Monday, June 09, 2008

BATUK

Sudah hampir beberapa bulan dialah sahabat terbaik yang kerap menemani kemanapun dan kapanpun ku berada, saat shalat, tilawah, konsultasi ke pembimbing skripsi, ‘ngisi’ dikampus bahkan di tempat kajian Fahmul qur’an minggu lalu tetap setia menemani. Cukup mengganggu memang, tapi di sisi lain kadang juga cukup menguntungkan J, dentuman batuk yang frekuensi tak menentu sepertinya membawa angin segar untuk tidak kebagian ditunjuk random mereview hapalan kosa kata qur’an dikajian kala itu…rugi or untung ya(?), tak memaksalah! Keuntungan lain jadi malas untuk banyak bicara, sebab antara energi bicara dan energi batuk yang menjadi jeda – jeda kalimat lebih besar energi batuknya….ya kali ini jadi lebih sungguh benar – benar terperangkaplah oleh wasiat amirul mukminin “berkata benar atau diam”, tak ada pilihan lain!

Batuk….ya dialah apresiasi reaktifitas kenormalan fisik (fitrah) kita, mencoba memental dan mengeluarkan apa yang menjadi tidak inheren untuk kemungkinan berdampak tak baik ke dalam tubuh. Kata ukhti Ditha selaku dokter spesialis Baksos untuk DPra kami, beliau juga teman satu SMU dengan ku, dari penjelasannya kemungkinan aku terkena batuk alergi ”tak perlu khawtir akh, cukup hindari pencetusnya” fasih kalimat dari keahlian bidang keprofesiannya.

Bersyukurlah dengan batuk, karena dari batuk akan lahirlah banyak ‘ibrah’ serupa lainnya. ‘ibrah yang menurut kajian bahasa berasal dari kata ‘abarah yang artinya melewati atau menyebrangi, jadi seakan – akan batuk menjadi jembatan ku yang menghantarkan pada satu (maqam) pemahaman tertentu untuk mencapai (maqam) pemahaman yang lain (af1, obssesi tafsir!).Alhamdulillah…reaksi batuk ini masih mengindikasikan kalau ternyata aku masih ‘sehat’, masih mampu mementalkan residu – residu kehidupan dan mengeluarkan polusi jiwa dari segenap kecepatan refleksi kenormalan yang ada, maka tak salah jualah jika pesan rosulullah tentang sehat atau indiktornya suatu keimanan disamakan dengan hadist ini

“jika telah menggembirakanmu kebaikanmu dan telah menyusahkanmu keburukanmu pertanda engku orang yang beriman” (HR.Imam Ahmad dari Abu Umamah)

Cukup sederhana dan bermakna memang rosulullah membuat kalimat yang terlontar dari lisan ma’sum-nya, yang mampu diterima dengan ‘tingkatan telinga’ manapun. Bermakna seperti reaksi batuk, seharusnya tiap – tiap asupan fenomenal kehidupan yang kita lalui mudah kita maknai dengan prinsip batuk dan hadist tadi, jika sudah tidak sesuai dengan hati yang jernih, ketika merasa hati tidak nyaman akan sesuatu hal, atau bahkan ketika kekeruhan niat mulai melanda rusaknya keikhlasan, seharusnya segera reflekan aksi ‘batuk’ dengan ekspresi lisan ‘TIDAK’ atau minimal ‘batuklah’ hati kita dengan menolak keyakinan itu.Beruntunglah bagi yang ‘batuk alergi’ dosa, maksudnya merekalah yang berusaha dengan sungguh – sungguh meminimalkan dosa ditiap aktifitas yang dilakukan tiap harinya. Terapinya hampir sama seperti kata Bu dokter tadi, cukuplah hindari pencentusnya!, jawaban yang sama ketika Abu Umamah bertanya kembali kepada rosulullah tentang dosa “ya rosulullah apakah dosa itu?”, rosulullah menjawab “Jika sesuatu yang menggoncangkan jiwamu, tinggalkanlah!”.Jadi apakah kita sudah batuk hari ini?

*Tulisan ini didedikasikan untuk adik – adik kelasku penikmat forum pekanan, keep Istiqomah akhi!(Izz@m 07062008; onan said kost ).

No comments: