Beberapa hari ini sebuah keadaan yang membuat ku agak tersenyum sejenak, malam di bangku pelataran depan kost sambil memandang cakrawala langit yang terhias bintang, ingin sekali berfikir tentang bintang yang kapan akan berani ku tunjuk salah satunya, sebagai penerang jalan dan penerang jiwa. Semua sinarnya hampir menunjukkan kekuatan cahaya yang sama, semuanya pun memberikan cahaya keindahan untuk permata pandangan ‘laillan’.
Mengingatkan ku pada kejadian yang sangat tidak biasanya, evaluasi mengkalkulasi kejadian yang sama tidak biasanya berulang dalam jumlah melebihi batas yang seharusnya, dalam waktu yang bersamaan juga. Entahlah, jika makna tafsir pada suatu ayat yang diulang dalam Al qur’an biasanya berupa penegasan, teguran tentang kapasitas nilai urgensi atau Allah sedang mereview kejadian agar mengingatkan bahwa adanya korelasi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Minggu ini menjadi sebuah rangkaian renungan dikala telinga mendapatkan ‘teguran’ berturut – turut, terlebih teguran itu datang dari orang – orang yang memang secara spontan kita kenal baik masuk dalam mihwar ukhuwah hingga orang yang kurang mengenal dengan baik siapa dan bagaimana keadaan kita sebenarnya.
“ini…, dari anak saya ” ujarnya sambil menatapku dengan senyum khas saat telepon yang diterimanya selesai ditutup, menyita waktu ku saat bimbingan skripsi dan praktek langsung dikomputernya tentang aplikasi statistik (Matlab: ANN ‘Artificial Neural Network’) yang akan ku pakai untuk mengolah data ouput. Ia pembimbing ku pada skripsi kali dan hari itu adalah bimbingan yang ke-3. Diruangannya memang terlihat beberapa foto kedua anak dan istrinya, anak perempuan dan istrinya berjilbab. Aku baru tahu itu…
“kamu sudah menikah?” tanyanya tanpa basa-basi masih dengan senyum, entah apa menurut ku yang ada dibenaknya hingga sekelas dosen seperti ia mau mengeluarkan potongan hati untuk masalah pribadi seperti ini hingga fibrasi pita suaranya membuat frekuensi untuk kalimat itu, sebab yang ku tahu dosen – dosen UI sangat intropet sekali membicarakan masalah pribadi pada mahasiswanya, apalagi untuk anak program ekstensi. Pastinya apa yang ditanya kali ini adalah mungkin bagian dari interpretasinya selama bimbingan yang cukup menggambarkan prediksi tentang siapa aku, walaupun kita sebelumnya dan sekarang masih masuk pada ‘zona hitam’ pada wilayah saling ketidak kenalan dan tidak pernah membahas hal itu.
“belum pak” agak malu dan rona wajah ku yang gugup, sulitnya mengubah eksprsi tingkat keseriusan menjadi kondisi ekspresi lain dalam situasi pertanyaan seperti ini pada orang yang kurang kita kenal tapi kita hormati. “kapan?”tanyanya kembali dengan riang, berharap mengubah suasana. Aku sempat terdiam, dan tidak menyangka pertanyaan sampai sedalam ini “inginnya sih segera pak!”,ku iringi dengan memaksa tersenyum, aku berharap jawaban ini menjadi jawaban standar syar’I yang juga ingin mengubah tingkat keseriusan pertanyaan penanya. “ya, jika ingin dicarikan, saya bisa mencarikan..” ucapan itu membuat ekspresinya lebih riang dari sebelumnya, aku yang malah semakin bingung dan terdiam, sebab ini bukan masalah biasa jika dihadapkan pada pertanyaan lanjutannya….
Bukan hanya kejadian ini saja, banyak kejadian lain yang cukup mengejutkan untuk minggu – minggu ini, selepas ba’da kejadian itu. Malam setelah malamnya, seorang ikhwah mabit dirumah karena kemalaman ba’da rapat forum kebaikan kami yang kebetulan dilaksanakan malam di Bekasi. Kasusnya mirip – mirip, yaitu ‘menawarkan’ tapi hal ini lebih dramatis. Angin kestiqohan apalagi hingga penawaran itu ditujukan kepadaku. Sekilas ia menceritakan kenapa akhwat ini ingin segera di nikahkan, keluarganya tertimpa musibah kebakaran dikarenakan kompor gas dirumahnya bocor. Kerugian materi yang tak terelakan, rumahnya hangus begitupun beberapa rumah tetangganya yang terimbas percikkan menuntut ganti rugi, yang lebih mengenaskan beberapa keluarganya dirawat dirumah sakit dan ayahnya sedang sekarat, luka bakar hebat yang ditambah dengan komplikasi penyakit diabetes yang dideritanya,sekarang sedang dilakukan perawatan yang intensif. Bukan kisah dongeng melainkan kejadian nyata. Menikah untuk sebuah performan kekuatan mental, spiritual dan material yang baru, menopangnya dalam koridor keikhlasan da’wah adalah bagian dari konsekuensi berjama’ah. “gimana akhi, pendapat antum?” Aku hanya tertunduk diam yang cukup membahasakan tubuh tentang keadaan ku kini….
Lain dua kejadian ini, tentang akhwat yang meminta alamat email ku dan beberapa waktu setelahnya di inbox ku pun penuh dengan pertanyaan penawaran dan kesiapan. Via SMS bahkan terjadi, dan kuanggap hal ini yang sangat tidak ahsan. “afwan akh, ana punya pertanyaan ke antum, “Apakah antum siap nikah?kriteria?bagaimana pendapat antum tentang nikah beda fikrah?” jika bukan karena kredibilitas akhwat tersebut yang menanyakan, tidak akan pernah ku jawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang cukup sensitive sekali bagiku, terlebih jika seorang akhwat belum menikah yang menanyakan, via SMS pula!. Ternyata usut punya usut akhirnya berbuah bayyan (penjelasan) dan pengakuan. Akhwat tersebut mempunyai teman yang dahulu pernah Tarbiyah tetapi karena problematika keterpakasan keadaan harus berpindah pada fikrah lain (hatinya masih Tarbiyah),momentum maksud menanyakan maksudnya kali ini disebabkan akhwat ini berkeinginan menikah. Mungkin sebagai sahabat terbaiknya, ingin sekali menariknya untuk kembali dengan mencarikan ikhwan untuk pasangan hidupnya.”Kenapa harus aku?” kembali pertanyaan yang sempat terlontar pada wilayah penasaran ku. Beliau hanya menjelaskan bahwa kekuatan magnet dan mental da’wah ku (katanya) sanggup mampu menarik itu, mungkin karena beliau memang kenal sekali dengan ku dan aktifitas da’wah ku. Padahal aku sendiri pun tak yakin dan tak mampu menjamin dari apa yang dipersepsikannya selama ini,toh…tiap manusia selalu dipermanenkan dengan fluktuasi keimanan dan fluktuasi semangat.Aku hanya bilang, masih ada proritas utama dalam hal ini, kasihan akhwat – akhwat dalam internal jam’ah kita sendiri jika mereka harus menanggung dua beban yang berat sekaligus, menanggung beban da’wah ini mengurus kaumnya yang semakin berat dari hari kehari juga harus memikirkan menanggung beban melawan umur dengan jumlah yang sangat timpang antara kuantitas akhwat dan ikhwan. Tega dan adilkah kita?
Aku sangat setuju sekali dengan pendapat akh Harry dari perbincangan dan diskusi kecil ku beberapa waktu dalam hal ini. Kasus ‘penawaran’ yang tidak juga salah,sah- sah saja untuk matrix persilangan antara kepentingan dan kebutuhan menjadi tarikan tersendiri dengan fenomena da’wah yang tidak sebanding antara kuantitas ikhwan-akhwat. Tetapi tetap seharusnya Tarbiyah itu tertib, rapih dan sistematis.Dalam Tarbiyah semua punya mekanisme, semua diatur untuk menjadi teratur, inilah fungsi sunnah yang ditebarkan dalam alam semesta untuk dibenamkan ke bumi, agar semuanya teratur pada garis edarnya, pada maksud tujuannya. Semua punya hak menawarkan pada keikhlasan kepentingannya dengan pola kesyar’ian, tapi sudahkah pada bagian yang mampu lebih mendewasakan da’wah tingkat kecerdasan fikiran kita untuk membuat prioritas – prioritas dalam masalah ini, seperti: apakah sudah terlebih dahulu mengkoordinasikan kepada jama’ah (MR) sebagai prioritas utama?selanjutnya, jika murobbi tidak menyanggupi, apakah sudah bertanya kepada teman halaqoh selaku bagian dari usrah yang paling bisa dipertanggung jawabkan ketsiqohannya?Ternyata, jika tidak ada jawaban juga, apakah keluarga sudah dimintakan porsinya untuk hal ini, sebagai orang yang mengenal kita sangat dekat bagaimana dan siapa kita sebenarnya, misalnya adik atau kakak kita yang juga Tarbiyah?barulah jika urutan element ini sudah terlewatkan, bagian lain boleh bicara untuk menawarkan. Da’wah yang sudah cukup membesarkan kita seharusnya cukup punya hak untuk masalah ini, tapi tidak juga menghilangkan nilai fleksibilitas dan pengekangan kejiwaan manusia tentang kebutuhan ‘selera’ pribadi, keluarga dan da’wah itu sendiri. Keproporsionalan penggabungan visi dan selera yang akan mampu menumbuhkan keharmonisan kelanggengan da’wah itu juga nantinya.
Apakah hikmah selanjutnya, menurut ku, siapa pun kita menjadi sebuah normalitas umum jika dihadapkan pada jumlah banyak pertanyaan ‘kapan’ selalu akan terkorelasi berturut – turut dengan focus waktu, focus kesiapan, dan focus menjadi tumpuan harapan. Sebagai contoh konkret sama hal nya saat orang tua kita bertanya “kapan lulusnya Nak?” atau “Kapan selesai skripsinya?”. Saat hal itu menghantui, pastikan kita sadar dan mempersiapkan dengan serius jangan sampai banyak orang menunggu terlalu lama, menunggu terlalu bosan hingga permasalahan yang sebenarnya bisa diselesaikan malah timbul masalah baru; masalah waktu yang mencekik karena telat dan lama loadingnya dan masalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Maka doakanlah untuk siapa pun yang sedang berlomba berjuang melawan waktu, agar kecepatan, keberkahan dan ikhtiarnya mampu melewati waktu yang ada tersedia…….Al waqtu minal ilaj.Wallahua’alam
.(Izzatulgumam;280408, Bekasi;my room)
No comments:
Post a Comment