Saturday, January 10, 2009

Penghapal Sejati

Penghapal terbaik sejatinya adalah mampu menghapal secara kontekstual dan menghapal apa yang dipahami dengan baik pula. Agar hapalan itu meresap dalam mentalitas dan ruhiyah yang dalam, alangkah baiknya penghapal sejati juga menyadari bahwa menghapal adalah hanya bagian dari bagaimana mekanisme mengikat ilmu dalam lintasan pikiran yang kemudian harus dilanjutkan membenamkannya membentuk arus komitmen amal yang deras, sejatinya sempurna seperti itu. Saya sampai terkagum – kagum ketika dihadirkan pada teman – teman Apoteker di kampus saya yang berasal dari Reguler UI tentang kemampuannya menghapal. Mereka mampu menghapal dengan baik tiap kata, kalimat hingga tahu betul bab – bab yang mana dengan halamannya saat menghapal menjelang ujian. Saat itu saya hanya membela diri karena sampai saat ini saya bukan (belum) termasuk dalam ‘aliran’ tersebut, alasan saya sederhana; yaah, mungkin memang mereka sudah terlatih benar sejak dini, dan batas usia yang sangat memungkinkan sekali untuk itu, rata – rata usia mereka 21-23 tahun (masih usia ke-emasan untuk menghapal).
Kebanyakan mereka dituntut menghapal untuk berpacu prestasi akademik, menurutku itu adalah konsekuensi normative dengan pola pembelajaran yang diterapkan ilmu jurusan tersebut dibandingkan jurusan lainnya, seharusnya justru itulah kunci sinergis korelasinya. Tapi banyak hal yang terlupakan juga, misalnya : berapa banyak dari mereka (kami) yang berjilbab atau yang telah berkomitmen terhadap keIslamannya baik wanita atau pria yang telah hapal Al qur’an juz standar 28,29 dan 30?atau hanya juz 30?tidak sebagian, tidak juga seperempat, mungkin seperenambelas?. Tuntutan itu tidak hadir dari hati seperti layaknya tuntutan normative mengejar prestasi dan kelulusan akademik. Kita tak pernah takut, kecewa dan bahkan bersedih sejadi – jadinya saat bertambahnya setengah semester usia ujian hidup kita dengan nilai C- dalam mengkaji dan menghapal Al qur’an, atau dinyatakan tidak lulus dan mengulang semester depan. Tapi kita mampu menangis dalam sedih yang mendalam ditengah malam, atau kecewa yang berat bahkan frustasi yang sangat saat dinyatakan Her atau mengulang tahun depan mata kuliah kefarmasian kita.
Memang tidak ada (ikut) lembaga yang mengevaluasi agenda tarbiyah dzatiyah kita tersebut secara intens, bisa jadi disinilah letak lemahnya, bagi yang berkomitmen ikut dalam lembaga atau semacam mahad (LBA), mungkin mempunyai evaluasi lebih baik dalam kasus ini. Selebihnya hanya mekanisme evaluasi yang bersandar pada kesadaran, kemauan kuat dan komitmen pada pribadi masing – masing saja pada hadist indah ini
“Ahli (penghapal dan pengamal) Al qur’an adalah ahli (kekasih) Allah dan orang yang istimewa di sisi-Nya” (HR. An Nasa’I dari Anas bin Malik)
So, yang menjadi pertanyaan besar dibenak saya sampai sekarang adalah siapakah kandidat dari teman – teman farmasi atau dunia farmasi yang berhasil menjadi kekasih-Nya kelak dengan jalan menghapal dan pengamal Al qur’an yang mampu lulus cumlaude dengan nama dan title tambahan baru: Fulan/ah Al - Hafizh, Sfarm. Apt….mungkinkah saya, anda dan yang lainnya. Mungkin, dan sangat mungkin!! sebab semua punya kemungkinan yang sama dengan daya hapal yang hampir sama baiknya pula, tapi waktu dan proses juga akan ambil bagian dari kemungkinan ini nantinya. Semoga dipermudah-Nya untuk menuju jalan kesana….Allahumma amin.
(Izz@m 09012009 Bekasi)
Nb :
- Bagi yang meminta agar tulisan ini segera dipublish; semoga ini bermanfaat buat semua.
- Autotausiyah juga untuk semangat menghapal&mengkaji Al qur’an kembali.

No comments: