Monday, March 10, 2008

MENAPAKI IKHLASNYA IKHLAS

Sulitnya meminta ikhlas dari apa yang orang lain lakukan untuk kita. Musykil meminta ikhlas jika yang dipinta tidak memiliki dan memahami ikhlas itu sendiri. Mustahil, jika tidak memiliki bagaimana bisa memberi. Seharusnya juga tanpa jasa. Aku dengan tekanan kedalaman laut terdalam menggapai kerang mutiara. Aku dan rambu-rambu banyak perasaan orang lain yang coba menerka seikhlas apakah kerang itu akan membuka memberikannya mutiara. Seikhlas awalan dan kesempurnaan akhirnya dalam penerimaannya. Jika ikhlas maka tak kenal kata siapa yang salah, siapa yang harta dan siapa yang unggul,sebab ikhlas adalah penerimaan hati. Inilah ilmu pelajaran kurikulum lama yang baru tersinggung, semoga siapapun tak tersinggung dibuatnya. Biarkan aku dengan diamnya diam, semoga masa statis ini krikil yang berubah menjadi mutiara yang jika masa panennya tiba nelayanpun semua bergembira dengan ikhlasnya pula.Biarkan aku dengan resiko ikhlasku, sebab aku harus menjadi pahlawan bagi semuanya, tidak untukku sendiri atau untukmu saja. Prioritas mengambil lebih banyak manfaat adalah makna sebenarnya kata pahlawan.Benarlah untaian kata cobaan ikhlas ini buat pahlawan “ketika orang merampas kamu membagi itulah peliknya. Ketika orang mengadu kamu bertanggung jawab itulah repotnya”, maka biarkanlah aku dengan resiko ikhlasku, resiko ketika orang tak memberi dengan ikhlas maka keutamaan azzamnya adalah untuk tak mengambilnya, apapun keadaannya nanti. Janganlah coba-coba mengambilnya sebab buih kan kau dapati, debu kan kau hampiri dan kesiaan kan kau lelahi. Ikhlas dan kebarokahan adalah dua mata air dalam sumber yang sama, jika salah satunya teracuni maka keduanya akan tercemar.Sekarang biarkan aku dengan tahfizku, tafsir qur’an ku dan da’wah sederhanaku yang akan menemani-memahami ku kelak sepanjang masa ini. Selama jarum jam masih berputar dan detik pun berdetak, selama itulah masih ada kesempatan; kesempatan apapun untuk beribadah kepadaNya. Yang telah digariskanNya lurus untukmu takkan pernah bengkok menghampirimu. Selama itulah menabung hikmah. Memohon maaf dan mampu memaafkan diri sendiri serta orang lain merupakan bentuk lain kesehatan dan kesempurnaan akal kita. Cukuplah ini menjadi tabungan berharga hikmah baru tahun ini dalam menjalani tarbiyah ilahiah.

(Izzatulgumam;my room 10/03/08: lail 01:30 WIB,Bekasi)

No comments: