Showing posts with label Cerpen Gumam. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Gumam. Show all posts

Friday, August 01, 2008

Rasa Vs Logika.

Sudah hampir berjalan satu bulan pernikahan kami, ibarat akan hujan, maka masih mendung benar, belum sederasnya. Indahnya rumit dalam keunikan sifat, romantisnya perbedaan dan kesannya berlapang dada saat menerima apapun yang kadang sulit diterima dengan logika, bukan teori lagi kali ini. Benar juga, dari diskusi kecil dengan teman ku yang telah walimah beberapa bulan lalu tentang beberapa sifat wanita (istri) yang terkadang sering bertindak dan mengambil keputusan diluar batas logika.

”wanita lebih kuat perasaannya dibanding logikanya, akh. Logika hanya penguat rasa dan tetap penentu keputusan terbesar adalah perasaannya” ingatku pada perkataan Akh Firman, pembelaan terhadap kelebihan istrinya yang bersuku Jawa, hipersensitif akan perasaannya di acara arisan bulan lalu.

Awalnya sulitnya bagiku menerima kelapangan dada yang berasal pada argumen hal – hal non logika, terlebih di awal bulan pernikahan ini, tapi Alhamdulillah pernikahan inilah yang membuatku belajar menjadi manusia sempurna seutuhnya, sehingga mulailah terbiasa dengan menerima berbagai alasan – alasan non logika yang harus menuntut kelapangan hati. Terkadang memang, awalnya agak aneh, terlebih dari itu juga menjadi sebuah kesalahan yang harus di maafkan, atau kebenaran yang sulit diungkap tersirat karena tertutup oleh kabut rasa.

Ternyata Al hafizd-ah (istri ku) juga manusia, ia bukan malaikat yang turun kebumi bukan juga bidadari surga yang sekedar mampir kedunia, bukankah Bunda Aisyah juga pernah cemburu?.Misalnya, tiba – tiba saja bidadari ku menangis sejadi – jadinya memeluk ku erat, saat lampu dirumah mati, mungkin akibat pemadaman bergantian. Memang sungguh gelap, sebab pemadamannya terjadi saat ba’da isya, padahal saat itu aku hanya bilang

”Bun...Bunda tolong nyalakan Apinya, Abbi sudah menemukan lilinnya nih!”

bukannya korek api yang menyala yang ku dapati, tetapi malah suara tangis sendu tak berpindah dalam gelap. Ku telusuri suara itu dengan berjalan meraba – raba tembok, gelap sekali...

”Bun, engkaukah itu?”. ku dapati segera suara lembut itu, akhirnya kudapati pula wajah istri ku yang sudah basah dengan air mata dalam rabaan ku seadanya.

”Abbi...Naarun haamiyah, Naarun haamiyah..... Naarun haamiyah” sergahnya sendu, langsung memelukku dengan erat....terus memelukku semakin erat, diiringi tangis sendu. Aku pun bingung dibuatnya, kebingunganku pun tetap ku tahan sebisanya hingga ia puas melepaskan dan bebas mengeluarkan bahasa non logika, bahasa rasa pada apa yang ada dihatinya dalam pelukkan ini.

Sekitar hampir 10 menit ia terus memelukku, setelah itu barulah menengadah menatap wajahnya kewajahku, entah bahasa rasa apa yang bergulat dalam waktu yang selama itu.

”Abbi, Fa andzar tukum naaron taladzhoo?” Berbisik pelan suaranya dalam gelap ruangan ini, wajahnya semakin pucat juga masih terdengar jelas juga isaknya.

Akupun baru sadar setelah itu juga, inilah bahasa non logika, bahasa yang sulit dibahasakan dengan kata, tapi bermakna ”Tenang Bunda, sudahlah hal itu sudah dikecualikan untuk Alladziina a amnuu wa tawaa shoubisshobri wa tawaa shoubil marhamah, Bunda ingat khan?” mencoba mengendalikan perasaannya, sambil ku kecup berulang hangat keningnya. Bidadari ku yang sungguh istimewa perasaannya terhadap kisah – kisah ini.

”kliip” saat itu pulalah lampu kembali menyala, sepertinya tidak jadi pemadaman lokal!”Alhamdulillah Bun, lampu telah menyala” hiburku, tapi entah kenapa ia masih terdiam memeluk ku erat...diam.

”Bun...Bunda.sudahlah,.bukankah aku mencintai mu karena Allah dan Rosulnya dan bukankah engkau pun begitu?” bisik ku ditelinganya, menyakinkan ku dalam batas tafsiran seadanya tentang kedalaman perasaannya saat itu.

”Ya, akupun akan istiqomah Abbi!” kata diiringan senyumnya yang mulai perlahan merekah, dalam wajah terlengketi air mata yang sambil ku usap perlahan agar segera mengering dan tak membanjiri.

Itulah hari – hari di awal bulan pernikahan bersama wanita penjaga Al qur’an, masih banyak kejadian lain yang ”memaksaku” belajar langsung tentang ini adalah rasa dan ini adalah logika, berlatih berlapang dada terhadap alasan apapun suatu rasa yang sulit diterjemahkan dalam sebuah bahasa logika. Itulah kejujuran wanita, itupulalah bidadari ku, ”guru rasa” ku, tapi entahlah kenapa dibulan selanjutnya aku yang sering juga jadi menangis sendu walau tanpa mengeluarkan air mata saat istriku pun kadang menangis dalam pelukkan ini, ada apa dengan ku?.......(bersambung)

(Izz@m Juli 08; Depok. ”ini rasa dan ini logika”)

Nb: untuk teman2nya yang selalu bertanya, gimana kelanjutan Cerpen-nya?

Monday, March 17, 2008

IZINKANLAH KU MENCINTA

Part Desember (1)
21:15 WIB

“Cobalah dulu akh gumam” sergahnya dalam harap. Ekspresinya yang meningkatkan gelombang ithiromku untuk tetap mengambilnya.

“Jazakallah, nanti ana kabari secepatnya” kuterima sepucuk amplop itu. Rasa harap, cemas berbalut keyakinan sedang tidak ada dihari ini, entahlah kenapa maka segera ku pulanglah setelahnya, ku sela sepada motor yang sudah ingin lekas meminta pulang juga setelah dari pagi menemani da’wahku hingga malam ini.

Seperti biasa, seperti tak ada kejadian yang istimewa padahal sebelum-sebelumnya kejadian seperti ini merupakan momentum spesial dalam hidup sesorang muslim (ikhwan). Menerima sebuah biodata umumnya teman-teman ku merasakan seperti memegang dan merangkul sebuah bukit uhud. Inilah kali yang ke tiga, fikir ku bergumam.Terbiasa berbalut jenuh jadi hampir mengendap, bak rutinitas matahari bersinar dan sesampai waktu sore pun tenggelam. Tak ada yang spesial,turunnya air hujan yang pasti jatuh kebumi, juga bilamana anak pertama dewasa akan berkurang “kaget”nya ketika lahirlah anak lanjutan. Sudah lebih dari tiga bulan aku baru kembali mendapatkan biodata akhwat dari seorang “Pembina”.

22:15 WIB

Sesampainya pulang, biasanya ku tutup pintu rapat dan membacalah, tapi kali ini kuletakkan acuh di meja belajarku. Entahlah juga mungkin hari ini kelelahan cukup menyita dan semangatpun sedang membungkam. Berfikirku biarlah saat qiyamulail nanti baru ku buka sepucuk amplop itu. Malam ini lebih hening, orang tua, adik dan keponakkanku sudah tertidur pulas dalam ruang mimpi yang indah.

03:45 WIB

Shalat witirku pun selesai, qiyamulail malam ini begitu berat. Amalan yang berat melahirkan pahala yang besar pula, begitulah hiburku dalam kantuk yang mendalam. Tidak dengan ayat – ayat panjang kali ini. inilah yang membedakan kita dengan generasi qur’an yang menjadi generasi awaliun, qiyamulailnya merupakan madrasah malam talaqi qur’an kepada Rabbnya, qiyamulalilnya adalah penghayatan akan visi dan tarbiyah ruhiyah menuju rihlahtulillah, qiyamullail juga ternyata bentuk ungkapan ungkapan rasa syukur yang takkan terhenti. Berputar ditiap malam hari-hari dari kenikmatan lelah harimau nya siang dan biksunya malam. Ayat –ayat makkiyah dibacakan pada periode makkah dan ayat-ayat madaniyah dibacakan juga pada periodenya, sebagai penyadaran kembali akan visi, “menghapal” misi dengan jiwa yang sadar, hati tenang terbuka sehingga ayat yang dibaca mampu berdifusi secara perlahan, tapi pasti menyerap, menusuk, memberikan energi kembali.

“Sreet…”tenyata lem perekatnya agak kuat sehingga amplopnya terpaksa ku robek. Ku buka hingga beberapa lipatanpun terungkap. Langsung seperti biasa ku lihat bagian prioritas biodata dari urutannya; amanah da’wah, yaumiyah, dan lama tarbiyah.Itu yang lebih penting dari semua. Aku baru menemukkan foto dalam halaman terakhir dari lembaran – lembaran tersebut.

“ Masya Allah, sepertinya aku pernah bertemu, benarkah ia?” kagetku yang menghentakkan kantuk, reflek akselerasi saraf kedua matakku pun berkontarksi dengan cepat sehingga lensa mata keburaman menjadi ketajaman. Wajah yang tak asing, sebab foto dalam biodata ini mengingatkanku pada kisah “gelombang” di Bus Kuning dua tahun yang lalu, akhwat jilbab warna coklat, berkacamata dengan Nur (cahaya) rona wajah yang ku kenal betul ekspresinya. Foto dan bayanganku pada nur (cahaya) wajah itu tak Jauh berbeda, hanya saja terlihat lebih dewasa. Tak menyangka dunia ini penuh misteri, misteri yang tak mudah ditebak, tentang perjodohan apalagi yang begitu ghaib, begitu musykil tapi pasti. Misteri yang membuat aku serasa bermimpi. Didahului dengan mimpi….dan sekarang apakah aku masih bermimpi ya Rabb?. Segala tentangnya sekarang nyata dalam gambaran singkat diri, keluarga dan aktifitas da’wahnya. Akhir halaman itulah yang akhirnya membuat ku harus mengulang membaca secara serius, hingga beberapa kali balik. Kantukku hilang dimakan penasaran mendalam. “benarkah ini wanita itu, ya Rabb?” bertanya dalam kebimbanganku sendiri.

“Subhanallah, beliau hafidz!akhwat ini hafidz qur’an” begitulah dihalaman kedua beliau bercerita,sadar hati ku bergumam dalam relung terdalam. Tak kusangka diusia yang muda dan dikampus yang serba sains ini masih ada penghapal qur’an sejati. Acuh menjadi semakin mengacuh dan menghina diri sendiri untuk merendahkan diri.

“Aku,.. apa yang bisa ku banggakan dan kubandingkan tentang ke Islamanku nanti diproses ta’aruf, Juz 30 saja banyak yang bolong,…uhhff” fikirku mendalam malam itu bersama bintang. Bintang yang mampu bercerita banyak tentang malam. Ketaatannya menerangi malam seharusnya mampu mengiringi ketaatan ibadah ku.

“Bukankah seorang hafidz selayaknya juga mendapatkan seorang hafidz”, merendahku pada posisi kondisi jiwa yang lebih rendah. Rendah diri yang sadar akan kapasitas diri.

“Ya Allah,pasti pembinaku salah kali ini atau mungkin tertukar dengan temanku ….bukankah beliau juga tahu kapasitasku yang lemah dalam menghapal”, memang jika harus memahami suatu makna tafsir, membaca permasalahan da’wah untuk mencari solusi dan membuat strategi menjadi kelebihanku.Begitulah teman-teman ku sering menjuluki seorang creator or analisator da'wah. Hal lain adalah telinga ku yang kata banyak orang jika mendengar maka mengingatlah ku.

“bagaimana nanti jika akhwat itu meminta mahar sebuah hapalan qur’an, wah gawat darurat siaga satu akhi” renungku dalam hayalan yang terlalu panjang, walau aku hanya mampu menebak menjaga optimis, mungkin akhwat itu hanya meminta kelengkapan hapalan standar seorang ikhwan; juz 30,29 dan surat Al anfal, Al Kahfi, Al an’am juga surat At taubah.

”mungkin sekitar itu” hibur kepesimisan ku sejenak. Sebab ada dari beberapa kisah temanku, calon istrinya meminta muroja’ah Qur’an sebagai mahar pernikahannya. Memang agak tidak begitu mengkhawatirkan jika itu standarnya,sebab sudah ada dari beberapa bagian yang ku hapal dengan lisan penuh dan dari kesemuanya telingaku mampu menghapal dengan jelas. “ini harus menjadi biodata yang terakhir kupegang, apapun resikonya nanti bisakah??” azzamku bergelora. Aku sudah terlalu letih untuk masalah ini. Akhir dari kepastian yang terus menuntut masa depan.

04:30 WIB

Adzan berkumandang dengan lantangnya , membangunkan semesta untuk berdzikir kembali dari lalai dan istirahatnya malam. Agenda amal senin memanggil segenap raga, agar tetap semangat. Memulai dengan gairah hidup untuk sebuah harapan baru……”Ya Rabbi aku harus lebih hidup hari ini, yang hidup untuk menghidupi” sambil ku tutup mushaf yang ku genggam erat.

Part Desember (3)
14:00 WIB

“Seperti biasa,harus sesederhana dan sejujur mungkin!!” sergah hatiku berkata dalam prolog sendiri, memantapkan sebuah visi hidup yang selama ini diambil menjadi sebuah jalan hidup dan lifestyle ku. Menatap jam dan waktu yang terus bergulir akan janji sore ini untuk ta’aruf dengan akhwat tersebut. Tidak ada persiapan istimewa, hanya berbekal qiyamullail malam tadi, aku rasa itu sudah lebih dari cukup. Seperti biasa, ku siapkan laptop dalam tas dan Al qur’an yang akan setia menemaniku setiap saat.Cukup itu. ”semoga ini menjadi yang terakhir!!”.

17.15 WIB

Klarifikasi, verifikasi, validasi dan konfirmasi telah selesai sudah. Jam sore itu pun memanggil iri dengan keberkahan proses ini. tetapi belum juga dilakukan proses “closing” oleh kedua belah pihak, sebab terhalangi oleh kehangatan yang terjadi dalam proses ini. Semua saling menunggu malu-malu untuk mengakhri peristiwa ini, yang ditunggu akhirnya termuntahkan dari salah satu pihak.

“Apakah antum mau langsung melanjutkan proses ini akh gumam?” seru pembinaku saat itu dengan wajah yang penuh gelora harap.

Tak kujawab langsung. Kutatap sekilas untuk terakhir kali menyakinkan bahwa diwajahnya ada tersimpan sebuah harapan dalam Nur (cahaya) wajahnya yang sederhana mampu menyiratkan gelombang optimisme, gelombang emosi raut semangat pembangun peradaban, dan kilatan bayangan kaca matanya mampu bercerita tentang kematangan ilmu dan pengalaman da'wah.

"Bismillahirrahmanirrahiim, insya Allah Ustad". ku tundukkan kepala sejenak ku barengi dengan ucapan istigfar.

"Bagaimana dengan anti, apakah ingin menjawab langsung hari ini juga?". Sela Pembina ku, memastikkan. Keadaanpun menjadi hening sejenak, seakan semua membungkam dalam kompak serempak.

“insya Allah, tapi ada satu syarat mutlak jika akh gumam memang serius, bisakah antum menghadiahkan saya dua buah hapalan surah Al qur’an selama proses ini dan selanjutnya nanti?". Tanyanya dalam senyum yang khas tidak menghadapku jelas.

"Ya, Rabbi Benar dugaanku", kelemahan diri yang tak bisa terhindari, kelemahan diri yang memang harus dihadapi."ya, tergantung ukht, sepanjang surat apa?". Tanya ku menjaga emosi, sebab tetap berharap momentum ini adalah kejadian yang harus menjadi momentum terakhir.

"Keinginan ku cukup sederhana kok akhi, apakah antum sudah hapal surat An Nuur dan Luqman akh?". Memang keinginan akhwat itu yang cukup sederhana dalam menciptakan keluarga Islami, menjadikan surat An Nuur menjadi cahaya bagi visi keluarga da’wah dan surat luqman menjadi pondasi aqidah dan pendidikan jundinya kelak. Beliau hafizd dan telah hafal dengan fasih ketika menceritakan beberapa ayat pentingnya kedua surat itu kepada ku dan kepada dua Pembina yang hadir dalam diskusi wacana membangun pondasi keluarga Islam.

Otak ku saat itu berfikir keras, sambil ku buka mushafku segera. Jelas aku tidak hapal kedua surat itu semuanya. Jika penggalan ayat- ayat pilihan dari surat luqman dan An nur itu masih mudah ku hapal sebab saat mengaji di TPA (sekolah dasar hingga SMP, enam tahun lamanya mengikuti lembaga itu; hingga tahap melagukan qur'an ku geluti) dulu hal itu menjadi hapalan harian sebelum memulai pengajian berlangsung dari sekian banyak hapalan lain (surat Al imran tentang ukhuwah, ayat kursi, dan beberapa penggalan surat Yaasiin,dll), walaupun sebenarnya baru bisa ku pahami ketika ku Tarbiyah selama ini. Ayat dari surat Luqman yang sering dibacakan mengisahkan perintah seorang ayah agar anaknya menjaga dan memurnikan ketauhidan hanya kepada Allah swt.Telinga ku lah yang menjaga hapalan itu, telinga yang mampu merekam suara dari banyak nada didunia ini. Nada ayat itu masih terpelihara dalam telinga dan terkunci dalam hati ku hingga sekarang. Ku bolak – balik menghitung seberapa banyak lembaran halaman dari gabungan kedua surat tersebut, ternyata semua digabung berjumlah sekitar 10 lembar banyaknya tepat sekitar 1 juz.

"fiuuuuh, ana belum hapal, berarti sekitar satu juz ya ukht, apakah hal itu memang harus menjadi syarat mutlak untuk menikahkan ukht?". mengajaknya juga untuk memastikan hasil kalkulasi ku yang ternyata memang tak salah. "Yap syarat mutlak.Apakah ada yang salah akhi, satu juz untuk jangka dua bulan, apakah antum keberatan akhi?" tantangnya dalam rona wajah yang tetap terlihat teduh.

"ana yakin, antum pasti bisa kok akh gumam" udara keoptimisan yang dihembuskan ke telingaku oleh kedua Pembina yang hadir.

"ok jika itu memang menjadi sebuah kebaikan, ana terima syarat mutlak yang akan insya Allah saya penuhi dalam dua bulan ini" memastikan tantangku kembali. Benar juga kenapa tidak harus dicoba dulu, toh syarat itu tidak ada nilai mudharatnya malah lebih banyak nilai kebaikannya.

surat Luqman untuk talaqi dalam pertemuan dengan antar orang tua ku dan surat An Nuur yang antum harus hadiahkan untuk pernikahan nanti” begitulah aturan yang beliau ceritakan sebagai sebuah adat tertentu ditiap siapapun anggota keluarganya yang ingin menikah.

"Kenapa antum bisa begitu yakin dan percaya sekali dengan ku, ukht? Bukankah orangtuamu pun belum di minta persetujuannya" keherananku berjurus tanya-tanya penuh keinginan menjawab keraguan. Entahlah Pembina ku dan pembinanya pun seakan diam menyembunyikan sesuatu.

“insya Allah keluarga ana sudah berpesan setuju terlebih dahulu dari niat dan keberadaan antum, ayahku mengenal dan percaya betul dengan antum akh”. Upaya akhwat itu menyakinkan ku.

“akhi antum masih ingat saat beberapa tahun lalu mengajak seorang imam besar masjid myanmar berkeliling kota malam itu? Itulah ayahnya, ukht ini lahir dari istrinya yang di Indonesia (sekarang keduanya tinggal di Myanmar)". Selak ucapan Pembina mengusir keraguanku.

"yap ayahku kenal betul dengan ustad (Pembinaku) antum akhi". Menimpali ucap akhwat itu dalan ketidak percayaan ku akan momentum jarang ini.Pembinaku pun hanya mengangguk, menandakan kebenaran ucapan akhwat itu.

“Subhanallah,Pantas saja, kenapa pembinaku tak memberitahuku sebelumnya”. Seakan ku tak percaya. Memang saat pertemuan itu kami sangat terbuka dan hangat sesekali berduskusi selama perjalanan mengantarkannya keliling kota malam itu. Sosok imam besar masjid Al hafizd yang sangat berwibawa, fleksibel dan menghargai setiap pendapatku walaupun usia ku jauh sangat lebih muda. Mulai diskusi tentang da'wah, sosial masyarakat dan tentang lemahnya umat muslim untuk mengkaji Al qur'an. Pesan singkatnya yang paling berharga saat itu adalah "menghapal Al qur'an itu mudah akhi, kuncinya ikhlas dan taat jangan dipaksakan, maka hati akan mudah menerimanya".Saat itu juga beliaupun menyarankan metode yang paling mudah dan sederhana dalam menghapal Al qur'an tanpa "memaksakan diri" yaitu dengan mengulang cukup sepuluh kali tiap satu ayat dalam sehari. Jika ingin menghapal kata basmallah maka ucapkan kata "bismillahirrahmaanirrahim" sepuluh kali, insya Allah akan hapal tapi ingat kuncinya ikhlas dan taat, jaminnya. Senyum khasnya memandangku setelah memberikan tausyiah itu seakan mengharapkan ku juga menjadi seorang hafizd qur'an.Terbangkit bayangan kenanganku, Ia pun saat itu pernah bercerita kepadaku tentang anaknya yang sudah hafizd setelah masuk bangku kuliah, tetapi beliau tidak merinci dengan jelas siapa anaknya itu dan kuliah dimana.

Matahari yang melahirkan matahari, seorang hafizd qur’an dari seorang ayah yang juga hafizd qur'an. semakin minder saja aku sore itu, siapa aku, siapa ayahku, siapa keluargaku, tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang hafizd bahkan juz amma saja masih terbata-bata dan yang lebih parah beberapa dari keluarga masih dalam tahap belajar I’qra.

"The last,pesan ayah ana antum langsung saja datang ke rumah nanti dengan ayah atau beberapa perwakilan keluarga antum. Pesannya juga salam dari ayah ana buat antum akhi".Akhwat itu terlihat sejenak berfikir seakan megingat sesuatu " Oh ya, bulan depan ayahanda dan ibu akan datang ke Indonesia, semoga antum bisa meluangkan waktu dibulan itu ya" sergahnya, seakan mempercepat percapakannya sebab memang waktu sudah beranjak akan adzan maghrib.

"wa'alikumusalam" Mengangguk aku, ku tahu maksudnya bahwa tak perlu ada pertemuan perkenalan antara aku dan kelurganya (ayahnya) karena sepertinya keluarga beliau sudah mengenal dan menerima ku sehingga memotong singkat waktu proses yang ada."Insya Allah akan ku coba ukh, jika anti adalah jodohku maka takdirku adalah hafizd" azzam ku yang penuh qonaah dan tawakal.

Izinkanlah ku mencinta
Biarkan aku menggapai hafizd ku
Menggapai yang tak boleh pergi lagi
Menggapai gelombang yang tak boleh hilang lagi
Azzam hafizd ku yang kelak menanti takdir pasangan jiwaku
Ya Rabbi pemilik cinta, izinkalah ku mencinta
Mata, telinga, dan hati izinkanlah aku menggapai hafizd ku

Januari Mentari (3)
Ahad, 10:00 WIB

Hari ini mentari harus berpihak kepada ku, harus tersenyum merekah dengan ikhlas diwajahku, walaupun selama perjalanan hanya ada diam dalam gumam menggapai hafizd ku yang takut hilang, takut terlupa. Malu yang tak bisa ku bayangkan jikalau ku lupa saat talaqi nanti yang diperdengarkan oleh dua buah keluarga besar. Sebenarnya sudah ku hapal, hanya takut dalam perjalanan Bekasi-Jakarta membuat mata ini tak terkendali sehingga hatipun bisa bermaksiat tak terkendali, hanya menjaga. Aku, Ayah dan beberapa anggota keluargaku datang dengan satu mobil sewaan, bukan sedan atau sekelas kijang keluarga tapi menyewa angkutan umum:Koasi sehingga kebersamaan pun melekat, merekat dan hangat. Maklum hanya itulah kemampuan keluargaku sekalian juga menerapkan azas manfaat, memberi banyak manfaat pada lingkungan sekitar yang kebetulan tetanggaku adalah supir mobil koasi. Tetap saat semua mampu menikmati perjalanan, aku hanya bergumam tak henti dengan mushaf yang terus ku pegangi erat.

"ayo A' hapalin, jangan malu-maluin loh" ledek adik-adik ku yang terlihat cukup menikmati perjalan ini.

13:30 WIB

Waktunya talaqqi qur'an. Setelah semuanya mampu mencairkan suasana, setelah semuanya berdiskusi dengan hangat. begitupun aku yang sangat rindu sekali dengan imam besar itu, seakan bertemu dengannya kali ini serasa rindunya bertemu dengan sosok seorang khalifah besar. Kehadiranku yang apa adanya dengan angkot diterima dengan sambutan senyum berbaris dihalaman depan rumahnya.Tanpa beban, ikhlas yang mengalir deras terlihat ditiap raut dan tiap gerik bola mata saat setiap anggota keluarga ku dan keluarga akhwat itu berinteraksi, hidangan pun berkah terlahap setelah semuanya shalat dzhur berjama'ah di musholla rumahnya. Rumah minimalis dengan halaman yang sangat luas menurutku sehingga kehadiran keluargaku cukup ditempatkan dihalaman kebun belakang rumahnya yang asri tersebut. Semakin menambah atmosfer kekeluargaan saat itu.

"waktunya untuk talaqqi, mintalah janjimu Nak" ayahandanya mengutarakan maksudnya dengan halus.

Terdengar juga oleh telingaku perkataan itu, menyadarkan kembali janjiku pada akhwat tersebut untuk talaqqi surah luqman kepadanya dan keluarganya. Sebagai syarat mutlak melanjutkan proses ini.langsung saja ku ambil alih kendali suasana siang itu, semua muka tertuju kepadaku.

"baiklah untuk mempersingkat waktu, alangkah baiknya segera ku penuhi janjiku untuk talaqi. Jika ada yang keliru segeralah perbaiki aku ya" memintaku persetujuan semuanya untuk memulai.Dan semuapun terdiam kushyuk mendengarkan.

"a 'udzubillahiminsyaithonirozhim, bismillahirrahmaanirrahiim. Aliflaaam miiim……" entahlah seakan aku menjadi lebih tenang dan lebih kusyuk membacanya pada momen ini, seakan surah ini menjadi sebuah kebutuhan inheran bagi ruh ku saat ini. Semua masih teliti mendengarkan talaqiku, ada beberapa keluarganya dan keluargaku yang mendengarkan sambil mengkaji membuka mushaf takut terjadi kekeliruan hapalanku.hening…

Hampir di akhir dua ayat terakhir, akupun terdiam menghentikan bacaanku. Persis di dua ayat terakhir aku tak mampu meneruskan bacaanku. Wajahku tertunduk sejenak, berat sekali ku lanjutkan ayat ini. Semua yang hadirpun banyak tanya, dan ada beberapa yang berusaha mengkoreksi "akh gumam, ya ayyuhannas…2x.". Aku tetap diam sebab aku sangat hapal artinya.

"Hai manusia, bertakwalah kepada tuhan-mu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak yang tidakdapat menolong anaknya dan seorang anak yang tidak dapat menolong bapaknya sedikitpun….(Qs 31:33)". diamku dan sedihku membawaku pada keadaan keluargaku yang lemah sekali dari pemahaman dan kedekatannya dengan Al qur'an. Diam dan sedihku menerawang ku pada ketakutan pada hari dan berita besar itu. Hanya Al qur'an yang dapat menyelamatkan keadaan manusia nantinya.

"akhi, ya ayyuhannas…." Nada suara halus yang membangkitkan semangatku untuk melanjutkan talaqi ini, akhwat itu memanggilku untuk melanjutkan menyelesaikan dua ayat terakhir surah luqman itu.

"ya ayyuhannasuttaquu….." ku ucap lanjut bebarengan dengan keyakinan ku untuk bisa melanjutkan kehidupan ini bersamanya kelak jika memang ia adalah yang terbaik. Selesai sudah talaqi ku, disambut haru bagi yang mendengarkan semua. Ayahku hampir tak percaya kalau anak nya cukup bagus bacaan qur'annya, senyum bahagia ku lihat dalam rona imam besar itu sambil menganggukkan kesetujuannya, tapi anaknya hanya tertunduk hijab.

"gimana ya ustad kelanjutannya, nanti" ayahku mengambil bicara setelah hapalanku selesai terucap ke keluarga akhwat itu.sedang aku masih terdiam, tak menyangka aku bisa melakukannya dengan baiak hari ini. Bersyukurlah.

"Thoib, ya sudah jika niat dan kewajibannya sudah terpenuhi, maka haknya harus sudah boleh termiliki" begitu tawadhu dan wibawanya beliau jika berbicara.

"Maksud ustad?" tanyaku memperjelas kalimat tersebut.

"Maksudnya kita akad nikahkan saja sekarang, tidak usah menunda-nunda waktu yang ada, saya pun sudah menyiapkan penghulunya,lengkap sudahkan syaratnya pak?" sedikit memaksa ku dan keluarga yang ini merupakan rencana diluar kendali. Memang sangat jarang hal ini terjadi. Ayah ku pun hanya terbingung, malah menatapku…..seakan meminta jawaban dari sinar mataku juga. Sekelebat itupula ayah bunda ku saling berbisik….terucaplah keputusan

"sungguh sangat mulialah kejadian hari ini, kami sebagai keluarga hanya menyerahkan kembali kepada anak kami gumam, gimana nak?" kulihat sinar mata keikhlasan terpancar.

"Tapi ustad, Ana belum hapal surat An Nuur seluruhnya ustad? Panik ku, terlihat sekali wajah gagap ku kali ini. memang benar sebab baru setengah dari surah itu sedang ku hapal. Semua yang hadir menatap focus kepadaku, tajam dan menerkam, tapi entah kenapa sesaat itupulah lah semua tertawa dan tersenyum dengan riangnya. Begitupun "gelombang hafizd"ku yang ku lihat tertunduk dengan senyum dan rona cahaya wajahnya yang khas……dan setelah itupula kebingunganku mencair…"masya Allah, apakah inilah benar sudah berakhir?"

6 tahun kemudian,02:30 WIB

"Abbi, yaa ayyuhalmuddatsir, Abbi, bangun bi?" suara halus nan lembut yang sangat ku hapal menghampiri telinga kanan ku, di iringi kecupan ringan dikeningku yang sangat ku kenal teksturenya. Sebab inilah sebuah alarm rutinitas terindah kami, begitulah kala bidadari membangunkan malamku, bersinergis pula oleh cubit-cubitan kecil di pipiku oleh sosok anak 5 tahun yang juga bangun malam itu. Tetapi sengaja mataku berpura tertutup, aku ingin menunggu panggilan yang lebih indah dari ini. Tunggu saja sejenak.

"Abbi, Abbi, Abbi Al Hafizd bangun, ayo imami bunda dengan surah An nur malam ini" Benarlah…tak langsungku terbangun, sebab kalimat indah ini dan reaksi selanjutnyalah yang selalu ku tunggu disetiap malam agenda qiyammulail kami. Agenda talaqqi qur'an kami. Agenda rihlahtulillah kamu. Agenda syukur dalam kesederhanaan hidup kami. Sengaja kelopak mata ku buka satu – satu demi satu, tak langsung terbangun, saling menatap penuh cinta dan tersenyumlah kami berdua dalam mesra dalam hening malam itu. Dan selalu ku balas dengan kata yang paling ia sukai "Bunda, aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana karena Allah dan RasulNya". Dialah istri dan putra pertama ku, yang setia menapaki setiap harinya pondasi keluarga ini dengan Al qur'an. Seorang istri hafizd yang akhirnya mendapati seorang suami yang kemudian hafizd. Indahnya keluarga dengan cahaya, istriku cahaya kehidupanku. Istriku nur (cahaya) yang lahir dari cahaya hafizd dan pemeliharaannya terhadap Al qur'an.

DIMENSI PERADABAN
Dimensi titik muara peradaban dimulailah
Bila ia ingin memulai bangunkanlah,
Walau tidurpun lelap dan mimpinya nikmat.
Bermesra ujian selalukan mekar harapan
Bangunkalh dan bisikkan “aku hanya mencintaimu karena Allah dan rosulnya”.
(Depok; Desember 07)

(170308 Izzatulgumam;kost Depok , Izinkanlah ku mencinta-Mu)

Saturday, February 09, 2008

YAUMIYAH YANG BERPENGARUH.......


Hari ini selesai ujian Kimia Analisa I, selesai sekitar jam 14.35 WIB membuat ku terjepit pada waktu yang tidak efektif. Jika harus menunggu Bus Kuning (Bikun) pasti akan lama dan kalaupun menunggu waktu shalat ashar akan tanggung sekali. Waktu shalat ashar hari ini sekitar 15.30, Akhirnya ku putuskan untuk menunggu Bikun, sekalian menunggu waktu ashar sebab hari ini aku ingin sekali shalat ashar di Masjid kampus Guna Darma. Masjid disana cukup nyaman juga untuk shalat berjamaah, khususnya pada waktu maghrib dan Isya sebab yang mengimami shalat tersebut bacaan yang dilantunkan cukup baik tartil dan tajwidnya, sungguh menyentuh qolbu. Dari sekedar survei yang ku pelajari salah satu Imam tersebut bekerja di sebuah agen buku sekitar jalan Margonda beliau dari Salafiyah terlihat kental sekali dari karakter dan cara berpakaiannya. Jika Universitas Indonesia punya anak masjid bernama SALAM, di Guna Darma punya pemuda FARIS kepanjangan dari Fajrul Islam nama Masjid tersebut. Selain bisa shalat berjamaah dengan tenang, keuntungan lain mading dan infoIslam FARIS yang terpampang di masjid bisa ku nikmati secara gratis sehingga aku tak ketinggalan info mingguan atau bulanan tentang Islam, inilah kelebihan FARIS daripada SALAM, mading FARIS lebih terlihat aktif sejauh pemantauan sekilasku setiap shalat disana.

Bukan hanya di halte MIPA, hampir seluruh tempat yang mungkin terdapat orang berkumpul di jadikan ajang untuk menyebarkan informasi, baik pamflet informasi kegiatan mahasiswa ataupun kegiatan pemasaran umum lainnya. Letaknya persis dibelakang bangku halte yang ku duduki. Tata letak pemflet yang tak beraturan, menumpuk dan saling ”sikut”. Hari ini ada dua pamflet besar yang sangat kontras membuat mata ku berusaha menangkap dan mengolah informasi pamflet itu. Pamflet yang pertama bertajuk Pemilihan mojang kampus dan pamflet satunya lagi bertajuk ”Save Palestine One Man One Dirham” dengan warna tulisan hitam dan merah menandakan tuntutan keseriusan yang lebih pamflet itu untuk dibaca. Dua bagian pamflet yang sama tapi bersebrangan. Sama jika dilihat dari konteks keprihatinannya, letak perbedaannya jika pamflet pertama bertajuk pemilihan mojang kampus mengindikasikan keprihatinan pada moral mahasiswa yang semakin turun sedangkan pamflet ”save Palestine” keprihatinan kita pada saudara seiman yang membutuhkan bantuan. Sangat kontras dan bersebrangan satu sisi tecipta sebuah kegiatan yang lebih banyak mudaratnya dari pada baiknya yang produknya pemborosan, satu sisi lain minimnya dukungan motivasi dan bantuan materi secara cepat untuk saudara kita di Palestina, berapa banyak saudara kita disana akhirnya meninggal akibat keterlambatan bantuan materi yang diberikan. Aku yakin wajah – wajah mojang yang terpampang itu tak lain adalah muslim......korban – korban kapitalisme dan Apatisnya kita!!




(keterangan gambar : rumah warga sipil SAUDARA KITA yang di Bom dan digusur PAKSA Israel; manusia yang dibakar hidup – hidup; Penyembelihan manusia bukti nyata ketidak manusiaan tentara Israel!)

888888

Bus kuning yang ku tunggu akhirnya tiba dengan penumpang yang berdesakan, aku berharap cukup tempat dan cukup waktu sampai di Masjid kampus Guna Darma untuk shalat, waktuku tinggal 15 menit lagi, semoga. aku langsung bangkit dari tempat duduk halte. Mata ku menyapu tiap penumpang yang akan turun berada di Bus, memastikan sudah penuh atau tidak, seiring dengan laju bus yang mulai berhenti tepat di depan halte.

” sseeeeeeeettt” mataku menangkap sebuah gelombang energi yang besar sekali, sangat signifikan lebih besar dari gelombang energi yang ada di tiap – tiap penumpang bus itu. Sampai sekarang aku belum bisa memberikan sebuah nama ilmiah yang tepat tentang gelombang energi itu. Seorang akhwat berjilbab coklat panjang yang tak pernah ku kenal dengan raut wajah coklat sawo matang berkacamata dan sangat sederhana menurutku, hanya itu yang kulihat dan ku ingat.

Gelombang besar itupun turut turun, aku merasakan energi yang sangat besar, kupastikan akan berbenturan denganku diantara kerumunan penumpang lain yang juga akan turun. Menatapku sejenak kemudian tertunduk seakan tahu aku merasakan energinya, seakan gelombang energi itu memberikan resonansinya yang cukup jelas diantara senyum raut wajah yang tersembunyi, seakan dia juga ingin aku saja yang dapat menangkap resonansi itu.

Benar sekali dugaanku, gelombang energiku dan gelombang energinya berpapasan tepat akan berbenturan. Tepat di pintu Bikun dia pun turun dan aku beranjak akan naik. Langkahku terhenti terdiam, mematung sejenak, disebabkan seluruh energi yang ada ditiap organ – organku ini berpindah ke pusat dadaku menjadi sebuah getaran gelombang energi yang dasyat. Sungguh aku tak dapat bergerak sedikitpun hanya gelombang energi itu saja yang berputar – putar kencang di dada ini. Iringan degupan sistole dan diastole ku terasa tak seimbang. Dia sekarang tepat berada di depanku, diapun terdiam sejenak merasa jalur untuk turunnya terhalangiku, masih menunduk kemudian mengangkat wajahnya penuh nur (cahaya) menatapku sekilas dan menunduk kembali sambil berlalu mengambil jalur lain untuk turun.

”Ada apa denganku, getaran apakah itu&siapakah dia?” hatiku bertanya – tanya pada memori – memori long term selama diperjalanan. Ku ingat – ingat terus wajah yang tak pernah ku kenal itu, memang selama kuliah di FMIPA tak pernah ku jumpai akhwat itu atau memang aku yang kurang bergaul.

”Apakah ini yang namanya getaran ”kecenderungan”.......ahh sudahlah, hari ginie...........!!kuliah saja banyak yang ga beres” ku hempaskan segala lintasan kejadian itu dalam fikiranku, lagi pula aku mungkin belum pantas dan belum cukup bertanggung jawab menanggung amanah itu, dan ujian kuliah selanjutnya menunggu esok, tetapi kalaupun ternyata itu memang gelombang energi ”kecenderungan” seperti banyak teman – temanku ceritakan ketika mereka bertemu pertama kalinya dengan sang bidadari yang berakhir menjadi pendamping hidupnya disertai dengan timbulnya gelombang energi tersebut, biarlah ku serahkan dan ku percayai Allah yang mengatur segalanya tentang itu, Bukankah Allah itu Maha Pengatur segala yang ada di alam semesta ini!!!.

Bikun terus melaju masih seiring laju analisa tafsiran tentang kejadian tadi. Kemudian berhenti di halte FKM, aku menyebutnya bukan Fakultas Kesehatan Mahasiswa tapi Fakultas Kebanyakan Muslimah, sebuah guyonan yang kugunakan sebagai pelengkap bumbu dikala mengisi materi “urgensi&peran mahasiswa” di kampus DIII ku. Betul sekali, Bikun yang berhenti di FKM adalah tahap pemadatan muatan begitulah aku membuat istilah fase – fase pemberhentian tiap – tiap halte. Semua rata – rata fans Bikun di halte ini adalah muslimah. Aku agak risih jika harus berdesak - desakan dengan muslimah dan wanita. Bergantungan di sisi bis adalah solusi yang cerdas untuk mengalah dan memberikan penghormatan kepada wanita.

Angin sore kampus UI menghepaskan tubuhku yang bergantungan di Bikun. Tangan terasa agak pegal ketika bus ini menikung dan meningkatkan kecepatannya. Mataku berselanjar terpana pada keindahan gedung – gedung dan tumbuhan tinggi yang menghiasi kampus ini, menerawang – awang tak tentu, Kadang terawangan tentang kejadian tadi kadang berfikir tentang pengalaman penulusuran desa yang masih alami saat heaking atau travelling bersama teman – teman pecinta alam di kampus.

”Aku rasa bukan gelombang itu, karena keadaan dan kondisinya berbeda akh” kembali hatiku mencoba menafikkan segala kejadian dan kemungkinan tafsiran - tafsiran yang baru saja terjadi, seiring sampainya Bikun pada halte yang kutuju. Langkah segera ku percepat agar tidak tertinggal shalat ashar. Who is that houri??

888888

Aku terbangun lebih cepat dari alarm jadwal yang sudah ku atur di Handphone. Badan ku berkeringat membasahi seluruh kaos yang kupakai, serasa sedang mandi. Resah bercampur gelisah. Ruangan kost yang agak panas malam ini menambah penatnya fikiranku saat terkaget dalam tidur yang singkat itu. ”Who is that houri?” fikiranku terus melayang, mencoba mengingat kembali mimpi yang berdurasi sangat singkat itu tadi. Di mimpi aku berada di sebuah rumah yang sangat sederhana dengan sedikit hiasan – hiasan. Tak tahu pasti aku berada dimana dan rumah siapa ini. Tidak begitu ramai tetapi luapan kebahagian terlihat jelas menyelimuti atsmosfer setiap sisi ruangan yang ku pandangi. Aku hanya menebak – nebak kalau keramaian ini adalah sebuah acara akad pernikahan, tapi acara akad pernikahan siapa aku belum bisa menjawabnya dengan tepat. Memang tidak seperti acara akad pernikahan biasanya, karena sangat sederhananya acara tersebut. Ku coba memasuki pintu rumah itu untuk melihat siapa gerangan yang sangat berbahagia hari ini. Acara akad berlangsung di ruang tamu yang tidak terlalu besar, tamu yang menyaksikan akad posisi pria dan wanita terpisah.

”Silahkan masuk mas, kalau memang ingin mengikuti acara akadnya” sapa dengan ramah salah satu anggota keluarga yang berada tepat di depan pintu ruang tamu itu. Ku susuri setiap wajah tamu yang menghadiri, banyak tamu yang hadir ku kenal, rata – rata yang hadir adalah orang – orang kampus yang saleh dan tamu – tamu agung lainnya. Sebagai saksi pernikahan ku lihat pak Hidayat Nur Wahid dan ustad Samiun Jazuli. Bang Arsyal mantan ketua SALAM, Pak Mahfud Shidiq, Pak Arie Wibowo, Pak Sayhril (Klinik. Al Fauzan), Akh Nugie, Akh Awo, Akh Ian dan banyak orang saleh kampus lainnya hadir terlihat sedang serius menunggu acara akad yang akan berlangsung diruangan tamu dengan hiasan – hiasan dinding berupa lukisan dan beberapa ornamen seni lain yang unik.

”Akad yang biasa dengan tamu – tamu yang luar biasa, akad yang penuh keberkahan karena di hadiri oleh orang – orang saleh andaikan pernikahanku nanti di hadirkan oleh orang – orang tersebut.....bahagianya aku!” gumam ku dalam hati.

” Silahkan duduk akh Gumam” ramah akh Awo dengan senyum yang khas kemudian menggeser sedikit tempat duduknya mempersilahkan ku untuk duduk. Sekarang di samping kiri ku akh Awo dan dikanan ku ustad Abu Ridho. Tapi aku masih penasaran keluarga siapa gerangan yang beruntung hari ini, acara akad nikah dengan orang – orang saleh. Posisi pengantin membelakangi tamu akad yang hadir sehingga aku tak bisa melihat dengan jelas muka pengantin yang beruntung itu.

”Selamat datang akh gumam di acara pernikahan anak kami yang sederhana ini” suara lantang tapi ramah menyambutku dari tempat posisi perwalian akad. Ku sambut dengan senyum merekah tetapi agak sedikit kikuk.....”aneh orang tua itu mengenalku tapi aku tak tahu siapa gerangan orang tua itu”.

Saat itu pulalah sosok wanita pengantin itu menoleh ke hadapanku, sepertinya ia mulai sadar mengetahui bahwa aku hadir pada pernikahannya. Mata ku pun reflek alamiyah menghilangkan rasa penasaran akan wanita yang berjilbab tanpa mengenakan baju pengantin dengan make up seadanya. Nur (cahaya) wajah yang ku kenal tersenyum tersembunyi menghormati kehadiran ku. Walaupun aku tak kenal siapa namanya dan siapa sebenarnya akhwat itu.

” Bidadari itu, yang sore tadi berjumpa denganku di Bus Kuning dan menjadi impian serta mengiangkan mimpi - mimpi ku selama ini”. Hati ku seakan langsung tidak bisa menerima episode mimpi ini, jika aku sutradara mimpi sudah ku potong bagian episode mimpi ini dan kubuang ditempat sampah. Mungkin jika yang mendampingi pengantin pria itu adalah wanita yang lain, ku anggap ini adalah klimaks episode sebuah sandiwara mimpi yang baik dan bisa ku ajukan dalam perlombaan film dokumenter berjudul ”Pernikahan Islami yang sederhana dan penuh berkah”. Kenapa harus dengan akhwat itu, akhwat yang dapat menggetarkan gejolak jiwa ku walaupun hanya bertemu diantara tatapan singkat cinta yang tersembunyi hingga sore itu. Hati ku linu seperti bunyi dua buah balon yang bergesekan, tercabik – cabik seperti permainan puzzle yang hampir sedikit lagi ku selesaikan kemudian di acak – acak orang yang tak bertanggung jawab. Kesal terhadap ketidak mampuan diri untuk mencegah itu. Tapi semua kekesalan, kesedihan dan kemeranaanku di akad itu tak kutampakkan sebagai pembohongan publik untuk sebuah kebaikan sebagai tamu. Ku pejamkan mata sejenak seakan menutupi topeng kesedihanku dengan sempurna biar orang menggapku sedang tertidur dari kantuk, padahal yang sebenarnya jiwaku sedang berperang sengit antara realitas dan idealisme dalam alam mimpi itu. Tangan kanan ku kepal sekuat – kuatnya.

”Sudah.....sudah....sudah aku ingin bangun dari mimpi ini, Ya Allah bangunkan aku dari mimpi ini, aku tak mampu lagi menyaksikan episode mimpi ini” ku berusaha menyadarkan diri bahwa ini adalah mimpi. Ku coba kendalikan syaraf – syaraf otak ku agar bisa menginpuls kesadaran syaraf tidurku untuk terbangun. Ku coba terus dengan segenap jiwa dan raga agar bisa keluar dari bingkai mimpi ini sambil memohon kepada Allah agar permohonan ku segera terkabulkan.

”Akh Gumam ’Alamnassrohlakassoddroq’ buka matamu, kau harus bisa menyaksikan acara ini hingga selesai, kau pasti bisa,. Lapangkanlah dadamu. Ada hikmah di acara ini?” suara bijak nan lembut ustad Abu Ridho yang duduk tepat disampingku di acara akad tersebut membisikan telingaku seakan dia mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam hatiku.........akupun kaget, mataku terbuka dengan seiring terbangunnya kesadaranku dari mimpi itu. Tidak langsung beranjak, masih melamun panjang dan masih merasakan bias – bias ngilu di hati dari mimpi tadi. Nafas ku terengah – engah belum normal seperti biasanya, dada ku seakan tertusuk sebuah panah tepat ditengah dada ini dan mata anak panah itupun berputar merobek – robek....menyayat. ”Asstagfirullahala’hziim, ada apa denganku hingga bermimpi seperti ini”.

Malam masih menunjukkan keindahannya, ”laillan” sebuah ketakjuban malam. Bintang – bintang bertebaran di cakrawala langit. Hening... hanya alunan dzikir jangkrik dan teka – teki mimpi tadi yang menemaniku malam ini. Segera ku paksakan diri ini bergerak untuk wudhu. Aku butuh ketenangan, aku butuh berfikir tenang tentang tanda – tandaMu yang tak pernah ku respon dari pagi hingga malam ini. ”Yaa Rabbi hikmah dan tarbiyah apa yang ingin kau sampaikan pada hambaMu hari ini” harap ku akan misteri teka – teki hari ini.

Setelah wudhlu ku iringi awal shalat tahajud dua rakaat dengan bacaan ayat – ayat yang pendek, seperti Rasulullah anjurkan agar umatnya tidak merasa terbebani, ibarat olah raga sebelum aktifitas inti diperlukan pemanasan terlebih dahulu, apalagi saat qiyamulail kita memang baru benar bangun dari tidur, otot – otot belum ada yang siap siaga untuk itu, hal ini dimaksudkan juga untuk menghindari cidera. Begitu perhatiannya Allah dan Rosulullah terhadap kita (umatnya) bahkan jika rasa kantuk itu sangat hebat dan takut kita melantur dalam bacaan shalat, dianjurkan untuk tidur terlebih dahulu. Barulah setelah pemanasan selesai kita boleh memanjangkan rakaat dan bacaan dengan tartilnya sesuai dengan kemampuan, tubuh kita sudah siap dengan beban itu.

”Sesungguhnya bangun diwaktu malam adalah lebih tepat untuk khusyuk dan bacaan diwaktu itu lebih berkesan.....”7. setelah dua rakaat dengan bacaan ayat – ayat pendek ku lanjutkan hanya menambah lima rakaat, sudah dengan witir. Diakhir witir ku sujud agak lama, mengakui semua kelemahan – kelemahanku. Sengaja ku sediakan waktu malam yang ada ini untuk mengevaluasi diri, berbicara, curhat dan bercengkraman dengan penguasa jagat alam raya ini....terutama tentang kejadian sore dan mimpi tadi.

Ku replay ulang setiap kejadian yang sudah berlangsung dari subuh hingga malam ini. Tiap jam, tiap kejadian, tiap jadwal agenda dan tiap pergolakan emosi jiwa. Ku susuri tiap wajah, perkataan dan respon yang ku berikan dari setiap orang yang ku temui terjadi hari tadi....adakah aku yang salah?.

” Asstagfirullah.....Yaumiyah......tepat. aku lalai ibadah yaumiyah hari ini akibat tuntutan ujian kimia analis tadi, sehingga bunker – bunker hatiku mudah terbobol oleh godaan – godaan yang sebenarnya bisa ku hadang” Pantas saja segala ucapakanku terasa tak berbobot, ringan dan kering ”tidak qaulansyakilla8. Memang aku tidak tilawah lama seperti biasanya, dzikir ma’sturat pun terlewatkan dengan sempurna. Radar hatiku dan syaraf indra – indra yang lain mati semu, beku jauh dari kepekaannya. Pantas saja gejolak jiwa yang tak terkendali itu dengan mudah menghampiriku sore tadi, memang sejak pulang dari shalat ashar fikiran penasaranku terus melambung tinggi, mengingat, menghayal dan terus menggali rasa penasaranku pada akhwat itu ”Who is that houri?”, sehingga yang ada dalam hati ini hanya bayangan akhwat itu....hati ku lalai. Keadaan yang tidak seperti biasanya aku berprilaku seperti itu. Apalagi kala ujian masih berlangsung yang seharusnya ku konsentrasikan penuh untuk materi ujian besok. Mimpi ini adalah ujian bagiku untuk bisa melepaskan apapun yang aku cintai jika Allah dan segala aturanNya meminta kemurnian cinta ku, sebagai ujian tadi dalam mimpiku adalah akhwat itu. Mimpi yang mentarbiyah.....mimpi yang penuh hikmah..... ”Alhamdulillah ya Allah Engkau bukakan segala rahasia tarbiyah ini, sungguh Engkau memang Maha bijaksana dan Maha Lembut”. Masih ku iringi dengan dzikir syukur dalam posisi bersila dan kepala tertunduk. Suara – suara mobil dan motor di jalan Margonda mulai terdengar olehku dari kamar kost, menandakan waktu hampir subuh, sebenarnya masih ada dua pertanyaan besar dalam mimpi itu yang belum bisa ku jawab hingga subuh menanti, walaupun tidak terlalu penting setelah segala essensi hikmah itu terungkap. ”Who is that houri?”, dan siapakah juga ikhwan yang beruntung dalam mimpi itu, seharusnya ku selesaikan saja episode mimpi itu hingga akhir supaya aku bisa melihat dan berkenalan dengan keduanya, memang dunia mimpi adalah dunia penuh misteri dan kemungkinan........mungkinkah ternyata ikhwan adalah itu aku?;D.
(Izzatulgumam 31/08/06 Ba’da Isya; Onan Said Kost. Depok)