam hutan belantara, di luas dan dalamnya lautan, di gua-gua gelap tak terjamah, di sungai -sungai ganas tak berkompromi, dan semua yang ada di alam ini.

Naluri ingin tahu inilah yang menggerakan sebagian penjelajah dahulu melakukankegiatannya. Dan kalau mau di nalar ulang naluri inilah yang banyak memberikan pengaruh untuk kemajuan suatu bangsa. Kalau bukan karena seorang Christoper Colombus siapa yang akan percaya bahwa bumi itu berbentuk bulat.
Karena pengetahuan baru itulah membuat beramai-ramai pelaut-pelaut ulung negeri Eropa melakukan penjalahan-penjelajahan. Banyak nama yang bisa disebutkan disini, Vasco da Gama, Cornelis de Houtman adalah beberapa contohnya.

Eksplorasi-eksplorasi terus dilakukan turut di tunjang oleh pemimpin negara mereka, baik secara finansial maupun moril.
Perjalanan-perjalanan terus dilakukan, pengetahuan baru terus bertambah sehingga berdampak pada perubahan kultur yang ada di masyarakat barat.
Kalau ingin menguasai dunia, kuasailah laut, begitu mungkin mereka berpikir. Karena dengan menguasai samudra mereka dapat pergi ke negeri-negeri baru yang lebih melimpah hasil alamnya, menimbulkan kolonisasi dan terus berlanjut ke imperialisme yang memakmurkan kaum yang menjajah tapi merugikan kaum terjajah.
Semakin terasa jelas sekarang bahwa sebuah perjalanan yang berdasar naluri ingin tahu membuat suatu kaum menjadi lebih maju dari kaum lainnya. Sebuah perjalanan petualangan adalah salah satu caranya.

Melihat untuk Mempercayai
Semakin sering orang melakukan perjalanan semakin banyak pengetahuan yang ia miliki. Semakin banyak yang ia tahu, semakin pintarlah orang tersebut. Semakin banyak �?nilai�? yang dapat ia ambil. Hingga hasil akhirnya menuju titik bijak seorang manusia.

Informasi-informasi yang ia miliki, pengetahuan-pengetahuan yang ia dapati dan nilai-nilai yang ia yakini semua tertampung dalam sanubari. Memendam menjadi pondasi-pondasi kehidupan yang akan ia jalani.
Seperti aliran sungai yang terus mengalir akhirnya ke muara juga, menuju laut lepas tempat di mana kebebasan berada.

Begitu juga dengan segala informasi, pengetahuan, dan nilai yang di miliki sebagian orang -orang tersebut, akhirnya harus dibebaskan juga dari wadah-wadah pikiran, menuju lautan lepas informasi yang berdasarkan pada prinsip memberitahukan kepada orang lain, kepada generasi selanjutnya agar menjadi bahan pemikiran tambahan guna dipergunakan untuk kemajuan mereka juga nantinya dan ntuk menuju hidup yang lebih baik, yang lebih sempurna.

Salah satu cara menyampaikan berbagai hal ini adalah melalui tulisan-tulisan yang bisa berbentuk sebuah buku, artikel, esai atau apa saja nama dan bentuk teknis penulisan.
Naluri manusia yang membutuhkan sebuah sistem penulisan juga merupakan sebuah kebutuhan guna mencapai tujuan.
Bahkan seorang tukang warteg pun menulis walau hanya untuk sekadar mengingat kembali apa yang akan ia beli nanti setiba di pasar. Di sini prinsipnya menulis untuk mengingatkan.

Tulisan-tulisan itu akan mengingatkan kita apa yang sudah dipercayai orang-orang sebelum kita. Dengan dasar naluri ingin tahu, kemudian melihat, kemudian menuliskan untuk dipercayai.
Ini merupakan konteks yang tepat dalam sebuah tulisan perjalanan (travel writing). Tulisan-tulisan dalam bentuk laporan pada jaman Cornelis de Houtman di maksudkan agar dipercayai adanya, bahwa mereka pernah melihat daerah subur penuh dengan rempah-rempah di daratan nusantara.

Laporan-laporan seorang Jans Carstensz yang membuat orang percaya ada gunung bersalju di daerah garis khatulistiwa. Tulisan-tulisan Anton W. Niewenhuis yang membuat orang percaya bahwa ada tradisi potong kepala di suku-suku pedalaman Borneo.
Impact dari sebuah tulisan perjalanan ternyata tidak bisa di anggap enteng. Dari tulisan perjalanan seorang Christoper Colombus dalam menemukan benua Amerika berdampak luas dalam pergeseran kultur, merambah pengetahuan manusia menuju paham de-kolonisasi yang mengakibatkan berkembangnya paham imperialisme dan terus meluasnya penjajahan dari negeri barat ke negeri timur dan seterusnya dan seterusnya.
Tak cuma dalam bidang pemahaman-pemahaman yang menjurus ke ideologi. Tulisan perjalanan juga ternyata menambah khazanah pengetahuan manusia dalam bidang pengetahuan.

Laporan-laporan Humboldt, Darwin, Wallace dan banyak lagi yang lain menambah pengetahuan banyak orang bahwa masih banyak jenis species-species lain yang hidup di bumi ini. Dari tulisan-tulisan ini membangkitkan minat banyak orang untuk meneliti tentang hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan dan segala aspek yang tercakup di dalmnya.
Jadi dari sebab dan akibat di atas, dapat di simpulkan dari tulisan-tulisan ini dapat dapat menimbulkan akibat yang luar biasa dari perikehidupan manusia.
Membuat kita makin menyadari ada kehidupan lain selain kehidupan kita, ada nilai-nilai lain selian nilai-nilai milik kita. Ada pengetahuan lain selain pengetahuan kita, yang semua itu pada akhirnya bermuara pada keseimbangan diri dan pribadi untuk sekali lagi menuju hidup yang lebih baik.

Menulis untuk Kebenaran
Tapi sekarang kita mungkin tak akan menemukan benua-benua baru karena hampir seluruh tempat di bumi ini pernah di jelajahi manusia.
Bahkan bulan sekalipun sudah kita injak. Lalu kemudian timbul pertanyaan apalagi kegunaan kita melakukan perjalanan-perjalanan jauh kenudian menuliskannya???
Untuk menyampaikan kebenaran. Mungkin itulah jawaban pasti yang dapat di jadikan batu pertama pondasi bangunan tulisan perjalanan yang akan kita bentuk.
Kita bisa menyampaikan kebenaran dengan memberitahukan buruknya kondisi kesehatan yang ada di dusun Datai Tua di rimba pedalaman Riau. Kita bisa menyampaikan kebenaran sulitnya seorang ibu untuk mendapatkan sarana persalinan untuk kelahiran bayinya, sehingga harus mengorbankan nyawanya sendiri sebab jauhnya tempat persalinan di lembah-lembah sungai Citarik, Jawa Barat.
Kita bisa menyampaikan kebenaran betapa harus berjuangnya seorang pencari rotan di hulu sungai Balease untuk sekedar mengeluarkan seikat rotan dari jebakan jeram-jeram ganas sampai-sampai harus mengeluarkan airmata karena bersyukur dapat lolos dari terjangan jeram yang menghadang.

Tulisan perjalanan yang ada sekarang adalah untuk menyampaikan kebenaran. Bahwa masih banyak yang harus dilakukan bangsa ini untuk memajukan taraf hidup rakyatnya. Mungkin benar kata seorang Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa yang juga seorang pecinta alam yang hidup sekitar tahun 66, �?Tak ada yang lebih puitis di dunia ini selain menyampaikan kebenaran�?.

Sumber : situs MAPALA UI

SOUVENIR SEDERHANA (4)


Seni Penantian
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)”. (QS Al Ahzab : 23)

Penantian : menunggu merupakan derivatnya, dan lahir dari induknya: kesabaran. Disini kadang hanya ada diam, hanya perenungan, hanya keheningan yang dalam, bisa ketergesa – gesaan, atau ujian ketahanan pada komitmen pilihan, tapi di lain sisi istiqomah pada keyakinan membuat kegiatan ini membawa kegairahan tersendiri yang unik untuk bergerak. Yang seakan membuat saat jarak dan waktu tak berjangka tak pernah jadi hambatan menuju perjalanan yang dituju, bahkan bisa menjadi wisata – wisata hati tiap waktu pemiliknya. Saat waktu (penantian) yang ada layaknya gelas yang kemudian terisi penuh oleh larutan kopi nikmat juga termahal : Starbuck, dengan makanan kecil menjadi penutup waktu senja atau pengantar semangat untuk memulai kembali beraktifitas kerja lembur, terlihatlah jelas indahnya penantian hari ini.

Seni penantian :Gagal mengisi, gagal yang dinanti …….
Seni membuat setiap karya atau aktifitas apapun terlihat lebih indah, karna seni adalah keindahan itu sendiri. Seni adalah kualitas, disini ada ketelitian sang pelukis, disana ada kecermatan sang pemahat patung, disana sini ada kelenturan keseresian gerak – gerik sang penari balet dan penari Bali. Dan seni tentunya juga bicara kecepatan, kekuatan bagi atlit sang seniman – seniman otot dan strategi. Hidup tanpa seni ibarat hidup yang kurang merasa asin walaupun hidup dalam lautan : kurangnya cita rasa hidup.

Seni penantian adalah seni mengelola kelenturan keyakinan dari keraguan yang selalu hadir di tiap dimensi asa, seni penantian mengemas dengan baik kecemasan dan ketergesaan (isti’jal) menjadi ketenangan hingga tiap amal berbuah menjadi berkualitas, seni penantian selalu mengisi ruang kanvas putih tak berbingkai tak berbatas dari keterkosongan warna menjadi kecermatan, keserasian dan ketelitian lukisan sang maestro penuh warna, penuh makna. Seni penantian adalah seni uji ketahanan pada sebuah pilihan terhadap perjalanan waktu, seni penantian merupakan saat dimana rumitnya mengolah kekuatan ketertarikan prinsip terhadap ketertarikan daya sumber goda nafsu duniawi yang hebat, seni penantian adalah seni mengolah kejenuhan (jumud) menjadi kegairahan (ghiroh) yang tak terbatas, atau seni penantian itu seharusnya seperti seni menanti kelahiran jundi (buah hati) yang pertama akan lahir atau seni menanam padi petani menunggu panen raya tiba.

Jadi sebenarnya seni penantian adalah seni dimana kita sebenarnya sedang tidak “menunggu” (pasif) melainkan istiqomah aktif….mereka tidak merobah (janjinya)”. (QS Al Ahzab : 23). Kita tidak sedang menunggu, tapi kita sedang terus bekerja keras melengkapi menyempurnakan, dan fase akhir yang sering kita sebut hasil penantian adalah ruang sebenarnya dimana kerja tugas kita telah sempurna dan lengkap seluruhnya dimata kita, baik itu kerja perencanaan kegagalan dengan takdir kegagalan atau kerja rencana yang sempurna dengan menuai hasil kesuksesan. Sebab tiap perbagian waktu selalu punya kelengkapan jalan ikhtiar dan takdir yang sudah digariskaNya, maka tak salah jika Amirul mu’minin berwasiat dalam sebuah hadist yang terkenal ini..
“Apabila engkau berada diwaktu pagi, maka janganlah engkau menungu waktu sore. Dan jika engkau berada diwaktu sore, maka janganlah engkau menunggu waktu pagi”.
Bisa dipastikan mungkin awal gagal hasil penantian adalah saat kita mulai hadirnya fase dalam emosi, rasa dan situasi dimana kondisi psikologi kita mulai “menunggu” penantian itu sendiri, sekali lagi waktu selalu punya kelengkapan dan penyempurnaan untuk terus dilengkapi, sehingga gagal mengisi bisa jadi akan gagal menanti. .

Melengkapilah….
Ada yang menanti kelahiran, pasti juga ada yang menanti kematian, diruang jarak penantian batas umur inilah seni penantian berbicara sejauh mana hasil seni penantian berupa ukiran sejarah kehidupan seseorang ini dapat dikenang sepanjang masa. Ada yang menanti - nanti kemerdekaan (Palestina) sebagai negeri terjajah, dan pasti ada (tak disadari) bersiap menanti kehancuran (Amerika&Israel terlaknat) sebagai bangsa penjajah, disinilah gejolak seni penantian memberikan kemampuan untuk seni bertahan hidup dan seni berjuang, sebab bangsa siapa yang terus melengkapi hajatnya maka bangsa itupun yang akan menuai hasilnya, untuk kemerdekaan dalam kemuliaan atau kematian dalam syahid yang abadi kelak. Ada yang menanti perceraian tapi banyak juga yang akan menantikan untuk memadukan dua jiwa, dalam penantian yang kadang panjang dan melelahkan jika tak memahami makna seni penantian itu dengan benar. Tapi disinilah letak peran seni penantian yang menghiasi awal sebuah penentuan peradaban selanjutnya.

Jadi setiap umat manusia pasti punya penantian sebagai hajatnya, selama masih ada itu (penantian yang baik) maka bumi ini belumlah akan kiamat, begitulah pesan Rosulullah pada kita, oleh sebab itu sebanyak mungkinlah berharap dalam kaidah seni penantian yang benar, maka segera lengkapilah!!Bisa jadi kita sering alpa dengan ceklist kelengkapan ini diantara ceklist banyak yang lain dalam melakukan seni penantian yang baik dan benar. Ceklist yang merupakan alat berkomunikasi pada wilayah transenden Sang Pemilik Takdir Allah swt, yaitu: berdo’a dan mendo’akan. Mungkin dengan do’a yang singkat seperti ini menjadi ceklist kesempurnaan kelengkapannya takdir-Nya, walaupun kita tak pernah tahu siapa yang akan menjadi jawaban hasil penantian ini, maka berdo’alah : “Ya Allah, berikanlah pasangan jiwa ini selalu kesabaran dalam ujian dan selalu syukur dalam nikmat yang tak pernah henti. Dan Pertemukanlah kami setelah penantian hanya dalam keimanan, kecintaan dan da’wah yang tak pernah padam…amiin”.
(Izz@m 27032009, my room Bekasi; Inspirasi indah ba’da ’ngisi’ di Cilodong Depok)

Monday, March 09, 2009

TRAGISNYA PERSAUDARAAN KITA!!

“Innamal mukminuna ikhwah. Faaslihu baina akhawaikum” (QS 49 : 10). “Sesungguhnya mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah orang-orang yang berselisih diantaramu”.

Konsekuensi keimanan adalah sebuah persaudaraan, banyak petunjuk wahyu dalam Al qur’an kita yang sempurna dan cerita sejarah yang selalu mendampingi antara keimanan dan persaudaraan. Langkah awal persaudaraan bani anshar dan bani muhajirin adalah prototipe icon cerminan yang konkrit persaudaraan lintas demografis, adat dan generasi. Betapa pentingnya ikatan persaudaraan bagi perkembangan dan pembentukan sebuah peradaban Islam, sebab persaudaraan atas dasar keimanan adalah tali – tali penghubung peradaban, “Lem” persatuan atau jaring -jaring ekspansif da’wah itu sendiri yang menghubungkan berbagai perbedaan karakter, geografis dan ekologis menuju satu visi penghambaan pada Allah SWT.

Kekuatan ikatan persaudaraan yang seharusnya mampu menciptakan sebuah atmosfer kehangatan, kepedulian dan ketersalingan secara kualitatif dan kuantitatif dalam menyikapi puncak persaudaraan berupa itsar, ini hanya bisa diproduksi oleh tiap bagian pelaku yang memang taraf keimanannya selalu terpelihara dan terasah dari hari kehari, waktu kewaktu, tiap jam berlalu dari tiap detik menghela nafas dzikir kita.

Menganggap semua adalah bagian saudara adalah kerja yang mudah seperti keimanan hanya baru pada tingkatan lisan, tetapi ketika dibenturkan pada tingkatan – tingkatan selanjutnya yang berupa nilai garis aplikatif amal takaful dan itsar kita sering gagal bergerak disini, inilah rangkaian awal dari penyempitan (lokalitas) Islam padahal gambaran persaudaraan Islam adalah universal. Berat memang bagi kader yang menganggap (maindset) propaganda kejahiliyahan tersistem sekarang lebih pintar dari strategi sistem da’wah cerdas kreatif yang sedang dibangun, padahal sang Maha Pemilik manusia Allah SWT memberikan cakupan optimisme kalau kita adalah ”kuntum khairah ummah”, tetapi jangan juga euforia dulu karena tadabur yang malas dan singkat, sebab ayat selanjutnya adalah jaminan dan syarat yang cukup berat harus terpenuhi untuk karakter ini.

Tak ada alasan apapun untuk pesimis.Walaupun pada zaman sekarang dimana kejahiliyahan dahulu dianggap terhebat, dan bahkan dengan kelemahan pemahaman ilmu kisah – kisah sejarah nabi dan lemahnya pengetahuan masa kini menganggap hari ini tidak sejahiliyah dulu. Ini paradigma yang salah, bagi kader – kader yang selalu sering meminta keringanan ketika diajak untuk memberantas kejahiliyah yang tersistem padahal langkah pertama kaki beramal belum tertapaki, cemas punya cemas jika pada masa sekarang sudah sering minta keringanan untuk amanah yang ringan bisa jadi dikemudian hari akan tercipta kader – kader pelit berkorban untuk tugas – tugas berat yang didalamnya perlu keteguhan pengorbanan, salah – salah seringnya keringanan membuat kecermatan, ketajaman dan kecepatan gerak semakin aus tumpul sebab lemah tak terasah yang malahan bisa menimbulkan kelalaian bahkan bisa mematikan gerak da’wah itu sendiri. Seperti sel kanker tanpa kita sadari dalam tiap perjalanan waktu dan sejarah yang sedang kita lalui.

Hati – hati dengan hal ini, lingkaran perusak persaudaraan. Inilah lingkaran yang dipropaganda oleh was was setan ”was wissufi syuduurinnass”. Lingkaran setan ini selalu ada dalam setiap organisasi manapun tak terkecuali dalam organisasi harakah da’wah, sebab lingkaran ini adalah bagian yang tak memiliki sudut sebab bersambung seperti tak ada kepala dan ekor yang jelas mana hulu dan mana hilir, bisa jadi makna lingkaran tersebut bagian kepala memakan ekor dan ekor seakan melilit kepala…naudzubillah.

Dalam paradigma persaudaraan yang lemah sikap keikhlasan takaful sering terjebak oleh rangkaian ini, rendahnya makna keikhlasan dalam beramal yang berujung saling menyalahkan, masing – masing merasa benar dan hebat pada porsi juga arena yang tak semestinya. Qiyadah menyalahkan jundi dan jundi mengerti betul kelemahan qiyadah sebagai seribu alasan untuk tidak mentaati perintah sebab kelemahan ketauladanan dan digeneral merupakan juga bagian turunan lemahnya kredibilitas untuk memimpin, sehingga beberapa bagian ta’limat (perintah) tidak perlu dilakukan baik yang terikat atau mengikat pada kepentingan jama’ah.

Inilah cerita pendek jundi yang tak paham bahwa qiyadah diberikan keistimewa oleh Allah ketika memimpin jama’ah yang bisa menjadi kemungkinan minhah (karunia) dan mihnah (ujian), inilah halaman bab jundi kurang cerdas yang selalu tergelincir dengan trik licik syaitan ketidak patuhan. Kisah problematika persaudaraan oleh lingkaran ini juga bisa diterjemahkan dalam berbagai tingkatan organisasi mulai dari negara, partai, lembaga da’wah kampus atau bahkan keluarga kita sendiri, tentang ayah yang super egois dan anak yang terlalu cerdas mengkritisi ayahnya pada batasan yang tak seharusnya.

Ini hampir lebih parah dari sebuah pepatah “menari diatas penderitaan orang lain” sebab setiap pelaku atau oknum pepatah tersebut bagian orang yang memang sengaja atau disengaja khilaf memiliki sifat persaudaraan, tak pantaslah jika jiwa yang tertarbiayah harus terlebelisasi pepatah itu. Mungkin juga sudah matinya batin – karakter persaudaraan yang ada Allah berikan karena tertutupnya oleh egoisme individual yang berujung kerakusan pada obsesi dunia, sebab makna kalau hati sudah terikat kuat bahkan terpenjara oleh jeruji besi infirodhi ke egoisan tanpa diberi makanan keimanan sehingga terkulai letih makna persaudaraaannya hingga kurus kering dan selanjutnya bisa dipastikan mati!! sehingga sejarah persaudaraan adalah bagian lain yang terus langka, terlupakan dan punah.

Seperti kisah klasik ikhwah yang baik komitmen terhadap da’wahnya sedang ditimpa musibah mulai terancam drop out (DO) akademik berharap saudaranya segera membantu agar da’wah yang dijalankan tidak terbengkalai oleh bagian musibah tersebut, dia tidak menangis karena banyak bagian saudaranya yang tidak membantu da’wahnya dalam lingkup organisasi yang sama karena da’wah akan terus berjalan tanpa atau dengan kita, dia juga tidak sedih dan minta untuk dikasihani oleh segala musibah yang sedang menimpa dirinya sendiri.

Tetapi kesedihan dan tangisannya melebihi tangisan sendu qiyamullail kita. Tangisan dan kesedihan tentang kepedulian harapan bahwa kita disurga nanti kita harus bersama – sama sebab surga bukan tempat yang sempit,sesempit ibukota Jakarta kita dari dampak Urbanisasi. Surga yang bahkan lebih luas dari bayangan kita tentang cakrawala indah dunia yang ada dibenak selama ini. Sekali lagi sebab menangis juga hanya karena melihat “kecengengan” saudaranya yang selalu meminta rukhsah saat da’wah perlu kerjasama dan pengorbanan untuk eksistensinya, saat da’wah dalam keadaan genting oleh peran amal jama’I yang mulai sekarat, saat da’wah perlu keringat lebih banyak ketika dehidrasi semangat mulai terjadi dan saat keletihan jiwa mengeretakkan tulang yang mulai keropos sehingga ia harus menanggung beban berat itu sendiri.

Yang dibutuhkan saat ini adalah kerja¬kerja nyata yang konkret produktif (muntijah) sebab sejarah tarbiyah selalu mencatat kita sebagai problem solver bukan problem maker, bukan saatnya menghitung – hitung skala prioritas untung rugi karena waktu sekarang menuntut kecepatan berfikir dan bertindak bagi kader – kader cerdas, apalagi menghitung keuntungan kita dalam frame nafsu duniawi akibat bakhilnya pengorbanan kita terhadap da’wah dan tak seharusnya ada untuk seribu alasan apalagi satu alasan untuk memohon atau meminta diringankan sedikit saja untuk sebuah harapan mental kalau kita juga sedang susah!.

Tak jauh kisah harian sama yang selalu berulang tentang kemampuan akademik kita yang berbeda – beda antara ikhwah satu dengan yang lainnya sebab memang manusia diciptakan tidak akan pernah sama dan dengan kadar -kadar yang berbeda juga. Inilah nikmat ujian ukhuwah kita dan juga bagian problematika da’wah kampus. Yang “Hobby akademik” terbisiki syaitan sehingga tak adil&tidak proporsional terhadap da’wah, semakin melekat egoisme individual yang kental, sekental darah kotor haram senikmat sama rasa hati binatang bila digoreng yang oleh sebagian orang disebut“marrus”. Sehingga da’wah termaindset bagian dari kotoran penghalang dan beban kesuksesan, pintar memang saat itu dalam paradigma dia sendiri dan dunia yang sebenarnya bukan dunia realitas yang diharapkan mujahid da’wah.

Pintar yang semakin bodoh dengan fiqh prioritas yang lemah sebab hanya pintar membuat kalkulasi dan urutan -urutan pemahaman teoritis belaka yang didalamnya terdapat peran hidden syaitan membuat trik rukhsah dan kepengecutan diri ditiap tiupan dan bisikan halus otak bawah sadar kita tanpa diketahui. Padahal juga hidup tidak seluruhnya sesuai dengan hukum linearitas saja, oleh sebab itu pemahaman fiqh prioritas urutan aplikatif medan dan pengalaman yang pernah berhasil dalam da’wahnya sering tidak dikalkulasikan sebagai referensi dan baku pembanding, sebab makna untuk pilihan kehidupan seperti itu tetap punya jiwa untuk ruang perjuangan yang luas, panjang dan melelahkan. Kebanyakan Hobbies akademik ”parsial” enggan untuk menerima kehidupan seperti ini.

Kepintaran jangka pendek belum tentu sebuah kepintaran sejati sebab surga dan keridhoan Allah adalah dimensi kerja continue untuk kerja jangka panjang, sepanjang umur kita, sekuat helaan nafas untuk berkarya dan sepanjang langkah kita melangkah dibumi ini, karenanya kontribusi dan istiqomah dalam da’wah hanyalah satu – satunya keyword menuju kesana,tak lain!!.

Pemilik kecenderungan besar terhadap da’wah juga terkadang tidak seimbang dengan bagian tuntutan utama yang seharusnya (akademik). Dimana letak ukhuwah jika kerangka tafahum dan itsar yang seharusnya menjadi penyeimbang (tawazunitas) gerak da’wah antar pelakunya tidak tercipta agar bisa untuk saling melengkapi bagian yang memang kurang, Saling mengisi kekosongan yang ada bahkan saling berlomba – lomba dalam itsar yang selalu berjanjikan surga seperti kisah itsar yang sangat heroik terjadi pada saat perang Yarmuk. Ikrimah bin Abu Jahl seorang mujahid bersama dua sahabat yang lain terbaring dengan luka-luka sangat parah. Ketika seorang sahabat hendak memberinya minum, ia menolak dan menyuruh air itu diberikan ke teman di sebelahnya.
Ketika air itu akan diberikan kesebelahnya, orang tersebut juga menyuruh diberikan lagi ke sebelahnya pula. Ia memilih mengalah pula pada saat-saat yang penting tersebut. Namun orang ketiga yang dimaksud sudah meninggal, ketika kembali lagi si pemberi minum ke sahabat yang tengah, ternyata ia sudah syahid juga. Dan ketika beranjak ke Ikrimah, ia pun telah syahid. Subhanallah dalam detik-detik terakhir kehidupan atau di saat-saat kritis sekalipun mereka tetap menjaga itsar mereka. Akankah kisah itu terulang menjadi bagian dari cerita bersambung kisah – kisah ukhuwah da’wah kampus kita?wallahua’lam bswb. (Izz@tulgumam;my room 08/07/2007; 09:30).


Nb : catatan lama yang tak pernah usang untuk evaluasi kini (original)

Thursday, March 05, 2009

SOUVENIR SEDERHANA (3)

SEMUA DIMULAI DARI SINI!
Zaman perlu perbaikan, masa sekarang adalah masa perbaikan dan masa pembinaan. ketika Yusuf Qordhowi, Sayyid Qutbh, Hasan Albana dan Sa’id hawa sebagai generasi ideologi pada Zamannya, sekarang kita menikmati itu semua walaupun tidak bisa digeneralisasi. kemenangan ideologi Islam sebenarnya sudah terjadi saat ini walaupun terkadang musuh – musuh Islam tak sadar akan hal itu, seperti sudah jenuhnya masyarakat Amerika terhadap pemerintahannya sendiri yang dikendalikan oleh yahudi terlihat jelas dengan indikator, banyaknya kebijakan -kebijakan pemerintah yang ditentang oleh masyarakatnya sendiri seperti peperangan serta kekerasan dan bahkan kebijakan Amerika terhadap negara jajahannya banyak ditentang juga, sudah jelas masyarakat menginginkan fitrah kembali. kemenangan ideologi inipun jelas terlihat dengan banyaknya organisasi – organisasi Islam didunia secara tak langsung mengadopsi prinsip jamaah yang dianut Ikhwanul muslimin walaupun dengan bermacam – macam nama.
masa sekarang adalah masa -masa strategis kita masih kalah dalam masalah strategis inilah yang perlu diperbaiki dan memperbaiki tidak semudah membalikkan telapak tangan manusia normal tetapi yang kita balikan adalah telapak tangan manusia yang sakit, mungkin malah hampir lumpuh dan ini perlu kerja besar, perencanaan yang matang, terapi yang tepat dan latihan yang kontineu.
Agenda besar dan "semua dimulai dari sini " dengan menikah??? kok menikah? ya! menikah secara Islami syaratnya dan dengan individu yang tertarbiyah tentunya. sekali lagi semua dimulai dari sini, membangun umat membentuk peradaban baru Islam. masalah – masalah umat yang besar seperti uraian diatas akan mudah terselesaikan disini dengan apabila terdapat barisan jamaah keluarga yang Islami. menikah adalah membentuk organisasi Islam terkecil tapi dengan berjangka tujuan yang panjang untuk dunia dan akhirat, terdapat juga kerja besar, yang merupakan tempat latihan kematangan diri, dari itu semua pucuk peradaban dimulai dari sini. jadi tunggu apalagi untuk menyelesaikan masalah umat yang semakin hari semakin kumat kenapa kita tidak coba untuk menikah bagi pemuda – pemudi yang sudah siap, tentunya dengan Syar'I!!!!. (Izzatul Gumam) 10/06/04 tangerang.


RUMAH
Bagi yang belum menikah ini tidak terlalu bermasalah tapi bagi mereka yang ingin menikah itu mungkin bagi sebagian orang menjadi masalah bahkan masalah besar bagi meraka yang menikahnya dilandasi oleh nilai – nilai materialisme.
Awal niat menikah selain nafkah, rumah juga perlu dipikirkan akh! pikir tak dipikir tetap terpikirkan juga, tapi kalau penilaian menikah salah satunya adalah rumah akan banyak Akwat yang tak terjamah atau bahkan batal target untuk menikah bagi ikhwan. sudahlah lupakan masalah rumah itu segeralah menikah, karena rumah (rezeki) itu adalah bagaian yang sudah tergariskan oleh Allah melalui takdirnya. Tapi rumah yang dimaksud disini bukan rumah seperti itu, melainkan sudahkah kita minimal membuat disain (maket) dari "rumah kehidupan" itu, ini yang terpenting. rumah kehidupan yang terdiri dari pondasi – pondasi kefahaman tentang menikah baik tujuannya, akidah, dan konsep – konsep dasar dalam berumah tangga yang Islami, bangunannya juga harus kokoh dengan segala aturan, strategi dan program – program kerja yang jelas agar tidak terdapat kehampaan dalam berumah tangga, program yang bernilai ibadah dan pembinaan jangka panjang maupun jangka pendek untuk generasi selanjutnya, atapnya pun harus mampu menopang badai dan angin topan sekalipun, atap yang kuat adalah bagaimana belajar tsiqoh antar keduanya dan belajar menumbuhkan sikap pahlawan/berani dalam menghadapi setiap cobaan yang menghadang secara bersama layaknya peristiwa Khadijah dan rosulullah dengan atap pernikahan yang kuat saat nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rosul hingga Khadijah meninggal pun atap itu tetap kuat bagi yang ditingalkan. (Izzatul Gumam) 10/06/04. 23:30 Tangerang.


YANG BERTAMBAH !!
"Barang siapa yang mensyukuri nikmatKu akan aku tambahkan nikmat itu, dan barang siapa yang mengkufuri nikmatKu sesungguhnya azabku amat pedih"
Salah satu mensyukuri nikmat Allah adalah dengan taat kepadaNya dan I'tiba kepada Rasulullah, metoda mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menempatkan sesuatu pada haknya. Menikah adalah hal yang fitrah dan sangat sunnatullah semua kita berada didalam sistem itu, kita tidak bisa keluar atau berusaha keluar dari sistem itu, yang ada seharusnya adalah bentuk ungkapan rasa syukur kita dengan kita tidak menolak dan menerima fitrah itu, itulah syukur yang sebenar – benarnya.
Rasa syukur menempatkan kita pada keyakinan yang tertinggi dimana setiap takdir yang Allah tentukan menjadi suatu keputusan yang terbaik menurut Dia dan Allah Maha mengetahui segala urusan hambanya. bersyukur entah dalam keadaan baik atau buruk (musibah) menjadikan kita menjadi hamba yang dipercaya memegang segala amanah, ketika Allah telah percaya kepada hambanya maka tak ragu-ragu lagi untuk menambahkan segala nikmatNya. contoh nyata generasi sahabat rosul, Allah selalu menambahkan nikmat untuk generasi ini, bahkan multidimensi nikmat, Rosulullah ketika meninggalkan masa lajangnya dan menikah dengan Khadijah banyak sekali penambahan – penambahan kenikmatan itu diangkatnya menjadi rasul, nikmat peningkatan kematangan diri dalam memeneg perdagangan, umat dan nikmat yang tak terhingga adalah nikmat turunnya Al qur'an, dan penambahan nikmat itu terjadi setelah tingkat syukur rosul yang tak teragukan lagi juga pada pasca pernikahan begitu pula Umar bin khatab dengan nikmat keberaniannya, kekayaannya, kecerdasan dan Allah menambahkan nikmat Kepemimpinannya melebihi kepemimpinannya saat jahiliyah dulu, sangat multidimensional!!! itu semua karena rasa syukurnya yang hampir sempurna kepada Allah, dan kita?
Dengan menikah kita pun bisa karena menikah adalah bentuk syukur yang nyata, realita dan sunnahtullah, syaratnya syukurilah nikmat nikah itu dengan sebenar-benarnya, ikuti contoh rosulullah saat menikah, sebisa mungkin islamisasi didalamnya, insya Allah nikmat itupun bertambah.
Sekali lagi cobalah bersyukur dan bersyukur kemudian merenung adakah nikmat yang bertambah dari pernikahan itu (hasil survei dan observasi teman sekitar, orang tua dan kerabat lain)? ADA dan seharusnya multidimensional!!! Allah menguatkan/menambah rezeki bagi mereka yang telah menikah. Allah menambahkan nikmat kematangan jiwa, psikologis dan emotional. Allah menambahkan kesempurnaan keagamaannya setelah menikah.
Allah juga menambahkan nikmat motivasi dan ketenangan beribadah setelah menikah. Allah menambahkan saudara bagi kalian semua antara pihak suami dan pihak istri (nikmat ukhuwah) dan Allah menambahkan nikmatnya agar dapat membajak ladang amal dirumah tangga sendiri. Allahpun menambahkan nikmatnya dengan memberikan investasi amal dunia akhirat berupa anak – anak yang terlahir. dan masih banyak lagi nikmat yang tak terhingga yang Allah tambahkan.
kesemuanya hanya untuk orang – orang yang bersyukur dan bersyukur akan nikmat Allah yaitu nikah dan memahami tujuan nikah itu sendiri, masihkah kita kurang dengan "Penambahan itu" atau malah kita tidak bersyukur????. Astagfirullah (Izzatul Gumam) (7-6-04) 11:45 Tangerang.


ADAM PUN MERASA SEPI
Sepinya nabi Adam melebihi sepinya pemuda jaman sekarang yang melajang (jomblo) pada saat ini, so jangan takut kesepian menjadi ikhwan jadilah high quality joblo muslim yang syar'I tentunya. Nabi Adam pun ternyata juga kesepian disurga saat itu walaupun banyak segala sesuatu yang diinginkan semuanya bisa tercapai dengan mudah disana taman surga yang indah, buah – buahan yang segar, sungai susu dan lain – lain yang mungkin belum terjangkau dalam khayalan kita saat ini, tapi hanya satu terkecuali wanita belum terpikirkan saat itu, dengan berjalannya waktu, kebutuhan sisi Psikologis manusiawinya pun timbul saat ia merasa dalam kesendirian, ini sangat fitrah karena model manusia yang Allah ciptakan memang seperti itu. Desakan kebutuhan dasar ini meningkat sisi kepentingannya dimata Nabi Adam (Allah Maha Mengatur segala) dari pada sisi kepentingan lain, tapi disisi lain kepentingan ini menjadi bumerang (ujian) bagi Adam sendiri ketika ia terlena dan tergoda tetapi kesalahan bukan pada menikahnya tapi bagaimana ia merubah presepsi tentang ibadah, menikah adalah ibadah temannya ibadah adalah ujian dan ujian membuat manusia lebih matang berkualitas dan lebih mengenal kebesaran Allah. Nabi Adam lebih matang ketika ia berada di dimensi kedua setelah surga (hal yang baik) yaitu Bumi (Fana).Pelajaran sejarah inilah yang harus diambil bagi mereka yang mulai merencanakan menikah atau mungkin sisi psikologis&biologis yang mulai matang untuk berumah tangga atau juga mereka yang hanya mengandalkan rajatunafs dalam mengambil keputusan besar itu.
Sekarang tergantung kita menyikapinya ketika berada dalam kesendirian itu sudah banyak pelajaran sejarah yang sudah kita baca, dengar bahkan rasakan disekitar kita. kita hanya punya dua pilihan, kesepian kemudian menikah atau tidak menikah dalam kesepian, ibadah sebagai cobaan atau cobaan sebagai ibadah. (Izzatul Gumam) 7/06/04 tangerang 05:00.


FITRAH MEMIMPIN
Ketika keinginan menikah itu datang dengan berbagai motivasi bagi seorang akhwat adalah menjaga kesuciannya sebagai wanita tentunya dan melahirkan mujahid – mujahid baru di era baru ini, lain hal bagi ikhwan selain dari itu ada hal fitrah yang sebenarnya ini menjadi keinginan tersembunyi di dada seorang ikhwan, semuanya lelaki memiliki fitrah ini entah seorang pemulung sampah sekalipun yang kehidupannya jauh sekali dari nilai – nilai pendidikan dan keorganisasian apalagi seorang ikhwah.
Fitrah untuk memimpin atau mungkin yang lebih ekstrim "menguasai", ketika seseorang lelaki ingin menikah sebenarnya fitrah itulah yang dominan timbul dari pada fitrah yang lain, jadi ketika ikhwan mengatakan " Aku ingin mengkhitbah dan menikahkan mu ukhti" saat masa proses khitbah berlangsung, maksud yang tersiratnya sebenarnya adalah " jadikanlah aku pemimpinmu dan engkau adalah pengikutku marilah kita bangun jama'ah ini dengan bai'atku ini". semua memiliki fitrah itu dan harus terrealisasi bukan hanya janji – janji palsu seorang pemimpin terhadap rakyatnya.
Fitrah akhwat sebagai "manittaba'ani" (pengikut) menjadi pola saling melengkapi dalam proses keseimbangan hidup. so akhwat pilihlah dengan cermat pemimpinmu karena hasrat memimpin di diri lelaki menjadikan kamu harus mengikutinya dan tuntutannya adalah ketaatanmu. (Izzatul Gumam) 11/06/04 tangerang


CINTA ITU BERMUARA DI MANA?
Ada berbagai macam bentuk pernikahan, tergantung landasannya tetapi bagi generasi tarbiyah landasan ini disempurnakan, rosulullahlah dan khadijah sebagai bukti pernikahan yang sempurna landasannya. cinta itu bermuara di mana? sangat cocok judul ini terpikirkan untuk memenuhi tulisan ini, banyak nuansa pernikahan yang ditimbulkan, bagi seorang seniman pernikahan yang ditimbulkan biasanya berbau seni seperti pernikahan bintang pop M.Jackson dengan putri bintang pop legendaris era dulu elvis presley, muatan senilah yang lebih ditimbulkan disini, bagi seseorang yang bergelut dibidang Politik biasanya muatan yang ditimbulkannya adalah nilai -nilai politis, pernikahan untuk menyambung kehidupan politiknya itu sendiri, banyak sejarah bercerita diindonesia seperti pernikahan antara pangeran kerajaan satu dengan putri kerajaan satu lainnya yang terlihat sangat berbau politis, karena muara kehidupannya politik dan masih banyak nuansa – nuansa lainnya. bagi seorang profesi kesehatan biasanya lebih "safe" bila ia dalam membangun pernikahannya bermuatan kesehatan antara dokter dengan farmasi atau farmasi dengan farmasi jarang sekali antara dokter dengan pelayan restoran.
Tarbiyah Rosulullah menyempurnakan itu semua dengan melandaskan pernikahan hanya pada agama, karena agama Islam itu universal, alamiyah dan fitrah karena itu muatan pernikahan Rosulullah dengan Khadijah muatan yang sangat sempurna, kenapa? karena Islam ajaran yang sempurna seperti dipernikahan rosulullah terdapat muatan politik yang berorientasi pada da’wah karena pada masa itu khadijah adalah wanita yang terhormat dimasanya, juga bermuatan ekonomu(bisnis) dan perdagangan juga bermuatan da'wah (syi'ar) karena khadijah adalah pedagang sehingga memudahkan syiar juga masih banyak muatan lain yang ada dalam pernikahan rosulullah, sangat universal karena Agama Islam bersifat seperti itu dan penuh kesempurnaan jadi sempurnakan pernikahan dengan muatan Islam bukan muatan – muatan yang lain. cinta itu bermuara di mana? di Islam jawabku. (Izzatul Gumam) 11/06/04 Tangerang 07:30

nB :
-oRIGINAL catatan lama(review)
- tulisan dahulu yang dibuat untuk kado pernikahan sahabat

Tuesday, March 03, 2009

Teruntuk Al – akh sahabat tercinta

Surat terbuka, 2 Maret 2009
Teruntuk Al – akh sahabat tercinta
Di
Bumi Allah

Assalamu’alaikum wr.wb
Khaifa hal, Al - akh?bagaimana kabar keimanan dan kecintaan?semoga Allah juga selalu menjaga cinta itu yang tak pernah padam terhempas angin, tersiram hujan, terserbuki embun hingga menjelang pagi tiba. Al - Akh, surat ini bukan hanya sekedar kewajiban, melainkan ungkapan cinta di hati yang tak sempat di ungkapkan secara lisan. Maka ana tuliskanlah dengan pena ukhuwah dan tinta cinta hari ini.

Jernihkan hati sebelum men jernihkan lainnya…
Al – akh, ana yang mencoba sangat tahu tentang kerisauan antum, keluh antum, raut – raut emosi antum, gejolak letupan jiwa antum seperti yang pernah antum ceritakan dalam curhatan kejujuran sebelumnya. Al –akh, terbesitkah dalam diri antum saat jiwa semakin gundah, saat kondisi dada menghempit, saat cita – cita terawang mata semakin buram, saat langkah semakin berat, saat nuansa atmosfer kesabaran mulai retak, saat rasa takut kepada Rabb juga kematian mulai sering dikesampingkan dalam tiap lamunan dan saat gumpalan keyakinan akan takdir berubah dasyat menjadi pecahan ribuan partikel – partikel keraguan tentang ”siapa yang meninggalkan sesuatu karna Allah pasti Allah akan menggantikkannya dengan yang lebih baik” adalah awal dari degradasi visi atau mungkin tanda rambu mentalitas kekalahan perang sebelum menjelang akhir ujian perang ”kenaikan kelas” sebenarnya tiba.
Ana pun mencoba memahami bahwa tak selamanya pelangi selalu hadir setelah hujan, karena posisi jarak pandang kita yang sedang tidak tepat, tapi hujan jelas memberikan barokah bagi alam ini. Jangan terpaku dan tertipu dengan pelanginya karna itu hanya hiburan mata fisik kita saja, tapi lihatlah esensi hujannya yang kuat memberi dan menyirami alam, maka jernihkanlah hati sebelum menjernihkan lainnya. Karena ia (hati) yang sangat jujur dari kejujuran yang pernah orang utarakan kepada kita, jadi sekali lagi jernihkanlah hati hingga secerah cermin, sebening embun.
Yakinkanlah bahwa segala luapan – luapan emosional dan fenomena hati itu hanya rangkaian kondisi dan emosional sesaat atau memang permanen?, bukankah langkah da’wah ikhlas, jujur dan mengutamakan keberkahan adalah bagian rangkaian da’wah visioner yang kita cita – cita kan bersama. Karna ihklas dan kejujuran adalah satu – satunya ”jalan bebas hambatan” yang selalu menghantarkan da’i nya pada percepatan kebarokahan dan surganya kelak, selain jalan itu adalah kemacetan yang panjang untuk umat ini. Sekali lagi coba jernihkanlah hati antum sebelum menjernihkan lainnya....

Sensitivitas perubahan
Al – akh, setiap insan yang diuji memang perlu belajar lebih tekun, lebih bersabar dan lebih sensitiv hatinya, itulah gambaran sejati ulama terdahulu yang belajar lebih banyak dari ujian bukan hanya belajar dari pelajaran kelas rutin harian, oleh sebab itu mereka lebih kokoh dan lebih tegar dari ulama masa kita sekarang. Ini hanya masalah kumulasi lalai yang tak pernah di evaluasi secara rutin harian, seperti kumulasi proses tiap detik terus menerus asimilasi daun pada tumbuhan yang menghantarkannya menjadi buah segar untuk petani, atau langganan banjir Jakarta akibat kumulasi sikap acuh masyarakatnya terhadap lingkungan, sedikit – demi sedikit kelamaan menjadi bukit sampah ditiap lini. Begitupun hidayah dan kefuturan, memiliki kesamaan jalan yang tak jauh berbeda, ia bahkan bisa berjalan menghampiri hingga kita tak terasa mulai dari ketidak hati – hatian indra kita untuk menangkap dan mencerna fenomena dunia, hingga mulainya mengabaikan kebaikan – kebaikan amal yaumiyah, gampang jenuhnya menerima kebaikan dari ayat – ayat Allah yang kadang hadir ditelinga, kerasnya hati sampai – sampai tak terasa ’kanker’ kemaksiatan kecil – kecilan menjadi jobdesc harian tanpa kita sadari, hingga akhirnya tewas tertikamlah kita.
Perubahan itu bisa mulai dari fenomena hati, lintasan fikiran, sampai kedalam perubahan prilaku. Tak terasa terakumulasi yang kemudian tak disadari pula menjadi permanen. Inilah awal langkah perubahan yang harus dicermati, hati harus sensitiv memaknai setiap perubahan, sensitivitas yang seharusnya menghantarkan pada evaluasi dini ”mencegah lebih baik dari pada mengobati” hingga tak bisa terhinggap penyakit menular lanjutan : syndrome ”terlanjur” : terlanjur sayang(VMJ), terlanjur dekat (KKN), terlanjur hina (PSK), terlanjur pakai (Drugger) dan lainnya yang membawa musibah akhir menyulitkan ketegasan jiwa kita untuk beralih pada keimanan yang seharusnya. Karna ana mencintai antum karna Allah, maka saling mendo’akan adalah bagian hak ukhuwah yang tak pernah boleh terlupakan, berlindunglah pada Sang Pemilik hati dan mohonlah petunjuk padanya setiap saat, Dialah sebaik – baiknya tempat berlindung dan memohon pertolongan...Al –akh ana mohon maaf jika setiap kata ada yang kurang berkenan mungkin itu hanya bagian kecil dari kecintaan ana yang meruah,,,

Wassalamu’alaikum wr.wb

Izz@tulgumam

Tuesday, February 17, 2009

Gumam Kuliner (2)


Tahu Gejrot Metropolitan Mall Bekasi yang tergejrot kapitalisme
Akhirnya saya tergoda juga malam tadi sepulang dari Depok untuk mampir di tempat jajanan ini: tahu gejrot (depan) Metropolitan Mall, walau suasana jembatan kalimalang di depan Metropolitan Mall tersebut yang pada malam minggu ini cukup ramai, mungkin karena bertepatan dengan agenda hari jadi jahiliyah itu kali ya: 14 Februari (emng hari apaan sih akh?…sok telmi gitu, mending telmi gak ngelaksanain dari pada gak ngerti tapi ngelaksanain). Kebetulan suhu, kelembaban udara dan anginnya cukup mendukung. Kebanyakan orang umumnya menjadikan Mall sebagai alternative orang kota untuk bersantai, berekreasi dan berkumpul yang cukup murah meriah, sekaligus berbelanja keluarga mingguan atau bulanan seperti penjelasan awal buku “4Rs of Asian Shopping center management” yang saya beli cukup murah saat agenda berburu buku murah saya di gramedia yang saat itu sedang cuci gudang, buku itu juga bercerita tipe – tipe shopping dan tujuannya, bagaimana sebuah shopping center terbesar di Asia mengkonsep, mensegmentasikan, mempromosikan, dan mengelola hingga menjadi raksasa kapitalisme dalam hal tempat belanja, tempat hura – hura sekaligus tempat membuang uang lebih para turis –turis mancanegara. Saya cukup tergoda untuk mampir jajanan tahu gejrot jika saya sedang terkenang akan masa sekolah dasar (SD) dulu saat nikmatnya makan tahu gejrot di belakang sekolah bareng teman – teman. Mengenang tahu gejrotnya sekaligus mengenang kisah tokoh - tokohnya. Tokoh – tokoh yang terkadang memberikan banyak inspirasi buat saya. Memang takkan pernah kenyang makan jajanan ini, tetapi rasanya cukup memberikan sensasi romansa tersendiri yang memuaskan rasa syukur.
Jajanan tahu gejrot di SD saya dulu termasuk yang paling enak dan digemari, hingga saya dan teman – teman harus menunggu antri bergantian disebabkan piringnya yang terbuat dari tanah liat itu terbatas. Saya dan teman biasanya makan sambil jongkok memang karena tidak ada bangku khusus disana, dan biasanya tukang jajanan tahu gejrot ini membawa barang bawaannya hanya dengan dipikul, tidak seperti sekarang umumnya dengan gerobak.
Yang menarik membuat saya betah dan kembali lagi di tiap kesempatan pulang dari kost Depok, yaitu adanya kesamaan rasa yang hampir mirip antara rasa tahu gejrot zaman SD saya dengan tahu gejrot yang di depan Metroplitan Mall Bekasi tersebut. Saya kira hanya saya saja yang meresakan kelezatannya, ternyata teman sekelas Apoteker saya Ibu Siti Saodah (semoga jadi keluarga Sakinah, mawadah, warohmah bu..!) juga memberikan tanggapan yang sama, saat tak sengaja diskusi sambil pulang dari PKPA di Depkes saat menyinggung jajanan tersebut.
Ternyata sambil makan dan menikmati aroma malam minggu depan MetMall memberikan makna tersendiri buat spiritual saya, melihat fenomena konsumtif warga Bekasi yang menjadi trend tersendiri mendarah daging, mengenang masa kecil hingga bersyukur pada masa sekarang. Terlebih yang membuat bersyukur ketika di hadapkan pada para pengunjung Mall yang semakin malam terus semakin ramai berdatangan yang mengingatkan saya kembali akan misi: ternyata saya masih idealis dengan mencoba sederhana dalam hidup, belanja pakaian dan asesoris style adalah bagian keseratus sekian dalam catatan prioritas agenda belanja saya..secukupnya saja (ya iyalah khan masih mahasiswa, palingan banyakannya beli buku - buku khan akhi:D).
Kekurangannya adalah kita akan kurang nyaman jika kita makan tahu gejrot MetMall itu di siang hari, coz teman akan merasakan sekali panasnya terik matahari (ya iyalah!!), saya pernah merasakan itu saat pulang siang dari Depok dan tepat HCl lambung saya sudah tidak bisa bekompromi kala itu, hingga mampir adalah jadi moment yang sangat tepat. Beda sekali jika malam minggu, teman akan merasakan seperti makan jajanan di suasana Mailioboro Djogya (uuupss Lebbayy deh!!), sugesti dan halusinasikan saja biar nambah selera bukan! maksudnya Mailioboro Bekasi….he2x, hanya saja tempatnya cukup terbatas.
Selain jajanan tahu gejrot ada Siomay, cimol dan gorengan lainnya. Saya hanya berfikir saat pulang dari tempat jajanan itu adalah bagaimana membantu tukang jajanan tahu gejrot ini agar tidak semakin tertindas dari korban ganasnya cengkraman arus kapitalisme.Untuk masalah rasa saya fikir lebih punya potensi rasa yang tak kalah dengan rasa makanan di kafe – kafe elit atau jajanan lainnya di dalam MetMall tersebut. Mungkin dengan tulisan ini akan menjadi kebaikan dan dapat membantu promosikannya, jadi bagi teman – teman yang punya tempat jajanan atau tempat makan yang enak, sederhana, dan terjangkau berbagi info ya, selain menambah wawasan juga membantu mereka untuk berkembang, mempromosikan dan mengurangi beban perlawanan dari kuatnya ombak kapitalisme, MERDEKA!;D…salam gumam kuliner!
(Izz@m 14022009 Bekasi. PKS itu Peduli Kepada Sesama!!)

BINGKAI HATI


Ini hanya baru perjalanan awal pecinta sejati, bukan akhir. Jatuh bangun menghadapi ujian adalah sunnahtullah. Rasa yang selalu hadir tetap tak dapat dibendung, fikiran selalu bergerak dan rantai hambatan tak dapat menghalangi langkah cinta ini oleh sebab itu Ibnu Qoyyim tak salah jika menemukan banyak makna kata lain dari kata cinta dalam bukunya “Taman – taman Orang Jatuh Cinta”, tapi manhaj akhirnya yang membuat kita hidup lebih terarah, lebih hangat, lebih bijaksana dalam menghadapi cobaan kehidupan. Pecinta sejati yang cintanya mengendap - endap yang akhirnya hampir jatuh kejurang fenomena hati yang terus deras terselamatkanlah sudah pada jalan yang terhormat, jalan amanah bertanggung jawab, jalan kejujuran, jalan – jalan para pahlwan pemberani dan jalan yang selalu dikehendaki oleh Islam. Pecinta sejati juga harus cinta pada jalan ini, yang berarti juga menjaga dan melindungi yang di cinta dari segala hal yang akhirnya dapat merusak harga diri dari ketidakhormatan atau tatanan da’wah itu sendiri.Biar tahu, biar rasa maka tersenyumlah kasih….. kira – kira begitulah pekatnya ungkapan lagu akh Iwan Fals yang disuguhkan untuk seorang kekasih yang di cintanya, tapi sekali lagi pecinta sejati selalu punya cara dan jalan lain yang unik untuk mengungkapkan itu semua pada bingkai manhaj yang diyakininya sepenuh hati, dan ia pun terhormat.Indahnya manhaj ini, seindah memaafkan kesalahan cintanya, maka mohon maafkanlah!.(Izz@m 15022009 Bekasi my room, PKS itu Peka Kepada Sesama).

Gumam Kuliner (1)


Nasi Uduk Ibu gendut yang serba Gendut
Saya dan akh Firman termasuk yang memiliki hobby hampir sama dalam masalah makan, tapi bukan berarti saya juga ga suka makan nasi loh (sungguh beruntung bagi akhwat yang menjadi istri antum akh coz ga harus pagi2 ribet masak nasi…cukup sepotong roti, siap jalan, siap jihad!!), hee2x…piss akhi. Maksudnya sama adalah karena kita sama – sama suka hobby “jaulah – jaulah” ke rumah makan dan menyicipi makanan, sekalian memberi penilaian terhadap makanan yang disajikan oleh tempat makan itu, yah kaya wisata kuliner-nya pak Bondan gitu deh, yang terkenal dengan slogan “ma’ nyooos” nya itu. Bedanya, karena kita mahasiswa, yaah….yang kita coba hanya sebatas jajanan makanan yang sesuai dengan kantong mahasiswa.
Jangan berfikir bahwa akan menjadi hal yang boros dengan melakukan hal ini, banyak manfaat yang bisa di ambil ketika kita menjadi pak Bondan gadungan ini (afwan jiddan pak Bondan bukan maksud nyaingin antum, blog ini hanya karena dedikasi untuk da’wah saja ya), misalnya : Sobat penikmat blog ini secara tidak langsung bisa jadi kaya akan pilihan alternative – alternative makanan yang enak tapi dengan harga terjangkau mahasiswa. Bayangkan tingkat persaingan perdagangan makanan di areal margonda-UI yang sudah cukup berdarah – darah dan jenuh dengan pemain yang sudah banyak, hal inilah yang menguntungkan kita sebagai konsumen untuk bisa memilih mana makanan yang “halalal toyyibah”, bagi mahasiswa terutama “toyyibah” dalam hal financial pastinya Sob. Selain itu, kegiatan ini merupakan tempat refresing kalau saya dan akh firman lagi mumet (mumet itu apa ya…???mumet itu = sorry memory full you can save in other disc;D.) saat ujian atau setelah ujian Sob, dan selebihnya mengaplikasikan materi kuliah marketing yang pernah di dapat. Untuk laporan pertama akan dibuka dengan tempat makanan terdekat yaitu makanan Nasi uduk, selamat menikmati.

Nasi Uduk Ibu gendut yang serba Gendut
Kenikmatan yang terasa ketika kita berada dimana pun saat kita bisa merasakan kenyamanan layaknya dirumah sendiri. Inilah yang hampir saya dapatkan di Depok tepatnya di jalan kapuk tempat saya kost. Umumnya untuk sarapan pagi dirumah saya di Bekasi tak terlepas dari makan sederhana tempe-tahu goreng sambel kecap, telur dadar dan alternatifnya ya itu…nasi uduk betawi.
Di kapuk tempat kost saya ada satu tempat yang menurut saya cukup baik untuk award kategori nasi uduk terbaik se-kapuk (versi saya sendiri setelah survey perbandingan beberapa tempat nasi uduk sekitar jalan Kapuk), selain tempatnya nyaman, penjualnya ramah, nasi uduknya pun cukup nikmat dan pas buat kantong kita sebagai mahasiswa. Akh Firman menyebutnya nasi uduk bu Gendut; afwan gak maksud fisik ya bu, hanya untuk lebih mudah dihafal saja sebagai “brand marketing” membantu memudahkan promosi dari mulut ke mulut agar menjadi Top Maind (tapi memang fisik ibu penjual itu cukup besar….hati – hati bu kena hipertensi, jantung dan diabet, loh kok jadi ke syndrome farkoter gini:D). Tempat nya terletak setelah pertigaan kedua jalan kapuk dekat warnet cis- net. Sebenarnya ada dua tempat lain persis di depan jalan kapuk depan, tetapi menurut saya kedua tempat tersebut perlu banyak belajar dari buku standar pernasi uduk-an yaitu CPNUB (Cara Pembuatan Nasi Uduk yang Baik) yang nanti akan di awasi oleh temannya BPOM yaitu BPNU (Badan Pengawasan Nasi Uduk),he2x.
“Enak adalah harga mati bagi dunia bisnis makanan”. Nasi uduk dikatakan enak berdasarkan pengalaman dari ”Tatsqif” tanya jawab dan diskusi kalau ibunda saya masak nasi uduk untuk dirumah, saat salah satu anggota di rumah ada yang milad, yaitu terletak mulai dari pemilihan beras yang pulen (pulen…eeeit bahasa apa tuh, bahasanya ibu – ibu dapur,gak ngerti mungkin simpelnya pulen = enak…he2x) dan keberaniannya untuk memberikan santan yang baik agar terasa gurih, walaupun nasi uduk itu sudah dalam keadaan dingin.
Lebih nikmat lagi jika nasi tersebut di tambah sedikit agar – agar dan secukupnya daun pandan saat masaknya...itu kata ibunda saya. Karena jika memakai santan harga akan menjadi lebih mahal, biasanya para penjual nasi uduk yang “seadanya”, menyikapi dengan “jahil cerdas” mengurangi kadar santan pada nasi tersebut, bahkan ada yang ekstreem agar terlihat legit pada nasi menyikapinya dengan menaburkan minyak goreng saat nasi panas (ingat rumus kimia minyak dan santan teroksidasi mata kuliah pak Mite..hampir mirip ga ya) di angkat dan kemudian diaduk. Kebaikan akan tetap menjadi kebaikan, oleh sebab itu bagi yang jahil dengan kadar santan kurang, saat nasi uduk dingin akan terasa seperti makan nasi biasa saja, dan nasi yang di taburi minyak biasanya kalau dimakan langsung saat panas – panas memang tidak terlihat, dan akan terasa seperti nasinya pulen dan legit (padahal karena efek minyak itu saja) tetapi kalau sudah dingin akan terlihat keburukannya, yaitu nasi akan menjadi lebih kering, memisah dan minyak akan terlihat jelas…hiii serem, makan nasi atau makan minyak!.
Menurut saya bu Gendut termasuk tukang nasi uduk yang baik yang menerapkan CPNUB, nasi nya cukup enak dan semur telur- tahu pelengkapnya kaya dan berani akan bumbu, jadi tidak terlihat asal – asalan dalam bisnis ini, pernah investigasi ngobrol dengan bu Gendut katanya beliau bisa menghabiskan 8 sampai 20 liter sehari beras dan biasanya juga sudah habis kurang dari jam 10 pagi. Lain itu bukan hanya penjualnya yang berfisik gendut tapi gorengan – gorengan pelengkapnya seperti telur dadar goreng, tahu, tempe dan bakwan yang juga terlihat lebih “gendut”, pokoknya sepenuh hati deh ibu ini berjualan dengan harga yang terjangkau bersaing dengan yang lainnya. Akh firman karena tidak suka nasi, sehingga yang jadi target agresi beliau adalah tahu gorengnya bu gendut yang juga gendut….ehheeem gurihh, kenyang eeuy.
Tempat makan-nya pun nyaman di jalan utama kapuk, bisa makan di tempat atau dibungkus. Karena tempat bisnis ini berada di teras rumah dengan bangku dan meja yang memadai jadi terlihat lebih bersih, nyaman dan familiar saja. Jadi nilai marketing yang cukup menjual yaitu tadi, selain enak juga nuansa familiar makan pagi ala betawi. Oleh sebab itu akan lebih berasa jika makan pagi bareng – bareng tidak sendiri sehingga bisa sambil diskusi dan ngobrol pagi (eeiit..tapi yang manfaat tentunya). Bagi teman – teman yang belum pernah mencoba silahkan mencoba…
(Izz@m 12022009 Gumam Kuliner)

Saturday, January 10, 2009

Souvenir Sederhana (2)

KOntriBusi
Saat punya keinginan untuk menuliskan tentang judul ini jadi teringat akan salah satu misi hidup seorang sahabat:“mewakafkan diri untuk da’wah”, sebuah cita – cita yang mulia sebelum hal ini terlaksana, dan merupakan manusia terbaik bagi yang telah merealisasikan ditiap bagian waktu hidupnya. Kontribusi; mudah diucapkan tetapi tidak semudah untuk diamalkan, kita harus punya ruang hati yang lapang disini, karena kita akan menampung banyak rasa, banyak ‘gesekan ikhlas”. Lain itu juga kita harus punya sesuatu hal yang lebih, apakah ini bernilai lebih materi atau non materi, fisik, pemikiran, waktu, yang paling minimal adalah zhon (sangkaan) dan doa yang terbaik.Mungkin sebuah sms sederhana ini dari seorang sahabat bisa menguraikannya :
Berita di metri tv para ikhwah di gaza yg sdg sakaratul maut, 150 orang syahid akibat srngn udara israel la’natullah, allahummansur mujahidina fi gaza, qum ya akhi..doakan mereka dlm keheningan malam (28122008)

Kebanyakan kita akan merespon untuk berkontribusi mungkin hanya dengan memforward sms tersebut segera, sebagian berkontribusi do’a dan menanti waktu tengah malam untuk menyempurnakan hajat do’anya, sebagian kita juga ada yang mencari informasi kemana harus menyumbangkan hartanya, sebagaian kita juga ada yang menunggu sms lanjutan kapan agenda aksi bersama itu dilaksanakan, sebagian juga ada yang mengisi blog-nya dengan tulisan-tulisan yang mendukung perjuangan palestina dan melaknat Israel dengan ‘gaya’ kreativitas tulisannya masing-masing, dan sebagian lainnya dari kita juga ada yang langsung mendaftar untuk menjadi mujahid disana. Tak lain, kontribusi selalu punya variasi warna tersendiri, seperti cermin fenomena keimanan kita masing – masing.

Modal Kontribusi
Bukan hanya investor atau pedagang yang memiliki modal untuk memulai dan menjaga eksistensi penjualannya, disini kontribusi juga bicara tentang modal. Ini tuntutan dasar (primer) bagi kontributor terbaik, selebihnya adalah tuntutan sekunder yang bisa di sikapi dengan cerdas dan kreatif, misalkan :masalah sarana (akses) berkontribusi dan apa yang kita miliki untuk berkontribusi.
Tak lain sejarah selalu mencatat bahwa cintalah modal dasar untuk berkontribusi, dimana ada cinta di situ kontribusi berbicara dan meruah, dimana ada cinta disitulah kontribusi bermilitansi, dimana ada cinta disanalah ada kekuatan besar untuk memberi yang tak henti tanpa pamrih, dimana ada cinta di situ ada kontribusi ruh untuk kematian untuk kehidupan yang abadi, dimana cinta itu ada dan mulai ‘gila’ disanalah pula terjadi ledakan – ledakan kontribusi yang hebat. Berlumur darah bagi jasad, dan melayangnya jiwa hanya bagian keadaan dimana kontribusi punya cerita akhir yang bahagia, semakin lelah perjuangan berkontribusi terjadi semakin puaslah jiwa untuk kebahagiaan akhir yang didapat. Maka ketika ditanya,untuk apa seorang kakek lumpuh icon perjuangan Palestina: Syekh Ahmad Yassin duduk dengan tegarnya mencermati gejolak-gejolak intifadah saat itu, apakah ia sudah tidak layak turut berjuang dan berkontribusi?tidak!! ia masih punya modal yang sangat esensi untuk berkontribusi saat itu yaitu cinta; cintanya pada Agama-nya dan cintanya pada tanah Jihad itu (Palestina),maka segenap hambatan raganya tidak menjadi masalah. Dengan modal cinta akan masih hidup seberkas kontribusi do’a yang tulus ikhlas, masih membara guratan ekspresi perjuangan dalam wajahnya, masih ada semangat yang harus dikobarkan tiap harinya untuk para prajuritnya, dan masih berjalan pula otak strategis gerilyanya. Yang pasti Ia tak pernah ‘bangkrut’dengan modal itu, seperti pejuang – pejuang sejati yang lahir pada masa – masa kenabian lalu.

Petani lupa ladang
Saat cinta tidak bisa hadir dalam sanubari maka upayakanlah untuk berusaha mencari sejuta alasan untuk tetap berkontribusi “jika belum sanggup ikhlas, cukuplah taat sebagai alasan terbaik mu”.Jangan seperti ini, kisah petani di dunia entah berantah ini yang lupa akan ladangnya. Bukan masalah harga pupuk yang melambung tinggi, bukan masalah saat lahan yang sudah terbatas, keadaan muslim kita masih mirip seperti yang dituliskan Dr. Yusuf Qordhowi dalam “titik lemah umat Islam” yang dengan kata lain diceritakan, bahwa kita belum optimal menggunakan sumber daya alam dan sumber daya manusia karena kita lemah dari bersungguh – sungguh untuk berkontribusi.

Mungkin kita sudah lupa bahwa filosofi berkontribusi ini ibarat menanam untuk kelanjutan siklus kehidupan, seperti masa petani zaman sekarang yang futur (malas) atau petani yang akan lupa ladangnya sendiri, atau bahkan sudah lupa cara bertani yang benar, saat budaya mengimpor sebagai kelanjutan budaya konsumtif sudah mendarah daging, padahal apa - apa yang kau tanam pasti itulah yang kau panen. Mungkin tidak didunia ini, tapi pasti akan panen raya dikhirat sana. Seperti wahyuNya : ”Siapa yang melakukan perbuatan yang baik dari laki – laki dan wanita, dan dia beriman niscaya Kami memberinya kehidupan yang baik dan Kami balas mereka dengan pahala yang baik sebaik apa yang pernah mereka lakukan ( An Nahl 97) ”.

Kontributor terbaik
Siapakah kontributor terbaiknya?ialah orang terbaik yang mampu mencintai yang dicintainya dengan terbaik, seharusnya adalah orang – orang yang paling dekat dengan kita, karena yang dekat umumnya juga memiliki kedekatan kecintaan satu dengan yang lainnya, dekat secara iman; kita satu secara iman dengan muslim Palestina, dan mencintai dalam ikatan ukhuwah, maka kita secara spontan akan berkontribusi untuk akidah dan kemerdekaannya, begitu juga tentang kedekatan uraian visi, misi dan keturunan. Sejarah Islam mewakilinya pertama dengan icon terbaik istri – istri Nabi yaitu Bunda Khadijah dan Bunda Aisyah, dalam dua masa kenabian yang berbeda. Khadijah: kontribusi terbaik apa yang tak pernah luput dari nya untuk perjuangan da’wah sang Nabi, saat yang lain mempertanyakan wahyu pertama yang hadir, dan pernyataan awal kenabian, beliaulah yang melindungi dan menyambut dengan keimanan diawal. Lain dari itu ialah sahabat terbaik nabi yaitu Abu Bakar as Shiddiq. Saat yang lainnya mewakafkan setengah atau beberapa bagian, beliau mewakafkan seluruhnya untuk da’wah sang Nabi.

Jadi kontributor terbaik ‘buku sejarah da’wah’ kita tak lain nantinya ialah pasangan jiwa kita, sebagian keluarga (keturunan) kita, dan sahabat – sahabat terbaik kita. Merekalah pecinta terbaik sekaligus kontributor terbaik di masanya nanti. Ia juga yang mampu mengambil bagian berkontribusi untuk melengkapi semangat kita, kekurangan kita, dan bahkan kelebihan kita yang tak terkendali, itulah bagian terindah efek kontribusi secara kolektif. Selain itu mereka pun berkontribusi untuk visi pribadi mereka yang sebenarnya akan dituju; mencari keridhoan Allah swt. Karena yang di cinta bukan hanya kita dan misi, tetapi teratur dari marhalah cinta itu sendiri, disini cinta dan kontribusi punya marhalah!. Oleh sebab itu untuk pasangan jiwa mu, ia harus tergabung menjadi satu jiwa dengan mu, satu misi dari bulatan besar niat untuk tekad baja yang saling menguatkan berkontribusi dalam perjuangan panjang ini. Karena ia pasangan jiwa yang juga harus saling menyeimbangkan satu dengan satu lainnya., oleh sebab itu jika salah satu pasangan jiwa mu mulai terdegradasi niat, hingga mungkin berguguran berkontribusi amal Islam, maka lupakanlah peran itu dari eksistensi drama ini, mungkin yang hanya mampu dikenang esok di syurga adalah romantisme kita dulu saat berjuang sendiri, bukan saat – saat romatisme kita berkontribusi bersama, bersatu dalam satu misi, satu jiwa... (Izz@m, 04012008 Bekasi).