(Mentari teruslah bersinar)
“Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, jadikanlah cahaya dalam lidahku, jadikanlah cahaya pada pendengaranku, jadikanlah cahaya pada penglihatanku, jadikanlah cahaya dibelakangku, dan cahaya di depanku, jadikanlah cahaya di atasku dan jadikanlah cahaya di bawahku. Ya Allah perbesarlah cahaya untukku
(HR. Bukhari-Muslim)”*
Begitulah sepenggal do’a dari seorang Rosul ulul azmi yang diceritakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma ketika bermalam bersama Rosulullah. Do’a yang terlontar mana kala Nabi saw keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat fajar (subuh).Jika fajar adalah awal dari sebuah aktifitas maka berdo’a adalah awal mengokohkan bangunan keimanan. Mendapatkan cahaya tanpa adanya ikatan dan permohonan yang kuat, rutin dan menghamba sekedar formalitas menjadi kemustahilan. Menjadi sumber terkecil cahaya dibalik sumber terbesar Nur-Nya itu harus menjadi pilihan. Dan selalu meminta kepadaNya adalah karakteristiknya, sebab ia adalah mentari di marhalahnya, mentari di zamannya, dan mentari pada peradabannya. Cahaya bukan sekedar cahaya, jika saja itu menjadi cahaya mekanik penerang sebuah desa, maka timbullah satu persatu amal kegiatan, motivasi dan harapan, titipan pengetahuan, penghasilan dan bahkan pelangi - pelangi sejarah peradaban Islam. Cahaya bukan sekedar cahaya, jika itu ada di hati, maka mudahlah ia untuk memilih jalan yang menjadi pilihannya, mudahlah ia untuk berjalan dalam ’gelap’, mudahlah ia untuk berjalan untuk ’lurus’, mudahlah ia untuk mengenal diri dan tuhannya, mudahlah ia untuk memahami amanah da’wah dan objeknya dengan jelas, dan mudahlah ia untuk bersabar, karena lemahnya kesabaran adalah gelapnya zona pandang sebuah hakekat tujuan, buramnya langkah fikroh karena kosongnya ilmu dan pemahaman, jika ia akan maka bergerak sangat lambat, tapi jika akselerasi cepat maka ia isti’jal.
Cahaya dihati adalah indikator kehidupan, ia adalah modal dasar kehidupan. Modal kehidupan untuk bersungguh, sebab bersungguh tanpa cahaya seperti kelalaian amal tanpa ikhlas, rugi yang menggunung. Cahaya dihati adalah modal bangunan peradaban yang sebenarnya; mengolah, memelihara dan menerangi hati yang lain hingga kokoh dari hati ke hati dengan hati untuk cicilan bangunan peradaban cahaya hati ummat, maka beruntunglah bagi pemilik cahaya hati. Cahaya bukan kegelapan, yang pasti akan mengelapi, membutakan peta diri dan orang lain disekitarnya. Cahaya yang harus terus menerangi amanah perjalanan da’wah dari sumber yang Maha Menerangi :
”Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS 2:257)”.
Jika Rosulullah yang ma’sum saja meminta dari tingkat diatas rata – rata syukur dan kesabaran manusia untuk menguatkan menjalani misi da’wah ini, kenapa kita tidak?seperti do’a Rosulullah”....Ya Allah perbesarlah cahaya untukku”.
(Izz@m 02112008; Do’a Sederhana; kost Onan Said)
*Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dengan sedikit perbedaan redaksi. Lihat : Jami’ al –Ushul, IV/83, 84, al-Lu’lu wa al-Maran, I/46 dan Zadul Ma’ad, II/369
No comments:
Post a Comment