Jangan sekali-kali bermain dengan api, teman! satu kompleks pasar pun bisa ludes terbakar, atau apalagi bercanda dikandang macan saat macan sedang tidur. Kaidah sederhana yang kadang kita suka lupakan, bahkan silent tanpa terdeteksi gejalanya, tahu-tahu saat gejalanya membesar sulit untuk dikendalikan.
Ada berita sederhana (okezone.com, 3 Mei 2011) baru-baru ini tentang korelasi marak dan meningkatnya perceraian dikota Bandung; Jawa Barat akibat kecanduan update status dan comment di Facebook. Itu yang terlihat dengan indikator yang sangat jelas, bagaimana dengan perzinahan lain yang 'terselubung' (zinah mata dan hati) didunia maya? pasti lebih dasyat dan bervariasi dari itu.
Mungkin berawal dari update status hingga saling mengomentari status yang secara sengaja atau tidak disengaja tergelincir penggunaan kata - kata mesra atau menggoda. Atau yang sadar atau tidak membuka profile/foto teman lawan jenis yang menimbulkan syahwat atau kenangan hati tertentu (CLBK). Aktivitas inilah yang akhirnya memicu kecemburan pasangan dan berujung pada ketidak harmonisan keluarga hingga munculah perceraian. Inilah selingkuh kecil versi era millenium-modernisasi-globalisasi dunia maya yang berefek sangat besar.
Ternyata keadaan ini sangat sinkron dengan keresahan ulama mesir mantan komite fatwa Al Azhar; Syaikh Abdul Hamid Al-Atrash (03/02/2010) yang pada akhirnya memberikan statemant mengharamkan jejaring sosial tersebut dengan alasan syar'i meningkatnya angka perceraian dan semakin tersebarnya perzinahan, walaupun pernyataan keresahannya itu ditunjukan bagi masyarakat Islam dengan spesifitas yang tinggi, pada satu tahun yang lalu. Tapi sangat memungkinkan terjadi pada masyarakat umum, dan terbukti sekarang.
Yang sudah berstatus saja akhirnya kemudian dapat tergelincir, apalagi yang belum berstatus alias masih single, teman!Sangatlah besar kemungkinan terperangkap fitnah ini.Sekali lagi,berbahaya sangat teman, jika tidak memahami ATURAN SYARIAH dan KEDEWASAAN dalam berinteraksi didunia maya maupun realita. Newbie (pengguna baru) atau facebookiyah (jama'ah facebook) pasti akan terkena dampak sydrom ini, hingga kedewasaan (bijak) dan kesadaran akan aturan interaksi itu harus timbul dengan perjalanan waktu dan hikmah.
Hal ini juga yang menjadi keresehan dan keyakinan saya untuk berhenti menggunakan facebook pada kondisi status tersebut (single) saat itu, walaupun Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai referensi itjihad saat itu membolehkan (tidak mengharam) dengan beberapa persyaratan tentunya.
Sarana media itu bagaikan senjata pistol "The man behind the gun" (moga bener nih idiom bahasanya para holigan..hehehe,maklum dah), tergantung siapa dan untuk apa digunakannya. . Pertanyaannya, bagaimana dengan jejaring sosial milik muslim, seperti pencerahanhati.com atau salamsalim.com dan lain -lainnya?bisa sama saja,juga bisa berbeda hasilnya, tetapi diharapkan kontrol sosialnya lebih baik, karna lebih banyak orang baik, dan misi untuk bergabung dalam jejaring sosial itu sudah cukup jelas untuk berbagi kebaikan.
Saatnya mengembalikan sarana (facebook,salimsalam, pencerahanhati.com dan lain...) apapun yang kita pakai pada esensi fungsinya dengan bijak. Dan saya rasa mereka-mereka juga para pendiri jejaring sosial tersebut pasti memiliki niat membuat itu untuk tujuan mulia, tujuan kebaikan bersama. janganlah menodai niat mulia-mulia mereka hingga kita juga dapat terhindar dari selingkuh - selingkuh kecil itu. Seperti saya (dengan status baru: triplo) yang akan coba kembali online di jejaring-jejaring sosial dan kembali aktif (menyeru) didunia maya dengan lebih bijak dan terjaga, Insya Allah. Bagaimana dengan (pendapat) anda?.
lihat tulisan2 lain di www.izzatulgumam.blogspot.com
(Tambun 25/05/2011)
Showing posts with label Prespektif Gumam. Show all posts
Showing posts with label Prespektif Gumam. Show all posts
Tuesday, August 09, 2011
Monday, November 08, 2010
SEJENAK BERSAMA AL QUR’AN (2)
Disiplin Lalai (Kuantitas Membaca)Masih terus terngiang saja dalam ingatan, sebuah ucapan kalimat singkat saudara saya Akh Fikri waktu sesi diskusi pada sebuah forum Lingkaran Sederhana sore itu. Hadiah sebuah kalimat sederhana tausiyah ustad yang didapatkan pada sebuah Mabit (Kader) di Masjid ARH UI Salemba. Saat tausiyah itu disampaikan kembali di forum, saya pun tertunduk sejenak...dan ternyata bukan saya saja sendiri yang tertunduk...“Jangan mengaku seorang Penyeru (Da’i) jika tiap malamnya lalai dalam qiyamullail walaupun hanya untjavascript:void(0)uk dua raka’at saja”, ZzeeeeeBbb....seakan jantung saya tertusuk panah sangat dalam dan berhenti sejenak beberapa detik... sejenak sadar bahwa kedisplinan lalai kita lebih tinggi dari pada kedisiplinan taat kita.
Dan ternyata kalimat tausiyah itu tertoreh juga pada sebuah buku At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran karya Imam Nawawi, yang ditulis sebagai hujjah seorang mukmin yang memiliki komitmen tinggi untuk mempelajari dan berinteraksi dengan Al qur’an, yang saat ini coba saya rampungkan baca sebagai tambahan wawasan kuliah tahsin saya, beginilah kalimat hadistnya “Barangsiapa sembahyang malam dan membaca sepuluh ayat, dia tidak ditulis (dimasukkan) kedalam golongan orang yang lalai. Barangsiapa yang sembahyang dengan membaca seratus ayat, dia ditulis dalam golongan orang yang taat. Dan barangsiapa yang sembahyang membaca seribu ayat, dia ditulis ke dalam golongan orang yang berlaku adil” (Riwayat Abu Dawud dan lainnya). Ternyata kuantitas membaca dan hapalan Al qur’an kita akhirnya berbicara banyak tentang karakter pribadi kita, jadi pertanyaan besarnya : Akan ditulis dalam golongan apa saya malam ini?? (Izzatulgumam; 07112010, Menjelang tengah malam)
Sunday, September 12, 2010
KADO SEDERHANA (7)
Saat kita tak mampu memberi (langsung)Semua orang pasti akan mengalami kejadian ini, dimana saat pemberian kita terlihat kurang layak secara jumlah dan kualitas, saat pemberian kita terbatas pada ruang dan waktu, atau mungkin saat pemberian kita kurang bisa diterima secara makna pada saat itu. Yang jelas semua pemberi sejati juga mengalami keterbatasan itu sehingga seperti kurang dan bahkan serasa tidak layak jika diberikan secara langsung.
Ada sebagian orang keinginan memberinya dan kejujuran akan realitasnya membuncah, hingga tak ada kamus baginya pemberian tak langsung itu. Apapun yang dimiliki, saat keadan psikologisnya terinpuls, maka saat itulah ia keluarkan apapun yang ia punya, dan apapun adanya dengan kejujuran yang realitis.
Bagi sebagian orang ada yang ‘menabung’ jumlah dan kualitas yang akan diberi agar jumlah dan kualitasnya cukup layak untuk diberikan....entah sampai kapan?. Ada sebagian orang yang sudah memiliki itu semua (jumlah dan kualitas) tapi tetap tak mampu memberi secara langsung karna keterbatasan pada waktu, ruang dan keadaan, dan saat itulah mereka tetap harus ‘menabung’ waktu dan keadaan, agar mendapatkan kadar waktu dan keadaan mencapai momentum tepat yang diinginkan untuk melaksanakan niat memberinya itu. Adakah yang dapat memberikan semuanya secara sempurna?
Bagaimana jika pemberian itu terlalu besar secara jumlah, kualitas, waktu dan keadaan yang tak mungkin dapat dipenuhi manusia secara tak langsung juga. Pemberi sejati faham sekali akan kapasitas dirinya, tapi jangan salah ia pun akan tetap mampu memberi, dan bahkan bisa lebih banyak dari yang ia inginkan untuk memberi. Sederhana saja caranya: Memintalah sebelum memberi. Pelajaran pokok dan sederhana bagi pemberi sejati: Memintalah pada Maha Pemberi apapun yang akan kau beri (Allah menyukai Hambanya yang suka berdo’a) kemudian lihat dan rasakanlah Sang Maha Pemberi melakukan mekanisme-Nya memberi, dengan berbagai Cara-Nya. Allah Maha Kaya pemilik apapun di alam semesta ini, dan terjawablah sudah apa yang akan kita lakukan saat kita tak mampu memberi secara langsung karna keterbatasan permanen itu......maka dimulailah dengan memberi seperti keinginan memberi saya ini: Berdo’alah“Rabbanaa hablana min ajjwazina wa dzhurriyatina qurrota’ayun, wa ja’alna lil muttaqqina imamaa” (Izz@m; 12092010)
"Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai" (HR Abu Dawud)
10 FIRST THINK (to do) AFTER MERRIED (2)

Kisah (sistem) Cinta dirumah Hasan Al Banna
“CINTA di rumah HASAN AL BANNA” begitulah judul sebuah buku yang ditulis oleh Muhammad Lili Nur Aulia yang juga merupakan Redaktur majalah Tarbawi. Sebuah penggalan kejujuran dan saksi hidup kenangan anak – anak As syahid Hasan Al Banna saat beliau menjadi Ayah mereka yang sekaligus juga pioner da’wah saat itu.
Menurut saya seharusnya buku ini jauh lebih tebal untuk cukup menterjemahkan secara utuh (penuh) kandungan judul buku tersebut. Walaupun nyatanya kurang tebal, tetapi menurut saya buku tersebut isinya minimal sudah cukup memprovokasi untuk kita merenung kembali, apakah kita sudah cukup baik untuk menjadi seorang Ayah yang sekaligus juga ‘berprofesi’ tetap menjadi seorang penyeru.
Entahlah.....Ternyata ahirnya saya terprovokasi juga untuk menulis setelah membaca buku itu (semoga terprovokasi juga untuk mengamalkannya). Dan semoga bukan juga karena dorongan ‘hutang’ tulisan yang sudah melilit jari – jari saya (red; bukan melilit leher loh, beginilah kalau versi hutang ala penulis..he3x) hingga sulit untuk menekan tombol - tombol huruf pada Laptop.
Sebenarnya saya hanya mengambil sangat sedikit saja dari berbagai makna yang ada di kisah buku itu, yaitu SISTEM KELUARGA ISLAM; Pertanyaan besar di benak saya adalah sederhana: Bagaimana as syahid dengan sangat cerdas, hangat, tepat dan sangat kuat membangun sistem keluarga tersebut, hingga saat sistem itu ditinggalkan pun tetap membekas dihati anak - anaknya?saya yakin ini bukan perkara mudah, dan bukan juga kerja- kerja individu as syahid sendiri, walaupun dialah qowwannya. Jadi apa sebenarnya yang ada dibalik semua itu? .
Sistem Cinta, Sistem Ridho
Jika diibaratkan sistem keluarga Islam adalah sebuah komputer, maka sistem yang dibangun harus memiliki software (perangkat lunak) yang handal-cerdas dan hardware yang cukup mumpuni untuk menjalankan program – program ‘amanah’ yang berat sekalipun agar tidak mudah ‘hang’. Kita sebagai muslim sudah memiliki O.S (Operation System) yang sempurna (Islam), hanya saja aplikasi kekinian program – program “exe” yang kita miliki kurang aplikatif, entahlah mungkin karna daya kreatifitas kita yang lemah atau memang kurangnya tsaqofah Islamiyah&tasqofah kekinian kita.
Sebagai tauladan program kreatif pada buku ini, as syaahid membentuk program kreatif sistem data base&informasi keluarga untuk seluruh anggota keluarga yang berisi catatan sejarah kelahiran, medical record dan catatan prestasi formal maupun nonformal dalam satu map. Mungkin kini kita tidak usah pakai map lagi sekarang (jadul boss!!), kita bisa lebih simple lagi mencatatnya pada HP, smartphone, Comunicator (yang N9300 y..:) jadul tapi fav) atau netbook. Alasan apalagi yang membuat kita jadi tidak kreatif dengan sarana yang cukup memadai. Dan itu bagi as syahid bukan hanya setumpuk catatan yang tanpa follow up tanpa evaluasi. Prestasi mana yang kurang pada anaknya selalu didiskusikan kepada guru disekolah untuk dibantu, atau gurulah yang dibantu untuk masukan metode lain dimana anaknya dan anak – anak yang lain dapat meningkat prestasinya.
Lantunan salah satu lirik musik kekinian Ari Laso sepertinya juga cukup tepat untuk menggambarkan maksud yang kedua.....“Sentuhlah dia tepat dihati,...(ga hapal Gan lirik tengahnya, hehe..)........jadi milik ku selamanya”. Energi terbesar yang pernah ada didunia ini untuk menggerakkan sistem adalah cinta, kalau ejaannya versi d’bagindas C.I.N.T.A (korban sering nonton tv nih). Jika energi ini ada ditiap element utama sistem terutama Ayah dan Bunda maka sistem akan bekerja dengan sendirinya menuntaskan apapun amal itu tanpa perintah keras, tanpa lelah, tanpa pengawasan, lebih dasyat tanpa pamrih. Seperti cerita kejujuran pada kutipan buku tersebut ketika Syaiful Islam (anak lelaki as syahid) dilarang menonton bioskop oleh Ayahnya : “Ayah –semoga Allah merahmati-Nya- sangat lembut perasaanya. Beliau sangat memelihara perasaan anak – anak nya dengan begitu hati – hati. Beliau memiliki kemampuan untuk menjadikan kami menurut tanpa perintah untuk mentaatinya. Kami menganggap beliau mempunyai wibawa demikian besar yang menjadikan kami senang mengikuti keinginannya dan tidak mau melawan (CdRHA;Hal 39)”.
Sistem keluarga adalah sistem dimana anggotanya adalah manusia, bukan robot, bukan malaikat, maka jelaslah orang tua yang memelihara hati anak – anaknya dengan hati – hati maka hanti -nya pun akan dipelihara oleh anak – anaknya dengan hati – hati pula...lakukanlah dan coba perhatikan apa yang terjadi (mode on taklid style ustad Mario Teguh)...??
Pemahaman, Mujahadah dan Fokus
Sejauh mana keseriusan&kesungguhan kita dalam membangun sistem keluarga (da’awah) Islam dengan kondisi propaganda sekarang yang kompleks?pertanyaan besar yang juga belum bisa saya jawab secara utuh dalam dinamika ini. Sebab makna, dinamikanya kita sangat santai (lalai) dalam membangun dan menjalankan manhaj ini tapi dengan mengharap ouput/untung yang besar. Malam kita terlalu lalai dengan kelelahan fisik yang mengalahkan perhatian kita pada evaluasi pengawasan sistem yang sedang dijalankan. Fikiran kita terlalu sibuk pada alasan ke egoisan peran utama seorang Ayah mencari rezki untuk nafkah keluarga, dan lalai pada fokus pembinaan istri dan anak – anak.
Sejauh mana?jawabnya sangat sederhannya;Sejauh pemahaman kita, Al fahm akan berbicara banyak tentang ini sampai ke akar-akar nya. Tingkat kepahaman dari element utama sistem akan mempengaruhi kesungguhan kerja sistem amal ini. Maka kenapa semua harus dimulai dari persiapan diri yang baik sebelum menikah, memilih pasangan hidup yang juga baik pemahamannya agamanya (baca CdRHA hal 22 – 25; ya ummu wafa, istana kita menanti di surga; kepercayaan yang sangat besar).
Wanita (istri) adalah poros utama sistem itu sendiri, wanita dengan banyak sekali pengambilan peran dalam sistem tersebut yang akan berpengaruh besar pada kestabilan sistem. Keluarga yang lemah sistemnya dapat dipastikan lemah asset yang satu ini. Istri adalah patner hidup yang berperan sangat besar untuk menterjemahkan, mentransferasi, mentranformasi dan menjalankan sistem yang kita konsep dalam bentuk afiliasi - afiliasi yang sangat unik-khusus. Allah memang sangat mengkhususnya menciptakan mahluknya yang bernama wanita (Istri) untuk peran yang sangat khusus pula. Tak ada yang dapat menggantikan peran ini, sekali pun seorang baby sister (pengasuh anak) terpandai dengan gaji termahal didunia yang pernah ada. Oleh sebab itu Al fahm sangat dipentingkan bagi pasangan kita, dan terjawablah sudah pertanyaan itu bagi seorang ikhwan-akhwat dalam kebimbangannya yang dalam tak kunjung berakhir saat biodatanya tak tersentuh, dalam tanya kepada ustadzah pembinanya: haruskah ana menikah dengan sesama muslim (terbina) Tarbiyah?
Lain di dalam buku tersebut juga diceritakan dengan betapa sangat serius dan bersungguh - sungguhnya as syhid membangun dan menjalankan sistem secara benar dan aplikatif, tiada waktu tanpa program - program yag jelas, mulai dari komitmen makan bersama hingga waktu tujuh menit untuk tidur (istirahat) saja menjadi perhitungan yang matang agar dapat menyelesaikan multi task; agenda keluarga dan agenda da’wah (CdRHA hal 29 – 31). Kesungguhan lain pun terlihat betapa rapihnya as syahid melakukan pengaturan dan pencatatan administrasi keuangan keluarga, catatan prestasi, catatan medis anak dan jadwal agenda keluarga yang disusun tanpa tumpang tindih antara jadwal agenda da’wah eksternal dan kehangatan keluarga. Semua sistem harus kita bangun secara serius dan bersamaan; membangun dan menancapkan sistem ekonomi keluarga, sosial masyarakat, sistem pendidikan keluarga, sistem akidah, dan sistem ideologi. Pasti tapi bertahap dan bertahap tapi pasti!!.
Realitas tauladan kini
Sudah banyak tauladan, silahkan menyontek dan itupun tak berbayar teman!!.Jangan heran yang berlebih jika akhirnya keluar buku yang launchingnya menjawab kebimbangan untuk memiliki anak (terencana) banyak tapi berkualitas. Bacalah kisah dan Pengalaman hidup aplikatif dalam buku “10 bersaudara bintang Al qur’an”, atau kisah istri – istri ustad dan anggota dewan kita yang memiliki jumlah anak lebih dari jumlah standart nasional negara kita (Keluarga Berencana; KB), atau mungkin yang selanjut menyusul menjadi tauladan adalah kita. Mana yang harus disalahkan?jumlah anggotanya, takdir rezeki atau sistem-program membangun keluarganya. Semua punya satu suara ketika ditanya bagaimana mengaturnya agar mereka tetap tertib, akur, disiplin dan harmonis antar seluruh anggota keluarga: Membangun sistem dan program – program yang rapi, detail dan sistematik antara peran, hak&kewajiban.
Dengan menikah Allah menjadikan kita kaya raya, Allah menghadiahkan sebuah perusahaan kehidupan yang bernama keluarga. Keluarga adalah organisasi perusahaan kehidupan yang ‘direkturnya’ adalah kita (ayah), ‘sekretarisnya’ istri kita dan ‘staf – stafnya’ adalah anak – anak kita.
Refleksi Kebangkrutan bukan kebangkitan
Refleksi miris!! jika akhirnya seorang yang mengaku pasangan muslim ketika ditanya tentang sudahkan buat program kerja keluarga setelah menikah belum memiliki jawaban yang pasti dan konkret, dengan dalil syar’i “insya Allah sudah takdir akan berjalan dengan sendirinya akhi”, atau sudah di pikirin akh tapi belum dituliskan, atau mungkin sudah dibicarakan globalnya akhi tapi belum sampai program konkretnya...Padahal sudah menikah hampir genap satu tahun??.
Semoga perusahaan keluarga Islam tidak terkena likuiditas, merger, atau bahkan bangkrut (tidak produktif) karna bermasalah dalam membentuk dan membangun sistemnya. Semoga anggota karyawan perusahaan keluarga kita yang ada didalamnya tidak “resign” secara hati dan fikiran walaupun jasadnya masih dalam pelukan kita. Bangkrut adalah kata dan kisah tersedih yang harus dibayar mahal diakhir untuk dunia dan akhirat bagi sebuah perusahaan keluarga Islam. Seperti kutipan surat cinta ini :“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(At Tahrim:6)”.
Jadi sangatlah jelas bahwa perusahaan keluarga Islam membutuhkan suatu sistem pemeliharaan bukan hanya untuk diri, tetapi juga sistem untuk karyawan-karyawannya (anggota keluarga) yang sangat kultural dan aplikatif, agar dapat bekerja pada realita dinamika duniawi dan harapan - harapan proyeksi akhirat nanti.
Semoga ini realitas indikator sederhananya saat saya sejenak turut terkagum sewaktu meminta fedback sms dari teman – teman untuk tulisan ini tentang seberapa pentingkah membuat program kerja setelah menikah untuk keluarga, begini jawaban jujur sms-nya :
Alhamdulillah sdh, perlu agar khdpn lbh teratur&terencana sesuai syariat (0856xxxxxx166) - PERLU! Ud bkin, tp blm tlalu mksimal plaksanaanny (0813xxxxx989). Akhirul kalam: sebab makna, sudahkah dimulai kisah (sistem) Cinta dirumah Hasan Al Banna dirumah kita setelah menikah??atau belum sama sekali memulai?.(Izz@tulgumam; September 2010. Autotausiyah:Tetaplah disampingku Dear!)
Nb : Ya Allah berilah kekuatan kepada kami untuk menjalankan amanah ini dengan baik.
Monday, July 26, 2010
10 FIRST THINK (to do) AFTER MERRIED (1)
Pesanan dari sehabat kebaikan!!semoga royalti pahala terus bergulir. Idea judul tulisan yang kemudian mengispirasi saya untuk menulis. Seperti kata saya, alasan saya menulis hanya dua : pertama karna ada tuntutan kebutuhan, dan kedua biasanya hanya karna ada yang saya ingin disampaikan, selebihnya saya kurang tertarik untuk menulis. Kali ini saya menulis karna menurut saya ini pantas untuk disampaikan dengan deru – deru perlombaan kebaikan teman – teman yang banyak menggenapkan agamanya menjelang ramadhan ini, tapi semoga saya punya konsentrasi kesabaran yang tinggi untuk merampungkannya disela aktifitas saya yang membutuhkan konsentrasi juga : Persiapan mapping BPOM, Finishing rumah baru,...dll. Allahumma amiin.Tetap!!Niat yang ‘LURUS’ dan ‘TERANG’ (Edisi Menikah).
Baarakallah...Panen raya tlah tiba!!
Yang pertama merubah status kita adalah Allah swt, kemudian adalah sosial masyarakat. Hak dan kewajiban pun berubah 180 derajat, begitupun nilai ‘reward’ yang Allah berikan. Banyak amalan - amalan baru yang kemudian terubah menjadi nilai pahala yang berbeda. Saya tidak perlu beri tahu rincian amalan ringan apa yang dulunya saat single tak bernilai akhirnya saat berpasangan menjadi nilai ibadah yang besar. Sangat disayangkan jika tidak diniatkan dengan baik dan benar agar bernilai ibadah.
Setelah menikah seakan kita berpanen raya amal kebaikan setiap saat, setelah terjadi ikatan sakral itu seakan kita memiliki ladang luas dan lumbung amal – amal kebaikan yang tak pernah habis terpanen setiap detik, jam dan waktu. Lumbung amal kebaikan yang juga masih tersisa jika ‘dimakan’ habis pada hari itu juga, lumbung prosfektif yang tesimpan untuk jangka yang sangat panjang (akhirat). Niatlah yang membuka pintu gerbang parade – parade panen raya amal kebaikan tersebut. Maka, pastikanlah NIAT menjadi awal membangun landasan keharmonisan, niat menjadi awal pondasi, niat menjadi sari eksistensi da’wah bina usrah ini. Jadikanlah niat menjadi hal yang ‘sakral’ sebelum memandang, menilai dan melakukan sesuatu untuk pasangan kita.
Tantangan niat
Variabel kehidupan kita setelah menikah akan bertambah, ada istri dgn paket sejarah kehidupan sosialnya, anak, orang tua istri dan runtutan keluarganya. Saat itulah niat akan berhadapan langsung dengan lebih banyak variabel kepetingan, variabel hak dan kewajiban yang menyertainya. Uniknya variabel itu karna terikat dalam ikatan tali kasih sayang yang kuat, dan inilah nikmat sekaligus ujian tersulitnya. Kebenaran dan keteguhan niatlah yang akan menentukan lurus jalan- jalannya. Niat yang TERANG-lah yang akan menerangi untuk mudah memilah – milah solusi tarikan variabel itu. Niat, kemana engkau akan pergi?.Niat selalu memandang&berjalan lebih dulu ke depan lebih jauh, dan yang kemudian mengikutinya adalah amal – amal kita, dan niat juga kadang berada dibelakang kita; mendorong untuk memastikan kita berjalan untuk lebih cepat dan pada jalurnya menuju yang dituju (target inti niat itu). Jadi sekali lagi, kemana engkau akan pergi istri ku bersama niat itu?.Pergilah bersama niat yang hanya ‘LURUS’ dan ‘TERANG’ seharusnya!!
Note : Afwan, Insya Allah akan dilanjutankan (masih dalam editing)....yang ke-2 dengan judul “Bulan Madu Kita”, Ke-3 “Program kerja keluarga: Dear, yuk membangun SISTEM!!” dan ke-4 “ Kita Tinggal Dimana ya Akhi?”...Bismillah.
(Izz@M ; MyDesk 9300; 20072010)
Monday, July 19, 2010
KADO SEDERHANA (6)
Nasihat Pernikahan.Setiap kejadian yang terjadi kita alami pasti mempunyai hikmah dibaliknya,hanya karna daya pandang jarak kita saja yg terbatas menatap masa depan maka memaknainya jadi berkurang. Contohnya sebuah pemberian tausiyah pernikahan: memang kadang kita langsung membutuhkan hal itu (terutama penganten baru) dan langsung menerimanya, dicerna kemudian langsng pula dikeluarkan dalam bentuk energi - energi kebaikan, tapi ada sebagian orang pula yang mengendapkan pada jangka waktu yang cukup lama dalam bentuk kumulasi 'lemak-lemak' teori - teori kebaikan saja. Entah kapan akan dikeluarkan menjadi energi kembali, semoga tidak membentuk 'kolestrol menunda' yang menumpuk, menyumbat darah - darah kebaikan untuk mengalir untuk deras.
Setelah kado elektronik dan kado puisi sederhana, saya ingin sekali memberikan yang lebih bermanfaat dari itu. Yaitu Kado Nasihat. Sebuah nasihat ustad yang memberi tausiyah pada pernikahan saya dulu di Bengkulu, yg kemudian saya "repack" kembali dengan bungkus 'kertas' cinta&kepedulian. Kado ini saya dedikasikan langsung terutama buat istri saya tercinta (bunda cantik*gak pake ge-er... cinta itu tak terlihat, tapi cinta sangat nyata, bergerak ke segala penjuru arah) sebagai pengingat bahwa tanggal 8 Agustus nanti genap satu tahun pernikahan ini berlangsung, dan juga buat sahabat - sahabat kebaikan saya yang menikah di akhir tahun 2009 - 2010. Inilah kado pemberian paling terindah bagi seorang muslim untuk muslim yang lain. Berikut resume Tausiyah ustad. Tusiyah pertama di isi oleh ustad Suherman pada akad pernikahan kami, beliau ustadnya DPD salah satu partai Islam dgn jargon ".....untuk semua" di Bengkulu, dan yang kedua tausiyah ustad pada acara resepsi yang di isi ustd HM. Syamlan, Lc beliau adalah wakil Gubernur Bengkulu. Wakil Gubernur yang sangat tawadhu dan sederhana menurut saya.
Tausiyah I (Drs. Suherman)
Ustad berpesan bahwa Nikah itu adalah sunnatullah, jadi menikah adalah bagian dari anjuran rosullah. maka untuk melaksanakn hal itu perlu adanya :
1. Ikhlasunniah, Niat yang ikhlas menikah hanya karna Allah swt semata, dalam rangka meningkatkan ketaatan&mentaati Allah dan rosul, insyaAllah dengan selalu terjaga keikhlasan niatnya akan terjaga pula barokahnya.
2.Laksanakan pernikahan tersbut sesuai ajaran agama, Sebisa mungkin mengusahakan pelaksanaan berjalan sya'riat Agama.
3.SMART (Sakinah, MAwadah, waRohmah, waTarbiyah), jika niat sdh ikhlas dan pelaksanaanya sdh bermujahdah menjlankan syariat, maka terbentuknya keluarga SMART akan mudah tercapai, sebab awal selalu menentukan akhir. Dengan apa membentuknya?
a. Ta'aruf
Pesan beliau, karna kami dipertemukan dalam kebaikan (da'wah) dan bahkan tak pernah mengenal seblumnya, yang ikhwannya di Bekasi dan akhwatnya dibengkulu. Maka maksimalkanlah bulan madu dan masa awal2 pernikahan dengan mengenal lebih dalam istri dan keluarga. Inilah indahnya seni menikah dengan ta'aruf: pacarannya tanpa batas ...upps sensor!!! (kalau akhir kalimat ini bukan kata ustad ya..he2x), jika yg pakai pacaran seblum menikah, saat bulan madu tinggal bulan-nya saja, sedangkan madunya sdh diambil saat pacaran itu y..??:)
b. Tafahum
Pesan ustad cukup singkat, katanya pahamilah istri dan suami kita dengan baik, sebab dengan pemahaman yang baik akan mudah untuk saling memaafkan dan toleransi satu sama lainnya.
d. Takaful
Saling tolong menolong dalam segala hal urusan dunia dan akhirat, hingga beban akan terasa ringan dipikul. Sikap takaful akan dapat tercipta apabila tercipta tafahum yg baik, kerjasama 'team kehidupan' rumah tangga yg hangat. Akhir pencapaiannya adalah terbentuknya bina usrah yang solid dan produktif. Dari sikap takaful, ustadpun berpesan untuk juga memahami manajemen syi'ri dalam organisasi 'team kehidupan' seperti, kewajiban menjaga 'aurat'/rahasia - rahasia suami istri dan melengkapi kekurangan masing-masing. Jangan pernah sekali kali bermain - main dengan aurat, teman..
Begitulah keseluruhan pesan ustad, dikarenakan tausiyah saat akad cukup terbatas, maka hanya sedikit sj yang dipaparkan, selebihnya hanya point - point saja.
Tausiyah II (Ustad Syamlan, Lc)
Sebagai wakil gubernur Bengkulu, ustad Syamlan kami undang sebagai Sambutan dari Perwakilan tamu, tausiyah dan dilanjutkan dengan do'a penutup...Kerja borongan kata ustad dalam sela ceramahnya, tapi Alhamdulillah disela kesibukannya beliau sempatkan untuk bs hadir. Dan bahkan menyemptkan juga memberikan kami hadiah pernikahan berupa jam dinding dengan hiasan do'a.
Sebagai perwakilan para undangan ustad memohon maaf apabila para tamu hadir dengan pakaian yang tidak seragam, waktu yang tidak sama : ada yg diawal, ditengah dan bahkan diakhir - akhir acara yg kadang dpt merepotkan. Selain itu beliau juga mengingatkan kembali penganten lama agar lebih bergairah kembali dalam mengarungi kehidupan pernikahan sebab inilah hikmah para penganten lama untuk slalu menghadiri acara - acara pernikahan, merefresh kembali kenangan bahagia dan perjuangan saat menjadi penganten baru.
Asam digunung, garam dilaut, bertemunya di Bengkulu. memang jodoh memiliki garis takdir sendiri, ini adalah tanda kebesaran yang Allah swt tampakkan kepada hambanya.
Sempurna Sudah!!
Pesan ustad bahwa menikah itu merupakan sebagian dari Agama bahkan bisa dianalogikan pernikahan merupakan sebagai dari kehidupan. so, se-cantik dan se-ganteng apapun orang tersebut atau sekaya dan sepintar apapun seorang lajang yang belum menikah, maka akan tetap terasa kurang sempurna hidupnya, akan terlihat ada yang ganjil dalam kehidupannya. Maka beruntunglah dan bersyukurlah orang yang dapat menyempurnakan setengah agamanya berikut setengah kehidupannya. Rayakanlah hal itu dalam bentuk syukur kepada Allah.
Iman dan Cinta
Adanya Iman maka hidup menjadi tenang dan ada cinta maka hidup lebih bergairah. Hidup berumah tangga adalah pilihan kehidupan yang akan dijalani dalam jangka panjang. Element inilah yang sangat diperlukan dalam menjalankan rumah tangga: Iman dan Cinta. Jika ada cinta, maka saat mendaki tingginya gunung kehidupan takkan terasa lelah, jika ada cinta saat menuruni gunung kehidupanpun akan terasa nikmat, bahkan saat jatuh terpeosok pun dengan adanya cinta akan tetap indah. Cinta membuat pasangan lebih toleransi dan mudah memaafkan. cinta akan membentuk itu semua.
Pencuri Cinta
Ustad Syamlan pun berpesan di akhir tausiyahnya agar berhati - hatilah dengan pencuri cinta. dimanapun ia akan hadir, dalam jelmaan apapun : pekerjaan, materi, teman dll. Jangan sampai ada yang mencuri cinta dan mencuri Iman dari pasangan kita, dan jika itu tidak terjaga dengan baik maka tibalah kehancuran secara perlahan kehidupan keluarga kita, tapi jika kita bisa menjaganya, maka terciptalah jaminan kehidupan keluarga Sakinah, mawadah dan warohmah. Allahumma amiin. Bukannya ustad dari Bengkulu (melayu) jika tidak berpantun, maka diakhir tausiyahpun ustad Syamlan berpantun, inilah pantunnya :
Bukan selendang sembarang selendang
Selendang disiapkan untuk pengantin baru
Bukan datang sembarang datang
Kami semuanya datang tak lain adalah menyampaikan do'a restu
"Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai" (HR Abu Dawud)
Note : Tahu bisa basi tapi Tausiyah tak pernah basi..smg menguatkan!
(Izz@m, 17072010; myDesk N9300 Baarakallahulaka sahabat)
Saturday, May 08, 2010
KADO SEDERHANA: Istriku, langit masih biru? (3)
Wednesday, July 29, 2009
SOUVENIR SEDERHANA (8)
Don’t be afraid : dijalan da’wah aku (akan) menikah!!
“Subhanallah.... kata itu yang selalu mengiringi hapalan saya setelah pertanyaan syukur“ Fabiayyialaa irrobbikuma tukadzibaan..., Alhamdulillah ya Robbi”. Kalimat yang terlontar di antara momentum tiap tahap perjalanan hidup saya di beberapa akhir bulan ini. Betapa tidak, beberapa hitungan hari lagi saya insya Allah akan mengikuti dan menyusul keberhasilan beberapa teman saya yang sukses menggenapkan agamanya sekaligus menggenapkan titel keprofesiannya....SEMPURNA!! seperti ukhti Melly, Mba Amellia, Siti Saodah dan ibu Dea yang beberapa dari mereka telah ‘sukses’ terhamili secara sah oleh suami – suaminya... ^_^ Piss ya bu.
Kita perlu mengacungkan jempol buat mereka semua, termasuk saya....saluuut!!. apalagi seperti Ibu Dea dan ukhti Melly yang mengambil jalan dan keputusan itu di usia sangat muda, usia yang sangat produktif untuk melakukan banyak hal. Hal ini juga yang meyakini saya bahwa kecintaan perlu memutuskan, perlu mengambil jalan dan arah perkembangan cinta itu kemana harus diteruskan, kemana harus dibawa, dan ditanam ditanah mana ia (cinta) akan dapat tumbuh sempurna.
Akhirnya masa itu pasti akan datang juga, disaat waktu yang tepat dan insya Allah dengan orang yang tepat pula. Allah telah membuka rahasia terbesar kehidupan apabila hambanya telah siap menerimanya. Termasuk beberapa rahasia besar kehidupan manusia setelah rahasia awal hidup, rezeki dan kematian, yaitu Jodoh atau pasangan hidup...subhanallah, ini nikmat terbesar yang lebih besar dari semesta raya ini saat pintu rahasia itupun terbuka. Tak sanggup rasanya hati ini menampungnya.
Dia datang dan di datangkan oleh Allah saat kita sudah benar – benar membutuhkan akan hal itu. Yang jauh maka Allah akan dekatkan, jadi gak usah pake konspirasi didekat-dekatkan dengan aktifitas – aktifitas yang gak syar’i (like pacaran). Yang sulit maka Allah akan mudahkan, jadi jangan merasa sulit dan malah jadi sesulit gak bertanggung jawab. Yang belum mampu maka Allah akan mampukan, jadi jangan coba – coba merasa gak dimampu – mampukan apalagi ditunda – tunda karena itu kufur nikmat namanya teman. Biarkanlah takdir itu melakukan mekanisme-Nya, sebab akan ada sejuta alasan dan cara Allah akan menyatukan kedua insan saat takdirnya tiba, dengan cara apapun!!. Begitupun tentang takdir perpisahan atau kehilangan, maka akan ada sejuta alasan dan cara pula jika Allah akan memisahkan kedua insan tersebut, dan takkan ada mahluk apapun yang berkuasa di alam semesta ini mampu menghalanginya. Jadi ini hanya sebuah bab cerita besarnya keyakinan dihati yang menghujam dengan daya kerja otak yang cerdas dan karya amal – amal optimal yang terus terjaga kebarokahannya.
Menikah Lintas Provinsi dan Budaya
Mungkin kisah proses saya tidak “sebaik” dan se-umum teman – teman dalam menggenapkan ad-diin ini, prosesnya yang sangat singkat sekali, gak mau kalah sama pos kilat-nya Pos Indonesia atau Tikki. Saya pun tak mampu membayangkan keajaiban dari keberkahan ini. Kalau bukan karena campur tangan Allah yang sangat besar dalam proses ini mungkin tidak akan terjadi. Tepat 16 Mei 2009 setelah beberapa minggu hasil ta’aruf, saya mengkhitbah seorang akhwat bernama Winda Apriyanti bukan karena emosi atau nafsu sesaat ini pilihan cinta, ia tinggal di daerah yang masih sangat asing bagi telinga saya: Bengkulu nun jauh di Sumatra sana. Ia seorang da’i-ah yang menurut saya sangat berupaya ikhlas terhadap da’wah-nya, sederhana&meneduhkan (emangnya pohon akhi.. ^_^), lulusan Universitas Gajah Mada di Yogyakarta...jangan bilang – bilang ya teman kalau beliau sedikit saya puji ditulisan ini, bahaya! ^_^ (jangan ge-er ya ukhti^_^piss).
Ta’aruf dan khitbah terjadi bertepatan dengan masa sibuk kuliah apoteker saya. Terlebih saat khitbah, karena tepat bulan itu saya masih PKPA industri di LAFI-AD Bandung, jadi agenda pulang balik Bandung – Bekasi menjadi sering dan kok terasa dekat, juga bersemangat ya^_^, walaupun saat itu penyakit DBD melanda saya dan Ujian kompre tulis sangat menghantui menuntut konsentrasi yang lebih. Hanya kata ikhlas yang mampu menggerakan kekuatan dan percepatan proses itu.
Hasil syuro kemarin saat khitbah akhirnya menetapkan tanggal 8 agustus 2009 di Bengkulu nanti insya Allah saya akan memproklamirkan diri merubah status single menjadi double melalui akad (perjanjian besar), dengan mahar sederhana sebuah Al qur’an orisinil dari negri Mesir, seperangkat perhiasan semampu-nya dan sebuah hapalan surat Ar Rohman: surat terfavorit calon istri saya katanya, ia sangat menyukai arti dan makna deretan tiap ayat surat tersebut...Demi sang calon pacar, bismillah saja akhi!. Mohon do’anya ya teman untuk kelancarannya.Tanggal 9 Agustus baru acara resepsi-nya digedung Taman Budaya Bengkulu.
Hingga sampai tahap akhir ini bukan perkara yang mudah dengan kondisi saya yang masih kuliah, belum berpenghasilan tetap dan keluarga yang baru tiga bulan sebelumnya menikahkan adik saya tercinta. Keyakinan pada Allah yang besar dan saling menyakinkan antara saya dan ukhti yang ikhlas da’wah-nya itu tentang keikhlasan, kebarokahan dan orientasi untuk da’wah turut menguatkan bahwa itu adalah pondasi yang terkuat yang pernah hadir, sebab ia bisa sekuat gunung sebagai pondasi pasak bumi ini, dan bisa juga selemah, sangat lemah, bagai bulu – bulu halus yang berterbangan tertiup angin saat semuanya tak murni terkotori.
Kilas balik sejenak: siapa yang akan menyangka jika akhir penantian saya berakhir dengan akhwat yang sama sekali sangat tidak saya kenal, bukan hanya orang-nya tetapi tempat tinggal dan domisili kuliah-nya. Seribu tanya bukan hanya pada saya sendiri, keluarga saya pun pasti akan banyak menanyakan-nya lebih tentang keyakinan saya ini, begitulah saat sisi rasionlitas hadir dan cukup menggoda. Biodata yang terkirim via email dari pemimbing menjadi semburat misteri hingga akhirnya sampai hinggap di email saya, antara keraguan dan keyakinan meminta tanya sempat terlintas..”jika proses ini dilanjutkan apakah cukup memungkinkan dengan kondisi saya yang masih sibuk kuliah yang juga masih cukup menyedot dana IMF (infak mother&Father) untuk pergi lintas provinsi hanya sekedar untuk ta’aruf tatap muka?...huffhfff” toh tidak ada kepastian juga, bahwa saya akan diterima setelah ta’aruf nanti kesana, dalam istilah Quis-nya masih perlu tools bantuan fifty-fifty... ^_^,yuu mari korban quis!. Apalagi yang diandalkan kalau bukan shalat dan do’a senjata ampuhnya kaum muslimin(semoga bukan saat terdesak saja)!!Estafet demi estafet istiqorah terus digelorakan hingga membuahkan keyakinan, dan rangkaian do’a – do’a terus dihajatkan agar membuahkan kemudahan. Permohonan do’a saya cukup sederhana saat fase ta’aruf biodata itu “Ya Allah, hadirkanlah cinta pada hati ini dan hadirkan rasa cinta pada keluarga kami berdua agar cinta kami dapat berpadu...amiin”.Dalam hening dalam kesunyian, karena cinta harus untuk diupayakan dan dimohonkan sebab hati dan rasa (feel) itu hanya milik Allah, Ia pun yang Maha Berkehendak mutlak mengendalikannya.
Kunfayaakun, bukan bimsalabim...insya Allah benar!!, keikhlasan adalah jalan bebas hambatan dimana pemakainya berjalan tanpa macet oleh kemacetan dunia atau akhirat, tapi memang harga tarif masuk tol-nya berbayar (perjuangan&kesungguhan), semua pasti ada harga-nya teman! Termasuk harga keyakinan kita, bahkan ini yang sangat besar nilainya dimata Allah. Kabar gembira dari buah keyakinan itupun hadir via sms dari pembimbing halaqoh menjelang agenda PKPA saya di Bandung, bahwa akhwat yang ikhlas da’wah-nya ini bersedia datang ke Jakarta untuk ta’aruf tatap muka dengan saya...subhanallah ya ukhti!! dalam getar – getar dawai hati ini bergumam.
Ta’aruf.....ya ta’aruf, ya tatap muka. Tahap memastikan, tahap memastikan cinta berdua, dengarkanlah cara ia berbicara, renungkanlah pola alunan bicara dan suara hatinya, pastikanlah raut – raut wajah-nya yang memancarkan keimanan dan keyakinan pada kerangka cinta misi-jiwa, yang awal – awalnya mungkin hanya dugaan dan prasangka saja. Sekarang ia hadir dihadapan saya, dia hidup, dia bertanya dan dia pun menjawab. Ia tersenyum dan dia tetap menjaga hijab-nya, ia pun juga memastikan itu...memastikan kecenderungan dan dugaan - dugaan cintanya. Hanya satu jam kira – kira, satu jam tidak lebih. Kita saling bertanya dengan tiga termin: tentang saya-dia (personal), tentang keluarga dan membangun keluarga da’wah, dan terakhir tentang komitmen terhadap da’wah. Sungguh singkat dan ajaib menurut saya, karena itu adalah pertemuan pertama saya, dan selanjutnya untuk pertemuan kedua adalah langsung saat agenda khitbah, agenda yang mempertemukan kami dan antar kedua keluarga, bahkan saya kadang masih rada linglung belum mengenal dengan pasti calon istri saya apabila beliau menyatu diantara kerumunan anggota keluarganya saat itu^_^. Ajaib tapi bukan mistis, Jadi tanpa ada agenda umum pertemuan perkenalan tatap muka antara saya dengan orang tuanya, atau bahkan orang tua saya dengan ukhti yang ikhlas da’wahnya ini. Mereka (ortu) mengenal masing - masing kami dari biodata dan kestiqohan pilihan kami..subhanallah, shortcut!!, memotong waktu yang ada, hampir saya sendiri tak percaya, masih ada ya Allah orangtua seperti itu di jaman ini^_^.
Believed or not!! tapi don’t be afraid, sebab jika anda tak percaya segera saja buktikan sendiri teman....berani!!!.Menanti pertemuan ketiga sepertinya pasti akan lebih seru, sangat berkesan dan pasti saya akan dibuatnya grogi berat, teman. Pertemuan nanti yang insya Allah di Bengkulu 8 Agustus 2009 di saat saya sudah berhak sah memegang erat tangan dan mencium keningnya tanda cinta Allah bahwa telah menikahkan hati kami, setelah saat indah ayat – ayat cinta Ar-rahman itu rampung saya lantunkan, biarlah malaikat dan bidadari surga cemburu....ya Allah, seakan seperti mimpi, mimpi dari jiwa yang menerangi dan cita – cita yang menyala, mimpi yang terus terbuai bunga – bunga mimpi oleh lantunan salah satu kutipan ayat cinta itu Hal jazaa’ul ihsaani ilal ihsaan..dan bunga - bunga mimpi inilah yang membuat saya tak mau untuk terbangun segera.....^_^
(Izzam, 28072009 my Room; Ya Allah ridhoilah dan mudahkanlah jalan kami)
Wednesday, June 10, 2009
SOUVENIR SEDERHANA (7)
Nasihat adalah cinta………..
Siapa yang tak butuh nasehat, semua pasti butuh itu. Sebab itu adalah stabilitas dari sebuah hubungan social bahkan hubungan vertical bagi yang memaknainya. Tak mudah memang melakukannya, apalagi dalam kaidah hidup bersama, tapi juga tak begitu sulit untuk memulainya, oleh sebab itu dalam salah satu surah Al qur’an; Al ashar yang saya pernah pelajari tafsirnya meletakan iringan menasehati dengan kata – kata sifat lainnya yaitu: dengan kebenaran (hak), dengan kesabaran dan di surah ayat lain sering dinyatakan harus dengan iringan kasih sayang. Sifat – sifat itulah yang akhirnya dapat membuat siklus menasehati dapat hidup dan dapat berjalan baik dengan mekanisme seharusnya.
Jadi tulisan ini sebenarnya saya peruntukkan khusus untuk “seseorang” yang sedang selalu saya tunggu kesediaan akadnya, dan juga secara umum buat teman – teman lain jika saya ternyata sedang susah untuk ditausiyahkan, emosi tak terkendali, keras kepala, khilaf dan lain sebagainya. Agar teman nantinya coba bantu ingatkan saya pada sebuah tulisan sederhana ini yang pernah saya posting sebelumnya, dengan membacakannya, atau menge-printnya atau menulisnya ulang untuk diberikan kepada saya, atau mengirim melalui email atau juga berikanlah dalam bentuk “surat cinta”, jika hal itu memungkinkan…selebihnya adalah kesabaran saya untuk membaca sendiri.
Nasihat Adalah Cinta…….
Nasihat adalah cinta; lahir dari sinopsis rangkaian kata hati.
Nasihat adalah buah kepatuhan dari amal sebelumnya yang kemudian melesat keluar, ia bisa seperti mentari yang terus menyinari sehingga timbul hujan, yang dulu hujan kemudian timbul pelangi dengan pesan indah warnanya.
Nasihat adalah buah akhlaq tersendiri bagi pemiliknya.
Nasihat adalah esensi kehidupan, makna hidupnya yang kuat esensi karena memberi. Nasihat itu adalah dimensi gagasan yang mulia, luas dan mendalam.
Nasihat adalah pancaran kekuatan dari gejolak perubahan.
Nasihat itu adalah pertumbuhan, harus tumbuh dan abadi dibenak ummat.
Nasihat itu juga adalah selimut dan pakaian bagi saudaranya, melindungi jiwa dan raga.
Nasihat adalah indikator sehatnya iman dari jiwa yang menerangi dan cita – cita yang menyala.
Nasihat itu juga adalah puncaknya harapan bagi sang perindu harapan.
Nasihat itu adalah rambu – rambu perjalanan menuju tujuan, karena rangkaian nasihat adalah perjalanan panjang adalah istiqomah.
Nasihat adalah juga kehangatan ukhuwah yang mendalam, sedalam samudra. Nasihat adalah ruang refleksi tisqoh yang terang, saling menerangi karena saling memahami.
Dan sebab nasihat itu juga adalah simpul kebersamaan, kebersamaan untuk hidup di kehidupan akhir yang abadi adalah SYURGA.
Bersyukur dan beruntunglah yang mendapatkan nasihat. Sebab hari – hari tanpa nasihat adalah langkah kemunduran dan bagi da’wah adalah awal kematian.
Romantis bukan!!saya sarankan anda juga memberikan kutipan bait – bait ini pada orang yang anda sayangi saat anda merasakan keadaan yang sama. Sebab dengan saling menasehati semoga kita termasuk generasi yang memiliki level kesabaran yang lebih tinggi dari pada mengolah kesabaran untuk pribadi...Watawa sobrisobr... (Izz@m, 09082009; 23:14wib, Ingatkanlah selalu saudaramu!!)
SOUVENIR SEDERHANA (6)
Don’t be afraid : Baarakallahu laka.......
Keberanian sejati adalah lahir dari reaksi pertimbangan ketakutan - ketakutan yang sangat terukur, kemudian ukuran – ukuran tersebut memastikan bahwa apa yang akan dilakukan memberikan sebuah keyakinan harapan keuntungan besar, dan jika tidak dilakukan malah akan merugi besar pula. Keyakinan itulah yang kemudian menstimulus (memotivasi) para pemberani sejati untuk menyelesaikan kerja – kerja keberaniannya. Para penakut sejati selalu hadir dalam ketidakmampuannya menakar ketakutan – ketakutan yang dapat berefek pada dirinya, atau ia bahkan dapat mengukurnya, tetapi selalu gagal menghadirkannya menjadi keyakinan yang selanjutnya gagal pula dalam menstimulus kerja keberanian itu.
Seorang pemberani sejati sangat bisa memastikan itu dalam keyakinannya. Seorang pemberani sejati pun seorang yang sangat memahami ukuran – ukuran ketakutan itu, yang secara tidak langsung berarti ia sangat memahami dirinya, lingkungan, harapan dan masalah yang dihadapinya dengan baik. Oleh sebab itu ayat – ayat Al qur’an yang turun selalu diiringi secara seimbang antara bicara tema neraka dan syurga, hukuman dan hadiah, perumpamaan dan realitas, sejarah masa lalu, kekinian dan proyeksi masa depan, agar kita mampu mengukur fenomena ketakutan – ketakuatan (was – was) itu dalam kerangka syar’I menghadapi dunia fana ini. Maka tak salah jika generasi – generasi pemberani sejati, hanya hadir pada generasi pertama dalam didikan rosulullah, setelahnya adalah perbagian – perbagian keberanian sejati sisa saja.
Generasi pemberani sejati biasanya sangat memahami dustur-nya (Al qur’an). Kisah – kisah pemberani sejati juga banyak diabadikan di kitab itu pada porsi kemuliaannya. Diceritakan karakternya juga pada awal dan akhir kisah selalu saja ada sanjungan – sanjungan yang kadang berupa do’a atas keberanian monumentalnya. maka, indahnya manhaj ini dalam banyak kajian siroh Nabawiyah pun selalu mengiringi antara keberanian dengan do’a. Do’a yang bahkan bisa menstimulus keberanian, atau do’a itulah yang akan menyambut riang para pemberani sejati pada karnaval – karnaval permohonan berupa harapan ganjaran dari amal – amal keberanian itu.
Kisah itu dapat diwakilkan oleh sahabat rosulullah Sa’ad Bin Abi Waqqash yang bergelar “singa yang menyembunyikan kukunya”. Seorang ksatria pemanah berkuda terbaik, muslim pertama yang melepaskan anak panah dan yang pertama pula terkena anak panah pada medan perang uhud. Jika memanah pastilah ia tepat mengenai sasaran. Maka ketika Sa’ad ditanya tentang rahasia keberaniannya itu beliau menceritakan, bahwa rosulullah pernah mengajukan do’a kepada saya seperti ini : “Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah do’annya...! jadi, memang selalu ada do’a di manhaj ini dalam menstimulus untuk menciptakan sebuah kisah – karya keberanian abadi. Atau kisah lain penghormatan pemberani sejati dengan karnaval permohonan do’a yang diucapkan rosulullah ketika seorang pemberani sejati Hamzah Bin Abdul Mutholib yang memiliki gelar ”singa Allah dan panglima para syuhada” itu syahid dalam pertempurannya
”Melimpahlah atasmu Rahmat ar – Rahim
Akulah saksi bagimu di hadapan al – Hakim
Engkaulah pendekar penyambung silahturahmi
Berbuat kebaikan pembela yang di dhalimi..”
Don’t be afraid!!, Kita pun bisa mendapatkan iringan – iringan do’a atas keberanian sejati itu, walaupun bukan dalam kapasitas kesyahidan seperti para sahabat rosulullah. Tetapi beban keberanian ini hampir mirip dengan itu, walau tak serupa, pada sebuah amal keberanian tentang sebuah akad. Akad yang merupakan salah satu perjanjian besar (mitsaqon gholizo) dalam kehidupan manusia. Perjanjian besar yang tersimpan amanah besar pula pastinya. Memutuskannya untuk melaksanakan akad itu adalah keputusan para pemberani sejati, bukan untuk para penggombal sejati (awas,Gombal warning melanda!!), dan ia sangat berhak akan do’a – do’a yang juga pernah mengiringi para pemberani sejati pada masa - masa terdahulu. Do’a yang sangat dianjurkan rosulullah untuk menjadi referansi kita saat hadir dalam perayaan - perayaan keberanian itu atas akad yang telah disepakatinya, beginilah iringan - iringan do’anya :
” Baarakallaahu laka, wa baarakallahu’alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir”
Semoga Allah karuniakan kepadamu, dan semoga Ia limpahkan barokah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan.
(Izzatulgumam, 09062009; 22:00 WIB; Kebarokahan atas keberanian, are you?)
Monday, June 08, 2009
SOUVENIR SEDERHANA (5)

Mencintai itu adalah pilihan..
Mencintai itu adalah pilihan, seperti hidup yang harus memilih amal terbaik dari yang baik di tiap perbagian sekat – sekat waktu dengan pajak resiko dan hadiah hidup lainnya. Mencintai itu adalah pilihan, seperti saat romansa pilihan cinta itu hadir, maka memilih keadaan apapun dalam domain atmosfer cinta menjadi lebih berarti dan bermakna di mata pecinta sejati. Sebab sejarah pilihan cinta sejati tak pernah bisa di beli dengan dinar, tak bisa di rayu dengan kekuasaan, dan tak akan bisa termakan oleh waktu. Ia lebih berharga dan lebih indah dari segalanya.
Jika hidup mu penuh dengan cinta yang kuat dan saling menguatkan, maka menjadikan segala aktifitas mencintai harus menjadi pilihan: “pilihlah yang kau cintai dan cintailah yang kau pilih, seterusnya istiqomahlah”, begitulah kisah abadinya cinta, sederhana bukan!?memang, tapi kadang tak sesederhana yang dilakukan. Oleh sebab itu siapapun yang menjadi pilihan cinta mu untuk kau cintai, maka itu adalah harus pilihan tepat dari berbagai banyak cinta lain yang ditawarkan.
Mencintai itu adalah keputusan, seperti membuat keputusan besar yang unik, kadang tanpa mekanisme yang jelas, tapi kadang dengan rasa jiwa yang pasti. Tidak juga seperti keunikan layaknya syuro (rapat) partai - partai besar dengan masing – masing mekanismenya hingga hadir keputusan besar berupa kebijakan perbaikan umat. Mekanisme keputusan mencinta ini lebih unik dari itu, kadang tidak mengenal siapa harta, engkau tahta atau dialah Yusuf As, hanya kau yang bisa merasakannya sendiri nanti.
Ku putuskanlah mencintai! sebab elemen mencintai itu adalah keputusan itu sendiri. Mengambilnya berarti menguatkannya. Seperti memutuskan dari suatu hal antara keadaan yang kadang sangat rumit tentang rasa dan perasaan yang sulit untuk dibayangkan imajinasi, tentang keadaan rasional dan irasional yang sering bercampur baur, tentang keadaan antara idealita, realita, kepastian dan kesemuan yang kadang ambivalen, bisa tentang fenomena sensitifitas hati yang kunjung mudah berbolak – balik, atau tentang afiliasi heterogenitas perbedaan agama, suku, daerah dan bangsa yang menjadi momok adat dan mitos – mitosnya.
Keberanian memutuskan juga berbicara tentang kekhawatiran yang menggerogoti asa pada resiko – resiko cinta yang sebenarnya tak perlu dirisaukan, tentang sejarah keyakinan keputusan cinta dalam jarak perjalanan panjang hijrah mekkah – madinah yang cukup dramatis itu, tentang juga pertimbangan mengambil jalan da’wah atau jalan lainnya yang cukup menggiurkan, juga tentang timbang-menimbang proyeksi keadaan masa kini dan masa datang yang sangat mengurai banyak tanya kestiqohan kita pada-Nya: pada kepastian pahala – pahala dan kebarokahan orang – orang (jatuh) mencinta, atau mungkin tentang degradasi tawakal bahwa ini adalah ujian keyakinan untuk memilih perjalanan panjang tiada akhir, melelahkan, yang sebenarnya kita pun juga tak pernah tahu akan akhir kisah dan dimana kepastian cinta ini akan bermuara.
Tetapi dalam aktifitas cinta dan mencintai tetap harus memilih, harus memutuskan, dengan akad – akad syar’I-nya. Memutuskan untuk menuju jalan kelanjutan episode cerita pertumbuhan cinta itu dengan segala pelangi - pelangi resikonya, karna cinta butuh tumbuh dan berkembang lebih lebat, lebih sehat, kokoh dan percaya diri hanya dalam taman – taman itu (red:Pernikahan). Inginkah cinta mu tumbuh lebih sehat?Jawaban masalahnya sederhana: saat masa cintamu sudah hadir didepan mata dan kau ingin memutuskannya, apakah kau sudah cukup memberi kekuatan keyakinan (azzam), menghilangkan keraguan hingga batas ZERO akan pilihan keputusan besar (mencintai) itu, teman?; agar akar cintanya selalu kokoh menghujam ke bumi dan buahnya lebat menjulang ke angkasa raya....Fa idzaa azzamta fatawakal’alallah.
(Izz@m, 07062009, my room: 1:30 WIB; Jangan ada ragu diantara kita)
Saturday, March 28, 2009
SOUVENIR SEDERHANA (4)

Seni Penantian
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)”. (QS Al Ahzab : 23)
Penantian : menunggu merupakan derivatnya, dan lahir dari induknya: kesabaran. Disini kadang hanya ada diam, hanya perenungan, hanya keheningan yang dalam, bisa ketergesa – gesaan, atau ujian ketahanan pada komitmen pilihan, tapi di lain sisi istiqomah pada keyakinan membuat kegiatan ini membawa kegairahan tersendiri yang unik untuk bergerak. Yang seakan membuat saat jarak dan waktu tak berjangka tak pernah jadi hambatan menuju perjalanan yang dituju, bahkan bisa menjadi wisata – wisata hati tiap waktu pemiliknya. Saat waktu (penantian) yang ada layaknya gelas yang kemudian terisi penuh oleh larutan kopi nikmat juga termahal : Starbuck, dengan makanan kecil menjadi penutup waktu senja atau pengantar semangat untuk memulai kembali beraktifitas kerja lembur, terlihatlah jelas indahnya penantian hari ini.
Seni penantian :Gagal mengisi, gagal yang dinanti …….
Seni membuat setiap karya atau aktifitas apapun terlihat lebih indah, karna seni adalah keindahan itu sendiri. Seni adalah kualitas, disini ada ketelitian sang pelukis, disana ada kecermatan sang pemahat patung, disana sini ada kelenturan keseresian gerak – gerik sang penari balet dan penari Bali. Dan seni tentunya juga bicara kecepatan, kekuatan bagi atlit sang seniman – seniman otot dan strategi. Hidup tanpa seni ibarat hidup yang kurang merasa asin walaupun hidup dalam lautan : kurangnya cita rasa hidup.
Seni penantian adalah seni mengelola kelenturan keyakinan dari keraguan yang selalu hadir di tiap dimensi asa, seni penantian mengemas dengan baik kecemasan dan ketergesaan (isti’jal) menjadi ketenangan hingga tiap amal berbuah menjadi berkualitas, seni penantian selalu mengisi ruang kanvas putih tak berbingkai tak berbatas dari keterkosongan warna menjadi kecermatan, keserasian dan ketelitian lukisan sang maestro penuh warna, penuh makna. Seni penantian adalah seni uji ketahanan pada sebuah pilihan terhadap perjalanan waktu, seni penantian merupakan saat dimana rumitnya mengolah kekuatan ketertarikan prinsip terhadap ketertarikan daya sumber goda nafsu duniawi yang hebat, seni penantian adalah seni mengolah kejenuhan (jumud) menjadi kegairahan (ghiroh) yang tak terbatas, atau seni penantian itu seharusnya seperti seni menanti kelahiran jundi (buah hati) yang pertama akan lahir atau seni menanam padi petani menunggu panen raya tiba.
Jadi sebenarnya seni penantian adalah seni dimana kita sebenarnya sedang tidak “menunggu” (pasif) melainkan istiqomah aktif….mereka tidak merobah (janjinya)”. (QS Al Ahzab : 23). Kita tidak sedang menunggu, tapi kita sedang terus bekerja keras melengkapi menyempurnakan, dan fase akhir yang sering kita sebut hasil penantian adalah ruang sebenarnya dimana kerja tugas kita telah sempurna dan lengkap seluruhnya dimata kita, baik itu kerja perencanaan kegagalan dengan takdir kegagalan atau kerja rencana yang sempurna dengan menuai hasil kesuksesan. Sebab tiap perbagian waktu selalu punya kelengkapan jalan ikhtiar dan takdir yang sudah digariskaNya, maka tak salah jika Amirul mu’minin berwasiat dalam sebuah hadist yang terkenal ini..
“Apabila engkau berada diwaktu pagi, maka janganlah engkau menungu waktu sore. Dan jika engkau berada diwaktu sore, maka janganlah engkau menunggu waktu pagi”.
Bisa dipastikan mungkin awal gagal hasil penantian adalah saat kita mulai hadirnya fase dalam emosi, rasa dan situasi dimana kondisi psikologi kita mulai “menunggu” penantian itu sendiri, sekali lagi waktu selalu punya kelengkapan dan penyempurnaan untuk terus dilengkapi, sehingga gagal mengisi bisa jadi akan gagal menanti. .
Melengkapilah….
Ada yang menanti kelahiran, pasti juga ada yang menanti kematian, diruang jarak penantian batas umur inilah seni penantian berbicara sejauh mana hasil seni penantian berupa ukiran sejarah kehidupan seseorang ini dapat dikenang sepanjang masa. Ada yang menanti - nanti kemerdekaan (Palestina) sebagai negeri terjajah, dan pasti ada (tak disadari) bersiap menanti kehancuran (Amerika&Israel terlaknat) sebagai bangsa penjajah, disinilah gejolak seni penantian memberikan kemampuan untuk seni bertahan hidup dan seni berjuang, sebab bangsa siapa yang terus melengkapi hajatnya maka bangsa itupun yang akan menuai hasilnya, untuk kemerdekaan dalam kemuliaan atau kematian dalam syahid yang abadi kelak. Ada yang menanti perceraian tapi banyak juga yang akan menantikan untuk memadukan dua jiwa, dalam penantian yang kadang panjang dan melelahkan jika tak memahami makna seni penantian itu dengan benar. Tapi disinilah letak peran seni penantian yang menghiasi awal sebuah penentuan peradaban selanjutnya.
Jadi setiap umat manusia pasti punya penantian sebagai hajatnya, selama masih ada itu (penantian yang baik) maka bumi ini belumlah akan kiamat, begitulah pesan Rosulullah pada kita, oleh sebab itu sebanyak mungkinlah berharap dalam kaidah seni penantian yang benar, maka segera lengkapilah!!Bisa jadi kita sering alpa dengan ceklist kelengkapan ini diantara ceklist banyak yang lain dalam melakukan seni penantian yang baik dan benar. Ceklist yang merupakan alat berkomunikasi pada wilayah transenden Sang Pemilik Takdir Allah swt, yaitu: berdo’a dan mendo’akan. Mungkin dengan do’a yang singkat seperti ini menjadi ceklist kesempurnaan kelengkapannya takdir-Nya, walaupun kita tak pernah tahu siapa yang akan menjadi jawaban hasil penantian ini, maka berdo’alah : “Ya Allah, berikanlah pasangan jiwa ini selalu kesabaran dalam ujian dan selalu syukur dalam nikmat yang tak pernah henti. Dan Pertemukanlah kami setelah penantian hanya dalam keimanan, kecintaan dan da’wah yang tak pernah padam…amiin”.
(Izz@m 27032009, my room Bekasi; Inspirasi indah ba’da ’ngisi’ di Cilodong Depok)
Monday, March 09, 2009
TRAGISNYA PERSAUDARAAN KITA!!
“Innamal mukminuna ikhwah. Faaslihu baina akhawaikum” (QS 49 : 10). “Sesungguhnya mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah orang-orang yang berselisih diantaramu”. Konsekuensi keimanan adalah sebuah persaudaraan, banyak petunjuk wahyu dalam Al qur’an kita yang sempurna dan cerita sejarah yang selalu mendampingi antara keimanan dan persaudaraan. Langkah awal persaudaraan bani anshar dan bani muhajirin adalah prototipe icon cerminan yang konkrit persaudaraan lintas demografis, adat dan generasi. Betapa pentingnya ikatan persaudaraan bagi perkembangan dan pembentukan sebuah peradaban Islam, sebab persaudaraan atas dasar keimanan adalah tali – tali penghubung peradaban, “Lem” persatuan atau jaring -jaring ekspansif da’wah itu sendiri yang menghubungkan berbagai perbedaan karakter, geografis dan ekologis menuju satu visi penghambaan pada Allah SWT.
Kekuatan ikatan persaudaraan yang seharusnya mampu menciptakan sebuah atmosfer kehangatan, kepedulian dan ketersalingan secara kualitatif dan kuantitatif dalam menyikapi puncak persaudaraan berupa itsar, ini hanya bisa diproduksi oleh tiap bagian pelaku yang memang taraf keimanannya selalu terpelihara dan terasah dari hari kehari, waktu kewaktu, tiap jam berlalu dari tiap detik menghela nafas dzikir kita.
Menganggap semua adalah bagian saudara adalah kerja yang mudah seperti keimanan hanya baru pada tingkatan lisan, tetapi ketika dibenturkan pada tingkatan – tingkatan selanjutnya yang berupa nilai garis aplikatif amal takaful dan itsar kita sering gagal bergerak disini, inilah rangkaian awal dari penyempitan (lokalitas) Islam padahal gambaran persaudaraan Islam adalah universal. Berat memang bagi kader yang menganggap (maindset) propaganda kejahiliyahan tersistem sekarang lebih pintar dari strategi sistem da’wah cerdas kreatif yang sedang dibangun, padahal sang Maha Pemilik manusia Allah SWT memberikan cakupan optimisme kalau kita adalah ”kuntum khairah ummah”, tetapi jangan juga euforia dulu karena tadabur yang malas dan singkat, sebab ayat selanjutnya adalah jaminan dan syarat yang cukup berat harus terpenuhi untuk karakter ini.
Tak ada alasan apapun untuk pesimis.Walaupun pada zaman sekarang dimana kejahiliyahan dahulu dianggap terhebat, dan bahkan dengan kelemahan pemahaman ilmu kisah – kisah sejarah nabi dan lemahnya pengetahuan masa kini menganggap hari ini tidak sejahiliyah dulu. Ini paradigma yang salah, bagi kader – kader yang selalu sering meminta keringanan ketika diajak untuk memberantas kejahiliyah yang tersistem padahal langkah pertama kaki beramal belum tertapaki, cemas punya cemas jika pada masa sekarang sudah sering minta keringanan untuk amanah yang ringan bisa jadi dikemudian hari akan tercipta kader – kader pelit berkorban untuk tugas – tugas berat yang didalamnya perlu keteguhan pengorbanan, salah – salah seringnya keringanan membuat kecermatan, ketajaman dan kecepatan gerak semakin aus tumpul sebab lemah tak terasah yang malahan bisa menimbulkan kelalaian bahkan bisa mematikan gerak da’wah itu sendiri. Seperti sel kanker tanpa kita sadari dalam tiap perjalanan waktu dan sejarah yang sedang kita lalui.
Hati – hati dengan hal ini, lingkaran perusak persaudaraan. Inilah lingkaran yang dipropaganda oleh was was setan ”was wissufi syuduurinnass”. Lingkaran setan ini selalu ada dalam setiap organisasi manapun tak terkecuali dalam organisasi harakah da’wah, sebab lingkaran ini adalah bagian yang tak memiliki sudut sebab bersambung seperti tak ada kepala dan ekor yang jelas mana hulu dan mana hilir, bisa jadi makna lingkaran tersebut bagian kepala memakan ekor dan ekor seakan melilit kepala…naudzubillah.
Dalam paradigma persaudaraan yang lemah sikap keikhlasan takaful sering terjebak oleh rangkaian ini, rendahnya makna keikhlasan dalam beramal yang berujung saling menyalahkan, masing – masing merasa benar dan hebat pada porsi juga arena yang tak semestinya. Qiyadah menyalahkan jundi dan jundi mengerti betul kelemahan qiyadah sebagai seribu alasan untuk tidak mentaati perintah sebab kelemahan ketauladanan dan digeneral merupakan juga bagian turunan lemahnya kredibilitas untuk memimpin, sehingga beberapa bagian ta’limat (perintah) tidak perlu dilakukan baik yang terikat atau mengikat pada kepentingan jama’ah.
Inilah cerita pendek jundi yang tak paham bahwa qiyadah diberikan keistimewa oleh Allah ketika memimpin jama’ah yang bisa menjadi kemungkinan minhah (karunia) dan mihnah (ujian), inilah halaman bab jundi kurang cerdas yang selalu tergelincir dengan trik licik syaitan ketidak patuhan. Kisah problematika persaudaraan oleh lingkaran ini juga bisa diterjemahkan dalam berbagai tingkatan organisasi mulai dari negara, partai, lembaga da’wah kampus atau bahkan keluarga kita sendiri, tentang ayah yang super egois dan anak yang terlalu cerdas mengkritisi ayahnya pada batasan yang tak seharusnya.
Ini hampir lebih parah dari sebuah pepatah “menari diatas penderitaan orang lain” sebab setiap pelaku atau oknum pepatah tersebut bagian orang yang memang sengaja atau disengaja khilaf memiliki sifat persaudaraan, tak pantaslah jika jiwa yang tertarbiayah harus terlebelisasi pepatah itu. Mungkin juga sudah matinya batin – karakter persaudaraan yang ada Allah berikan karena tertutupnya oleh egoisme individual yang berujung kerakusan pada obsesi dunia, sebab makna kalau hati sudah terikat kuat bahkan terpenjara oleh jeruji besi infirodhi ke egoisan tanpa diberi makanan keimanan sehingga terkulai letih makna persaudaraaannya hingga kurus kering dan selanjutnya bisa dipastikan mati!! sehingga sejarah persaudaraan adalah bagian lain yang terus langka, terlupakan dan punah.
Seperti kisah klasik ikhwah yang baik komitmen terhadap da’wahnya sedang ditimpa musibah mulai terancam drop out (DO) akademik berharap saudaranya segera membantu agar da’wah yang dijalankan tidak terbengkalai oleh bagian musibah tersebut, dia tidak menangis karena banyak bagian saudaranya yang tidak membantu da’wahnya dalam lingkup organisasi yang sama karena da’wah akan terus berjalan tanpa atau dengan kita, dia juga tidak sedih dan minta untuk dikasihani oleh segala musibah yang sedang menimpa dirinya sendiri.
Tetapi kesedihan dan tangisannya melebihi tangisan sendu qiyamullail kita. Tangisan dan kesedihan tentang kepedulian harapan bahwa kita disurga nanti kita harus bersama – sama sebab surga bukan tempat yang sempit,sesempit ibukota Jakarta kita dari dampak Urbanisasi. Surga yang bahkan lebih luas dari bayangan kita tentang cakrawala indah dunia yang ada dibenak selama ini. Sekali lagi sebab menangis juga hanya karena melihat “kecengengan” saudaranya yang selalu meminta rukhsah saat da’wah perlu kerjasama dan pengorbanan untuk eksistensinya, saat da’wah dalam keadaan genting oleh peran amal jama’I yang mulai sekarat, saat da’wah perlu keringat lebih banyak ketika dehidrasi semangat mulai terjadi dan saat keletihan jiwa mengeretakkan tulang yang mulai keropos sehingga ia harus menanggung beban berat itu sendiri.
Yang dibutuhkan saat ini adalah kerja¬kerja nyata yang konkret produktif (muntijah) sebab sejarah tarbiyah selalu mencatat kita sebagai problem solver bukan problem maker, bukan saatnya menghitung – hitung skala prioritas untung rugi karena waktu sekarang menuntut kecepatan berfikir dan bertindak bagi kader – kader cerdas, apalagi menghitung keuntungan kita dalam frame nafsu duniawi akibat bakhilnya pengorbanan kita terhadap da’wah dan tak seharusnya ada untuk seribu alasan apalagi satu alasan untuk memohon atau meminta diringankan sedikit saja untuk sebuah harapan mental kalau kita juga sedang susah!.
Tak jauh kisah harian sama yang selalu berulang tentang kemampuan akademik kita yang berbeda – beda antara ikhwah satu dengan yang lainnya sebab memang manusia diciptakan tidak akan pernah sama dan dengan kadar -kadar yang berbeda juga. Inilah nikmat ujian ukhuwah kita dan juga bagian problematika da’wah kampus. Yang “Hobby akademik” terbisiki syaitan sehingga tak adil&tidak proporsional terhadap da’wah, semakin melekat egoisme individual yang kental, sekental darah kotor haram senikmat sama rasa hati binatang bila digoreng yang oleh sebagian orang disebut“marrus”. Sehingga da’wah termaindset bagian dari kotoran penghalang dan beban kesuksesan, pintar memang saat itu dalam paradigma dia sendiri dan dunia yang sebenarnya bukan dunia realitas yang diharapkan mujahid da’wah.
Pintar yang semakin bodoh dengan fiqh prioritas yang lemah sebab hanya pintar membuat kalkulasi dan urutan -urutan pemahaman teoritis belaka yang didalamnya terdapat peran hidden syaitan membuat trik rukhsah dan kepengecutan diri ditiap tiupan dan bisikan halus otak bawah sadar kita tanpa diketahui. Padahal juga hidup tidak seluruhnya sesuai dengan hukum linearitas saja, oleh sebab itu pemahaman fiqh prioritas urutan aplikatif medan dan pengalaman yang pernah berhasil dalam da’wahnya sering tidak dikalkulasikan sebagai referensi dan baku pembanding, sebab makna untuk pilihan kehidupan seperti itu tetap punya jiwa untuk ruang perjuangan yang luas, panjang dan melelahkan. Kebanyakan Hobbies akademik ”parsial” enggan untuk menerima kehidupan seperti ini.
Kepintaran jangka pendek belum tentu sebuah kepintaran sejati sebab surga dan keridhoan Allah adalah dimensi kerja continue untuk kerja jangka panjang, sepanjang umur kita, sekuat helaan nafas untuk berkarya dan sepanjang langkah kita melangkah dibumi ini, karenanya kontribusi dan istiqomah dalam da’wah hanyalah satu – satunya keyword menuju kesana,tak lain!!.
Pemilik kecenderungan besar terhadap da’wah juga terkadang tidak seimbang dengan bagian tuntutan utama yang seharusnya (akademik). Dimana letak ukhuwah jika kerangka tafahum dan itsar yang seharusnya menjadi penyeimbang (tawazunitas) gerak da’wah antar pelakunya tidak tercipta agar bisa untuk saling melengkapi bagian yang memang kurang, Saling mengisi kekosongan yang ada bahkan saling berlomba – lomba dalam itsar yang selalu berjanjikan surga seperti kisah itsar yang sangat heroik terjadi pada saat perang Yarmuk. Ikrimah bin Abu Jahl seorang mujahid bersama dua sahabat yang lain terbaring dengan luka-luka sangat parah. Ketika seorang sahabat hendak memberinya minum, ia menolak dan menyuruh air itu diberikan ke teman di sebelahnya.
Ketika air itu akan diberikan kesebelahnya, orang tersebut juga menyuruh diberikan lagi ke sebelahnya pula. Ia memilih mengalah pula pada saat-saat yang penting tersebut. Namun orang ketiga yang dimaksud sudah meninggal, ketika kembali lagi si pemberi minum ke sahabat yang tengah, ternyata ia sudah syahid juga. Dan ketika beranjak ke Ikrimah, ia pun telah syahid. Subhanallah dalam detik-detik terakhir kehidupan atau di saat-saat kritis sekalipun mereka tetap menjaga itsar mereka. Akankah kisah itu terulang menjadi bagian dari cerita bersambung kisah – kisah ukhuwah da’wah kampus kita?wallahua’lam bswb. (Izz@tulgumam;my room 08/07/2007; 09:30).
Nb : catatan lama yang tak pernah usang untuk evaluasi kini (original)
Thursday, March 05, 2009
SOUVENIR SEDERHANA (3)
SEMUA DIMULAI DARI SINI!
Zaman perlu perbaikan, masa sekarang adalah masa perbaikan dan masa pembinaan. ketika Yusuf Qordhowi, Sayyid Qutbh, Hasan Albana dan Sa’id hawa sebagai generasi ideologi pada Zamannya, sekarang kita menikmati itu semua walaupun tidak bisa digeneralisasi. kemenangan ideologi Islam sebenarnya sudah terjadi saat ini walaupun terkadang musuh – musuh Islam tak sadar akan hal itu, seperti sudah jenuhnya masyarakat Amerika terhadap pemerintahannya sendiri yang dikendalikan oleh yahudi terlihat jelas dengan indikator, banyaknya kebijakan -kebijakan pemerintah yang ditentang oleh masyarakatnya sendiri seperti peperangan serta kekerasan dan bahkan kebijakan Amerika terhadap negara jajahannya banyak ditentang juga, sudah jelas masyarakat menginginkan fitrah kembali. kemenangan ideologi inipun jelas terlihat dengan banyaknya organisasi – organisasi Islam didunia secara tak langsung mengadopsi prinsip jamaah yang dianut Ikhwanul muslimin walaupun dengan bermacam – macam nama.
masa sekarang adalah masa -masa strategis kita masih kalah dalam masalah strategis inilah yang perlu diperbaiki dan memperbaiki tidak semudah membalikkan telapak tangan manusia normal tetapi yang kita balikan adalah telapak tangan manusia yang sakit, mungkin malah hampir lumpuh dan ini perlu kerja besar, perencanaan yang matang, terapi yang tepat dan latihan yang kontineu.
Agenda besar dan "semua dimulai dari sini " dengan menikah??? kok menikah? ya! menikah secara Islami syaratnya dan dengan individu yang tertarbiyah tentunya. sekali lagi semua dimulai dari sini, membangun umat membentuk peradaban baru Islam. masalah – masalah umat yang besar seperti uraian diatas akan mudah terselesaikan disini dengan apabila terdapat barisan jamaah keluarga yang Islami. menikah adalah membentuk organisasi Islam terkecil tapi dengan berjangka tujuan yang panjang untuk dunia dan akhirat, terdapat juga kerja besar, yang merupakan tempat latihan kematangan diri, dari itu semua pucuk peradaban dimulai dari sini. jadi tunggu apalagi untuk menyelesaikan masalah umat yang semakin hari semakin kumat kenapa kita tidak coba untuk menikah bagi pemuda – pemudi yang sudah siap, tentunya dengan Syar'I!!!!. (Izzatul Gumam) 10/06/04 tangerang.
RUMAH
Bagi yang belum menikah ini tidak terlalu bermasalah tapi bagi mereka yang ingin menikah itu mungkin bagi sebagian orang menjadi masalah bahkan masalah besar bagi meraka yang menikahnya dilandasi oleh nilai – nilai materialisme.
Awal niat menikah selain nafkah, rumah juga perlu dipikirkan akh! pikir tak dipikir tetap terpikirkan juga, tapi kalau penilaian menikah salah satunya adalah rumah akan banyak Akwat yang tak terjamah atau bahkan batal target untuk menikah bagi ikhwan. sudahlah lupakan masalah rumah itu segeralah menikah, karena rumah (rezeki) itu adalah bagaian yang sudah tergariskan oleh Allah melalui takdirnya. Tapi rumah yang dimaksud disini bukan rumah seperti itu, melainkan sudahkah kita minimal membuat disain (maket) dari "rumah kehidupan" itu, ini yang terpenting. rumah kehidupan yang terdiri dari pondasi – pondasi kefahaman tentang menikah baik tujuannya, akidah, dan konsep – konsep dasar dalam berumah tangga yang Islami, bangunannya juga harus kokoh dengan segala aturan, strategi dan program – program kerja yang jelas agar tidak terdapat kehampaan dalam berumah tangga, program yang bernilai ibadah dan pembinaan jangka panjang maupun jangka pendek untuk generasi selanjutnya, atapnya pun harus mampu menopang badai dan angin topan sekalipun, atap yang kuat adalah bagaimana belajar tsiqoh antar keduanya dan belajar menumbuhkan sikap pahlawan/berani dalam menghadapi setiap cobaan yang menghadang secara bersama layaknya peristiwa Khadijah dan rosulullah dengan atap pernikahan yang kuat saat nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rosul hingga Khadijah meninggal pun atap itu tetap kuat bagi yang ditingalkan. (Izzatul Gumam) 10/06/04. 23:30 Tangerang.
YANG BERTAMBAH !!
"Barang siapa yang mensyukuri nikmatKu akan aku tambahkan nikmat itu, dan barang siapa yang mengkufuri nikmatKu sesungguhnya azabku amat pedih"
Salah satu mensyukuri nikmat Allah adalah dengan taat kepadaNya dan I'tiba kepada Rasulullah, metoda mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menempatkan sesuatu pada haknya. Menikah adalah hal yang fitrah dan sangat sunnatullah semua kita berada didalam sistem itu, kita tidak bisa keluar atau berusaha keluar dari sistem itu, yang ada seharusnya adalah bentuk ungkapan rasa syukur kita dengan kita tidak menolak dan menerima fitrah itu, itulah syukur yang sebenar – benarnya.
Rasa syukur menempatkan kita pada keyakinan yang tertinggi dimana setiap takdir yang Allah tentukan menjadi suatu keputusan yang terbaik menurut Dia dan Allah Maha mengetahui segala urusan hambanya. bersyukur entah dalam keadaan baik atau buruk (musibah) menjadikan kita menjadi hamba yang dipercaya memegang segala amanah, ketika Allah telah percaya kepada hambanya maka tak ragu-ragu lagi untuk menambahkan segala nikmatNya. contoh nyata generasi sahabat rosul, Allah selalu menambahkan nikmat untuk generasi ini, bahkan multidimensi nikmat, Rosulullah ketika meninggalkan masa lajangnya dan menikah dengan Khadijah banyak sekali penambahan – penambahan kenikmatan itu diangkatnya menjadi rasul, nikmat peningkatan kematangan diri dalam memeneg perdagangan, umat dan nikmat yang tak terhingga adalah nikmat turunnya Al qur'an, dan penambahan nikmat itu terjadi setelah tingkat syukur rosul yang tak teragukan lagi juga pada pasca pernikahan begitu pula Umar bin khatab dengan nikmat keberaniannya, kekayaannya, kecerdasan dan Allah menambahkan nikmat Kepemimpinannya melebihi kepemimpinannya saat jahiliyah dulu, sangat multidimensional!!! itu semua karena rasa syukurnya yang hampir sempurna kepada Allah, dan kita?
Dengan menikah kita pun bisa karena menikah adalah bentuk syukur yang nyata, realita dan sunnahtullah, syaratnya syukurilah nikmat nikah itu dengan sebenar-benarnya, ikuti contoh rosulullah saat menikah, sebisa mungkin islamisasi didalamnya, insya Allah nikmat itupun bertambah.
Sekali lagi cobalah bersyukur dan bersyukur kemudian merenung adakah nikmat yang bertambah dari pernikahan itu (hasil survei dan observasi teman sekitar, orang tua dan kerabat lain)? ADA dan seharusnya multidimensional!!! Allah menguatkan/menambah rezeki bagi mereka yang telah menikah. Allah menambahkan nikmat kematangan jiwa, psikologis dan emotional. Allah menambahkan kesempurnaan keagamaannya setelah menikah.
Allah juga menambahkan nikmat motivasi dan ketenangan beribadah setelah menikah. Allah menambahkan saudara bagi kalian semua antara pihak suami dan pihak istri (nikmat ukhuwah) dan Allah menambahkan nikmatnya agar dapat membajak ladang amal dirumah tangga sendiri. Allahpun menambahkan nikmatnya dengan memberikan investasi amal dunia akhirat berupa anak – anak yang terlahir. dan masih banyak lagi nikmat yang tak terhingga yang Allah tambahkan.
kesemuanya hanya untuk orang – orang yang bersyukur dan bersyukur akan nikmat Allah yaitu nikah dan memahami tujuan nikah itu sendiri, masihkah kita kurang dengan "Penambahan itu" atau malah kita tidak bersyukur????. Astagfirullah (Izzatul Gumam) (7-6-04) 11:45 Tangerang.
ADAM PUN MERASA SEPI
Sepinya nabi Adam melebihi sepinya pemuda jaman sekarang yang melajang (jomblo) pada saat ini, so jangan takut kesepian menjadi ikhwan jadilah high quality joblo muslim yang syar'I tentunya. Nabi Adam pun ternyata juga kesepian disurga saat itu walaupun banyak segala sesuatu yang diinginkan semuanya bisa tercapai dengan mudah disana taman surga yang indah, buah – buahan yang segar, sungai susu dan lain – lain yang mungkin belum terjangkau dalam khayalan kita saat ini, tapi hanya satu terkecuali wanita belum terpikirkan saat itu, dengan berjalannya waktu, kebutuhan sisi Psikologis manusiawinya pun timbul saat ia merasa dalam kesendirian, ini sangat fitrah karena model manusia yang Allah ciptakan memang seperti itu. Desakan kebutuhan dasar ini meningkat sisi kepentingannya dimata Nabi Adam (Allah Maha Mengatur segala) dari pada sisi kepentingan lain, tapi disisi lain kepentingan ini menjadi bumerang (ujian) bagi Adam sendiri ketika ia terlena dan tergoda tetapi kesalahan bukan pada menikahnya tapi bagaimana ia merubah presepsi tentang ibadah, menikah adalah ibadah temannya ibadah adalah ujian dan ujian membuat manusia lebih matang berkualitas dan lebih mengenal kebesaran Allah. Nabi Adam lebih matang ketika ia berada di dimensi kedua setelah surga (hal yang baik) yaitu Bumi (Fana).Pelajaran sejarah inilah yang harus diambil bagi mereka yang mulai merencanakan menikah atau mungkin sisi psikologis&biologis yang mulai matang untuk berumah tangga atau juga mereka yang hanya mengandalkan rajatunafs dalam mengambil keputusan besar itu.
Sekarang tergantung kita menyikapinya ketika berada dalam kesendirian itu sudah banyak pelajaran sejarah yang sudah kita baca, dengar bahkan rasakan disekitar kita. kita hanya punya dua pilihan, kesepian kemudian menikah atau tidak menikah dalam kesepian, ibadah sebagai cobaan atau cobaan sebagai ibadah. (Izzatul Gumam) 7/06/04 tangerang 05:00.
FITRAH MEMIMPIN
Ketika keinginan menikah itu datang dengan berbagai motivasi bagi seorang akhwat adalah menjaga kesuciannya sebagai wanita tentunya dan melahirkan mujahid – mujahid baru di era baru ini, lain hal bagi ikhwan selain dari itu ada hal fitrah yang sebenarnya ini menjadi keinginan tersembunyi di dada seorang ikhwan, semuanya lelaki memiliki fitrah ini entah seorang pemulung sampah sekalipun yang kehidupannya jauh sekali dari nilai – nilai pendidikan dan keorganisasian apalagi seorang ikhwah.
Fitrah untuk memimpin atau mungkin yang lebih ekstrim "menguasai", ketika seseorang lelaki ingin menikah sebenarnya fitrah itulah yang dominan timbul dari pada fitrah yang lain, jadi ketika ikhwan mengatakan " Aku ingin mengkhitbah dan menikahkan mu ukhti" saat masa proses khitbah berlangsung, maksud yang tersiratnya sebenarnya adalah " jadikanlah aku pemimpinmu dan engkau adalah pengikutku marilah kita bangun jama'ah ini dengan bai'atku ini". semua memiliki fitrah itu dan harus terrealisasi bukan hanya janji – janji palsu seorang pemimpin terhadap rakyatnya.
Fitrah akhwat sebagai "manittaba'ani" (pengikut) menjadi pola saling melengkapi dalam proses keseimbangan hidup. so akhwat pilihlah dengan cermat pemimpinmu karena hasrat memimpin di diri lelaki menjadikan kamu harus mengikutinya dan tuntutannya adalah ketaatanmu. (Izzatul Gumam) 11/06/04 tangerang
CINTA ITU BERMUARA DI MANA?
Ada berbagai macam bentuk pernikahan, tergantung landasannya tetapi bagi generasi tarbiyah landasan ini disempurnakan, rosulullahlah dan khadijah sebagai bukti pernikahan yang sempurna landasannya. cinta itu bermuara di mana? sangat cocok judul ini terpikirkan untuk memenuhi tulisan ini, banyak nuansa pernikahan yang ditimbulkan, bagi seorang seniman pernikahan yang ditimbulkan biasanya berbau seni seperti pernikahan bintang pop M.Jackson dengan putri bintang pop legendaris era dulu elvis presley, muatan senilah yang lebih ditimbulkan disini, bagi seseorang yang bergelut dibidang Politik biasanya muatan yang ditimbulkannya adalah nilai -nilai politis, pernikahan untuk menyambung kehidupan politiknya itu sendiri, banyak sejarah bercerita diindonesia seperti pernikahan antara pangeran kerajaan satu dengan putri kerajaan satu lainnya yang terlihat sangat berbau politis, karena muara kehidupannya politik dan masih banyak nuansa – nuansa lainnya. bagi seorang profesi kesehatan biasanya lebih "safe" bila ia dalam membangun pernikahannya bermuatan kesehatan antara dokter dengan farmasi atau farmasi dengan farmasi jarang sekali antara dokter dengan pelayan restoran.
Tarbiyah Rosulullah menyempurnakan itu semua dengan melandaskan pernikahan hanya pada agama, karena agama Islam itu universal, alamiyah dan fitrah karena itu muatan pernikahan Rosulullah dengan Khadijah muatan yang sangat sempurna, kenapa? karena Islam ajaran yang sempurna seperti dipernikahan rosulullah terdapat muatan politik yang berorientasi pada da’wah karena pada masa itu khadijah adalah wanita yang terhormat dimasanya, juga bermuatan ekonomu(bisnis) dan perdagangan juga bermuatan da'wah (syi'ar) karena khadijah adalah pedagang sehingga memudahkan syiar juga masih banyak muatan lain yang ada dalam pernikahan rosulullah, sangat universal karena Agama Islam bersifat seperti itu dan penuh kesempurnaan jadi sempurnakan pernikahan dengan muatan Islam bukan muatan – muatan yang lain. cinta itu bermuara di mana? di Islam jawabku. (Izzatul Gumam) 11/06/04 Tangerang 07:30
nB :
-oRIGINAL catatan lama(review)
- tulisan dahulu yang dibuat untuk kado pernikahan sahabat
Zaman perlu perbaikan, masa sekarang adalah masa perbaikan dan masa pembinaan. ketika Yusuf Qordhowi, Sayyid Qutbh, Hasan Albana dan Sa’id hawa sebagai generasi ideologi pada Zamannya, sekarang kita menikmati itu semua walaupun tidak bisa digeneralisasi. kemenangan ideologi Islam sebenarnya sudah terjadi saat ini walaupun terkadang musuh – musuh Islam tak sadar akan hal itu, seperti sudah jenuhnya masyarakat Amerika terhadap pemerintahannya sendiri yang dikendalikan oleh yahudi terlihat jelas dengan indikator, banyaknya kebijakan -kebijakan pemerintah yang ditentang oleh masyarakatnya sendiri seperti peperangan serta kekerasan dan bahkan kebijakan Amerika terhadap negara jajahannya banyak ditentang juga, sudah jelas masyarakat menginginkan fitrah kembali. kemenangan ideologi inipun jelas terlihat dengan banyaknya organisasi – organisasi Islam didunia secara tak langsung mengadopsi prinsip jamaah yang dianut Ikhwanul muslimin walaupun dengan bermacam – macam nama.
masa sekarang adalah masa -masa strategis kita masih kalah dalam masalah strategis inilah yang perlu diperbaiki dan memperbaiki tidak semudah membalikkan telapak tangan manusia normal tetapi yang kita balikan adalah telapak tangan manusia yang sakit, mungkin malah hampir lumpuh dan ini perlu kerja besar, perencanaan yang matang, terapi yang tepat dan latihan yang kontineu.
Agenda besar dan "semua dimulai dari sini " dengan menikah??? kok menikah? ya! menikah secara Islami syaratnya dan dengan individu yang tertarbiyah tentunya. sekali lagi semua dimulai dari sini, membangun umat membentuk peradaban baru Islam. masalah – masalah umat yang besar seperti uraian diatas akan mudah terselesaikan disini dengan apabila terdapat barisan jamaah keluarga yang Islami. menikah adalah membentuk organisasi Islam terkecil tapi dengan berjangka tujuan yang panjang untuk dunia dan akhirat, terdapat juga kerja besar, yang merupakan tempat latihan kematangan diri, dari itu semua pucuk peradaban dimulai dari sini. jadi tunggu apalagi untuk menyelesaikan masalah umat yang semakin hari semakin kumat kenapa kita tidak coba untuk menikah bagi pemuda – pemudi yang sudah siap, tentunya dengan Syar'I!!!!. (Izzatul Gumam) 10/06/04 tangerang.
RUMAH
Bagi yang belum menikah ini tidak terlalu bermasalah tapi bagi mereka yang ingin menikah itu mungkin bagi sebagian orang menjadi masalah bahkan masalah besar bagi meraka yang menikahnya dilandasi oleh nilai – nilai materialisme.
Awal niat menikah selain nafkah, rumah juga perlu dipikirkan akh! pikir tak dipikir tetap terpikirkan juga, tapi kalau penilaian menikah salah satunya adalah rumah akan banyak Akwat yang tak terjamah atau bahkan batal target untuk menikah bagi ikhwan. sudahlah lupakan masalah rumah itu segeralah menikah, karena rumah (rezeki) itu adalah bagaian yang sudah tergariskan oleh Allah melalui takdirnya. Tapi rumah yang dimaksud disini bukan rumah seperti itu, melainkan sudahkah kita minimal membuat disain (maket) dari "rumah kehidupan" itu, ini yang terpenting. rumah kehidupan yang terdiri dari pondasi – pondasi kefahaman tentang menikah baik tujuannya, akidah, dan konsep – konsep dasar dalam berumah tangga yang Islami, bangunannya juga harus kokoh dengan segala aturan, strategi dan program – program kerja yang jelas agar tidak terdapat kehampaan dalam berumah tangga, program yang bernilai ibadah dan pembinaan jangka panjang maupun jangka pendek untuk generasi selanjutnya, atapnya pun harus mampu menopang badai dan angin topan sekalipun, atap yang kuat adalah bagaimana belajar tsiqoh antar keduanya dan belajar menumbuhkan sikap pahlawan/berani dalam menghadapi setiap cobaan yang menghadang secara bersama layaknya peristiwa Khadijah dan rosulullah dengan atap pernikahan yang kuat saat nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rosul hingga Khadijah meninggal pun atap itu tetap kuat bagi yang ditingalkan. (Izzatul Gumam) 10/06/04. 23:30 Tangerang.
YANG BERTAMBAH !!
"Barang siapa yang mensyukuri nikmatKu akan aku tambahkan nikmat itu, dan barang siapa yang mengkufuri nikmatKu sesungguhnya azabku amat pedih"
Salah satu mensyukuri nikmat Allah adalah dengan taat kepadaNya dan I'tiba kepada Rasulullah, metoda mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menempatkan sesuatu pada haknya. Menikah adalah hal yang fitrah dan sangat sunnatullah semua kita berada didalam sistem itu, kita tidak bisa keluar atau berusaha keluar dari sistem itu, yang ada seharusnya adalah bentuk ungkapan rasa syukur kita dengan kita tidak menolak dan menerima fitrah itu, itulah syukur yang sebenar – benarnya.
Rasa syukur menempatkan kita pada keyakinan yang tertinggi dimana setiap takdir yang Allah tentukan menjadi suatu keputusan yang terbaik menurut Dia dan Allah Maha mengetahui segala urusan hambanya. bersyukur entah dalam keadaan baik atau buruk (musibah) menjadikan kita menjadi hamba yang dipercaya memegang segala amanah, ketika Allah telah percaya kepada hambanya maka tak ragu-ragu lagi untuk menambahkan segala nikmatNya. contoh nyata generasi sahabat rosul, Allah selalu menambahkan nikmat untuk generasi ini, bahkan multidimensi nikmat, Rosulullah ketika meninggalkan masa lajangnya dan menikah dengan Khadijah banyak sekali penambahan – penambahan kenikmatan itu diangkatnya menjadi rasul, nikmat peningkatan kematangan diri dalam memeneg perdagangan, umat dan nikmat yang tak terhingga adalah nikmat turunnya Al qur'an, dan penambahan nikmat itu terjadi setelah tingkat syukur rosul yang tak teragukan lagi juga pada pasca pernikahan begitu pula Umar bin khatab dengan nikmat keberaniannya, kekayaannya, kecerdasan dan Allah menambahkan nikmat Kepemimpinannya melebihi kepemimpinannya saat jahiliyah dulu, sangat multidimensional!!! itu semua karena rasa syukurnya yang hampir sempurna kepada Allah, dan kita?
Dengan menikah kita pun bisa karena menikah adalah bentuk syukur yang nyata, realita dan sunnahtullah, syaratnya syukurilah nikmat nikah itu dengan sebenar-benarnya, ikuti contoh rosulullah saat menikah, sebisa mungkin islamisasi didalamnya, insya Allah nikmat itupun bertambah.
Sekali lagi cobalah bersyukur dan bersyukur kemudian merenung adakah nikmat yang bertambah dari pernikahan itu (hasil survei dan observasi teman sekitar, orang tua dan kerabat lain)? ADA dan seharusnya multidimensional!!! Allah menguatkan/menambah rezeki bagi mereka yang telah menikah. Allah menambahkan nikmat kematangan jiwa, psikologis dan emotional. Allah menambahkan kesempurnaan keagamaannya setelah menikah.
Allah juga menambahkan nikmat motivasi dan ketenangan beribadah setelah menikah. Allah menambahkan saudara bagi kalian semua antara pihak suami dan pihak istri (nikmat ukhuwah) dan Allah menambahkan nikmatnya agar dapat membajak ladang amal dirumah tangga sendiri. Allahpun menambahkan nikmatnya dengan memberikan investasi amal dunia akhirat berupa anak – anak yang terlahir. dan masih banyak lagi nikmat yang tak terhingga yang Allah tambahkan.
kesemuanya hanya untuk orang – orang yang bersyukur dan bersyukur akan nikmat Allah yaitu nikah dan memahami tujuan nikah itu sendiri, masihkah kita kurang dengan "Penambahan itu" atau malah kita tidak bersyukur????. Astagfirullah (Izzatul Gumam) (7-6-04) 11:45 Tangerang.
ADAM PUN MERASA SEPI
Sepinya nabi Adam melebihi sepinya pemuda jaman sekarang yang melajang (jomblo) pada saat ini, so jangan takut kesepian menjadi ikhwan jadilah high quality joblo muslim yang syar'I tentunya. Nabi Adam pun ternyata juga kesepian disurga saat itu walaupun banyak segala sesuatu yang diinginkan semuanya bisa tercapai dengan mudah disana taman surga yang indah, buah – buahan yang segar, sungai susu dan lain – lain yang mungkin belum terjangkau dalam khayalan kita saat ini, tapi hanya satu terkecuali wanita belum terpikirkan saat itu, dengan berjalannya waktu, kebutuhan sisi Psikologis manusiawinya pun timbul saat ia merasa dalam kesendirian, ini sangat fitrah karena model manusia yang Allah ciptakan memang seperti itu. Desakan kebutuhan dasar ini meningkat sisi kepentingannya dimata Nabi Adam (Allah Maha Mengatur segala) dari pada sisi kepentingan lain, tapi disisi lain kepentingan ini menjadi bumerang (ujian) bagi Adam sendiri ketika ia terlena dan tergoda tetapi kesalahan bukan pada menikahnya tapi bagaimana ia merubah presepsi tentang ibadah, menikah adalah ibadah temannya ibadah adalah ujian dan ujian membuat manusia lebih matang berkualitas dan lebih mengenal kebesaran Allah. Nabi Adam lebih matang ketika ia berada di dimensi kedua setelah surga (hal yang baik) yaitu Bumi (Fana).Pelajaran sejarah inilah yang harus diambil bagi mereka yang mulai merencanakan menikah atau mungkin sisi psikologis&biologis yang mulai matang untuk berumah tangga atau juga mereka yang hanya mengandalkan rajatunafs dalam mengambil keputusan besar itu.
Sekarang tergantung kita menyikapinya ketika berada dalam kesendirian itu sudah banyak pelajaran sejarah yang sudah kita baca, dengar bahkan rasakan disekitar kita. kita hanya punya dua pilihan, kesepian kemudian menikah atau tidak menikah dalam kesepian, ibadah sebagai cobaan atau cobaan sebagai ibadah. (Izzatul Gumam) 7/06/04 tangerang 05:00.
FITRAH MEMIMPIN
Ketika keinginan menikah itu datang dengan berbagai motivasi bagi seorang akhwat adalah menjaga kesuciannya sebagai wanita tentunya dan melahirkan mujahid – mujahid baru di era baru ini, lain hal bagi ikhwan selain dari itu ada hal fitrah yang sebenarnya ini menjadi keinginan tersembunyi di dada seorang ikhwan, semuanya lelaki memiliki fitrah ini entah seorang pemulung sampah sekalipun yang kehidupannya jauh sekali dari nilai – nilai pendidikan dan keorganisasian apalagi seorang ikhwah.
Fitrah untuk memimpin atau mungkin yang lebih ekstrim "menguasai", ketika seseorang lelaki ingin menikah sebenarnya fitrah itulah yang dominan timbul dari pada fitrah yang lain, jadi ketika ikhwan mengatakan " Aku ingin mengkhitbah dan menikahkan mu ukhti" saat masa proses khitbah berlangsung, maksud yang tersiratnya sebenarnya adalah " jadikanlah aku pemimpinmu dan engkau adalah pengikutku marilah kita bangun jama'ah ini dengan bai'atku ini". semua memiliki fitrah itu dan harus terrealisasi bukan hanya janji – janji palsu seorang pemimpin terhadap rakyatnya.
Fitrah akhwat sebagai "manittaba'ani" (pengikut) menjadi pola saling melengkapi dalam proses keseimbangan hidup. so akhwat pilihlah dengan cermat pemimpinmu karena hasrat memimpin di diri lelaki menjadikan kamu harus mengikutinya dan tuntutannya adalah ketaatanmu. (Izzatul Gumam) 11/06/04 tangerang
CINTA ITU BERMUARA DI MANA?
Ada berbagai macam bentuk pernikahan, tergantung landasannya tetapi bagi generasi tarbiyah landasan ini disempurnakan, rosulullahlah dan khadijah sebagai bukti pernikahan yang sempurna landasannya. cinta itu bermuara di mana? sangat cocok judul ini terpikirkan untuk memenuhi tulisan ini, banyak nuansa pernikahan yang ditimbulkan, bagi seorang seniman pernikahan yang ditimbulkan biasanya berbau seni seperti pernikahan bintang pop M.Jackson dengan putri bintang pop legendaris era dulu elvis presley, muatan senilah yang lebih ditimbulkan disini, bagi seseorang yang bergelut dibidang Politik biasanya muatan yang ditimbulkannya adalah nilai -nilai politis, pernikahan untuk menyambung kehidupan politiknya itu sendiri, banyak sejarah bercerita diindonesia seperti pernikahan antara pangeran kerajaan satu dengan putri kerajaan satu lainnya yang terlihat sangat berbau politis, karena muara kehidupannya politik dan masih banyak nuansa – nuansa lainnya. bagi seorang profesi kesehatan biasanya lebih "safe" bila ia dalam membangun pernikahannya bermuatan kesehatan antara dokter dengan farmasi atau farmasi dengan farmasi jarang sekali antara dokter dengan pelayan restoran.
Tarbiyah Rosulullah menyempurnakan itu semua dengan melandaskan pernikahan hanya pada agama, karena agama Islam itu universal, alamiyah dan fitrah karena itu muatan pernikahan Rosulullah dengan Khadijah muatan yang sangat sempurna, kenapa? karena Islam ajaran yang sempurna seperti dipernikahan rosulullah terdapat muatan politik yang berorientasi pada da’wah karena pada masa itu khadijah adalah wanita yang terhormat dimasanya, juga bermuatan ekonomu(bisnis) dan perdagangan juga bermuatan da'wah (syi'ar) karena khadijah adalah pedagang sehingga memudahkan syiar juga masih banyak muatan lain yang ada dalam pernikahan rosulullah, sangat universal karena Agama Islam bersifat seperti itu dan penuh kesempurnaan jadi sempurnakan pernikahan dengan muatan Islam bukan muatan – muatan yang lain. cinta itu bermuara di mana? di Islam jawabku. (Izzatul Gumam) 11/06/04 Tangerang 07:30
nB :
-oRIGINAL catatan lama(review)
- tulisan dahulu yang dibuat untuk kado pernikahan sahabat
Saturday, January 10, 2009
Souvenir Sederhana (2)
KOntriBusi
Saat punya keinginan untuk menuliskan tentang judul ini jadi teringat akan salah satu misi hidup seorang sahabat:“mewakafkan diri untuk da’wah”, sebuah cita – cita yang mulia sebelum hal ini terlaksana, dan merupakan manusia terbaik bagi yang telah merealisasikan ditiap bagian waktu hidupnya. Kontribusi; mudah diucapkan tetapi tidak semudah untuk diamalkan, kita harus punya ruang hati yang lapang disini, karena kita akan menampung banyak rasa, banyak ‘gesekan ikhlas”. Lain itu juga kita harus punya sesuatu hal yang lebih, apakah ini bernilai lebih materi atau non materi, fisik, pemikiran, waktu, yang paling minimal adalah zhon (sangkaan) dan doa yang terbaik.Mungkin sebuah sms sederhana ini dari seorang sahabat bisa menguraikannya :
Berita di metri tv para ikhwah di gaza yg sdg sakaratul maut, 150 orang syahid akibat srngn udara israel la’natullah, allahummansur mujahidina fi gaza, qum ya akhi..doakan mereka dlm keheningan malam (28122008)
Kebanyakan kita akan merespon untuk berkontribusi mungkin hanya dengan memforward sms tersebut segera, sebagian berkontribusi do’a dan menanti waktu tengah malam untuk menyempurnakan hajat do’anya, sebagian kita juga ada yang mencari informasi kemana harus menyumbangkan hartanya, sebagaian kita juga ada yang menunggu sms lanjutan kapan agenda aksi bersama itu dilaksanakan, sebagian juga ada yang mengisi blog-nya dengan tulisan-tulisan yang mendukung perjuangan palestina dan melaknat Israel dengan ‘gaya’ kreativitas tulisannya masing-masing, dan sebagian lainnya dari kita juga ada yang langsung mendaftar untuk menjadi mujahid disana. Tak lain, kontribusi selalu punya variasi warna tersendiri, seperti cermin fenomena keimanan kita masing – masing.
Modal Kontribusi
Bukan hanya investor atau pedagang yang memiliki modal untuk memulai dan menjaga eksistensi penjualannya, disini kontribusi juga bicara tentang modal. Ini tuntutan dasar (primer) bagi kontributor terbaik, selebihnya adalah tuntutan sekunder yang bisa di sikapi dengan cerdas dan kreatif, misalkan :masalah sarana (akses) berkontribusi dan apa yang kita miliki untuk berkontribusi.
Tak lain sejarah selalu mencatat bahwa cintalah modal dasar untuk berkontribusi, dimana ada cinta di situ kontribusi berbicara dan meruah, dimana ada cinta disitulah kontribusi bermilitansi, dimana ada cinta disanalah ada kekuatan besar untuk memberi yang tak henti tanpa pamrih, dimana ada cinta di situ ada kontribusi ruh untuk kematian untuk kehidupan yang abadi, dimana cinta itu ada dan mulai ‘gila’ disanalah pula terjadi ledakan – ledakan kontribusi yang hebat. Berlumur darah bagi jasad, dan melayangnya jiwa hanya bagian keadaan dimana kontribusi punya cerita akhir yang bahagia, semakin lelah perjuangan berkontribusi terjadi semakin puaslah jiwa untuk kebahagiaan akhir yang didapat. Maka ketika ditanya,untuk apa seorang kakek lumpuh icon perjuangan Palestina: Syekh Ahmad Yassin duduk dengan tegarnya mencermati gejolak-gejolak intifadah saat itu, apakah ia sudah tidak layak turut berjuang dan berkontribusi?tidak!! ia masih punya modal yang sangat esensi untuk berkontribusi saat itu yaitu cinta; cintanya pada Agama-nya dan cintanya pada tanah Jihad itu (Palestina),maka segenap hambatan raganya tidak menjadi masalah. Dengan modal cinta akan masih hidup seberkas kontribusi do’a yang tulus ikhlas, masih membara guratan ekspresi perjuangan dalam wajahnya, masih ada semangat yang harus dikobarkan tiap harinya untuk para prajuritnya, dan masih berjalan pula otak strategis gerilyanya. Yang pasti Ia tak pernah ‘bangkrut’dengan modal itu, seperti pejuang – pejuang sejati yang lahir pada masa – masa kenabian lalu.
Petani lupa ladang
Saat cinta tidak bisa hadir dalam sanubari maka upayakanlah untuk berusaha mencari sejuta alasan untuk tetap berkontribusi “jika belum sanggup ikhlas, cukuplah taat sebagai alasan terbaik mu”.Jangan seperti ini, kisah petani di dunia entah berantah ini yang lupa akan ladangnya. Bukan masalah harga pupuk yang melambung tinggi, bukan masalah saat lahan yang sudah terbatas, keadaan muslim kita masih mirip seperti yang dituliskan Dr. Yusuf Qordhowi dalam “titik lemah umat Islam” yang dengan kata lain diceritakan, bahwa kita belum optimal menggunakan sumber daya alam dan sumber daya manusia karena kita lemah dari bersungguh – sungguh untuk berkontribusi.
Mungkin kita sudah lupa bahwa filosofi berkontribusi ini ibarat menanam untuk kelanjutan siklus kehidupan, seperti masa petani zaman sekarang yang futur (malas) atau petani yang akan lupa ladangnya sendiri, atau bahkan sudah lupa cara bertani yang benar, saat budaya mengimpor sebagai kelanjutan budaya konsumtif sudah mendarah daging, padahal apa - apa yang kau tanam pasti itulah yang kau panen. Mungkin tidak didunia ini, tapi pasti akan panen raya dikhirat sana. Seperti wahyuNya : ”Siapa yang melakukan perbuatan yang baik dari laki – laki dan wanita, dan dia beriman niscaya Kami memberinya kehidupan yang baik dan Kami balas mereka dengan pahala yang baik sebaik apa yang pernah mereka lakukan ( An Nahl 97) ”.
Kontributor terbaik
Siapakah kontributor terbaiknya?ialah orang terbaik yang mampu mencintai yang dicintainya dengan terbaik, seharusnya adalah orang – orang yang paling dekat dengan kita, karena yang dekat umumnya juga memiliki kedekatan kecintaan satu dengan yang lainnya, dekat secara iman; kita satu secara iman dengan muslim Palestina, dan mencintai dalam ikatan ukhuwah, maka kita secara spontan akan berkontribusi untuk akidah dan kemerdekaannya, begitu juga tentang kedekatan uraian visi, misi dan keturunan. Sejarah Islam mewakilinya pertama dengan icon terbaik istri – istri Nabi yaitu Bunda Khadijah dan Bunda Aisyah, dalam dua masa kenabian yang berbeda. Khadijah: kontribusi terbaik apa yang tak pernah luput dari nya untuk perjuangan da’wah sang Nabi, saat yang lain mempertanyakan wahyu pertama yang hadir, dan pernyataan awal kenabian, beliaulah yang melindungi dan menyambut dengan keimanan diawal. Lain dari itu ialah sahabat terbaik nabi yaitu Abu Bakar as Shiddiq. Saat yang lainnya mewakafkan setengah atau beberapa bagian, beliau mewakafkan seluruhnya untuk da’wah sang Nabi.
Jadi kontributor terbaik ‘buku sejarah da’wah’ kita tak lain nantinya ialah pasangan jiwa kita, sebagian keluarga (keturunan) kita, dan sahabat – sahabat terbaik kita. Merekalah pecinta terbaik sekaligus kontributor terbaik di masanya nanti. Ia juga yang mampu mengambil bagian berkontribusi untuk melengkapi semangat kita, kekurangan kita, dan bahkan kelebihan kita yang tak terkendali, itulah bagian terindah efek kontribusi secara kolektif. Selain itu mereka pun berkontribusi untuk visi pribadi mereka yang sebenarnya akan dituju; mencari keridhoan Allah swt. Karena yang di cinta bukan hanya kita dan misi, tetapi teratur dari marhalah cinta itu sendiri, disini cinta dan kontribusi punya marhalah!. Oleh sebab itu untuk pasangan jiwa mu, ia harus tergabung menjadi satu jiwa dengan mu, satu misi dari bulatan besar niat untuk tekad baja yang saling menguatkan berkontribusi dalam perjuangan panjang ini. Karena ia pasangan jiwa yang juga harus saling menyeimbangkan satu dengan satu lainnya., oleh sebab itu jika salah satu pasangan jiwa mu mulai terdegradasi niat, hingga mungkin berguguran berkontribusi amal Islam, maka lupakanlah peran itu dari eksistensi drama ini, mungkin yang hanya mampu dikenang esok di syurga adalah romantisme kita dulu saat berjuang sendiri, bukan saat – saat romatisme kita berkontribusi bersama, bersatu dalam satu misi, satu jiwa... (Izz@m, 04012008 Bekasi).
Saat punya keinginan untuk menuliskan tentang judul ini jadi teringat akan salah satu misi hidup seorang sahabat:“mewakafkan diri untuk da’wah”, sebuah cita – cita yang mulia sebelum hal ini terlaksana, dan merupakan manusia terbaik bagi yang telah merealisasikan ditiap bagian waktu hidupnya. Kontribusi; mudah diucapkan tetapi tidak semudah untuk diamalkan, kita harus punya ruang hati yang lapang disini, karena kita akan menampung banyak rasa, banyak ‘gesekan ikhlas”. Lain itu juga kita harus punya sesuatu hal yang lebih, apakah ini bernilai lebih materi atau non materi, fisik, pemikiran, waktu, yang paling minimal adalah zhon (sangkaan) dan doa yang terbaik.Mungkin sebuah sms sederhana ini dari seorang sahabat bisa menguraikannya :
Berita di metri tv para ikhwah di gaza yg sdg sakaratul maut, 150 orang syahid akibat srngn udara israel la’natullah, allahummansur mujahidina fi gaza, qum ya akhi..doakan mereka dlm keheningan malam (28122008)
Kebanyakan kita akan merespon untuk berkontribusi mungkin hanya dengan memforward sms tersebut segera, sebagian berkontribusi do’a dan menanti waktu tengah malam untuk menyempurnakan hajat do’anya, sebagian kita juga ada yang mencari informasi kemana harus menyumbangkan hartanya, sebagaian kita juga ada yang menunggu sms lanjutan kapan agenda aksi bersama itu dilaksanakan, sebagian juga ada yang mengisi blog-nya dengan tulisan-tulisan yang mendukung perjuangan palestina dan melaknat Israel dengan ‘gaya’ kreativitas tulisannya masing-masing, dan sebagian lainnya dari kita juga ada yang langsung mendaftar untuk menjadi mujahid disana. Tak lain, kontribusi selalu punya variasi warna tersendiri, seperti cermin fenomena keimanan kita masing – masing.
Modal Kontribusi
Bukan hanya investor atau pedagang yang memiliki modal untuk memulai dan menjaga eksistensi penjualannya, disini kontribusi juga bicara tentang modal. Ini tuntutan dasar (primer) bagi kontributor terbaik, selebihnya adalah tuntutan sekunder yang bisa di sikapi dengan cerdas dan kreatif, misalkan :masalah sarana (akses) berkontribusi dan apa yang kita miliki untuk berkontribusi.
Tak lain sejarah selalu mencatat bahwa cintalah modal dasar untuk berkontribusi, dimana ada cinta di situ kontribusi berbicara dan meruah, dimana ada cinta disitulah kontribusi bermilitansi, dimana ada cinta disanalah ada kekuatan besar untuk memberi yang tak henti tanpa pamrih, dimana ada cinta di situ ada kontribusi ruh untuk kematian untuk kehidupan yang abadi, dimana cinta itu ada dan mulai ‘gila’ disanalah pula terjadi ledakan – ledakan kontribusi yang hebat. Berlumur darah bagi jasad, dan melayangnya jiwa hanya bagian keadaan dimana kontribusi punya cerita akhir yang bahagia, semakin lelah perjuangan berkontribusi terjadi semakin puaslah jiwa untuk kebahagiaan akhir yang didapat. Maka ketika ditanya,untuk apa seorang kakek lumpuh icon perjuangan Palestina: Syekh Ahmad Yassin duduk dengan tegarnya mencermati gejolak-gejolak intifadah saat itu, apakah ia sudah tidak layak turut berjuang dan berkontribusi?tidak!! ia masih punya modal yang sangat esensi untuk berkontribusi saat itu yaitu cinta; cintanya pada Agama-nya dan cintanya pada tanah Jihad itu (Palestina),maka segenap hambatan raganya tidak menjadi masalah. Dengan modal cinta akan masih hidup seberkas kontribusi do’a yang tulus ikhlas, masih membara guratan ekspresi perjuangan dalam wajahnya, masih ada semangat yang harus dikobarkan tiap harinya untuk para prajuritnya, dan masih berjalan pula otak strategis gerilyanya. Yang pasti Ia tak pernah ‘bangkrut’dengan modal itu, seperti pejuang – pejuang sejati yang lahir pada masa – masa kenabian lalu.
Petani lupa ladang
Saat cinta tidak bisa hadir dalam sanubari maka upayakanlah untuk berusaha mencari sejuta alasan untuk tetap berkontribusi “jika belum sanggup ikhlas, cukuplah taat sebagai alasan terbaik mu”.Jangan seperti ini, kisah petani di dunia entah berantah ini yang lupa akan ladangnya. Bukan masalah harga pupuk yang melambung tinggi, bukan masalah saat lahan yang sudah terbatas, keadaan muslim kita masih mirip seperti yang dituliskan Dr. Yusuf Qordhowi dalam “titik lemah umat Islam” yang dengan kata lain diceritakan, bahwa kita belum optimal menggunakan sumber daya alam dan sumber daya manusia karena kita lemah dari bersungguh – sungguh untuk berkontribusi.
Mungkin kita sudah lupa bahwa filosofi berkontribusi ini ibarat menanam untuk kelanjutan siklus kehidupan, seperti masa petani zaman sekarang yang futur (malas) atau petani yang akan lupa ladangnya sendiri, atau bahkan sudah lupa cara bertani yang benar, saat budaya mengimpor sebagai kelanjutan budaya konsumtif sudah mendarah daging, padahal apa - apa yang kau tanam pasti itulah yang kau panen. Mungkin tidak didunia ini, tapi pasti akan panen raya dikhirat sana. Seperti wahyuNya : ”Siapa yang melakukan perbuatan yang baik dari laki – laki dan wanita, dan dia beriman niscaya Kami memberinya kehidupan yang baik dan Kami balas mereka dengan pahala yang baik sebaik apa yang pernah mereka lakukan ( An Nahl 97) ”.
Kontributor terbaik
Siapakah kontributor terbaiknya?ialah orang terbaik yang mampu mencintai yang dicintainya dengan terbaik, seharusnya adalah orang – orang yang paling dekat dengan kita, karena yang dekat umumnya juga memiliki kedekatan kecintaan satu dengan yang lainnya, dekat secara iman; kita satu secara iman dengan muslim Palestina, dan mencintai dalam ikatan ukhuwah, maka kita secara spontan akan berkontribusi untuk akidah dan kemerdekaannya, begitu juga tentang kedekatan uraian visi, misi dan keturunan. Sejarah Islam mewakilinya pertama dengan icon terbaik istri – istri Nabi yaitu Bunda Khadijah dan Bunda Aisyah, dalam dua masa kenabian yang berbeda. Khadijah: kontribusi terbaik apa yang tak pernah luput dari nya untuk perjuangan da’wah sang Nabi, saat yang lain mempertanyakan wahyu pertama yang hadir, dan pernyataan awal kenabian, beliaulah yang melindungi dan menyambut dengan keimanan diawal. Lain dari itu ialah sahabat terbaik nabi yaitu Abu Bakar as Shiddiq. Saat yang lainnya mewakafkan setengah atau beberapa bagian, beliau mewakafkan seluruhnya untuk da’wah sang Nabi.
Jadi kontributor terbaik ‘buku sejarah da’wah’ kita tak lain nantinya ialah pasangan jiwa kita, sebagian keluarga (keturunan) kita, dan sahabat – sahabat terbaik kita. Merekalah pecinta terbaik sekaligus kontributor terbaik di masanya nanti. Ia juga yang mampu mengambil bagian berkontribusi untuk melengkapi semangat kita, kekurangan kita, dan bahkan kelebihan kita yang tak terkendali, itulah bagian terindah efek kontribusi secara kolektif. Selain itu mereka pun berkontribusi untuk visi pribadi mereka yang sebenarnya akan dituju; mencari keridhoan Allah swt. Karena yang di cinta bukan hanya kita dan misi, tetapi teratur dari marhalah cinta itu sendiri, disini cinta dan kontribusi punya marhalah!. Oleh sebab itu untuk pasangan jiwa mu, ia harus tergabung menjadi satu jiwa dengan mu, satu misi dari bulatan besar niat untuk tekad baja yang saling menguatkan berkontribusi dalam perjuangan panjang ini. Karena ia pasangan jiwa yang juga harus saling menyeimbangkan satu dengan satu lainnya., oleh sebab itu jika salah satu pasangan jiwa mu mulai terdegradasi niat, hingga mungkin berguguran berkontribusi amal Islam, maka lupakanlah peran itu dari eksistensi drama ini, mungkin yang hanya mampu dikenang esok di syurga adalah romantisme kita dulu saat berjuang sendiri, bukan saat – saat romatisme kita berkontribusi bersama, bersatu dalam satu misi, satu jiwa... (Izz@m, 04012008 Bekasi).
Subscribe to:
Posts (Atom)
