Apa yang kita pikirkan itulah yang akan kita lakukan, apa yang kita miliki itulah yang akan kita bangun, begitupun maksud untuk judul dari kalimat tersebut, “apa yang kita miliki” bermakna suatu modal berupa rasa, kecenderungan, hobby, habbit (kebiasaan), emosi, minat, insting, bakat, pengalaman, pengetahuan profesi, skill profesi, human relationship, karakter leadership, maindset hidup (ideology) dan lain sebagainya. Background dasarnya tetap seorang farmasi. Hal itulah yang kita miliki maka hal itu pulalah modal yang akan kita bangun dalam merencanakan sebuah karier keprofesian kita, tanpa disadari ataupun tidak. “apa yang kita miliki” berupa keunggulan dan anugrah kekurangan merupakan kapasitas internal total nilai kepribadian diri dan kapasitas keprofesian kita. Tapi tak hanya sampai situ saja dengan sekedar mengkalkulasi “apa yang kita miliki”, sebab untuk mendapatkan produk dari godokan wilayah kampus (akademisi) menuju mahasiswa yang berkompeten dan professional terhadap keprofesiannya, perlu ada suatu kondisi keadaan dimana dari semua apa yang kita miliki kemudian menjadi terakumulasi, terfocus mengkrucut, mengkristal dan dilanjutkan pada tahap selanjutnya menjelma menjadi sebuah performansi profesi berwujud kompetensi terspesialisasi (ahli), akhir dari pembangunan perencanaan karier semua ini, berupa image atau pencitraan yang baik sebuah keprofesian dan diri pelakunya, dengan symbol pengakuan (eksistensi) oleh lingkungan profesi tenaga kesehatan lain dan juga masyarakat sebagai objeknya, tetapi aksi-reaksi kondisi keadaan ini membutuhkan energy dan waktu yang relative berbeda – beda bagi setiap orang dan instansi. Ada yang cepat dan ada yang lambat menyikapinya, sangat banyak factor pencetusnya. Jika punya bilik dan papan maka yang paling mungkin dibentuk adalah membangun gubuk derita, jika punya tiang – tiang beton dan bahan bangunan lain maka memungkinkanlah membangun sebuah gedung, seberapa kuat dan bertingkat?Tergantung kemampuan dari apa yang kita miliki. Jadi apa yang menjadi masalah menuju performansi diri kita dalam wacana membangun karier, kompetensi dan eksistensi keprofesian kita?solusinya akan kembali berbanding lurus dengan bercermin kebelakang lapis sebelumnya, berupa kapasitas total internal diri kita. Coba renungkanlah sejenak kilas balik kehidupan kampus kita dahulu. Sudah berapa banyak ilmu-ilmu teori dan praktek keprofesian yang kita pahami dan mampu diaplikasikan secara mumpuni dengan pengakuan “siap pakai”, sudah berapa banyak pemahaman konsep diri, relation-leader ship dan managerial organisasi dari training berkelanjutan menjadi sebuah karunia pengalaman dan skill tersendiri kita saat dikampus dulu dari tuntutan tarikan waktu study dan organisasi, atau sejauh mana perjalanan pengalaman amal dalam membentuk sebuah attitude (sikap) dan moral dari keterlibatan kajiaan – kajian rohani Islam kampus yang melahirkan kebiasaan buah - buah akhlak yang akhirnya mendarah daging hingga sekarang. Atau seberapa luaskah jaringan kita semakna sejauh mobilitas horizontal-vertikal interaksi kita saat dikampus, pasca kampus dan masyarakat. Semua itulah kapasitas internal kepribadian diri kita dulu hingga sekarang, jika semuanya mampu terpenuhi maka akan mudah jualah terpenuhinya performansi kita didunia profesi. Semakin berkualitas dan seimbang diantaranya, akan semakin pula terpenuhi performansinya. Maka tak salah juga jika ketika dikampus hanya study oriented, akan lebih sulit membangun karier dan akan lebih lambat perjalanan karier didunia keprofesiannya kelak, sebab kapasitas internal dirinya hanya terbatas pada itu, sedangkan kebutuhan untuk bisa cepat terpromosikan atau menjadi seorang pemimpin yang baik (manager yang berakhlak) disebuah lembaga atau perusahaan profesional membutuhkan banyak pengakuan elemen lain berupa kapasitas komunikasi public, kemampuan bahasa, managerial team, leadership dan luasnya jaringan sebagai penguatan dukungan tentunya. Seharusnya bukan saatnya belajar lagi untuk hal itu, belajar lagi berarti menambah waktu dan penambahan waktu adalah sebuah keterlambatan perjalanan karier. Peluang, umumnya tidak datang dua kali pada waktu bersamaan yang memang kita butuhkan saat itu juga. Ketidak lengkapan atau kekurangan “apa yang kita miliki” jelas akan menghambat, memperlambat dan bahkan kadang merubah arah mata angin dari disain karier yang sedang kita bangun. Jangan bermimpi untuk berkarier go public bagi pelaksana private sector jika kemampuan skill keprofesian kita lemah atau jangan berharap berkarier melanjutkan pendidikan strata dua atau tiga bagi yang bercita seorang dosen untuk keluar negri jika bermasalah dengan kemampuan berbahasa.Realita hambatan lainnya saat dikampus dalam membangun awalan karier kefarmasian ini adalah sebuah ketidak seimbangan dan banyaknya kekurangan dalam ketidak sempurnaan. Inilah hikmah rasa syukur untuk terus melakukan perbaikan diri berkesinambungan yang juga perlu disikapi dengan bijak. Kasus sederhana, umumnya banyak seorang farmasis memiliki kemampuan yang lemah dalam berorganisasi dan bersikap interaksi dengan publik, kasus lainnya yang terbalik dari beberapa kelompok mahasiswa yang sudah baik tingkat sikap akhlaknya tetapi lemah prestasi akademisnya sehingga performansi yang timbul adalah hanya seorang “ustad-nya kampus”, sedangkan performansi yang diinginkan da’wah kampus adalah seorang ustad/ah kampus yang berprestasi atau berprestasinya seorang ustad/ah kampus. Jadi apa yang kita miliki itulah yang akan kita bangun, dan apa yang belum dimiliki selanjutnya akan menyusul dibangun dalam proses perbaikan – perbaikan (belajar) yang berkelanjutan.
Mendisain sebuah bangunan karier seorang farmasi sangatlah penting jangan sampai tidak terencanakan, tidak sistematis, berjalan apa adanya dan yang paling tragis tak sadar dalam melakukan serta merencanakannya. Sebab ilmu profesi kefarmasian adalah ilmu terapan yang merupakan potongan – potongan dari berbagai sumber ilmu lain, dampaknya banyak orang lain mampu menguasai ilmu kefarmasian ini walaupun kurang mendalam tetapi tetaplah terjadi kompetisi perebutan “nafkah” diwilayah profesi yang ketat. Inilah karakter yang umum dari sebuah bidang ilmu terapan manapun, begitulah hambatan saat menjelang menuju tingkat realita keprofesian. Mendisain berarti memulai melakukan kerja melengkapi apa yang kita miliki menuju visi gambaran karier kefarmasian yang kita inginkan, Belum terlambat jika kita belum ada apa yang dimiliki, jangan pesimis dengan segara melengkapi apa yang perlu dilengkapi. Mendisain berarti juga melakukan kalkulasi saldo dari apa yang kita miliki menuju akumulasi, kepengkrucutan, memfocuskan dan mengkritalisasikan karier kita sendiri hingga target membangun performansi dan dilanjutkan kelapisan terluar pencitraan dari kepribadian diri dan karier keprofesian tercapai dengan baik. Diaku kridebilitas tugas-tugasnya dan diakui pula eksistensi kewenangannya dalam menjalankan pelayanan profesi kefarmasian dengan sendirinya. Yang tahu tentang diri kita adalah diri kita sendiri, maka mendisainlah karier mu sendiri tanpa intervensi, membangun dan menikmatilah prosesnya dalam gelora semangat dari azzam yang telah direncanakan.
(Izzatulgumam 01/03/08 my room;lail, Bekasi)
2 comments:
ASSALAMU'ALAIKUM
tetap semangat nulis, meskipun jarang yang baca, insya allah makin terasah
ane mau kasih masukan. Jenjang karier bagi seorang aktivis dakwah insya allah sudah terpikir sekaj dahulu. sekarang yang jadu masalah menjadikan itu nyata. butuh strategi yang sistematis terkoordinir dan kelayakan.
coba buat kalo antum ada strategi. Strategi yang ane maksud contohnya seperti obat. Semua orang farmasi tau, bahwa obat yang beredar harus aman, bermutu, berefikasi baik. Maka itu dibuat GMP, GLP, GCP, aturan registrasi, aturan izin produksi, dll serta perangkat pendukung seperti konsultan GMP, lembaga sertifikasi. Semua itu teratur dan berjalan sehingga obat yang ada dipasaran insya allah memenuhi syarat walau ada sedikit yang bandel.
Subhanallah.....
ajarin dunk bikin blog kayak gitu...ka agung hebat euy...saluuuut....
Post a Comment