
Seni Penantian
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)”. (QS Al Ahzab : 23)
Penantian : menunggu merupakan derivatnya, dan lahir dari induknya: kesabaran. Disini kadang hanya ada diam, hanya perenungan, hanya keheningan yang dalam, bisa ketergesa – gesaan, atau ujian ketahanan pada komitmen pilihan, tapi di lain sisi istiqomah pada keyakinan membuat kegiatan ini membawa kegairahan tersendiri yang unik untuk bergerak. Yang seakan membuat saat jarak dan waktu tak berjangka tak pernah jadi hambatan menuju perjalanan yang dituju, bahkan bisa menjadi wisata – wisata hati tiap waktu pemiliknya. Saat waktu (penantian) yang ada layaknya gelas yang kemudian terisi penuh oleh larutan kopi nikmat juga termahal : Starbuck, dengan makanan kecil menjadi penutup waktu senja atau pengantar semangat untuk memulai kembali beraktifitas kerja lembur, terlihatlah jelas indahnya penantian hari ini.
Seni penantian :Gagal mengisi, gagal yang dinanti …….
Seni membuat setiap karya atau aktifitas apapun terlihat lebih indah, karna seni adalah keindahan itu sendiri. Seni adalah kualitas, disini ada ketelitian sang pelukis, disana ada kecermatan sang pemahat patung, disana sini ada kelenturan keseresian gerak – gerik sang penari balet dan penari Bali. Dan seni tentunya juga bicara kecepatan, kekuatan bagi atlit sang seniman – seniman otot dan strategi. Hidup tanpa seni ibarat hidup yang kurang merasa asin walaupun hidup dalam lautan : kurangnya cita rasa hidup.
Seni penantian adalah seni mengelola kelenturan keyakinan dari keraguan yang selalu hadir di tiap dimensi asa, seni penantian mengemas dengan baik kecemasan dan ketergesaan (isti’jal) menjadi ketenangan hingga tiap amal berbuah menjadi berkualitas, seni penantian selalu mengisi ruang kanvas putih tak berbingkai tak berbatas dari keterkosongan warna menjadi kecermatan, keserasian dan ketelitian lukisan sang maestro penuh warna, penuh makna. Seni penantian adalah seni uji ketahanan pada sebuah pilihan terhadap perjalanan waktu, seni penantian merupakan saat dimana rumitnya mengolah kekuatan ketertarikan prinsip terhadap ketertarikan daya sumber goda nafsu duniawi yang hebat, seni penantian adalah seni mengolah kejenuhan (jumud) menjadi kegairahan (ghiroh) yang tak terbatas, atau seni penantian itu seharusnya seperti seni menanti kelahiran jundi (buah hati) yang pertama akan lahir atau seni menanam padi petani menunggu panen raya tiba.
Jadi sebenarnya seni penantian adalah seni dimana kita sebenarnya sedang tidak “menunggu” (pasif) melainkan istiqomah aktif….mereka tidak merobah (janjinya)”. (QS Al Ahzab : 23). Kita tidak sedang menunggu, tapi kita sedang terus bekerja keras melengkapi menyempurnakan, dan fase akhir yang sering kita sebut hasil penantian adalah ruang sebenarnya dimana kerja tugas kita telah sempurna dan lengkap seluruhnya dimata kita, baik itu kerja perencanaan kegagalan dengan takdir kegagalan atau kerja rencana yang sempurna dengan menuai hasil kesuksesan. Sebab tiap perbagian waktu selalu punya kelengkapan jalan ikhtiar dan takdir yang sudah digariskaNya, maka tak salah jika Amirul mu’minin berwasiat dalam sebuah hadist yang terkenal ini..
“Apabila engkau berada diwaktu pagi, maka janganlah engkau menungu waktu sore. Dan jika engkau berada diwaktu sore, maka janganlah engkau menunggu waktu pagi”.
Bisa dipastikan mungkin awal gagal hasil penantian adalah saat kita mulai hadirnya fase dalam emosi, rasa dan situasi dimana kondisi psikologi kita mulai “menunggu” penantian itu sendiri, sekali lagi waktu selalu punya kelengkapan dan penyempurnaan untuk terus dilengkapi, sehingga gagal mengisi bisa jadi akan gagal menanti. .
Melengkapilah….
Ada yang menanti kelahiran, pasti juga ada yang menanti kematian, diruang jarak penantian batas umur inilah seni penantian berbicara sejauh mana hasil seni penantian berupa ukiran sejarah kehidupan seseorang ini dapat dikenang sepanjang masa. Ada yang menanti - nanti kemerdekaan (Palestina) sebagai negeri terjajah, dan pasti ada (tak disadari) bersiap menanti kehancuran (Amerika&Israel terlaknat) sebagai bangsa penjajah, disinilah gejolak seni penantian memberikan kemampuan untuk seni bertahan hidup dan seni berjuang, sebab bangsa siapa yang terus melengkapi hajatnya maka bangsa itupun yang akan menuai hasilnya, untuk kemerdekaan dalam kemuliaan atau kematian dalam syahid yang abadi kelak. Ada yang menanti perceraian tapi banyak juga yang akan menantikan untuk memadukan dua jiwa, dalam penantian yang kadang panjang dan melelahkan jika tak memahami makna seni penantian itu dengan benar. Tapi disinilah letak peran seni penantian yang menghiasi awal sebuah penentuan peradaban selanjutnya.
Jadi setiap umat manusia pasti punya penantian sebagai hajatnya, selama masih ada itu (penantian yang baik) maka bumi ini belumlah akan kiamat, begitulah pesan Rosulullah pada kita, oleh sebab itu sebanyak mungkinlah berharap dalam kaidah seni penantian yang benar, maka segera lengkapilah!!Bisa jadi kita sering alpa dengan ceklist kelengkapan ini diantara ceklist banyak yang lain dalam melakukan seni penantian yang baik dan benar. Ceklist yang merupakan alat berkomunikasi pada wilayah transenden Sang Pemilik Takdir Allah swt, yaitu: berdo’a dan mendo’akan. Mungkin dengan do’a yang singkat seperti ini menjadi ceklist kesempurnaan kelengkapannya takdir-Nya, walaupun kita tak pernah tahu siapa yang akan menjadi jawaban hasil penantian ini, maka berdo’alah : “Ya Allah, berikanlah pasangan jiwa ini selalu kesabaran dalam ujian dan selalu syukur dalam nikmat yang tak pernah henti. Dan Pertemukanlah kami setelah penantian hanya dalam keimanan, kecintaan dan da’wah yang tak pernah padam…amiin”.
(Izz@m 27032009, my room Bekasi; Inspirasi indah ba’da ’ngisi’ di Cilodong Depok)
No comments:
Post a Comment