Wednesday, January 07, 2009

Souvenir Sederhana (1)


Korelasi : Niat yang murni dan cinta yang tak pernah padam...
Jangan anggap enteng wilayah (niat) ini, bisa jadi dialah biang keladi dari segalanya!! Seperti kata penyair “Barang siapa yang tidak benar permulaan kehendaknya, niscaya tidak akan selamat pada kesudahan akibatnya.”. Jadi, niat bisa saja sebagai penyelamat dunia- akhirat, bisa juga jadi musibah terbesar kita. Habis gelap terbitlah terang atau bisa jadi sebaliknya. Ini hanya rangkaian awal yang akan menjadi penentu rangkaian akhir. Abstrak, ikhlas yang terarah dari kerja yang terbaik maka timbulah karya yang sempurna, ia menjadi nyata dengan perjalanan waktu, waktu yang membuatnya berbentuk, beraroma, berupa, dan terlukiskan dengan macam – macam rupa, tapi obsesilah yang membuatnya semakin hidup, bergairah, sibuk, membara dan bergerak melesat mencapai tujuannya. Niat seperti bahan bakar jiwa untuk himmah (cita-cita) yang kuat atau mimpi-mimpi yang mulia. Jadi kalau bahan bakarnya tidak murni atau bahkan oplosan bisa dipastikan mesinnya panas dan cepat rusak seperti juga syair ini “Kelesuhan sesudah mujahadah (kesungguhan) timbul karena adanya kerusakan pada awal langkah pertamanya”
Perjalanan niat adalah muara untuk segala konflik lanjutan, mulai konflik jiwa hingga menuju konflik membangun peradaban.Dimulailah niat diri sendiri, ya setelahnya meniatkan untuk menyatakan memadu dua jiwa, ini bukan perkara mudah dan sembarang. Sepertinya memang tidak terlihat, karena niat memang wilayah tak berwujud (diawal), tak seorang pun tahu, tapi kekuatannya dapat dirasakan dengan pasti, dan focus kekuatannya adalah kemurniannya.
Maka berhati – hatilah saat berniat, sebab ujian niat itu pun banyak, waktu salah satu indicator menguji eksistensinya, rupa ujiannya pun beragam, berwarna-warni yang bisa menjadi pengotor kemurniannya. Bejuta alasan dari beribu janji kosong yang berlindung dari bisikan meremehkan tapi cukup menggiurkan tentang seberapa masih pentingkah meniatkan memadu dua jiwa di jalan da’wah sebagai komitmen da’wah, adalah tameng terkuat yang pernah hadir dalam kisah merajut cinta menuai berkah seorang muslim yang bersungguh.
“…maka barang siapa yang hijrah menuju (ridho) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya….(HR. Bukhari-Muslim)
Berat memang untuk mendapatkan keduanya; niat yang memadu dua jiwa dengan kemurnian niat yang tinggi untuk da’wah, dan kebutuhan cinta yang kadang berbalut nafsu. Kita perlu memisahkannya sekarang!berilah ruang hati untuk berbicara dengan jujur, dan janganlah menunda! gunakanlah metode ekstraksi ma’rifah bertingkat terlebih dahulu, antara cinta suci dan nafsu duniawi, maka didapatkan sari pada tingkat tertinggi kemurnian yang lebih, menuju kemurnian jalan niat tersebut, seperti kutipan akhir hadist sederhana ini agar di dapatkan keduanya: Niat yang murni dan cinta yang tak pernah padam.
“…Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu”(HR. Muslim).
(Izz@m; 03012009, Bekasi)

No comments: