Friday, August 01, 2008

Rasa Vs Logika.

Sudah hampir berjalan satu bulan pernikahan kami, ibarat akan hujan, maka masih mendung benar, belum sederasnya. Indahnya rumit dalam keunikan sifat, romantisnya perbedaan dan kesannya berlapang dada saat menerima apapun yang kadang sulit diterima dengan logika, bukan teori lagi kali ini. Benar juga, dari diskusi kecil dengan teman ku yang telah walimah beberapa bulan lalu tentang beberapa sifat wanita (istri) yang terkadang sering bertindak dan mengambil keputusan diluar batas logika.

”wanita lebih kuat perasaannya dibanding logikanya, akh. Logika hanya penguat rasa dan tetap penentu keputusan terbesar adalah perasaannya” ingatku pada perkataan Akh Firman, pembelaan terhadap kelebihan istrinya yang bersuku Jawa, hipersensitif akan perasaannya di acara arisan bulan lalu.

Awalnya sulitnya bagiku menerima kelapangan dada yang berasal pada argumen hal – hal non logika, terlebih di awal bulan pernikahan ini, tapi Alhamdulillah pernikahan inilah yang membuatku belajar menjadi manusia sempurna seutuhnya, sehingga mulailah terbiasa dengan menerima berbagai alasan – alasan non logika yang harus menuntut kelapangan hati. Terkadang memang, awalnya agak aneh, terlebih dari itu juga menjadi sebuah kesalahan yang harus di maafkan, atau kebenaran yang sulit diungkap tersirat karena tertutup oleh kabut rasa.

Ternyata Al hafizd-ah (istri ku) juga manusia, ia bukan malaikat yang turun kebumi bukan juga bidadari surga yang sekedar mampir kedunia, bukankah Bunda Aisyah juga pernah cemburu?.Misalnya, tiba – tiba saja bidadari ku menangis sejadi – jadinya memeluk ku erat, saat lampu dirumah mati, mungkin akibat pemadaman bergantian. Memang sungguh gelap, sebab pemadamannya terjadi saat ba’da isya, padahal saat itu aku hanya bilang

”Bun...Bunda tolong nyalakan Apinya, Abbi sudah menemukan lilinnya nih!”

bukannya korek api yang menyala yang ku dapati, tetapi malah suara tangis sendu tak berpindah dalam gelap. Ku telusuri suara itu dengan berjalan meraba – raba tembok, gelap sekali...

”Bun, engkaukah itu?”. ku dapati segera suara lembut itu, akhirnya kudapati pula wajah istri ku yang sudah basah dengan air mata dalam rabaan ku seadanya.

”Abbi...Naarun haamiyah, Naarun haamiyah..... Naarun haamiyah” sergahnya sendu, langsung memelukku dengan erat....terus memelukku semakin erat, diiringi tangis sendu. Aku pun bingung dibuatnya, kebingunganku pun tetap ku tahan sebisanya hingga ia puas melepaskan dan bebas mengeluarkan bahasa non logika, bahasa rasa pada apa yang ada dihatinya dalam pelukkan ini.

Sekitar hampir 10 menit ia terus memelukku, setelah itu barulah menengadah menatap wajahnya kewajahku, entah bahasa rasa apa yang bergulat dalam waktu yang selama itu.

”Abbi, Fa andzar tukum naaron taladzhoo?” Berbisik pelan suaranya dalam gelap ruangan ini, wajahnya semakin pucat juga masih terdengar jelas juga isaknya.

Akupun baru sadar setelah itu juga, inilah bahasa non logika, bahasa yang sulit dibahasakan dengan kata, tapi bermakna ”Tenang Bunda, sudahlah hal itu sudah dikecualikan untuk Alladziina a amnuu wa tawaa shoubisshobri wa tawaa shoubil marhamah, Bunda ingat khan?” mencoba mengendalikan perasaannya, sambil ku kecup berulang hangat keningnya. Bidadari ku yang sungguh istimewa perasaannya terhadap kisah – kisah ini.

”kliip” saat itu pulalah lampu kembali menyala, sepertinya tidak jadi pemadaman lokal!”Alhamdulillah Bun, lampu telah menyala” hiburku, tapi entah kenapa ia masih terdiam memeluk ku erat...diam.

”Bun...Bunda.sudahlah,.bukankah aku mencintai mu karena Allah dan Rosulnya dan bukankah engkau pun begitu?” bisik ku ditelinganya, menyakinkan ku dalam batas tafsiran seadanya tentang kedalaman perasaannya saat itu.

”Ya, akupun akan istiqomah Abbi!” kata diiringan senyumnya yang mulai perlahan merekah, dalam wajah terlengketi air mata yang sambil ku usap perlahan agar segera mengering dan tak membanjiri.

Itulah hari – hari di awal bulan pernikahan bersama wanita penjaga Al qur’an, masih banyak kejadian lain yang ”memaksaku” belajar langsung tentang ini adalah rasa dan ini adalah logika, berlatih berlapang dada terhadap alasan apapun suatu rasa yang sulit diterjemahkan dalam sebuah bahasa logika. Itulah kejujuran wanita, itupulalah bidadari ku, ”guru rasa” ku, tapi entahlah kenapa dibulan selanjutnya aku yang sering juga jadi menangis sendu walau tanpa mengeluarkan air mata saat istriku pun kadang menangis dalam pelukkan ini, ada apa dengan ku?.......(bersambung)

(Izz@m Juli 08; Depok. ”ini rasa dan ini logika”)

Nb: untuk teman2nya yang selalu bertanya, gimana kelanjutan Cerpen-nya?

6 comments:

Anonymous said...

Membaca cerpen dan artikel2 lainnya..
Hmm..sptny memang sdh wktunya Mas..
Yani do'akan..smg bs segera menyempurnakan setengah Diin..
Ditunggu undangannya...

Anonymous said...

Membaca cerpen dan artikel2 lainnya..
Hmm..sptny memang sdh wktunya Mas..
Yani do'akan..smg bs segera menyempurnakan setengah Diin..
Ditunggu undangannya...

Izzatulgumam said...

Undangan-nya sudah jadi...tapi undangan wisuda sarjana ku akhir agustus,Yani mau..:).Insya Allah,Jazakillah untuk do'anya ya.

susanto said...

subhanallah tulisannya bagus2,,
di tunggu juga undangannya yah..hehee

susanto
http://www.susantopharmacia.co.cc/
http://santo86.wordpress.com/

Anonymous said...

assalamu alaikum
wah,kayaknya comment yang paling cerewet aku ya kak?
maaf ya.
silakan ditunggu comment selanjutnya.terus berkarya!!!
semangat!!

Izzatulgumam said...

#Susanto : Jazakallah sudah berkunjung,tulisan2 antum juga bagus akhi(pnya blog kok ga bilang2)...akhirnya punya teman yang suka menulis juga...jangan kaget ya kalau nanti ana undang antum..apa cb(!)

# indah :yap, wlw komentarmu paling panjang dr yg lain...tapi sungguh bagus kok, jeeb..ngena banget, insya Allah nambah komentar pasti nambah ilmu, Jazakillah ya!