KOntriBusi
Saat punya keinginan untuk menuliskan tentang judul ini jadi teringat akan salah satu misi hidup seorang sahabat:“mewakafkan diri untuk da’wah”, sebuah cita – cita yang mulia sebelum hal ini terlaksana, dan merupakan manusia terbaik bagi yang telah merealisasikan ditiap bagian waktu hidupnya. Kontribusi; mudah diucapkan tetapi tidak semudah untuk diamalkan, kita harus punya ruang hati yang lapang disini, karena kita akan menampung banyak rasa, banyak ‘gesekan ikhlas”. Lain itu juga kita harus punya sesuatu hal yang lebih, apakah ini bernilai lebih materi atau non materi, fisik, pemikiran, waktu, yang paling minimal adalah zhon (sangkaan) dan doa yang terbaik.Mungkin sebuah sms sederhana ini dari seorang sahabat bisa menguraikannya :
Berita di metri tv para ikhwah di gaza yg sdg sakaratul maut, 150 orang syahid akibat srngn udara israel la’natullah, allahummansur mujahidina fi gaza, qum ya akhi..doakan mereka dlm keheningan malam (28122008)
Kebanyakan kita akan merespon untuk berkontribusi mungkin hanya dengan memforward sms tersebut segera, sebagian berkontribusi do’a dan menanti waktu tengah malam untuk menyempurnakan hajat do’anya, sebagian kita juga ada yang mencari informasi kemana harus menyumbangkan hartanya, sebagaian kita juga ada yang menunggu sms lanjutan kapan agenda aksi bersama itu dilaksanakan, sebagian juga ada yang mengisi blog-nya dengan tulisan-tulisan yang mendukung perjuangan palestina dan melaknat Israel dengan ‘gaya’ kreativitas tulisannya masing-masing, dan sebagian lainnya dari kita juga ada yang langsung mendaftar untuk menjadi mujahid disana. Tak lain, kontribusi selalu punya variasi warna tersendiri, seperti cermin fenomena keimanan kita masing – masing.
Modal Kontribusi
Bukan hanya investor atau pedagang yang memiliki modal untuk memulai dan menjaga eksistensi penjualannya, disini kontribusi juga bicara tentang modal. Ini tuntutan dasar (primer) bagi kontributor terbaik, selebihnya adalah tuntutan sekunder yang bisa di sikapi dengan cerdas dan kreatif, misalkan :masalah sarana (akses) berkontribusi dan apa yang kita miliki untuk berkontribusi.
Tak lain sejarah selalu mencatat bahwa cintalah modal dasar untuk berkontribusi, dimana ada cinta di situ kontribusi berbicara dan meruah, dimana ada cinta disitulah kontribusi bermilitansi, dimana ada cinta disanalah ada kekuatan besar untuk memberi yang tak henti tanpa pamrih, dimana ada cinta di situ ada kontribusi ruh untuk kematian untuk kehidupan yang abadi, dimana cinta itu ada dan mulai ‘gila’ disanalah pula terjadi ledakan – ledakan kontribusi yang hebat. Berlumur darah bagi jasad, dan melayangnya jiwa hanya bagian keadaan dimana kontribusi punya cerita akhir yang bahagia, semakin lelah perjuangan berkontribusi terjadi semakin puaslah jiwa untuk kebahagiaan akhir yang didapat. Maka ketika ditanya,untuk apa seorang kakek lumpuh icon perjuangan Palestina: Syekh Ahmad Yassin duduk dengan tegarnya mencermati gejolak-gejolak intifadah saat itu, apakah ia sudah tidak layak turut berjuang dan berkontribusi?tidak!! ia masih punya modal yang sangat esensi untuk berkontribusi saat itu yaitu cinta; cintanya pada Agama-nya dan cintanya pada tanah Jihad itu (Palestina),maka segenap hambatan raganya tidak menjadi masalah. Dengan modal cinta akan masih hidup seberkas kontribusi do’a yang tulus ikhlas, masih membara guratan ekspresi perjuangan dalam wajahnya, masih ada semangat yang harus dikobarkan tiap harinya untuk para prajuritnya, dan masih berjalan pula otak strategis gerilyanya. Yang pasti Ia tak pernah ‘bangkrut’dengan modal itu, seperti pejuang – pejuang sejati yang lahir pada masa – masa kenabian lalu.
Petani lupa ladang
Saat cinta tidak bisa hadir dalam sanubari maka upayakanlah untuk berusaha mencari sejuta alasan untuk tetap berkontribusi “jika belum sanggup ikhlas, cukuplah taat sebagai alasan terbaik mu”.Jangan seperti ini, kisah petani di dunia entah berantah ini yang lupa akan ladangnya. Bukan masalah harga pupuk yang melambung tinggi, bukan masalah saat lahan yang sudah terbatas, keadaan muslim kita masih mirip seperti yang dituliskan Dr. Yusuf Qordhowi dalam “titik lemah umat Islam” yang dengan kata lain diceritakan, bahwa kita belum optimal menggunakan sumber daya alam dan sumber daya manusia karena kita lemah dari bersungguh – sungguh untuk berkontribusi.
Mungkin kita sudah lupa bahwa filosofi berkontribusi ini ibarat menanam untuk kelanjutan siklus kehidupan, seperti masa petani zaman sekarang yang futur (malas) atau petani yang akan lupa ladangnya sendiri, atau bahkan sudah lupa cara bertani yang benar, saat budaya mengimpor sebagai kelanjutan budaya konsumtif sudah mendarah daging, padahal apa - apa yang kau tanam pasti itulah yang kau panen. Mungkin tidak didunia ini, tapi pasti akan panen raya dikhirat sana. Seperti wahyuNya : ”Siapa yang melakukan perbuatan yang baik dari laki – laki dan wanita, dan dia beriman niscaya Kami memberinya kehidupan yang baik dan Kami balas mereka dengan pahala yang baik sebaik apa yang pernah mereka lakukan ( An Nahl 97) ”.
Kontributor terbaik
Siapakah kontributor terbaiknya?ialah orang terbaik yang mampu mencintai yang dicintainya dengan terbaik, seharusnya adalah orang – orang yang paling dekat dengan kita, karena yang dekat umumnya juga memiliki kedekatan kecintaan satu dengan yang lainnya, dekat secara iman; kita satu secara iman dengan muslim Palestina, dan mencintai dalam ikatan ukhuwah, maka kita secara spontan akan berkontribusi untuk akidah dan kemerdekaannya, begitu juga tentang kedekatan uraian visi, misi dan keturunan. Sejarah Islam mewakilinya pertama dengan icon terbaik istri – istri Nabi yaitu Bunda Khadijah dan Bunda Aisyah, dalam dua masa kenabian yang berbeda. Khadijah: kontribusi terbaik apa yang tak pernah luput dari nya untuk perjuangan da’wah sang Nabi, saat yang lain mempertanyakan wahyu pertama yang hadir, dan pernyataan awal kenabian, beliaulah yang melindungi dan menyambut dengan keimanan diawal. Lain dari itu ialah sahabat terbaik nabi yaitu Abu Bakar as Shiddiq. Saat yang lainnya mewakafkan setengah atau beberapa bagian, beliau mewakafkan seluruhnya untuk da’wah sang Nabi.
Jadi kontributor terbaik ‘buku sejarah da’wah’ kita tak lain nantinya ialah pasangan jiwa kita, sebagian keluarga (keturunan) kita, dan sahabat – sahabat terbaik kita. Merekalah pecinta terbaik sekaligus kontributor terbaik di masanya nanti. Ia juga yang mampu mengambil bagian berkontribusi untuk melengkapi semangat kita, kekurangan kita, dan bahkan kelebihan kita yang tak terkendali, itulah bagian terindah efek kontribusi secara kolektif. Selain itu mereka pun berkontribusi untuk visi pribadi mereka yang sebenarnya akan dituju; mencari keridhoan Allah swt. Karena yang di cinta bukan hanya kita dan misi, tetapi teratur dari marhalah cinta itu sendiri, disini cinta dan kontribusi punya marhalah!. Oleh sebab itu untuk pasangan jiwa mu, ia harus tergabung menjadi satu jiwa dengan mu, satu misi dari bulatan besar niat untuk tekad baja yang saling menguatkan berkontribusi dalam perjuangan panjang ini. Karena ia pasangan jiwa yang juga harus saling menyeimbangkan satu dengan satu lainnya., oleh sebab itu jika salah satu pasangan jiwa mu mulai terdegradasi niat, hingga mungkin berguguran berkontribusi amal Islam, maka lupakanlah peran itu dari eksistensi drama ini, mungkin yang hanya mampu dikenang esok di syurga adalah romantisme kita dulu saat berjuang sendiri, bukan saat – saat romatisme kita berkontribusi bersama, bersatu dalam satu misi, satu jiwa... (Izz@m, 04012008 Bekasi).
Saturday, January 10, 2009
Penghapal Sejati
Penghapal terbaik sejatinya adalah mampu menghapal secara kontekstual dan menghapal apa yang dipahami dengan baik pula. Agar hapalan itu meresap dalam mentalitas dan ruhiyah yang dalam, alangkah baiknya penghapal sejati juga menyadari bahwa menghapal adalah hanya bagian dari bagaimana mekanisme mengikat ilmu dalam lintasan pikiran yang kemudian harus dilanjutkan membenamkannya membentuk arus komitmen amal yang deras, sejatinya sempurna seperti itu. Saya sampai terkagum – kagum ketika dihadirkan pada teman – teman Apoteker di kampus saya yang berasal dari Reguler UI tentang kemampuannya menghapal. Mereka mampu menghapal dengan baik tiap kata, kalimat hingga tahu betul bab – bab yang mana dengan halamannya saat menghapal menjelang ujian. Saat itu saya hanya membela diri karena sampai saat ini saya bukan (belum) termasuk dalam ‘aliran’ tersebut, alasan saya sederhana; yaah, mungkin memang mereka sudah terlatih benar sejak dini, dan batas usia yang sangat memungkinkan sekali untuk itu, rata – rata usia mereka 21-23 tahun (masih usia ke-emasan untuk menghapal).
Kebanyakan mereka dituntut menghapal untuk berpacu prestasi akademik, menurutku itu adalah konsekuensi normative dengan pola pembelajaran yang diterapkan ilmu jurusan tersebut dibandingkan jurusan lainnya, seharusnya justru itulah kunci sinergis korelasinya. Tapi banyak hal yang terlupakan juga, misalnya : berapa banyak dari mereka (kami) yang berjilbab atau yang telah berkomitmen terhadap keIslamannya baik wanita atau pria yang telah hapal Al qur’an juz standar 28,29 dan 30?atau hanya juz 30?tidak sebagian, tidak juga seperempat, mungkin seperenambelas?. Tuntutan itu tidak hadir dari hati seperti layaknya tuntutan normative mengejar prestasi dan kelulusan akademik. Kita tak pernah takut, kecewa dan bahkan bersedih sejadi – jadinya saat bertambahnya setengah semester usia ujian hidup kita dengan nilai C- dalam mengkaji dan menghapal Al qur’an, atau dinyatakan tidak lulus dan mengulang semester depan. Tapi kita mampu menangis dalam sedih yang mendalam ditengah malam, atau kecewa yang berat bahkan frustasi yang sangat saat dinyatakan Her atau mengulang tahun depan mata kuliah kefarmasian kita.
Memang tidak ada (ikut) lembaga yang mengevaluasi agenda tarbiyah dzatiyah kita tersebut secara intens, bisa jadi disinilah letak lemahnya, bagi yang berkomitmen ikut dalam lembaga atau semacam mahad (LBA), mungkin mempunyai evaluasi lebih baik dalam kasus ini. Selebihnya hanya mekanisme evaluasi yang bersandar pada kesadaran, kemauan kuat dan komitmen pada pribadi masing – masing saja pada hadist indah ini
“Ahli (penghapal dan pengamal) Al qur’an adalah ahli (kekasih) Allah dan orang yang istimewa di sisi-Nya” (HR. An Nasa’I dari Anas bin Malik)
So, yang menjadi pertanyaan besar dibenak saya sampai sekarang adalah siapakah kandidat dari teman – teman farmasi atau dunia farmasi yang berhasil menjadi kekasih-Nya kelak dengan jalan menghapal dan pengamal Al qur’an yang mampu lulus cumlaude dengan nama dan title tambahan baru: Fulan/ah Al - Hafizh, Sfarm. Apt….mungkinkah saya, anda dan yang lainnya. Mungkin, dan sangat mungkin!! sebab semua punya kemungkinan yang sama dengan daya hapal yang hampir sama baiknya pula, tapi waktu dan proses juga akan ambil bagian dari kemungkinan ini nantinya. Semoga dipermudah-Nya untuk menuju jalan kesana….Allahumma amin.
(Izz@m 09012009 Bekasi)
Nb :
- Bagi yang meminta agar tulisan ini segera dipublish; semoga ini bermanfaat buat semua.
- Autotausiyah juga untuk semangat menghapal&mengkaji Al qur’an kembali.
Kebanyakan mereka dituntut menghapal untuk berpacu prestasi akademik, menurutku itu adalah konsekuensi normative dengan pola pembelajaran yang diterapkan ilmu jurusan tersebut dibandingkan jurusan lainnya, seharusnya justru itulah kunci sinergis korelasinya. Tapi banyak hal yang terlupakan juga, misalnya : berapa banyak dari mereka (kami) yang berjilbab atau yang telah berkomitmen terhadap keIslamannya baik wanita atau pria yang telah hapal Al qur’an juz standar 28,29 dan 30?atau hanya juz 30?tidak sebagian, tidak juga seperempat, mungkin seperenambelas?. Tuntutan itu tidak hadir dari hati seperti layaknya tuntutan normative mengejar prestasi dan kelulusan akademik. Kita tak pernah takut, kecewa dan bahkan bersedih sejadi – jadinya saat bertambahnya setengah semester usia ujian hidup kita dengan nilai C- dalam mengkaji dan menghapal Al qur’an, atau dinyatakan tidak lulus dan mengulang semester depan. Tapi kita mampu menangis dalam sedih yang mendalam ditengah malam, atau kecewa yang berat bahkan frustasi yang sangat saat dinyatakan Her atau mengulang tahun depan mata kuliah kefarmasian kita.
Memang tidak ada (ikut) lembaga yang mengevaluasi agenda tarbiyah dzatiyah kita tersebut secara intens, bisa jadi disinilah letak lemahnya, bagi yang berkomitmen ikut dalam lembaga atau semacam mahad (LBA), mungkin mempunyai evaluasi lebih baik dalam kasus ini. Selebihnya hanya mekanisme evaluasi yang bersandar pada kesadaran, kemauan kuat dan komitmen pada pribadi masing – masing saja pada hadist indah ini
“Ahli (penghapal dan pengamal) Al qur’an adalah ahli (kekasih) Allah dan orang yang istimewa di sisi-Nya” (HR. An Nasa’I dari Anas bin Malik)
So, yang menjadi pertanyaan besar dibenak saya sampai sekarang adalah siapakah kandidat dari teman – teman farmasi atau dunia farmasi yang berhasil menjadi kekasih-Nya kelak dengan jalan menghapal dan pengamal Al qur’an yang mampu lulus cumlaude dengan nama dan title tambahan baru: Fulan/ah Al - Hafizh, Sfarm. Apt….mungkinkah saya, anda dan yang lainnya. Mungkin, dan sangat mungkin!! sebab semua punya kemungkinan yang sama dengan daya hapal yang hampir sama baiknya pula, tapi waktu dan proses juga akan ambil bagian dari kemungkinan ini nantinya. Semoga dipermudah-Nya untuk menuju jalan kesana….Allahumma amin.
(Izz@m 09012009 Bekasi)
Nb :
- Bagi yang meminta agar tulisan ini segera dipublish; semoga ini bermanfaat buat semua.
- Autotausiyah juga untuk semangat menghapal&mengkaji Al qur’an kembali.
Wednesday, January 07, 2009
LANGIT MASIH BIRU

Langit masih biru, sebirukah langit hati ku?
Langit kau harus biru, ditengah kesabaran dalam gejolak mendung yang hebat.
Langit masihkah biru, gumam?apakah juga sebiru langkah mu, sebiru cita-cita mu sekarang?.
Langit haruskah masih biru, tapi yakinkan aku cinta!seperti diatas langit ada langit lain yang lebih tinggi, seperti merasakan diatas kesabaran ada kesabaran lain yang berpacu pada syukur yang bertingkat. Bekasi 06012009
Souvenir Sederhana (1)

Korelasi : Niat yang murni dan cinta yang tak pernah padam...
Jangan anggap enteng wilayah (niat) ini, bisa jadi dialah biang keladi dari segalanya!! Seperti kata penyair “Barang siapa yang tidak benar permulaan kehendaknya, niscaya tidak akan selamat pada kesudahan akibatnya.”. Jadi, niat bisa saja sebagai penyelamat dunia- akhirat, bisa juga jadi musibah terbesar kita. Habis gelap terbitlah terang atau bisa jadi sebaliknya. Ini hanya rangkaian awal yang akan menjadi penentu rangkaian akhir. Abstrak, ikhlas yang terarah dari kerja yang terbaik maka timbulah karya yang sempurna, ia menjadi nyata dengan perjalanan waktu, waktu yang membuatnya berbentuk, beraroma, berupa, dan terlukiskan dengan macam – macam rupa, tapi obsesilah yang membuatnya semakin hidup, bergairah, sibuk, membara dan bergerak melesat mencapai tujuannya. Niat seperti bahan bakar jiwa untuk himmah (cita-cita) yang kuat atau mimpi-mimpi yang mulia. Jadi kalau bahan bakarnya tidak murni atau bahkan oplosan bisa dipastikan mesinnya panas dan cepat rusak seperti juga syair ini “Kelesuhan sesudah mujahadah (kesungguhan) timbul karena adanya kerusakan pada awal langkah pertamanya”
Perjalanan niat adalah muara untuk segala konflik lanjutan, mulai konflik jiwa hingga menuju konflik membangun peradaban.Dimulailah niat diri sendiri, ya setelahnya meniatkan untuk menyatakan memadu dua jiwa, ini bukan perkara mudah dan sembarang. Sepertinya memang tidak terlihat, karena niat memang wilayah tak berwujud (diawal), tak seorang pun tahu, tapi kekuatannya dapat dirasakan dengan pasti, dan focus kekuatannya adalah kemurniannya.
Maka berhati – hatilah saat berniat, sebab ujian niat itu pun banyak, waktu salah satu indicator menguji eksistensinya, rupa ujiannya pun beragam, berwarna-warni yang bisa menjadi pengotor kemurniannya. Bejuta alasan dari beribu janji kosong yang berlindung dari bisikan meremehkan tapi cukup menggiurkan tentang seberapa masih pentingkah meniatkan memadu dua jiwa di jalan da’wah sebagai komitmen da’wah, adalah tameng terkuat yang pernah hadir dalam kisah merajut cinta menuai berkah seorang muslim yang bersungguh.
“…maka barang siapa yang hijrah menuju (ridho) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya….(HR. Bukhari-Muslim)
Berat memang untuk mendapatkan keduanya; niat yang memadu dua jiwa dengan kemurnian niat yang tinggi untuk da’wah, dan kebutuhan cinta yang kadang berbalut nafsu. Kita perlu memisahkannya sekarang!berilah ruang hati untuk berbicara dengan jujur, dan janganlah menunda! gunakanlah metode ekstraksi ma’rifah bertingkat terlebih dahulu, antara cinta suci dan nafsu duniawi, maka didapatkan sari pada tingkat tertinggi kemurnian yang lebih, menuju kemurnian jalan niat tersebut, seperti kutipan akhir hadist sederhana ini agar di dapatkan keduanya: Niat yang murni dan cinta yang tak pernah padam.
“…Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu”(HR. Muslim).
(Izz@m; 03012009, Bekasi)
Subscribe to:
Posts (Atom)