Apa yang istimewa dari air mata hari ini, kemarin, lusa dan beberapa bulan yang lalu disela ritual malamku?rasa fisiknya tetap sama: asin, tetapi kondisi yang hingga mampu membuatnya keluar cairan mata itu yang berbeda. Segenap tiap butir-butir yang berjatuhan membasahi hamparan sajadahku mampu memberikan apresiasi rasa tersendiri. Air mata yang ku cucurkan enam bulan lalu secara kontineu adalah air mata harapan, dan air mata yang ku cucurkan sekarang merupakan air mata kebahagiaan. Air yang sama dari susunan struktur molekul yang juga sama tetapi dengan struktur kimia rasa yang ditimbulkan berbeda. Adanya secercah harapan, sabar menanti maka kelak menjemput kebahagiaan. Penantiannya yang cukup lama, melebihi lamanya tingkat kebosanan dalam perang kejenuhan yang pasang surut kemenangannya. Air mata yang tak sanggup ku bendung dalam tekanan do’a yang mendalam, harapan do’a tersebut memberikan tekanan terbesar hingga bendungan kelenjar air mataku terbongkar mengeluarkan cairannya, tiap malam itu. Deras. Air mata yang mengisahkan sebuah perjalanan panjang perjuangan. Seorang tertarbiyah yang akhirnya memiliki dan mendapati dua teman yang juga ikut tertarbiyah mengapai hidayahnya. Apa yang istimewa dalam hal ini? tidak ada, sebab aku hanyalah penyampai berita..hanya itu, tidak lebih.Penyampai berita yang tak boleh menentukkan sebuah hasil, penyampai berita yang juga tak boleh menerima imbalan dari yang apa disampaikan kepada yang disampaikan. Hasil dan imbalan hanyalah wilayah otoritasNya. Segala usahaku pun tak luput dari kehendakNya dan cahaya yang diberikan juga berasal dari cahayaNya. Air mata kejujuran yang semata keluar dari ketulusan rongga kelenjar dua mata ku. Air mata yang saat itu memberikan ketenangan bahwa tugas ku hanyalah berikhtiar. Air mata yang seharusnya juga air keajaiban dari kedekatan dan do’a yang menimbulkan penyejukkan hati bagi yang sedang dido’akan, membasahi relung hati yang kering binaan, mad’u dan siapapun yang ku do’akan hingga saatnya cairan mata itupun tertumpah, luber meruah. Membanjiri setiap hari, membanjiri hati ku dan hati yang ku do’akan. Tenang, sejuk, dingin, teduh dan tidak reaktif terhadap kondisi apapun yang akan menimpa disiang harinya. Maka da’wahpun menjadi lebih mudah dicerna dalam kondisi wilayah hati yang seperti itu. Penyiapan sebelum dimalam-malamnya memberikan efek yang luar biasa disiang harinya, dalam da’wah yang memakai hati untuk mampu diterima oleh hati juga.Air mata sekarang dan malam – malam selanjutnya adalah air mata kebahagiaan. Kebahagiaan seorang pejuang yang akhirnya memilki dan mendapati dua teman pejuang juga. Air mata sekarang yang mampu menceritakan tentang pentingnya sebuah kuantitas teman tertarbiyah dalam menjaga sebuah hammasah dalam beramal. Kisah berharga ketika melihat temanku (setelah tertarbiyah) sedang tilawah dalam ibadah yaumiyahnya maghrib itu, mampu menjaga semangatku dikost saat lelah sepulangku dari kerja lintas provinsi. Cukup melelahkan hingga aku terlihat tak berbentuk,tapi itulah harga sebuah kuantitas, kembalilah ku memaksakan redefragment saraf- saraf sekitar muka dan saraf hati terpacu semangat kembali untuk tetap tilawah malam itu. Air mata kebahagiaan yang hanya aku bisa rasakan sendiri saat ini disela – sela kebahagiaan lanjutan kami menyelesaikan tugas akhir untuk wisuda. Dua kebahagiaan yang akan berbarengan, kebahagiaan duniaku dan kebahagiaan akhirat (bathin)ku, dengan modal yang sangat sederhana sebuah air mata dan do’a untuk memompanya keluar.Maka keluarlah banyak kebahagiaan hakiki setelahnya, bagaimana dengan arti air mata anda?.(Izzatulgumam, 02/03/08; Bekasi. My room)
