Posted by Tajid Yakub on July 18th, 2006Tulisan Sulung di Sinar Harapan 22 Agustus 2002 tentang bagaimana membuat sebuah tulisan perjalanan.
Sadar atau tak sadar, suka atau tak suka, hampir setiap hari kita melakukan perjalanan. Perjalanan yang berarti pergerakan dari satu tempat ke tempat lain menjadi style masing-masing manusia dalam mencapai tujuan.
Ayah kita pergi ke kantor tiap pagi, bertujuan memenuhi kebutuhan keluarganya adalah juga sebuah perjalanan. Seorang anak muda pergi ke rumah pacarnya guna memenuhi kebutuhan rohaninya juga melakukan perjalanan. Jelas di sini bahwa perjalanan adalah proses mencapai sebuah tujuan.
Akhirnya tanpa kita sadari perjalanan-perjalanan ini menjadi sebuah kebutuhan. Logikanya kalau ingin mencapai tujuan kita harus melakukan perjalanan, baik itu mudah, maupun sesulit apapun perjalanan tersebut, tapi kita tetap harus melakukannya, kalau kita ingin mencapai tujuan yang kita inginkan.
Mudah dan sulitnya perjalanan baru dapat dinilai setelah kita melakukannya. Merugilah manusia yang selalu mundur bila melihat sulitnya perjalanan yang akan ia tempuh, karena bila ia mundur maka niscaya semakin lambat sampailah ia pada tujuannya.
Sebuah perjalanan bagi sebagian orang menjadi sangat penting artinya. Karena dalam perjalanan itulah mereka dapat memaknai hidup. Seorang penjelajah, penempuh rimba, pejalan kaki, naturalis, pecinta alam atau apalah namanya mungkin adalah sebagian nama yang dapat digolongkan dalam sebagian orang yang berpikir bahwa sebuah perjalanan bukanlah hanya sebuah pekerjaan sia-sia.
Ini adalah style yang makin berkembang menjadi sebuah gaya hidup sebagian umat manusia di bumi ini.
Terdorong oleh naluri dasar manusia yang ingin maju, tercipta dalam kata ‘selalu ingin tahu’.
Sebagian orang-orang ini ingin tahu apakah yang ada di puncak-puncak gunung tinggi, di lembah-lembah dalam hutan belantara, di luas dan dalamnya lautan, di gua-gua gelap tak terjamah, di sungai -sungai ganas tak berkompromi, dan semua yang ada di alam ini.
Naluri ingin tahu inilah yang menggerakan sebagian penjelajah dahulu melakukankegiatannya. Dan kalau mau di nalar ulang naluri inilah yang banyak memberikan pengaruh untuk kemajuan suatu bangsa. Kalau bukan karena seorang Christoper Colombus siapa yang akan percaya bahwa bumi itu berbentuk bulat.
Karena pengetahuan baru itulah membuat beramai-ramai pelaut-pelaut ulung negeri Eropa melakukan penjalahan-penjelajahan. Banyak nama yang bisa disebutkan disini, Vasco da Gama, Cornelis de Houtman adalah beberapa contohnya.
Eksplorasi-eksplorasi terus dilakukan turut di tunjang oleh pemimpin negara mereka, baik secara finansial maupun moril.
Perjalanan-perjalanan terus dilakukan, pengetahuan baru terus bertambah sehingga berdampak pada perubahan kultur yang ada di masyarakat barat.
Kalau ingin menguasai dunia, kuasailah laut, begitu mungkin mereka berpikir. Karena dengan menguasai samudra mereka dapat pergi ke negeri-negeri baru yang lebih melimpah hasil alamnya, menimbulkan kolonisasi dan terus berlanjut ke imperialisme yang memakmurkan kaum yang menjajah tapi merugikan kaum terjajah.
Semakin terasa jelas sekarang bahwa sebuah perjalanan yang berdasar naluri ingin tahu membuat suatu kaum menjadi lebih maju dari kaum lainnya. Sebuah perjalanan petualangan adalah salah satu caranya.
Melihat untuk Mempercayai
Semakin sering orang melakukan perjalanan semakin banyak pengetahuan yang ia miliki. Semakin banyak yang ia tahu, semakin pintarlah orang tersebut. Semakin banyak �?nilai�? yang dapat ia ambil. Hingga hasil akhirnya menuju titik bijak seorang manusia.
Informasi-informasi yang ia miliki, pengetahuan-pengetahuan yang ia dapati dan nilai-nilai yang ia yakini semua tertampung dalam sanubari. Memendam menjadi pondasi-pondasi kehidupan yang akan ia jalani.
Seperti aliran sungai yang terus mengalir akhirnya ke muara juga, menuju laut lepas tempat di mana kebebasan berada.
Begitu juga dengan segala informasi, pengetahuan, dan nilai yang di miliki sebagian orang -orang tersebut, akhirnya harus dibebaskan juga dari wadah-wadah pikiran, menuju lautan lepas informasi yang berdasarkan pada prinsip memberitahukan kepada orang lain, kepada generasi selanjutnya agar menjadi bahan pemikiran tambahan guna dipergunakan untuk kemajuan mereka juga nantinya dan ntuk menuju hidup yang lebih baik, yang lebih sempurna.
Salah satu cara menyampaikan berbagai hal ini adalah melalui tulisan-tulisan yang bisa berbentuk sebuah buku, artikel, esai atau apa saja nama dan bentuk teknis penulisan.
Naluri manusia yang membutuhkan sebuah sistem penulisan juga merupakan sebuah kebutuhan guna mencapai tujuan.
Bahkan seorang tukang warteg pun menulis walau hanya untuk sekadar mengingat kembali apa yang akan ia beli nanti setiba di pasar. Di sini prinsipnya menulis untuk mengingatkan.
Tulisan-tulisan itu akan mengingatkan kita apa yang sudah dipercayai orang-orang sebelum kita. Dengan dasar naluri ingin tahu, kemudian melihat, kemudian menuliskan untuk dipercayai.
Ini merupakan konteks yang tepat dalam sebuah tulisan perjalanan (travel writing). Tulisan-tulisan dalam bentuk laporan pada jaman Cornelis de Houtman di maksudkan agar dipercayai adanya, bahwa mereka pernah melihat daerah subur penuh dengan rempah-rempah di daratan nusantara.
Laporan-laporan seorang Jans Carstensz yang membuat orang percaya ada gunung bersalju di daerah garis khatulistiwa. Tulisan-tulisan Anton W. Niewenhuis yang membuat orang percaya bahwa ada tradisi potong kepala di suku-suku pedalaman Borneo.
Impact dari sebuah tulisan perjalanan ternyata tidak bisa di anggap enteng. Dari tulisan perjalanan seorang Christoper Colombus dalam menemukan benua Amerika berdampak luas dalam pergeseran kultur, merambah pengetahuan manusia menuju paham de-kolonisasi yang mengakibatkan berkembangnya paham imperialisme dan terus meluasnya penjajahan dari negeri barat ke negeri timur dan seterusnya dan seterusnya.
Tak cuma dalam bidang pemahaman-pemahaman yang menjurus ke ideologi. Tulisan perjalanan juga ternyata menambah khazanah pengetahuan manusia dalam bidang pengetahuan.
Laporan-laporan Humboldt, Darwin, Wallace dan banyak lagi yang lain menambah pengetahuan banyak orang bahwa masih banyak jenis species-species lain yang hidup di bumi ini. Dari tulisan-tulisan ini membangkitkan minat banyak orang untuk meneliti tentang hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan dan segala aspek yang tercakup di dalmnya.
Jadi dari sebab dan akibat di atas, dapat di simpulkan dari tulisan-tulisan ini dapat dapat menimbulkan akibat yang luar biasa dari perikehidupan manusia.
Membuat kita makin menyadari ada kehidupan lain selain kehidupan kita, ada nilai-nilai lain selian nilai-nilai milik kita. Ada pengetahuan lain selain pengetahuan kita, yang semua itu pada akhirnya bermuara pada keseimbangan diri dan pribadi untuk sekali lagi menuju hidup yang lebih baik.
Menulis untuk Kebenaran
Tapi sekarang kita mungkin tak akan menemukan benua-benua baru karena hampir seluruh tempat di bumi ini pernah di jelajahi manusia.
Bahkan bulan sekalipun sudah kita injak. Lalu kemudian timbul pertanyaan apalagi kegunaan kita melakukan perjalanan-perjalanan jauh kenudian menuliskannya???
Untuk menyampaikan kebenaran. Mungkin itulah jawaban pasti yang dapat di jadikan batu pertama pondasi bangunan tulisan perjalanan yang akan kita bentuk.
Kita bisa menyampaikan kebenaran dengan memberitahukan buruknya kondisi kesehatan yang ada di dusun Datai Tua di rimba pedalaman Riau. Kita bisa menyampaikan kebenaran sulitnya seorang ibu untuk mendapatkan sarana persalinan untuk kelahiran bayinya, sehingga harus mengorbankan nyawanya sendiri sebab jauhnya tempat persalinan di lembah-lembah sungai Citarik, Jawa Barat.
Kita bisa menyampaikan kebenaran betapa harus berjuangnya seorang pencari rotan di hulu sungai Balease untuk sekedar mengeluarkan seikat rotan dari jebakan jeram-jeram ganas sampai-sampai harus mengeluarkan airmata karena bersyukur dapat lolos dari terjangan jeram yang menghadang.
Tulisan perjalanan yang ada sekarang adalah untuk menyampaikan kebenaran. Bahwa masih banyak yang harus dilakukan bangsa ini untuk memajukan taraf hidup rakyatnya. Mungkin benar kata seorang Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa yang juga seorang pecinta alam yang hidup sekitar tahun 66, �?Tak ada yang lebih puitis di dunia ini selain menyampaikan kebenaran�?.
Sumber : situs MAPALA UI