Sunday, September 12, 2010

10 FIRST THINK (to do) AFTER MERRIED (2)


Kisah (sistem) Cinta dirumah Hasan Al Banna

“CINTA di rumah HASAN AL BANNA” begitulah judul sebuah buku yang ditulis oleh Muhammad Lili Nur Aulia yang juga merupakan Redaktur majalah Tarbawi. Sebuah penggalan kejujuran dan saksi hidup kenangan anak – anak As syahid Hasan Al Banna saat beliau menjadi Ayah mereka yang sekaligus juga pioner da’wah saat itu.
Menurut saya seharusnya buku ini jauh lebih tebal untuk cukup menterjemahkan secara utuh (penuh) kandungan judul buku tersebut. Walaupun nyatanya kurang tebal, tetapi menurut saya buku tersebut isinya minimal sudah cukup memprovokasi untuk kita merenung kembali, apakah kita sudah cukup baik untuk menjadi seorang Ayah yang sekaligus juga ‘berprofesi’ tetap menjadi seorang penyeru.

Entahlah.....Ternyata ahirnya saya terprovokasi juga untuk menulis setelah membaca buku itu (semoga terprovokasi juga untuk mengamalkannya). Dan semoga bukan juga karena dorongan ‘hutang’ tulisan yang sudah melilit jari – jari saya (red; bukan melilit leher loh, beginilah kalau versi hutang ala penulis..he3x) hingga sulit untuk menekan tombol - tombol huruf pada Laptop.

Sebenarnya saya hanya mengambil sangat sedikit saja dari berbagai makna yang ada di kisah buku itu, yaitu SISTEM KELUARGA ISLAM; Pertanyaan besar di benak saya adalah sederhana: Bagaimana as syahid dengan sangat cerdas, hangat, tepat dan sangat kuat membangun sistem keluarga tersebut, hingga saat sistem itu ditinggalkan pun tetap membekas dihati anak - anaknya?saya yakin ini bukan perkara mudah, dan bukan juga kerja- kerja individu as syahid sendiri, walaupun dialah qowwannya. Jadi apa sebenarnya yang ada dibalik semua itu? .

Sistem Cinta, Sistem Ridho

Jika diibaratkan sistem keluarga Islam adalah sebuah komputer, maka sistem yang dibangun harus memiliki software (perangkat lunak) yang handal-cerdas dan hardware yang cukup mumpuni untuk menjalankan program – program ‘amanah’ yang berat sekalipun agar tidak mudah ‘hang’. Kita sebagai muslim sudah memiliki O.S (Operation System) yang sempurna (Islam), hanya saja aplikasi kekinian program – program “exe” yang kita miliki kurang aplikatif, entahlah mungkin karna daya kreatifitas kita yang lemah atau memang kurangnya tsaqofah Islamiyah&tasqofah kekinian kita.

Sebagai tauladan program kreatif pada buku ini, as syaahid membentuk program kreatif sistem data base&informasi keluarga untuk seluruh anggota keluarga yang berisi catatan sejarah kelahiran, medical record dan catatan prestasi formal maupun nonformal dalam satu map. Mungkin kini kita tidak usah pakai map lagi sekarang (jadul boss!!), kita bisa lebih simple lagi mencatatnya pada HP, smartphone, Comunicator (yang N9300 y..:) jadul tapi fav) atau netbook. Alasan apalagi yang membuat kita jadi tidak kreatif dengan sarana yang cukup memadai. Dan itu bagi as syahid bukan hanya setumpuk catatan yang tanpa follow up tanpa evaluasi. Prestasi mana yang kurang pada anaknya selalu didiskusikan kepada guru disekolah untuk dibantu, atau gurulah yang dibantu untuk masukan metode lain dimana anaknya dan anak – anak yang lain dapat meningkat prestasinya.

Lantunan salah satu lirik musik kekinian Ari Laso sepertinya juga cukup tepat untuk menggambarkan maksud yang kedua.....“Sentuhlah dia tepat dihati,...(ga hapal Gan lirik tengahnya, hehe..)........jadi milik ku selamanya”. Energi terbesar yang pernah ada didunia ini untuk menggerakkan sistem adalah cinta, kalau ejaannya versi d’bagindas C.I.N.T.A (korban sering nonton tv nih). Jika energi ini ada ditiap element utama sistem terutama Ayah dan Bunda maka sistem akan bekerja dengan sendirinya menuntaskan apapun amal itu tanpa perintah keras, tanpa lelah, tanpa pengawasan, lebih dasyat tanpa pamrih. Seperti cerita kejujuran pada kutipan buku tersebut ketika Syaiful Islam (anak lelaki as syahid) dilarang menonton bioskop oleh Ayahnya : “Ayah –semoga Allah merahmati-Nya- sangat lembut perasaanya. Beliau sangat memelihara perasaan anak – anak nya dengan begitu hati – hati. Beliau memiliki kemampuan untuk menjadikan kami menurut tanpa perintah untuk mentaatinya. Kami menganggap beliau mempunyai wibawa demikian besar yang menjadikan kami senang mengikuti keinginannya dan tidak mau melawan (CdRHA;Hal 39)”.

Sistem keluarga adalah sistem dimana anggotanya adalah manusia, bukan robot, bukan malaikat, maka jelaslah orang tua yang memelihara hati anak – anaknya dengan hati – hati maka hanti -nya pun akan dipelihara oleh anak – anaknya dengan hati – hati pula...lakukanlah dan coba perhatikan apa yang terjadi (mode on taklid style ustad Mario Teguh)...??

Pemahaman, Mujahadah dan Fokus
Sejauh mana keseriusan&kesungguhan kita dalam membangun sistem keluarga (da’awah) Islam dengan kondisi propaganda sekarang yang kompleks?pertanyaan besar yang juga belum bisa saya jawab secara utuh dalam dinamika ini. Sebab makna, dinamikanya kita sangat santai (lalai) dalam membangun dan menjalankan manhaj ini tapi dengan mengharap ouput/untung yang besar. Malam kita terlalu lalai dengan kelelahan fisik yang mengalahkan perhatian kita pada evaluasi pengawasan sistem yang sedang dijalankan. Fikiran kita terlalu sibuk pada alasan ke egoisan peran utama seorang Ayah mencari rezki untuk nafkah keluarga, dan lalai pada fokus pembinaan istri dan anak – anak.

Sejauh mana?jawabnya sangat sederhannya;Sejauh pemahaman kita, Al fahm akan berbicara banyak tentang ini sampai ke akar-akar nya. Tingkat kepahaman dari element utama sistem akan mempengaruhi kesungguhan kerja sistem amal ini. Maka kenapa semua harus dimulai dari persiapan diri yang baik sebelum menikah, memilih pasangan hidup yang juga baik pemahamannya agamanya (baca CdRHA hal 22 – 25; ya ummu wafa, istana kita menanti di surga; kepercayaan yang sangat besar).

Wanita (istri) adalah poros utama sistem itu sendiri, wanita dengan banyak sekali pengambilan peran dalam sistem tersebut yang akan berpengaruh besar pada kestabilan sistem. Keluarga yang lemah sistemnya dapat dipastikan lemah asset yang satu ini. Istri adalah patner hidup yang berperan sangat besar untuk menterjemahkan, mentransferasi, mentranformasi dan menjalankan sistem yang kita konsep dalam bentuk afiliasi - afiliasi yang sangat unik-khusus. Allah memang sangat mengkhususnya menciptakan mahluknya yang bernama wanita (Istri) untuk peran yang sangat khusus pula. Tak ada yang dapat menggantikan peran ini, sekali pun seorang baby sister (pengasuh anak) terpandai dengan gaji termahal didunia yang pernah ada. Oleh sebab itu Al fahm sangat dipentingkan bagi pasangan kita, dan terjawablah sudah pertanyaan itu bagi seorang ikhwan-akhwat dalam kebimbangannya yang dalam tak kunjung berakhir saat biodatanya tak tersentuh, dalam tanya kepada ustadzah pembinanya: haruskah ana menikah dengan sesama muslim (terbina) Tarbiyah?

Lain di dalam buku tersebut juga diceritakan dengan betapa sangat serius dan bersungguh - sungguhnya as syhid membangun dan menjalankan sistem secara benar dan aplikatif, tiada waktu tanpa program - program yag jelas, mulai dari komitmen makan bersama hingga waktu tujuh menit untuk tidur (istirahat) saja menjadi perhitungan yang matang agar dapat menyelesaikan multi task; agenda keluarga dan agenda da’wah (CdRHA hal 29 – 31). Kesungguhan lain pun terlihat betapa rapihnya as syahid melakukan pengaturan dan pencatatan administrasi keuangan keluarga, catatan prestasi, catatan medis anak dan jadwal agenda keluarga yang disusun tanpa tumpang tindih antara jadwal agenda da’wah eksternal dan kehangatan keluarga. Semua sistem harus kita bangun secara serius dan bersamaan; membangun dan menancapkan sistem ekonomi keluarga, sosial masyarakat, sistem pendidikan keluarga, sistem akidah, dan sistem ideologi. Pasti tapi bertahap dan bertahap tapi pasti!!.

Realitas tauladan kini
Sudah banyak tauladan, silahkan menyontek dan itupun tak berbayar teman!!.Jangan heran yang berlebih jika akhirnya keluar buku yang launchingnya menjawab kebimbangan untuk memiliki anak (terencana) banyak tapi berkualitas. Bacalah kisah dan Pengalaman hidup aplikatif dalam buku “10 bersaudara bintang Al qur’an”, atau kisah istri – istri ustad dan anggota dewan kita yang memiliki jumlah anak lebih dari jumlah standart nasional negara kita (Keluarga Berencana; KB), atau mungkin yang selanjut menyusul menjadi tauladan adalah kita. Mana yang harus disalahkan?jumlah anggotanya, takdir rezeki atau sistem-program membangun keluarganya. Semua punya satu suara ketika ditanya bagaimana mengaturnya agar mereka tetap tertib, akur, disiplin dan harmonis antar seluruh anggota keluarga: Membangun sistem dan program – program yang rapi, detail dan sistematik antara peran, hak&kewajiban.

Dengan menikah Allah menjadikan kita kaya raya, Allah menghadiahkan sebuah perusahaan kehidupan yang bernama keluarga. Keluarga adalah organisasi perusahaan kehidupan yang ‘direkturnya’ adalah kita (ayah), ‘sekretarisnya’ istri kita dan ‘staf – stafnya’ adalah anak – anak kita.

Refleksi Kebangkrutan bukan kebangkitan
Refleksi miris!! jika akhirnya seorang yang mengaku pasangan muslim ketika ditanya tentang sudahkan buat program kerja keluarga setelah menikah belum memiliki jawaban yang pasti dan konkret, dengan dalil syar’i “insya Allah sudah takdir akan berjalan dengan sendirinya akhi”, atau sudah di pikirin akh tapi belum dituliskan, atau mungkin sudah dibicarakan globalnya akhi tapi belum sampai program konkretnya...Padahal sudah menikah hampir genap satu tahun??.

Semoga perusahaan keluarga Islam tidak terkena likuiditas, merger, atau bahkan bangkrut (tidak produktif) karna bermasalah dalam membentuk dan membangun sistemnya. Semoga anggota karyawan perusahaan keluarga kita yang ada didalamnya tidak “resign” secara hati dan fikiran walaupun jasadnya masih dalam pelukan kita. Bangkrut adalah kata dan kisah tersedih yang harus dibayar mahal diakhir untuk dunia dan akhirat bagi sebuah perusahaan keluarga Islam. Seperti kutipan surat cinta ini :“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(At Tahrim:6)”.

Jadi sangatlah jelas bahwa perusahaan keluarga Islam membutuhkan suatu sistem pemeliharaan bukan hanya untuk diri, tetapi juga sistem untuk karyawan-karyawannya (anggota keluarga) yang sangat kultural dan aplikatif, agar dapat bekerja pada realita dinamika duniawi dan harapan - harapan proyeksi akhirat nanti.

Semoga ini realitas indikator sederhananya saat saya sejenak turut terkagum sewaktu meminta fedback sms dari teman – teman untuk tulisan ini tentang seberapa pentingkah membuat program kerja setelah menikah untuk keluarga, begini jawaban jujur sms-nya :
Alhamdulillah sdh, perlu agar khdpn lbh teratur&terencana sesuai syariat (0856xxxxxx166) - PERLU! Ud bkin, tp blm tlalu mksimal plaksanaanny (0813xxxxx989). Akhirul kalam: sebab makna, sudahkah dimulai kisah (sistem) Cinta dirumah Hasan Al Banna dirumah kita setelah menikah??atau belum sama sekali memulai?.(Izz@tulgumam; September 2010. Autotausiyah:Tetaplah disampingku Dear!)

Nb : Ya Allah berilah kekuatan kepada kami untuk menjalankan amanah ini dengan baik.

No comments: