Tuesday, August 19, 2008

CALON SANG MUROBBI


“Ah, dasar mahasiswa” pikir ku….dan, ya sekarang aku kali ini kena juga, tidak seperti dulu saat bekerja berada didunia profesi. Ada sumber penghasilan tetap dan menjadi agenda rutin untuk membeli buku-buku, kaset dan VCD keislaman bulanan yang menjadi hobby kesenangan tersendiri, selebihnya adalah tuntutan. Mengumpulkan ilmu – ilmu yang berserakan dari sisa kesadaran dan pembagian jatah gaji yang memang harus dibagikan. Karena adil adalah bagian dari keimanan. Dan adil pasti sejahtera…what try!!(apa coba.he2?)

Ini bicara tradisi, idealisme, eksistensi dan harapan. Usaha untuk tetap membeli, meminjam tetap menjadi azzam terkuat. Bedanya kali ini dengan perhitungan yang lebih matang (istilah halusnya: ngirit), tapi ya kadang agak jebol juga pengeluaran dan seringnya jadi absen untuk kancah menjaga eksistensi kegiatan ini, bedanya lagi dulu buku yang dibeli tebalnya sekelas kitab- kitab, kalau sekarang?...harus benar – benar selektif untuk membeli buku yang seharga dibawah 50 ribuan dengan kontent ’isi’ yang harus maksimal, palingan kalau mau beli buku yang agak bagus harus ’bisu’ sejenak, maksudnya uang pulsa harus dikurangi, dan harus dibayar mahal pula dengan kata-kata ”afwan br bls” saat balasan sms atau menelpon setelahnya, tapi hal itu sulit memang, dan kesulitan itu sering serius berujungnya tetap jadi kebanyakan milih- milih buku dan tempat toko buku, dan malah berubah keterusan jadi aktifitas baru: agenda survey2 buku. Ada niat tapi miskin harta, itu agak lebih baik ketimbang enggak punya niat miskin harta juga...kejahiliyahan tingkat tinggi, Sob! Keuangan mahasiswa yang pas tapi mau kualitas buku yang maksimal. Kadang kala nyari tempat buku murah lainnya, sekali lagi secara harga BBM naik Sob....yah, ujung – ujungnya survei lagi, list buku baru lagi, survey lagi dan kapan belinya akhi?...

Yah, semoga tradisi dan idealisme ini minimal membedakan aku dengan ibu – ibu atau ummahat – ummahat saat belanja ke pasar. Bedanya sarana dan objeknya, jika pasar dan sayur mayur adalah bagian sarana dan objeknya, sedangkan tradisi ku, toko buku dan buku menjadi sarana dan objeknya. Tingkat ketahanan berada dipasar, ketelitian ilmiah memilih dan tingkat kritis menawar menjadi hak cipta tersendiri baginya. Untuk idealisme ku kali ini, maka ku pinjam hak cipta mereka, tentunya untuk sebuah eksistensi saat ini menjadi mahasiswa (pembelajar).

Selama sebulan biasanya bisa 2 – 4 kali ke toko buku, kadang untuk survei, baca dan paling sering adalah mencari inpirasi untuk menulis atau apapun termasuk mengkritisi sebuah buku. Baik buku ”jahiliyah” yang sedang berkembang dengan strategi memakai topeng ataupun polos terang-terangan. Selebihnya adalah melihat perkembangan pola pikir dunia dengan melihat buku – buku ”kebaikan” yang sedang terbit dan tumbuh berkembang.

Akh firman pun jadi ketularan untuk ’tradisi’ ku ini, terhadap buku dan toko buku, tapi aku pun mau tak mau juga tertular penyakit mencintai alam-nya. Begitu pula seni olah fisiknya akh Amat. Satu ruang dalam tiga penghuni, keniscayaan untuk terjadi difusi karakter itu mungkin, bisa transfer kebaikan atau keburukan, karena semua punya dua sisi itu tergantung filter masing – masing pemahamannya.Lambat tapi pasti, tidak sekarang, tapi mungkin besok atau nanti kemudian kelak. Terkadang hasil da’wah baru akan terlihat saat usia sudah habis dimakan masa, saat terpisah waktu dan ruang. Dan momentum itu hadir ditiap masing – masingnya, tapi saat jarak sebagai pemisahnya. Tidak bersamaan, tapi saat itu pulalah pemilik investasi da’wah dan objek da’wah terkadang tak pernah saling tahu hasilnya untuk menjaga waktu dan keikhlasan. Karena imbas kebaikan itu kadang harus hadir pada bauran wilayah dan kebutuhannya yang berbeda di alam ini, itulah kebarokahannya, karena kehendak Allah swt yang Maha Pengatur.

Tertular mulai dari kesukaan terhadap buku – buku bacaan, kesukaan penulis buku, mengkoleksi hingga menggapai visi untuk sebuah tradisi sederhana ini. Jawaban kami semua hampir sama, satu essensi hanya beda apresiasi, saat bertanya untuk apa hobby membeli, membaca buku Islam dan seterusnya :

Jawab ku sederhana ”ane ingin mewarisi ilmu dan buku – buku ini semua untuk istri dan anak ane kelak biar berdaya untuk ummat”. Warisan yang sederhana pikir ku, karena iman tidak bisa diwarisi tapi untuk menggapai hidayah-Nya perlu difasilitasi, maka ku wariskan buku dan ilmu, tidak berat dan tidak banyak menimbulkan banyak perkara dibalik makna warisan harta – harta lainnya. Bahkan dibenak ku, lebih tertarik untuk membangun perpustakaan dan usaha toko buku dibanding membuat sebuah Apotek, atau mungkin akan dimodif!

“mau memperbaiki diri dan bisa memberi untuk keluarganya nanti”, begitu apresiasi akh firman, lebih sederhana dari visi ku, hanya beda apresiasi. Hingga ketertularan ini menjadikan aku referensi standarnya dalam memilih dan membeli buku, mana yang menjadi buku dasar dan wajib, mana yang menjadi ”koleksi”.

Menjaga tradisi sang murobbi

Intinya tradisi ini semoga menghantarkan ku pada keadaan mengisi dan memberi nantinya, memperbaiki dan kemudian menjalankan mesin juga rodanya hingga terjadi perpindahan keadaan, tapi dimulai dengan tradisi yang sangat sederhana; MEMBACA.Bisa jadi budaya survei, membeli, membaca, belajar dan beramal adalah awal dari tradisi dan idealisme ’sang murrobi’, terlebih dengan tradisi menulis ”pencerahan ummat” dengan mesin ketik bututnya disaat ummat terlelap tidur. Ini hanya beda masalah isi dan pengolahannya yang ada di kepala dengan kecenderungan (iman) yang dasyat yang ada dihati, maka lahirnya sang murobbi yang mampu mengajarkan ummat, menuntun dan menerangi ruang – ruang jahiliyah yang masih gelap gulita diberbagai pelosok alam ini.

Bedanya ”tradisi” sang murobbi dengan kita adalah ia membaca untuk diceritakan, membaca hikmah renungan untuk diamalkan, ”praktek” dalam pengalaman dari hasil membaca untuk disampaikan hingga menghujam bumi sekitarnya. Karena tugas hakikinya menyampaikan dan mengabarkan tentang ini iman dan kuffur, ini surga dan disitu neraka. Dibagikan kesetiap orang, ke setiap kampus dan bahkan ke setiap pelosok-pelosok kampung nusantara. Dengan cinta dan jiwanya. Kepada siapapun, tak memilih- milih, tak terkecuali kepada rezim penguasa. Karena seluas itu jangkauan ruang jiwanya dan seluas itulah cakupan cintanya untuk perbaikan ummat, dan akhirnya semua mampu masuk ke lubuk hatinya dalam selimut kebesaran dan kesabaran, kelapangan dan ketawadhuan. Bedanya kita, ruang hati kita belum seluas itu, jangkauan jiwa kita belum sejauh itu, maka kita hanya mampu membaca kemudian menyampaikan pada beberapa orang, beberapa khalayak dan beberapa jiwa yang memang tidak sakit benar. Cinta kita kadang tidak cukup dalam untuk sebuah keberanian menyelam pada kedalaman kebenaran dari keyakinan yang belum matang. Karena semakin menyelam kedalam laut semakin besar tekanan airnya, oleh sebab itu bisa jadi kita masih belum belajar benar tentang keyakinan dan teknis untuk menyelam yang benar, atau untuk menyelami kedalaman keimanan kita sendiri. Tapi kita bisa!! Bisa seperti itu, sebab kita punya asal usul dan dimensi yang sama dalam penciptaan yaitu manusia. Sama – sama manusia. Dari tanah dan akan kembali ketanah.

Nilai jual

“Ah, dasar mahasiswa...” pikir ku lagi. Bisanya hanya nanya harga, tawar – menawar dan enggak sanggup membeli. Kejadian itu ba’da selesai shalat jum’at di MUI bareng akh Firman, Amat dan Rida saat ada ikhwan yang menjual VCD sang murobbi dan buku ustadz Anis matta tentang ”serial Cinta-nya”:

”berapa pak harga VCD sang murobbi?” tanya akh Rida.

”35.000 rupiah” ujar bapak penjual itu.

”bisa kurang ga pak?” balik tanya

”belum bisa tuh” balik jawab bapak penjual

Pikirku itu tidak terlalu mahal, untuk sebuah referensi dokumenter sejarah Tarbiyah, tetapi sekali lagi dasar (kami) mahasiswa, selalu aja ada renungan kelucuan setelahnya. Jika harga VCD ‘sang murobbi’ saja seharga Rp 35.000 bisa jadi mungkin harga VCD ‘sang mentor’ bisa kurang lebih murah atau bahkan lebih turun lagi jika kisahnya adalah ‘sang muttarobbi’. Kami pun tersenyum dalam bahana pemahaman yang semakin luas. Dalam canda yang ringan tapi mendalam makna syar’i tentang kisah Sang Murobbi yang selalu punya nilai jual tertinggi di mata Allah dan ummat

”Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.(Q.S 41:30)"

(Izz@m 16/08/2008 Bekasi; ba’da isya)

No comments: