Wednesday, April 30, 2008

YOUNG PHARMACIST COMMUNITY (be here, to care and share)

Apalah arti air tanpa wadah, sebab menjadi sunnahtullah bahwa air selalu akan ‘taklid’ pada wadah apapun yang ditempatinya. Jika yang ditempati adalah bendungan maka dihasilkan tenaga listrik menerangi seluruh desa atau kota. Berdaya gunalah kekuatan pemuda, walau hanya sekedar kekuatan berkumpul, hanya sejenak kekuatan bercerita (share) dan seketika hanya untuk kekuatan kepedulian (care). Tetapi jika tanpa wadah!wah, ibarat air sungai tanpa bendungan hanya akan mengikuti kemana dataran rendah tak tentu arah, tak tentu kemana, semakin jauh semakin bercabang dan semakin menampakkan lemah debit arusnya. Jika pun ada maka keberadaannya akan tidak diakui, jika berbicara dan bercerita hanya sekedar gosip tidak memberikan imbas dari sebuah kekuatan statement untuk merubah sebuah prilaku pribadi atau instansi, serta jika mau peduli pun tidak memberikan pahatan ‘goresan’ kepedulian yang nyata oleh perjalanan sejarah yang ada.

Jadi apa yang menjadi akar masalah jika kuantitas air sudah jelas kaya, berlimpah dan wadahpun sudah terbentuk, bahkan sebagian kalangan menjadikan farmasi UI icon tersendiri (katanya) sebagai air yang berkualitas, air ‘pintar’ dan air berkhasiat. Semoga seperti yang diharapkan, tidak membuat malu bendera Indonesia yang sebenarnya sudah merdeka tetapi masih terjajah dengan budaya klasik, kamuflase dan budaya feodalisme tanpa kita sadari tapi kita rasakan. Apakah memang karena enggak sadar atau baru engeh kalau yang menjadi beberapa alasan keinginan merdeka dan membuat kita merdeka adalah karena kita sudah bosan jadi budak, kita sudah bosan diperdaya, tapi kita masih punya kekuatan yaitu kebersamaan, satu kondisi, satu penderitaan, sama – sama menderita dari sabang sampai merauke dan kita ternyata juga punya malu kalau kita adalah pemuda, pemuda yang akhirnya tahu malu kalau kita punya tugas merebut kemerdekaan dan membangun kejayaan pemuda. Terlambatkah?tidak juga..

Dua kekuatan yang harus ada dalam hikmah pembuatan bendungan (wadah) ini, bendungan yang kokoh bukan hanya berasal dari bahan – bahan terpilih kekuatannya tapi juga karena arsiteknya yang handal membuat disain kerangka yang kokoh hingga sebanyak apapun air yang nanti akan tertampung mampu tertahan dengan baik, lain dari itu kekayaan tashawur arsiteknya harus juga bermain disini, yaitu positioning mengatur letak strategis dimana layaknya bendungan itu diposisikan agar menjadi ‘art of positioning’ dan daya tarik sendiri. Kekuatan lainnya adalah air nya itu sendiri, ternyata air yang katanya ‘pintar’ dan berkualitas tak mengindikasikan kalau air itu mampu berorganisasi dengan baik (walau tidak general), memang benar kelebihan kekuatan apapun hanya akan mampu membuat tingkat egoisme dan kesombongan yang lebih tinggi dari siapapun yang merasa dirinya biasa – biasa saja. Indicator nyata saat teman YPC menceritakan antusias kampus yang tingkat kejumudan akademisinya rendah lebih banyak yang antusias dan lebih banyak yang hadir ketimbang beberapa kampus yang tingkat kejumudan akademisinya tinggi dalam kegiatan sosialisasi YPC road to kampus.

Bendera farmasi kali ini masih dipegang kalangan tua dan tidak ada koreksi dari kalangan muda, siklus sejarah yang membahayakan jika pemuda mulai mandul apresiasi dan ekspresi….Sekedar gumam mengulang menyambung lidah ketua forum komunitas ini saat sosialisasi lalu, YPC minimal sekali butuh kuantitas air kali ini, air yang bersumber dari kampus manapun yang mengaku dirinya pemuda farmasi, pemuda farmasi yang masih peduli dengan keprofesiannya. Oleh sebab itu marilah bergabung dengan YPC sebagai satu – satunya bendungan air – air pemuda kepedulian profesi di Indonesia untuk bersama be here, to care and share….Selamat bergabung pejuang farmasi!!(Izzatulgumam;290408 Onan Said Kost)

Monday, April 28, 2008

TUMPUAN HARAPAN (Kapan Nikaaah?)

Beberapa hari ini sebuah keadaan yang membuat ku agak tersenyum sejenak, malam di bangku pelataran depan kost sambil memandang cakrawala langit yang terhias bintang, ingin sekali berfikir tentang bintang yang kapan akan berani ku tunjuk salah satunya, sebagai penerang jalan dan penerang jiwa. Semua sinarnya hampir menunjukkan kekuatan cahaya yang sama, semuanya pun memberikan cahaya keindahan untuk permata pandangan ‘laillan’.

Mengingatkan ku pada kejadian yang sangat tidak biasanya, evaluasi mengkalkulasi kejadian yang sama tidak biasanya berulang dalam jumlah melebihi batas yang seharusnya, dalam waktu yang bersamaan juga. Entahlah, jika makna tafsir pada suatu ayat yang diulang dalam Al qur’an biasanya berupa penegasan, teguran tentang kapasitas nilai urgensi atau Allah sedang mereview kejadian agar mengingatkan bahwa adanya korelasi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Minggu ini menjadi sebuah rangkaian renungan dikala telinga mendapatkan ‘teguran’ berturut – turut, terlebih teguran itu datang dari orang – orang yang memang secara spontan kita kenal baik masuk dalam mihwar ukhuwah hingga orang yang kurang mengenal dengan baik siapa dan bagaimana keadaan kita sebenarnya.

“ini…, dari anak saya ” ujarnya sambil menatapku dengan senyum khas saat telepon yang diterimanya selesai ditutup, menyita waktu ku saat bimbingan skripsi dan praktek langsung dikomputernya tentang aplikasi statistik (Matlab: ANN ‘Artificial Neural Network’) yang akan ku pakai untuk mengolah data ouput. Ia pembimbing ku pada skripsi kali dan hari itu adalah bimbingan yang ke-3. Diruangannya memang terlihat beberapa foto kedua anak dan istrinya, anak perempuan dan istrinya berjilbab. Aku baru tahu itu…

“kamu sudah menikah?” tanyanya tanpa basa-basi masih dengan senyum, entah apa menurut ku yang ada dibenaknya hingga sekelas dosen seperti ia mau mengeluarkan potongan hati untuk masalah pribadi seperti ini hingga fibrasi pita suaranya membuat frekuensi untuk kalimat itu, sebab yang ku tahu dosen – dosen UI sangat intropet sekali membicarakan masalah pribadi pada mahasiswanya, apalagi untuk anak program ekstensi. Pastinya apa yang ditanya kali ini adalah mungkin bagian dari interpretasinya selama bimbingan yang cukup menggambarkan prediksi tentang siapa aku, walaupun kita sebelumnya dan sekarang masih masuk pada ‘zona hitam’ pada wilayah saling ketidak kenalan dan tidak pernah membahas hal itu.

“belum pak” agak malu dan rona wajah ku yang gugup, sulitnya mengubah eksprsi tingkat keseriusan menjadi kondisi ekspresi lain dalam situasi pertanyaan seperti ini pada orang yang kurang kita kenal tapi kita hormati. “kapan?”tanyanya kembali dengan riang, berharap mengubah suasana. Aku sempat terdiam, dan tidak menyangka pertanyaan sampai sedalam ini “inginnya sih segera pak!”,ku iringi dengan memaksa tersenyum, aku berharap jawaban ini menjadi jawaban standar syar’I yang juga ingin mengubah tingkat keseriusan pertanyaan penanya. “ya, jika ingin dicarikan, saya bisa mencarikan..” ucapan itu membuat ekspresinya lebih riang dari sebelumnya, aku yang malah semakin bingung dan terdiam, sebab ini bukan masalah biasa jika dihadapkan pada pertanyaan lanjutannya….

Bukan hanya kejadian ini saja, banyak kejadian lain yang cukup mengejutkan untuk minggu – minggu ini, selepas ba’da kejadian itu. Malam setelah malamnya, seorang ikhwah mabit dirumah karena kemalaman ba’da rapat forum kebaikan kami yang kebetulan dilaksanakan malam di Bekasi. Kasusnya mirip – mirip, yaitu ‘menawarkan’ tapi hal ini lebih dramatis. Angin kestiqohan apalagi hingga penawaran itu ditujukan kepadaku. Sekilas ia menceritakan kenapa akhwat ini ingin segera di nikahkan, keluarganya tertimpa musibah kebakaran dikarenakan kompor gas dirumahnya bocor. Kerugian materi yang tak terelakan, rumahnya hangus begitupun beberapa rumah tetangganya yang terimbas percikkan menuntut ganti rugi, yang lebih mengenaskan beberapa keluarganya dirawat dirumah sakit dan ayahnya sedang sekarat, luka bakar hebat yang ditambah dengan komplikasi penyakit diabetes yang dideritanya,sekarang sedang dilakukan perawatan yang intensif. Bukan kisah dongeng melainkan kejadian nyata. Menikah untuk sebuah performan kekuatan mental, spiritual dan material yang baru, menopangnya dalam koridor keikhlasan da’wah adalah bagian dari konsekuensi berjama’ah. “gimana akhi, pendapat antum?” Aku hanya tertunduk diam yang cukup membahasakan tubuh tentang keadaan ku kini….

Lain dua kejadian ini, tentang akhwat yang meminta alamat email ku dan beberapa waktu setelahnya di inbox ku pun penuh dengan pertanyaan penawaran dan kesiapan. Via SMS bahkan terjadi, dan kuanggap hal ini yang sangat tidak ahsan. “afwan akh, ana punya pertanyaan ke antum, “Apakah antum siap nikah?kriteria?bagaimana pendapat antum tentang nikah beda fikrah?” jika bukan karena kredibilitas akhwat tersebut yang menanyakan, tidak akan pernah ku jawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang cukup sensitive sekali bagiku, terlebih jika seorang akhwat belum menikah yang menanyakan, via SMS pula!. Ternyata usut punya usut akhirnya berbuah bayyan (penjelasan) dan pengakuan. Akhwat tersebut mempunyai teman yang dahulu pernah Tarbiyah tetapi karena problematika keterpakasan keadaan harus berpindah pada fikrah lain (hatinya masih Tarbiyah),momentum maksud menanyakan maksudnya kali ini disebabkan akhwat ini berkeinginan menikah. Mungkin sebagai sahabat terbaiknya, ingin sekali menariknya untuk kembali dengan mencarikan ikhwan untuk pasangan hidupnya.”Kenapa harus aku?” kembali pertanyaan yang sempat terlontar pada wilayah penasaran ku. Beliau hanya menjelaskan bahwa kekuatan magnet dan mental da’wah ku (katanya) sanggup mampu menarik itu, mungkin karena beliau memang kenal sekali dengan ku dan aktifitas da’wah ku. Padahal aku sendiri pun tak yakin dan tak mampu menjamin dari apa yang dipersepsikannya selama ini,toh…tiap manusia selalu dipermanenkan dengan fluktuasi keimanan dan fluktuasi semangat.Aku hanya bilang, masih ada proritas utama dalam hal ini, kasihan akhwat – akhwat dalam internal jam’ah kita sendiri jika mereka harus menanggung dua beban yang berat sekaligus, menanggung beban da’wah ini mengurus kaumnya yang semakin berat dari hari kehari juga harus memikirkan menanggung beban melawan umur dengan jumlah yang sangat timpang antara kuantitas akhwat dan ikhwan. Tega dan adilkah kita?

Aku sangat setuju sekali dengan pendapat akh Harry dari perbincangan dan diskusi kecil ku beberapa waktu dalam hal ini. Kasus ‘penawaran’ yang tidak juga salah,sah- sah saja untuk matrix persilangan antara kepentingan dan kebutuhan menjadi tarikan tersendiri dengan fenomena da’wah yang tidak sebanding antara kuantitas ikhwan-akhwat. Tetapi tetap seharusnya Tarbiyah itu tertib, rapih dan sistematis.Dalam Tarbiyah semua punya mekanisme, semua diatur untuk menjadi teratur, inilah fungsi sunnah yang ditebarkan dalam alam semesta untuk dibenamkan ke bumi, agar semuanya teratur pada garis edarnya, pada maksud tujuannya. Semua punya hak menawarkan pada keikhlasan kepentingannya dengan pola kesyar’ian, tapi sudahkah pada bagian yang mampu lebih mendewasakan da’wah tingkat kecerdasan fikiran kita untuk membuat prioritas – prioritas dalam masalah ini, seperti: apakah sudah terlebih dahulu mengkoordinasikan kepada jama’ah (MR) sebagai prioritas utama?selanjutnya, jika murobbi tidak menyanggupi, apakah sudah bertanya kepada teman halaqoh selaku bagian dari usrah yang paling bisa dipertanggung jawabkan ketsiqohannya?Ternyata, jika tidak ada jawaban juga, apakah keluarga sudah dimintakan porsinya untuk hal ini, sebagai orang yang mengenal kita sangat dekat bagaimana dan siapa kita sebenarnya, misalnya adik atau kakak kita yang juga Tarbiyah?barulah jika urutan element ini sudah terlewatkan, bagian lain boleh bicara untuk menawarkan. Da’wah yang sudah cukup membesarkan kita seharusnya cukup punya hak untuk masalah ini, tapi tidak juga menghilangkan nilai fleksibilitas dan pengekangan kejiwaan manusia tentang kebutuhan ‘selera’ pribadi, keluarga dan da’wah itu sendiri. Keproporsionalan penggabungan visi dan selera yang akan mampu menumbuhkan keharmonisan kelanggengan da’wah itu juga nantinya.

Apakah hikmah selanjutnya, menurut ku, siapa pun kita menjadi sebuah normalitas umum jika dihadapkan pada jumlah banyak pertanyaan ‘kapan’ selalu akan terkorelasi berturut – turut dengan focus waktu, focus kesiapan, dan focus menjadi tumpuan harapan. Sebagai contoh konkret sama hal nya saat orang tua kita bertanya “kapan lulusnya Nak?” atau “Kapan selesai skripsinya?”. Saat hal itu menghantui, pastikan kita sadar dan mempersiapkan dengan serius jangan sampai banyak orang menunggu terlalu lama, menunggu terlalu bosan hingga permasalahan yang sebenarnya bisa diselesaikan malah timbul masalah baru; masalah waktu yang mencekik karena telat dan lama loadingnya dan masalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Maka doakanlah untuk siapa pun yang sedang berlomba berjuang melawan waktu, agar kecepatan, keberkahan dan ikhtiarnya mampu melewati waktu yang ada tersedia…….Al waqtu minal ilaj.Wallahua’alam

.(Izzatulgumam;280408, Bekasi;my room)

ONAN SAID - KOST (Welocome to Tarbiyah)

Genap hampir 3 tahun aku menghuni kost ini, sungguh nyaman sekali tinggal di kost, mungkin karena settingan mirip dengan settingan keadaan villa puncak, lengkap dengan lapangan rumput footsal, kebun dan kolam ikan yang cukup menyejukkan pandangan. Nyaman untuk belajar, fresh untuk olah raga dan cukup kondusif bila ingin melakukan kontemplasi. Lain dari itu semua yang membuatku betah hingga kini adalah makanan masakan warung “mae” penjaga kost yang hampir mirip dengan masakan ibu dirumah, bahkan jika lapar mendadak kita tak harus keluar kost, cukup menelpon atau SMS saja, dan hilanglah dalam sekejap lapar yang menghantui ku di kala qiyamullail dengan layanan antar, warkop Onan Said online 24 jam.

Onan Said kost merupakan basecamp kami dengan berbagai ‘fikrah kampus’ yang berbeda, semua yang berkumpul dikost ini berasal dari ‘fikrah’ alumni D3 UI, Poltek Farmasi Depkes, Hangtuah, AKA Bogor yang melanjutkan ke ekstensi UI dan kadang kedatangan juga tamu lain yang mengaku member Onan Said sejati insidensial yang sudah pada berkerja untuk menginap hanya sekedar untuk memendam rindu, sharring, membunuh sepi dari kejombloan (mirip-mirip ikhwan atau memang pada kagak laku..:D) dan ada beberapa untuk kepentingan ‘bisnis’, oleh sebab itu jangan kaget jika malam sabtu dan malam ahad kapasitas dua kamar yang ada overload (ane tidur dimana nih akhi?..he3x)…open house. ya, itulah indahnya ukhuwah dalam hati yang selalu ingin bersilahturahmi.

Dari setiap hari selalu saja ada keadaan istimewa bagi insan yang selalu bersyukur, ternyata benar sari hikmah hanya mampu bercerita dengan kumulasi hari – hari istimewa sebelumnya yang terpadatkan, terperas dan terfermentasi oleh tekanan amal kebaikan dari tiap penghuninya, maka sewaktu - waktu tertentu itulah akan keluar tetesan sarinya...sedikit – demi sedikit tapi pasti. Terkadang perlu momentum, adakalanya juga berjalan alamiyah.

Inilah sari hari istimewa itu, semua menunggu dan semua menantikannya. Agenda yang merupakan idea besitan yang lebih lama dari masa kuliah ku di Farmasi UI. Tak hanya aku saja yang bersiap, semuapun berusaha bersiap mengambil bagian untuk agenda ini: halaqoh (LQ) perdana Onan Said kost. Aku yang mengkoordinasi peserta dan membeli makanan kecil, akh Firman menghubungi ustadz, selebihnya akh Amat yang bersih – bersih menyiapkan kamar kost yang akan dipakai untuk kumpul yang kebetulan sedang tidak ada jadwal nge-lab, maklum! dan hikmahnya, kost yang biasa hari – harinya seperti kapal pecah menjadi lebih ‘agak’ sedikit rapilah, apalagi keadaan tempat tidur ku yang sangat parah tak layak disebut tempat tidur coz hampir sebagian kasur terisi oleh buku – buku Islam dan buku lain berserakan karena sering ketiduran saat membacanya.

Menurutku sungguh beruntung teman – teman berhalaqoh kali ini dan memang seharusnya muslim selalu mendapatkan keberuntungan, bukan?. Sangat jarang jika pertama halaqoh langsung mendapatkan murrobbi seorang ustadz lulusan LIPIA yang cukup baik ilmu dan pengalamannya dalam berislam. Halaqoh yang dipimpin oleh seorang ustadz salah satu pendiri Tarbiyah Center (Depok), beliau juga salah satu pengisi rubrik ‘Tanya Jawab Seputar Islam’ di majalah Islam Tatsqif.

Ustadz yang ditunggu akhirnya datang pas ba’da isya, beberapa peserta ada yang belum hadir, terlebih memang ketidak hadiran masih dalam alasan syar’i. Akh Ben dengan meninggal neneknya (innalillahi wainnailaihi roji’un); semoga Allah memberikan kekuatan kesabaran bagi yang ditinggalkan, akhi mozaik yang ketika dihubungi masih lembur di kantor; semoga aktifitasnya mendapatkan berkah yang melimpah, amin. Entahlah apa yang dibenak ustadz kali ini, saat setelah perkenalan beliau memberitahukan statusnya dengan kami dan mengetahui keadaan (umur) kami jadi menyerempet – nyerempet tema bab mencari jodoh dan menikah…..whats wrong?, maksud awal pertemuan sebenarnya yang tadi hanya perkenalan, sherring metodologi dan mengatur kepastian jadwal selanjutnya, eeeeh, malah jadi menyerempet jauh ke bab ini…rawan, sensitive, senyum dikulum dan memang agak tersinggung oleh umur semuanya, semoga sadar dan menyadarinya.

Sedikit banyak ada beberapa hal baru yang dikupas oleh ustadz dalam bab itu, antara lain : mengenai alasan menikah yang harus baik niatnya, tentang apa itu taaruf yang ternyata budaya jawa juga melakukan hal yang sama, membedakan antara tergesa – gesa dan menyegerakan bagi teman – teman yang akan menikah di bawah umur standar sunnah, urgensi 100% keyakinan dan azzam dalam menentukkan keputusan menikah, atau tentang kenapa harus tidak boleh terlalu lama antara proses taaruf dan khitbah yang hikmahnya semakin lama akan semakin timbul banyak keraguan dan kemaksiatan, membahas juga tentang bahayanya menikah di atas batas umur standar sunnah, kenapa?sebab semakin bertambah umur diatas batas standar akan semakin banyak pertimbangan dalam memilih calon dan semakin pula lah sulit untuk menikah, dan terakhir yang sungguh menjadi renungan bersama adalah tentang hasil research seorang ustadz mengenai 2 kemungkinan yang terjadi jika pada umur 25 keatas sulit belum menikah selain pertimbangan lain diatas:

1. Tidak normal ( tidak seimbang)

Ya, sayap – sayap yang hanya sebelah, kaki – kaki yang kokoh tapi pincang dan ruh yang kuat tapi tidak ‘lembut/halus’.

2. Suka dan lebih mudah melakukan banyak maksiat.

Ini Depok bung!! Mirip mirip prilaku wanitanya sama dengan Jakarta,….wah sereem. Sulitnya menjaga pandangan, diri dan hati.

Materi awalan yang cukup mengena walau hanya awalan saja, semoga hingga proses terus berlanjut menjadi buah – buah bekal tersendiri menapaki jenak – jenak Tarbiyah dibenak ‘member Onand Said kost’…Tak ada kebaikan dan kebathilan yang tanpa rintangan, masalahnya sederhana, saat Allah sedang menguatkan kita dalam kebaikan apakah hal itu akan kita sia – siakan atau kita optimalkan dengan baik? Sesungguhnya akhir lebih baik dari pada awal. Dan siapakah yang dapat menebak dan menjamin apakah kita masih hidup esok, lusa atau bahkan hari dan jam ini?Keep Istiqomah akhi.wallahu’alam

(Izzatulgumam;270408 Bekasi;my room).

Friday, April 18, 2008

KISAH INI, SEJARAH KAMI


Kisah ini adalah sejarah kami
Sekeping hati, segenggam harapan, seberkas mimpi
Membelakangi isti’jal, memalingkan laghwi
Dan sebab fikrah bergandengan, memeluk hangat da’wah kini

Kisah ini adalah romantika kami
Khusyu mencoba menghantar bersama seikhlas senyum da’wah ini
Komitmen klasik filtrasi memilah ikhlas menjaga hati
Semoga tombak ikhlasnya tetap terasah, tetap tajam terjaga
Menusuk kerdil, membunuh sunyi dan sepi.
Dan tetaplah tunjuk satu bintang untuk cita diatas cahaya-Nya yang abadi.
(Izzatulgumam,Depok 180408)

Wednesday, April 16, 2008

LAGI, SOAL SASTRA ISLAM

Berbicara mengenai sastra Islam di Indonesia hampir mengandung polemik. Polemik tersebut bahkan tak beranjak dari hal itu – itu juga, yaitu pro dan kontra mengenai apa yang disebut sebagai ‘pengotak-ngotakan sastra’, serta masalah definisi dan criteria sastra Islam. Uniknya, pihak yang tidak setuju dengan istilah atau konsep ‘sastra Islam’ justru di dominasi oleh kalangan muslim sendiri.

Edy A. effendi yang jebolan IAIN pernah menyusun buku esai sastra (tak diketahui terbit atau tidak) yang mengusung judul : ‘menolak sastra Islam’. A.A. Nvis bahkan pernah berkata bahwa sastra Islam adalah sesuatu yang utopis untuk saat ini.1 Sementara Putu Arya Tirtawirya dalam buku Antolgi Esai dan Kritik Sastra (1982) menulis, “Sastra adalah satra, saudaraku, tak perlu dikotak-kotakkan, Tak usah dibuat pening”.

Sebaliknya, Abdul Hadi W.N, dalam salah satu seminar tentang sastra profetik yang menghadirkan Suminto A. Sayuti, saya, serta Kuntowijoyo sebagai pembicara, Mei 2000 lalu di Yogya, mengatakan bahwa sastra Islam itu ada, bahkan eksis. “Sastra Hindu saja ada, mengapa sastra Islam tidak ada?”katanya.

Dalam makalahnya “Islam, Puitika Al qur’an Sastra”. Ia menambahkan bahwa pandangan dan anggapan yang meragukan nisbah Islam dengan sastra dan kesangsian bahwa terdapat sastra Islam dengan tema, corak pengucapan, wawasan estetik serta pandangan dunia tersendiri, pada umumnya timbul untuk menafikkan sumbangan Islam terhadap kebudayaan dan peradabban umat manusia. Sebagian anggapan berkembang karena semata kurangnya perhatian orang Islam dewasa ini terhadap sastra dan tiada apresiasi dikalangan ulama, pemimpin, dan cendikiawan muslim.2

Namun, disisi lain, yang perlu dikritisi dari Abdul Hadi W.M adalah bahwa dalam setiap pembicaraan dan tulisan tentang sastra Islam, ia hanya terpaku pada karya – karya lama dari Abdullah bin abdul Kadir Munsyi, Hamzah Fanshuri dan semacamnya. Paling jauh membahas Amir Hamzah dari angkatan punjangga baru, atau hanya membahas karya – karya sastra Islam dari penulis luar semisal Attar, Jalaludin Rumi dan Muhammad Iqbal. Padahal, pandangannya mengenai perkembangan sastra Islam kontemporer di Indonesia pasca pujangga baru juga sangat dibutuhkan.

Begitup pula dengan A. Hasjmy yang memiliki perhatian besar terhadap kesusastraan Islam. Ia lebih banyak membahas karya para pengarang hikayat Aceh atau lagi – lagi berhenti pada angkatan Pujangga Baru, hingga ia meninggal. Sementara Ali Audah yag tertarik dibidang tersebut, lebih sering membahas sastrawan – sastrawan Islam dari Timur Tengah atau Mesir.

Pembahasan tentang sastra Islam kontemporer di Indonesia menjadi sangat minim kalau boleh dikatakan nyaris tak ada. Jangankan pembahasan karya, apa itu sastra Islam saja sampai saat ini masih kabur alias tak ada rujukan yang jelas, baik dari para sastrawan sendiri, kritikus maupun ulama.

Sebenarnya cukup banyak sastrawan muslim yang memberikan istilah sendiri pada karya sastra yang dibuatnya yang mengarah pada ‘sastra Islam’. Istilah – istilah tersebut berakar pada wacana keimanan atau religius yang dibawanya. Ada yang menyebutnya sastra pencerahan (Danarto), sastra profetik (Kuntowijoyo), sastra sufistik (Abdul Hadi W.M), sastra dzikir (Taufik Ismail), sastra transenden (Sutardji Calzoum Bachri), dan sebagainya.3 namun, selain Abdul Hadi W.M, tak satu pun yang mengindentikkan penyebutan tersebut dengan sastra Islam, walau sebenarnya hal tersebut tak bisa dinafikkan, merupakkan tafsir lain dari sastra Islam.

Tulisan ini akan memaparkan beberapa hal tentang sastra Islam, Terutama menyangkut definisi dan ciri hngga mengapa sastra Islam tetap diperlukkan hingga saat ini.

Menurut saya, tulisan seperti ini dibutuhkan mengingat banyak masyarakat muslim yang merasa perlu untuk mengetahui apa dan bagaimana sastra Islam itu. Tak sedikit pula diantara mereka yang berkeinginan menulis karya yang bernuansakan Islam, menyumbangkan sesuatu yang berarti bagi perkembangan sastra Islam di Indonesia. Mereka memerlukan semacam ’acuan’ mengenai sastra Islam. Belum lagi khalayak yang merindukkan kehairan karya – karya yang bernuansakan Islam.

Polemik tentang sastra Islam selama ini membuat cukup banyak kalangan bingung dan terus mencari – cari informasi tentang hal tersebut. Apalagi perihal sastra Islam jarang disingggung oleh para sastrawan, kritikus bahkan ulama karena tidak atau belum dianggap sebagai sesuatu yang penting, sebagaimana yang disinggug oleh Abdul Hadi W.M.

Padahal, dalam konteks Islam, semua yang dilakukan seorang muslim seharusnya merupakan bentuk ibadah dari ibadahnya kepada Allah, termasuk dalam berkesenian dan bersastra, sebagaimana yang dikatakan Allah “ Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia elainkan untuk eribadah kepadaku”.4

Islam juga merupakan sistema hidup yang lengkap yang tidak memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Segala yang kita lakukan didunia akan memberikan dampak di akhirat nanti. Secara khusus pula dalam Al qur’an, Allah menyuruh para sastrawan untuk beriman dan beramal shalih.

Dan para penyair itu diikuti oleh orang – orang yang sesat. Tidaklah engkau melihat sesungguahnya mengembara pada tiap – tiap lembah. Dan sesungguhnya mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan. Kecuali orang –orang yang beriman dan beramal shalih dan banyak mengingat Allah, dan mereka mendapat pertolongan sesudah mereka dianiaya. Dan orang – orang yang zhalim itu akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali (Q.S Asy Syu’ara: 224-227)

Definisi dan Ciri Sastra Islam

Sastra dalam bahasa Islam (Arab) disebut adab. Mungkin benak kita akan langsung mengaitkannya dengan kesopanan. Sudah tentu untuk menjadi manusia yang baik haruslah beradab. Namun, definisi ada dalam sastra jauh lebih besar daripada itu.

Menurut Shauqi Dhaif, adab (sastra) adalah karya yang dapat membentuk kearah kesempurnaan kemanusiaan yang didalamnya terkandung ciri estetika dan kebenaran.5 Dalam Islam, sastra haruslah mendorong hasrat masyarakat untuk menjadi pembaca yang baik. Masyarakat yang menjadi target utama pemahaman kesusastraan. Jadi, sastra Islam lebih mengarah pada pembentukkan jiwa.

Definisi seni dan sastra Islam menrut Said Hawa dalam bukunya Al Islam III, adalah seni/sastra yang berlandaskan kepada akhlak Islam. Senada dengan Said Hawa, menurut Ismail Raja Al Faruqi, seni Islam adalah seni infiniti (seni ketakterhinggaan), dimana semua bentuk kesenian di akomodir pada keyakinan akan Allah. Ia juga menyatakan bahwa ekspresi dan ajaran Alqur’an merupakan bahan materi terpenting bagi ikonografi seni/sastra Islam. Dengan demikian, seni Islam dapat dikatakan sebagai Qur’ani.6

Harun Daud berkata, “ tujuan kesusastraan adalah untuk mendidik dan membantu manusia kearah pencapaian Ilmu yang menyelamatkan, bukan untuk membentuk makna spekulatif. Sebuah karya sastra atau karya seni dalam Islam adalah alat atau bantuan dan bukannya pengakhiran realita itu sendiri.”7 Sementara menurut Shanon Ahmad, bersastra dalam lslam haruslah bertonggakkan Islam, yaitu sama seperti beribadah untuk dan karena Allah.8

Dalam manefestasi kebudayaan dan kesenian Islam 13 Desember 1963 di Jakarta- yang dideklarasikan untuk merespon Lekra dan Manifestasi Kebudayaan 17 Agustus 1963- para seniman, budayawan Islam, beserta para ulama yang dimotori Djamaludin Malik, menyatakan bahwa yang disebut dengan kebudayaan, kesenian (kesusastraan) Islam ialah manifestasi dari rasa, karsa cipta, dan karya manusia muslim dalam mengabdi kepada Allah untuk kehidupan umat manusia (I’art par die et I’art pour huanite) yang dihasilkan oleh para seniman muslim bertolak dari ajaran wahyu Ilahi dan fitrah insani

Setahun sebelumnya, Majelis seniman dan budayawan Islam yang diantaranya terdiri dari Hamka, M. Shalih Suady dan Bahrum Rangkuti dalam bab tentang sikap Islam terhadap kebudayaan dan kesenian, mengatakan bahwa tujuan kebudayaan pada umumnya dan kesenian pada khususnya tidaklah semata bertujuan ‘seni untuk seni’ atau ‘seni untuk rakyat’ tetapi harus diluhurkan menjadi: ‘seni untuk kebaktian kehadirat Allah’ yang dengan sendirinya mencakup tujuan memajukkan kesenian yang bermanfaat lahir batin untuk perikemanusiaan.9

Apakah sastra Islam harus lahir dari tangan seorang muslim? Jwabannya: “ya.” Kalau ada karya yang menyentuh atau menyinggung aspek keIslaman, namun ditulis oleh non muslim, maka karya tersebut tak dapat dikatakan sebaga sastra Islam, namum bisa disebut sebagai karya yang bersumberkan Islam. Mengenai hal ini akan diuraikan kemudian.

Lantas, ciri – ciri apalagi yang menandakan sebuah karya sastra masuk kategori sastra Islam?

Tidak sulit mengenalinya. Sebuah puisi, cerpen atau novel Islam, misalnya, tidak akan melalaikan pembacanya dari dzikrullah. Ketika membaca, kita akan diingatkan kepada ayat – ayat kauliyah maupun kauniyah-Nya. Ada unsur amar makruf nahyi munkar- dengan tanpa menggurui tentunya- ibrah dan hikmah. Ia kerap bercerita tentang cinta. Baik cinta pada Allah, Rasul-Nya, perjuangan dijalan-Nya. Cinta pada kaum muslimin dan semua mahluk Allah: sesama manusia, hewan, tumbuhan, alam raya dan sebagainya.

Ciri lainnya, karya sastra tidak akan pernah mendiskripsikan hubungan badani, kemolekkan tubuh perempuan atau betapa ‘ indahnya’ kemaksiatan, secara vulgar dengan mengatasnamakan seni atau aliran sastra apapun. Ia juga tak membawa kita pada tasyabbuh bi kuffar, apalagi jenjang kemusyrikan.

Sastra Islam akan lahir dari mereka yang memiliki ruhiyah Islam yang kuat dan wawasan keIslaman yang luas. Penilaian apakah karya tersebut dapat disebut sastra Islam atau tidak bukan dilihat pada karya semata, namun juga dari pribadi pengarang, proses pembuatannya hingga dampaknya pada masyarakat. Sastra Islam bagi pengarangnya adalah suatu pengabdian yang lurus dipertanggung jawabkan pada umat dan Allah. Sastra dalam kehidupan seorag muslim atau muslimah adalah bagian dari ibadah. Tak bisa dipetakan secara sendiri. Menurut saya, dalam aplikasinya, segala tema, tehnik dan gaya penceritaan dapat dianggkat dalam karya sastra Islam. Malah, adalah suatu kesalahan bila suatu karya tidak diolah dan dihadirkan secara kreatif sehingga menjelma khutbah. Faktor estetika tentu tak bisa diabaikan.

Jadi, sekali lagi, sebuah karya tak bisa dikatakan Islam hanya karena ia mengambil setting pesantren, mengetenggahkan tokoh ulama, dan menampilkan ritual – ritual keagamaan atau unsur sufistik. Sastra Islam lebih sekedar slogan atau simbol.

Sang pengarang, kehidupan , Islam dan karyanya menjelma satu kesatuan.

Para sastrawan yang memiliki komitmen untuk menghasilkan karya sastra Islam, tidak mengarang semata – mata untuk menjelma menjadi ‘macam kertas’ dengan doktrin sastra untuk sastra. Juga bukan tipikal pengarang yang begitu mengangung – agungkan kebebasan tanpa batas dalam berkreasi dan menelan mentah – menatah perkataan Sartre : Human real ity is free, basically and completely free.

Karya sastra tak dilihat sebagai sebuah karya sastra an sich, seperti Albert Camus dalam buku Mite Sisifus yang berkata bahwa sastra tak boleh memihak apa pun kecuali dirinya sendiri. Sastra tentu saja harus berpihak pada kebenaran dan keadilan, pada nilai – nilai Islam tanpa harus kehilangan nilai estetikannya.

Yang harus dipikirkan juga adalah bagaimana menjadikan sastra sebagai sarana da’wah yang bukan saja memberikan pencerahan fikriyah namun juga pencerahan ruhiyah bagi para pembacanya. Di sinilah peran sastra yang sebenarnya diinginkan oleh Islam yaitu turut ambil bagian dalam mengatasi kerusakan akidah dan akhlak masyarakat.

Maka, dalam konsep Islam yang kaffah, sastra sebenarnya adalah satu kaki dari kaki da’wah lainnya. Dan sebagaimana yang dikatakan para ulama bahwa setiap kita adalah dai “ nahnu du’at qabla syaiin: ( kami adalah penyeru sebelum menjadi sesuatu) maka tentu saja para sastrawan yang menulis sastra Islam tersebut terlebih dahulu memosisikan diri sebagai dai sebelum yang lain. Maka mereka adalah daiyah yang pengarang. Bukan pengarang yang daiyah. Pengarang yang dapat menghasilkan karya sastra Islam tentulah pengarang yang mengetahui dan mengamalkan banyak hal tentang Islam sehingga ia bisa mentranfer nilai – nilai, nuansa, juga ruh keislaman dalam karya- karyanya. Bahrum rangkuti pernah berkata : “ bila Anda ingin menulis karya sastra Islam, ada terlebih dahulu menjadi sastrawan yang beriman serta merealisasikan keimanan dan keislamannya melalui amaliyah yang nyata”.10

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa sedikitnya ada tiga syarat umum sebuah karya sastra dapat dikatakan sebagai sastra Islam.

Pertama, penulisnya adalah seorang muslim yang sadar dan bertanggung jawab akan kesucian agamanya. Kedua, karya kreatif yang dihasilkan hendanya sejalan dengan ajaran Islam dan tidak bertentangan dengan syariah. Ketiga, karya tersebut mempunyai daya tarik universal dan dapat bermanfaat bagi masyarakat mana pun mengingat Islam adalah fitrah.11

Sastra Islam dan Sastra Bersumberkan Islam

Muhammad Pitchay Gani, pengamat sastra dari Singapura, saat menyampaikan makalahnya tentang sastra Islam dalam pertemuan Sastrawan Nusantara ke XI Brunei Darussalam, Juli, 2001 lalu membagi kesusastraan Islam dalam dua bagian, yaitu sastra Islam dan sastra yang bersumberkan Islam.

Menurutnya, sastra Islam adalah semua (bahan) kesusastraan yang dihasilkan oleh penulis yang beragama Islam dalam menyadarkan masyarakat tentang kebesaran Tuhan dan tanggung jawab diri sebagai khalifah Allah. Ini mengingatkan saya akan pandangan serupa dari A. Hasjmy dalam bukunya Apa Tugas Sastrawan Sebagai Khalifah Allah (1984). Sedangkan sastra yang mengetengahkan hal – hal yang berasal dari ajaran Islam. Penulisnya bisa siapa saja, tak harus orang Islam.

Sastra bersumber Islam yang dimaksud Pitchay dikatakan oleh Kuswaidie Syafii, sastrawan muda yang berbasis pesantren, sebagai karya sastra yang Islami.12 Islami disini berarti memiliki sifat – sifat yang sesuai dengan keislaman. Beberapa karya Kahlil Gibran- Sastrawan beragama Kristen Maronit dari Lebanon-misalnya, menurut Kuswaidie sangat Islami. Bahkan lebih Islami daripada yang ditulis oleh sastrawan muslim kebanyakan. Namun, ia juga menolak kalau karya semacam itu dimasukkan dalam kategori sastra Islam.

Bertolak dari konsep ini maka ‘sastra untuk rakyat/ masyarakat’ dan ‘sastra untuk sastra’, selama ia mengusung nilai – nilai universal yang tak bertentangan (atau malah sesuai) dengan ajaran Islam, dapat dikategorikan sebagai ‘ sastra bersumberkan Islam’.

Dibandingkan dengan sastra Islam, sastra bersumberkan Islam jauh lebih banyak. Kita dapat dengan mudah menemuka sastra jenis ini di Indonesia, maupun di dunia pada umumnya. Tentu saja, hal tersebut cukup menggembirakan dan menjadi penyeimbang bagi kehadiran kesusastraan lain yang bertolak belakang atau bahkan menghujat Islam.

Penutup

Akhirnya, sastra Islam dan sastra berumberkan Islam, adalah salah satu alternative dalam memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia.

Kita tahu, Allah tak pernah memaksa manusia untuk memeluk Islam. “Laa ikraaha fiddiin (tak ada paksaan dalam agama).’ Begitu juga tak ada paksaan bagi para sastrawan muslim sekalipun untuk menulis dengan pola yang sudah digariskan oleh Islam, berdasarkan ketentuan – ketentuan yang terdapat dalam Al Qur’an maupun sunnah rasulullah Muhammad saw. Semuanya kembali pada pilihannya masing –masing. Sastrawan yang memilih jalan Islam boleh saja menghimbau sastrawan lain untuk mengikuti jejaknya, namun tak boleh memaksakan kehendaknya, seperti apa yang dilakukan para sastrawan yang dahulu tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memaksa para sastrawan Indonesia untuk menulis dengan memakai ideology mereka sebagai dasar.

Sebaliknya, adalah sesuatu yang bijak bila kita juga menghargai dan menghormati sebagian kalangan sastrawan muslim yang telah memilih sastra Islam sebagai sarana bereskpresi sekaligus sarana mereka dalam beramar makruf nahyi munkar sebagaimana yang diperintahkan Allah.

Mengutip A. Teuw, bagaimanapun, konsep keindahan dan estetika-bukan hanya dalam bidang kesusastraan – amat berbeda antara kepercayaan Islam denga kepercayaan barat sekuler. Sekuler menilai keindahan sebagi freedom of expression, sementara Islam menilai keindahan sebagai sarana untuk menyampaikn kebenaran,13 Allahu a’alam

Cipayung, 2001
Helvy TR

Daftar Pustaka

Al faruqi, Ismail Raja. 1986. Cultural Atlas of Islam. New York: Ac Millan

Audah, Ali. 1999. Dari Khazanah Dunia Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus

Gani, Muhammad Pitchay. “Menemukan Konsep Sastra Islam.” Disampaikan pada Pertemuan Sastrawan Nusantara XI. Brunei Darussalam: 2001

Gazalba, Sidi. 1988, Islam dan Kesenian. Jakarta: Al Husna

Hasjmy, A. 1984. Apa Tugas Sastrawan Sebagai Khalifah Allah. Surabaya: PT. Bina Ilmu.

Hossein Nasr, Seyyed. 1987. Islamic Art and Spirituality. Ipswich: Golgonooza Press.

Kratz, E. Ulrich. 2000. Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Natsir, Muhammad. 1988. Kebudayaan Islam dalam Prespektif Sejarah. Jakarta: Girimukti Pasaka.

Salad, Hamdy. 2000. Agama Seni; Refleksi Teologis dalam Ruang Estetik. Yogyakarta: Semesta.

S.N., Masuri. “Islam dan Sastra Melayu Singapura.” Disampaikan pada Pertemuan Sastrawan Nusantara XI. Brunei Darussalam:2001

Sikana, Mana. “Teori Sastra Ta’abudiyyah dan Kaidah Analisisnya.” Disampaikan pada Pertemuan Sastrawan Nusantara XI. Brunei Darussakam: 2001

Sumber buku :

‘Segenggam Gumam’ esai – esai tentang sastra dan kepenulisan; Helvy TR

Monday, April 14, 2008

ATAS SEBUAH NAMA

Mengenang kembali kisah berharga saat mengazzamkan diri untuk menjadi calon penulis sangat amatir (ternyata sekarang juga masih…he3x). Semua teman – teman redaksi majalah kampus DIII dulu mulai dari masa bulletin ‘Kurma’ hingga akhirnya menjelma menjadi majalah kampus ‘Khalifa’ memiliki nama pena tersendiri, entah ada apa motif dibalik nama pena samaran ini semua. Bagi ku pada awal menulis dulu, nama pena itu hanya sebuah ketakutan dari rasa malu yang terus menghantui karena skiil yang tidak memadai hanya bermodal semangat saja dalam menulis, dengan harapan saat tulisan dipublish minimal orang yang membaca secara tak langsung tak mudah menebak bahwa yang menulis itu adalah seorang agung adalah Izzatulgumam.Tetapi sekarang…., semoga banyak menuju perbaikan yang kontineu.

“Izzatul”, ada apa dibalik makna kata ini, mungkin saat kita disodorkan nama izzatul, maka banyak dari kita akan melanjutkan dan mensisipi kata lanjutan “Islam” atau “Jannah” yang banyak juga orang sudah mengenal menjadi sebuah icon tersendiri. Izzatul Islam sebuah nasyid haroki ternama yang anggotanya berasal dari kampus UI dan Izzatul Jannah seorang penulis FLP yang cukup produktif dalam menulis. Memang akupun juga terinspirasi dari icon – icon itu. Sebab makna bagiku menulis itu harus menjadi seni tersendiri yang mampu ‘mengalun’ dan membawa emosi pembaca saat membaca tulisan ku kelak, semirip seseeorang sedang mendengarkan lagu nasyid, menulis yang harus mudah dicerna, dihapal ‘alunan’ katan- katanya juga mudah diambil benang merah dalam tiap hikmah penulisannya. Semoga, dengan mengingat terus makna ini bagi seorang Izzatulgumam akan terus mampu untuk berazzam berlatih membina penulis dan tulisannya sendiri serta yang lebih penting adalah membina jiwa pembacanya.

Lain hal dari kutipan nama “Gumam”, ini sebenarnya terinspirasi dari sebuah buku sederhana berjudul “Segenggam Gumam” karya mba Helvi TR yang berisi kumpulan esai – esai beliau, buku itu menggugah diriku untuk mencoba lebih serius dalam menulis, sebab di buku itu banyak dipaparkan oleh basyirah dan kepeduliannya yang tinggi tentang sastra, penulisan dan segala problematikannya. Kritisi beliau terhadap dunia buku dan penerbitan buku Islam, kritisi beliau terhadap kelemahan penulis pemula, dan pelurusan beliau tentang sastra Islam. Nama “Gumam”, ketika orang banyak mulai mengenal, semoga hal ini bisa mengingatkan ku akan banyak harapan – harapan beliau untuk bisa dilanjutkan perjuangannya. Alangkah baiknya teman – teman juga menyempatkan waktu untuk membacanya, sebab buku itu cukup merangkum idea gagasan cemerlang da’wah dalam konteks da’wah profesionalnya seorang penulis.

Tetapi tetap, apalah arti sebuah nama tanpa sebuah amal yang konkret dan kerja yang istiqomah, jadi siapapun antum dan apapun label nama antum tetaplah kebaikan nama – nama itu harus mengikuti kebaikan amal – amalnya kelak, sebab kematian itu mutlak maka menulislah lebih cepat dan berkaryalah lebih semangat.

(Izzatulgumam; Onan Said Kost, 120408).

Friday, April 11, 2008

DATA ADMINISTRATIF FIKTIF-Pelanggaran Profesi (I)-

Beberapa bulan lalu menjadi hal biasa berulang seorang akhwat menelpon bermaksud mengadu atas keluhan profesi yang terjadi menimpanya, entahlah motif apa yang berlaku kali ini sampai keluh ikhwan - akhwat permasalahan profesi selalu terkumulasi dan tertimbun padaku, yang jelas mungkin kejadian insidental ini hanya menandakan bahwa aku memang lahir lebih dulu dari mereka, hanya itu.

Akhwat itu menceritakan padaku sekelumit kekecewaannya yang mendalam dari legalitas profesinya yang merasa dinodai. Untung saja permasalahan ini sudah diketahui sejak dini. Allah-lahyang Maha Mengetahui dan Maha Mengatur atas tiap kejadian dalam hidup ini agar kita mampu mengambil banyak hikmah dan semakin menunjukkan peningkatan ketaatan padaNya. Terlepas dari merasa dirugikan atau tidak kejadian ini cukup membahayakan korban yang menimpannya, bayangkan saja jika kita selaku seorang farmasi yang memiliki tugas dan wewenang yang sah dikuatkan oleh undang – undang harus “merasa” bertanggung jawab pada sebuah oknum apotek X padahal dia memang tidak bekerja di apotek X tersebut. Pasalnya untuk memenuhi persyaratan kuota minimal karyawan Asisiten apoteker sebuah apotek yang akan dilaporkan ke Sudinkes setempat harus memakai data – data administratife fiktif orang lain. Data – data administrative fiktif ini didapat dari para pelamar yang tidak jadi bekerja dan memang tidak bekerja di apotek X tersebut. Antum bisa bayangkan berapa kerugian moral dan material yang harus diemban oleh korban baik secara langsung maupun tidak langsung, tidak bekerja dan tidak mendapatkan upah yang layak tetapi legatilas tanggung jawab dan wewenangnya terpakai. Ini adalah mekanisme hak yang terdholimi. Mungkin kejadian ini tidak terlalu ekstrem jika kita masih berbicara pada konteks apotek – apotek yang pelanggarannya hanya pada itu, bagaimana jika yang menggunakan data administrative fiktif adalah apotek yang masuk dalam daftar apotek “nakal”.

Alhamdulilllah kejadian ini segera terungkap oleh jaringan ukhuwah yang cukup kuat dikampus kami, dimana banyak dari mahasiswa lulusan sudah menyebar baik dikalangan pemerintahan dan swasta. Urgensi ukhuwah yang mampu saling menasehati, mengkoreksi dan tabayyun untuk menghasilkan bayan (penjelasan). Ada alumni dari satu angkatan yang sama kebetulan bekerja di Sudinkes yang bermaksud silahturahmi mengecek temannya apakah memang benar ternyata ia sudah bekerja? Dan apakah memang benar juga bekerja pada apotek X tersebut? Terungkaplah sudah semuanya saat itu juga oleh kepekaan jaring – jaring ukhuwah yang saling menjaga satu sama lainnya, kepekaan ukhuwah yang semoga terlahir dari shibgoh yang pernah cukup kuyup basah, berwarna, dan pekat saat masih dikampus dulu, alhamdulillah belum meluntur hingga masa keprofesian tiba menjadi tabungan da’wah tersendiri.

Siapa yang dirugikan, siapa yang salah dan siapa yang lalai perlu kajian mendalam dalam segi hukum yang berlaku. Yang jelas siapapun insan yang tidak mendapatkan hak balik atas kepimilikan sah yang terpakai adalah tetap sebuah pelanggaran dimata umum. Sekarang yang paling konkret untuk mencari solusi ini adalah bagaimana selaku oknum merasa jera dengan pelanggarannya dengan sanksi hukuman yang adil diiringin dengan supervise dan inspeksi rutin pihak yang berwenang ke apotek – apotek agar berjalan sesuai dengan perosedur yang telah disepakati tanpa ada “permainan” yang banyak merugikan banyak pihak terutama Asisten apoteker dan konsumen (pasien) dari realita pergolakan nafkah ini. Lain dari itu membangun ukhuwah menjadi keniscayaan yang harus ada untuk membangun kekuatan komunikasi dan koordinasi antar pelaku yang merasa peduli dengan profesi kita sendiri, sebab siapa yang akan peduli dengan keprofesian kita sendiri kecuali memang dari kita sendiri.

(Izz@tulgumam; Onan Said Kost, 110408)