Tuesday, March 03, 2009
Teruntuk Al – akh sahabat tercinta
Teruntuk Al – akh sahabat tercinta
Di
Bumi Allah
Assalamu’alaikum wr.wb
Khaifa hal, Al - akh?bagaimana kabar keimanan dan kecintaan?semoga Allah juga selalu menjaga cinta itu yang tak pernah padam terhempas angin, tersiram hujan, terserbuki embun hingga menjelang pagi tiba. Al - Akh, surat ini bukan hanya sekedar kewajiban, melainkan ungkapan cinta di hati yang tak sempat di ungkapkan secara lisan. Maka ana tuliskanlah dengan pena ukhuwah dan tinta cinta hari ini.
Jernihkan hati sebelum men jernihkan lainnya…
Al – akh, ana yang mencoba sangat tahu tentang kerisauan antum, keluh antum, raut – raut emosi antum, gejolak letupan jiwa antum seperti yang pernah antum ceritakan dalam curhatan kejujuran sebelumnya. Al –akh, terbesitkah dalam diri antum saat jiwa semakin gundah, saat kondisi dada menghempit, saat cita – cita terawang mata semakin buram, saat langkah semakin berat, saat nuansa atmosfer kesabaran mulai retak, saat rasa takut kepada Rabb juga kematian mulai sering dikesampingkan dalam tiap lamunan dan saat gumpalan keyakinan akan takdir berubah dasyat menjadi pecahan ribuan partikel – partikel keraguan tentang ”siapa yang meninggalkan sesuatu karna Allah pasti Allah akan menggantikkannya dengan yang lebih baik” adalah awal dari degradasi visi atau mungkin tanda rambu mentalitas kekalahan perang sebelum menjelang akhir ujian perang ”kenaikan kelas” sebenarnya tiba.
Ana pun mencoba memahami bahwa tak selamanya pelangi selalu hadir setelah hujan, karena posisi jarak pandang kita yang sedang tidak tepat, tapi hujan jelas memberikan barokah bagi alam ini. Jangan terpaku dan tertipu dengan pelanginya karna itu hanya hiburan mata fisik kita saja, tapi lihatlah esensi hujannya yang kuat memberi dan menyirami alam, maka jernihkanlah hati sebelum menjernihkan lainnya. Karena ia (hati) yang sangat jujur dari kejujuran yang pernah orang utarakan kepada kita, jadi sekali lagi jernihkanlah hati hingga secerah cermin, sebening embun.
Yakinkanlah bahwa segala luapan – luapan emosional dan fenomena hati itu hanya rangkaian kondisi dan emosional sesaat atau memang permanen?, bukankah langkah da’wah ikhlas, jujur dan mengutamakan keberkahan adalah bagian rangkaian da’wah visioner yang kita cita – cita kan bersama. Karna ihklas dan kejujuran adalah satu – satunya ”jalan bebas hambatan” yang selalu menghantarkan da’i nya pada percepatan kebarokahan dan surganya kelak, selain jalan itu adalah kemacetan yang panjang untuk umat ini. Sekali lagi coba jernihkanlah hati antum sebelum menjernihkan lainnya....
Sensitivitas perubahan
Al – akh, setiap insan yang diuji memang perlu belajar lebih tekun, lebih bersabar dan lebih sensitiv hatinya, itulah gambaran sejati ulama terdahulu yang belajar lebih banyak dari ujian bukan hanya belajar dari pelajaran kelas rutin harian, oleh sebab itu mereka lebih kokoh dan lebih tegar dari ulama masa kita sekarang. Ini hanya masalah kumulasi lalai yang tak pernah di evaluasi secara rutin harian, seperti kumulasi proses tiap detik terus menerus asimilasi daun pada tumbuhan yang menghantarkannya menjadi buah segar untuk petani, atau langganan banjir Jakarta akibat kumulasi sikap acuh masyarakatnya terhadap lingkungan, sedikit – demi sedikit kelamaan menjadi bukit sampah ditiap lini. Begitupun hidayah dan kefuturan, memiliki kesamaan jalan yang tak jauh berbeda, ia bahkan bisa berjalan menghampiri hingga kita tak terasa mulai dari ketidak hati – hatian indra kita untuk menangkap dan mencerna fenomena dunia, hingga mulainya mengabaikan kebaikan – kebaikan amal yaumiyah, gampang jenuhnya menerima kebaikan dari ayat – ayat Allah yang kadang hadir ditelinga, kerasnya hati sampai – sampai tak terasa ’kanker’ kemaksiatan kecil – kecilan menjadi jobdesc harian tanpa kita sadari, hingga akhirnya tewas tertikamlah kita.
Perubahan itu bisa mulai dari fenomena hati, lintasan fikiran, sampai kedalam perubahan prilaku. Tak terasa terakumulasi yang kemudian tak disadari pula menjadi permanen. Inilah awal langkah perubahan yang harus dicermati, hati harus sensitiv memaknai setiap perubahan, sensitivitas yang seharusnya menghantarkan pada evaluasi dini ”mencegah lebih baik dari pada mengobati” hingga tak bisa terhinggap penyakit menular lanjutan : syndrome ”terlanjur” : terlanjur sayang(VMJ), terlanjur dekat (KKN), terlanjur hina (PSK), terlanjur pakai (Drugger) dan lainnya yang membawa musibah akhir menyulitkan ketegasan jiwa kita untuk beralih pada keimanan yang seharusnya. Karna ana mencintai antum karna Allah, maka saling mendo’akan adalah bagian hak ukhuwah yang tak pernah boleh terlupakan, berlindunglah pada Sang Pemilik hati dan mohonlah petunjuk padanya setiap saat, Dialah sebaik – baiknya tempat berlindung dan memohon pertolongan...Al –akh ana mohon maaf jika setiap kata ada yang kurang berkenan mungkin itu hanya bagian kecil dari kecintaan ana yang meruah,,,
Wassalamu’alaikum wr.wb
Izz@tulgumam
Tuesday, August 19, 2008
Memaknai lewatlah sini!

Memaknai lewatlah sini!
Melewati ini, Jalan ini&menJalani pilihan ini. Memaknainya didalam lorong bawah tanah gelap terbatas hanya dgn lentera keikhlasan dan kokohnya lapisan kesabaran, kadang kau hanya akan meraba, terjatuh dalam banyak lubang – lubang pertanyaan, bertanya – tanya hanya tentang sekedar kapan waktunya jawaban permasalahan isti’jal selesai semuanya terjawab, untuk tetap bertahan, tetap tenang berjalan dan tapi tenanglah pasti kau akan menuju cahaya dilorong terakhir dari jawaban rangkaian fiqh fadilah kebijakan, karena yang perlu kau kenal sekarang hanya cerita – cerita goresan fikir dan karnaval- karnaval jiwanya saja. Hanya itu, cukup itu tapi seterjaga itu.Tebal buku sejarah umatpun hanya mencatat itu “jiwa yang menerangi dan cita – cita yang menyala”, jadi hanya jiwa-jiwanya saja, bisa jadi mungkin aku, kamu dan merekalah tokoh utamanya. Semoga riaknya tak semakin menunjukkan kedangkalannya, tapi tenangnyapun tak boleh menyampaikan kedalamannya yang terlalu karena kita “merasa” ikhlas sedang benar, sebab “merasa” itulah masalahnya.Jadi jika itu masalahnya maka yang lebih penting lagi adalah nasihatnya. Kaupun juga benar, tetap harapan kebarokahan jalan ini tak boleh luntur oleh apapun apalagi oleh deterjennya sendiri karena rendaman “merasa” terlalu lama tersembunyi dalam wilayah yang paling aman di hati kita. Seperti kata mu “bersama belajar mencari yang terbaik hanya dengan jalan terbaik dan niat terbaik”.
Wednesday, February 13, 2008
SURAT KU UNTUK WANITA MEKKAH
Harapanku, harapan da’wah.
Di
Mekkah
Khalifahaluki Mekkah?langsung saja harapanku, jangan marah dan semoga tidak mengurangi rasa cinta ini yang tulus. Bertahan merayu agar engkau tetap ikut bersamaku, semoga. Dengarlah isi hatiku ini tentangmu dengan bijak:
Pilihan yang kita buat takkan pernah salah jika referensinya segudang serendah egoisme, sekobar nafsu, sekufurannya, seangkuhan dan sekeras hati dalam frem berfikir sekerdil pula sesempit keinginan duniawi yang kita politisi pembenarannya dalam ketidak jujuran hati untuk pilihan jalan tersebut. Seperti ungkapan ulama yang saleh “barangsiapa yang tidak benar permulaan kehendaknya, niscaya tidak akan selamat pada kesudahan akibatnya” jadi kadar permulaan menentukkan segalanya tapi akhir yang terlihat biasanya sebagai indikator keberokahannya. Jangan dibuat rumit apalagi sulit, umumnya nilai kebarokahan yang terjaga tidak pernah sulit dan rumit atau jelas-jelas dari proses yang “bermasalah” di paksakan, bahkan hanya sesederhana tidak seaneh trend metode jahiliyah. Mentari ar rahman pun pernah saya anggap seperti kebanyakan bagian dari orang – orang saleh, tetapi Mentari sendirilah yang lupa tentang taujih masalah diatas masalah yang cukup menggugah saat sekejap untaian keluhanku kau balas dengan untaian mutiara ”ini pilihan hidup!Ujian ini adalah sunnahtullah dan perintahNya adalah dengan bersabar, coba kembali luruskan niat, sederhanakan masalah, tetapkan tujuan dan nikmati prosesnya”, tapi kita memang terkadang sering lupa, disengaja karena kondisi tertentu atau memang karena kehendak Allah untuk lupa, mudah – mudahan Allahlah yang tidak melupakan Mentari, sebab masih wajar jika kita yang sering melupakanNya. Menurutku ini masalahnya, walaupun bab nya berbeda sangat jauh, sejauh tertatih makna perjalanan hijrah Rosulullah untuk menyelamatkan akidah umatnya yang tersisa, tetapi terlihat berbeda tipis, hampir mirip-mirip dengan dua muka mata uang logam antara muka tertatih ketakutan untuk ”mengamankan dan menyelamatkan” kelurusan azzam dari obsesi kemuliaan diri dan muka lain tentang kejahiliyahan yang terpelihara ”gemuk” sejak lama yang Mentari namakan ”harapan”,mungkin bahkan sekarang sampai seperti kata pepatah Arab ”berlakulah kau semaunya jika sudah tidak punya malu”.Tak menyangka jika pilihan Mentari ternyata dunia yang membuat nafsu semakin ”gemuk”. Separah itu seharusnya mikir kapan setaubatnya itu (baca:maaf), walaupun kita tidak selevel Ka’ab bin Malik yang kemudian sadar menyegerakan mohon pengampunan karena kelalainnya tidak mengikuti panggilan untuk perang. Sekali lagi akupun tidak merasa benar, tetapi jika kebenaran itu berasal dari gemuruh angin gunung manapun bagi pelaku mu’min dengan telinga yang ”cerdas” seharusnya akan mampu menerimanya,bila itu sekeras petirpun!!kisah umat nabi Nuh lah yang akhirnya menjadi pelajaran dunia ”Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat”(Qs Nuh:7). Seterusnyalah azab yang berbicara. Maka jika tidak mau mendengar dan hampir tuli ini semata indikator jelaslah hati yang sudah tak taat,...sekarat, alangkah baiknya cobalah mentadaburi surat cinta yang singkat ini juga “padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (Qs. Al bayyinah 5). Bagiku mengingatkan juga jalan pilihan seperti pilihan mentari untuk memilih jalan yang mentari sukai. Walaupun sebenarnya da’wah selalu menunggu&bertanya – tanya kepada mentari ”bukankah ummat terlalu lama menanti jawaban konkrit dari setiap langkahmu? Bukankah tiada yang rela kebarokahan jalan ini luntur?” yang terbaik hanya dengan jalan terbaik dan niat terbaik*,Sebab mentari adalah bunganya umat,semerbak harumnya harus memenuhi ruang dunia ini,tidak layu. seperti dalam puisi singkat ku ini :
Dia adalah bunga. Bunga yang slalu indah dihalaman kesederhanaan dan kejujuran rumah kita.Janganlah pernah ditunggu –tunggu mekarnya, tapi ketahuilah saja musimnya, sebab semerbak harumnyapun lebih panjang dari semusimnya.Semusimnya pasti seharumnya, seharumnya yang lebih memaknai ditiap keberadaannya.Dia adalah bunga. Bunga hanya untukmu para mujahid Sang penggelora karya, penikmat lelah dan pecinta syuhada.Dia adalah bunga. Bunga bukan sembarang bunga, sembarang bukan sebab makna, maka janganlah memaksa atau malah sembarang memetiknya.
Wa’alaikumsalam Wr.Wb