Jangan sekali-kali bermain dengan api, teman! satu kompleks pasar pun bisa ludes terbakar, atau apalagi bercanda dikandang macan saat macan sedang tidur. Kaidah sederhana yang kadang kita suka lupakan, bahkan silent tanpa terdeteksi gejalanya, tahu-tahu saat gejalanya membesar sulit untuk dikendalikan.
Ada berita sederhana (okezone.com, 3 Mei 2011) baru-baru ini tentang korelasi marak dan meningkatnya perceraian dikota Bandung; Jawa Barat akibat kecanduan update status dan comment di Facebook. Itu yang terlihat dengan indikator yang sangat jelas, bagaimana dengan perzinahan lain yang 'terselubung' (zinah mata dan hati) didunia maya? pasti lebih dasyat dan bervariasi dari itu.
Mungkin berawal dari update status hingga saling mengomentari status yang secara sengaja atau tidak disengaja tergelincir penggunaan kata - kata mesra atau menggoda. Atau yang sadar atau tidak membuka profile/foto teman lawan jenis yang menimbulkan syahwat atau kenangan hati tertentu (CLBK). Aktivitas inilah yang akhirnya memicu kecemburan pasangan dan berujung pada ketidak harmonisan keluarga hingga munculah perceraian. Inilah selingkuh kecil versi era millenium-modernisasi-globalisasi dunia maya yang berefek sangat besar.
Ternyata keadaan ini sangat sinkron dengan keresahan ulama mesir mantan komite fatwa Al Azhar; Syaikh Abdul Hamid Al-Atrash (03/02/2010) yang pada akhirnya memberikan statemant mengharamkan jejaring sosial tersebut dengan alasan syar'i meningkatnya angka perceraian dan semakin tersebarnya perzinahan, walaupun pernyataan keresahannya itu ditunjukan bagi masyarakat Islam dengan spesifitas yang tinggi, pada satu tahun yang lalu. Tapi sangat memungkinkan terjadi pada masyarakat umum, dan terbukti sekarang.
Yang sudah berstatus saja akhirnya kemudian dapat tergelincir, apalagi yang belum berstatus alias masih single, teman!Sangatlah besar kemungkinan terperangkap fitnah ini.Sekali lagi,berbahaya sangat teman, jika tidak memahami ATURAN SYARIAH dan KEDEWASAAN dalam berinteraksi didunia maya maupun realita. Newbie (pengguna baru) atau facebookiyah (jama'ah facebook) pasti akan terkena dampak sydrom ini, hingga kedewasaan (bijak) dan kesadaran akan aturan interaksi itu harus timbul dengan perjalanan waktu dan hikmah.
Hal ini juga yang menjadi keresehan dan keyakinan saya untuk berhenti menggunakan facebook pada kondisi status tersebut (single) saat itu, walaupun Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai referensi itjihad saat itu membolehkan (tidak mengharam) dengan beberapa persyaratan tentunya.
Sarana media itu bagaikan senjata pistol "The man behind the gun" (moga bener nih idiom bahasanya para holigan..hehehe,maklum dah), tergantung siapa dan untuk apa digunakannya. . Pertanyaannya, bagaimana dengan jejaring sosial milik muslim, seperti pencerahanhati.com atau salamsalim.com dan lain -lainnya?bisa sama saja,juga bisa berbeda hasilnya, tetapi diharapkan kontrol sosialnya lebih baik, karna lebih banyak orang baik, dan misi untuk bergabung dalam jejaring sosial itu sudah cukup jelas untuk berbagi kebaikan.
Saatnya mengembalikan sarana (facebook,salimsalam, pencerahanhati.com dan lain...) apapun yang kita pakai pada esensi fungsinya dengan bijak. Dan saya rasa mereka-mereka juga para pendiri jejaring sosial tersebut pasti memiliki niat membuat itu untuk tujuan mulia, tujuan kebaikan bersama. janganlah menodai niat mulia-mulia mereka hingga kita juga dapat terhindar dari selingkuh - selingkuh kecil itu. Seperti saya (dengan status baru: triplo) yang akan coba kembali online di jejaring-jejaring sosial dan kembali aktif (menyeru) didunia maya dengan lebih bijak dan terjaga, Insya Allah. Bagaimana dengan (pendapat) anda?.
lihat tulisan2 lain di www.izzatulgumam.blogspot.com
(Tambun 25/05/2011)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment