Showing posts with label Renungan Gumam. Show all posts
Showing posts with label Renungan Gumam. Show all posts

Monday, March 03, 2008

HARGA SEBUAH AIR MATA

Apa yang istimewa dari air mata hari ini, kemarin, lusa dan beberapa bulan yang lalu disela ritual malamku?rasa fisiknya tetap sama: asin, tetapi kondisi yang hingga mampu membuatnya keluar cairan mata itu yang berbeda. Segenap tiap butir-butir yang berjatuhan membasahi hamparan sajadahku mampu memberikan apresiasi rasa tersendiri. Air mata yang ku cucurkan enam bulan lalu secara kontineu adalah air mata harapan, dan air mata yang ku cucurkan sekarang merupakan air mata kebahagiaan. Air yang sama dari susunan struktur molekul yang juga sama tetapi dengan struktur kimia rasa yang ditimbulkan berbeda. Adanya secercah harapan, sabar menanti maka kelak menjemput kebahagiaan. Penantiannya yang cukup lama, melebihi lamanya tingkat kebosanan dalam perang kejenuhan yang pasang surut kemenangannya. Air mata yang tak sanggup ku bendung dalam tekanan do’a yang mendalam, harapan do’a tersebut memberikan tekanan terbesar hingga bendungan kelenjar air mataku terbongkar mengeluarkan cairannya, tiap malam itu. Deras. Air mata yang mengisahkan sebuah perjalanan panjang perjuangan. Seorang tertarbiyah yang akhirnya memiliki dan mendapati dua teman yang juga ikut tertarbiyah mengapai hidayahnya. Apa yang istimewa dalam hal ini? tidak ada, sebab aku hanyalah penyampai berita..hanya itu, tidak lebih.Penyampai berita yang tak boleh menentukkan sebuah hasil, penyampai berita yang juga tak boleh menerima imbalan dari yang apa disampaikan kepada yang disampaikan. Hasil dan imbalan hanyalah wilayah otoritasNya. Segala usahaku pun tak luput dari kehendakNya dan cahaya yang diberikan juga berasal dari cahayaNya. Air mata kejujuran yang semata keluar dari ketulusan rongga kelenjar dua mata ku. Air mata yang saat itu memberikan ketenangan bahwa tugas ku hanyalah berikhtiar. Air mata yang seharusnya juga air keajaiban dari kedekatan dan do’a yang menimbulkan penyejukkan hati bagi yang sedang dido’akan, membasahi relung hati yang kering binaan, mad’u dan siapapun yang ku do’akan hingga saatnya cairan mata itupun tertumpah, luber meruah. Membanjiri setiap hari, membanjiri hati ku dan hati yang ku do’akan. Tenang, sejuk, dingin, teduh dan tidak reaktif terhadap kondisi apapun yang akan menimpa disiang harinya. Maka da’wahpun menjadi lebih mudah dicerna dalam kondisi wilayah hati yang seperti itu. Penyiapan sebelum dimalam-malamnya memberikan efek yang luar biasa disiang harinya, dalam da’wah yang memakai hati untuk mampu diterima oleh hati juga.Air mata sekarang dan malam – malam selanjutnya adalah air mata kebahagiaan. Kebahagiaan seorang pejuang yang akhirnya memilki dan mendapati dua teman pejuang juga. Air mata sekarang yang mampu menceritakan tentang pentingnya sebuah kuantitas teman tertarbiyah dalam menjaga sebuah hammasah dalam beramal. Kisah berharga ketika melihat temanku (setelah tertarbiyah) sedang tilawah dalam ibadah yaumiyahnya maghrib itu, mampu menjaga semangatku dikost saat lelah sepulangku dari kerja lintas provinsi. Cukup melelahkan hingga aku terlihat tak berbentuk,tapi itulah harga sebuah kuantitas, kembalilah ku memaksakan redefragment saraf- saraf sekitar muka dan saraf hati terpacu semangat kembali untuk tetap tilawah malam itu. Air mata kebahagiaan yang hanya aku bisa rasakan sendiri saat ini disela – sela kebahagiaan lanjutan kami menyelesaikan tugas akhir untuk wisuda. Dua kebahagiaan yang akan berbarengan, kebahagiaan duniaku dan kebahagiaan akhirat (bathin)ku, dengan modal yang sangat sederhana sebuah air mata dan do’a untuk memompanya keluar.Maka keluarlah banyak kebahagiaan hakiki setelahnya, bagaimana dengan arti air mata anda?.

(Izzatulgumam, 02/03/08; Bekasi. My room)

Tuesday, January 29, 2008

NAIK KELAS ATAU NAMBAH SEMESTER?


Amanah tetap menjadi kalkulasi matematika kehidupan da’wah. Menambah amanah, mengurangi, memangkatkan, mengkuadratkan, mengalikan tetapi umumnya membagi. Waktu nya sama dengan sejarah mujadid terdahulu, masalahnya hampir mirip – mirip tetapi kecerdasannya saja yang berbeda, jika generasi terdahulu modal cerdasnya Al qur’an dan as sunnah, generasi sekarang malah senang mengambil cabang- cabangnya saja sebagai sumber segalanya “Al Sains” produknya sekulerisme.Mulai lahirlah kedunia, baligh, berkeluarga hingga memiliki jundi dan jama’ah. Grafik amanah tidak pernah mengalami penurunan, nilai raportpun terus tercatat, tetapi keadaan penyikapannya harus tetap membagi. Menambah terus kemudian membagi terus. Membagikan pada waktu yang ada menjadi bagian potong-potongan waktu istirahat yang semakin sempit dan kualitas amal yang semakin ketat. Tuntutannya prioritas, pajaknya resiko pengorbanan diwaktu yang sangat panjang, lebih panjang dari umur pelakunya.

“Tak pernah ada sekolah yang ujiannya lebih panjang dari pada proses belajarnya”, Naik kelas atau nambah semester? Ujian teruslah berjalan, ini indikator mulainya waktu kenaikan kelas datang, masalahnya saat ujian atau naik kelas tiba hadiah apa yang pantas bagi seorang aktifis da’wah dikemudiannya. Fenomenanya terjadi saat da’wah memasuki wilayah transisi profesi yang sering kelamaan ‘loadingnya’ saat umat menanti lebih cepat pelayanan tarbiyah dibanyak lini, sensitifitas kepedulian da’wah kebal rasa diambang bius antara eksistensi profesi dan masalah keimanan yang hanya berubah topeng bernama ‘nafkah’, walaupun tidak boleh seluruhnya menafikkan masalah ini, tetapi membagi menjadi seni kewajiban dengan adil harus terjadi, bukannya mengurangi. Mengurangi ada saatnya, pada batasan syar’inya, apalagi Mengakarkannya menjadi bagian yang sangat kecil. Pesan singkat Iman Hasan Al Bana semoga bisa mengajarkan kita bagaimana seni membagi secara bijak sebagai tauladan da’wah kontemporer saat ini “mata mereka masih tetap melek saat orang – orang tidur. Jiwa mereka penuh dengan kesibukan saat orang –orang yang malas lelap dalam tidurnya. Seseorang diantara mereka tekun dikantornya mulai dari ashar sampai tengah malam sebagai pegawai yang penuh dengan dedikasi, dan sebagai seorang pemikir yang penuh dengan kesungguhan. Sepanjang bulan ia tetap seperti itu dan manakala habis bulan ia menjadikan pemasukannya sebagai pemasukan bagi jamaah, nafkahnya sebagai nafkah bagi da’wahnya, dan hartanya sebagai sarana untuk meraih tujuannya. Sedang realita kehidupannya mengatakan kepada anak – anak kaumnya yang lalai tentang pengorbanannya “ aku tidak meminta kepada kalian atas da’wahku ini suatu upah pun; upahku tiada lain hanyalah dari Allah”. (ila Ayyi Syai’in Nad’un –nas 129). Tauladannya para tauladan yang mudah ditauladani generasi abad ini. Harapan mujahid cerdas dalam masalah kalkulasi matematika amanah kehidupan adalah harapan kemampuan untuk mengalikan potensi yang ada didalam pembagian amanah dan waktu yang tersedia sehingga tidak minus prestasi, tidak lemah azzam, seperti seharusnya Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah (Qs.100:1)”. Al maududi pun menggambarkannya dengan kritisi rasa sayangnya kepada sakitnya umat “sangat ironis sekali bila orang – orang yang dianugrahkan intelegensia yang unggul dari kalangan individu umat kita ini, tergila –gila meraih kedudukan duniawi dengan mencurahkan segenap kemampuannya, tanpa kenal lelah sepanjang siang dan malam. Dibursa kerja mereka tidak menerima kecuali pihak yang menawar mereka dengan bayaran yang tinggi. Sedangkan keterlibatan mereka dengan da’wah tidak sampai mengorbankan kepentingan mereka untuk kepentingan da’wah, bahkan tidak mau pula sekedar mengorbankan jasa yang mereka miliki. Jangan kalian berharap, dengan mengandalkan pengorbanan yang mandul ini, untuk dapat meraih kemenangan melawan orang – orang yang menimbulkan kerusakan di muka bumi, yang rela mengorbankan jutaan uang mereka setiap harinya demi mencapai tujuan mereka yang batil, maka harapan ini tiada lain hanyalah merupakan suatu tindakan yang bodoh”. Profesi oh…profesi, da’wah kampus oh..da’wah kampus, da’wah sya’biah oh..da’wah syabi’ah terkadang alasan ketiganya atau salah satunya menjadi kambing hitam yang mudah ditebak dan menjadi pembenaran. Da’wah sya’biah engkaulah dimana, jika ramainya hanya pada event insidensial saja sehingga kalau kata “politik praktis” terlihat aji mumpung, mungkin “da’wah praktis” terlihat cukup menunjukkan eksistensi sementara kader kalau “aku juga masih aktif” atau “akupun mumpung masih aktif”. Da’wah sekolah terkadang menjadi alasan pembenaran juga kalau “aku cukup nyaman di marhalah da’wah ini” sekedar alasan untuk menunda naik kelas.Umat makan tiga kali sehari seharusnya tidak mengurangi jatahnya menjadi dua kali sehari, dan jatah seharinya dimakan du’atnya karena kerakusan yang semakin.Dangkal!!. Kedangkalan takkan pernah menunjukkan bahwa seorang kader mampu naik kelas, malah mungkin nambah semester sepanjang waktunya hingga mampu merubah nilai – nilai yang terus terpampang dalam muhasabah pribadi dan raport tersendiri dalam benak umat. Naik kelas atau tambah semeseter adalah pilihan, karena semuanya pasti menunggu ditangga – tangga selanjutnya.

(Izzatulgumam 28 Januari 08;kost depok)

Monday, January 28, 2008

SEMUJAHADAH APAKAH?

Ini masalah keseriusan, ini masalah kemujahadahan menapaki hidup umat dan da’wah yang hidup. Bagaimana mungkin jika hanya hembusan sedikit tentang goda wanita dan kesia- sia interaksinya sudah sempoyongan dan ambruk, tapi masalah inipun menyerang pahlawan, hanya merekalah yang merdeka jiwanya bisa melepaskan, dengan kata lain melalui penggugah semangat tentang makna “kemuliaan dan kemenangan” yang harus tetap bertengger terus pada posisi atas pilihan bahan bakar semangat memperbaiki jiwa yang lemah. Bagaimana mungkin juga jika banyak bicara dan bersenda gurau menjadi makanan beracun keseharian, tetap kita makan menjadi makanan pokok yang membawa penyakit-penyakit kronis umat. Bisa jadi walaupun hanya rangkaian untaian kata – kata memboros dan tawa yang berlebih berefek menghabiskan waktu produktif untuk menyelesaikan masalah umat yang terus tertunda. Kita memang senang pada yang sesaat oleh pencuri waktu dibawah tertundanya masalah umat yang tak pernah tersenyum lebar dalam kebahagiaan riang yang mendalam.Perhatikan perjuangan Ambon……apalagi Palestina mu pasti terlupalah dan tuli pada tangisnya yang bukan lagi air mata, tapi darah yang membanjiri kesuburan tanah tersebut. Kesuburannya hanya dengan darah seperti kemerdekaannya juga. Bagi mereka tidak seperti kita, bagi mereka bersenda gurau merupakan tanah yang semakin gersang, penyiksaan yang menjadi, kemerdekaan negara yang terebut dan darah yang akan terus terhisap habis oleh vampire Israel bukan karena kesyahidan tapi penyerahan semudah sia - sia, maka apa makna kerugian bagi senda gurau kita tiap harinya?.


Waktu luang, makna kenikmatan yang salah dan nafsu yang terumbar jelas menyelubungi aktifitas gerak – gerik kita, pada sampai terdiampun tetap juga menghayal pada masalah yang tidak berguna,berfantasi gombalan dan bagian aurat wanita-pria, memprediksikan nasib melebihi tuhan, mengasah tajamnya nafsu itu sendiri sampai sumbangan upeti menggembirakan ratu adil sang dedengkot nafsu hingga menjadi digdaya bahkan bisa menjadi tuhannya sendiri yang tiap hari harus dipelihara dan diingat serta dituruti kemauannya, seterusnya sampai menyembahlah kita!!Ini masalah kesensitifan radar hati menangkap virus – virus hati; spy, penyelundup dan perampok kesucian jiwa dari musuh yang dimaksud “hawa” dan pengertian ”nafs” itu sendiri, maka jika keduanya digabungkan menjadi sinergis simbiosis yang berbahaya. Hati yang radarnya terhalang, atau minimal antenanya tidak “meninggi” karena perangkat elektronik penangkap sinyalnya tidak kuat, mudah sekali kemasukkan virus dan penyelundup hawanafsu ini. ketidak cerdasan hati kitalah yang membuat kita terlampau bodoh fikirannya. Inipun bisa diselasaikan dengan berlindung pada Allah Yang Maha Cerdas dan Maha Pelindung tanpa harus menjadi cerdas dan sensitive pada makna kelemahan di kamus dunia sesungguhnya, tapi hanya satu password yang bisa membukanya yaitu maiyatullah dan takwa, adakah orang – orang takwa yang tak cerdas, dunia? Jika tidak jangan salahkan tuhanmu dengan wahyu-nya, jangan caci-maki rosulmu dengan risalah hadistnya, salahkan yang utama adalah dirimu yang tak pernah mendengar dan taat sebab ialah tertuduh sekaligus pelaku utamanya.Semujahadah apakah aku, berkaca lagi sebab ini adalah gambaran apresiasi militansi. Walaupun dunia selalu tidak pernah suka dengan makna militansi.Semujahadahkah aku?…….maka berazzamlah,wahai uzlah, lapar, diam, qiyamullail temanilah aku dalam kesendirian&kesederhanaan hidup ini”.

(Izzatulgumam; 19 Januari 08).