Monday, June 16, 2008

TAHUN ABU (Siroh Management Bencana Nasional I)

Ada kegembiraan tak luput pula kesedihan, begitu pula dalam kisah ini, kisah kami bersama khalifah terfavorite. Ada kemenangan dalam penaklukan Irak dan Syam dengannya tapi tak luput terdapat tahun kemalangan dengannya pula, tepatnya tahun ke-17. Ketangguhan dan ketegaran dalam mengemban khilafah dan da’wah Islam kembali diuji, tak tanggung – tanggung Allah memberikan rasa cinta dengan kenikmatan ujian kepadanya sebagai pemimpin dan kepada kami sebagai rakyatnya. Tahun Abu (Amar Ramadah) kami menyebutnya, kemarau hebat berkepanjangan selama 9 bulan dimasa kekhalifahan ini mengakibatkan bencana kelaparan yang merata disemanjung Arab tempat kami tinggal, hingga masa itupun terkenang oleh kami sebagai hujjah untuk selalu tsiqoh terhadap setiap keputusan pemimpin tanpa ada pengecualian, sebab kecintaan khalifah terhadap kami melebihi kecintaannya pada dirinya sendiri. Haruskah kami membantah?

Apa yang bisa kami makan saat itu, apa yang bisa kami sembelih kala itu jika hewan peliharaan pun kurus kering tak berdaging tak tega untuk memakannya, kadang sungguh terpaksalah kami menggali tanah atau pasir hanya sekedar mendapatkan tikus untuk bisa makan hari itu. Madinah sekitarnya yang sebelumnya subur dan madani berubah total menjadi kering, panas, berdebu, banyak rakyatnya meninggal dan sakit akibat bencana ini, bencana nasional yang mereguk banyak korban.

Hidupnya untuk umat jelas tertoreh disini, bukan Umar bin Khattab khalifah kami namanya jika apapun yang menjadi lisan dan prilakunya tak menjadi referensi sejarah untuk masa perkembangan juga ekspansi da’wah Islam. Hingga saat bencana melanda, lisannya pun masih mampu membela kami sebagai rakyatnya, walau sebenarnya kalaulah beliau mau cukuplah ia mampu untuk menggunakan harta Persia, Rumawi, Irak dan Syam hasil rampasan perang dapat ia gunakan untuk kepentingan pribadi dan tidak menurunkan sederajat pun hidupnya hingga 9 bulan bencana itupun terlewati

“Bagaimana saya akan dapat memperhatikan keadaan rakyat saya jika saya tidak ikut merasakan apa yang mereka rasakan”

Sepenggal kalimat lantang khalifah yang mampu menenangkan hati kami beberapa waktu mulai bencana melanda, rasa lapar yang terus menghantui seakan menjadi pengenyang daya tahan tubuh kami dengan asupan nutrisi jiwa. Rasa pesimis dihati yang sudah mengabrasi seakan tertambal optimis kembali bahwa ujian ini ada masanya, ada awal dan pasti ada akhir. Dehidrasi kepercayaan kami yang menghilang, tergantikan sudah oleh guyuran ketsiqohan kalaulah ia benar khalifah terbaik masa ini. Bukan sekedar gombal dan bualan, saat itupulalah khalifah kami tidak makan samin dan daging, begitupula orang pemerintahan pembantu – pembantunya beliau instruksikan untuk menurunkan tingkat derajat hidupnya agar menyamai keadaan kami, ia pun saat itu mengharamkan segala makanan untuk dirinya kecuali minyak zaitun, dan lebih sering dalam kelaparan. Lebih sering juga makan bersama kami dan merelakan untuk tidak makan dirumah bersama keluarganya.

Jika diantara kami meninggal dalam kelaparan memang itulah keadaan dan daya tahan tubuh kami yang tak seberapa kuat, kami tak mencemaskan diri sebagai rakyat, terkadang kami malah mencemaskan keadaan khalifah kami, Ia sudah tidak memikirkan rasa lapar dan dirinya, yang dipikirkan dan disedihkan melainkan kami (umat), rasa kepeduliannya melebihi merasakan rasa kulit mekanisnya sendiri. Umat seakan menjadi tanggung jawab yang dekat lebih dekat dari keluarganya sendiri, umat seakan menjadi bagian dari jiwa dan ruh nya. Bahkan kami dan yang lain timbul kekhawatiran dan sering berkata dalam rasa lapar yang hebat

“jika Allah tidak menolong kami dari Tahun Abu ini kami kira Umar akan mati dalam kesedihan memikirkan nasib Muslimin”

Rasa takut yang terus mendekati keimanan dan rasa harap yang terus melaju menguatkan rutinitas do’a yang tak pernah henti terucap dari ibadah - ibadahnya. Shalat beliau yang tak henti dari Isya sampai subuh hingga sering tidak pulang kerumah, memohon sejadi- jadi kepada Rabb-Nya. Semakin menjauhkan kekufuran, semakin tidak melemahkan untuk tidak memutuskan rahmat-Nya barang sezarrah pun, ialah sang pembeda, masa inilah terlihat jelas siapa si munafik dan siapa mukmin.

Ditulisnya beberapa surat untuk meminta bantuan kepada Sa’ad bin Abbi Waqqas dan Abu Ubaidah bin Jarrah untuk wakil Irak, Muawiyah di Syam , juga kepada Amr bin As di Palestina yang isinya tegas-singkat, penuh cinta, penuh kekhawatiran dan penuh harapuntuk keselamatan kami:

“salam sejahtera bagi Anda. Anda melihat kami sudah akan binasa, sedang anda dan rakyat anda masih hidup. Kami sangat memerlukan pertolongan, sekali lagi pertolongan”.

Sekali lagi ukhuwah Islamiyahlah yang menyelamatkan kami selain manfaatnya dikala peperangan, berdatanglah segera banyak bantuan dari Irak, Syam dan Palestina hingga kami terharu biru tentang dasyatnya ikatan persaudaraan karena akidah (keimanan). Beberapa ribu unta dan bahan makanan tumpah ruah di Madinah untuk dibagikan kepada kami. Bukanlah Bantuan Langsung Tunai (BLT) system yang dipakai khalifah kami, setelah bantuan itupun datang, Khalifah kami sendirilah yang turun mengawasi, mengurusi makanan, obat - obatan dan lainnya untuk Madinah. Kedekatan khalifah kepada kami sekali lagi mampu memberikan ketenangan bahwa dalam menghadapi bahaya kelaparan ini pasti dapat diatasi dengan baik jika terdapat kepercayaan yang baik antara pemimpin dan rakyatnya.

Cukuplah 9 bulan bagi Allah menguji kami bersama khalifah, diktat sejarah yang cukup berharga tertoreh bagi pelajaran setiap pemimpin umat yang akan datang. Saat soal ujian telah dibagikan dan khalifah kami menjawabnya dengan prestasi nilai cumlaude hingga datanglah penghujung wisuda, penghujung dimana Allah mengakhiri masa akhir bencana itu dengan Allah menurunkan hujan kembali di Madinah kami dan sekitar semanjung Arab.

Entahlah apakah akan ada dimasa Islam mendatang pemimpin sebaik pemimpin kami yang cerdas menyikapi cobaan dan strategis menyikapi ujian, selalu bersyukur dalam kenikmatan dan selalu bersabar dalam cobaan, pemimpin yang takut kepada Allah karena amanahnya dan pemimpin yang berkata selalu dilakukan dan berjanji selalu ditepati….jika itulah pemimpinnya maka apapun cobaan dan ujian tak akan menggoyahkan iman kami, takkan meruntuhkan bangunan-bangunan takwa pada pada keIslaman kami (rakyatnya).Sudahkah Indonesia?Gerakan Pangan?

Keyword untuk solusi Indonesiaku

  • Kembali&takut kepada Allah
  • Berdoa yang tak henti
  • Back to hidup SEDERHANA!
  • Sensitivitas pemimpin
  • Tobat nashuha-nya pemimpin
  • Ukhuwah Islamiyah
  • Bersedihlah agar berfikir(?)

(Izz@m;15062008 Onan Said kost, Pelengkap materi taujih ku di Forum Kebaikan)

2 comments:

Anonymous said...

Subhaana4W1..Alhmdulillah..bTmbh lg ilmu..shiroh shahabat.. Khalifah 'Umar bin Khoththob..
Yup..bgitulah mmg..ktk seorang pemimpin sangat peka tHadap kondisi masyarakat..
Pemimpin yg adil,bijaksana,bersahaja..
Saat ini a/periode dMana pemimpin2 yg kejilah yg bKuasa..
Tahap selanjutny yg akn tJadi a/ kembali spt pd saat zmn kenabian..insy4W1..
Smg qt dpt merasakannya..
Jzklh khoir kpd penulis..

Izzatulgumam said...

Syukron Ya! semoga harapan menjadi kenyataan dan dari kenyataan tetap terjaga keridhoan-Nya..