SEMUA DIMULAI DARI SINI!
Zaman perlu perbaikan, masa sekarang adalah masa perbaikan dan masa pembinaan. ketika Yusuf Qordhowi, Sayyid Qutbh, Hasan Albana dan Sa’id hawa sebagai generasi ideologi pada Zamannya, sekarang kita menikmati itu semua walaupun tidak bisa digeneralisasi. kemenangan ideologi Islam sebenarnya sudah terjadi saat ini walaupun terkadang musuh – musuh Islam tak sadar akan hal itu, seperti sudah jenuhnya masyarakat Amerika terhadap pemerintahannya sendiri yang dikendalikan oleh yahudi terlihat jelas dengan indikator, banyaknya kebijakan -kebijakan pemerintah yang ditentang oleh masyarakatnya sendiri seperti peperangan serta kekerasan dan bahkan kebijakan Amerika terhadap negara jajahannya banyak ditentang juga, sudah jelas masyarakat menginginkan fitrah kembali. kemenangan ideologi inipun jelas terlihat dengan banyaknya organisasi – organisasi Islam didunia secara tak langsung mengadopsi prinsip jamaah yang dianut Ikhwanul muslimin walaupun dengan bermacam – macam nama.
masa sekarang adalah masa -masa strategis kita masih kalah dalam masalah strategis inilah yang perlu diperbaiki dan memperbaiki tidak semudah membalikkan telapak tangan manusia normal tetapi yang kita balikan adalah telapak tangan manusia yang sakit, mungkin malah hampir lumpuh dan ini perlu kerja besar, perencanaan yang matang, terapi yang tepat dan latihan yang kontineu.
Agenda besar dan "semua dimulai dari sini " dengan menikah??? kok menikah? ya! menikah secara Islami syaratnya dan dengan individu yang tertarbiyah tentunya. sekali lagi semua dimulai dari sini, membangun umat membentuk peradaban baru Islam. masalah – masalah umat yang besar seperti uraian diatas akan mudah terselesaikan disini dengan apabila terdapat barisan jamaah keluarga yang Islami. menikah adalah membentuk organisasi Islam terkecil tapi dengan berjangka tujuan yang panjang untuk dunia dan akhirat, terdapat juga kerja besar, yang merupakan tempat latihan kematangan diri, dari itu semua pucuk peradaban dimulai dari sini. jadi tunggu apalagi untuk menyelesaikan masalah umat yang semakin hari semakin kumat kenapa kita tidak coba untuk menikah bagi pemuda – pemudi yang sudah siap, tentunya dengan Syar'I!!!!. (Izzatul Gumam) 10/06/04 tangerang.
RUMAH
Bagi yang belum menikah ini tidak terlalu bermasalah tapi bagi mereka yang ingin menikah itu mungkin bagi sebagian orang menjadi masalah bahkan masalah besar bagi meraka yang menikahnya dilandasi oleh nilai – nilai materialisme.
Awal niat menikah selain nafkah, rumah juga perlu dipikirkan akh! pikir tak dipikir tetap terpikirkan juga, tapi kalau penilaian menikah salah satunya adalah rumah akan banyak Akwat yang tak terjamah atau bahkan batal target untuk menikah bagi ikhwan. sudahlah lupakan masalah rumah itu segeralah menikah, karena rumah (rezeki) itu adalah bagaian yang sudah tergariskan oleh Allah melalui takdirnya. Tapi rumah yang dimaksud disini bukan rumah seperti itu, melainkan sudahkah kita minimal membuat disain (maket) dari "rumah kehidupan" itu, ini yang terpenting. rumah kehidupan yang terdiri dari pondasi – pondasi kefahaman tentang menikah baik tujuannya, akidah, dan konsep – konsep dasar dalam berumah tangga yang Islami, bangunannya juga harus kokoh dengan segala aturan, strategi dan program – program kerja yang jelas agar tidak terdapat kehampaan dalam berumah tangga, program yang bernilai ibadah dan pembinaan jangka panjang maupun jangka pendek untuk generasi selanjutnya, atapnya pun harus mampu menopang badai dan angin topan sekalipun, atap yang kuat adalah bagaimana belajar tsiqoh antar keduanya dan belajar menumbuhkan sikap pahlawan/berani dalam menghadapi setiap cobaan yang menghadang secara bersama layaknya peristiwa Khadijah dan rosulullah dengan atap pernikahan yang kuat saat nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rosul hingga Khadijah meninggal pun atap itu tetap kuat bagi yang ditingalkan. (Izzatul Gumam) 10/06/04. 23:30 Tangerang.
YANG BERTAMBAH !!
"Barang siapa yang mensyukuri nikmatKu akan aku tambahkan nikmat itu, dan barang siapa yang mengkufuri nikmatKu sesungguhnya azabku amat pedih"
Salah satu mensyukuri nikmat Allah adalah dengan taat kepadaNya dan I'tiba kepada Rasulullah, metoda mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menempatkan sesuatu pada haknya. Menikah adalah hal yang fitrah dan sangat sunnatullah semua kita berada didalam sistem itu, kita tidak bisa keluar atau berusaha keluar dari sistem itu, yang ada seharusnya adalah bentuk ungkapan rasa syukur kita dengan kita tidak menolak dan menerima fitrah itu, itulah syukur yang sebenar – benarnya.
Rasa syukur menempatkan kita pada keyakinan yang tertinggi dimana setiap takdir yang Allah tentukan menjadi suatu keputusan yang terbaik menurut Dia dan Allah Maha mengetahui segala urusan hambanya. bersyukur entah dalam keadaan baik atau buruk (musibah) menjadikan kita menjadi hamba yang dipercaya memegang segala amanah, ketika Allah telah percaya kepada hambanya maka tak ragu-ragu lagi untuk menambahkan segala nikmatNya. contoh nyata generasi sahabat rosul, Allah selalu menambahkan nikmat untuk generasi ini, bahkan multidimensi nikmat, Rosulullah ketika meninggalkan masa lajangnya dan menikah dengan Khadijah banyak sekali penambahan – penambahan kenikmatan itu diangkatnya menjadi rasul, nikmat peningkatan kematangan diri dalam memeneg perdagangan, umat dan nikmat yang tak terhingga adalah nikmat turunnya Al qur'an, dan penambahan nikmat itu terjadi setelah tingkat syukur rosul yang tak teragukan lagi juga pada pasca pernikahan begitu pula Umar bin khatab dengan nikmat keberaniannya, kekayaannya, kecerdasan dan Allah menambahkan nikmat Kepemimpinannya melebihi kepemimpinannya saat jahiliyah dulu, sangat multidimensional!!! itu semua karena rasa syukurnya yang hampir sempurna kepada Allah, dan kita?
Dengan menikah kita pun bisa karena menikah adalah bentuk syukur yang nyata, realita dan sunnahtullah, syaratnya syukurilah nikmat nikah itu dengan sebenar-benarnya, ikuti contoh rosulullah saat menikah, sebisa mungkin islamisasi didalamnya, insya Allah nikmat itupun bertambah.
Sekali lagi cobalah bersyukur dan bersyukur kemudian merenung adakah nikmat yang bertambah dari pernikahan itu (hasil survei dan observasi teman sekitar, orang tua dan kerabat lain)? ADA dan seharusnya multidimensional!!! Allah menguatkan/menambah rezeki bagi mereka yang telah menikah. Allah menambahkan nikmat kematangan jiwa, psikologis dan emotional. Allah menambahkan kesempurnaan keagamaannya setelah menikah.
Allah juga menambahkan nikmat motivasi dan ketenangan beribadah setelah menikah. Allah menambahkan saudara bagi kalian semua antara pihak suami dan pihak istri (nikmat ukhuwah) dan Allah menambahkan nikmatnya agar dapat membajak ladang amal dirumah tangga sendiri. Allahpun menambahkan nikmatnya dengan memberikan investasi amal dunia akhirat berupa anak – anak yang terlahir. dan masih banyak lagi nikmat yang tak terhingga yang Allah tambahkan.
kesemuanya hanya untuk orang – orang yang bersyukur dan bersyukur akan nikmat Allah yaitu nikah dan memahami tujuan nikah itu sendiri, masihkah kita kurang dengan "Penambahan itu" atau malah kita tidak bersyukur????. Astagfirullah (Izzatul Gumam) (7-6-04) 11:45 Tangerang.
ADAM PUN MERASA SEPI
Sepinya nabi Adam melebihi sepinya pemuda jaman sekarang yang melajang (jomblo) pada saat ini, so jangan takut kesepian menjadi ikhwan jadilah high quality joblo muslim yang syar'I tentunya. Nabi Adam pun ternyata juga kesepian disurga saat itu walaupun banyak segala sesuatu yang diinginkan semuanya bisa tercapai dengan mudah disana taman surga yang indah, buah – buahan yang segar, sungai susu dan lain – lain yang mungkin belum terjangkau dalam khayalan kita saat ini, tapi hanya satu terkecuali wanita belum terpikirkan saat itu, dengan berjalannya waktu, kebutuhan sisi Psikologis manusiawinya pun timbul saat ia merasa dalam kesendirian, ini sangat fitrah karena model manusia yang Allah ciptakan memang seperti itu. Desakan kebutuhan dasar ini meningkat sisi kepentingannya dimata Nabi Adam (Allah Maha Mengatur segala) dari pada sisi kepentingan lain, tapi disisi lain kepentingan ini menjadi bumerang (ujian) bagi Adam sendiri ketika ia terlena dan tergoda tetapi kesalahan bukan pada menikahnya tapi bagaimana ia merubah presepsi tentang ibadah, menikah adalah ibadah temannya ibadah adalah ujian dan ujian membuat manusia lebih matang berkualitas dan lebih mengenal kebesaran Allah. Nabi Adam lebih matang ketika ia berada di dimensi kedua setelah surga (hal yang baik) yaitu Bumi (Fana).Pelajaran sejarah inilah yang harus diambil bagi mereka yang mulai merencanakan menikah atau mungkin sisi psikologis&biologis yang mulai matang untuk berumah tangga atau juga mereka yang hanya mengandalkan rajatunafs dalam mengambil keputusan besar itu.
Sekarang tergantung kita menyikapinya ketika berada dalam kesendirian itu sudah banyak pelajaran sejarah yang sudah kita baca, dengar bahkan rasakan disekitar kita. kita hanya punya dua pilihan, kesepian kemudian menikah atau tidak menikah dalam kesepian, ibadah sebagai cobaan atau cobaan sebagai ibadah. (Izzatul Gumam) 7/06/04 tangerang 05:00.
FITRAH MEMIMPIN
Ketika keinginan menikah itu datang dengan berbagai motivasi bagi seorang akhwat adalah menjaga kesuciannya sebagai wanita tentunya dan melahirkan mujahid – mujahid baru di era baru ini, lain hal bagi ikhwan selain dari itu ada hal fitrah yang sebenarnya ini menjadi keinginan tersembunyi di dada seorang ikhwan, semuanya lelaki memiliki fitrah ini entah seorang pemulung sampah sekalipun yang kehidupannya jauh sekali dari nilai – nilai pendidikan dan keorganisasian apalagi seorang ikhwah.
Fitrah untuk memimpin atau mungkin yang lebih ekstrim "menguasai", ketika seseorang lelaki ingin menikah sebenarnya fitrah itulah yang dominan timbul dari pada fitrah yang lain, jadi ketika ikhwan mengatakan " Aku ingin mengkhitbah dan menikahkan mu ukhti" saat masa proses khitbah berlangsung, maksud yang tersiratnya sebenarnya adalah " jadikanlah aku pemimpinmu dan engkau adalah pengikutku marilah kita bangun jama'ah ini dengan bai'atku ini". semua memiliki fitrah itu dan harus terrealisasi bukan hanya janji – janji palsu seorang pemimpin terhadap rakyatnya.
Fitrah akhwat sebagai "manittaba'ani" (pengikut) menjadi pola saling melengkapi dalam proses keseimbangan hidup. so akhwat pilihlah dengan cermat pemimpinmu karena hasrat memimpin di diri lelaki menjadikan kamu harus mengikutinya dan tuntutannya adalah ketaatanmu. (Izzatul Gumam) 11/06/04 tangerang
CINTA ITU BERMUARA DI MANA?
Ada berbagai macam bentuk pernikahan, tergantung landasannya tetapi bagi generasi tarbiyah landasan ini disempurnakan, rosulullahlah dan khadijah sebagai bukti pernikahan yang sempurna landasannya. cinta itu bermuara di mana? sangat cocok judul ini terpikirkan untuk memenuhi tulisan ini, banyak nuansa pernikahan yang ditimbulkan, bagi seorang seniman pernikahan yang ditimbulkan biasanya berbau seni seperti pernikahan bintang pop M.Jackson dengan putri bintang pop legendaris era dulu elvis presley, muatan senilah yang lebih ditimbulkan disini, bagi seseorang yang bergelut dibidang Politik biasanya muatan yang ditimbulkannya adalah nilai -nilai politis, pernikahan untuk menyambung kehidupan politiknya itu sendiri, banyak sejarah bercerita diindonesia seperti pernikahan antara pangeran kerajaan satu dengan putri kerajaan satu lainnya yang terlihat sangat berbau politis, karena muara kehidupannya politik dan masih banyak nuansa – nuansa lainnya. bagi seorang profesi kesehatan biasanya lebih "safe" bila ia dalam membangun pernikahannya bermuatan kesehatan antara dokter dengan farmasi atau farmasi dengan farmasi jarang sekali antara dokter dengan pelayan restoran.
Tarbiyah Rosulullah menyempurnakan itu semua dengan melandaskan pernikahan hanya pada agama, karena agama Islam itu universal, alamiyah dan fitrah karena itu muatan pernikahan Rosulullah dengan Khadijah muatan yang sangat sempurna, kenapa? karena Islam ajaran yang sempurna seperti dipernikahan rosulullah terdapat muatan politik yang berorientasi pada da’wah karena pada masa itu khadijah adalah wanita yang terhormat dimasanya, juga bermuatan ekonomu(bisnis) dan perdagangan juga bermuatan da'wah (syi'ar) karena khadijah adalah pedagang sehingga memudahkan syiar juga masih banyak muatan lain yang ada dalam pernikahan rosulullah, sangat universal karena Agama Islam bersifat seperti itu dan penuh kesempurnaan jadi sempurnakan pernikahan dengan muatan Islam bukan muatan – muatan yang lain. cinta itu bermuara di mana? di Islam jawabku. (Izzatul Gumam) 11/06/04 Tangerang 07:30
nB :
-oRIGINAL catatan lama(review)
- tulisan dahulu yang dibuat untuk kado pernikahan sahabat
Thursday, March 05, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment