Ini masalah keseriusan, ini masalah kemujahadahan menapaki hidup umat dan da’wah yang hidup. Bagaimana mungkin jika hanya hembusan sedikit tentang goda wanita dan kesia- sia interaksinya sudah sempoyongan dan ambruk, tapi masalah inipun menyerang pahlawan, hanya merekalah yang merdeka jiwanya bisa melepaskan, dengan kata lain melalui penggugah semangat tentang makna “kemuliaan dan kemenangan” yang harus tetap bertengger terus pada posisi atas pilihan bahan bakar semangat memperbaiki jiwa yang lemah. Bagaimana mungkin juga jika banyak bicara dan bersenda gurau menjadi makanan beracun keseharian, tetap kita makan menjadi makanan pokok yang membawa penyakit-penyakit kronis umat. Bisa jadi walaupun hanya rangkaian untaian kata – kata memboros dan tawa yang berlebih berefek menghabiskan waktu produktif untuk menyelesaikan masalah umat yang terus tertunda. Kita memang senang pada yang sesaat oleh pencuri waktu dibawah tertundanya masalah umat yang tak pernah tersenyum lebar dalam kebahagiaan riang yang mendalam.Perhatikan perjuangan Ambon……apalagi Palestina mu pasti terlupalah dan tuli pada tangisnya yang bukan lagi air mata, tapi darah yang membanjiri kesuburan tanah tersebut. Kesuburannya hanya dengan darah seperti kemerdekaannya juga. Bagi mereka tidak seperti kita, bagi mereka bersenda gurau merupakan tanah yang semakin gersang, penyiksaan yang menjadi, kemerdekaan negara yang terebut dan darah yang akan terus terhisap habis oleh vampire Israel bukan karena kesyahidan tapi penyerahan semudah sia - sia, maka apa makna kerugian bagi senda gurau kita tiap harinya?. Waktu luang, makna kenikmatan yang salah dan nafsu yang terumbar jelas menyelubungi aktifitas gerak – gerik kita, pada sampai terdiampun tetap juga menghayal pada masalah yang tidak berguna,berfantasi gombalan dan bagian aurat wanita-pria, memprediksikan nasib melebihi tuhan, mengasah tajamnya nafsu itu sendiri sampai sumbangan upeti menggembirakan ratu adil sang dedengkot nafsu hingga menjadi digdaya bahkan bisa menjadi tuhannya sendiri yang tiap hari harus dipelihara dan diingat serta dituruti kemauannya, seterusnya sampai menyembahlah kita!!Ini masalah kesensitifan radar hati menangkap virus – virus hati; spy, penyelundup dan perampok kesucian jiwa dari musuh yang dimaksud “hawa” dan pengertian ”nafs” itu sendiri, maka jika keduanya digabungkan menjadi sinergis simbiosis yang berbahaya. Hati yang radarnya terhalang, atau minimal antenanya tidak “meninggi” karena perangkat elektronik penangkap sinyalnya tidak kuat, mudah sekali kemasukkan virus dan penyelundup hawanafsu ini. ketidak cerdasan hati kitalah yang membuat kita terlampau bodoh fikirannya. Inipun bisa diselasaikan dengan berlindung pada Allah Yang Maha Cerdas dan Maha Pelindung tanpa harus menjadi cerdas dan sensitive pada makna kelemahan di kamus dunia sesungguhnya, tapi hanya satu password yang bisa membukanya yaitu maiyatullah dan takwa, adakah orang – orang takwa yang tak cerdas, dunia? Jika tidak jangan salahkan tuhanmu dengan wahyu-nya, jangan caci-maki rosulmu dengan risalah hadistnya, salahkan yang utama adalah dirimu yang tak pernah mendengar dan taat sebab ialah tertuduh sekaligus pelaku utamanya.Semujahadah apakah aku, berkaca lagi sebab ini adalah gambaran apresiasi militansi. Walaupun dunia selalu tidak pernah suka dengan makna militansi.Semujahadahkah aku?…….maka berazzamlah, “wahai uzlah, lapar, diam, qiyamullail temanilah aku dalam kesendirian&kesederhanaan hidup ini”.
(Izzatulgumam; 19 Januari 08).
No comments:
Post a Comment