“Izzatul”, ada apa dibalik makna kata ini, mungkin saat kita disodorkan nama izzatul, maka banyak dari kita akan melanjutkan dan mensisipi kata lanjutan “Islam” atau “Jannah” yang banyak juga orang sudah mengenal menjadi sebuah icon tersendiri. Izzatul Islam sebuah nasyid haroki ternama yang anggotanya berasal dari kampus UI dan Izzatul Jannah seorang penulis FLP yang cukup produktif dalam menulis. Memang akupun juga terinspirasi dari icon – icon itu. Sebab makna bagiku menulis itu harus menjadi seni tersendiri yang mampu ‘mengalun’ dan membawa emosi pembaca saat membaca tulisan ku kelak, semirip seseeorang sedang mendengarkan lagu nasyid, menulis yang harus mudah dicerna, dihapal ‘alunan’ katan- katanya juga mudah diambil benang merah dalam tiap hikmah penulisannya. Semoga, dengan mengingat terus makna ini bagi seorang Izzatulgumam akan terus mampu untuk berazzam berlatih membina penulis dan tulisannya sendiri serta yang lebih penting adalah membina jiwa pembacanya.
Lain hal dari kutipan nama “Gumam”, ini sebenarnya terinspirasi dari sebuah buku sederhana berjudul “Segenggam Gumam” karya mba Helvi TR yang berisi kumpulan esai – esai beliau, buku itu menggugah diriku untuk mencoba lebih serius dalam menulis, sebab di buku itu banyak dipaparkan oleh basyirah dan kepeduliannya yang tinggi tentang sastra, penulisan dan segala problematikannya. Kritisi beliau terhadap dunia buku dan penerbitan buku Islam, kritisi beliau terhadap kelemahan penulis pemula, dan pelurusan beliau tentang sastra Islam. Nama “Gumam”, ketika orang banyak mulai mengenal, semoga hal ini bisa mengingatkan ku akan banyak harapan – harapan beliau untuk bisa dilanjutkan perjuangannya. Alangkah baiknya teman – teman juga menyempatkan waktu untuk membacanya, sebab buku itu cukup merangkum idea gagasan cemerlang da’wah dalam konteks da’wah profesionalnya seorang penulis.
Tetapi tetap, apalah arti sebuah nama tanpa sebuah amal yang konkret dan kerja yang istiqomah, jadi siapapun antum dan apapun label nama antum tetaplah kebaikan nama – nama itu harus mengikuti kebaikan amal – amalnya kelak, sebab kematian itu mutlak maka menulislah lebih cepat dan berkaryalah lebih semangat.
(Izzatulgumam; Onan Said Kost, 120408).
No comments:
Post a Comment